Tradisi ngerebeg di kota Bangli

This post was written by gdagussaputra on Mei 24, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

Tradisi Ngerebeg 

Sangkepan barong atau barong mapadu umumnya sering di lakukan oleh masyarakat banjar adat di Bangli. Tradisi barong mapadu biasa dilakukan semasa berkuasanya Raja Bangli Anak Agung Ketut Ngurah alias Regen Bangli. Sehubungan dengan kegiatan ritual atau disaat hari” tertentu. Namun, belakangan sangkepan barong tak lagi diadakan lantaran adanya kekhawatiran akan memicu terjadinya konflik antar banjar, sebab banyak warga yang kerauhan. Karena itu, sangkepan barong kini tidak pernah diadakan lagi di Bangli.

Kendati demikian, di Bangli sejak pemerintahan Bupati I B Agung Ladip dilakukan aktivitas yang disebut Ngerebeg. Aktivitas ritual ini berlangsung di pusat Kota Bangli dan hingga kini masih tetap dijalankan. Prosesi Ngerebeg dilangsungkan di pusat kegiatan bisnis di Bangli, tepatnya di perempatan Catuspatha patung Tri Murti yang berlokasi di sebelah utara Pasar Kidul Bangli.

Secara rutin pada malam hari di saat Galungan atau Kuningan semua banjar adat yang berlokasi dekat jantung kota ini nedunang Ida Batara berupa arca barong untuk katuran ayaban sewentena (seadanya) dan caru agung. Namun, tidak hanya saat hari raya Galungan dan Kuningan diadakan ritual ngerebeg. Ritual ini juga dilakukan pada hari-hari lainnya seperti pada pangerupukan. Sebagaimana dilakukan oleh pengemong Ida Batara di Pura Puseh Bebalang. Biasanya di hari itu, Ida Batara akan diiring keliling desa.

Upacara ngerebeg sesungguhnya merupakan tradisi yang telah diwarisi umat Hindu di Bangli secara turun-temurun. Kegiatan itu merupakan ritual penyucian dan permohonan kepada Sang Hyang Catus Pata agar bisa turun ke jagat raya guna mensejahterakan umat. Selain itu menyelamatkan umat dari kemungkinan segala macam gangguan.

Kenapa hanya dilakukan di pusat kota? Hal itu disesuaikan dengan posisi perempatan yang mengarah ke empat banjar adat, yakni meliputi Banjar Kawan, Blungbang, Pande dan Banjar Geria. Keempat banjar ini masing-masing nyungsung arca barong di Pura Dalem yang terdiri atas Dalem PurwaDalem Gede SelaunganDalem Pegringsingan, dan Dalem Penunggekan. Keempat arca barong tersebut, pada saat berlangsungnya upacara akan menghadap ke masing-masing banjar adat.

Ida Batara di Dalem Purwa akan menghadap arah barat, Ida Batara Dalem Penunggekan menghadap ke selatan, Dalem Gede Selaungan menghadap ke utara, Ida Batara Dalem Pegringsingan menghadap ke timur. Posisi berhadap-hadapan yang dibagi dalam empat arah posisi desa itu disebut nyatur desa.

Setelah katuran ayaban, Ida Batara akan diarak malancaran mengelilingi masing-masing banjar penyungsung. Saat malancaran itu biasanya banyak pula yang kerauhan(kesurupan), bahkan tidak jarang banyak yang sampai ngunying/ngurek. Kendatipun jalannya ngerebeg di pusat kota baru ditertibkan beberapa waktu yang lalu, tradisi ini sebenarnya sudah diwarisi oleh masyarakat Bangli sejak mengenal keberadaan Barong Swari.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: