Skip to content


Pidato Dedi Mulyadi Bagian Kahiji

Pidato 1Bismillahirohmanirohim,

Sampurasun

Saudara-saudara yang saya hormati para akademisi di fakultas ilmu budaya universitas pajajaran sebuah kebanggaan bagi masyarakat sunda masih memiliki sebuah lembaga yang di dalamnya membangun entitas dan identitas bagi pembentukan masyarakat pajajaran. masyarakat yang terbuka egaliter dan demokratis yang sejarahnya menghamparkan sebuah pola hidup yang mengembangkan nilai-nilai universalitas agama, dalam sistem sosial yang sangat kuat dengan prinsip silih asah silih asih silih asuh sebuah etitas yang sesungguhnya harus menjadi kebanggaan bagi masyarakat sunda. tanpa nabi orang sunda sudah bisa mengidentifikasi ketuhanan secara sempurna.orang arab dengan nabi tidak bisa mengidentifikasi itu sampai hari ini.

Kebanggaan itulah yang harus ada dalam diri kita bukan tumbuh menjadi imperior bagi sebuah agama dan kebudayaan dunia tapi justru kita harus jadi superior dari sisi spirit untuk membangun keadilan rasa nyaman kedamaian dan kesetaraan manusia tanpa kasta dan tanpa batas. yang saya hormati yang mewakili rektor universitas padjadjaran penggemar novelis sejarah yang barangkali ini tantangan dari fakultas sastra unpad untuk membuat novel cerita tentang prabu siliwangi dengan berbagai entitas nama tentang bubat tentang berbagai hal yang membuat romantisme kita terhadap masa lalu karena bangsa yang memiliki masa depan adalah bangsa yang mengetahui masa lalu nya.

Yang saya hormati dekan fakultas ilmu budaya, yang saya hormati segenap guru dan guru besar yang hadir, tokoh tokoh sunda dari galuh sebenarnya kebingungan bagi diri saya kalau dijuluki sebagai budayawan karena saya orang yang tidak memiliki latar belakang sama sekali tentang seluruh pendidikan ini saya tidak penah baca buku sejarah sebenarnya, saya tidak pernah baca buku sastra saya tidak pernah baca berbagai literatur yang berkembang hari ini.

Saya lebih memilih hidup ini untuk melihat hujan ketika jatuh, melihat gunung, melihat ular ketika lewat, itu yang saya pilih, mudah-mudahan itu menjadi buku saya dalam setiap saat. Ada sebuah kegalauan cara berpikir kita ketika memandang silang budaya, budaya dipahami menjadi sistem materi, budaya terpisah dari agama, padahal ketika alam raya ini tercipta, siapapun yang menciptakannya, apakah itu orang menyebut Allah, apakah orang menyebut Gusti Nu Maha Suci, apakah orang menyebut Sang Hyang Widi Wasa, apakah orang menyebut Tuhan yang Maha Esa, ataupun menyebut Dzat sekalipun, ayau silahkan menyebut apapun bagi diri saya, yang jelas ketika alami ini tercipta, dua dimensi yang tersimpan disitu, yang pertama dimensi kebenaran, yaitu dimensi universal, yang kebenarnya bersifat esensial, karena esensial tidak bisa terpisah dari material, sehingga kerangka berpikir agamapun tidak akan bisa menyentuh nilai-nilai ketuhanan.

Bohong besar itu orang belajar teologi akan mengetuk ketuhanan. Tidak bisa teologi apapun dimuka bumi ini tidak akan bisa menyentuh ketuhanan, karena ketuhanan bukan nilai-nilai teologi, tapi ketuhanan adalah nilai-nilai asasi. Karena nilai-nilai asasi maka ketuhanan menyentuh spirit, maka ketika belajar ini, orang sunda meletakan Allah, meletakan Sang Hyang Widi Wasa, bukan lewat sembah, karena sembah dipahami hanya ruku dan sujud, itu hanya simbolisasi, siapapun bisa melakukan itu, ketika orang Sunda meletakan itu dengan kalimat teuleuman karena kalimat teuleuman maka tenggelamlah anda, tenggelamlah pada samudra ketuhanan yang tanpa batas, siapa yang bisa tenggelam anu wening ka atina, anu rancingas rasana, nu rancage hatena, caang bulan opat belas, jalan gede sasapuan, maka ketika ini masuk kepada entitas ketuhanan, maka persyaratan yang harus dibangun adalah kebeningan, bukan perdebatan. Karena hanya kebeninganlah yang menyentuh ketuhanan, sedangkan logika hanya melahirkan perdebatan, perdebatan hanya melahirkan paham, paham hanya melahirkan sekte, sekte hanya melahirkan semakin jauh dari ketuhanan, semakin banyak sekte maka tuhan semakin tidak ada sebenarnya.

