Barong

 Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.

Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.

Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.

Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.

Macam-macam Tari Barong

  • Barong Ket 

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.

  • Barong Bangkal

Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan

  • Barong Landung

Barong Landung adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yg sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, spt Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan.

  • Barong Macan

Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel.

  • Rangda

Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

KENDANG BEBARONGAN DALAM KARAWITAN BALI

Kendang Dalam Karawitan Bali

Membicarakan kendang Bali tentunya tidak bisa dipisahkan dari seni karawitan yang dimilikinya. Yang dimaksud dengan karawitan Bali atau karawitan dalam arti yang lebih luas adalah music tradisional Indonesia. Namun secara khusus , seni karawitan Bali adalah music tradisional yang berasal dari Bali yang nilai-nilai musikalnya tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sosiokultural masyarakatnya.

Secara umum seni karawitan Bali dapat dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu: seni karawitan vokal (tembang), seni karawitan instrumental, dan seni karawitan vokal-instrumental. Seni karawitan vokal (tembang adalah suatu bentuk music tradisi yang mempergunakan vokal manusia sebagai media ungkap, seni karawitan instrumental adalah seni karawitan bali yang mempergunakan instrument atau gambelan sebagai media ungkap berkreativitas, sedangkan seni karaitan vokal-instrumental adalah seni karawitan yang di dalamnya menggabungkan unsure vokal dan instrumental.

Kendang Bebarongan

Kendang Bali dapat dimainkan secara berpasangan maupun secara individu. Jika dimainkan secara berpasangan maka kendang itu dinamakan kendang lanang dan kendang  wadon. Kendang lanang ialah kendang yang mempunyai suara lebih kecil atau tinggi, sedangkan kendang wadon ialah kendang yang suaranya lebih besar ataupun lebih rendah. Dalam karawitan Bali dapat ditemukan berbagai macam jenis kendang.

 

 

Jenis-jenis Kendang Bali

Keanekaragaman jenis kendang bisa dilihat dari bermacam ukurannya mulai dari yang besar sampai dengan yang kecil. Beberapa contoh jenis kendang Bali diantaranya, kendang mebarung, kendang cedugan, kendang tambur, kendang gupekan, kendang bebarongan, kendang krumpungan, kendang batel dan kendang angklung.

Kendang  mebarung merupakan jenis kendang dengan ukuran yang terbesar dalam karawitan Bali. Ukuran kendang ini bisa mencapai panjang 185-200cm dengan diameter 74-80cm.

Kendang tambur merupakanjenis kendang dengan ukuran terbesar kedua. Kendang tambur dapat dijumpai di Kabupaten Karangasem dan dipergunakan untuk dua hal yaitun sebagai pelengkap dalam konteks upacara Dewa Yadnya dan juga untuk mengiringi prajurit kerajaan yang akan berangkat ke medan perang.

Kendang bedug atau bebedug salah satu jenis kendang yang mirip bentuk dan cara permainannya dengan kendang tambur, akan tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil.

Kendang cedugan adalah kendang yang dalam teknik permainanya menggunakan panggul. Oleh karena itu, kendang ini juga disebut dengan nama kendang pepanggulan.

Kendang gupekan merupakan salah satu jenis kendang yang cara memainkanya adalah dengan memukul memakai tangan. Kendang ini kerap kali dipergunakan untuk mengiringi gamelan Gong Kebyar.

Kendang bebarongan adalah kendang yang secara khusus terdapat dalam barunga gambelan bebarongan. Jenis kendang ini mempunyai panjang sekitar 62-65cm, garis tengah tebokan besar 26-28cm dan garis tengah tebokan kecil 21,5-23cm. Kendang bebarongan ini termasuk dalam ukuran kendang yang tanggung.

Kendang krumpungan, kata krumpungan berasal dari kata pung yaitu menirukan suara kendang tersebut (onomatopea atau peniruan bunyi). Jenis kendang ini dipukul hanya menggunakan tangan. Kendang ini biasanya dipergunakan untuk mengiringi gambelan pegambuhan dan gambelan palegongan.

