gedeyudana

Blog

Persoalan Seni di Indonesia

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 10:08 am on Sabtu, Maret 24, 2018

A.    Permasalahan Estetika Indonesia

a.       Budaya Indonesia

                                                              i.      Mitis

Cara berpikir manusia Indonesia, terutama yang kurang terpelajar, masih mengikuti cara berpikir nenek moyang bangsanya. Apalagi bidang seni, masih amat banyak produk seni yang kita warisi dari nenek moyang yang hidup di zaman pra-modern. Pada Budaya Mitis , manusia justru bersikap menyatu dengan alam luar dirinya. Manusia harus menyelaraskan diri dengan kosmos kalau mau selamat di dunia fana ini. Manusia manyatukan dirinya dengan objek di luar dirinya, dan dari sana menemukan jati dirinya.

                                                            ii.      Ontologis

Manusia mencoba untuk memahami alam di luar dirinya berdasarkan penalarannya dan pembuktian nyata yang tak terbantahkan. Sikap ontologis inilah yang kemudian berkembang dalam masyarakat modern Indonesia sampai sekarang. Alam pikiran Barat dengan deras memasuki Indonesia. Nilai-nilai hidup modern ini hasil dari sikap manusia yang selalu menjaga jarak dan mencoba melihat secara objektif semua yang ada di luar kesadaran atau dirinya. Inilah oleh van Peursen dinamai Budaya Ontologis

b.      Logika Budaya

                                                              i.      Mitis

Dalam logika Mitis, adalah wajar apabila keringat Dewa yang menetes dari tubuhnya dapat menjelma menjadi seorang manusia. Itu karena para dewa , di dunia sana, segalanya omnipoten, serba mungkin, sedang di dunia manusia bersifat fana. Itu sama sekali tidak menyalahi logika budaya mitis, karena ada kesatuan antara seluruh ciptaan, seluruh kosmos, termasuk antara dunia abadi nun di sana dengan dunia manusia.

Cara berpikir demikian itulah yang melahirkan karya seni yang kita warisi hingga sekarang ini. Dan, karya seni itu tak dapat dipahami dengan pendekatan ontologis.

                                                            ii.      Ontologis

Berbagai karya seni itu, terutama seni pertunjukannya, telah mengalami berbagai perubahan bentuk dan malah kadang-kadang berubah fungsinya, dari mitis menjadi ontologis, yakni sekadar kesenian belaka, sekadar estetika belaka tanpa kaitan religius sama sekali.

c.       Permasalahan

Bagaimana kita bisa memahami (secara ontologis) dunia pemikiran purba itu dalam sekian banyak warisan seni tradisional kita?

Tentu mudah apabila masyarakat penghasil karya seni tersebut masih homogen.

Tetapi akan sulit bagi masyarakat yang homogen, seperti di Pulau Jawa misalnya.

B.     Dasar Religius Estetika Mitis

Budaya mitis adalah kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos, kesatuan yang imanen dengan yang transenden, kesatuan dunia manusia dengan dunia roh dan dewa. Konsep kesatuan kosmos ini hanya dapat diperoleh lewat sistem kepercayaan dalam hal ini dapat dikatakan ‘agama asli’ indonesia. Maka, sumber pengetahuan manusia sekarang untuk memahami estetika seni budaya mitis adalah kepercayaan ‘asli’ yang kini masih tersisa, ditambah dengan metode perbandingan dan data tertulis di masa lampau.

Dalam system religi terdapat pokok-pokok yang dipercayai :

a.       Sistem upacara atau ibadah yang dilakukan.

b.      Dasar mitologi yang dipercayai sebagai kisah asal usul semesta

c.       Etika agama yang lazim disebut hukum adat.

d.      Sistem mistik untuk memasuki pengalaman kesatuan dengan kosmos.

e.       ‘primbon’ dalam keselarasan dan tidak selaras dengan kosmos.

Pengalaman estetik sekaligus merupakan pengalaman religius. Pengalaman estetik adalah suatu ekstase dengan kosmos. Peleburan diri dalam seni adalah peleburan diri dalam pengalaman mistik.

Estetika budaya mitis, dengan demikian berbeda dengan estetika budaya ontologis. Dalam budaya ontologis, pengalaman estetik bukanlah pengalaman religius. Namun, pengalaman religius dapat dicapai setelah pengalaman estetik selesai.

C.     Seni Sebagai Upacara Keagamaan

a.       Upacara itu merupakan dunia ambang, dunia antara, dunia pertemuan antara yang transenden dengan yang imanen.

b.      Keagamaan adalah dunia liminalitas

Dalam upacara agama asli Indonesia, kesenian sering dipakai untuk mencapai pertemuan transendental tersebut. Melalui kesenian, tercapai pengalaman khusus yakni pengalaman estetik.

Seperti dikatakan Saini km dalam bukunya, peristiwa teater (1996), seni teater adalah dunia ambang, yakni ambang untuk menoleh kepada yang inderawi dari pengalaman sehari-hari dan juga menoleh pada dunia nilai

Dari situ muncul kreativitas seniman, bagaimana menghadirkan tokoh atau roh dunia sana yang abadi, tertib kosmos, omnipoten itu ke dalam wujud duniawi yang serba terbatas. Maka, lahir karya seni tradisional yang berkwalitas tinggi dan menarik umat manusia sampai kini

D.    Memahami Estetika Mitis

Dalam praktik hidup kontekstual sekarang ini, campur aduk antara nilai budaya mitis, ontologis, dan fungsional. Belum sepenuhnya di segala sektor budaya kita modern secara ontologis. yang jelas, di sektor budaya seni, dalam hidup sehari-hari, kita masih terus memelihara dan mempergunakan fungsi seni secara mitis daripada secara ontologis ataupun fungsional.

Kalau kita percaya bahwa ‘bentuk’ mengikuti ‘fungsi’ dalam kebudayaan, maka bentuk kesenian tradisional yang sekarang masih hidup dalam konteks masyarakat sekarang ini, sebagian masih berfungsi asal (mitis) dan sebagian telah berubah fungsi, namun bentuknya tetap berstruktur mitis. Maka, untuk memahami karya seni yang demikian kita tidak dapat melihat benda seninya belaka dengan dengan tafsiran kontekstual kita sendiri, tetapi harus berusaha menempatkan benda seni tersebut dalam bentuk dan fungsinya sesuai dengan konteks sosio-budayanya.

E.     Konteks Estetika Seni Tradisi

Seni tradisi masih hidup segar dalam konteks ideologi masyarakat pedesaan. Dalam jenis Seni Statis (rupa, arsitektur, sastra tulis) tidak mengalami perubahan, sama seperti dahulu kala. Tari Seblang, Ronggeng, Tayub yang masih hidup di lingkungan rakyat pedesaan sekarang ini tentu saja mengalami perubahan bentuknya dan juga fungsinya. Objek tarian atau teater atau karya musik yang sekarang ada merupakan hasil penafsiran dan pembentukan (penciptaan) kembali oleh konteks berbagai zaman.

Tiga masa perubahan besar :

a.       Masuknya pengaruh seni India

b.      Masuknya agama Islam

c.       Masuknya pengaruh Belanda

Dua konteks budaya sejak munculnya lembaga kerajaan di pusat-pusat pemerintahan

a.       Budaya pedesaan

b.      Budaya Istana

Kesimpulan

  1. Budaya Indonesia terdiri dari Budaya Mitis dan Ontologis
  2. Pengalaman estetik sekaligus merupakan pengalaman religius. Pengalaman estetik adalah suatu ekstase dengan kosmos. Peleburan diri dalam seni adalah peleburan diri dalam pengalaman mistik.
  3. Lahir karya seni tradisional yang berkwalitas tinggi dan menarik umat manusia sampai kini karena adanya Upacara Keagamaan
  4. Seni tradisi mengalami 3 perubahan besar : masuknya pengaruh seni India, masuknya Agama Islam, dan masuknya pengaruh Belanda.

Pelayon Dagang Uyah

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 9:44 am on Sabtu, Maret 24, 2018

A. Latar Belakang Analisa

Suatu hal yang mendasari keinginan saya untuk meneliti atau menganalisa gending Tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah ini adalah yang pertama, gending ini begitu populer dan menjadi ciri khas dan merupakan suatu gending utama jika sekaa tabuh di Banjar Suraberata melakukan prosesi ngayah di Pura-Pura. Kedua, karena adanya narasumber dan bukti otentik yang bisa dijadikan bahan guna memperkuat analisa. Yang ketiga, tabuh ini memiliki keunikan yang menjadi ciri khas gending lelambatan Pejaten khususnya dan tabanan pada umumnya.

 

B.     Pencipta Tabuh

Sesuai dengan informasi yang saya dapat dari narasumber I Wayan Dani dan I Gusti Made Yasa selaku penerus lelambatan Pejaten, hingga saat ini penata dari Tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah ini tidak diketahui siapa orangnya atau sering disebut anonim. Yang narasumber ketahui hanyalah orang yang membawa ataupun memperkenalkan tabuh-tabuh lelambatan termasuk Tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah ini hingga di Banjar Pangkung Pejaten. Orang tersebut ialah sugra pakulun Bapak Gobyah.

 

C.    Asal Mula Tabuh

Menurut narasumber I Wayan Dani, asal tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah ini berasal dari Pangkung Prabhu, Desa Delod Peken, Tabanan. Kemudian tabuh ini dicetuskan di banjar pangkung pejaten.

Diperkirakan asal mula terciptanya Tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah ini  adalah tabuh pelayon gede. Karena tabuh ini bersifat umum akhirnya penata membuat suatu tambahan lainnya hingga terciptalah satu karya tabuh yang diberi judul pelayon dagang uyah.

Selain itu, ketika tabuh pelayon ini dituangkan di Banjar Pangkung Pejaten yang awalnya hanya berupa kawitan pengawak dan pengisep saja, ditambahlah Tabuh Telu sebelumnya guna mengawali gending pelayon ini oleh I Wayan Dani. Dan pada bagian akhir dibuatkan pula suatu tabuh pengecet dengan tempo agak cepat yang diberi nama pengecet Teteboan I Wayan Dani pula. Adapun fungsi dari Pengecet Teteboan ini adalah untuk megirang-girangan ketika usai menabuh dan itu tandanya bagi penabuh untuk katuran boga.

Dan pada tahun 1974, diadakanlah rekaman guna mempublikasikan gending-gending lelambatan termasuk Tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah ini.

Oleh karena itu dengan berbekal ciri khas Tabuh Lelambatan Pejaten tersebut hingga kini tabuh ini begitu dikenal di Bali khususnya di Tabanan yang biasanya dijadikan sebagai tabuh pengiring upacara Dewa Yadnya seperti Piodalan.

 

D.    Sejarah Dituangkannya Tabuh 6 Pelayon Dagang Uyah Di Banjar Suraberata

Tabuh ini dituangkan di Banjar Suraberata, Lalang Linggah, Selemadeg Barat, Tabanan pada tahun 2007 oleh I Wayan Dani asal pejaten. Kisah dipilihnya tabuh ini sebagai tabuh klasik yang ada di banjar ini karena diharapkan oleh Pengurus tabuh supaya ada salah satu tabuh klasik yang ada di Tabanan. Maka dari itu pengurus mencari Pembina tabuh dari banjar pangkung pejaten yang bernama I Wayan Dani. Setelah itu diberilah tabuh yang disebut tabuh 6 pelayon dagang uyah. Proses latihan kira kira 3 minggu dengan seminggu 2 kali latihan. Selama 1 kali latihan dari jam 8 sampai jam 11 malam.

 

E.     Pemberian Judul Tabuh

Dasar dari pemberian judul tabuh ini adalan penciptaan pribadi dari penata karena terinspirasi dari orang-orang yang ada di daerah Tabanan selatan. Menurut narasumber I Wayan Dani dan I Gusti Made Yasa, pada jaman dahulu para tetua yang menciptakan gending ini sedang “ngalu” atau berangkat ke desa lain membawa barang dagangan untuk dijual. Pada suatu ketika, dilihatlah orang yang sedang membawa garam untuk dijual ke pasar. Sambil beristirahat dibuatlah suatu gending pelayon tersebut. Itulah ide dari penata tabuh, maka dibuat tabuh klasik yang disebut pelayon dagang uyah.

Menurut Ketut Kantara, tabuh ini diibaratkan seperti dagang uyah yang berjalan jauh yang mempengaruhi struktur tabuh yang panjang dan dengan dinamika keras lambat seperti dagang uyah yang kecapaian menjajakan garamnya.

 

F.     Bentuk Tabuh

Tabuh Pelayon dagang uyah ini adalah tabuh lelambatan yang berbentuk tabuh 6. Karena pada bagian pengawak terdapat pukulan jegong, lalu kempli, lalu jegog, dan kempur itu diulang sebanyak 6 kali. Lalu pada akhir bait diakhiri dengan pukulan gong.

 

G.    Instrumen Yang Digunakan

Jenis instrumen yang dipakai adalah gong kebyar.

Mengapa Gong Kebyar? Alasan yang pertama adalah, karena di Banjar Suraberata hanya terdapat Gong Kebyar dan Baleganjur. Maka yang memungkinkan untuk menuangkan tabuh ini adalah pada gambelan Gong Kebyar. Kedua, karena bentuk dari tabuh ini adalah tabuh 6 lelambatan, dan terdapat variasi kotekan, maka dipihlah Gong Kebyar sebagai media untuk menuangkan gending ini.

H.    Struktur Tabuh

1.      Diawali dengan tabuh 3

Pada bagian ini, sama halnya dengan tabuh 3 pada umumnya. Disini terdapat terompong sebagai pengawit, dengan tempo yang agak cepat.

2.      Pemungkah

Pada bagian Pemungkah, tabuh ini diawali dengan memainkan instrument terompong yang diikuti jegog, lalu dilanjutkan dengan pukulan kendang, gangsa dan cengceng serta diakhiri dengan gong.

3.      Pengawak

a.      Pengawak 1

Pada bagian pengawak Pertama diawali dengan pemukulan terompong dan kekendangan yang kebanyakan gegilak Pada pengawak yang pertama, saat sebelum jublag dipukul masuklah cengceng diakhiri dengan kempli, pada baris kedua tidak berisi cengceng dan diakhiri dengan kempur, dan begitu seterusnya sampe akhir tabuh pengawak itu dengan pemukulan kempur sebanyak 6 kali dan diakhiri dengan gong.

b.      Pengawak 2

Pada bagian pengawak Kedua diawali dengan pemukulan kendang dan disusul oleh terompong. Pada pengawak yang pertama, saat sebelum jublag dipukul masuklah cengceng diakhiri dengan kempli, pada baris kedua tidak berisi cengceng dan diakhiri dengan kempur, dan begitu seterusnya sampe akhir tabuh pengawak itu dengan pemukulan kempur sebanyak 6 kali dan diakhiri dengan gong. Pada bagian ini kekendangan yang digunakan adalah kebanyakan batu-batu.

4.      Pengisep

Bagian ini diawali dengan pemukulan tromping. Pada Pengisep yaitu sama stukturnya dengan Pengawak hanya saja tempo yang lebih lambat dan kekendangan yang kebanyakan batu batu.

5.      Pengecet Teteboan

Pada bagian Pengecet Teteboan ini diawali dengan terompong terlebih dahulu. Adapun bentuk dari pengecet ini adalah tabuh telu yang  memiliki tempo lambat, lalu cepat, lambat dan seterusnya hingga pada akhirnya kembali lambat. Pada bagian ini terdapat dua macam melodi dan motif.

 

I.       Jenis Pukulan Yang Digunakan

1.      Gangsa

Jenis kotekan, nyilihasih atau norot dan disertai variasi khas Pejaten

2.      Kendang

Kekendangan yang dipakai adalah gilak atau disebut juga kilit bun, batu batu

3.      Jublag

Jublag dipukul setiap 2 ketukan dalam setiap baris

4.      Jegog

Jegog dipukul setiap 4 kali pemukulan jublag

5.      Kempli

Kempli dipukul setiap 2 kali pemukulan jegog setelah pukulan kempur, kecuali baris terakhir

6.      Kempur

Kempur dipukul setiap 2 kali pemukulan jegog setelah pukulan kempli

7.      Gong

Pemukulan gong adalah baris terakhir setelah 6 kali pemukulan kempur

 

Narasumber :

1.      I Ketut Kantara

2.      I Wayan Dani

3.      I Gusti Made Yasa

Filsafat Seni dari Tari Legong Raja Cina

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 12:49 am on Jumat, Maret 23, 2018

Tari yang diperkirakan ada pada tahun 1930-an ini merupakan tarian yang terinspirasi dari cerita Dalem Balingkang. Menurut Semadi: 2018, cerita tersebut tiada lain merupakan kisah pernikahan Raja Jaya Pangus dengan Putri Cina yang bernama Kang Cing Wi. Disana diceritakan bahwa pernikahan mereka yang telah lama berjalan, tak kunjung dikaruniai seorang putra. Akhirnya Raja Jaya Pangus memutuskan untuk bertapa di Gunung Batur. Setelah sekian lama bertapa, Jaya Pangus belum juga kunjung pulang, yang membuat Kang Cing Wi menyusulnya ke tempat pertapaan. Pada akhirnya setelah ia sampai dipertapaan, diketahuilah oleh Kang Cing Wi, bahwa Jaya Pangus telah menikah dengan Dewi Danu.

Setelah mereka bertemu, dilihatlah oleh Dewi Danu yang akhirnya membuat amarah beliau memuncak sehingga dibakarlah Jaya Pangus dengan Kang Cing Wi. Setelah mereka tiada, datanglah rakyat mereka meminta Dewi Danu untuk menghidupkan mereka kembali. Tetapi Dewi Danu menolaknya, sehingga rakyat tersebut membuat sebuah personifikasi Raja Jaya Pangus dengan Kang Cing Wi dengan sebutan Barong Landung. Barong landung yang berwujud Jero Wayan dan Jero Luh tersebut tiada lain merupakan simbol perpaduan budaya Bali dengan Cina.

Hal tersebut digambarkan dalam gerak tari pada bagian pengecet dalam karya ini. Yaitu dengan adanya peniruan atas gerak-gerak dalam tarian Cina. Selain itu dipadukan pula gerakan tersebut dengan gerakan-gerakan tari legong seperti yang terdapat pada tari legong pada umumnya beserta peniruan gerak-gerak dari barong landung. Sehingga dalam hal ini tergambar adanya perpaduan atau akulturasi budaya Bali dan Cina.

Jadi, makna yang terkandung dalam Tari Legong Raja Cina adalah terkait dengan adanya akulturasi budaya Bali dengan Cina. Jadi untuk mengingat hubungan Bali dengan Cina, maka dibuatlah kesenian pertunjukan Legong yang diberi nama Legong Raja Cina. (Semadi: 2018)

Perbedaan Gamelan Angklung Bali Utara dengan Bali Selatan

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 12:27 am on Jumat, Maret 23, 2018


Gamelan angklung Bali Utara

Pada gamelan angklung Bali utara ini memiliki kekhasan tersendiri dengan angklung yang ada di Bali Selatan pada umunya yang sering kita jumpai. Instrumen-instrumen di dalamnya pun lebih banyak dibanding dengan angklung Bali Selatan. Ornamennya pun masih sederhana dan simpel pula. Adapun barungan gamelan angklung Bali Utara terdiri atas 2 buah kendang, 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantil, 1 tungguh reyong, 2 tungguh jublag, 2 tungguh jegogan, 1 tungguh gong pulu, dan 1 buah kempur.

  • Gangsa, kantil, jublag, dan jegogan

Ornamentasi dan hiasan-hiasan yang terdapat pada gangsa, kantil, jublag, dan jegogan sangat minimalis dan sangat simpel. Pada bagian adegan terdapat patra bebaturan, simbar, boma dan bun-bunan. Begitu pula pada bagian dupak dan sunduk. Pada gamelan angklung Bali Utara yang kami dapat lihat di Gedung Lata Mahosadhi ISI Denpasar adalah tidak adanya pandil pada bagian depan dan belakangnya, akan tetapi terdapat penyelah yang terletak di antara bumbung resonator masing-masing nada. Selain itu, bilah gangsa yang terdapat pada gamelan ini adalah dengan bentuk “merai” dan digantung dengan jumlah 6 bilah.

  • Reyong

Pada instrumen ini ditemukan masih sangat sederhana pada setiap bagian ornamen nya. Disini juga hanya terdapat adegan dan sunduk yang dihiasi dengan ornamen-ornamen sederhana. Selain itu terdapat 12 buah pencon yang membentuk instrumen reyong pada barungan gamelan ini.

  • Kempur

Disini terdapat 1 buah kempur yang berukuran lebih kecil dari kempur semar pegulingan

  • Gong Pulu

Pada angklung Bali Utara, terdapat adanya instrument Gong Pulu, atau Gong dalam bentuk bilah.

  • Kendang  

Pada gedung Lata Mahosadhi kami hanya menemukan kendang yang berukukan sedikit agak besar, kira-kira seukuran kendang bebarongan, dan berpasangan lanang dan wadon.

Gamelan angklung Bali Selatan

Pada gamelan angklung Bali Selatan ini juga memiliki kekhasan tersendiri dengan angklung yang ada di Bali Utara pada umunya yang sering kita jumpai. Instrumen-instrumen di dalamnya pun lebih sedikit dibanding dengan angklung Bali Utara. Ornamennya sudah mulai diperkaya pula. Adapun barungan gamelan angklung Bali Utara terdiri atas 2 buah kendang, 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantil, 1 tungguh reyong, 2 tungguh jublag, dan 1 buah kempur.

  • Gangsa, kantil, jublag

Pada instrument gangsa, kantil, dan jublag pada gamelan Angklung Bali Selatan memiliki style atau gaya yg khas yakni adanya ornament-ornamen yang ada pada semua bagian pelawahnya. Ornament tersebut menutupi hamper semua bagian pelawah mulai dari adegan, dupak, sunduk, dan penyelahnya. Lalu bilah gangsa, kantil, dan jublag yang digantung, merai, dan berjumlah 4 bilah pada tiap-tiap instrument. Lalu gamelan yang kami amati di Gedung Lata Mahosadhi ISI Denpasar ini tidak memiliki relief atau pandil.

  • Reyong

Pada instrument reyong yang kami amati di Gedeung Lata Mahosadhi ISI Denpasar ini terdiri dari 10 buah pencon. Namun ada juga biasanya 2 tungguh reyong dengan masing-masing 4 pencon yang terdiri dari oktaf tinggi dan oktaf rendah. Adapun bagian pelawah terdiri atas adegan, dupak, sunduk dan pandil depan yang hampir semua bagiannya memiliki ornamentasi atau ukiran.

  • Kempur

Instrument ini sama halnya dengan yang ada di Bali Utara

  • Klenang

Adanya instrument klenang pada gamelan angklung Bali Selatan

  • Kendang

Pada gedung Lata Mahosadhi kami hanya menemukan kendang yang berukukan sedikit agak besar, kira-kira seukuran kendang bebarongan, dan berpasangan lanang dan wadon.

Gamelan Gong Kebyar Don 9 Di Desa Kelecung

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 2:15 pm on Senin, Maret 5, 2018
  • Gong Kebyar

Menurut Bandem (2013:38), Gamelan Gong Kebyar adalah ansambel perkusi yang diturunkan dari gamelan Gong Kuna terdiri dari berjenis-jenis instrumen seperti sepasang gong ageng (gong besar), sebuah kempur (kempul), sebuah bende (sejenis kempul dengan muka datar) sebuah kajar, sebuah kemong (gong gantung kecil), sebuah trompong (sederet gong kecil di atas resonator kayu), sebuah reyong (sederet gong kecil serupa trompong), dua buah gangsa giying (metalofon perunggu), empat buah gangsa pemade (metalofon perunggu), empat buah gangsa kantil (sejenis pemade), sepasang jegogan (metalofon perunggu dengan nada rendah), sepasang jublag (sejenis jegogan), sepasang penyacah (sejenis jublag), sepasang kendang gupekan (gendrang kulit yang dimainkan dengan tangan), sepasang kendang cedugan (gendrang kulit yang dimainkan dengan alat pemukul dari kayu), dua pangkon cengceng (simbal), sebuah suling (seruling) dan rebab (lute dua dawai).

  • Sejarah Gamelan
    • Sejarah

Gamelan Gong Kebyar ini pada mulanya merupakan titipan atau pemberian dari Pura Sarin Buana yang terletak di Kecamatan Selemadeg Tabanan. Pada saat itu, diketahui bahwa yang dibawa dari Pura Sarin Buana tersebut hanyaah instrument Gong dan Bebende nya saja, karena tidak bisa membawanya secara keseluruhan, mengingat perjalanan yang jauh dan medan yang cukup berat. Tahun dibuat dan dipindahkannyapun tidak ada orang yang mengetahui secara pasti. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya bukti tertulis yang memuat tentang sejarah gamelan tersebut. Oleh karena itu, diperkirakanlah bahwa adanya gong kebyar menurut teori lahir pada tahun 1915, sedangkan gamelan Gong Kebyar yang terdapat di Desa Kelecung ini ada semenjak sebelum kemerdekaan Negara Indonesia. Jadi diperkirakan gamelan tersebut ada pada tahun 1930-an. Selanjutnya gong ini diletakkan pada rumah salah satu warga di Desa Kelecung yaitu Alm.Putu Nada.

  • Perkembangan

Setelah beberapa lama gong tersebut berada di Desa Kelecung, maka sebagian warga desa tersebut berkeinginan untuk memperbaiki dan menyempurnakan gamelan tersebut, dengan tujuan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Maka bertolak dari hal tersebut diundanglah pande gamelan dari Klungkung untuk menambahkan kekurangan tersebut seperti pemade, kantil, jublag, jegong, reong, dan lain-lain kecuali pengenter (yang disana lumrah dengan sebutan wangsit atau pengumbang). Uniknya pada saat itu pada gangsa dan kantil jumlah bilahnya terdapat hanya 7 buah, dari nada dang, ding, dong, deng, dung, dang, ding.

Pada tahun 1970 disempurnakan lagi dengan menambahkan pengenter tersebut sehingga menjadi lengkap seperti kondisi saat ini. Pada waktu itu instrument lainnya seperti gangsa dan kantil juga terdapat penambahan nada deng dan dung, sehingga menjadi berjumlah 9 nada dan urutannya menjadi deng, dung, dang, ding, dong, deng, dung, dang, ding.

Selain itu, dengan pertimbangan kelayakan kondisi gamelan mengingat keadaan Gong dan Bebende  yang diwariskan sejak awal itu sudah tidak layak untuk digunakan, maka dibelilah instrument baru berupa gong lanang, gong wadon, kempur, dan bebende.

  • Pemilik

Pada saat ini gamelan gong kebyar ini secara sah menjadi hak milik Desa Adat Kelecung.

  • Sumber Dana

Pada awalnya tidak ada sumber dana yang dipakai untuk membeli gamelan tersebut karena gong tersebut merupakan pemberian Pura. Selanjutnya dalam proses perbaikan dan penyempurnaan, dana diperoleh dari Desa Adat setempat.

  • Bentuk Gamelan
    • Bentuk Gamelan

Gamelan ini berbentuk gong kebyar yang terdiri atas

  • Pengenter
  • Gangsa
  • Kantil
  • Jublag
  • Jegong
  • Reong
  • Gong lanang-wadon
  • Kempur
  • Bebende
  • Terompong
  • Kendang
  • Kajar
  • Cengceng
  • Kempli


  • Bahan

        1. Untuk bahan utama gamelan ini adalah seperti gamelan pada umumnya yaitu perunggu atau sering disebut juga dengan kerawang. Untuk selanjutnya, adapun pelawah ataupun reonansi dari gamelan ini yaitu terbuat dari bambu dan dibingkai dengan kayu nangka atau sering juga disebut dengan ketewel. Uniknya, pada gamelan lain kebanyakan biasanya kita jumpai cagak untuk menggantung bilah gangsa adalah terbuat dari bahan logam, sedangkan pada gamelan ini masih terbuat dari bahan bambu yang diberi lubang. Selain itu tali penggantung yang biasanya terbuat dari bahan tali sintetis pun disini masih menggunakan tali jangat sebagai penggantungnya. Selebihnya masih sama seperti gamelan (khususnya gamelan gong kebyar) pada umumnya.
  • Ornamentasi

        1. Pada gamelan tersebut terdapat ornamentasi klasik berupa patra-patra tumbuhan pada bagian adegan, dupak, sunduk, dan di sela-sela bumbung resonansinya. Pada gamelan ini, tidak terdapat adanya relief/pandil.
  • Kwalitas suara

        1. Dengan kondisi saat ini dapat penulis simpulkan bahwa kwalitas suara pada barungan gamelan tersebut masih sangat bagus, yang didukung oleh kwalitas bahan yang masih dalam kondisi sangat bagus. Meskipun demikian, dari segi visual bentuk dan warna bilah maupun pencon tersebut terlihat berbeda dengan gamelan pada umumnya. Hal tersebut terjadi diduga karena usia gamelan ini, dan perawatannya itu sendiri.
  • Laras

        1. Laras yang terdapat pada gamelan ini yaitu seperti gong kebyar pada umumnya.
  • Perawatan
  • Untuk saat ini gamelan ini dirawat dengan sangat baik sehingga kondisi gamelan masih sangat bagus

  • Aktivitas
  • Materi yang dikuasai
  • Pada mulanya materi-materi yang dikuasai hanyalah tabuh-tabuh lelambatan seperti tabuh telu, tabuh pat, dan sebagainya. Lalu pada saat trend nya Drama Gong pada tahun 1970-an, sekhe ini juga mempelajari banyak gending-gending Drama Gong. Kini adanya regenerasi oleh para generasi muda setempat menyebabkan adanya perkembangan pesat materi-materi yang dikuasai seperti tari-tarian, iringan prembon, dan lain sebagainya.
  • Fungsi
  • Seperti gamelan pada umumnya fungsi gamelan ini pada masyarakat adalah sebagai sarana pelengkap upacara, untuk hiburan dan lain-lain.

  • Kendala
  • Adapun kendala yang dihadapi selama ini yaitu masalah pendanaan. Baik untuk perbaikan kondisi sarana alat maupun konsumsi latihan dan yang lainnya, sehingga perlu adanya bantuan untuk menunjang kegiatan yang dilakukan sekhe ini.
« Laman Sebelumnya