MAKNA DAN PELAKSANAAN HARI RAYA NYEPI DI BALI

This post was written by gedepradnyana on Februari 14, 2017
Posted Under: Tak Berkategori

Perjalanan umat hindu di Bali pada khususnya, sudah sejak zaman dahulu memperingati hari raya nyepi. Adapun upacara ini sangant berkesan baik melalui kehidupan duniawi maupun rohani. Hari raya nyepi seperti ini tidak akan dilewatkan begitu saja,melainkan selealu akan dilaksanakan sebaik mungkin.Salah satu upacara keagamaan yang datangnya setiap satu tahun sekali adalah hari raya nyepi,yakni sebagai peringatan atau penyambutan tahun baru caka oleh umat hindu di Indonesia dirayakan secara khas dengan melakukan tapa brata atau juga dengan cara beyoga dalam wujud lahiryah,adalah pati agni (mematikan api) serta tidak melakukan aktivitas apapun juga.Akan tetapi masih banyak umat hindu yang masih belum melaksanakan tapa brata penyepin dengan sebaik-baiknya.Tujuan daripada hari raya nyepi adalah untuk menyebarluaskan keputusan “Mahasabha”(Pesamuan Agung Parisadha Hindhu Dharma).Adapun tujuan,harapan atau keputusan Parisadha Hindhu Dharma khusunya di Bali yakni bertujuan untuk memahami apa sebenarnya hari raya nyepi,kita sebagai umat hindu agar selalu ingat dengan upacara kita sendiri.Kita sebagai umat hindu sebelum dan sesudah hari raya nyepi sudah ditentukan oleh Parisadha Hindu Dharma.Rangkaian pelaksanaan hari raya nyepi dimulai dengan upacara melasti atau mekiis ke segara atau ke tempat yang dianggap suci,yang mempunyai makna untuk menyucikan Arca,Pratima,Pralingga,sebagai dimaklumi bahwa Arca,Pratima,Pralingga itu adalah media untuk memusatkan pikiran dalam rangka untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi.Arca,Pratima,Pralingga itu bermacam macam wujudnya,seperti Arca Brahma,Arca Wisnu,Ganapati dan lain-lain.Akan tetapi ada juga Pratima atau Pralingga yang berwujud permata,batu dan juga kepingan emas.Upacara melasti biasanya dilangsungkan setiap tiga hari atau dua hari sebelum hari raya nyepi.Pada upacara melasti itu semua Arca,Pratima atau Pralingga itu di usung ke segara atau mata air yang dianggap suci,masyarakat Bali biasa menyebutnya sebagai mesucian.Di dalam lontar Sang Aji Swamandala disebutkan “angayutaken laraning jagat,paklesa letuhing buana”yang artinya untuk melenyapkan penderitaan masayarakat dan kotoran dunia.Sedangkan di dalam lontar Sundarigama dinyatakan”amet sarining amerta kamandalu ritelenging samudera”yang artinya untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah-tengah lautan.Jadi berdasarkan kutipan di atas,maka proses berupa melasti itu adalah mensucikan media atau alat-alat atau simbolnya,serta saat itu pula umat hindu mulai memantapkan diri untuk hari raya nyepi.Setelah upacara melasti,sang Hyang Widhi dimohon untuk berstana di Pura Bale Agung,dan itu disebut dengan nyejer dan berlangsung selama selesai upacara bhuta yadnya sehari sebelum hari raya nyepi pada sore harinya.selama Arca nyejer umat hindu wajib mempersembahkan puja bakti,sesajen atau persembahan yang di sebut prani.Pada saat itu pula umat hindu memohon tirta amerta atau air suci kehidupan untuk kesejahteraan dirinya.Sehari sebelum hari raya nyepi ada upacara buta yadnya dalam Agastya Parwa dinyatakan “buta yadnya yadja ngaranya tawur kepujang intuwuh” yang artinya buta yadnya adalah tawur untuk kesejahteraan makhluk hidup.Wujud upacara buta yadnya ini lebih dikenal dengan upacara tawur kesanga yang rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali,yakni sehari sebelum hari raya nyepi.Umat hindu melaksanakan hari raya nyepi dengan tidak melaksanakan aktivitas apapun.Hidup tanpa aktivitas fisik untuk memadamkan kobaran api indrya,hawa nafsu,karena suasana yang khas yaitu nyepi atau sunyi,maka hari raya ini disebut dengan hari raya nyepi.Tentang betapa besar makna sepi dan sunyi itu di dalam kekawin Nirarta Prakarta VII.2 disebutkan bahwa ketika pikiran itu telah hening dan menjadi amat hening dan sunyi,tercapailah pikiran yang bebas.Pikiran yang semacam itu melingkupi seluruh alam yang bagi orang itu bagaikan tidak di dunia.Orang yang seperti itu sebenarnya telah dapat mewujudkan hakekat kebenaran serta mencapai tingkat ketinggian rohani.Demikian juga dengan kekawin Dharma Sunya,dinyatakan bahwa pikiran orang yang berhasil yoganya adalah tidak terbatas lagi,beliau telah menjangkau alam tertinggi,batasnya tidak terpancar lagi telah halus dan bersih.Hal itu disebutkan hakekat Nirasraya langgeng berbadan sunyi yang sempurna,indah dan sangat sukar untuk dipikirkan dan digambarkan.Berdasarkan kutipan di atas betapa besar makna sunyi atau sepi itu,sebab dengan kesunyian itu seseorang akan mencapai kesatuan atman dengan paramatman,jiwa pribadi bersatu dengan jiwa alam semesta.Dengan demikian hari raya nyepi adalah hari untuk melatih diri untuk menyepikan diri,melakukan pengendalian diri,tapa brata,yoga dan semadi yang lebih dikenal dengan catur brata,yang terdiri dari beberapa bagian yaitu,Amati Geni yang artinya tidak boleh menyalakan api atau lampu,kemuadian yang kedua ada Amati Karya, yang artinya tidak boleh bekerja,dan yang ketiga yaitu Amati Lelanguan yang artinya tidak boleh menyuarakan benda yang mengeluarkan bunyi atau dengan kata lain tidak boleh bersenang-senang,dan yang terakhir Amati Lelungan yang artinya tidak boleh bepergian.Makna dari pada amati Geni itu secara lahiryah tidak menyalakan api baik siang ataupun malam,tidak memasak dan tidak menyalakan lampu penerangan.Tidak memasak karena mereka yang berpuasa.Mereka tidak akan menikmati makanan dan minuman,sedangkan bagi mereka yang tidak berpuasa (anak-anak atau orang sakit) makanannya disiapkan sehari sebelumnya sekala,diri (jasmani dan rohani) dan bakti kepda Sang Hyang Widhi dapat dan lampunya dapat dinyalakan (diberi semacam dispensasi) bagi keluarga yang mempunyai bayi,keluarga yang sakit,atau ada kematian.Kemudian yang kedua ada Amati Karya yaitu tidak melaksanakan kerja fisik sebagai upaya untuk melaksanakan tapa,brata,yoga dan smadi.Tapa berarti pengekangan diri,brata berarti taat dan tangguh terhadap janji atau tekad untu melaksanakan yoga.Yoga berarti menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi,sedangkan smadi berarti pemutusan pikiran untuk menuju kebahagiaan yang sejati.amati Karya secara fisik bagi umat yang awam dapat dialihkan dengan cara membaca kitab-kitab suci,Bhagawadgita,Upanisad dan lain-lain.Kemudian yang ketiga Amati Lelanguan yang berarti tidak menikmati hiburan,musik,lagu-lagudan lain sebagainya.Pikiran dipusatkan untuk merenungkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dan untuk introfeksi diri dan mendengarkan suara alam tanpa aktivitas manusia.Kemudian yang terakhir Amati Lelungan yang berarti tidak bepergian kemanapun.Jadi harus tinggal di halam rumah kita sendiri.Tidak bepergian kemanapun dalam artian tidak keluar rumah adalah upaya untun mendukung kegiatan tapa,brata,yoga,dan smadi.Bila brata penyepian dilaksanakan di luar rumah,misalnya di sebuah Pura,pengunungan,di pantai atau di hutan,maka yang paling penting adalah tidak pergi lagi dari tempat kita melakukan atau melaksanakan tapa brata tersebut,sudah barang tentu kita akan dikenakan denda oleh petugas atau pecalang yang berjaga.Itu sebabnya orang Hindu di Bali tidak berani melanggar aturan atau awig-awig yang berlaku di Desa itu sendiri.Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa hari raya Nyepi adalah upacara sebagai pergantian tahun baru caka.Adapun tujuan daripada hari raya Nyepi itu adalah agar umat Hindu di seluruh Indonesia dapat melaksanakan hari raya Nyepi dengan sebaik-baiknya.Sebelum kita melaksanakan Hari raya Nyepi tersebut sehari sebelum Nyepi umat Hindu melakukan berbagai upacara “Mecaru” yang bertujuan untuk memberikan labaan kepada Buta kala agar tidak mengganggu kita di dunia.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address