Kendang batel mempunyai banyak kesamaan dengan kendang krumpungan baik dari segi bentuk maupun cara memainkannya. Adapun perbedaan antara kendang batel dengan kendang krumpungan adalah kendang batel memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil dari kendang krumpungan.

Kendang angklung merupakan jenis kendang terkecil dari semua jenis kendang di Bali. Kendang ini mempunyai ukuran panjang antara 25-27cm, diameter tebokan besar 12-17cm dan diameter tebokan kecil antara 7-12cm.

Proses Pembuatan Kendang Bebarongan 

Secara umum proses pembuatan kendang Bali adalah sama. Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan kendang bebarongan adalah mencari dewasa ayu—waktu yang baik- agar mendapatkan keselamatan dalam bekerja dan kendang yang diciptakan nantinya memiliki kualitas yang baik. Mulai dari hari untuk menebang pohon ditentukan dengan mempertimbangkan sistem sasih – masa – dan pawukon (wewaran). Sasih yang baik adalah sasih karo, kawulu, dan kesanga yang biasanya disebut sasih berag (kurus). Dalam perhitungan wewaran yang terpenting tidak jatuh pada ingkel taru, wewaran : was (beteng) dan menghindari pasah. Sebelum menebang pohon, biasanya akan dihaturkan canang sari dan segehan. Waktu penebangan sangat diperhitungkan agar tidak termakan rayap, tidak mudah pecah dan mempunyai ketahanan dari segi usia.

Setelah kayu di potong lalu mencari hari baik untuk memulai bekerja atau nuasen. Hari tersebut adalah hari-hari yang bertepatan dengan dewasa: karna sula, kala geger, aswajag turun dan bojog turun. Setelah kendang tersebut selesai digarap lalu diupacarai yang disebut dengan istilah ngulapin atau masupati, maksud dari upacara ini adalah memohon kjepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar instrument tersebut menghasilkan suara sesuai dangan yang diinginkan, sekaligus dapat dipergunakan dalam konteks upacara.

Adapun jenis-jenis kayu yang dipergunakan untuk pembuatan bantang kendang bebarongan, antara lain : kayu tewel- nangka-,intaran, mahoni, waru, Kendal, poh gading, cempaka, kayu soren, belalu, nayur, taeb, sentul, tenggulun, temuli gending, waru lod, dan seseh. Kayu yang dianggap paling bagus untuk bantang kendang bebarongan  adalah kayu nangka.

Selain dari pemilihan kayu, penentuan jenis kulit sebagai penukup kendang juga harus diperhatikan. Dalam nukub kendang bebarongan,  jenis kulit yang dipergunakan adalah kulit sapi yang masih muda atau godel. Jenis godel yang dipergunakan adalah godel  betina karena mempunyai jenis kulit yang lebih lemas dan lentur dari pada yang jantan.

Fungsi Kendang Bebarongan

Gambelan bebarongan merupakan salah satu barungan gambelan Bali yang memakai laras pelog lima nada. Barungan gambelan ini terdiri dari beberapa instrument yaitu

  • Sebuah kendang bebarongan
  • Dua tungguh gender rambat dengan jumlah bilah 13 atau 14
  • Dua tungguh gender barangan dengan jumlah bilah 13 atau 14
  • Empat tungguh gangsa gantung pemade dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Empat tungguh gangsa gantung kantil dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh gansa jongkok pemade  dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh gansa jongkok kantil  dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh jublag  dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh jegogan dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Sebuah gong bebarongan
  • Sebuah  kemong
  • Sebuah klenang
  • Satu  tungguh gentorag
  • Sebuah kajar
  • Satu pangkon cengceng
  • Beberapa buah (4-5) suling
  • Sebuah rebab

Teknik Menabuh Kendang Bebarongan

Ada satu hal yang penting yang harus diperhatikan oleh juru kendang, yaitu sikap duduk dalam bermain kendang sebab sikap duduk yang baik dan benar akan sangat menentukan kenyamanan dalam bermain kendang. Dalam memainkan kendang bebarongan, juru kendang harus duduk bersila dengan posisi kendang di atas paha. Bagian depan kendangberada di sebelah kanan. Posisi kendang sejajar dengan bahu kanan penabuh, badan harus tegak dan perut harus ‘dikunci’. Dengan posisi badan yang tegak dan pandangan kedepan akan menambah kewibawaan seorang pemain kendang, disebut dengan istilah nogdog jejerih.

Untuk mendapat suara kendang sesuai dengan yang diinginkan dilakukan dengan jalan mengatur posisi sompe (pengatur suara kendang yang berbentuk cincin terbuat dari jangat). Cara mengatur tinggi rendahnya suara kendang adalah dengan jalan mengatur sompe baik kearah muwa kanan maupun muwa kiri kendang. Pengaturan suara kendang dapat juga dilakukan dengan cara memukul bagian wakis –salah satu bagia dari kendang yang terbuat dari bamboo dan kawat yang berbentuk cincin dan berfungsi untuk memegang penukub dan tali- dan penukub kendang pada kedua bagian (muwa).

Menurut I Wayan Suweca baik buruknya suara kendang juga ditentukan oleh faktor-faktor seperti :

  • Ukuran kendang (panjang dan diameternya)
  • Bentuk ruang dalamnya, termasuk besarnya pakelit
  • Tebal dan lemasnya kulit
  • Jenis kayu bantang kendang
  • Suhu dan kelembaban udara (pada cuaca yang sangat lembab atau dingin, suara kendang akan berubah)
  • Ketrampilan juru kendangnya
  • Pemeliharaan kendang

Warna Suara Kendang Bebarongan

Adapun yang dimaksud dengan warna suara kendang bebarongan adalah jenis jenis suara yang dihasilkan. Apabila menggunakan panggul maka muwa kanan dapat menghasilkan tiga jenis suara yaitu Dug, Tek dan Tep. Suara tek diperoleh dengan cara memukul muwa kanan dengan panggul dan muwa kiri ditutup sepenuhnya dengan tangan kiri. Sedangkan muwa kiri menghasilkan dua warna suara yaitu pak dan kung.

Pupuh Kendang Bebarongan

Pupuh kendang bebarongan adalah gabungan dari beberapa warna suara kendang sehingga menghasilkan suatu pola kekendangan khas bebarongan. Pupuh kekendangan bebarongan terdiri dari pupuh kekendangan pokok dan pupuh kekendangan yang dikembangkan. Pupuh kekendangan yang dikembangkan pada dasarnya mengacu pada pupuh kekendangan pokok. Dalam hal pengembangan ini sangat tergantung dari kemampuan atau skill dan rasa estetis dari juru kendang itu sendiri.

Pupuh Kekendangan Pokok Dengan Menggunakan Panggul

Yang dipakai dasar dalam pupuh kekendangan pokok adalah gending jenis gilak yang sering disebut gilak bebarongan. Gilak bebarongan terdiri dari delapan ketukan dalam satu frasenya (satu gong-an). Pada pupuh kekendangan pokok bebarongan pukulan pak atau keplak jatuh tepat pada ketukan, sedangkan cedugannya megantung atau sering disebut dengan istilah nyatotin. Dengan jatuhnya keplakan tepat pada ketukan dan cedugan megantung maka tangan kiri akan berfungsi sebagai pemegang mat sedangkan tangan kanan memalui cedugan akan bermain megantung atau off beat. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan sebagai dasar dari pupuh kekendangan barong.

Pupuh Kekendangan Pengembangan

Berdasarkan pupuh pokok di atas maka, seara bertahap pupuh pokok itu akan dikembangkan sesuai dengan kemampuan juru kendang itu sendiri. Caranya adalah sebagai berikut ini :

  1. Langkah pertama adalah membuat keplakan menjadi megantung sehingga keplakan dan cedugan akan megantung.
  2. Pengembangan kedua dilakukan dengan jalan melipatkan jatuhnya cedugan pada gong kedua
  3. Pengembangan ketiga keplakan tetap megantung, sedangkan cedugan ditambah variasinya naming tetap dipukul megantung.
  4. Pengembangan lebih lanjut adalah dengan jalan melipatkan keplakan maupun cedugan dengan teknik megantung, sehingga pupuhnya menjadi sangat rumit.

 

Pupuh Kekendangan Pokok Tanpa Menggunakan Panggul

Pada dasarnya sama dengan pupuh kekendangan pokok yang menggunakan panggul, yaitu sama-sama nyatotin baik keplakan,ceditan, maupun suara pung.

Pupuh Kekendangan Pengembangan

Pupuh kekendangan pengembangan tanpa menggunakan panggul pada prinsipnya adalah sama dengan teknik pengembangan dengan mempergunakan panggul, dan masih mempertahankan cirri khas bebarongan yakni nyatotin.

Hubungan Antara Pupuh kekendangan Dengan tari Barong

Dilihat dari hubungan antara pupuh kekendangan dengan tari barong , ternyata keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini, tari (juru bapang) akan bertindak sebagai pemberi aba-aba dan selanjutnya direspon oleh tukang kendang dan seluruh pemain gamelan sehingga terjadilah perubahan dinamika gending yang disebut dengan istilah angsel. Ada empat jenis angsel yang didapatkan dalam hubungan ini yaitu : angsel bawak (pendek), angsel numpuk (berlipat), angsel kado (tidak sempurna) dan angsel lantang (panjang). Selain keempat angsel tersebut, apabila juru bapang memberi aba-aba berupa kipekan (menoleh kekanan atau kekiri) maka akan direspon oleh juru kendang dengan keplakan.

SEJARAH PURI UBUD

Pada saat kerajaan Majapahit runtuh di abad ke 15, maka terjadi eksodus besar-besaran dari bangsawan Jawa untuk migrasi ke pulau Bali. Bangsawan dari pulau Jawa inilah yang mendirikan kerajaan Gelgel yang berada di kabupaten Klungkung, kabupaten di bagian tenggara pulau Bali. Kerajaan Gelgel inilah yang memberikan perlindungan kepada para bangsawan dari Jawa yang migrasi ke pulau Bali. Bangsawan dari Jawa yang membawa sistem kasta di Bali.

Pada abad ke 17 banyak berdiri kerajaan baru di wilayah pulau Bali, salah satunya di Ubud. Pada abad ke 17, banyak di bangun rumah para bangsawan di Ubud yang di beri nama Puri. Pada periode ini, banyak terjadi peperangan antar kerajaan di Bali, yang memperebutkan kekuasaan akan perluasan daerah.

Seorang pangeran dari kerajaan Gelgel Klungkung, dikirim ke daerah desa Sukawati untuk membangun sebuah istana kerajaan yang memiliki keindahan arsitektur agar ditujukan untuk kekuasaan di wilayah Gianyar. Pada saat pembangunan istana kerajaan di Sukawati, banyak seniman Bali dari berbagai daerah di kirim ke daerah Sukawati untuk membantu pembangunan istana. Setelah pembagunan istana di Sukawati selesai, banyak dari seniman memilih untuk tinggal di Sukawati. Oleh karena itu sampai saat ini, daerah Sukawati menjadi salah satu pusat seni baik seni tari, seni lukis, seni patung ataupun seni musik dan yang terkenal adalah pasar seni Sukawati.

Setelah berhasilnya di bangun istana di Sukawati, para prajurit istana Sukawati pada akhir abad 17 di kirim ke Ubud, untuk mengamankan Ubud yang sering terjadi konflik. Konflik yang terjadi di Ubud pada akhir abad ke 17, antara dua orang sepupu, yang satu berada di wilayah Padang Tegal Ubud dan yang lagi satu berada di wilayah Taman Ubud, yang berada di sebelah utara wilayah Padang Tegal Ubud. Peperangan antar ke dua sepupu ini, membuat raja Sukawati mengutus ke dua saudarnya untuk mengamankan wilayah Ubud.

Saudara dari Raja Sukawati tersebut adalah Tjokorde Ngurah Tabanan yang dikirim ke wilayah Peliatan Ubud dan Tjokorde Tangkeban ke wilayah Sambahan Ubud. Kedua saudara dari raja Sukawati kemudian membangun istana di daerah tujuan mereka masing-masing dengan tujuan mengamankan wilayah Ubud. Setelah Tjokorde Ngurah Tabanan yang membangun kerajaan di Peliatan Ubud, maka Tjokorde Ngurah Tabanan dengan dibantu oleh Raja Mengwi, memenuhi wilayah Ubud dengan penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk di Ubud, maka perekonomian mulai berkembang.

Pada abad ke 19, Belanda mulai memasuki pulau Bali. Beberapa kerajaan seperti kerajaan Mengwi merasa tidak senang akan kehadiran Belanda di daerah mereka. Kecerdikan Belanda yang mampu memprovokasi musuh lama kerajaan Mengwi, untuk membuat aliansi untuk menyerang kerajaan Mengwi. Karena di serang oleh banyak musuh, maka kerajaan Mengwi mengalami kekelahan telak, yang membuat wilayah mereka dibagi-bagi oleh kerajaan aliansi penyerang.

Pemerintahan Belanda mulai ikut campur dalam urusan politik di Bali pada awal abad ke 19, dengan menyerang kerajaan-kerajaan di Badung, kerajaan Buleleng dan kerajaan Klungkung. Peperangan besar pun terjadi, perang ini di Bali lebih dikenal dengan nama Puputan. Pada awal abad 21 di bawah pemerintahan Tjokorde Gede Raka Sukawati, wilayah Ubud menjadi wilayah cabang dari Sukawati. Pada tahun 1981, maka di Ubud ditetapkan sebagai sebuah kecamatan di wilayah kabupaten Gianyar dengan mencangkup wilayah desa Tegallalang, Peliatan, Mas dan Kedewatan.

KENDANG BALI

  1.  DEVINISI KENDANG  BALI

Istilah kendang telah disebut-sebut dalam piagam Jawa Kuno yang berangka tahun821 dan 850 masehi dengan istilah padahi dan muraba. Dalam Prasasti Bebetin, sebuah prasasti Bali yang berasal dari abad ke-9, kendang disebut dengan istilah papadaha. Kendang merupakan salah satu instrumen musik yang universal, karena hampir di seluruh belahan dunia dipastikan memiliki alat musik yang tergabung dalam alat musik perkusi. Di Bali kendang tidak bisa dipisahkan dari seni karawitan dimilikinya. Instrumen kendang terdapat pada gamelan golongan madya, yang berfungsi sebagai peminpin dari sebuah barungan gamelan.

Selanjutnya terdapat pada gamelan golongan baru, yang memiliki peranan semakin menonjol dengan teknik dan improvisasi yang semakin kompleks. Di Bali instrumen kendang biasanya dimainkan secara berpasangan dan individu. Jika dimainkan secara berpasangan maka kendang itu dinamakan kendang lanang dan kendang wadon. Kendang lanang ialah kendang yang memiliki suara lebih kecil atau tinggi, sedangkan kendang wadon ialah kendang yang suaranya lebih besar ataupun lebih rendah. Pembagian Instrumen  menurut Curt Sach dan Van Boster  Kendang Bali termasuk ke dalam instrument membranophone. Dimana Sumber Bunyinya di olah dari lebar
sempitnya membran.

 

 2.  JENIS DAN FUNGSI KENDANG BALI

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan ternyata ditemukan adanya

sembilan jenis kendang dalam karawi

tan BaliAdapun kesembilan jenis kendang yang

dimaksud adalah sebagai di bawah ini, diurut dari ukuran yang terbesar hingga terkecil.

1. Kendang mebarung merupakan jenis kendang dengan ukuran yang terbesar dalam

karawitan Bali. Ukuran kendang ini bisa mencapai panjang 185-200cm dengan

diameter antara 74-80cm. Kendang mebarung merupakan salah satu instrumen dari

barungan Gamelan Angklung (selendro empat nada). Jenis kendang ini hanya dapat

ditemukan di satu daerah saja yakni di Kabupaten Jembrana.

2. Kendang tambur merupakan jenis kendang dengan ukuran terbesar kedua. Kendang

tambur dapat dijumpai di Kabupaten Karangasem dan dipergunakan untuk dua hal

yaitu sebagai pelengkap dalam konteks upacara Dewa Yadnya dan juga untuk

mengiringi prajurit kerajaan yang akan berangkat ke medan perang. Kendang tambur

ini mempunyai ukuran panjang sekitar 72cm, diameter tebokan besar 54cm dan

diameter tebokan kecil 44cm. Cara mempermainkan kendang ini dengan

mempergunakan dua buah panggul dengan memukul kedua belah sisinya.

3. Kendang bedug atau bebedug adalah salah satu jenis kendang yang mirip bentuk dan

cara permainannya dengan kendang tambur, akan tetapi memiliki ukuran yang lebih

kecil. Jenis kendang ini merupakan salah satu instrumen dari barungan gamelan Gong

Beri. Jenis gamelan ini dipergunakan untuk musik tarian sakral Baris Cina. Perangkat

barungan gamelan Gong Beri hanya dapat ditemukan di Desa Renon dan Banjar

Semawang, Denpasar Selatan.

4. Kendang cedugan adalah kendang yang dalam teknik permainannya menggunakan

panggul. Oleh karena itu, kendang ini juga disebut dengan nama kendang

pepanggulan. Kendang pepanggulan ini mempunyai ukuran panjang antara 69-72cm,

garis tengah tebokan besar 29-32cm dan garis tengah tebokan kecil 22-26cm.4 Jenis

kendang ini biasanya dipergunakan pada beberapa perangkat gamelan, misalnya Gong

Kebyar, Baleganjur, dan Gong Gede. Kendang pepanggulan dimainkan secara

berpasangan yang terdiri dari kendang lanang dan wadon.

5. Kendang gupekan merupakan salah satu jenis kendang yang cara memainkannya

adalah dengan memukul memakai tangan. Kendang ini digunakan untuk mengiringi

gamelan Gong Kebyar. Kendang ini selain dapat disajikan dengan berpasangan dapat

juga dimainkan secara mandiri atau kendang tunggal. Kendang wadon mempunyai

ukuran panjang antara 67-72cm, diameter tebokan besar 27-32cm dan diameter

tebokan kecil 21-25cm. Kendang lanang mempunyai ukuran serta suaranya lebih

kecil dari kendang wadon. Ukuran panjangnya antara 65-70cm, diameter tebokan

besar 26-29cm dan diameter tebokan kecil 19-22cm.

6. Kendang bebarongan adalah kendang yang secara khusus terdapat dalam barungan

gamelan Bebarongan. Jenis kendang ini mempunyai panjang sekitar 62-65cm, garis

tengah tebokan besar 26-28cm dan garis tengah tebokan kecil sekitar 21,5-23cm.

Kendang bebarongan ini termasuk dalam ukuran kendang yang tanggung

(nyalah:Bahasa Bali), karena ukurannya yang tidak terlalu besar maupun tidak terlalu

kecil. Ada dua cara untuk memainkan kendang bebarongan, yakni bisa dengan

mempergunakan panggul dan bisa juga dimainkan tanpa menggunakan panggul.

7. Kendang krumpungan, kata krumpungan berasal dari kata pung yaitu menirukan suara

kendang tersebut (onomatopea atau peniruan bunyi). Jenis kendang ini dipukul hanya

menggunakan tangan. Kendang ini biasanya dipergunakan untuk mengiringi gamelan

Pegambuhan dan gamelan Palegongan. Kendang krumpungan ini selalu dimainkan

berpasangan yaitu kendang lanang dan kendang wadon. Kendang wadon mempunyai

diameter tebokan besar 24,5-25cm, panjang antara 55-57cm dan diameter tebokan

kecil 20cm. Sedangkan kendang lanang mempunyai diameter tebokan besar 23,5-

24cm, panjang antara 55-57cm, diameter tebokan kecil 19,5-20cm.

8. Kendang batel mempunyai banyak kesamaan dengan kendang krumpungan baik dari

segi bentuk maupun cara memainkannya. Adapun perbedaan antara kendang batel

dengan kendang krumpungan adalah kendang batel memiliki ukuran yang sedikit

lebih kecil dari kendang krumpungan. Selain itu, kendang batel biasanya

dipergunakan untuk mengiringi gamelan Pengarjan dan gamelan Batel Wayang.

Kendang wadon mempunyai diameter tebokan besar 23-24cm, panjang 52-55cm dan

diameter tebokan kecil 19cm. Sedangkan kendang lanang mempunyai diameter

tebokan besar 22-22,5cm, panjang 52-55cm dan diameter tebokan kecil 18cm.

9. Kendang angklung merupakan jenis kendang terkecil dari semua jenis kendang di

Bali. Kendang ini mempunyai ukuran panjang antara 25-27cm, diameter tebokan

besar 12-17cm dan diameter tebokan kecil antara 7-12cm. Karena ukuran dari

kendang angklung ini kecil, maka mempergunakan panggul yang kecil pula.

TEHNIK PERMAINAN DALAM KENDANG BALI

  • MILPIL, Adalah Jalinan pukulan gupekan (memakai tangan) antara tangan kanan dan tangan kanan.
  • BATU-BATU, Adalah pola permainan yaitu pukulan kendang lanang atau wadon apabila kendang wadon memainkan pukulan bebas pada muka kanan sedangkan kendang lanang mengimbangi pukulan keplak pada muka kiri.
  • GEGULET, Adalah jalinan pukulan (menggunakan panggul) antara kendang lanang dan wadon.
  • CADANG RUNTUH, Adalah pukulan yang terdapat pada kendag wadon di muka kanan yang artinyya mengimbangi pukulan dari kendang lanang

 

  4.  PEMBUATAN KENDANG BALI

Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan KENDANG BALI adalah mencari dewasa ayu – – hari atau waktu yang baik agar mendapatkan keselamatan dalam bekerja dan kendang yang diciptakan nantinya memiliki kwalitas yang baik. Yang diawali dengan mencari waktu untuk menebang pohon yaitu sasih karo, kawulu dan kesanga yang biasanya disebut sasih berag (kurus) yang biasanya menggunakan sesaji berupa canang sari dan segehan. Umumnya kayu yang di pakai adalah kayu nangka/ketewel, kayu intaran dan beberapa jenis kayu lainnya. Setelah kayu dipotong maka tukang kendang akan mencari hari baik untuk bekerja atau nuasen. Menurut informasi dari I Putu Gede Sula Jelantik, hari tersebut adalah hari-hari yang jatuhnya bertepatan dengan dewasa : karna sula, kala geger, aswajag turun dan bojog turun.

Setelah kendang itu selesai digarap lalu di upacarai yang disebut dengan istilah ngupain atau masupati yang bertujuan untuk menghasilkan suara seperti yang diinginkan sekaligus dapat dipergunakan dalam konteks upacara. Setelah semua prosesi ini terlewati maka ada beberapa hal lagi yang harus dikerjakan seperti, membangun bantang dan nukub kendang (memasang kulit kendang).

SEJARAH PESTA KESENIAN BALI

Pesta Kesenian Bali diselenggarakan sebagai upaya persembahan karya cipta seni terbaik masyarakat. Bilapun kini masyarakat berkeinginan memilih antara kesenian dan kerajinan, profan dan sekular, pesanan dan kreativitas murni masyarakat Bali, semua itu mereka kerjakan dengan semangat “persembahan “. Perbedaan itu tidak akan mengurangi hakekat berkesenian. Kegiatan berkesenian didasari oleh motivasi sebagai persembahan yang terbaik dan “spirit” dalam segala aktivitas masyarakat Bali.

Seni yang ditampilkan adalah persembahan dan karya cipta yang dihasilkan juga sebagai persembahan. Hal ini yang masih dijadikan. Persembahan seni dan karya cipta mengandung makna pembebasan yang iklas yang dalam ajaran Hindu sering disebut dengan yadnya. Yadnya yang dipersembahkan melalui seni dan karya cipta menjadikan hasil ciptaannya sebagai persembahan terbaik, maka sedapat mungkin seseorang seniman tidak akan mempersembahkan miliknya atau karyanya yang paling jelek atau seadanya, apalagi persembahan itu berupa seni dan karya cipta yang terlahir dari budi daya sebagai hulu cinta kasih dan peradaban rohani seni masyarakat.

Pesta Kesenian Bali merupakan media dan sarana untuk menggali dan melestarikan seni budaya serta meningkatkan kesejahteraan. Penggalian dan pelestarian seni budaya meliputi filosofi, nilai-nilai luhur dan universal, konsep-konsep dasar, warisan budaya baik benda atau bukan benda yang bernilai sejarah tinggi, ilmu pengetahuan dan seni sebagai representasi peradaban serta pengembangan kesenian melalui kreasi, inovasi, adaptasi budaya dengan harapan agar tetap hidup dan ajeg berjcelanjutan dalam konteks perubahan waktu dan jaman serta dalam lingkungan yang selalu berubah.

PELOPOR

Menampung hasil karya cipta, seni dan aspirasi berkesenian baik kesenian hasil rekonstruksi, seni hasil inovasi, atraksi kesenian serta apresiasi seni dan budaya masyarakat , maka Pemerintah Propinsi Bali, sejak tahun 1979, oleh Almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra menggagas dan memprakarsai suatu wadah pesta rakyat, yang sampai sekarang disebut ” Pesta Kesenian Bali ” (PKB), yang pertama kalinya di gelar.

Dasar Penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali adalah Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 07 Tahun 1986 tentang” Pesta Kesenian Bali “. Pesta Kesenian Bali yang digelar pertama kali pada tahun 1979, berlangsung kurang lebih 2 bulan tepatnya dari tanggal 20 Juni 1979 sampai 23 Agustus 1979, dan setiap tahun telah memberikan kesempatan untuk menampilkan karya-karya seni terbaik, sebagai wahana pembinaan, pelestarian dan pengembangan seni budaya masyarakat.Pelestarian seni budaya dengan menampilkan keseniankesenian klasik yang sudah hampir punah dan terpendam di masyarakat.Melalui Pesta Kesenian Bali, memotivasi masyarakat untuk menggali, menemukan dan menampilkan kepada masyarakat pada pesta rakyat ini. Penyelenggaraan PKB dari tahun ketahun telah memberikan nuansa tersendiri bagi keajegan seni budaya Bali dengan menampilkan thema yang selalu berbeda-beda.Kiranya cara berkesenian masyarakat Bali yang dipersembahkan kedalam wadah Pests Kesenian Bali, setiap tahunnya juga berbeda-beda. Seperti pada Pesta Kesenian Bali yang berlangsung Juni 2003 ini merupakan Pesta Kesenian Bali ke 25 yang bertepatan dengan Jubillium Perak Pesta Kesenian Bali. Kesempatan ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan koreksi, perbaikan dan perubahan serta introspeksi diri, ditengah-tengah keterpurukan kepariwisataan Bali saat ini.

Pesta Kesenian Bali membuat masyarakat Bali untuk selalu beraktivitas dan berkreativitas untuk memenuhi kehidupan kita. Dengan demikian aktivitas dan kreativitas berkesenian untuk menghasilkan karya cipta dan seni masyarakat Bali tidak akan pernah berhenti, untuk menggali dan mengembangkan gagasan-gagasan baru, baik itu gagasan barn berkesenian maupun dalam kegiatan sehari hari, dalam rangka menyambung kelangsungan kehidupannya. Penggalian dan pengembangan gagasan baru berkesenian, dipakai untuk mengimbangi adanya distribusi budaya asing sebagai akibat globalisasi menyeluruh, karena dengan adanya gagasan barn akan dapat menuntun prilaku masyarakat dalam konteks berfikir, berkata dan berbuat yang diinplementasikan dan diwujudkan dalam bentuk karya cipta seni budaya.

Dalam sejarah perjalanan pesta seni rakyat yang akbar ini pada umumnya selalu dibuka oleh pejabat tinggi negara. Hanya pada PKB yang pertama kali tahun 1979 dibuka oleh Almarhum Prof DR. Ida Bagus Mantra yang saat itu menjabat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali sekaligus sebagai penggagas PKB. Selebihnya pembukaan PKB dilaksanakan oleh Menteri, Wakil Presiden, Presiden dan Ibu Negara.