RSS Feed
Nov 19

SISTEM MIKING

Posted on Selasa, November 19, 2013 in Lainnya, Tulisan

SISTEM MIKING TENTANG BARUNGAN GAMBELAN GEGUNTANGAN

Gambelan Geguntangan adalah sebuah barungan gambelan kecil atau sebuah barungan gambelan alit yang terdiri dari 7 – 10 instrumen-instrumen gambelan. Awal munculnya gambelan geguntangan ini sendiri pada tahun 1970 dengan seiringan kemunculan gambelan semarpagulingan, gong suling dan geguntangan ini. Instrument geguntangan terdiri dari:
– Kendang lanang
– Kendang wadon
– Ceng-ceng Ricik
– Tawe-tawe
– Kajar guntang atau Kajar Tiing
– Kajar Krenteng
– Klenang
– Gong Pulu
– Suling besar dan kecil

Sistem Miking
Jumlah microfon yang di pakai ada 7 jumlah mic dan 2 macam mic diantaranya microfon Tom dan Condusor, mic ini cocok untuk gambelan barungan bali karena di tinjau dari sumber bunyi yang di keluarkannya seperti mengeluarkan reng yang panjang dan juga mic jenis ini umum di pakai dalam barungan genguntangan. Posisi microfon yang seperti ganbar di bawah ini menurut saya sudah benar posisinya karena gambelan geguntangan lebih banyak untuk megiringi saja seperti mengiringi orang – orang kekawin, mekidung, pupuh dan lain – lain.
Di kendang lanang wadon saya memakai microfon jenis Tom supaya lebih jelas kedengeran suara kendangnya karena kendang berperan sebagai memulai dan memberhentikan lirik-lirik lagu atau kekawin dan juga karena mic Tom khusus untuk instrument kendang Bali. Dan yang lainnya seperti suling dan instrument yang lainnya saya memakai microfon Condusor yang memakai Stand karena microfon Condusor sangat baik dalam menjangkau suara-suara seluruh instrument secara menyeluruh sehingga menghasilkan suara yang seimbang dan bagus kedengarannya.
Demikian yang saya ketahui tentang sistem miking, bila ada kesalahan yang saya perbuat dalam mengerjakan tugas ini saya minta maaf sebesar- besarnya, karena manusia tak luput dengan kesalahan sekian dan terima kasih.

Nov 19

ARTS SUMMIT

Posted on Selasa, November 19, 2013 in Lainnya, Tulisan

“TANGKEP”

Karya Bapak Sutirta dan Bapak Kariasa
Pada garapan Tari Kontemporer ini, mengambil judul tangkep yang terimpirasi dari mimik wajah seseorang seperti sedih, senang, gembira, marah, dan bahkan menangis. Garapan ini sudah sangat bagus dari segi lighting dan sonds sistem, namun ada beberapa yang perlu di perhatikan untuk menyempurnakan garapan ini.
Yang pertama dari segi lighting:
Dari segi penataan lighting, cahaya sudah cukup bagus, cahaya di tembak dari atas agar bisa memperjelas karakter mimik wajah, cahaya hanya menembak bagian wajah dari pemain agar keliatan seperti wajah saja yang ada di panggung yang pemainnya hanya memakai baju hitam.
Namun ada juga sisi kurangnya yaitu pemain kurang merapat ke layar agar badannya tidak keliatan, karena sudah memakai baju hitam. Dan layarnya juga sudah hitam, lampunya juga kurang fokus ke wajah pemain, sampai badan pemain itu masih keliatan.
Yang kedua dari segi sounds sistem:
Saya kurang jelas melihat penempatan microfonnya karena di buka sebentar saja. Menurut pengamatan saya penempatan mic sudah cukup bagus karena menggunakan mic Condusor yang bisa menjangkau suara seluruh instrumen.

“JAYASITA”

Komposer Bapak Mawan dan Bapak Surya
Pertunjukan Tari Kontemporer yang berjudul Jayasita ini mengambil lakon pewayangan, dimana pertunjukan ini sudah sangat bagus dari segi lighting dan sounds sistem, karena menggunakan banyak warna lampu karena banyak terdapat karakter mulai dari senang, sedih, dan marah. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lagi.
Dari segi penataan lampu (lighting)
Menurut saya dari penataan cahaya sudah cukup bagus namun pada saat ada bagian penari di atas trap lampu kurang pas di tengah-tengah sehingga tidak seimbang keliatannya antara penari kanan dan penari kiri. Pertunjukan ini menggunakan proyektor yang sangat bagus, namun pada saat proyektor menyala lampu proyektor kurang terang dan lampu dipanggung kurag redup lagi sedikit sehingga terlihat jelas gambar pada proyektor.
Dari segi sounds sistem
Menurut saya dari segi sounds sistem sudah sangat bagus menggunakan 4 mic Condusor yang bisa menjangkau seluruh suara instrument, namun pada bagian koplak dari kendang kurang kedengaran karena tidak menggunakan mic, begitu juga pada bagian cedugnya kurang menggunakan mic bass sehingga tidak begitu kedengaran melenting suara cedungnya.

“AKU TAK SABAR”

Dengan Komposer Gus Teja Sentosa
Menurut saya pertunjukan yang berjudul Ku Tak Sabar ini sudah sangat baik dari segi lighting dan sounds sistem, namun ada beberapa hal yang perlu di kaji kembali atau di intropeksi lagi yaitu:
Dari segi lighting
Saya akan berbicara dari segi lighting terlebih dahulu dari segi lighting penataan cahaya lampu. Menurut saya jika menggunakan lampu berwarna biru remang-remang seperti itu, akan membuat tidak jelas expresi pada saat memainkan instrument tersebut, karena cahaya biru remang-remang seperti itu cendrung membuat agak gelap sehingga expresi ceria yang di tunjukan tidak begitu kelihatan, dan tidak sesuai dengan tema yang di sajikan.
Suasana di pagi hari yang ceria jika boleh saya sarankan gunakanlah lampu yang agak terang dan di tambah dari pojok atas, namun hanya menargetkan satu atau dua titik tidak menerangi seluruh panggung. Disana juga digunakan lampu yang berwarna hijau, menggunakan lampu hijau sudah tepat menurut saya, karena dapat memperkuat karakter pada saat dia tidak sabar dan ada kesan lucunya.
Dari segi sounds sistem
Pertunjukan Ku Tak Sabar ini dari segi sounds sistem sudah sangat bagus, menggunakan 6 mic Condusor yang penempatannya sudah sangat baik. Menggunkan mic Condusor yang bisa menangkap semua bunyi instrument secara menyeluruh sehingga kedenganrannya sangat seimbang, menurut saya kekurangannya hanya satu yaitu kurang rapi pada penempatan micnya.

“MANI HOT”
Pertunjukan Kontemporer yang berjudul Mami Hot yang di bawakan oleh ISI Bandung
Pertunjukan Mami Hot ini sudah cukup bagus dari segi lighting penataan cahaya lampu, namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki baik dari segi lighting maupun dari segi sounds sistem yaitu
Dari segi lighting
Yang pertama dari segi penataan lampu atau ligting sudah sangat baik, ada beberapa hal yang menurut saya perlu di perhatikan kembali yang pertama penempatan atau formasi orang yang bermain, posisinya tidak seimbang tidak pas di tenganh-tengah sehingga pada bagian kanan tidak terkena cahaya lampu. Jadi orang tersebut tidak kelihatan expresi mukanya yang atraktif.
Yang kedua adalah pada saat salah satu pemain melakukan atraksi tunggal, menurut saya pada bagian itu fokus hanya ke satu orang itu, atau lampu pada salah satu seorang tersebut dibuat lebih cerah dan terang sehingga expresi seorang itu muncul lebih bagus lagi.
Dari segi sounds sistem
Sama seperti lighting penempatan sounds sistem sudah bagus namun kurang seimbang antara mic kanan dan mic kiri, sehingga suara yang di hasilkan kurang menyeluruh ada yang kedengaran dan ada juga yang tidak kedengaran. Penempatan microfonnya juga terlalu dekat sehingga muncul satu suara yang cendrung agak keras, sehingga mengalahkan suara dari pemain yang lainnya.

Okt 25

BIOGRAFI I WAYAN BAWA SENIMAN TUA DARI DESA ADAT BUDAGA

Posted on Jumat, Oktober 25, 2013 in Lainnya, Tulisan

BIOGRAFI I WAYAN BAWA SENIMAN TUA
DARI DESA BUDAGA

Sumber ini hasil wawancara dari I Pekak Wayan Bawa seniman alam dari desa Budaga yaitu beliau sendiri. Pertama – tama saya memperkrnalkan diri saya I Wayan Bawa lahir di Budaga 31 Desember tahun 1930 bekerja sebagai pengerajin bajra atau genta atau yang biasa disebut oleh warga disini memande kuningan. Saya hanya tamatan Sekolah Rakyat, yang saat itu tamat tahun 1946 di Banjar Budaga. Pada saya masih anak-anak ada bermacam-macam kesenian yang ada di desa saya, misalnya: Arja, Janger, Gambuh, Gong Kebyar, Tari lepas dan Baris Jangkang. Pada waktu masih anak – anak kegiatan sehari-hari saya hanya sering ikut bersama orang tua latihan tari maupun tabuh. Mungkin karena saking seneng dan hobynya dengan kesenian maka dari itulah saya sangat tertarik dan perhatian dengan tari dan tabuh yag ada di desa Budaga ini sampai saya tamat dari sekolah rakyat.
Setelah tamat Sekolah Rakyat Tahun 1946 saya mempunyai inisiatif untuk mendirikan sekaa gong anak – anak yang terdiri dari anak – anak sebaya saya dan saya ditunjuk oleh prajuru sebagai ketua dan langsung menjadi juru Ugal di masa itu. Pada saat itulah saya pernah pertama kali menari kebyar duduk padahal bisik saya lebih ke tabuh atau karawitan, pada saat jaya – jayanya Ida Bagus Oka Wirjana dari Desa Belangsinga. Setiap malam hari saya dan anak – anak sebaya saya latihan tabuh karena di jaman itu pada malem-malem hari kegiatan kita hanya latihan tabuh dan tari saja dan hanya di latih sama orang tua kita yang mempunyai bakat – bakat alam saja. Dari tahun 1946 aktifitas sekaa gong kami sangat aktif bahkan sudah sering ngayah dan pentas di sekitar linkungan desa dan di kecamatan Klungkung.
Pada saat itu pula sekaa gong di Br. Budaga sedang jaya – jayanya sampai tahun 1955. Mungkin karena saya sangat aktif dan menonjol dari sekaa gong anak – anak yang lain, maka waktu saya berumur 25 tahun saya ditarik untuk ikut memperkuat sekaa gong dewasa yang di masa itu sedang jaya – jayanya di Klungkung. Dan bahkan pengalaman pertama saya yang tidak pernah terlupakan, saya diajak orang tua melatih tabuh di desa Selat Klungkung, di Banjar Sanggem. Desa Sangkangunung dan di Banjar Yangapi Muncan Karangasem. Berikutnya melatih tabuh di Desa Ngis Tista, Abang Karangasem. Di desa Bunutin dan Banjar Pande Bangli pada tahun 1955an. Karena sering diajak melatih kesana kesini sama orang tua di masa itu, saya punya inisiatif memvariasikan tabuh lelembatan yang sudah ada bernama tabuh Pat Subandar bersama senior – senior kami massa itu, sehingga diantara anak – anak didik kami seperti Banjar Sanggem dan Desa Bunutin mendapat juara di Kabupaten masing-masing. Mungkin di masa itu saya dan senior – senior saya agak tenar, ya di kenal banyak orang. Maka saya di suruh melatih tabuh di desa Padangbai Karangasem pada tahun 1963.
Pada jaman lembaga – lembaga politik sedang hangat – hangatnya, saya di Banjar Budaga duduk sebagai ketua ranting LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) di Kecamatan Klungkung duduk sebagai seksi tabuh. Begitu dibentuknya Listibya Kabupaten Klungkung saya duduk sebagai seksi tari dan tabuh. Di umur saya yang ke 38 tahun Pada tahun 1968 ada Festival Gong Kebyar seluruh Bali yang bernama “Merdangga Ustawa” saya ditunjuk sebagai juri Propensi mewakili Kabupaten Klungkung denga jumlah 3 oarng ; juri Papaosan, juri tari dan juri tabuh. Ketiganya yang ditunjuk adalah; 1. Tjokorda Gde Agung (Almarhum) sebagai juri Papaosan; 2. I Made Kanta (Almarhum) sebagai juri tari; dan 3. I Wayan Bawa (saya sendiri) sebagai juri tabuh, dan ini terus menerus berlanjut sampai tahun 1972 di usia saya yang ke 42 tahun. Selain menjadi juri saya juga masih aktif menabuh – menabuh di Kabupaten Klungkung.
Pada tahun 1969 saya ikut bergabung memperkuat dengan kawan – kawan seniman Kabupaten Klungkung mewakili ke tingkat propensi dalam Festival Gong Kebyar seluruh Bali dan saya ditunjuk sebagai juru ugal di usia ke 39 tahun. Pada waktu itu Kabupaten Klungkung mendapatkan juara III. Waktu itu Gubernur Bali adalah bapak Sukarmen. Dan Saya tetap ditunjuk sebagai juri sampai berakhir Festival Gong Kebyar.
Pada tahun 1981 saya ikut rombongan kesenian kabupaten Klungkung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta membawa tari nong-nongkling. Pada tahun 1999 ikut ke bandung membawa kesenian tari topeng dan pada saat itu pula ikut rombongan kesenian kabupaten Klungkung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
Pada awal – awal dibukanya Pesta Kesenian Bali (PKB), saya masih duduk di Listibya dan ikut menyaksikan pawai pembukaan PKB. Saya sangat tertarik sekali dengan penampilan kesenian – kesenian langka seperti; tari Baris Gede; Baris Jojor; Baris Poleng; Baris Cina dan yang lainnya. Saya teringat kembali pada masa anak – anak, saya sering diajak orang tua melihat latihan maupun pentas tari Baris Jangkang yang sudah hampir punah. Kemudian terbetik dalam benak saya untuk membangkitkan kembali tari Baris Jangkang dan syukur pula saya mendapatkan dukungan dari tetua yang pernah terlibat dalm tarian itu melatih agem tarianya. Mengenai iringan tabuhnya saya sendiri yang melatih dan sampai sekarang masih sering ngaturang ngayah di desa dan sebagian besar di wilayah Klungkung.
Pada tahun 2003 pas sebelum Karya Agung Lenteg Linggih di Pura Puseh Lan Bale Agung kami Di Desa Budaga yang diusia saya ke 73 tahun yang tidak muda lagi saya menghidupkan kembali (merevitalisasi) tari Wali yaitu Tari Baris Papendetan dengan berjumlah 5 orang penari diantaranya yaitu 4 orang papendetan dan seorang jauk dan itupun sudah hampir punah juga. Dan syukurnya masih bertahan sampai sekarang. Saat ini di usia tidak muda lagi saya sedang mendirikan sekaa gong Wanita yang bernama Sekaa gon Wanita “Genta Budaya Padni” untuk mengbangkitkan lagi ke jayaan sekaa gong di Desa Budaga ini dan saya sendiri masih sebagai pelatih dan mudah – mudahan kedepannya tetap jaya dan bisa sukses dan berkembang selamanya.
Adapun kegiatan saya sehari – hari dirumah menekuni kerajinan cor kuningan seperti ; membuat bajra atau genta, senjata Nawa Sanga dan alat – alat Siwa Karana. Adapun piagam dan tanda penghargaan yang pernah saya terima antra lain :
1. Penampilan wajah seniman tua bidang Karawitan pada tahun 1991.
2. Tanda penghormatan atas partisipasinya memberi masukan dalam kegiatan temu seniman tua tahun 1996.
3. Tanda penghargaan : keahlian dan pengabdiannya dalam bidang seni tabuh tahun 2002.
Demikian sekilas tentang biografi atau riwayat hidup saya, sekira – kiranya ada kekurangan saya minta maaf sebesar – besarnya karena setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan yang di berikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa dan mudah-mudahan mendapat perhatian dan hargailah karya – karya seniman alam yang sangat berbakat dan jangan pernah di lupakan terima kasih.

Okt 25

SEJARAH GAMBELAN GONG KEBYAR DI DESA BUDAGA

Posted on Jumat, Oktober 25, 2013 in Lainnya, Tulisan

SEJARAH GAMBELAN GONG KEBYAR DI DESA BUDAGA

Desa Pekraman/Desa Adat Budaga, Kelurahan Semarapura Kauh, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Yang hanya terdiri dari satu Banjar Adat dengan penduduk kurang lebih 170 KK. Sumber ini hasil dari wawancara I Wayan Bawa seniman tua dari Desa Adat Budaga. Pernah banyak memiliki seni dan budaya yang sampai saat ini ada yang sudah punah sama sekali, ada yang kembang kempis keadaanya dan ada juga yang masih hidup sampai saat ini misalkan saja gong kebyar yang masa jayanya pada tahun 1940 sampai dengan tahun 1950 an yang pernah jaya di Klungkung dan juga di Bali. Di Klungkung pada tahun 1939 sampai dengan tahun 1941 tetap jadi juara lomba gong kebyar pada waktu itu. Di Bali (Denpasar) pada tahun 1942, waktu penjajahan Jepang lomba gong kebyar seluruh bali mendapatkan juara 2 hanya kalah dari Badung pada waktu itu diwakili oleh Sempidi dan Gianyar diwakili oleh Peliatan yang mendapatkan juara 3, dan uniknya lagi berangkat dari Klungkung ke Denpasar hanya naik kendaraan cikar. Dan Gong Kebyar itu adalah sebuah ensambel gamelan yang hampir dimiliki oleh setiap banjar dan desa di Bali. Gamelan yang diduga muncul di Bali Utara pada tahun 1915 ini berfungsi fleksibel menyertai berbagai kepentingan pentas seni, baik presentasi estetik murni maupun persembahan dalam konteks ritual keagamaan.

Kembali cikal bakal adanya perangkat gong kebyar yang ada sampai sekarang, bermula pada tahun 1935 yang hanya bermodalkan atau mempunyai barungan tidak lengkap yaitu 2 tunggah jublag, 4 tunggah pemade atau gangsa, dan satu set perangkat baleganjur lengkap. Berbekal kemauan ingin melengkapi perangkat tersebut dan kemauan prajuru dan anggota krama adat, maka pada tahun 1937 krama desa mulai mencari pembuat atau pemande gong dari desa Tihingan, saat mengerjakan Gong Kebyar lengkap itu tempat pengerjaannya di bale banjar Budaga sendiri dan juga melibatkan sebagian orang-orang warga Budaga untuk membantu pemande dari Tihingan itu, supaya meringankan dan mempercepat dia dalam mengerjakannya, karena warga desa Budaga sebagian besar bisa membuat gong, karena kegiatan warga Budaga hanya pemande atau pengerajin Bajra yang terbuat dari bahan yang sama untuk membuat gong itu seperti kuningan dan kerawang.
Dan di tahun yang sama juga pelawahnya di buat oleh Pak Kapleg (Almarhum). Pengerjaan gong dan pelawahnya kurang lebih hampir satu tahun dikerjakan. Capek, letih, lelah tidak kerasa oleh sebagian warga Budaga dalam mengerjakan Gong Kebyar satu barung tersebut yang di kerjakan hampir setiap hari, karena rasa semangatnya untuk mempunyai Gong Kebyar satu barung lengkap Dan akhirnya pada tahun 1938 perangkat gambelan Gong Kebyar satu barung lengkap tersebut sudah selesai langsung dengan pelawahnya yang di buat oleh Pak Kapleg (Almarhum) tetapi tidak pakai ukiran Cuma pelawah – pelawah polos atau biasa.

Gong Kebyar merupakan salah satu perangkat atau barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada ( panca nada ) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah. Gong Kebyar bagi masyarakat desa Budaga umumnya di Bali sudah tidak asing lagi, karena hampir seluruh desa maupun banjar yang ada di Bali memiliki satu perangkat atau barungan Gong Kebyar. Oleh karena itu Gong Kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis – jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding, Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya yang lebih muncul dari Gong Kebyar. Dan warga desa Budaga di tahun 1938 sudah mempunyai gambelan Gong Kebyar satu barung lengkap dan satu set Baleganjur yang terdiri dari beberapa istrument – instrument sebagai berikut yaitu:
– Sepasang gong lanang wadon
– Satu buah kempur
– Satu buah babende
– Satu buah kemong gantung
– Dua buah (tunggah) jegogan
– Dua buah (tunggah) jublag
– Dua buah (tunggah) penyacah
– Satu buah (tunggah) reong
– Empat buah (tunggah) kantil
– Empat buah (tunggah) gangsa atau pemade
– Dua buah (tunggah) ugal atau giying
– Satu buah (tunggah) terompong
– Satu buah kajar
– Satu buah kempli
– Satu buah (pangkon) ceng – ceng ricik
– Delapan buah ceng – ceng gede
– Satu set suling
– Sepasang kendang lanang wadon
Dengan sudah selesainya gambelan tersebut mulailah di bentuk sekehe gong yang beranggotakan Dewasa dan Remaja. Karena gairah memiliki gong kebyar lengkap satu barung, sekehe tadi mulai tiap malam latihan tanpa pelatih dari luar hanya mengandalkan seniman – seniman dari desa sendiri. Karena ketekunan dan semangat latihan setiap hari tanpa mengenal lelah, pada akhirnya jerih payah begadang setiap hari, hasilnya pada tahun 1939 sampai dengan 1942 sebagaimana tersebut diatas, mendapatkan pahala yang setimpal pada saat – saat pergolakan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946 sekehe gong Budaga diajak ke Betawi (Jakarta) oleh Almarhum Tjokorda Anom Putra, sampai saat sekarang masih bisa jalan.
Adapun kesenian yang pernah ada di Desa Budaga yaitu:
Tari Gambuh sudah punah, tari Janger sudah punah, Arja yang juga sudah punah ada yang disebut terakhir ini adalah tari Baris Jangkang yang juga hampir punah, syukur pada tahun 1979 sampai tahun 1980 bisa di hidupkan kembali sampai sekarang dan sudah sering pentas di Pesta Kesenian Bali (PKB) Itulah seklumit adanya Desa Pekraman Budaga.
Setelah dari jaman ke jaman, tahun ke tahun Gong kebyar yang ada di desa dipakai latihan, pentas-pentas atau ngayah – ngayah, adalah inisiatif dari seniman tua yang masih tersisa yaitu I Pekak Wayan Bawa yang sekarang berumur hampir 83 tahun untuk memperbagus atau memperindah Gong Kebyar itu dengan cara mengganti pelawah yang lama kuno menjadi pelawah baru yang di ukir. Mungkin inisiatif ini dari melihat pelawah – pelawah yang lama sudah ada yang bolong dan rusak dan juga melihat dari Gong kebyar di desa – desa lain karena hampir semua di ukir di massa itu. Kata I Pekak Bawa seniman tua di desa Budaga wajarlah pelawah – pelawah Gong Kebyar itu di ganti karena selain rusak dan juga usia pelawah – pelawahnya sudah lama dari tahun 1938 sampai tahun 1996an. Kita juga harus mengikuti jaman sekarang karena hampir umum semua pelawah – pelawah Gong Kebyar di ukir supaya penampilan saat festival atau lomba – lomba Gong Kebyar lebih bagus dari dan berbeda dari jaman dulu.
Supaya tidak ketinggalan jaman barulah pada tahun 1996 mulai memperbaiki atau mengganti pelawah – pelawah yang lama menjadi baru yang di ukir, mulailah mencari tukang ukir dari daerah Gianyar untuk mengukir pelawah-pelawah Gong Kebyar yang ada di desa. Mungkin biar keliatan bagus Gong Kebyar itu makanya pelawahnya diukir dan juga menjadi kesan yang lain karena di tahun 2003 Desa Adat Budaga akan melaksanakan Karya Ngeteg Linggih di Pura Puseh lan Bale Agung. Mungkin biar mengukir sejarah bahwa Gong Kebyar di desa Budaga ada perubahan dan perkembangan pas menjelang Karya Ngenteg Linggih di Pura Puseh lan Bale Agung di tahun 2003. Dan kata seniman tua I Pekak Wayan Bawa perubahan Gong Kebyar dari dulu sampai sekarang, supaya bisa awet di pakai sampai tahun – tahun berikutnya yang akan di pakai sama anak cucu kita.

Hari demi hari dilalui sampai akhirnya selesailah pelawah – pelawah yang sudah di ukir di tahun 1996, tidak terlalu lama penyelesaian pelawah – pelawah Gong Kebyar dikerjakan hanya beberapa bulan, tepatnya di tanggal 17 April 1996 selesailah pelawah Gong Kebyar milik warga desa Budaga. Gambar yang tertera di ataslah pelawah – pelawah Gong Kebyar warga desa Adat Budaga yang sudah selesai di ukir di tahun 1996. Tapi di saat itu sekaa Gong desa Adat Budaga belum mempunyai Gayor yang seperti di pakai Festival – festival Gong Kebyar sekarang, maka dari itu punya inisiatif untuk membuat gayor supaya lengkaplah Gong Kebyar itu. Dan di tahun 2001 dibuatlah Gayor, dan di tanggal 23 Juni 2001 sesailah Gayor itu sebelum Karya Ngenteg Linggih di Pura Puseh Lan Bale Agung.
Kata tokoh seniman tua I Pekak Wayan Bawa kenapa kita harus mengikuti jaman bahwa Gong Kebyar itu di ukir atau di perbagus kesannya. Mungkin karena Gong Kebyar itu fungsinya sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat Gong Kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending – geding baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada. Sedangkan sebagai pelanjut tradisi maksudnya adalah Gong Kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi. Bahwa Gong Kebyar memiliki fungsi untuk mengiringi tari kekebyaran.
Namun sesuai dengan perkembangannya bahwa Gong Kebyar memiliki fungsi yang sangat banyak. Hal ini dikarenakan Gong Kebyar memiliki keunikan yang tersendiri, sehingga ia mampu berfungsi untuk mengiringi berbagai bentuk tarian maupun gending – gending lelambatan, palegongan maupun jenis gending yang lainnya. Disamping itu Gong Kebyar juga bisa dipergunakan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan Upacara Agama seperti misalnya mengiringi Tari Sakral, maupun jenis Tarian Wali dan balih – balihan. Karena Gong Kebyar memiliki multi fungsi maka Gong Kebyar menjadi sumber inspirasi karya baru. Dengan demikian Gong Kebyar telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi.
Demikian yang telah saya ketahui tentang Sejarah Gong Kebyar yang ada di Desa Adat Budaga, sumber – sumber yang saya dapatkan hanya dari Tokoh seniman tua yang ada di Desa Adat Budaga yaitu I Pekak Wayan Bawa. Jika ada kesalahan kata, kalimat atau cara penulisan yang kurang dan salah, saya meminta maaf sebesar – besarnya. Sekian dan terima kasih.

Okt 9

Kesenian yang pernah ada di Desa Adat Budaga

Posted on Rabu, Oktober 9, 2013 in Karya, Tulisan

Adapun kesenian yang pernah ada di Desa Budaga yaitu:

Tari Gambuh sudah punah, tari Janger sudah punah, Arja yang juga sudah punah ada yang disebut terakhir ini adalah tari Baris Jangkang yang juga hampir punah, syukur pada tahun 1979 sampai tahun 1980 bisa di hidupkan kembali sampai sekarang dan sudah sering pentas di Pesta Kesenian Bali (PKB) Itulah seklumit adanya Desa Pekraman Budaga.

