RSS Feed
Jun 30

PERAYAAN HARI RAYA NYEPI Di Desa Darmasaba

Posted on Senin, Juni 30, 2014 in Tak Berkategori

Hari raya NYEPI adalah salah satu hari raya agama hindu yang jatuhnya setiap 1 tahun sekali tepatnya pada PINANGGAL APISAN SASIH KADASA sehari setelah TILEM KASANGA. Perayaan Nyepi di Bali sudah berlangsung sejak  abad ke-78 masehi silam. Perayaan yang dilakukan di Banjar Taman Desa Adat Tegal, Darmasaba, Abiansemal, Badung pada Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936 adalah banyak kegiatan yang dilakukan untuk menyambut hari raya ini. kegiatannya seperti, jauh-jauh hari STT(Sekaa Truna-Truni) mempersiapkan Ogoh-ogoh dan Baleganjur untuk mengisi kegiatan pada hari Pengrupukannya, mengadakan Gotong royong di lingkungan Banjar dan Pura satu minggu sebelum hari raya tersebut. Ada juga 4 rangkaian hari raya nyepi yang harus dilakukan pada perayaan hari raya nyepi, yaitu :

  1. 3 hari sebelum hari tilem kasanga diadakan suatu upacara yang disebut MELASTI yang  bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Khususnya di desa saya melasti dipersiapkan dimulai jam 9 pagi. Ida betara/ petapakan yang ada di masing-masing pura yang disun gsung(dimiliki) oleh desa dan pretima-pretima yang disungsung oleh satu keluarga itu di linggihin/ditempatkan bersamaan di Bale Agung(tempat suci), setelah pelinggihan pretima-pretima selesai pengiring boleh pulang. Dan pukul 4 sore pengiring yang memiliki/menyungsung pretima-pretima di masing-masing pura kluarga kembali menuju Bale Agung untuk memasukan pretima-pretima mereka ke dalam juli(suatu tempat ngelinggihang pretima-pretima menjadi satu). Setelah semua pretima dimasukan ke juli, para penyungsung pun pulang dan menunggu jam 10 malam untuk datang ke pura lagi. Setelah jam menunjukan jam 10 malam, orang-orang pun berkumpul di bale banjar masing-masing untuk ngayahin banjar, setelah itu rombongan banjar di angkut menggunakan truk dan ada juga yang menggunakan kendaraan pribadinya. Rombongan pun berangkat ke Bale Agung untuk mengambil/ngayahin juli yang sudah ditentukan oleh desa. Setelah itu juli di naikan ke truk, dan tepatnya jam 11 malam semuanya berangkat ke Pantai Prerenan untuk melakukan upacara MELASTI. Setelah sampai disana pengayah banjar pun berbondong-bongdong mengambil juli, serunya sebelum menaruh/ngelinggihin juli ditempat yang sudah ditentukan kita melewati loloan( air darat yg menuju kelaut), letak serunya loloan itu tingginya bisa mencapai 1 meter +-. Setelah melewati loloan dilinggihin ditempat yang sudah ditentukan dan acara pun dimulai. Setelah sekitar 2 jam +-, acara selesai, waktunya kembali kepura. Sekitar jam setengah 3 juli tiba di Bale Agung, dan juli petapakan langsung Budal(kembali ke pura tempat ida melinggih). Pretima-pretima pun dituruni dari juli dan kembali ditaruh di Bale Agung. Sumua pretima ditaruh di Bale Agung selama 2 hari. Selama 2 hari itu yang punya pretima-pretima setiap malamnya melakukan sembahyang di Bale Agung. Pretima-pretima itu diambil pada waktu pagi tilem kesanga (hari pengrupukan), dan sebelum diambil oleh keluarga yang masing-masing memiliki pretima itu dilakukan upacara mecaru didepan Bale Agung. Setelah itu barulah pretima itu bisa diambil dan ditempatkan di pura masing-masing. Itu tadi tentang Melasti didesa Darmasaba.
  2. Sehari sebelum Nyepi yaitu Hari Pengrupukan dimana pada tilem sasih kesanga (bulan mati yang ke 9), umat Hindu melaksanakan upacara Butha Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan melakukan salah satu upacara caru (sesajian) menurut kemampuannya. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Butha Kala, dari segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Mecaru diikuti oleh upacara Pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, membawa obor rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Butha Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, Pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai Ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Butha Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Butha Kala dari lingkungan sekitar. Pembuatan ogoh-ogoh biasanya dilakukan jauh-jauh hari sebelum pengrupukan. Seperti diwilayah banjar saya, pembuatanogoh-ogoh dilakukan oleh kalangan pemuda(STT), pembuatan ogoh-ogoh dilakukan 2bulan sebelum hari H. Selalin pembuatan ogoh-ogoh, biasanya juga disiapkan Baleganjur untuk mengiringi pementasan ogoh-ogoh tersebut. seperti tahun ini didesa Darmasaba diijinkan membuat ogoh-ogoh, walaupun sebelumnya banyak isu tidak akan diijnkan membuat ogoh-ogoh karena berdekatan dengan Pesta Demokrasi(PEMILU). Tapi setelah adanya rapat desa, diijinkanlah dibanjar-banjar se desa darmasaba membuat ogoh-ogoh.

3. Hari Nyepi yang memiliki arti Sepi yaitu tidak adanya aktifitas seperti hari-hari biasanya (hari mati). Adapun yang wajib dilakukan umat hindu adalah melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan CATUR BRATA PENYEPIAN, yaitu :

1. Amati Geni : tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.

2. Amati karya : tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.

3. Amati lelungaan : tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri.

4. Amati lelanguan : tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi.

Catur Brata Penyepian ini mulai dilakukan pada saat matahari mulai terbit sampai matahari terbit kembali keesokan harinya (24 jam).

4. Sehari setelah Hari Nyepi adalah hari NGEMBAK GENI. Hari Ngembak Geni di artikan sebagai hari bersyukur karena kita telah memasuki Tahun caka yang baru. Oleh karena itu pada saat Ngembak Geni, umat Hindu berkunjung ke sanak keluarga dan masyarakat sekitar untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru, saling memaafkan, menyayangi dan hidup rukun. Dan biasanya hari ngembak geni juga sebagai hari berekreasi bersama keluarga. Orang-orang banyak melakukan rekreasi seperti mengajak keluarga ke suatu tempat wisata untuk memberi kesan membahagiakan keluarga kita.

Itulah tadi sedikit tentang Perayaan Hari Nyepi didesa Darmasaba. Bali sangat kaya dengan ragam adat dan budayanya yang tidak akan pernah dimiliki oleh daerah lain, maka kita sebagai masyarakat bali harus selalu melestarikan adat dan budaya kita, jangan sampai diambil/hak milikkan oleh wilayah/negara lain. DSC_0200

Jun 30

Pengertian Instrument Gangsa

Posted on Senin, Juni 30, 2014 in Tak Berkategori

Instrument Gangsa adalah instrument yang mempunyai jumlah bilah 10 (sepuluh) buah dengan susunan nada sebagai berikut :

Nada rendah :ndong,ndeng,ndung,ndang,nding
Nada tinggi   :             ndong,ndeng,ndung,ndangnding
Dalam barungan gong kebyar gangsa dapat dibedakan menjadi 2,yaitu gangsa pengumbang (polos) dan gangsa pengisep (sangsih). Gangsa juga dimainkan dengan tangan kanan dengan menggunakan panggul,kemudian bilah-bilahnya ditutup sesuai dengan suara yang di inginkan. Teknik ini juga digunakan pada instrument lain dalam gong kebyar  yang sifatnya menggunakan alat bantu seperti panggul,dll. Daun gangsa dibuat dari perunggu yang diproses di bengkel khusus yang disebut perapen. Setelah dilebur lalu dimasukkan ke dalam cetakan atau penyangkaan sesuai dengan ukuran yang dibuat. Kemudian dilaras nada-nadanya sesuai dengan jenis apa yang dibuat. Selawahnya juga dibuat, mengenai ukuran dan bahan yang dipakai sesuai dengan jenis gambelan tersebut. Badan selawah dibuat dari kayu, biasanya kayu nangka atau kayu jati, sedangkan resonatornya dari bambu. Tali panggulnya dari benang atau jangat, atau cukup di pakai jika yang dibuat gangsa jongkok. Panggul untuk membunyikannya hanya sebuah. Berukuran kecil bila dipergunakan dalam jenis pukulan kekotekan seperti panggul untuk pemade. Ditinjau dari bentuk selawah dan bagaimana daun gambelan diletakkan pada selawah gambelan tersebut, gangsa itu dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:

  1. Gangsa Jongkok, yaitu gangsa yang ukuran selawahnya rendah dan tanpa resonator, dan dipaku pada dua buah lubang di kedua ujungnya. Ada juga yang memakai resonator, misalnya gangsa jongkok gong gede, yaitu berupa lubang di bawah bilahannya yang langsung dibuat pada selawahnya.
  2. 2. Gangsa gantung, yaitu gangsa yang ukuran selanjutnya agak tinggi dan memakai resonator dari bambu setinggi selawah tersebut. Dipasang dengan menggantungkannya pada celah paku yang dipasang setelah diikt atau dihubungkan satu daun dengan daun lainnya memakai benang atau jangat.

Instrument gangsa digunakan tidak hanya dalam barungan gambelan gong kebyar saja, tetapi instrument gangsa juga dapat ditemukan dalam barungan semar pegulingan yang menggunakan 7 (tuhuh) nada dan semarandana yang menggunakan 12 (duabelas) nada yang terdiri dari nada tinggi dan rendah. Nada gangsa dalam barungan  gong kebyar menggunakan laras pelog (selisir) dan nada gangsa dalam barungan semar pegulingan dan semarandana menggunakan laras pelog (selisir) dan selendro (tembung).
Dalam memainkan tabuh kreasi yang di kemas secara modern, instrument gangsa menjadi instrument yang paling rumit  untuk dimainkan karena instrument gangsa kaya dengan teknik tetekep dan teknik pukulan yang menarik. Misalnya teknik pukulan ngempyung, yaitu teknik yang memainkan 3 (tiga) nada secara bersama-sama. Teknik pukulan ini mulai dikembangkan kurang lebih dari tahun 90-an sampai sekarang dan menjadi teknik yang sangat susah untuk di pelajari, adapun teknik pukulan lain dalam permaian gangsa adalah teknik pukulan sebagai berikut : 1. Pukulan Ngoret:Pukulan ngoret adalah memukul tiga buah nada yang mendapat dua ketukan ditarik dari nada yang tinggi ke arah nada yang lebih rendah. 2. Pukulan Ngerot : Pukulan ngoret adalah teknik memukul tiga buah nada yang mendapat dua ketukan ditarik dari nada rendah ke arah nada yang lebih tinggi. 3. Pukulan Netdet :Pukulan netdet adalah memukul dan menutup satu nada yang secara beruntun dari tempo yang pelan ke tempo yang lebih cepat. 4. Pukulan Neliti : Pukulan neliti adalah memukul kerangka atau bantang gending secara polos dalam arti tidak berisi fariasi. 5. Pukulan Ngecek : Pukulan ngecek adalah memukul dan menutup satu nada saj, dimana bias di mainkan oleh kesemua nada tersebut.6. Pukulan Gegejer :Pukulan gegejer adalah nama nama dari salah satu pukulan yang memukul satu buah nada secara beruntun dan juga bias dimainkan dimasing-masing nada atau bilah. 7. Pukulan Oncang-oncangan :Pukulan yang saling bergantian dengan memukul dua buah nada yang berbeda yang diselingi oleh satu nada. Hasil dari pukulan ini akan bias terjalin searah, sehingga susunan nada-nadanya kedengaran selalu berurutan. Disamping itu ad juga pukulan oncang-oncangan yang m,emukul tiga buah nada yang diselingi oleh satu nada juga.8. Pukulan ngantung :Nama salah satu pukulan gangsa di dalam satu gatra terdapat empat ketukan, dimana akan mencari ketukan yang ketiga ada suatu tekanan pukulan yang pukulannya mendahuluiketukan ke tiga sehingga pada akhirnya kembali kedalam ketukan ke empat lagi.

SIKAP/ CARA MEMAINKAN GANGSA :

Tategak/Sikap Duduk : Sikap memainkan gamelan Bali memiliki makna yang sangat penting. Tidak hanya menyangkut kajian estetik keindahan, akan tetapi bagaimana energi disalurkan ketika memainkan gamelan. Posisi duduk seorang pemain gamelan ideal yaitu mengambil posisi silasana yaitu posisi duduk dimana kaki dilipat tertumpuk (kanan dan kiri) sedangkan posisi badan tegak, dan pandangan kedepan  Dengan posisi yang benar dapat mendukung penampilan dan secara estetik tertata adanya. Aspek penampilan menjadi sangat besar pengaruhnya terhadap sebuah pementasan karena tanpa didukung oleh penampilan yang baik dan apik serta mempertimbangkan aspek keindakan akan tidak tercapai kaidah pertunjukan yang ada seperti: kompak, harmonis, selaras serasi dan seimbang. Sisi lain dari posisi duduk yang benar dapat memberikan energi yang penuh/total, sebab secara penyaluran energi yang seimbang keseluruh tubuh dapat menyebabkan kualitas pukulan terjaga intensitasnya.

Posisi tangan :Untuk dapat memainkan gamelan secara baik tentunya memegang panggul harus diperhatikan. Posisi tangan yang benar untuk memainkan instrument berbilah adalah tangkai panggul dipegang oleh tangan kanan dengan ibu jari berada sejajar dengan tangkai panggul bagian lebarnya, sedangkan keempat jari lainnya posisi terlipat (lihat gambar). Sedangkan untuk memainkan instrument berpencon posisi tangan mengikuti arah panggul, sedangkan telunjuk tanpa dilipat. Begitu juga pada instrument lainnya.

 Menutup/tatekep :Barungan Gong Kebyar merupakan seperangkat gamelan yang memiliki instrumentasi yang sangat banyak. Hampir 30-40 buah instrument yang sebagian besar merupakan instrument perkusif(dipukul). Tehnik-teknik tersebut menyebabkan setiap kelompok instrument memiliki bunyi dan warna nada yang berlainan. Instrumen-instrumen Gong Kebyar yang dimainkan secara dipukul baik memakai tangan maupun memakai alat pemukul/panggul dalam gamelan Bali lazim disebut gagebug.

Jun 30

KESENIAN SAKRAL BARONG LANDUNG

Posted on Senin, Juni 30, 2014 in Tak Berkategori

Di Banjar Lantang Bejuh, Desa Pekraman Sesetan

Denpasar Selatan.

Di bali yang masyarakatnya notabennya memeluk agama Hindu tentu sudah lekat dengan kehidupan berkesenian. Kesenian merupakan salah satu bentuk wujud syukur dan pemujaan atau persembahan yang tulus ikhlas kepada Tuhan. Kehidupan berkesenian memiliki hubungan yang sangat erat dengan pengamalan agama, karena dengan berlandaskan agama dapat memunculkan berbagai macam bentuk kesenian. Kesenian – kesenian yang muncul dapat dibagi menjadi kesenian sakral dan kesenian tidak sakral (profan). Kesenian sakral adalah kesenian yang diperuntukan sebagai sarana persembahan yang dipercaya memiliki aura magis dan mistis serta biasanya dipentaskan pada saat upacara dan berhubungan langsung dengan Tuhan. Kesenian profan adalah kesenian yang diperuntukan sebagai hiburan dengan tidak mengedepankan unsure ketuhanan. Kesenian sakral telah banyak bermunculan di Bali yang kaitannya dengan proses upacara dan system kepercayaan masing-masing daerah. Seperti contoh kesenian Sanghyang, Barong, Topeng Wali, Barong Landung dan lain-lain. Sudah tentu setiap kesenian sakral tersebut sudah melalui prosesi upacara “pensakralan” atau pasupati dengan memberikan kekuatan Tuhan kepada kesenian tersebut sehingga dapat dipercaya dan menambah aura magis dan mistis yang dimiliki. Salah satu kesenian sakral yang ingin saya bahas adalah kesenian Barong Landung. Karena menurut pendapat saya kesenian Barong Landung mempunyai nilai historis yang sangat kental dan mempunyai nilai estetika yang khas yang dapat menjadi bahan di dalam pembuatan tugas ini. Berikut ini saya jelaskan mengenai kesenian sakral Barong Landung. Barong Landung merupakan salah satu kesenian yang ada di bali. kesenian Barong Landung diwujudkan ke dalam bentuk barong laki-laki dan perempuan yang diberi nama Barong Landung(Jero Gede) dan Jero Luh. Barong Landung ditarikan dengan cara memikul barong tersebut disertai dengan gerakan menggoyang-goyangkan barong. Biasanya disertai dengan nyanyian atau geguritan bila dipentaskan dalam lakon pengarjaan. Di beberapa daerah Barong Landung dipercaya sebagai sarana untuk penolak bala dengan mementaskannya atau menarikanya mengelilingi desa, biasa disebut sebagai Ngelawang. Kesenian Barong landung ini sangat jarang keberadaannya. Itu terkait dengan cerita atau kepercayaan masing-masing daerah yang mempunyai kesenian Barong landung tersebut. Tidak setiap daerah memiliki kesenian ini, karena seiring berjalannya waktu kesenian Barong Landung ini sudah menjadi bagian dari salah satu kesenian sakral yang ada di Bali. Dijadikannya kesenian ini sebagai salah satu kesenian sakral terkait dengan system kepercayaan setempat, konsep religius dan tujuan upacaranya.

   Seperti kesenian Barong Landung yang ada di Banjar Lantang Bejuh, Desa Pekraman Sesetan, Kecamatan Denpasar selatan. Disini saya akan menjelaskan kesenian Sakral Barong Landung dari segi filosofis, etika, dan estetika.

FILOSOFIS

     Kesenian Barong Landung sudah ada sejak zaman Dalem Balingkang. Kesenian ini bermula dari cerita Sri Jaya Pangus dengan Kang Cie Wie. Dikatakan Sri Jaya Pangus mempunyai rasa istimewa (cinta) kepada Kang Cie Wie, yaitu seorang putri Cina. Karena mereka berdua berbeda keyakinan dan budaya, maka kisah cinta mereka berdua tidak direstui. Berdasarkan hal tersebut, mereka kemudian “dipastu” (dikutuk) menjadi Barong Landung dan Jero Luh. Kisah ini kemudian dijadikan sebuah kesenian oleh masyarakat Bali. Kesenian ini merupakan perpaduan dari budaya Bali dengan budaya Cina. Hal itu dapat dilihat dari perwujudan Barong landung yang mempunyai ciri khas Budaya Bali yaitu tapel menyerupai raksasa (aeng) dengan mempergunakan kampuh poleng, sedangkan perwujudan Jero Luh mempunyai ciri khas Cina yaitu pada tapel dibuat menyerupai wanita cina dengan ciri mata sipit dan berkulit putih ( manis). Kedua perbedaan tersebut dikatakan sebagai symbol rwa bhineda. Konsep rwa bhineda di Bali tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan beragama dan berkesenian masyarakatnya, karena konsep ini menjadi acuan atau symbol bahwa di dalam menjalani suatu kehidupan dengan berbagai aktivitasnya tidak akan bisa terlepas dari baik dan buruknya hal tersebut. Hal tersebut pula yang yang menyebabkan dua kebudayaan yang berbeda ini dapat bersatu. Itu pula yang terjadi pada kesenian Barong Landung yang ada di Banjar Lantang Bejuh, Sesetan. Di Banjar ini kesenian Barong landung sangat di sakralkan oleh masyarakat dengan “menyungsung” atau memujanya sebagai manifestasi dari Tuhan. Barong Landung ini menurut para penglingsir sudah ada setelah Indonesia merdeka atau sekitar tahun 1947-an. Pada mulanya Barong Landung ini berada di daerah Sanur. Kemudian dipinjam oleh warga Banjar Lantang Bejuh yang akan dipergunakan sebagai sarana untuk ngelawang di sekitar wilayah Banjar. Setelah sekian lama, akhirnya Barong tersebut diminta kembali oleh pemiliknya. Pada saat pemugaran pura yang berada di Banjar, salah satu warga mengalami kerasukan, dan mengatakan Barong Landung yang biasa dipergunakan untuk ngelawang ternyata sudah ada yang menempati atau “malinggih”. Pada saat itu warga Banjar meminta kembali Barong tersebut dengan tujuan untuk dijadikan “petapakan” atau “sungsungan”, namun Barong yang diminta sudah di bongkar oleh pemiliknya. Maka dari itu, prajuru Banjar bersama warga sepakat untuk membuat Barong Landung yang lengkap. Setelah hal tersebut disepakati, maka dibuatlah satu set Barong Landung yang terdiri dari 1 Barong Landung (Jero Gede), 1 Barong Jero Luh, 3 Barong kecil (Dewa Pragina) dan 1 Rangda. Setelah diadakan prosesi pasupati, Barong tersebut di stanakan di Pura Dalem Gunung Sari yang berada di Banjar Lantang Bejuh sendiri sampai sekarang. Barong tersebut sangat di sakralkan dan dikeramatkan oleh warga. Hal tersebut dilakukan karena warga percaya bahwa manifestasi Tuhan dalam perwujudan Barong Landung tersebut memberikan berkah, keamanan, dan penyatuan rasa dalam diri warga. Hal itu pula yang menyebabkan Barong ini mempunyai nilai magis dan mistis karena tidak boleh sembarangan dipentaskan. Hanya pada saat upacara tertentu dan pada saat ada yang “ Naur Sesangi” yang biasa disebut dengan “ Mepajar”. Di dalam konteks keagamaan Barong Landung mempunyai arti dan nilai penting bagi warga yang mempercayainya. Itu disebabkan karena keberadaan Barong Landung ini membuat warga merasa lebih dekat kepada Sang Pencipta dan dengan perwujudan Barong Landung ini adalah sebagai sarana bagi warga banjar untuk dapat memuja dan menghaturkan rasa bhakti yang tulus ikhlas. Dilihat dari konteks seninya, keberadaan Barong Landung ini memunculkan kebudayaan baru dan dapat digunakan sebagai sarana atau instrument kesenian. Di Banjar Lantang Bejuh, biasanya kesenian Barong Landung ini akan dipentaskan pada saat “Mepajar”. Pementasan yang ditampilkan adalah berupa cerita pengarjaan. Pengarjaan disini adalah sebuah pementasan seni dimana para pragina akan menarikan Barong Landung sambil melantunkan tembang atau pupuh. Biasanya cerita yang di pentaskan adalah cerita Dharma Putra, Mpu Bahula, dan lain-lain. Pementasan Barong Landung ini juga diiringi oleh seperangkat gamelan geguntangan. Ini merupakan sebuah kesenian yang adiluhung dan bisa dikatakan langka karena di daerah-daerah jarang ada yang memiliki kesenian ini. Kesenian seperti ini harus dilestarikan dengan jalan disakralkan sehingga tidak sembarang dipergunakan dan menjadi sebuah sugesti atau kepercayaan bagi warganya untuk terus melestarikan kesenian ini sebagai bagian dari warisan leluhur.

ETIKA

   Di dalam berkesenian sangat diperlukan suatu aturan atau tatanan yang mengatur bagaimana cara di dalam melakoni kesenian tersebut. Hal tersebut sangatlah penting di dalam berkesenian supaya para pelaku seni tidak sembarangan dalam bertindak dan melatih sikap disiplin. Aturan atau tatanan ini menjadi batas-batas atau acuan kita dalam bertindak. Aturan ini harus disepakati bersama menurut adat masing-masing wilayah dan aturan ini dibuat menurut kesadaran logika     (masuk akal). Di dalam aturan ini terkandung juga nilai-nilai yang menunjang proses penguatan dan pelaksanaannya di masyarakat. Begitu pula yang terjadi pada tindakan kita terhadap sebuah kesenian sakral. Seperti kesenian Barong Landung yang berada di Banjar Lantang Bejuh, Sesetan yang telah di bahas di atas. Aturan atau tatanan warganya sudah diatur dan disepakati bersama dalam menjalankan sebuah kesenian. Aturan yang diberlakukan tentu berbeda saat kesenian tersebut belum disakralkan dan setelah disakralkan. Tentu itu menurut pemahaman dan logika tentang hal apa saja yang boleh atau patut dilakukan dan hal apa saja yang tidak boleh atau menjadi pantangan untuk dilakukan. Aturan yang diberlakukan pada saat kesenian tersebut belum disakralkan, misalnya seperti siapa saja boleh menarikan Barong Landung tersebut, seperti digunakan pada saat latihan. Itu semisal aturan yang diberlakukan pada saat kesenian tersebut belum disakralkan. Akan tetapi, walaupun belum disakralkan kita juga tidak boleh sembarangan menggunakannya. Karena disana terdapat norma atau nilai kesopanan, kedisiplinan, dan rasa memiliki kita terhadap kesenian tesebut. Walaupun aturan sudah dibuat sedemikian rupa dan disepakati, namun kita sebagai manusia memiliki rasa atau kepekaan dalam menjalankan atau menggeluti kesenian tersebut. Itu berpengaruh terhadap pola pikir di dalam menjalankan aturan tersebut. Aturan yang diberlakukan pada saat kesenian tersebut sudah disakralkan, misalnya seperti pada saat akan menarikan atau mementaskan Barong Landung, yang boleh hanyalah orang-orang yang sudah melalui proses upacara pembersihan dan memang ditunjuk untuk menarikan atau disebut “pragina”. Disini aturan yang diberlakukan mengacu pada nilai sakral dan magisnya kesenian tersebut. Karena jika sudah disakralkan itu berarti kesenian ini berhubungan dengan kepercayaan dan Tuhan. Disana juga terdapat sebuah system kepercayaan, religius, dan upacara yang mendukung diberlakukanya aturan-aturan tersebut. Jika sebuah kesenian sudah dianggap sakral oleh warganya, maka harus dapat menerima berbagai keadaan dan konsekuensi atas apa yang sudah menjadi kepercayaan, kesepakatan dan menjalankan kesenian tersebut dengan tulus ikhlas karena hal tersebut berhubungan langsung dengan Tuhan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, etika atau aturan sangatlah penting di dalam berkesenian. Baik dalam seni sakral maupun seni yang lainya. Itu berkaitan dengan tata krama dan norma serta nilai-nilai yang berlaku. Norma yang dimaksudkan seperti norma kesopanan, kepatutan dan kebiasaan. Nilai – nilai yang terkandung seperti nilai social yang kaitanya dengan seni sakral ini adalah sebagai sarana untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan paham dari warga setempat. Jadi sebuah kesenian baik sakral maupun tidak, kita sebagai pelaku seni harus mempunyai etika atau aturan di dalam melakoni kesenian tersebut. Itu supaya kita tidak sembarangan dalam bertindak dan tidak menyalahi adat yang berlaku. Hal tersebut juga salah satu upaya agar kesenian yang kita miliki tetap terjaga. Yang artinya jika di dalam berkesenian diberlakukan sebuah aturan, maka hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan yang dapat merusak kesenian tersebut.

ESTETIKA

     Di dalam berkesenian sudah tentu hal yang ingin dicapai adalah kepuasan batin. Kepuasan batin ini dapat dicapai dari berbagai hal, salah satunya melalui keindahan. Keindahan di bidang seni sering disebut sebagai estetika. Estetika adalah cabang ilmu dari filsafat yang membahas tentang berbagai hal dalam keindahan termasuk keindahan dalam bidang seni. Jika keindahan dikaitkan ke dalam bidang seni, tentu hal ini berhubungan dengan nilai yang terkandung dan pendapat seseorang tentang apa yang menjadi unsure atau yang membuat sebuah seni tersebut menjadi dikatakan indah. Sudah tentu tingkat penilaian masing-masing individu terhadap keindahan suatu karya seni relative, hal tersebut terkait dengan tingkat pemahaman, wawasan, dan olah rasa dari masing-masing individu yang menilai. Keindahan di dalam sebuah karya seni tidak dapat dipaksakan adanya, namun keindahan tersebut sudah dapat dipastikan selalu hadir di dalam setiap karya seni yang diciptakan. Para seniman yang menciptakan atau mewujudkan sebuah karya seni tentu tujuannya adalah ingin menyampaikan rasa “indah“ yang dirasakan kepada masyarakat. Tentu indah yang dimaksud tidak selalu berwujud bagus, halus, rapi, tetapi nilai keindahan terdapat juga pada karya seni yang berantakan, menantang arus, tidak biasa (out of the box) dan lainnya. Hal tersebut kembali lagi pada sejauh mana para penikmat dapat menangkap unsure keindahan yang ingin disampaikan sang seniman. Itu pula dapat dilihat pada kesenian Barong Landung. Di atas sudah dijelaskan bahwa kesenian Barong Landung merupakan symbol dari konsep rwa bhineda. Itu merupakan satu poin keindahan, karena dua hal yang berbeda dapat disatukan menjadi satu dalam bentuk karya seni. Keindahan lain yang dapat dilihat adalah dari segi bentuk atau perwujudan Barong. Berbeda dengan karya seni Barong yang ada seperti Barong Ket, Barong Macan dan lainnya, yang memilki bentuk memanjang dan ditarikan oleh dua orang, Barong Landung memiliki bentuk tinggi besar, menyerupai raksasa, berbulu biasanya dari bulu kuda dan ditarikan oleh satu orang. Begitu juga dengan bentuk Barong Jero Luh, Barong Dewa Pragina (Mantri, Galuh, Limbur perwujudan dalam cerita pengarjaan) yang berwujud tinggi dan ditarikan oleh satu orang. Disini dapat dilihat kesan indah dari segi konsep busana yang dikenakan disesuaikan dengan karakter, dari segi perawakan atau “ jejaeg” dan dari pepayasan. Seperti Barong Landung di Banjar Lantang Bejuh, yang memiliki wujud yang sederhana namun memiliki kesan indah tersendiri. Itu dilihat dari “jejaeg” atau perawakan barong yang sudah sesuai. Bentuk tapel yang memiliki aura magis tersendiri dan warna yang digunakan semakin menambah kesan sakral dari Barong tersebut. Dari segi busana dan pepayasan ditata secara sederhana namun tidak mengurangi karakter yang ingin ditampilkan. Kesan itulah yang saya rasakan sehingga dapat menuliskannya ke dalam tugas ini. Pada intinya suatu keindahan sifatnya relative tergantung individu yang menilainya. Di dalam menilai suatu keindahan yang terdapat dalam karya seni diperlukan kepekaan rasa dan olah intelektualitas. Hal ini sangat penting karena berhubungan dengan hasil penilaian dan pertanggung jawaban. Di dalam menilai suatu keindahan tidak hanya dilihat dari hasil akhir karya tersebut, tetapi dilihat juga dari proses mewujudkan karya seni tersebut. Adanya proses ini sangatlah penting, karena di dalam proses tersebut terdapat suatu usaha yang dilakukan untuk mewujudkan, menyampaikan dan menampilkan kesan indah yang dirasakan seniman kepada para penikmat. Di dalam mewujudkan suatu karya seni tentu ada sebuah proses yang terjadi dan semua unsure terlibat disana. Baik unsure yang positif maupun negative. Akan tetapi dari semua unsure tersebut dapat ditemukan kesan indah asalkan kita menilainya dengan kepekaan rasa. Jadi bagaimanapun hasil akhir yang ditampilkan terkesan indah, itu tidak terlepas dari adanya sebuah proses dengan usaha untuk mewujudkan dan menampilkan kesan indah yang ingin dicapai. Maka hendaknya kita sebagai penikmat seni jangan hanya menilai sebuah karya tersebut dari hasil akhirnya, namun perlu diberikan penghargaan atas proses yang dilalui serta usaha yang dilakukan dalam menampilkan karya yang terbaik.

     Sebuah kesenian dapat dikatakan sakral apabila kesenian tersebut telah melalui proses upacara penyucian dan dipercaya oleh masyarakatnya memiliki unsure magis dan mistis serta dipercaya mewakili kekuatan Tuhan dalam manifestasinya yang diwujudkan melalui kesenian tersebut. Hal yang tidak kalah penting adalah sikap kita terhadap kesenian sakral tersebut. Jika sebuah kesenian telah disakralkan, maka tidak diperbolehkan sembarangan dalam bertindak atau ada sebuah etika yang mengatur sikap kita terhadap kesenian tersebut. Tentunya hal ini telah disepakati bersama menurut adat istiadat daerah setempat. Etika atau sikap ini juga dapat bermanfaat di dalam menjaga kelestarian dan unsure keindahan atau estetika yang terdapat dalam kesenian tersebut. Tentunya dengan adanya sebuah aturan maka hal- hal yang sifatnya merusak tidak akan dapat menyentuh kesenian yang telah disakalkan tersebut. Jadi kita sebagai umat beragama dan pelaku seni yang baik tentunya harus dapat menjaga kelestarian kesenian kita baik yang bersifat sakral maupun tidak. Karena pada hakekatnya perbedaan yang terdapat disana hanya karena “ rasa” atau kepekaan masing- masing individu.

SUMBER : BUKU SENI SAKRAL, PENERBIT PARAMITA SURABAYA, TAHUN 2010, YUDHA BAKTI.

Jun 30

Baleganjur Semarandana Di Desa Darmasaba, Abiansemal, Badung.

Posted on Senin, Juni 30, 2014 in Tak Berkategori

Gamelan merupakan satu istilah yang tidak asing lagi didengar oleh kalangan pengrawit. Bagi pengrawit, gamelan merupakan alat/instrumen/media ungkap/prabot garap yang digunakan untukmenggarap sebuah komposisi tabuh atau gending. Secara umum gamelan mempunyai pengertian sebagai instrumen musik tradisional yang memakai sistem laras pelog dan slendro. Dalam kehidupan masyarakat Bali, gamelan mempunyai peranan yang sangat signifikan, yang mana peranannya selalu dikaitkan dengan beberapa buah sistem seperti sistem religi, sistem sosial, dan sistem mata pencaharian.

            Gamelan yang merupakan hasil dari kreativitas manusia sudah tentunya tidak bersifat statis, akan tetapi selalu berkembang, bergerak menuju suatu pembenahan, perubahan dan pembaharuan sesuai dengan perkembangan peradaban. Hal ini sejalan dengan teori evolusi sosial universal yang mengungkapkan bahwa manusia dan kebudayaannya akan terus berkembang dari tingkat rendah dan sederhana, ke tingkat-tingkat yang makin lama makin tinggi dan komplex (koentjaraningrat, 1987:31). Dibali, perkembangan gamelan telah melalui lintasan sejarah. I Nyoman Rembang seorang pakar karawitan bali mengklasifikasikan perkembangan gamelan Bali menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) kelompok gamelan tua, yaitu gamelan yang diperkirakan sudah berkembang dengan baik sebelum abad X Masehi, 2) kelompok gamelan madya, yaitu gamelan yang diperkirakan berkembang sesudah abad X Masehi, dan 3) kelompok gamelan baru, yaitu gamelan yang diperkirakan berkembang sejak awal abad XX Masehi (Aryasa,1976/1977:36-37).

            Gamelan Baleganjur merupakan salah satu gamelan Bali yang digolongkan ke dalam kelompok gamelan madya dan diperkirakan berkembang setelah abad ke-10 (Yudarta, 1994:10). Gamelan ini merupakan sebuah bentuk musik prosesi lepas (tanpa trampa). Dalam dekade terakhir ini, perkembangan gamelan Baleganjur dapat dikatakan mengalami masa kejayaannya. Terbukti dari semarak dan populernya musik Baleganjur di kalangan masyarakat Bali terutama di kalangan generasi muda. Barungan yang memiliki instrumentasi yang cukup simple ini memiliki karakter yang keras, berat, dinamis dan mendebarkan, sehingga sangat tepat dipakai sebagai musik penyemangat, apalagi dimainkan oleh generasi muda yang memiliki karakter sesuai dengan karakter yang dimiliki oleh gamelan ini.

            Kendati gamelan Baleganjur secara umum sudah diketahui oleh masyarakat, namun

Pertanyaan tentang devinisi Baleganjur itu sendiri juga tidak jarang dilontarkan oleh

masyarakat ketika mengapresiasi gamelan ini. Khusus kata Baleganjur jika ditinjau dari aspek etimologisnya, kata ini terbentuk dari penggabungan dua suku kata yaitu bala dan ganjur. Bala mempunyai pengertian sekelompok orang, pasukan atau tentara, sedangkan ganjur menurut kamus bahasa kawi II mempunyai pengertian tombak yaitu sejenis senjata tajam dengan tangkai yang panjang. Bila kedua suku kata tersebut digabungkan akan punyai arti sebagai kelompok orang, pasukan atau tentara yang membawa tombak. Penggabungan kata tersebut yaitu kata bala dan ganjur menjadi Balaganjur pada praktiknya dalam kebiasaan orang Bali ada yang menyebutnya Kalaganjur, Galeganjur, Baleganjur, dan ada juga yang mempercepatnya dengan menyebut Bleganjur. Namun maksud dari yang diungkapkan semuanya itu adalah sama.

Baleganjur merupakan suatu barungan gamelan yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Darmasaba. Hal ini bisa dibuktikan dari seluruh banjar yang ada didesa Tegal Darmasaba memiliki barungan gamelan baleganjur pada umumnya. Dalam sebuah perkembangan seni karawitan munculah barungan gamelan baleganjur baru yang disebut dengan Baleganjur Semarandana. Dilihat dari instrumen-instrumen yang digunakan sebenarnya Baleganjur Semarandana itu sama saja halnya seperti baleganjur pada umumnya yang berlaras pelog. Hanya saja yang membedakannya, di Baleganjur Semarandana adanya penambahan nada-nada tertentu dimana nada itu sering disebut nada pemero.

Baleganjur Semarandana Di Desa Darmasaba, Abiansemal, Badung.

Awal mula keberadaan baleganjur semarandana di desa adat tegal, di awali dengan kreatifitas sekaa. Seorang akademisi Isi Denpasar ( I Wayan Mulyadi ) menggarap sebuah tabuh kreasi baleganjur yang pada saat itu di fungsikan dalam sebuah upacara prosesi Ngunya petapakan (sesuunan) keliling desa adat Tegal Darmasaba pada saat Karya Ngenteg Linggih ring Pura Entegana, Tegal Darmasaba. Instrumen Baleganjur Semarandana digarap untuk memunculkan suasana/warna baru dalam barungan baleganjur, dikarenakan barungan gamelan tersebut belum pernah dimainkan sebelumnya didesa Darmasaba khususnya. Setelah pertama munculnya itu di Banjar Gulingan, maka mulailah banjar-banjar yang ada didesa adat Tegal Darmasaba mengikuti untuk membuat Baleganjur Semarandana sebagai Baleganjur yang digunakan untuk prosesi Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Buta Yadnya. Sampai saat ini Baleganjur Semarandana masih sering digunakan oleh sekaa yang ada dibanjar-banjar dalam lingkungan desa adat Tegal Darmasaba.Tahun kemunculannya barungan gamelan baleganjur semarandana ke Desa Adat Tegal Daramasaba pada tahun 2007. Sekaa yang pertama kali memainkan baleganjur semarandana iyalah Sekaa Gong Mekar Alit Banjar Gulingan desa adat Tegal Darmasaba.

Instrumen Dalam Barungan Baleganjur Semarandana (biasa).

–          1 pasang kendang lanang dan wadon

–          8 pasang ceng-ceng kopyak

–          1 perangkat reong yang terdiri atas 10 nada

–          8 buah suling yang terdiri dari 2 suling kecil dan 6 suling besar

–          1 kajar atau tawe-tawe

–          1 kempli

–          1 pasang gong lanang dan wadon

–          1 buah kempur

–          1 buah bende

Baleganjur semarandana selain dipakai memainkan baleganjur biasa (menggunakan seperti perangkat instrumen diatas), bisanya juga digunakan untuk memainkan tabuh bebarongan. Hanya saja pada Baleganjur Semarandana Bebarongan lebih sedikit menggunakan Instrumen di bandingkang dngang Baleganjur Semarandana biasa.

   Instrumen Dalam Barungan Baleganjur Semarandana (bebarongan)

–          1 kendang

–          8 ceng-ceng kopyak

–          1 perangkat reong yang terdiri atas 10 nada

–          5 buah suling yang terdiri dari 1 suling kecil dan 4 suling besar

–          1 tawe-tawe

–          1 gong lanang

–          1 kemong (lebih…)

Apr 14

Identitas banjar

Posted on Senin, April 14, 2014 in Tak Berkategori

TENTANG BANJAR TAMAN, DESA ADAT TEGAL DARMASABA

20140330_104551[1]Banjar Taman, banjar ini terletak di desa Darmasaba, Abiansemal, Badung. Tepatnya di perbatasan selatan Badung utara dengan Kota Denpasar. Wilayah Banjar Taman adalah wilayah yang paling luas sekitar 3 setengah hektar di antara banjar-banjar yang ada di Desa Darmasaba. Banjar Taman yang saya ketahui sudah 4 kali direnovasi, termasuk tahun ini, dan masih di renovasi seperti pengecatan ulang, mengganti genteng, mengganti plapon-plapon yang rusak, membersihkan sarang laba-laba,  memperbaik  lampu-lampu yang rusak, DLL. Kelihan (Pemimpin)  Banjar Taman yang menjabat sekarang periode 2010 – 2015 ialah sebagai Kelihan Dinas I WAYAN TAMA, dan sebagai Kelihan Adat I MADE SUMERTA. Banjar Taman terdiri dari 2 sekaa yaitu sekaa Tegeh Taman (bagian timur) dan sekaa Tegeh Puseh (bagian barat). Banjar Taman juga memiliki Koprasi Simpan Pinjam yang berdiri sejak tahun 2004, keuntungannya sudah mencapai setiap tahunnya sekitar 350 juta/thn. Dan baru-baru ini Koprasi ini mendapatkan hadiah dari Bank BRI 1 unit sepeda motor. Setiap tahunan koprasi juga sering mengadakan rapat dengan warga banjar, yang sering diselenggarakan pada akhir tahun pada bulan desember. Ada pun sekaa-sekaa yang ada di banjar adalah Sekaa Gong, Sekaa Truna Truni (STT), Sekaa Ternak Babi, POSYANDU,  yang meliputi Sekaa Gong Dewasa, Sekaa Gong Wanita, Sekaa Gong Pemuda, dan Sekaa Gong Anak-Anak yang bernama Sekaa Gong Eka Cita Kusuma. Kegiatan-kegiatan Sekaa Gong seperti Ngayah setiap 4 tahun sekali ( Ngeramiang pada odalan di pura-pura kahyangan tiga desa adat Tegal Darmasaba), megambel di banjar setiap odalan di melanting, pada waktu ultah STT,  ada pun juga sering megambel di rumah orang yang mekarya( upacara dewa yadnya ). Banjar Taman memiliki Gong kebyar sejak Tahun 1991. Ada cerita sedikit tentang Gong ini, pada tahun 1997 Bale Banjar Taman direnovasi, dan Gong pun di pindahkan kerumah kelihan gong yang menjabat pada waktu itu. Pernah suatu malam kelihan gong dicari oleh orang besar hitam pada waktu gong itu masih di titipkan dirumah kelihan gong. Kelihan gong pun tak mengerti apa sebab dia terus di datangi oleh orang besar hitam tersebut.?!. Ternyata setelah di cari tahu itu adalah yang melinggih di gong itu, beliau tidak mengijinkan gong itu ditaruh dirumah, maka dari itulah beliau sering mendatangi kelihan gong tersebut. Gong kebyar ini, dulu baru membeli belum diprada, gong ini diprada dan langsung di perbaiki karena suaranya mulai nek (suara kurang bagus) pada tahun pertengahan 2007 dan Tahun 2013. Terbentuknya sekaa gong dewasa sejak banjar memiliki gong yaitu tahun 1991. Sekaa gong pemuda terbentuk sejak tahun 2000an tepatnya saya kurang tahu. Sekaa gong ini sudah beberapa kali berganti generasi, karena generasi yang terdahulu sudah banyak yang menikah, setelah itu langsung mencari generasi berikutnya. Sekaa gong wanita terbentuk tahun 2013 ini. Terbentuknya sekaa gong wanita ini karena motifasi ibu-ibu PKK yang ingin mengetahui, ingin belajar menggambel katanya biayar tidak  kalah sama bapak-bapaknya, dan juga untuk  mengisi waktu luang untuk menghilangkan beban pikiran. Dan sekaa gong wanita ini baru pernah ngayah 1 kali oktober tahun 2013 lalu. Setelah ngayah tersebut sekaa gong ini sempat fakum karena banyaknya kesibukan yang dimiliki  oleh ibu-ibu, jadi sedikit waktu yang dimiliki ibu-ibu untuk meluangkan waktu latihan. Pada awal tahun 2014 ini sekaa gong wanita mulai aktif lagi mengadakan latihan tepatnya mulai bulan februari hingga sekarang. Sekaa gong anak-anak Banjar Taman dibentuk pada tahun 2005 . Penabuhnya mulai dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Kegiatan yang sering dilakukan adalah setiap 4 tahun sekali mendapat jadwal ngayah menggambel (ngeramiang) tari-tarian di pura-pura yang ada di desa Tegal Darmasaba. Kadang juga mengisi acara pada waktu ulang tahun pemuda di banjar,dan acara-acara lainnya yang sering di adakan di kalangan Banjar Taman. Sekaa Truna Truni (STT) di Banjar Taman  bernama STT. Adnya Putra dan berdiri pada tanggal 1 JUNI 1975 . Pengangkatan anggota STT di muali dari tamat SMP atau baru beranjak umur 16/17 tahun. STT. Adnya Putra mengganti kepemimpinannya/kepengurusan setiap 2 tahun sekali, ada pun yang menjabat pada periode sekarang 2012 – 2014 adalah  PURNA WIBAWA (KETUA), VILAN TARI & BAYU PRASETYA (WAKIL KETUA). Tahun inilah masa jabatan mereka akan berakhir tepatnya 1 juni nanti akan ada acara ulang tahun STT. Adnya Putra dan serah terima jabatan kepada Ketua STT yang baru,tetapi sebelum bulan juni akan di adakan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua baru dimana pemilihan itu wajib diikuti oleh semua anggota STT. Adnya Putra. Sebelum itu, sebagai anggota kami  berhak memilih atau mencalonkan diri sebagai kandidat/calon pengurus. Setelah itu baru mengandakan perundingan bahwa kandidat/calonnya sudah terpilih. Setelah itu baru kami  mengadakan pemilihan dengan cara menggunakan suatu kertas kecil yang bercap STT. Adnya Putra,lalu disanalah masing-masing anggota menulis nama kandidat/calon yang dipilihnya. Barulah pelantikan & pengangakatan anggota baru di adakan. Kegiatan yang sering diadakan oleh STT. Adnya Putra adalah nangkil pada waktu odalan di Pura Batur dan Pura Besakih, mengadakan ulang tahun STT. Adnya Putra, Kadang kami  juga mengadakan Bazzar besar/ Bazzar mini, pada hari raya nyepi kami dari pemuda sering membuat ogoh-ogoh dan baleganjur untuk memeriahkan malam pengerupukan. Ada juga Sekaa Ternak Babi terbentuk pada tahun 2010. Di Banjar Taman juga terdapat POSYANDU (POS PELAYANAN TERPADU) yang sering melayani masyarakat Banjar Taman. Kegiatannya seperti memeriksa kesehatan bayi, menimbang berat badan bayi, memeriksa masyarakat yang sakit, dll. Mata pencaharian masyarakat Banjar Taman ialah sebagian besar berjualan daging babi, daging ayam, dan daging sapi di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Ttadisional Desa Tegal Darmasaba, Pasar Badung, dan masih banyak Pasar-pasar tradisional lainnya. Ada juga pegawai hotel, montir, dll.

Sekian profil tentang Banjar Taman desa adat Tegal Darmasaba, akhir kata Terima Kasih.