RSS Feed
Jul 17

Bentuk pertunjukan

Posted on Kamis, Juli 17, 2014 in Tak Berkategori

Cakepung  adalah seni pertunjukan sosial, semua pelakunya dimainkan pemain laki-laki. Dilihat dari   penyajiannya,  Cakepung adalah  seni pertunjukan lengkap, merupakan  perpaduan antara seni pertunjukan lengkap, merupakan  perpaduan antara seni sastra, teater,  karawitan, dan seni tari. Di tengah kehidupan masyarakat baik yang ada di Bali  maupun di Lombok, ada beberapa keberadaan Cakepung. Mereka menyeebut   kesenian tersebut berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Ada yang menyebut seni pepaosan, teater vokal atau gamelan mulut, dan seni tari.

Cekpung disebut sebagai seni pepaosan atau seni  baca lontar, karena pembacaan naskah Lontar Monyeh sealu dilalukan pada setiap pergelarannya. Sistem  penyajiannya tak dapat dilepaskan dari unsur mabebasan (pepason).

Disebut seni teater tutur, karena semua peristiwa  diungkapkan dengan cara bertutur. Sebagai bentuk teater  tutur, Cakepung mempunyai lakon, tema, gerak laku, diaolog, monolog, serta pemerannya yang bersumber dari cerita Monyeh (Panji).

Cakepung  disebut sebagai gamelan mulut atau  gamelan vokal karena unsur-unsur musik seperti nada,  melodi, ritme, dinamika, lagu dan lain-lain yang dilakukan dengan vokal, sehingga pengolahan suara menjadi  hal yang vital. Unsur tembang, lelakak, senggakan menjadi hal yang pokok. Sebagian pemain dengan media mulut menirukan bunyi-bunyi instrumen gamelan. Jalinan-jalinan nada, ritme, dan melodi dari lagu yang dimainkan menimbulkan suasana seperti telabuhan (permainan) gamelan. Senada dengan pendapat ini, Tilman Seebass menyebut pertunjukan ini singing ensemble.

Disebut seni tari, karena dalam pertunjukan Cakepung sebagian pemainnya menari dengan gerak-gerak bebas mengikuti irama lagu yang sedang dinyanyikan. Setiap pemain secara bebas bergerak sendiri-sendiri berdasarkan rasa indahnya sendiri tanpa ada patokan gerak yang  baku. Gerak tarinya lebih banyak merupakan gerak spontan secara improvisasi.

Cekepung  mengandung penggambaran historis tentang rekaman peristiwa kehidupan di masa lampau. Ungkapan-ungkapan dalam bentuk kata-kata, seruit, seriung, cedar-cedur, celekik, serta gerak-gerak simbolis  lainnya,  mengisyaratkan tentang eksistensinya yang mengingatkan peristiwa peperangan antara   kerajaan Karangasem melawan Lombok. Selain itu, aspek  bentuk dan isinya mencerminkan keunikan sebagai   produk budaya campuran [hibrid culture). Keunikan   tersebut adalah ditemukannya nuansa budaya Sasak yang berakulturasi dengan budaya Bali.

Di Bali, khusunya di Desa Budhakeling, merupakan  salah satu sekaa Cakepung yang paling populer. Hal ini   terjadi karena banyak tokoh-tokoh Cakepung masih tetap  melibatkan diri diri dan turut memberdayakan eksistensinya,  kendatipun harus diakui telah terjadi banyak modifikasi yang  disebabkan oleh pengaruh eksternal dan internal.
3.1 Sifat Cakepung

Sebagai salah satu bentuk kesenian rakyat, Cakepung merefleksikan perwatakan yang tidak jauh dari realitas sosial masyarakat pendukungnya. Adapun beberapa   karakteristik dari Cakepung dapat dikategorikan dalam  karakter eksternal dan internal sebagai berikut.

 

3.1.1 Karakter eksternal

a. Bersifat Komunal

Sifat komunal suatu kesenian tidak lain adalah dengan kelompok orang yang hidup bersama-sama dan memiliki kecenderungan pemilikan dan pemakaian hak secara kolektif. Kesenian  yang diciptkan  lebih sebagai kebutuhan bersama, sebaga. bersama, dan hidup matinya tergantung  dari kesetiaan para pendukungnya.

Sejak masa-masa awal perkembangannnya, Cakepung  telah menunjukkan sifat-sifat kebersamaan, yang hingga  kini masih diwarisi secara oral dari generasi ke generasi.  Eksistensi Cakepung sangat erat kaitannya dengan konteks masyarakat pendukungnya yang  memberi tempat untuk hidup dan berkembang bersama  tradisi  yang berlaku. Sifat-sifat kerakyatan yang demokratis  melalui peran serta komunal yang masih hidup  di tengah-tengah rakyat, dimainkan oleh dan untuk rakyat. Kesenian   ini mengekspresikan kehidupan masyarakat nya dengan idiom-idiom yang dekat, hidup, dan dikenal  oleh warga masyarakat setempat. Hal ini terjadi karena  materi yang disajikan dalam Cakepung tidak jauh dengan referensi yang dimiliki oleh penontonnya.

Oleh karena itu Cakepung dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat mulai dari anak-anak,  remaja, sampai orang dewasa. Demikian pula dari  golongan masyarakat petani, kaum buruh, pegawai rendahan, dampai pejabat pemerintahan.

 

b. Berwatar Sosial

Cakepung dalam konteks kehidupan sosial  menunjukkan watak sosialnya yang menonjol. Watak tersubut terdapat pada unsur solidaritas. Rasa kebersamaan melalui saling tolong menolong tercermin pula dari  aktivitas sosialnya yang tulus dalam membantu warga masyarakat  tanpa pamrih. Melalui watak ini pula, Cakepung dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakal  akan hiburan ringan yang murah meriah.

Sikap komersial terhadap anggota kelompok  maupun  anggota masyarakat di sekitarnya yang   bermaksud ngupah (nanggap), hampir tidak ada aturan yang ketat dari organisasinya. Artinya perjanjian sewa-menyewa   tidak ada standar yang pasti. Kalaupun mereka mau membayar, lebih banyak didasarkan atas suka rela. Terlebih lagi apabila diundang pentas oleh warga desa ataupun  salah  seorang temannya, mereka tak pernah menerima imbalan   jasa ataupun upah. Justru sebaliknya, apabila ada salah   seorang anggotanya mengundang pentas di rumahnya,  maka anggota-anggota sekaa Cakepung lainnya akan  membawa bahan-bahan yang sekiranya diperlukan untuk   pementasan, tanpa menuntut imbalan apapun. Jadi dapat  dikatakan sifat pertunjukan mereka masih dilandasi rasa   solidaritas  sosial yang kuat tanpa pamrih.

Terlebih pertunjukan dalam kaitan peristiwa upacara   adat di masyarakat, maka hal ini dengan tulus dilakukannya tanpa memungut bayaran. Jadi, sampai sekarang    Cakepung   belum menunjukkan sifat profesionalisme yang menonjol, kendatipun dalam konteks yang lain sudah  memasuki dunia industri wisata yang segala sesuatunya   selalu  diukur dengan uang.

Aktivitas sosial seperti ini erat hubungannya dengan  konsep ngayah (suatu aktivitas yang silakukan dengan  tulus ikhlas) yang dikenal umum masyarakat Bali. Kenyataannya sejak jaman dulu, Cakepung sering ditugaskan pentas dalam konteks ngayah sehubungan dengan upacara daur hidup di puri Karangasem. Bahkan menurut  penuturan Mamiek Ambar, dia sering pula melibatkan diri  ngayah berCakepung di Puri Cakranegara (Lombok),   bersama kelompo Cakepung Wacana Asih. Untuk menghargai kehadiran mereka, biasanya di arena pentas telah disediakan perlengkapan sesuai dengan kebutuhan pentas,  di samping juga para pemain disuguhkan makanan  dan ninuman sesuai dengan kemampuannya.

Watak sosial ini kemungkinan saja akan bergeser seiring dengan kondisi sosial dan dinamika masyarakat  pendukungnya.

 

c. Bersifat Spontan

Jika menengok pada latar belakangnya, kemunculan  Cakepung lebih disebabkan karena perilaku masyarakat  berkeinginan untuk menghibur di waktu senggang. Biasanya ketika sore atau menjelang malam, secara  iseng-iseng mereka  duduk-duduk sambil minum, lama-kelamaan disertai nyanyian dan tarian. Hal torsi dilakukan tanpa disengaja atau direncanakan. Mereka begitu saja berkumpul berlima atau berensm sambil berCakepung sebagai salah satu bentuk seni pertunjukaan rakyat. Sifat spontanitas Cakepung  seperti itu sampai kini masih dapat diamati dari unsur improvisasi dalam  pertunjukan yang cukup menonjol.

Bentuk pola permainan Cakepung walaupun agak rumit dengan tata cara penyajian yang konvensional, tidak menjadi hambatan bagi mereka yang ingin mengikuti pola permainannya. Asal ada kemauan dan sedikit   mengerti lentang orkestrasi gamelan Bali, maka penonton pun secara spontan dapat melibatkan diri dalam pertunjukan. Tidak jarang dalam suatu pesta, sekelompok orang    berkumpul bersama. Secara tidak disengaja mereka duduk-duduk   membentuk lingkaran menghibur diri sambil   minum-minum, lalu mereka berCakepung. Demikian   pula  dalam upacara pegadangan di Karangasem, ketika  penonton asyik mendengarkan dan menari, akhirnya  bersama-sama  melibatkan diri dari Cakepung.

 

 

 

  1. Bersifat Fisikal

Fleksibilitas Cakepung dapat dilihat dari durasi pertunjukan, tata  penyajian, setting  panggung, jumlah pemain, serta tata rias, dan suasananya.

Pertunjukan Cakepung erat hubungannya dengan konsep desa (tempat), kala (waktu), patra (keadaan). Oleh karena itu panjang pendeknya durasi pertunjukan, seting panggungnya, serta tata rias dan busananya sangat tergantung dari konteks pertunjukannya. Sebagai  contoh  dalam, dalam hal durasi pertunjuukan, penyajian Cakepung  dapat disajikan secara singkat, dapat juga diperpanjang. Pertunjukan yang biasanya disajikan dalam 120 menit bahkan semalam suntuk, dapat dipadatkan menjadi 60 sampai 30 menit tergantung pada konteksnya. Event-event  untuk kemasan turistik  durasi yang biasa   dibutuhkan  adalah 60 menit. Untuk kebutuhan hiburan pada suatu upacara serimonial untuk perayaan-perayaan nasional dan sejenisnya, dibutuhkan durasi waktu dua sampaiu tiga jam, sedangkan untuk upacara kepus puser, upacara kaul,  atau hiburan  pegadangan (untuk  upacara ngaben) dapat dilakukan semalam suntuk.

Mengenai  setiing panggungnya, juga tidak menjadi masalah yang penting  ada tempat untuk pemain dan penonton, maka  acara pertunjukan sudah  dapat dilakukan. Itulah sebabnya pementasann ya dapat  dilakukan di serambi, di halaman rumah, pada sebuah keluarga, atau pun di panggung yang sifatnya permanen.

Sementara tata rias  dan busana juga sangat tergangung dari maksud pertunjukan diadakan. Apabila dalam konteks upacara maka busana yang dikenakan hanyalah busana adat biasa, tanpa disertai dengan pemakaian make-up.

 

3.1.2 Karakter Internal

Cakepung sebagai bentuk seni yang mengandung unsur-unsur seni yang lengkap (Cakepung  sebagai bentuk teater tutur),  secara internal mencakup pula hal-hal yang bersifat emosional, fisikal, spiritual dan intelektual.

 

a. Sifat Emosional

menurut Gentile, “Art is not expression of  feeling but feeling itself”. Seni dalam pandangan Gentile bukanlah merupakan ekspresi perasaan, melainkan perasaan itu sendiri. Tampaknya ekspresi perasaan yang dimaksudkan  Gentile adalah ekspresi dari luapan perasaan secara wantah. Artinya ekspresi yang muncul merupakan  ekspresi dari gejala perasaan yang sedang dialami,   seperti dalam keadaan sedih, marah, dan yang lainnya. Senada ada dengan ini Langer juga berpendapat ekspresi seni beda dengan ‘gejala perasaan’. Ungkapan dari ‘gejala perasaan’ dapat dilihat langsung pada diri seseorang yang  marah, sedih, atau gembira, baik dari air mukanya maupun tingkah lakunya. Lebih lanjut dikatakan jika ekspresi seni hanya merupakan ungkapan dari ekspresi diri, maka seni tersebut hanya akan mengungkapkan   kecengengan belaka. Memang sudah seyogyanya ekspresi seni dapat menawarkan nilai keindahan yang  keistimewaan seninya justru terletak pada ekspresivitasnya sehingga dapat memperhalus ciri komunikasi menjadi  suatu persentuhan rasa yang kental, bukan asal-asalan  dengan demikian emosi yang diekspresikan dapat  menularkan kesan tentang seniman kepada publik.

Kemampuan rangsang emosional dari pemain itu, menjalankan Cakepung lebih  atraktif dan komunikatif dengan penonton. Sudah  tentu ungkapan perasaan yang diekspresikan di atas pentas, bukanlah gejala perasaan yang telah distilir dengan kaidah-kaidah menurut kemampuan  dan pandangan senimannya mengenai nilai artistik, etika, dan estetika dari budaya masyarakat setempat.

 

 

b. Fisikal

            Secara fisik  unsur-unsur seni Cakepung secara sensoris dapat ditangkap oleh indra penonton, baik secara visual maupun auditif. Indera penonton akan terangsang dari apa saja yang disajikan di atas panggung, baik yang dapat dilihat maupun yang  dapat didengar. Indera mata akan tertuju pada hal-hal yang sekiranya m,engundang respon untuk melihatnya, seperti keindahan komposisi,  pola lantai, gerak dan laku, interaksi antar pemain, busana  dan tata rias serta perlengkapan  pentas (property) seperti tuak, sesajen, Lontar Monyeh, serta instrumen rebab dan suling. Selain hal yang bersifat kasat mata, juga hal-hal yang dapat dinikmati mellaui rangsang telinga seperti keindahan tembang-tembang, dialog, monolog, irama lagu, suara suling, rebab, serta pantun-pantun.

 

c. Spiritual

Tri Preman sebagai konsepsi abstrak yang terdiri dari  bayu (energi), sabda (suara), idep (pikiran} hampir  melandasi semua jenis tari dan drama di Bali.  Demikian  halnya dalam Cakepung konsep ini memberikan inspirasi  baik pada gerak, suara maupun pikiran dari para   pemainnya, sehingga menjadikan pertunjukkan tersebut  memancarkan taksu (inner power), yang secara estetis memberikan puas kepada penontonnya.

Sifat spiritualitas Cakepung mampu memberikan siraman rohani (jiwa). Sentuhan estetis Cakepung yang terekam  dari unsur musik, tari, dan drama, dapat memberikan kenikmatan dan santapan pada pendengaran, penglihatan, dan pikiran.

Sebagai bentuk seni, Cakepung dapat memberikan  pencerahan atas sebuah fenomena. Tidak dipungkiri   dalam pertunjukan Cakepung sering terungkap ajaran-ajaran  etika, filasafat, dan agama atau ajaran-ajaran seperti  dikotomi baik buruk, upaya kebenaran melawan kejahatan, filasat keseimbangan dan keharmonisan hidup,   serta pesan-pesan kultural di lingkungan etnis yang    maupun nilai edukatif terselubung, di samping menyimpan konsepsi keindahan sekaligus  menanamkan konsepsi-konsepsi   tersebut   dalam masyarakat.

Secara tidak langsung Cakepung merupakan  media yang mampu mengemban misi untuk menghaluskan  citra rasa, budi pekerti manusia dari efek perilaku emosional, yang cenderung egois dan individualis. Dikatakan demikian karena dalam Cakepung terdapat sejumlah kearifan nilai-nilai lokal seperti nilai etika, nilai filsafat, nilai moral, nilai pendidikan, nilai kebudayaan yang kesemuanya itu dapat berperan bagi penghalusan budi pekerti yang akhir-akhir ini selalu menjadi wacana publik  karena menggejalanya ‘erosi mental’ dalam wujud sikap kekerasan yang terjadi di negeri ini.

 

d. Intelektual

Sebagai sebuah karya seni, Cakepung dapat dipahami secara rasional. Untuk memahaminya, diperlukan kemampuan inteleksi yang ditunjukkan oleh ilmu seni   untuk membangun relasi dan empati dengan karya tersebut. Ilmu seni internal akan mermpermasalahkan kandungan nilai seninya, sedangkan ilmu seni eksternal akan mempermasalahkan seniman pencipta, konteks sosial  budaya,  dan publik  seninya.

Dalam  mengapresiasi Cakepung, secara  intelektual  pikiran dirangsang untuk memaknai  informasi-informasi yang disajikan. Penonton diharapkan menyimak makna pertunjukan yang berisi anjuran, kritik-kritik sosial, pesan-pesan atau nasihat-nasihat  kultural yang diaktualisasikan melalui teks.

Demikian pula penghayatan  dari makna gerak, dan simbol-simbol  atau perlambangnya lainnya diperlukan ketajaman  pengetahuan untuk  dapat menangkap makna, mengerti gagasan yang dituangkan ataupun kisah-kisah  yang disajikan. Terlebih lagi kisah-kisah Cakepung  sebagian merupakan kristalisasi imajinasi yang berdasarkan pada  ingatan masyarakat yang sedang  diperkenalkan kepada penonton.

Kedua pendekatan yang diajukan di atas kiranya relevan untuk mengamati unsur-unsur Cakepung  secara holistik. Hal ini dirasa penting guna mengungkap gagasan yang tertuang dalam teks, melalui konteks sosiohistorisnya.

 

 

 

Sumber Artikel :

Judul Buku      : CAKEPUNG ANSAMBEL VOKAL BALI

Pengarang       : I KOMANG SUDIRGA

Penerbit           : KALIKA YOGYAKARTA

 

Jul 17

Bali pertengahan

Posted on Kamis, Juli 17, 2014 in Tak Berkategori
  1. Masa Samprangan.

1 1. Ekspedisi Gajah Mada ke  Bali       

Setelah pemerintahan raja Sri Mahaguru tahun 1324 – 1328 M. Maka pemerintahan dipegang oleh Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang disebut dalam prasasti Patapan Langgahan tahun 1337 M. Selain itu ada pula sebuah patung yang disimpan di Pura Tegeh Koripan termasuk Desa Kintamani. Pada bagian belakang patung itu ada tulisan yang sangat rusak keadaannya. Bagian yang masih dapat dibaca pada baris kedelapan berbunyi :   …………………….

stasura ratna bumi banten diduga adalah arah perwujudan dari raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten.

Baginda mengangkat seorang mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis, yang tinggal di Desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam. Sebagai pembantunya diangkat Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Belahbatuh. Para mentrinya disebutkan Krian Girikmana tinggal di Desa Loring Giri (Buleleng), Krian Ambiak tinggal di Desa Jimbaran, Krian Tunjung Tutur tinggal di Desa Tenganan. Sedangkan Krian Buahan tinggal di Desa Batur, Krian Tunjung Biru tinggal di Desa Tianyar, Krian Kopang tinggal di Desa Seraya dan Walungsingkal tinggal di Desa Taro.

Raja Sri Astasura tidak mau tunduk lagi di bawah perintah raja putri Tribhuwana Tunggadewi di Majapahit yang memerintah pada tahun 1329 – 1350 M. Adapun alasannya karena mengingat Bali sudah dari dahulu tetap di bawah lindungan raja Daha. Perhubungan raja Bali dan kerajaan Daha sudah berlaku sejak raja putri Gunapriyadharmapatni dan Dharma Udayana Warmmadewa yang memerintah di Bali dari tahun 989 – 1001 M. Namun pada tahun 1293 M, Daha ditaklukkan oleh Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit maka Bali langsung dikuasai oleh raja Majapahit.

Di dalam kitab Negarakertagama yang digubah oleh pujangga Prapanca yaitu nyanyian 49, bait 4, disebut seorang raja Bali yang murka dan hina dan kemudian dikalahkan oleh bala tentara Majapahit. Nyanyian 49, bait 4 menyebut sebagai berikut :

Muwah ring sekabdesu masaksi nabi ikang bali nathanya dussila niccha dinon ing bala bhrasta sakweh nasa ars salwiri dusta mangdoh wisastha

Artinya :

Selanjutnya pada tahun Saka 1265 raja Bali yang jahat dan nista diperangi oleh tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka pergi menjauh.

Tuduhan Prapanca yang mengatakan ikang bali natha dussila niccha sebetulnya tidak benar karena raja Bali tersebut sebetulnya seorang  raja yang gagah berani dan menghendaki orang Bali tetap berdaulat dan merdeka serta merupakan sebuah negara yang seting-kat atau sejajar dengan Majapahit. Karena sipat kepahlawanan dan kebaikan maka ia disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang berarti : beliau sang raja ibarat delapan dewa kesaktiannya sebagai permatanya pulau Bali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tuduhan pujangga Prapanca tersebut disebab-kan karena raja Astasura tidak mau tunduk kepada raja Majapahit. Dalam tradisi di Bali sering juga disebut dengan nama Dalem Beda-hulu yang berarti beda = berbeda dan ulu = kepala, jadi kepala berbeda badan. Hal ini menunjukkan bahwa raja tidak mau tunduk kepada pemerintah Majapahit.

Selanjutnya area Siwa – Bhairawa yang terdapat di Pura Kebo Edan Pejeng adalah diduga berasal dari zaman pemerintahan Astasura yaitu sekitar pertengahan abad ke-14 M. Bhairawa adalah bentuk krodha dewa Qiwa. Penduduk Daerah Gianyar menghubungkan area dewa giwa – Bhairawa dengan tokoh Ki Kebo Iwa yang merupakan salah satu senapati dari raja Gajah Waktera. Sebuah area kepala yang tersimpan di Pura Gaduh di Belahbatuh yang dianggap sebagai area Kebo Iwa.

Sebelum Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bali maka terlebih dahulu ia berminat menyingkirkan Kebo Iwa sebagai orang yang kuat dan sakti di Bali. Jalan yang ditempuh dengan tipu musli-hat yaitu raja putri Tribhuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putri menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu.

Andaikata raja Bedahulu sependapat dengan isi surat itu hendaknya ia mengirim patih Kebo Iwa ke Majapahit yang akan dikawinkan dengan seorang putri cantik dari Lemah Tulis sebagai pertanda persahabatan. Raja Astasura sedikit tidak curiga bahwa ini suatu tipuan belaka. Berangkatlah Kebo Iwa ke Majapahit bersama Gajah Mada tanpa curiga.  Di  sana ia dibunuh dengan  licik.  Namun setelah Kebo Iwa meninggal dunia belum juga ada tanda-tanda bahwa raja Bali menyerah.

Amangkubhumi Pasunggrigis menggantikan Kebo Iwa mengorganisir pasukannya menentang Majapahit. Ketika diadakan rapat di Bedahulu membicarakan berita kematian Kebo Iwa seluruh hadirin sepakat mempertahankan Bali dan tidak mau tunduk kepada Maja­pahit.

Setelah itu Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyerang Bali. Terjadilah ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1343 dengan candrasangkala faka isu rasaksi nabhi (anak panah, rasa, mata, pusat). Pasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya. Setelah sampai di pantai Banyuwangi, tentara Maja­pahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan.

Dalam perundingan diputuskan bahwa Bali diserang dari bebe­rapa jurusan seperti: dari pantai Timur Bali yaitu dari Desa Tianyar mendarat pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah -Mada, se-dangkan pantai Timur Bali dipertahankan oleh panglima Bali Aga yang bernama Ki Tunjung Tutur dan Sri Kopang. Dari pantai Utara Bali mendarat pasukan Majapahit di Desa Ularan dengan pimpinan-nya Arya Ularan, Arya Sentong dan Arya Kutawaringin, sedangkan pantai Utara Bali dipertahankan oleh Ki Girikmana, Ki Buah. Selan-jutnya dari pantai Selatan Bali pasukan Majapahit mendarat di pantai Desa Jimbaran yang dipimpin oleh Arya Kenceng, Arya Pengalasan dan pihak pasukan Bali dipimpin oleh Ki Tambiyak, Ki Gudug Basur yang gagah berani.

Demikianlah Bedahulu dikepung dari segala jurusan dan ter­jadilah pertempuran yang hebat. Pertempuran yang hebat itu menimbulkan kurban yang sangat besar pada kedua belah pihak. Begitupun putra baginda yang bernama Pangeran Madatama gugur dalam perang tersebut. Kehilangan putra tercinta itu menyebabkan raja Bedahulu Astasura bersedih hati akhirnya sebab utama beliau

Sisa-sisa laskar Bedahulu di bawah Pasunggrigis masih tetap melawan laskar Majapahit. Gajah Mada akhirnya dapat menahan Ki Pasunggrigis dan dibawa ke Majapahit untuk dihadapkan pada raja Majapahit dan diangkat sebagai maha mentri Bedahulu atas usul Gajah Mada. Ki Pasunggrigis sendiri akhirnya wafat tahun 1357 di Sumbawa dalam tugas menumpas pemberontakan raja Dedela Nata terhadap Majapahit. Akhirnya Ki Pasunggrigis dan Dedela Nata sama-sama gugur dalam perang tanding.

Oleh karena Pasunggrigis tidak dapat bertahan lagi maka sejak itu terjadi kekosongan pemerintahan di daerah Bali. Memang sebagian dari tentara ekspedisi Gajah Mada ditempatkan di Bali untuk mengawasi keamanan tetapi ternyata mereka tidak mampu men-jamin ketertiban sepenuhnya dan sering terjadi pemberontakan-pemberontakan kecil.

 

Sumber Artikel          :

Judul Buku                  : SEJARAH BALI

Penerbit                       : Pemerntah Daerah Tingkat II Bali

Proyek Penyusunan Sejarah Bali

Tim Penyusun             :

Pengarah                     : Dra I Gusti Ayu Tista

Penanggung Jawab     : Anak Agung Ayu Mas, SH

Ketua Team                 : Drs. I Gusti Ngurah Rai Mirsha

Wakil Ketua                : Drs. I Gusti Gde Ardana

Sekretaris                    : Drs. A.A. Gde Putra Agung, S.U

Anggota                      –    Drs. I Wayan Widia

–          I Wayan Simpen, AB

–          Drs. I Wayan Wardha

Dra. I Gusti Ayu Surasmi

Jun 28

peran musik dalam kehidupan sosial

Posted on Sabtu, Juni 28, 2014 in Tak Berkategori

Pendidikan seni musik bukanlah sekedar hiburan untuk memancing seseorang menjadi semangat dalam belajar, seperti yang didengungkan sebagian orang selama ini. Ketika kita merasa bosan dengan salah satu mata pelajaran, maka dinyanyikanlah sebuah lagu. Pendidikan seni musik pada hakekatnya memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk manusia seutuhnya. Melalui pembelajaran yang terarah seni musik dapat dijadikan sebagai alat media guna membantu mencerdaskan kehidupan, mengembangkan manusia yang berbudaya yang memiliki keseimbangan otak kanan dan kirinya (keseimbangan akal, pikiran, dan kalbunya), dan memiliki kepribadian yang matang. Pendidikan seni musik merupakan pendidikan yang memberikan kemampuan mengekspresikan dan mengapresiasikan seni secara kreatif untuk pengembangan kepribadian dan memberikan sikap-sikap atau emosional yang seimbang. Seni musik membentuk disiplin, toleran, sosialisasi, sikap demokrasi yang meliputi kepekaan terhadap lingkungan. Dengan kata lain pendidikan seni musik merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting untuk membantu pengembangan individu siswa yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan akal, fikiran, sosialisasi, dan emosional.

Seni musik merupakan cabang seni yang menggunakan media bunyi sebagai sarana pengungkapan ekspresi senimannya. Secara sistematis, struktur bentuk musik dapat diuraikan sebagai berikut:

•    Nada bertindak sebagai satuan terkecil dalam sebuah ciptaan musik.

•    Kumpulan dari nada dinamakan kata.

•    Kumpulan beberapa kata dinamakan frase.

•    Kumpulan frase musik akan membentuk kalimat musik.

•    Kumpulan beberapa kalimat musik dinamakan dengan tema. Tema dapat pula disebut dengan verse, chorus, atau baik musik.

•    Kumpulan tema dinamakan ciptaan.

Unsur lain yang ada dalam musik adalah ritme.  Ritme adalah susunan hentakan yang teratur.

Dalam perkembangan ditengah pesatnya kemajuan di berbagai aspek kehidupan, keindahan tidak lagi menjadi tujuan yang paling penting dalam berkesenian. Sedangkan The Liang Gie berpendapat bahwa jenis nilai yang melekat pada seni mencakup: nilai keindahan,  nilai pengetahuan,  nilai kehidupan.

Fungsi Seni serta tujuannya dapat dibagi menjadi beberapa bagian :

a. Fungsi Religi/Keagamaan

Karya seni sebagai pesan religi atau keagamaan. Contoh : kaligrafi, busana muslim/muslimah, dan lagu-lagu rohani. seni juga sering digunakan untuk sebuah upacara kelahiran, kematian, pernikahan dsb. contohnya : gamelan dalam upacara Ngaben di Bali (gamelan luwang, angklung dan gambang)

 

b. Fungsi Pendidikan

Seni sebagai media pendidikan dapat dilihat dalam musik, misalkan Angklung dan gamelan pun ada nilai pendidikannya karena kesenian tersebut terdapat nilai sosial, kerjasama dan disiplin. karya seni yang sering digunakan untuk pelajaran/pendidikan seperti : gambar ilustrasi buku pelajaran, film ilmiah/dokumenter, poster, lagu anak-anak, alat peraga IPA, dsb.

c. Fungsi Komunikasi

Seni dapat digunakan sebagai alat komunikasi seperti, kritik sosial, gagasan, kebijakan dan memperkenalkan produk kepada masyarakat. bisa dilihat dalam pagelaran wayang kulit, wayang orang dan seni teater ataupun poster, drama komedi dan reklame.

d. Fungsi Rekreasi/Hiburan

Seni yang berfungsi sebagai sarana melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan yang khusus pertunjukan untuk berekspresi ataupun hiburan.

e. Fungsi Artistik

Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk hal yang komersial, seperti : musik kontenporer, tari kontenporer, dan seni rupa kontenporer. (seni pertunjukan yang tidak bisa dinikmati pendengar/pengunjung, hanya bisa dinikmati oleh para seniman dan komunitasnya)

f. Fungsi Guna (seni terapan)

Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya, kecuali sebagai media ekspresi (karya seni murni) atau pun dalam proses penciptaan mempertimbangkan aspek kegunaannya, seperti : perlengkapan/peralatan rumah tangga yang berasal dari gerabah ataupun rotan.

g. Fungsi Kesehatan (terapi)

Seni sebagai fungsi untuk kesehatan, seperti pengobatan penderita gangguan physic ataupun medis distimulasi melalui terapi musik (disesuaikan dengan latar belakang pasien). terbukti musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan penyandang autisme, gangguan psikologis trauma pada suatu kejadian dsb. pada tahun 1999 Siegel menyatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan dapat merangsang sistem limbic jarikan neuron otak dan gamelan menurut Gregorian dapat mempertajam pikiran.

 

SENI MUSIK MEMPUNYAI TUJUAN

Perlu kita ingat bahwa musik merupakan kebutuhan batin yang indah dan bernilai luhur,

tujuan mempelajar musik adalah mereka akan memiliki kemampuan berapresiasi terhadap alam lingkungan dan karya seni serta dapat memanfaatkan pengalamannya untuk berkomonikasi secara kreatif melalui  kegiatan berkarya seni dalam usaha menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa.

 

Tujuan Penyajian Musik

Setiap karya manusia pasti memiliki tujuan tertentu. Termasuk karya yang berupa musik, beberapa tujuan diciptakannya musik adalah sebagai berikut ;

Tujuan Magis.

•    Musik pada tujuan ini, musik dianggap property yang mampu memperkuat suasana magis dalam ritual-ritual tertentu.

Tujuan Religius.

•    Musik dapat diciptakan sebagai pengakuan akan keagungan Tuhan, sebagai sarana mendekatkan diri dengan Tuhan.

Tujuan Simbolis.

•    Karya musik yang diciptakan pada konteks ini memiliki tujuan simbolis yang dapat menimbulkan kebanggaan terhadap sesuatu. Seperti lagu kepahlawanan, atau lagu kebangsaan.

Tujuan Komersial.

•    Di sini sudah jelas, musik dijadikan barang yang dapat membuahkan penghasilan bagi senimannya.

Tujuan Kreatif.

•    Tujuan penciptaannya semata-mata hanya untuk kepuasan dirinya sendiri dan biasanya bersifat eksperimental.

Tujuan Rekreatif.

•    Musik diciptakan untuk hiburan semata.

 

Jadi, peranan seni musik adalah memberikan kemampuan mengekspresikan dan mengapresiasikan seni secara kreatif untuk pengembangan kepribadian siswa dan memberikan sikap-sikap atau emosional yang seimbang. Seni musik membentuk disiplin, toleran, sosialisasi, sikap demokrasi yang meliputi kepekaan terhadap lingkungan. Dengan kata lain pendidikan seni musik merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting untuk membantu pengembangan individu yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan akal, fikiran, sosialisasi, dan emosional. Seni musik merupakan suatu proses pendidikan yang membantu pengungkapan ide/gagasan seseorang yang ditimbulkan dari gejala lingkungan dengan mempergunakan unsur-unsur musik, sehingga terbentuknya suatu karya musik yang tidak terlepas dari rasa keindahan. Seni musik lebih menekankan pada pemberian pengalaman seni musik, yang nantinya akan melahirkan kemampuan untuk memanfaatkan seni musik pada kehidupan sehari-hari. Seni musik diberikan  di sekolah sejak usia dini karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan individu,yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi  melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.”

Ruang lingkup pendidikan seni musik mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal seperti dasar-dasar teknik bernyanyi, memainkan alat musik, dan apresiasi musik. Seseorang yang berpartisipasi dalam kegiatan seni musik, selain dapat mengembangkan kreativitas, musik juga dapat membantu perkembangan individu, mengembangkan sensitivitas, membangun rasa keindahan, mengungkapkan ekspresi, memberikan tantangan, melatih disiplin dan mengenalkan seseorang pada sejarah budaya bangsa mereka.  Fungsi  seni musik bagi seseorang adalah sejalan dengan pendekatan “Belajar dengan Seni, Belajar Melalui Seni, dan Belajar tentang Seni”. Selain itu dikemukakan juga seni musik memiliki fungsi sebagai sarana atau media ekspresi, komunikasi, bermain, pengembangan bakat, dan kreativitas.

 

Jun 28

musik sebagai media kritik sosial

Posted on Sabtu, Juni 28, 2014 in Tak Berkategori

Kritik sosial adalah sindiran, tanggapan, yang ditujukan pada suatu hal yang terjadi dalam masyarakat manakala terdapat sebuah konfrontasi dengan realitas berupa kepincangan atau kebobrokan. Kritik sosial diangkat ketika kehidupan dinilai tidak selaras dan tidak harmonis, ketika masalah-masalah sosial tidak dapat diatasi dan perubahan sosial mengarah kepada dampak-dampak disosiatif dalam masyarakat. Kritik sosial disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, kritik sosial dapat disampaikan melalui media. Media penyampaian kritik sosial beraneka ragam jenisnya. Musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide dari otak yang mengandung sebuah sinyal pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks historis. Muatan lagu tidak hanya sebuah gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral atau idealisme dan sekaligus memiliki kekuatan ekonomis.  Karya seni musik adalah salah satu media paling ampuh untuk menyampaikan kritik sosial.

Musik adalah salah satu media untuk mewakili seperti apa perasaan dan aspirasi kita, dan sejarah sudah banyak membuktikan hal tersebut. Mungkin kita sendiri sering banyak mendengar bahwa musik banyak digunakan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi sosial dan kehidupan, politik bahkan menjadi salah satu media agitasi propaganda untuk melancarkan sebuah gerakan ideologis. Dari banyak aspek, musik tidak bisa kita pisahkan dalam sejarah perubahan sosial baik secara global dan nasional. Ada banyak nama – nama besar yang menumpahkan ekspresi pemberontakannya melalui music. Sudah tidak asing lagi bahwa sekarang musik dapat menjadi medium dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Sebagai fungsi komunikasi massa, musik dapat merekam realitas dalam melancarkan kritik sosial. Media ini dapat menjadi sarana opini publik tentang kenyataan yang terjadi pada masanya. Hal ini karena lirik dalam lagu tersebut mengisahkan pengalaman sejarah yang memiliki kedekatan secara emosional maupun pengalaman dengan para pendengarnya. Namun beberapa dari musisi ini lebih memilih menyuarakan lagu mereka dengan tema kritik sosial. Mereka menganggap hal tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap fenomena sosial yang terjadi saat ini. Menyampaikan sebuah kritik juga tak perlu harus sampai demo, berunjuk rasa hingga memancing kerusuhan. Sebuah kritik pun bisa disampaikan dengan indah lewat rangkaian nada-nada dan hentakan musik yang kencang.

Di music barat, perlawanan melalui musik juga disampaikan oleh John Lennon melalui salah satu karyanya yaitu lagu “Imagine”. Dalam lagu tersebut Lennon mencoba untuk mengungkapkan mimpinya dalam mewujudkan masyarakat tanpa adanya sekat – sekat sosial seperti agama, negara dan kepemilikan pribadi. Setidaknya lagu ini cukup berpengaruh dalam membentuk paradigma masyarakat dalam melihat realitas sosialnya, dan banyak pihak yang menduga bahwa musik ini sarat muatan sosialisme marxis karena memiliki kemiripan dengan beberapa poin dalam ‘Manifesto Komunis’, walaupun pada akhirnya Lennon sendiri mengungkapkan bahwa dia tidak berusaha untuk menanamkan ideologi tersebut dalam lagunya tersebut dan tidak menganutnya. Hanya saja ia beralasan bahwa karya tersebut tidak lebih adalah bentuk penyampaian pesan sosialnya dan penolakannya terhadap perang, terutama perang di Vietnam. Lagu ini kemudian oleh majalah Rolling Stone dinobatkan menjadi salah satu lagu terbaik sepanjang masa.

Di Indonesia, Iwan Fals merupakan sosok musisi yang cukup konsisten dalam perjuangan menggugat Orde Baru. Kritik-kritik pedas dan lugas selalu dilontarkan dalam setiap karyanya. Wacana kritik dalam karya Iwan Fals ternyata didukung oleh sebagian besar masyarakat terutama lapisan bawah, karena lagu tersebut mewakili dan menyuarakan hati nurani rakyat. Iwan Fals masih aktif dalam menelurkan karya  karya musik yang sarat akan pesan bernuansa kritik sosial dan bercerita mengenai lika liku kehidupan masyarakat pinggiran. Beberapa diantaranya adalah lagu ‘Bongkar’ yang bermuatan kritik sosial terhadap penindasan terhadap kaum tertindas dan suara – suara rakyat yang menginginkan keadilan dalam penegakan hukum tanpa pandang bulu. Dan majalah rolling stone kemudian menobatkan lagu ini sebagai lagu terbaik sepanjang masa di Indonesia. Tidak hanya lagu ‘Bongkar’, banyak lagu – lagu lainnya yang beliau hasilkan yang juga memiliki spirit yang sama dalam menentang ketidakadilan, beberapa diantaranya yaitu lagu ‘demokrasi nasi’, ‘wakil rakyat’, ‘Oemar Bakrie’, ‘Sore Tugu Pancoran’, dll. Selain itu ada Franky Sahilatua yang juga turut mengambil bagian dalam menyuarakan aspirasi sosialnya melalui lagu, banyak karya – karya yang ia hasilkan bercerita tentang kehidupan sosial di masyarakat dan nasionalisme, kemudian beliau juga turut aktif dalam gerakan sosial pada masa peralihan orde baru ke reformasi. Salah satu lagunya yang terinspirasi dari gerakan sosial yaitu lagu “Di Bawah Tiang Bendera” yang mengambil tema peristiwa 27 Juli yangmana pada waktu itu telah terjadi kerusuhan di Jakarta yang mengakibatkan banyak kerusakan pada saat itu dan beberapa aktifis yang diduga terlibat ditangkap oleh aparat keamanan. Kemudian ada lagu “Orang Pinggiran” yang menceritakan tentang nasib masyarakat pinggiran di Indonesia yang sangat memprihatinkan, dimana kedua tersebut dinyanyikan bersama Iwan Fals.

Lagu ‘’Bento’’ merupakan salah satu lagu yang berisikan kritik-kritik sosial terhadap pemerintahan Orde Baru yang terjadi pada akhir 90-an . Orde baru merupakan suatu rezim yang telah memberikan berbagai catatan sejarah panjang dari kekuasaan otoriter yang menghegemoni masyarakat. Kekuasaan negara yang begitu kuat membelenggu sendi-sendi kehidupan setiap warga negara. Kritikan tersebut sebagai reaksi terhadap kondisi sosial pada waktu itu, telah menjadi inspirasi bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan karya seni yaitu sebagai motivator kearah aksi sosial yang lebih bermakna, sebagai pencari nilai-nilai kebenaran yang dapat menangkat situasi dan kondisi alam semesta. Di dalam karya ini juga berisikan tentang kritik-kritik terhadap pejabat-pejabat yang menggunakan kedudukannya untuk memperkaya diri sendiri.. Mereka ditampilkan sebagai orang-orang yang menikmati kue pembangunan, punya banyak uang, punya harta dan rumah mewah, punya jabatan tinggi, berkuasa, bisa ber-buat semaunya, hidup enak dan nyaman. Mereka asyik dengan kenikmatan hidupnya sendiri, dan tidak perduli dengan hidup orang lain yang ditindas atau menjadi korban aksi manipulasinya.

Jadi, Musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide dari otak yang mengandung sebuah sinyal pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan. Muatan lagu tidak hanya sebuah gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral atau idealisme dan sekaligus memiliki kekuatan ekonomis. menerima kritikan ataupun untuk isu-isu sensitif, terlebih yang bersinggungan dengan penguasa. Kemampuan melihat persoalan bangsa bukan hanya dimiliki kaum politisi, kaum seniman juga mempunyai kemampuan yang sama dengan bahasa yang berbeda. Jika para politisi bisa memprediksi persoalan kebangsaan dari analisa politik, sebagai seniman juga bisa bicara bangsa dari analisa-analisa kultural, atau kesenian. Musik sebagai hiburan juga harus memberi pencerahan dengan lirik atau lagu yang berjiwa dan bermakna bagi kehidupan. Dalam berkesenian seorang seniman tidak boleh memalingkan diri dari realitas sosial. Bahkan musik

bisa berfungsi sebagai kontrol sosial.

 

Jun 28

musik sebagai media komunikasi

Posted on Sabtu, Juni 28, 2014 in Tak Berkategori

Musik merupakan bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai media penciptaannya. Tanpa musik dunia sepi, hampa dan monoton karena musik mampu mencairkan suasana, merelaksasi hati serta menstimulasi pikiran manusia sebagai pemeran cerita kehidupan. Musik tak sekedar memberikan efek hiburan, tetapi mampu memberikan makna untuk membangkitkan gairah dan spirit hidup untuk memberdayakan dan memaknai hidup. Mendengarkan musik, menghayati dan menikmatinya merupakan aktivitas yang menyenangkan dan bisa membuat kita nyaman. Efek inilah yang secara medis dan psikologis menimbulkan reaksi positif pada kondisi fisik manusia, termasuk kita. Musik sekarang juga merupakan bagian dari dunia komersial, banyak orang sangat mementingkan bintang musik hari ini, begitu banyak sehingga mereka dapat mencerminkan atau mencoba untuk mengubah opini publik, musik sering digunakan sebagai cara untuk mengekspresikan protes pada saat demo, dan sekarang tidak ada bencana di dunia yang tidak mendapatkan lagu sendiri untuk mengumpulkan uang atau kesadaran. Merekapun mengirim teman dengan link lagu melalui internet, atau membuat CD kompilasi untuk seseorang yang mereka suka, mereka menggunakan musik sebagai bentuk komunikasi, dan seseorang pasti bisa belajar banyak tentang seseorang dari jenis musik yang mereka dengarkan.  Dan biasanya karya-karya seseorang membuat musik sesuai dengan apa yang mereka rasakan dan mereka fikirkan sesuai dengan suasana hati mereka.

Musik sebagai media komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah dalam konteks penggunaannya (used). Sebagai contoh lagu menidurkan anak atau yang disebut dengan dodoi, nandung dan lullaby. Fungsi musik dalam konteks ini adalah sebagai media komunikasi untuk mengekspresikan kecintaan orang tua dengan cara menghibur anaknya melalui nyanyian-nyanyian, tentu harapannya adalah anak mereka dapat tidur. Contoh lain dari hal serupa adalah lagu-lagu tentang percintaan, yang selalu dipergunakan oleh sepasang kekasih demi mengekspresikan perasaan mereka masing-masing dengan harapan dapat memikat serta menjalin kasih sayang di antara mereka. Walaupun pada kenyataannya musik yang digunakan pada dua contoh ini dalam konteks komunikasi belum tentu berhasil sebagaimana yang diharapkan, namun setidaknya sudah terjadi sebuah perlakuan komunikasi, yang mana musik dijadikan sebagai media perantaranya. Artinya di sini telah terjadi suatu proses “perekayasaan” dengan menggunakan media musik sebagai pengantarnya.

Musik juga dapat menyampaikan penekanan perbedaan identitas kelokalan (ethnic identity) pada masyarakat yang heterogen. Hal ini dapat dilihat misalnya musik zapin sebagai identitas dari masyarakat Melayu pesisir (terutama Bengkalis dan Siak), gondang burogong sebagai identitas masyarakat Rokan, rarak sebagai identitas masyarakat Kuantan, madihin sebagai identitas masyarakat Indragiri Hilir dan lain sebagainya. Tentulah perbedaan dari instrumen dan lagu-lagu yang dipergunakan pada masing-masing bentuk musik tersebut juga termasuk sebagai pembeda sekaligus penanda dari masing-masing identitas kelokalan tersebut. Misalnya musik zapin menggunakan alat musik petik gambus dan perkusi marwas, sedangkan pada gondang burogong mengunakan alat musik calempong, gong dan gendang panjang. Dari contoh ini dapatlah dilihat bahwa musik telah digunakan sebagai penyampai karakteristik dari masing-masing masyarakat yang menggunakannya dan sekaligus bisa dijadikan media komunikasi untuk menciptakan serta memelihara identitas kelokalan yang ada di setiap kelompok masyarakat tersebut. Intinya di sini adalah, musik merupakan tanda yang dapat dijadikan penanda dan tidak diperlukan lagi proses perekayasaan demi sebuah legalitas kelompok, namun secara otomatis sudah menjadi bagian yang terintegrasi.

Selain dari dua hal di atas, masih dalam konteks komunikasi, di beberapa tempat masyarakat juga menggunakan musik sebagai bentuk komunikasi untuk keperluan hal-hal yang gaib (supernatural). Misalnya saja pada masyarakat Petalangan yang terdapat di Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau, musik dijadikan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan berbagai permintaan penyembuhan yang di selenggarakan dalam bentuk ritual pengobatan. Di sini musik memakai media intrumen perkusi ketobung yang digunakan untuk mengiringi nyanyian sesembahan yang telah disesuaikan dengan tahapan ritual pengobatan tersebut. Dalam hal ini, fungsi musik sesungguhnya lebih kepada penopang suatu kegiatan budaya, karena yang lebih dipentingkan adalah kegiatan ritual pengobatannya bukan musiknya. Walaupun demikian, peristiwa ini tidak bisa dilepaskan bahwa peristiwa musikal terdapat di dalamnya yang digunakan sebagai media komunikasi antara manusia dengan sang penciptanya dalam maksud-maksud tertentu, yaitu permintaan penyembuhan kepada sang pencipta. Dengan kata lain, sesungguhnya fungsi musik sebagai media komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah terjadi di berbagai fenomena kehidupan masyarakat yang memilikinya.

Di era demokrasi ini, khususnya di Inodonsia, musik tidak hanya sebagai media komunikasi seperti yang telah disebutkan di atas. Dalam penggunaannya, musik berkembang dan mulai merambah di kancah politik nasional. Musik digunakan sebagai media komunikasi politik dalam bentuk lagu. Banyak lagu yang beredar di masyarakat berisi tentang curahan hati rakyat, sindiran, kritikan kepada wakil rakyatnya. Lagu dipilih karena dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Musik dapat didengarkan semua kalangan. Mulai dari masyarakat kecil hingga pejabat negeri ini.   Lagu digunakan sebagai media komunikasi politik oleh rakyat kecil yang tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya melalui partai atau media massa. Beberapa musisi Indonesia telah menciptakan banyak lagu tentang politik.

Di beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja. Pada jaman dahulu, musik digunakan sebagai sarana komunikasi antara jenderal dan prajuritnya dalam peperangan, hal ini terlihat dari genderang yang mereka bawa pada saat peperangan. Bunyi dan ritme genderang disini bermacam-macam sesuai dengan perintah yang diberikan sang jenderal kepada penabuh genderang, ada ritme untuk menyerang, ada ritme untuk bertahan, dan ada pula ritme untuk mundur. Dari penjelasan di atas jelas sekali bahwa musik dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi.

Seni musik (instrument art) adalah bidang seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat musik tersebut. Bidang ini membahas cara menggunakan instrument musik, masing-masing alat musik mempunyai nada tertentu di samping itu seni musik juga membahas cara membuat not dan bermacam aliran musik, misalnya musik vokal dan musik instrument. Seni musik dapat disatukan dengan seni vokal. Seni instrument adalah seni suara yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik, sedangkan seni vokal adalah melagukan syair yang hanya dinyanyikan dengan perantara oral (suara saja) tanpa iringan instrument musik).

Melihat pengertian musik tersebut, membawa kita pada pengertian musik yang lebih menjurus namun bersifat umum, dalam arti bahwa seni musik merupakan salah satu karya seni. Pada tingkat peradaban manusia yang masih rendah, seni musik telah diinterpretasikan sedemikian rupa pada hampir seluruh aspek kehidupan, masyarakat primitif memanfaatkan musik tidak hanya sekedar sarana entertainment semata, tetapi mereka mempergunakannya juga sebagai alat untuk upacara ritual keagamaan, adat kebiasaan bahkan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sosial. Apresiasi mereka menunjukkan bahwa musik mempunyai peran yang cukup urgen dalam kehidupan manusia.

Salah satu peran yang cukup menonjol pada seni musik yaitu sebagai mediator. Pada konteks ini seni musik merupakan bahasa universal yang diekspresikan lewat simbol-simbol estetis. Sebagai alat komunikasi musik menjelma secara substansial menjadi sarana aktivitas interaktif antara musisi dan audiencenya (pendengar). Pada tingkat inilah seni musik menunjukkan peran yang cukup luas yang mencakup kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi dan kehidupan religius (keagamaan).