Posted in Kasundaan, Lainnya.

Tagged with .


Kesaksian Prapanca Tentang Hayam Wuruk Yang Gemar Blusukan

Hayam WurukHayam Wuruk pada masa jayanya kerajaan Majapahit, juga senang blusukan seperti tersirat dalam kitab Nagarakertagama. Hayam Wuruk pasti sangat mengenal negerinya dengan baik karena blusukan itu. Berikut saya sampaikan beberapa pupuh yang menyangkut blusukannya raja Hayam Wuruk dari pupuh 29 sampai dengan 31 kitab Nagara kertagama.

Kesaksian Prapanca blusukannya Hayam Wuruk pada Pupuh 29. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama. Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji Kertajaya. Teman bersuka ria, teman karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke Desa Keta. Melewati Tal tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dari Bungatan. Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Tanpa perlu di uyak-uyak, rakyat datang sendiri menghadap menghaturkan hidangan dan tentunya dibalas oleh Hayam Wuruk yang menimbulkan kegirangan rakyatnya, seperti dalam pupuh 30 Tersebutlah perjalanan Sri Narapati kea rah barat. Segera sampai Keta dan tinggal disana lima hari. Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang. Tidak lupa menghirup kesenangan lain hingga puas. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap. Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Budha. Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang. Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Hayam Wuruk tidak mengenal lelah dalam blusikan terlihat dalam pupuh 31 seperti berikut. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring makin bertambah. Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora. Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gerbang, Krebilan. Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan. Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja. Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat. “Memegat Sigi” nama upacara penyekaran itu. Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama. Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban. Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan. Melalui Kebon Agung, menuju Kambangrawi, bermalam. Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala. Candinya Budha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya. Perjamuan Tumenggung Nala jauh dari cela. Tidak diuraikan betapa lahap Baginda Nala bersantap. Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang. Patunjungan. Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.

Posted in Lainnya.

Tagged with .


Hayam Wuruk Mengenal Wilayahnya Melalui Blusukan

Hayam WurukBlusukan bukan saja disenangi oleh Jokowi. Hayam Wuruk pada masa jayanya kerajaan Majapahit, juga senang blusukan seperti tersirat dalam kitab Nagarakertagama. Hayam Wuruk pasti sangat mengenal negerinya dengan baik karena blusukan itu. Berikut saya sampaikan beberapa pupuh yang menyangkut blusukannya raja Hayam Wuruk dari pupuh 22 sampai dengan 28 kitab Nagara kertagama.

Pada pupuh 22 diterangkan sebagai berikut: Di Dampar dan Patunjungan, Sri Baginda bercengkrama menyisir tepi lautan. Ke jurusan timur turut pesisir darat, lembut limbur di lintas kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai melambai dengan lautan. Danau ditinggalkan menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan. Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala. Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikuti hutan sepanjang tepi lautan. Berhenti di Palumbon, berangkat setelah surya laut. Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut. Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam. Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan. Sepeninggalnya beliau menjelang Kota Bacok bersenang-senang di pantai. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hutan. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan. Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet. Galagah, Tampaling, beristirahatlah di Renes seraya menanti Baginda. Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta – Wanagriya.

Pada Pupuh 23 di ceritakan sebagai berikut. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang. Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun. Lalu berangkat ke Pakembangan. Di situ bermalam; segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya. Yang segera dituruni sampai jurang.

Pupuh 24 menjelaskan: Terlalu lancar lari kereta melintasi Palayangan dan Bengkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat. Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang. Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan. Perjalanan membelok ke utara melintasi Turayan. Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh 25 menjelaskan: Panjang lamun dikisahkan kelakuan para menteri dan abdi. Beramai-ramai Baginda telah sampai di Desa Patukangan. Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep. Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Baginda Nata. Semua menteri mancanagara hadir di Pakuwuan. Juga Jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap. Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama. Panji siwa dan Panji budha, faham hukum dan putus sastra.

Bagaimana rakyat senang dengan blusukan Hayam wuruk tercantum dalam pupuh 26 Nagarakertagama sebagai berikut. Sang Adipati Suradikara memimpin upacara sambutan. Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan. Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain. Girang rakyat girang raja, Pakuwuan berlimpah kegirangan.

Sedang pada pupuh 27 2 penduduk bergembira ria dan Hayam wuruk selalu berupaya untuk membuat penduduk gembiraatau bisa dikatakan sebagai pelayan bagi penduduk, seperti sebagai berikut. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan. Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk. Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum. Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pada pupuh 28 disebutkan pula tentang membuat gembira rakyatseperti berikut. Selama kunjungan di Desa Patukangan. Para menteri dari Bali dan Madura. Dari Balumbung, kepercayaan Baginda. Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul. Persembahan bulu bekti bertumpah limpah. Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun. Para penonton tercengang-cengang memandang. Tersebut keesokan hari pagi-pagi. Baginda keluar di tengah-tengah rakyat. Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Posted in Literatur karawitan.

Tagged with .


Hayam Wuruk Juga Senang Blusukan

Hayam WurukBlusukan bukan saja disenangi oleh Jokowi. Hayam Wuruk pada masa jayanya kerajaan Majapahit, juga senang blusukan seperti tersirat dalam kitab Nagarakertagama. Hayam Wuruk pasti sangat mengenal negerinya dengan baik karena blusukan itu. Berikut saya sampaikan beberapa pupuh yang menyangkut blusukannya raja Hayam Wuruk dari pupuh 17 sampai dengan 21 kitab Nagara kertagama.

Pada pupuh 17, diceritakan bahwa pada Tahun Aksatisura (1275), Hayam wuruk melakukan perjalanan ke Pajang dengan membawa banyak pengiring. Tahun Saka angga-naga-aryama (1276), ke Lasem. Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu, dan Sideman.Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281), beliau pesiar keliling seluruh Negara menuju Kota Lumajang naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta. Selanjutnya Japan dengan asrama dan candi-candi ruk rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Duluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkala memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya, bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai.

Bagaimana antusias penduduk melihat Hayam Wuruk, diceritakan dalam pupuh 18 nagarakertagama, seperti berikut. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impitan. Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya. Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap menteri lain lambangnya. Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari. Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih. Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma emas mengkilat.

Pada pupuh 19 perjalanan dilanjutkan Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam. Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, Menuju Lampes, Times. Serta biara pendeta di Pogara mengikuti jalan pasir lemak – lembut. Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari. Tersebut dukuh Kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah. Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gadjah Mada, teratur indah. Disitulah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas. Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandibakti.

Pupuh 20 masih menceritakan blusukannya Hayam wuruk sebagai berikut. Sampai di desa Kasogatan, Baginda dijamu makan minum Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar We Petang. Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap. Begitu pula Desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan. Itulah empat belas desa kasogatan yang ber-akuwu Sejak dahulu, delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh 21 juga masih menyampaikan bagaimana Hayam Wuruk melihat negaranya dari dekat Fajar menyingsing: berangkat lagi Baginda melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang, serta Kasaduran. Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan. Menuruni Lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Ambon dan Panggulan. Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah Kota Rembang. Sampai di kemirahan yang letakknya di pantai lautan.

Posted in Sejarah Karawitan.

Tagged with .


Musik Tradisi Keliling Jagat

Arik wirawanIni memang soal perbedaan selera. Kebanyakan orang kita selalu menganggap apa yang dibuat oleh musisi Barat – orang terlanjur menyebutnya bule – selalu lebih eksklusif, lebih prestisius. Padahal kebalikannya, sebagian besar bule yang bosan dengan nada diatonis, mulai mencari dan ‘menemukan’ nilai-nilai musik baru dari berbagai pelosok dunia. “Jadi, tidak perlu heran, musik etnik milik salah satu suku di Irian Jaya yang tidak pernah kita dengar, malah sudah muncul dalam bentuk rekam CD di Amerika, Jepang dan Perancis,” ungkap Sapto Raharjo, pemusik kontemporer yang gemar menelusup ke dunia musik etnik. Karya-karya musik Sapto juga lebih terkenal di Perancis, ketimbang di negeri kelahirannya sendiri. Begitu juga dengan Yusi Ananda, penyanyi pop yang sudah merilis tiga album. Selain asyik berkarya di musik pop, putra Kalimantan ini diam-diam sangat agresif mengembangkan musik etnik dari daerahnya. Oktober ini Yusi akan melepas album Dayak yang direkam di home studio-nya di Samarinda, lewat indie label di Belanda.

Dan satu hal yang mencengangkan adalah, ada seorang seniman tradisional Aceh bernama Marzuki, yang suaranya sengaja direkam Michael Jackson. Bahkan lain waktu, Pak Marzuki ini pun sempat membuat Peter Gabriel terkagum-kagum. Ini cerita Gilang Ramadhan, yang mengajak Pak Marzuki mendukung rekaman album world music miliknya dan kata Gilang, “Saking lugu atau mungkin ia memang tidak terlalu peduli, Marzuki bercerita tentang pengalaman itu dengan muka biasa saja, tanpa ekspresi sombong atau bagaimana gitu!