Setelah dari jaman ke jaman, tahun ke tahun Gong kebyar yang ada di desa dipakai latihan, pentas-pentas atau ngayah – ngayah, adalah inisiatif  dari seniman tua yang masih tersisa yaitu I Pekak Wayan Bawa yang sekarang berumur hampir 83 tahun untuk memperbagus atau memperindah Gong Kebyar itu dengan cara mengganti pelawah yang lama kuno menjadi pelawah baru yang di ukir. Mungkin inisiatif ini dari melihat pelawah – pelawah yang lama sudah ada yang bolong dan rusak dan juga melihat dari Gong kebyar di desa – desa lain karena hampir semua di ukir di massa itu. Kata I Pekak Bawa seniman tua di desa Budaga wajarlah pelawah – pelawah Gong Kebyar itu di ganti karena selain rusak dan juga usia pelawah – pelawahnya sudah lama dari tahun 1938 sampai tahun 1996an. Kita juga harus mengikuti jaman sekarang karena hampir umum semua pelawah – pelawah Gong Kebyar di ukir supaya penampilan saat festival atau lomba – lomba Gong Kebyar lebih bagus dari dan berbeda dari jaman dulu.

Supaya tidak ketinggalan jaman barulah pada tahun 1996 mulai memperbaiki atau mengganti pelawah – pelawah yang lama menjadi baru yang di ukir, mulailah mencari tukang ukir dari daerah Gianyar untuk mengukir pelawah-pelawah Gong Kebyar yang ada di desa. Mungkin biar keliatan bagus Gong Kebyar itu makanya pelawahnya diukir dan juga menjadi kesan yang lain karena di tahun 2003 Desa Adat Budaga akan melaksanakan Karya Ngeteg Linggih di Pura Puseh lan Bale Agung. Mungkin biar mengukir sejarah bahwa Gong Kebyar di desa Budaga ada perubahan dan perkembangan pas menjelang Karya Ngenteg Linggih di Pura Puseh lan Bale Agung di tahun 2003. Dan kata seniman tua I Pekak Wayan Bawa perubahan Gong Kebyar dari dulu sampai sekarang, supaya bisa awet di pakai sampai tahun – tahun berikutnya yang akan di pakai sama anak cucu kita.

Hari demi hari dilalui sampai akhirnya selesailah pelawah – pelawah yang sudah di ukir di tahun 1996, tidak terlalu lama penyelesaian pelawah – pelawah Gong Kebyar dikerjakan hanya beberapa bulan, tepatnya di tanggal 17 April 1996 selesailah pelawah Gong Kebyar milik warga desa Budaga. Gambar yang tertera di ataslah pelawah – pelawah Gong Kebyar warga desa Adat Budaga yang sudah selesai di ukir di tahun 1996. Tapi di saat itu sekaa Gong desa Adat Budaga belum mempunyai Gayor yang seperti di pakai Festival – festival Gong Kebyar sekarang, maka dari itu punya inisiatif untuk membuat gayor supaya lengkaplah Gong Kebyar itu. Dan di tahun 2001 dibuatlah Gayor, dan di tanggal 23 Juni 2001 sesailah Gayor itu sebelum Karya Ngenteg Linggih di Pura Puseh Lan Bale Agung.

Kata tokoh seniman tua I Pekak Wayan Bawa kenapa kita harus mengikuti jaman bahwa Gong Kebyar itu di ukir atau di perbagus kesannya. Mungkin karena Gong Kebyar itu fungsinya sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat Gong Kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending – geding baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada. Sedangkan sebagai pelanjut tradisi maksudnya adalah Gong Kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi. Bahwa Gong Kebyar memiliki fungsi untuk mengiringi tari kekebyaran.

Namun sesuai dengan perkembangannya bahwa Gong Kebyar memiliki fungsi yang sangat banyak. Hal ini dikarenakan Gong Kebyar memiliki keunikan yang tersendiri, sehingga ia mampu berfungsi untuk mengiringi berbagai bentuk tarian maupun gending – gending lelambatan, palegongan maupun jenis gending yang lainnya. Disamping itu Gong Kebyar juga bisa dipergunakan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan Upacara Agama seperti misalnya mengiringi Tari Sakral, maupun jenis Tarian Wali dan balih – balihan. Karena Gong Kebyar memiliki multi fungsi maka Gong Kebyar menjadi sumber inspirasi karya baru. Dengan demikian Gong Kebyar telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi.