Wayang Kulit

April 28th, 2014

Wayang kulit

wayang kulit

Barang kali setiap puisi dan drama dlahirkan di Bali dengan perkenalan epik besar Hindu, Ramayana dan Mahabrata yang ternama. Mereka datang melalui tanah jawa sebagai propaganda bagi orang Hindu sebagai bagian dari pengajaan keagamaannya. Para setengah protagonis dari puisi tersebut, pangeran Rama dan Arjuna, para dewa yang menitis untuk menyelamatkan dunia, segera mempesonakan khayalan populer dengan petualang romantis mereka dan peperangan mereka yang luar biasa melawan kejahatan. Mereka bukan saja menjadi idola, pahlawan, dan contoh prilaku bagi orang Bali tetapi juga diterima sebagai leluhur dan teladan bagi ras. Para guru agama awal dari Jawa menuliskan kembali karya dari India ini dalam bahasa sastra setempat, bahasa Kawi, sebuah bahasa Jawa kuno, dengan sembilan dari sepuluh kata-katany adalah bahasa Sansekerta. Bahasa Kawi yang kaya dan berbunga-bunga sekarang merupakan bahasa yang klasik puisi (Kawi berarti ‘penyair’) yang digunakan oleh para cendekiawan Bali, yang telah terus mempraktikkannya, menjagannya tetap hidup sebagaimana selama masa keemasan Hindu sebelum diabaikan dengan datangnya agama Islam. Bukan tanpa alasan kalau Rafles menulis di dalam bukunya yang berjudul history of java “puisi mitologis kuno dilestarikan di Bali di dalam bentuk yang lebih benar dibandingkan dengan yang di Jawa”.

Puisi-puisi ditulis di dalam bait-bait yang berdsarkan matra Sansekerta (sloka), yang orang Bali kembangkan sebanyak 47 irama puisi yang berbeda-beda yang khususnya disesuaikan dengan baik dengan nyanyian. Ini semua diberikan kepada khalayak ramai oleh juru cerita yang melantunkan teks bahasa Kawi, sementara seorang penerjemah menjelaskannya di dalam bahasa bali sehari-hari. Orang-orang segera mempelajari puisi bahasa Kawi dengan menghafal, walaupun mereka tidak paham mengenai kata-katanya sesungguhnya dan menyanyikannya murni karena alasan matra musikal. Sekarang bahkan anak-anak lelaki dari kelas kebanyakan selama berjam-jam pada malam hari bernyanyi di dalam bahasa Kawi, walaupun makna dari lagu-lagu tersebut kabur bagi mereka. Iringan musikal mungkin akhirnya ditambahkan pada lagu-lagu epik dan mendongeng berkembang menjadi seni murni di dalam bentuk yang disebut kekawin, di mana sebuah orkes besar memainkan selingan antara episode-episode dan dialog-dialog yang diucapkan dan diterjemahkan oleh dua orang juru cerita. Episode-episode dari Ramayana dan Mahabrata masih menjadi karya sastra yang paling penting yang orang Bali telah menyesuaikannya dengan kesusasteraan mereka sendiri, dan mereka telah banyak mempengaruhi teater. Namun, terdapat tidak terhitung jumlahnya cerita-cerita lain, dari Jawa,asli, bahkan cerita Cina yang membuat sebagaian terbesar kesusasteraan Bali, yang sekarang sdang dikumpulkan oleh ahli-ahli bahasa Kawi di Bali, Jawa, dan Belanda.

Disamping pertunjukkan shamanistis kuno dimana leluhur dibawa ke  muka bumi ini di dalam bentuk bayangan untuk berkomunikasi dengan para keturunannya, datanglah wayang kulit, suatu pertunjukan wayang yang menampilkan bayangannya pada selembar layar dan dimainkan oleh seorang pendongeng mistis, sang dalang. Di masa lalu wayang mungkin merepresentasikan para leluhur dan dalang yang pendeta, tetapi di dalam semua kemungkinan guru-guru agama Hindu dari masa lalu memanfaatkan bentuk pengungkapan ini untuk memprogandakan agama dan menyesuaikan cerita-cerita mitologi Hindu ke dalam pertunjukan dramtis bagi khalayak ramai, menggambarkan episode-episode kehidupan Rama dan Arjuna dengan wayang. Begitu popularitas wayang bertambah, ini menjadi menampilkan gaya teater tertentu dengan sebuah pelajara moral, tetapi tidak pernah hilang fungsi gaibnya. Pertunjukan wayang dianjurkan di dalam upacara-upacara pada tahap penting dari kehidupan orang Bali seperti ulang tahun anak-anak, dewasanya gadis-gadis, upacara potong gigi, pernikahan, kremasi dan upacara pura. Wayang bisa dipertunjukan pada siang hari, tanpa layar dan tanpa penonton, tetapi dengan cerita yang khas, sebagai dukungan gaib terhadap upacara tersebut. Hampir tidak pernah malam dilewatkan ketika musik wayang yang berubah-ubah dari wayang tidak terdengar di suatu tempat. Petualangan fantastis dari wayang kuit mempunyai cengkeraman yang kuat pada khayalan baik orang muda maupun tua, yang kiranya lebih menyukai pertunjukan wayang kulit dibandingkan pertunjukan mengagumkan oleh manusia.

Wisatawan yang menonton wayang akan merasa bosan sebentar saja dan tidak dapat memahami mengapa kerumunan yang besar itu masih duduk mendengarkan dengan perhatian yang sungguh-sungguh pada pertunjukan wayang  yang tidak akan berakhir sebelum subuh. Tetapi bagi orang Bali wayang lebih dari sekedar bayangan yang tidak jelas di atas layar. Wayang adalah sebuah medium dari puisi klasik mereka, untuk humor mereka yang kasar, dan yang paling penting, ini adalah faktor terbesar di dalam pendidikan spiritual masyarakat. Di dalam sebuah pertunjukan yang ditampilkan oleh pendongeng yang mengilhami, disana berlaku sebuah perpaduan antara mistisisme dan banyolan ringan yang disukai oleh orang Bali. Setiap objek dan setiap gerakan dari wayang kulit mempunyai makna simbolis disamping aspe yang murni menghiur dari pertunjukan tersebut. Sang dalang adalah seorang seniman dan guru spiritual yang besar. Pelatihan bertahun-tahun, pengetahuan yang menyeluruh mengenai cerita-cerita dan nilai moralnya, dituntut dari seorang dalang yang baik. Popularitasnya tergantung pada ilhamnya, humornya, dan kemampuannya dalam hal menangani wayang-wayangnya sementara dia mengimprovisasi dialog-dialog yang lucu. Namun, reputasinya juga tergantung pada kesaktiannya, kekuatan gaibnya. Tidak diragukan lagi dia adalah bintang dari pertunjukan tersebut.

Sebelum seorang dalang dapat tampil di depan khalayak ramai, dia harus ditahbiskan di dalam upacara mawinten, ketika suku-kata suku-kata gaib dituliskan pada lidahnya dengan tangkai bunga cempaka yang dicelupkan pada madu. Kemudian dia mampu menceitakan calonarang yang gaib dan bpleh mengenakan kunci (prucut) seperti yang dikenakan pada rambut seorang pendeta. Tidak ada pengumuman yang dikeluarkan ketika pertunjukan wayang akan dilangsungkan. Namun, desas-desus tersebar dari mulut ke mulut ddan akan ada kerumunan orang bahkan sebelum sang dalang datang. Begitu dia mulai membentangkan layarnya, kerumunan banyak orang sudah berkumpul, duduk dengan tenang di lantai, tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaksabaran pada penantian yang biasanya tidak berujung pada pertunjukan untuk dimulai. Sepertinya mereka seolah dengan sengaja menanti sampai tengah malam untuk mulai, mengatur waktu untuk pertunjukan berakhir saat subuh. Perempuan dan anak duduk di barisan depan menghadap layar, para lelaki terbagi diantara baris belakang dan “di belakang panggung”, sisi dari layar dimana sang dalang duduk, dari mana mereka dapat melihat wayangnya yang sesungguhnya. Di Jawa ada peraturan bahkan kaum lelaki menonton wayangnya, dan perempuan hanya menonton bayanganya.

Layar (kelir) adalah selembar kain putih yang dibentangkan pada bingkai kayu dan diterangi sebuah lampu minyak dan primitif (damar) yang digantungkan langsung di atas kepala sang dalang. Bayangannya dipancakan pada layar oleh lampu tersebut. Di kaki layar adalah batang pisang untuk menancapkan wayang kulitnya agar diam saat wayang   tersebut tidak digerakkan. Sang dalang duduk bersila di dekat kotak wayang yang berbentuk peti mati, dibuat dari kayu (kropak), untuk menyimpan wayang, di belakang sang dalang adalah orkes, gender wayang yang terdiri atas empat xylophone, masing-masing dimainkan oleh seorang musisi. Diantara jari kaki kanannya, sang dalang memegang tanduk, sebuah palu dengan apa dalang mengetuk irama pada kotak wayang yang merupakan petunjuk bagi orkesnya.

Sumber : Buku Pulau Bali

Leave a Reply