Hal yang sama pernah terjadi pada rombongan Agung Raka dari desa Teges Bali, yang harus promo tour untuk album Bali Agung bersama rombongan gong dan tarinya di Jerman, eh ia ‘keleleran’, karena tak paham soal kontrak sebagai musisi profesional. Padahal album Bali Agung garapan Agung Raka – Eberhard Schoener (Jerman) itu termasuk ‘monumental’.

Posted in Lainnya, Literatur karawitan, Materi Pengetahuan multimedia, Pengetahuan Karawitan.

Tagged with .


Tunjangan Bisa Dihentikan

tehGuru Besar yang Tak Selesaikan Kewajiban

SOLO – Tunjangan profesi dan kehormatan yang diberikan pemerintah pada guru besar bisa dicabut, jika tidak menyelesaikan kewajibannya dalam durasi waktu yang telah ditentukan.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah M Chamdi Rochmat. Chamdi mengatakan, ada tiga kewajiban yang harus ditunaikan oleh pendidik di universitas yang berstatus guru besar, yakni menulis buku sesuai dengan bidangnya, melakukan pengabdian pada masyarakat, dan menulis jurnal. Tiga hal tersbut mutlak dilakukan dalam jangka waktu maksimal tiga tahun. “Salah satu dari kewajiban itu tidak dilaksanakan, atau belum selesai dalam tiga tahun maka tunjangan bisa gugur,” jelas Chamdi, saat ditemui seusai memberikan sambutan pada acara wisuda mahasiswa STIE Atma Bhakti Surakarta di gedung Graha Sabha Buana, Sabtu (23/1).
Dia mengungkapkan, saat ini peran kaum intelektual dalam peningkatan dan pengembangan ilmu di tanah air masih sangat kurang. Hal itu bisa dilihat dari sedikitnya jurnal yang ditulis oleh mereka, baik berskala nasional maupun internsional. Padahal, sumbangsih ilmu pengetahuan sudah selayaknya diwujudkan dalam bentuk nyata. Sebagaimana tujuan diberikannya tunjangan untuk meningkatkan profesionalisme dan menularkannya pada masyarakat.
Tidak Terserap Besarnya tunjangan profesi dan kehormatan adalah satu kali gaji yang sudah disetarakan dengan gaji PNS. Namun untuk tunjangan kehormatan, guru besar mendapatkan dua kali lipat tunjuangan gaji. “Tunjangan ini tidak main-main. Guru besar mendapatkan tunjangan tiga kali lipat dari gaji. Besarnya bisa mencapai Rp 12 juta,” ungkapnya.
Tunjangan tak hanya diberikan pada guru besar. Dosen tetap di semua PTS dan PTN juga ikut mencicipi. Namun, mereka hanya diberikan tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji, tanpa ada kekhawatiran pemotongan tunjangan. Dikarenakan tak ada kewajiban sebagaimana yang diharuskan pada guru besar.
Dia juga menyayangkan banyaknya dana beasiswa S2 dan S3 yang tidak terserap oleh dosen. Padahal semua dosen, baik di PTN, PTS maupun sekolah yayasan diberikan kesempatan sama.
Ia menuturkan, hal itu dikarenakan tidak sinkronnya waktu penyeleksian dari pihak universitas pelaksana dan pengucuran anggaran dari DIKTI. “Beasiswa di luar negeri juga banyak yang belum dimanfaatkan. Faktor utamanya kendala bahasa,” ungkapnya. (han-75)

Sumber: http://suaramerdeka.com

Posted in Lainnya.


Dewa Warman

SalakanagaraBerdasarkan naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 1, oleh Pangeran Wangsakerta, diriwayatkan sebagai berikut:

/jwah tambaya ping prathama sa kawarsa riking wus akweh wwang bharata nagari tekan jaruadwipa mwang nusantara i bhumi nusantara// denira pramanaran dwipantara nung wreddhi prethiwi// pantara ning sinarung teka n jawadwipa/ hana n upakriya wikriya/ hansing mawarah marahaken sanghyang agama/ hanasing luputaken sakeng bhaya kaparajaya/ ya thabhuten nagarinira/ mwang moghangde nikang agong panigit ring nusa‑nusa i bhumi nusantara//a

Terjemahanannya:

Kelak, mulai awal pertama tahun Saka di sini telah banyak orang‑orang negeri Bharata (India) tiba di Pulau Jawa dan pulau‑pulau di bumi Nusantara. Karena Nusantara terkenal sebagai tanah yang gembur. Di antara mereka, yang tiba di Pulau Jawa, ada yang berdagang dan mengusahakan pelayanan, ada yang mengajarkan Sanghyang Agama (ajaran agama), ada yang menghindarkan diri dari bahaya yang akan membinasakan dirinya, seperti yang telah terjadi di negeri asalnya, yang menyebabkan mengungsi ke pulau-pulau di bumi Nusantara.

