gedeyudana

Blog

Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 1:35 pm on Kamis, April 16, 2020

Sejarah

Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita merupakan salah satu sanggar di Bali yang bergerak pada bidang seni dan budaya. Sanggar ini berdiri pada tanggal 30 Januari tahun 2015 dengan jumlah anggota perintis sebanyak 29 orang. Secara etimologi, Shanti berarti damai, Werdhi berarti lestari, dan Gita berarti lagu/nyanyian. Jadi Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita berarti melestarikan lagu/musik berlandaskan kedamaian. Pada awalnya Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita bergerak hanya pada bidang seni karawitan, khususnya seni tabuh gamelan Bali.

Ide awal terbentuknya sanggar ini yaitu adanya keinginan pendiri untuk mengembangkan sumber daya seni di Kecamatan Selemadeg Barat, khususnya di Desa pendiri yaitu Desa Lalanglinggah. Pada saat itu, peminat seni tabuh di lingkungan pendiri lumayan banyak, serta diimbangi dengan minat yang cukup besar untuk mempelajari seni khususnya gamelan Bali.

Setelah berdiri dan beroperasi selama beberapa tahun, Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita telah melalui beberapa tahap kemajuan. Walaupun pada awalnya hanya meminjam gamelan, namun pada tahun pertama Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita telah mengisi beberapa event di tingkat Desa. Dilanjutkan pada tahun kedua sanggar ini menciptakan karya baru dalam tingkat Kecamatan dan mengisi acara di tingkat Kabupaten. Tahun ketiga sanggar ini telah mampu mengisi event Pesta Kesenian Bali. Pada tahun keempat, sanggar telah memiliki seperangkat gamelan Semarandana dan mulai mengadakan pelatihan seni tabuh dan tari bagi anak-anak yang terus dilaksanakan hingga saat ini.

Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita yang merupakan wadah untuk berkreatifitas dan menuangkan inovasi dalam bidang seni dan budaya, telah menciptakan beberapa buah karya baik dalam seni tari dan tabuh. Beberapa diantaranya ialah, Tabuh Baleganjur Segara Giri, Tabuh Telu Windu Amertadi, Iringan Tari Legong Aswinisutha, Tari Kreasi Subak Selbar Serasi, dan beberapa karya lainnya.

Proyeksi ke depan

Melestarikan seni dan budaya Bali secara menyeluruh pada semua bidang. Saat ini sanggar kami terfokus pada seni tabuh (musik tradisional Bali) dan tari tradisional Bali. Tapi kedepannya kami berharap mampu menggali seni budaya Bali di bidang lainnya, seperti seni rupa murni atau terapan, dan seni pertunjukan lainnya seperti seni pedalangan, maupun drama klasik dan modern. Kami juga berupaya menggali regerasi yang kreatif dan inovatif sebagai pembangunan berkelanjutan dalam berkesenian. Sanggar Shanthi Werdhi Gita memiliki harapan mampu memperkaya seni dan budaya bali melalui pengembangan trobosan baru baik nuansa baru, teknik baru, metode pembelajaran yang baru, serta inovasi dalam kreatifitas penciptaan karya baru.

Keunggulan kompetitif

Sanggar Shanti Werdhi Gita berdiri dengan anggota yang sebagian besar memiliki latar belakang seni secara akademis. Mulai dari lulusan institusi seni ternama di Bali, menempuh pendidikan Strata jurusan seni, dan sekolah kejuruan seni ternama di Bali. Sebagian besar anggota sanggar, telah mengikuti beberapa kompetisi yang cukup bergengsi di Bali

Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita juga telah memiliki beberapa karya original yang telah ditampilkan di beberapa event. Adapun event tersebut mulai dari tingkat Kecamatan hingga Provinsi.

Musikalisasi Puisi Jineng yang Bersemi Kembali

Filed under: Tulisan — gedeyudana at 3:58 pm on Sabtu, Mei 12, 2018

YouTube Preview Image

Di SMA Negeri 1 Tabanan terdapat salah satu bidang ekstrakulikuler yang bergerak di bidang seni dan budaya. Baik secara budaya tradisional dan modern. Ekstrakuliluker ini diberi nama Teater Jineng.

 Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan atau yang lebih populer Teater Jineng SMASTA berdiri pada tahun 1998. Pendirian komunitas ini berawal dari keperihatinan Guru Bahasa Indonesia terhadap keberadaan seni sastra dan pementasan yang pada saat itu sepi peminat, serta adanya 3 orang pencetus ekskul ini yaitu Agung Mahardika, Wiyana Ananta Noor dan Mahaputri. Saat peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1998, pihak lembaga membentuk ekstrakulikuler baru yaitu ekstra sastra. Keberadaan ekskul sastra di SMA Negeri 1 Tabanan kala itu masih dipandang sebelah mata oleh warga sekolah. Bahkan setiap tahun peminatnya semakin sepi hingga pada akhirnya sempat tidak aktif di tahun 2000. Sempat tidak aktifnya eskul sastra ini terjadi karena kurangnya media untuk mengapresiasikan jiwa dan kreativitas mereka. Melalui perjuangan dan kerja keras, esktrakulikuler ini berubah nama menjadi Sanggar Teater Jineng. Perubahan nama ini bertujuan untuk memberikan angin segar kepada warga sekolah dan memotivasi siswa agar tertarik untuk bergabung.

Selain itu Teater Jineng juga mencari pembina dari kalangan profesional sehingga dapat meyakinkan warga sekolah bahwa Teater Jineng bukan sekadar sanggar yang main-main, namun merupakan media yang terorganisir dan profesional. Hal itu ternyata membuahkan hasil. Siswa-siswi SMASTA kala itu mulai tertarik dan pihak Sekolah pun memperbanyak jam terbang bagi seniman muda SMA Negeri 1 Tabanan ini. Hingga di tahun 2005 sinar Teater Jineng mulai kembali memudar. Sempat tidak aktif jilid 2 ini ditandai dengan tidak adanya peminat, tidak adanya anggaran, dan tidak adanya perhatian dari para pemerhati seni di daerah.

Hampir 5 tahun sempat tidak aktif, akhirnya di awal tahun ajaran 2010/2011 Teater Jineng mulai bangkit dengan adanya pelopor baru kebangkitan Teater Jineng yaitu I Gede Arum Gunawan dan anggota awal berjumlah 25 orang, Teater Jineng mulai berkreasi dan mempersiapkan berbagai pementasan. Teater Jineng yang awalnya merupakan teater sekolah satu-satunya di Tabanan ini, mulai mengikuti berbagai macam pementasan diantaranya adalah Pementasan “Sagung Wah dalam acara Malam Apresiasi Sastra SMANSA yang merupakan pementasan perdana Teater Jineng sejak sempat tidak aktifnya itu. Nama Teater Jineng pun mulai terdengar di kalangan komunitas seni. Tawaran-tawaran pementasan dan perlombaan pun mulai berdatangan. Hal tersebut sangat mengembirakan di awal transisi kebangkitan terlebih lagi kini Teater Jineng telah memperoleh kehormatan dan kebanggaan sekaligus hadiah atas perjuangannya yaitu dikukuhkannya Teater Jineng oleh Wabup Tabanan sebagai asuhan Pemda. Hingga kini Teater Jineng SMASTA masih terus belajar dan berbenah.

Lebih spesifik lagi, adanya keikutsertaan Teater Jineng dalam berbagai event setiap tahunnya, salah satunya yaitu Lomba Musikalisasi Puisi. Pada awal keikutsertaannya, Teater Jineng menuai beberapa prestasi yang gemilang dalam bidang Musikalisasi Puisi ini. Namun setelah sekian lama kemudian beberapa event perlombaan telah diikuti, namun Teater Jineng tidak mendapatkan prestasi seperti apa yang telah didapatkan sebelumnya. Akhirnya pada tahun 2015, penulis yang saat itu menjabat sebagai Ketua Divisi Musik mengajukan adanya tawaran melalui surat undangan dari pihak Balai Bahasa Bali untuk mengikuti Lomba Musikalisasi Puisi tingkat Provinsi Bali.