Karena mereka semua mengharapkan kesejahteraan hidupnya bersama anak isterinya. Terutama para pendatang, banyak yang berasal dari wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi negeri Bharata (India). Dua wangsa inilah, yang sangat banyak berdatangan di sini, dengan menaiki beberapa puluh buah perahu besar‑kecil. Yang dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba mula-mula di Jawa Kulwan (Barat), maka mereka bertujuan yaitu untuk berdagang dan mengusahakan pelayanan.

Mereka senantiasa datang di sini, dan mereka kembali membawa rempah-rempah ke negerinya. Di sini, Sang Dewawarman telah bersahabat dengan warga masyarakat di pesisir Jawa Kulwan (Barat), Pulau Api dan Pulau Sumatera sebelah selatan, terutama Sang Dewawarman sebagai duta dari wangsa Pallawa.

Permulaan pertama tahun Saka, di pulau‑pulau Nusantara, telah banyak golongan warga masyarakat, yang menjadi pribumi tiap dusun. Di antaranya ada yang bermusuhan, ada juga yang berkasih‑kasihan berbimbingan tangan. Dukuh itu ada yang besar, ada yang kecil. Dukuh besar ada di tepi laut, atau tidak jauh dari muara sungai. Bukankah selalu berdatangan orang lain atau wilayah lain. Terutama pedagang dari negeri Bharata (India), negeri Singhala, negeri Gaudi, negeri Cina dan sebagainya.

Ramailah kemudian dukuh‑dukuh di tepi laut. Dengan demikian, ramailah perdagangan antara pulau-pulau di bumi Nusantara dengan negara lain dari benua utara sebelah barat dan timur. Tetapi, yang banyak datang dari negeri Bharata (India), golongan pendatang dari negeri Bharata (India) itu dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba di dukuh pesisir Jawa Kulwan (Barat).

Para pendatang itu bersahabat dengan penghulu dan warga masyarakat di sini. Adapun penghulu atau penguasa wilayah pesisir Jawa Kulwan (Barat) sebelah barat, namanya terkenal, Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya namanya yang lain. Selanjutnya, puteri Sang Aki Luhur Mulya, namanya terkenal Pwahaci Larasati (Pohaci Larasati), diperisteri oleh Sang Dewawarman. Dewawarman ini, disebut oleh mahakawi (pujangga besar) sebagai Dewawarman pertama.

Akhirnya semua anggota pasukan Dewawarman menikah dengan wanita pribumi. Oleh karena itu, Dewawarman dan pasukannya, tidak ingin kembali ke negerinya. Mereka menetap dan menjadi penduduk di situ, lalu beranak pinak.

Beberapa tahun sebelumnya, Sang Dewawarman menjadi duta keliling negaranya (Pallawa) untuk negeri‑negeri lain yang bersahabat, seperti kerajaan‑kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, China, dan Abasid (Mesopotamia), dengan tujuan mempererat persahabatan dan berniaga hasil bumi, serta barang barang lainnya.

Tatkala Aki Tirem sakit, sebelum meninggal, ia menyerahkan kekuasaannya kepada sang menantu. Dewawarman tidak menolak diserahi kekuasaan atas daerah itu, sedangkan semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula para pengikut Dewawarman, karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak.

Setelah Aki Tirem wafat, Sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa di situ, dengan nama nobat Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara, sedangkan isterinya, Pohaci Larasati menjadi permaisuri, dengan nama nobat, Dewi Dwanu Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salakanagara (salaka= perak).

Daerah kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa Kulwan bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Nusa Jawa. Laut di antara Pulau Jawa dengan Sumatera, masuk pula dalam wilayahnya. Oleh karena itu, daerah- daerah sepanjang pantainya, dijaga oleh pasukan Sang Dewawarman, sebab jalur ini merupakan gerbang laut. Perahu‑perahu yang beralayar dari timur ke barat dan sebaliknya, harus berhenti dan membayar upeti kepada Sang Dewawarman. Pelabuhan‑pelabuhan di pesisir barat Jawa Kulwan, Nusa Mandala (mungkin Pulau Panaitan), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan, dijaga oleh pasukan Dewawarman.

Wangsa Dewawarman memerintah Kerajaan Salakanagara di bumi Jawa Kulwan, dengan ibukota Rajatapura (Kota Perak). Kota besar lainnya lagi, Agrabhintapura ada di wilayah sebelah selatan. Agrabhintapura, dipimpin oleh raja daerah bernama Sweta Limansakti, adik Dewawarman. Sedangkan adiknya yang lain, yang bernama Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, diangkat menjadi raja daerah penguasa mandala Hujung Kulon.

Posted in Kasundaan, Literatur karawitan, Sejarah Karawitan.

Tagged with .


Matahari Terbit Dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika

sun riseIlmuwan Fisika Ukraina Masuk Islam Karena Membuktikan Kebenaran Al-qur’an Bahwa Putaran Poros Bumi Bisa Berbalik Arah. Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat menggandrungi kajian serta riset-riset ilmiah, mengatakan bahwa pintu masuk ke Islamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah, bagaimanakah fisika bisa mendorang Demitri Bolyakov masuk Islam? Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof. Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika.

Mereka sedang dalam penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut. Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut ada, sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menfsirakan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.
Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun. Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat !!!

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya.” (dari kitab Islam wa Qishshah).

Kebenaran ajaran Islam terus-menerus dibuktikan oleh penemuan demi penemuan ilmu pengetahuan. 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menyatakan dalam haditsnya bahwa kelak matahari akan terbit dari Barat sebagai bukti keagungan Allah SWT dan ciri-ciri kiamat sudah semakin dekat: ““Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah).

Sumber: Moeflich

Posted in Lainnya.

Tagged with .


Kenapa ISI DPS Menggunakan Mail dari Google?

Mail resmi isiKaget ketika saya membuka email SPI ISI Denpasar nggak bisa dibuka ternyata sudah pindah ke google mail. Yang perlu diperhatikan adalah kenapa pindah? jawabannya adalah sudah ada persetujuan rektor untuk pindah. Malah jadi timbul pertanyaan lagi, apakah rektor sudah diberikan pertimbangan dan penjelasan tentang UU Rahasia Negara dan UU ITE? seharusnya penelaahan terhadap UU ada di perangkat teknis, tidak mungkin rektor sampai detail kesana.Tolong jangan menjerumuskan rektor kami!

Keputusan untuk pindah menggunakan email google apakah sudah mempertimbangan UU rahasia negara dan UU ITE? Bukan tidak boleh bekerjasama dengan pihak asing (google), tetapi harus diperhatikan kira-kira bisa dipergunakan untuk apa? Misalnya terbatas untuk mahasiswa.

Gambar yang ada di atas itu di buat oleh Bapak IDB Trinawindhu dosen prodi DKV, kemudian diutak-atik untuk keperluan tampilan mail ISI Denpasar. Gambar tersebut merupakan tampilan awal dari website ISI Denpasar pertama kali tahun 2005, karena bersifat statis webnya kemudian berubah formatnya seperti sekarang ini. Bandingkan dengan gambar tampilan mail yang dibawah yang seperti robot, tidak mencerminkan institusi seni.

Dulu ketika membangun Website ISI Denpasar dengan  “berdarah-darah”, terlebih dahulu sudah pertimbangkan berbagai macam hal termasuk pertimbangan akan UU rahasia negara dan UU ITE? ISI Denpasar yang berbeda karakternya dengan PT lain, jelas berbeda pula kebutihan akan infrastrukturnya. Oleh  karena ISI Denpasar berbeda jenis dan kebutuhannya maka ISI Denpasar memerlukan infrastruktur TIK yang cukup besar, namun berapapun biaya kebutuhan untuk TIK perlu dipenuhi standar kebutuhan minimal.

Berikut saya copykan dari setkab.go.id tentang penggunaan email resmi pemerintah oleh PNS.

Mulai 1 Januari 2014, seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) diwajibkan menggunakan media surat elektronik atau email untuk urusan kedinasan. Himbauan ini tertuang dalam amanat Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 dalam upaya percepatan reformasi birokrasi. Untuk urusan kedinasan wajib memanfaatkan media surat elektronik (email), sebagaimana amanat Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 dalam upaya percepatan reformasi birokrasi.

mail google isiMenteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Azwar Abubakar melalui Surat Edaran Nomor 06 Tahun 2013 tertanggal 27 Mei 2013 meminta, setiap PNS agar menggunaan alamat email resmi pemerintah, yaitu yang menggunakan domain @pnsmail.go.Id atau yang dimiliki masing-masing pemerintah dengan alamat (nama instansi masing-masing).go.Id.

Menurut Menteri PAN-RB Azwal Abubakar,  saat ini seluruh instansi pemerintah telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pendukung dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. Namun demikian, masih banyak ditemukan pegawai/pejabat yang menggunakan email non pemerintah sebagai alat komunikan persuratan elektronik dalam kegiatan kedinasan, termasuk yang dimiliki oleh pihak asing. “Ini berisiko dan tidak aman dalam konteks kerahasiaan data dan informasi negara,” tulis Menteri PAN-RB dalam Surat Edaran itu.

Karena itu, Kementerian PAN-RB memandang perlu  diupayakan suatu langkah strategis dengan menyediakan email resmi pemerintah sebagai alat komumikasi persuratan elektronik kegiatan kedinasan yang diberikan bagi PNS di seluruh Indonesia.

Melalui Surat Edaran itu, Menteri Azwar Abubakar mengingatkan kepada seluruh pegawai/pejabat instansi pemerintah bahwa wajib menggunakan email resmi pemerintah sebagai alat komunikasi persuratan elektronik dalam kegiatan kedinasan. Hal ini dimaksudkan, agar terwujud birokrasi modern yang cepat, efektif, efisien, dan aman di lingkungan instansi pemerintah.

Menurut Menteri PAN-RB Azwar Abubakar, untuk menjangkau komunikasi yang lebih baik antara pemerintah dan seluruh PNS, pemerintah menetapkan pemanfaatan email nasional bagi seluruh PNS dengan domain @pnsmail.go.Id.

“Email ini tidak mengesampingkan pemanfaatan email resmi kementerian/lembaga/pemda yang sudah ada, dan dimanfaatkan oleh PNS,” kata Menteri PAN-RB semberi menyebutkan, PNS tetap dapat memiliki email resmi pemerintah .go.id yang lain sesuai dengan aturan, peran dan peruntukannya.

Format alamat email PNSMail adalah [email protected]. “Setiap PNS hanya diijinkan memiliki satu alamat email nasional pada PNSMail,” tegas Menteri PAN-RB.

Disebutkan dalam Surat Edaran itu, dukungna layanan dilakukan melalui [email protected]. Sementara informasi dan pendaftaran alamat email di PNSMail dapat diakses melalui www.pnsmail.go.Id.

Ditegaskan dalam Surat Edaran itu, PNSMail dikelola sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Sistem Transaksi Elektronik, khususnya dengan memperhatikan aspek-aspek keamanan dari sisi penyelenggaraannya.

Posted in Lainnya, Materi Pengetahuan multimedia.

Tagged with .


Instagram untuk Ani Yudhoyono dari Vita Sinaga-Hutagalung Korban Sinabung

kompasianaSurat terbuka ini membuat saya miris, apakah kita salah memilih lima tahun yang lalu?

Penulisnya seperti mengumbar kemarahan, kejengkelan dan keputusasaan yang sangat dalam. mungkin karena “karakter” daerah Sumatra yang seperti ini ceplas-ceplos apa adanya langsung diutarakan, berbeda dengan karakter Jawa silahkan disimak saja. Jangan sampai salah pilih kembali itulah yang ingin saya ungkapkan hanya dengan men CPkan dari sumber: detik.com diakses tanggal 20 Januari 2014 pukul 18.36. Ternyata tulisan ini pernah di muat dalam kompasiana, akan tetapi langsung di bredel, lihat saja penampakannya.

Ani Yudhoyono1_0 Thejakartapost.comYth. Ibu Ani Yudhoyono, nama sahaya Vita Sinaga-Hutagalung, satu dari puluhan ribu korban letusan Gunung Sinabung yang letaknya di Sumatera, bukan di Jogjakarta atau Magelang. Sahaya ingin sekali menuliskan dan melukiskan Sinabung lewat jepreten tustel seperti Ibu Ani lewat telegram, eh, Instagram. Atau melukiskan keindahan derita Sinabung dengan mengabadikan jepretan kamera dan menampilkan di Instagram. Namun, apa daya. Kami para pengungsi tak memiliki apa-apa lagi.

Ibu Ani yang cantik jelita bulat mukanya, surat ini sahaya tuliskan menjelang kedatangan Bapak Susilo Bambang Yudhonono – suami dan presiden Ibu Ani ke Tanah Karo. Sahaya dengar dan yakin Ibu Ani sangat berperan menentukan kebijakan negara Indonesia, sama halnya para koruptor yang selalu disetujui dan didukung oleh para isteri mereka. Sahaya dengar dari wartawan yang selalu datang ke mari selama enam bulan ini, bahwa Ibu Ani aktif sekali di dunia maya ya Ibu Ani. Kata para wartawan Ibu Ani hobby sekali main Instagram, Twitter dan Facebook.
Ibu Ani yang cantik bulat menarik hati, katanya Ibu bahkan senang sekali mengabadikan apapun. Bahkan bisa juga Ibu Ani ribet mengurus Instagram dan main tustel. Itu adalah aktivitas sangat positif sebagai Ibu Negara. Aktivitas Ibu Ani bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Di situlah kedekatan rakyat sampah jelata dengan para pejabat dan istri pejabat tinggi yang menjulang ke langit ketujuh dapat terjembatani.

Ibu Ani, dengan aktivitas Ibu Ani di Istagram, maka kami sebagai korban Gunung Berapi Sinabung telah tertolong. Dengan melihat kebahagiaan Ibu Ani, Anissa Pohan – yang menjuluki Ibu Ani sebagai mertua terbaik di dunia dan akhirat, cucu-cucu yang cantik dan gagah menarik, Ibas yang berenang dengan baju mau menyelam padahal di kolam renang dangkal, lalu ke pantai dengan memakai batik resmi, itu pertunjukan yang mampu memberikan kebahagiaan buat kami.

Ibu Ani, kami para pengungsi tak membutuhkan apapun selain gambar-gambar di Instagram. Kami tak butuh tanah pertanian yang telah rusak untuk direhabilitasi. Kami tak butuh makanan. Kami tak butuh obat-obatan. Kami tak butuh selimut. Kami tak butuh pembalut wanita. Kami tak butuh pakaian. Kami tak butuh tempat tinggal karena tempat tinggal kami ya di 59 tempat pengungsian selama enam bulan ini. Kami pun tak butuh apa-apa selain melihat dan menonton foto-foto kebahagiaan Ibu Ani sekeluarga melalui Instagram. Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan kami.

Ibu Ani yang cantik jelita dengan muka bulat sempurna. Dari muka Ibu kami tahu Ibu adalah orang paling baik di Bumi, Langit dan Surga nanti. Untuk itu, kami sebagai warga negara merasa puas dan senang berbagi melihat kebahagiaan keluarga Ibu Ani. Sementara di pengungsian ini, kami selama enam bulan, merasakan kurang makan, kurang tidur, kurang nyaman dan kurang kebahagiaan – namun sekali lagi, melihat kebahagiaan keluarga Presiden RI, kami sudah kenyang dan berbahagia. Sudah selayaknya sahaya dan rakyat melayani pejabat dan orang besar serta penguasa. Maka, biarkanlah kami di Tanah Karo dan Sinabung menikmati pengorbanan sebagai hamba kepada penguasa.

Ibu Ani yang terhormat, bolehlah sahaya pesankan kepada Ibu agar memberi tahu Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhyono, suami Ibu yang besar badannya itu, untuk (1) jangan menetapkan bencana Sinabung sebagai bencana nasional, agar kami tak mendapatkan bantuan berskala nasional, (2) jangan kami diberi bantuan apapun karena kami bangsa Indonesia dan Batak akan pergi ke saudara-saudara kami untuk mencari kehidupan – itu yang banyak diperhatikan bahwa bangsa Batak memiliki kekuatan sendiri, (3) biarkan kami tetap di pengungsiaan selama-lamanya, (4) jangan Ibu Ani hentikan kegiatan main tustel, kamera standard professional seharga Rp 250 juta, untuk menampilkan foto-foto Ibu Ani, Annisa Pohan – anak koruptor bernama Aulia Pohan – dan juga cucu-cucu dan anak-anak tercinta, karena foto-foto Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan bagi kami semua: warga pengungsi yang tak memiliki apa-apa selain air mata.

Ibu Ani yang terhormat, demikian surat Instagram kami. Karena kami tak tahu Istagram itu apa maka mohon maaf yang sahaya tahu adalah telegram di kampung kami dulu. Sahaya pikir dengan menulis Instagram ini, yakni istagram tanpa foto karena tak memiliki tustel, maka pesan yang sahaya sampaikan rasanya sampai. Kami warga korban gunung berapi hanya membutuhkan gambar-gambar yang indah hasil jepretan Ibu Ani di Instagram. Kami di pengungisan sudah puas dan bahagia meskipun kami sakit, kurang makan, kurang pakain, tak memiliki tempat bekerja karena pertanian kami hancur, anak-anak mahasiswa kami sebanyak 25,000 terancam tak bisa bayar uang kuliah dan makan, namun itu semua tak penting. Yang penting kami menonton foto-foto Instagram Ibu Ani sekeluarga yang berbahagia. Itulah rentetan nestapa duka derita sengsara kami selama enam bulan letusan Gunung Sinabung paling dalam yang Ibu tak pernah pikirkan – sama dengan suamimu dan para menteri yang sibuk nyaleg lagi.

Salam bahagia ala saya Ibu Ani Yudhoyono yang cantik jelita bulat sempurna.

Posted in Lainnya.

Tagged with .