Namun hal tersebut menuai berbagai pertimbangan dari banyak pihak, khususnya bapak I Made Jiwa yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA setempat. Pertimbangan tersebut antara lain bahwa ajang perlombaan ini memerlukan banyak biaya untuk proses penggarapan serta administrasinya, sehingga perlu adanya penyusutan pengeluaran agar tidak banyak biaya yang dikeluarkan. Pernyataan tersebut kemudian disampaikan oleh para pembina ekstra kepada penulis, bahwa hal tersebut demikian adanya.

Mendengar pernyataan tersebut kemudian penulis dengan beberapa rekan yaitu Pitaloka Laksmi dan Laksmi Narayanti melakukan diskusi kecil untuk mencari jalan keluar atas pernyataan tersebut di atas. Kemudian kami menemukan solusi yaitu, bagaimana jika mencari seorang komposer baru untuk adanya pembaharuan dalam bidang penggarapan secara musikal. Dari adanya solusi tersebut, penulis menyarankan untuk mencari salah satu orang Alumni SMASTA yang juga salah seorang alumni Institut Seni Indonesia Denpasar untuk menjadi penggarap karya yang akan dilombakan. Orang tersebut yaitu Yan Priya Kumara Janardhana alias Janu.

Dari pertimbangan tersebut kemudian disetujui oleh beberapa pembina untuk kemudian diproses dengan beberapa orang siswa. Proses kemudian mengalami beberapa rintangan juga. Dikarenakan perlu adanya penyesuaian antara penggarap dengan beberapa orang pemain, serta media yang digunakan. Namun, setelah melalui beberapa waktu proses, garapan ini pun selesai dan kemudian mendapatkan Juara 2 dalam Lomba Musikalisasi puisi SMA tingkat provinsi Bali.

Dari adanya hal tersebut diatas, hingga kini ajang lomba maupun festival Musikalisasi Puisi terus diikuti oleh Teater Jineng. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Semoga teater Jineng terus berkarya, dan berjaya. JAYENG!!!

NGELAWANG

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 6:22 pm on Selasa, Maret 27, 2018

DEFINISI

Ngelawang Berasal dari kata “lawang” yang artinya pintu, mereka akan berkeliling banjar / desa, menarikan barong bangkung tersebut dari rumah ke rumah dengan tujuan penolak bala, mengusir roh-roh jahat agar kembali ke tempatnya, mengusir wabah penyakit dan hal-hal lainnya berbau negatif , serta agar warga desa diberikan keselamatan dan kerahayuan.

Pada setiap desa pakraman di Bali, tradisi Ngelawang mungkin tata cara pelaksanannya berbeda, namun memiliki tujuan sama. Semuanya sebagai simbol menghadirkan kekuatan suci Hyang Iswara untuk menghilangkan penyakit yang menyengsarakan umat. Barong itu sendiri merupakan lambang perwujudan Sang Banas Pati Raja, yang memotivasi manusia untuk melindungi hutan, karena hutan sebagai penyangga air, jika hutan rusak, banjir terjadi dan ini akan menimbulkan musibah dan wabah. Begitu mulai konsep-konsep dan makna setiap tradisi tersebut, sehigga jika ini kita bisa terapkan dalam berkehidupan sehari-hari, kita akan merasa damai dan sejahtera.

2.      LATAR BELAKANG PELAKSANAAN

Bagi masyarakat awam keberadaan Barong dan Rangda kerap kali dilatarbelakangi mitologi (mitos-mitos) atau kejadian atau sejarahnya yang bersifat supranatural yang terjadi di masa lampau dan diyakini masih memiliki daya magis kekuatan hingga kini. Bila dalam masyarakat Cina dikenal mitos Yin dan Yang sebagai perlambang Kebaikan dan Kejahatan, dua kubu yang senantiasa bertentangan namun tak terpisahkan di dalam dunia. Demikian halnya Barong dan Rangda. Barong diyakini perlambang kebaikan (dharma) sedangkan Rangda sebaliknya (kejahatan). Namun bila keduanya disatukan, diyakini mampu menjadi penangkal hal-hal negatif.

Sementara bagi masyarakat Bali dengan agama Hindu yang masih kuat, Barong dan Rangda diyakini sebagian besar orang sebagai aplikasi perwujudan Tuhan yang dibuat oleh tangan manusia sebagai salah satu bakti. Mereka meyakini Tuhan yang turun ke dunia bersama dengan kekuatannya berkenan menganugerahkan kesejahteraan dan menarik segala kekuatan negatif yang ada dengan membasmi mara penyakit, wabah, termasuk hal-hal negatif dalam diri manusia seperti amarah, iri, dengki, stress, dll. 

3.      WAKTU PELAKSANAAN

Upacara Ngelawang biasanya dilaksanakan pada sasih kanem oleh Krama Desa Surabrata. Kenapa pada sasih kanem? Secara faktual, Sasih Kanem merupakan musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Hujan yang turun pada Sasih Kanem lebih lebat dari pada hujan saat Sasih Kalima. Musim pancaroba tentu saja berdampak pada kondisi alam dan merebaknya aneka penyakit atau pun hama. Sehingga dengan adanya Upacara Ngelawang inilah diharapkan dapat memberikan keselamatan lahir dan batin.

Semua itu ada dalam sastra Lontar Purwaka Bumi. Di samping itu tujuan ritual tersebut juga untuk memohon berkah kesuburan. Terlebih lagi, dalam pergantian sasih ini harus dimaknai dengan baik, dilaksanakan dengan lascarya, ngaturan bakti dan banten, memohon keselamatan agar terjadi penetralan kesimbangan sesuai dengan ajaran dan Lontar Cuda Mani.

4.      TATANAN PELAKSANAAN

Pada Sasih Kaenem biasanya diawali terlebih dahulu matuk pakeling di Kahyangan Tiga dan di Gedong Tapakan Desa Adat Surabrata. Seluruh krama desa mengikuti persembahyangan terlebih dahulu dan nunas tirta penyapsap, karena akan ikut ngiring Ida Bhatara macecingak keliling Desa. Setelah itu gedong dibuka dan seluruh atribut Beliau dikeluarkan. Para Juru Pundut juga telah mempersiapkan diri dengan berpakaian sesuai amongannya masing-masing. Setelah semuanya siap, maka seluruh petapakan Barong, Rangda beserta Peranakan-Peranakan kemudian berjalan mengitari desa.

Adapun arah dari pelaksanaan ngelawang ini adalah berlawanan arah jarum jam. Berawal dari Pura Dalem dengan rute ke Balai Banjar Surabrata, Balai Banjar Desa Anyar, Balai Banjar Daren, Balai Banjar Kutuh, Balai Banjar Pengasahan, kemudian berakhir lagi di Pura Dalem. Pada setiap Banjar, seluruh krama Banjar wajib menghaturkan beras dan Raka saka sidan serta Prani.

 

 

 

SUMBER-SUMBER

http://inputbali.com

http://mediaindi.blogspot.co.id

http://www.google.co.id

Review Buku Pengetahuan Dasar Iringan Tari

Filed under: Tulisan — gedeyudana at 11:21 am on Sabtu, Maret 24, 2018

A.    Identitas Buku

a.      Judul Buku      : Pengetahuan Dasar Iringan Tari

b.      Penulis             : I Wayan Sueca, S.S.Kar., M.Mus

c.       Penerbit           : Institut Seni Indonesia Denpasar

d.      Tahun terbit     : 2008

e.       Cetakan           : Pertama

f.       Tebal Buku      : 0,5 cm

B.     Latar Belakang Buku

Musik sebagai iringan tari memiliki peran yang amat penting, oleh karena itu banyak ungkapan yang mengatakan bila tanpa musik ibarat sayur tanpa garam, ibarat siang tanpa malam, nasi tanpa lauk, dan ungkapan lainnya sesuai dengan aspirasi maupun selera setiap orang untuk mengungkapkan perasaan mereka. Dengan berbagai ungkapan tersebut betapa pentingnya arti sebuah iringan untuk memberikan dukungan estetis terhadap sebuah penyajian karya tari atau komposisi.

C.    Isi Buku

1.      Pendahuluan

Buku ini diawali dengan pendahuluan yang memaparkan betapa pentingnya sebuah iringan tari dalam proses pembentukan komposisi dan karya tari. Disini disampaikan bahwa iringan tari dapat dibagi menjadi iringan Conventional dan Non Conventional.

a.      Iringan Tari Conventional

Mengutamakan unsur-unsur tradisi baik dalam pemanfaatan instrumentasinya maupun pengolahan unsur-unsur musikalnya termasuk aturan-aturan yang menyangkut struktur atau komposisinya.

b.      Iringan Tari Non Conventional

Sebaliknya tidak terlalu terikat pada aturan tradisi baik dalam pemanfaatan alat-alat musiknya maupun pengolahan unsur-unsur musikalnya dengan kata lain seorang koreografer boleh lebih bebas dalam menata iringannya dengan tidak mengabaikan keindahan dan makna dari sebuah iringan.

2.      Unsur-unsur Musikal Dalam Iringan Tari

Dalam sub bab ini dijelaskan bahwa unsur-unsur gerak tidak jauh beda dengan unsur-unsur musik pengiringnya, antara lain adalah : Melodi, ritme, tempo, dinamika, kolorit atau warna amplitude atau keras lemahnya suara, intensitas atau kekuatan atau tenaga, aksen, dan lain-lain.

3.      Fungsi Iringan

Pada bagian ini dijelaskan fungsi iringan dalam karya koreografi tari.

4.      Sifat Iringan Tari

a.       Tari Mendominir Musik

Seorang penari selalu memberi aba-aba kepada pemain musiknya pada setiap perubahan gerak yang dilakukan. Pada bagian ini pula disertakan contoh-contoh tari yang mendominir musik dalam tari Bali.

b.      Musik Mendominir Tari

Dalam tari Bali ada bentuk pertunjukan dimana musik pengiringnya lebih dominan mengatur tari baik gerak maupun peralihan ke bagian yang lain. Pada bagian ini pula disertakan contoh-contoh musik yang mendominir tari dalam tari Bali.

c.       Musik dan Tari Saling Mendominir

Dalam tari Bali yang bersifat tari kreasi yang sesungguhnya sangat kuat unsur konvensionalnya sebagian besar memiliki sifat saling mendominir. Pada bagian ini pula disertakan contoh-contoh musik dan tari saling mendominir.

5.      Struktur Iringan Tari Pelegongan

Iringan tari Palegongan merupakan iringan yang bersifat konvensional dan memiliki struktur yang amat lengkap apabila dibandingkan dengan struktur iringan tari lainnya dengan istilah-istilah tradisi yang amat kental seperti : Kawitan, Papeson, Pengecet, Pengipuk, dan lain-lain. Pada bagian ini disertakan pula notasi-notasi gending Pelegongan pada masing-masing bagiannya.

6.      Struktur Lagu Petopengan

Drama tari petopengan adalah sebuah sebuah seni pertunjukan yang sangat populer hampir setiap orang mengenalnya dan dipentaskan dalam berbagai kegiatan baik upacara adat maupun upacara keagamaan yang berfungsi sebagai pelengkap upacara maupun dipentaskan sebagai hiburan. Pada bagian ini disertakan pula bagian-bagian gending petopengan seperti Wireka Sari, Werda Lumaku, Penasar, Arsa Wijaya, dan lain-lain serta notasi-notasi gending Petopengan pada masing-masing bagiannya.

7.      Lagu-lagu Iringan Pecalonarangan

Adapun gending-gendingnya yang sudah disertai dengan notasi antara lain :

a.       Bapang sisya yang terdiri atas :

                                                                          i.      Papeson

                                                                        ii.      Pengadeng

                                                                      iii.      Ngelukun

                                                                      iv.      Pengawak

                                                                        v.      Pengecet

b.      Condong yang terdiri atas :

                                                                          i.      Papeson

                                                                        ii.      Panglangkara

c.       Matah Gede yang terdiri atas :

                                                                          i.      Pepeson

                                                                        ii.      Pengawak

                                                                      iii.      Pengecet

d.      Patih Madri yang terdiri atas :

                                                                          i.      Pepeson

                                                                        ii.      Pangelengkara

                                                                      iii.      Pajalan

e.       Sisya ngereh yang terdiri atas :

                                                                          i.      Tunjang sisya

                                                                        ii.      Pejalan

f.       Bondres

g.      Maling Maguna yang terdiri atas :

                                                                          i.      Papeson

                                                                        ii.      Transisi/Pengalihan

                                                                      iii.      Pengawak

                                                                      iv.      Pajalan

h.      Tunjang Durga yang terdiri atas :

                                                                          i.      Pengawak

                                                                        ii.      Pekaad

8.      Perspektif Rasa Dalam Iringan Tari Bali

Perspektif rasa yang dimaksud dalam iringan tari Bali adalah suasana yang dapat ditimbulkan oleh suatu musik pengiring. Sebagaimana kita ketahui makna iringan secara mendasar dapat menimbulkan suasana yang diinginkan oleh tema yang diangkat. Pada sub bab ini dijelaskan pula contoh-contoh cara membangun suasana pada gending yang diinginkan beserta notasinya.

9.      Gamelan Yang Populer Untuk Iringan Tari

Gamelan yang sering dipakai untuk iringan tari antara lain :

a.       Gamelan Gong Kebyar

b.      Gamelan Semara Dana

c.       Gamelan Gong Gede

d.      Gamelan Semara Pegulingan

D.    Kelebihan dan Kekurangan

a.      Kelebihan

Pada buku ini disertai contoh-contoh gending beserta notasi-notasi yang memudahkan pembaca untuk memahami dan mengetahui gending-gending yang dimaksud.

b.      Kekurangan

Memiliki struktur buku yang kurang jelas serta kurangnya mencantumkan sumber dan literature sebagai acuan dalam penulisan buku ini.

E.     Kesimpulan

Buku ini memuat tentang lagu-lagu atau gending-gending iringan tari mulai dari pengertian, klasifikasi, unsur, fungsi, serta contoh-contoh iringan tari-tari tradisi mulai dari palegongan hingga penyalonarangan. Tak luput pula disertakan perspektif rasa dan suasana lagu, serta barungan yang sering dipakai dalam iringan tari.

Ulasan Buku Etnomusikologi BAB I Karya Rahayu Supanggah

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 11:10 am on Sabtu, Maret 24, 2018

Pada bab pertama buku ini terbagi menjadi 3 (tiga) sub bab. Tetapi yang saya bahas disini adalah hanya 2 (dua) sub bab pertama yang terdiri atas Terminologi dan Definisi, serta Sejarahnya hingga Perang Dunia II. Pada sub bab pertama, disini dijelaskan definisi menurut beberapa ahli yang telah mengemukakan pendapat mereka dalam tulisan-tulisan yang dimuat dalam buku. Selanjutnya ada pula istilah-istilah lain dari etnomusikologi yang terdapat di beberapa negara dengan bahasa dari masing-masing negara itu sendiri. Disamping itu pula pada sub bab ini terdapat sasaran dan kategori dari mempelajari etnomusikologi itu sendiri. Para penelitinya juga terdiri dari mereka yang ahli pada bidang keilmuan tertentu. Seperti misalnya mereka yang ahli pada ilmu musik, antropologi, bahkan yang ahli pada kedua bidang ilmu tersebut. Kemudian pada sub bab yang kedua dapat diamati sejarah dari etnomusikologi itu sendiri. Dimana yang dimaksud disini mulai ditulis buku-buku musik seperti di Jerman, Inggris dan lain-lain pada tahun 1700-an hingga tahun 1800-an. Seperti misalnya dibuatnya outline tentang studi musik ilmiah, serta analisis notasi yang dibuat pada tahun 1885. Meskipun demikian, ada juga hasil karya orang-orang pada awal abad ke-19 yang dianggap tidak lebih baik dari karya sebelumnya, dan terkesan mengada-ada. Ada pula beberapa diantaranya hasilnya sangat jelek. Selain itu, pada sub bab ini dijelaskan pula adanya penemuan baru seperti penemuan gramofon dan sistem penemuan interval nada. Beberapa ilmuwan dari cabang ilmu lain seperti ahli filsuf, ahli kimia, antropolog, fisika dan geografi, ikut pula ambil andil dalam problema analisis musikal. Selanjutnya pada awal abad ke-19 mulai diadakan rekaman-rekaman menggunakan fonograf hasil temuan Edison yang dipergunakan di beberapa Negara di Dunia yang kemudian dikoleksi di beberapa arkaif rekaman.

Hal menarik yang terdapat dalam bahasan ini adalah adanya pemahaman baru tentang etnomusikologi. Seperti definisi etnomusikologi yang menitikberatkan pada musik yang masih hidup, berkaitan dengan tradisi lisan, serta bersifat kedaerahan yang didominasi kebudayaan yang tinggi. Kemudian sejarah etnomusikologi sebelum adanya Perang Dunia II, penemuan-penemuan baru, serta inovasi dalam memunculkan teknik-teknik baru yang diciptakan dan diwarisi hingga saat ini, dapat lebih membuka wawasan saya terhadap etnomusikologi ini. Selanjutnya buku ini memuat sejarah tentang etnomusikologi yang kemudian dapat membantu saya dalam mengetahui asal usul, perjalanan, penemuan, penotasian, dan rekaman-rekaman yang kemudian dikoleksi dan dipublikasikan di berbagai Negara di Dunia. Hal ini membuat saya lebih tertarik untuk mempelajari lebih banyak lagi tentang adanya etnomusikologi ini. Akan tetapi kekurangan dari buku ini yaitu harus membacanya secara keseluruhan secara berulang-ulang dan berkelanjutan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya istilah-istilah dan pengertian-pengertian yang perlu untuk dibaca dengan berulang-ulang. Selain itu kurangnya terdapat gambar pendukung yang menunjang isi bacaan, yang dapat mengarahkan saya untuk lebih mengenal secara visual bentuk-bentuk alat, koleksi, dan lain sebagainya.

Dari bacaan ini dapat saya simpulkan bahwa istilah etnomusikologi berarti musik yang masih hidup pada masyarakat non literasi, berkaitan dengan tradisi lisan serta selalu mengalami perubahan, yang didominasi oleh kebudayaan yang tinggi. Etnomusikologi memiliki spesialisasi di bidang musikologi. Etnomusikologi dapat diteliti oleh orang yang ahli di bidang musik dan antropologi. Etnomusikologi erat kaitannya dengan etnologi. Kemudian sejarah etnomusikologi tercatat mulai abad ke-18 yang dimulai adanya penotasian musik, penulisan beberapa karya buku. Selain itu ditemukan pula alat-alat seperti gramofon dan pengukur interval nada-nada yang masih berguna hingga saat ini. Adanya rekaman-rekaman yang dihasilkan oleh perekam silinder dan fonograf Edison, lalu kemudian ditemukan tape recorder mulai digunakan untuk merekam serta mengoleksi di beberapa arkaif-arkaif dan museum rekaman. Selain itu dibuka pula perguruan tinggi dan organisasi yang bergerak di bidang musik. Dan pada masa Perang Dunia II pusat rekaman di Polandia kemudian dihancurkan secara sengaja.

Laman Berikutnya »