TRADISI LAYANGAN DI BALI

  • September 17, 2013 at 11:13 am in

Menginjak bulan Juni, Juli hingga Agustus, langit Bali akan terlihat berbeda. Birunya langit bali akan terasa lebih indah dengan hiasan puluhan bahkan ratusan layangan beraneka jenis yang menari, berlenggak-lenggok mengikuti irama angin. Musim layangan adalah musim yang dinanti-nanti kehadirannya utamanya oleh anak-anak. Musim kemarau yang cerah akan disambut dengan ceria oleh anak-anak Bali dengan menerbangkan layang-layang.

Entah sejak kapan tradisi memainkan layangan dimulai di Bali, tetapi tradisi ini sangat erat kaitannya dengan budaya agraris. Para petani yang berhasil memanen hasil pertaniannya, akan mengisi waktu senggangnya dengan membuat serta bermain layang-layang. Lahan sawah yang lapang setelah dipanen, menjadi arena yang pas untuk menaikkan layangan. Kehadiran layangan di areal persawahan menjadi wujud syukur dan ungkapan suka cita mereka terhadap anugrah panen yang diterima.Dalam kepercayaan masyarakat Bali, bermain layangan adalah memuja kebesaran dewa Siwa sebagai dewa angin. Pengerajin (undagi) layangan sering disebut sebagai Rare Angon (anak kecil pengembala sapi) yang diyakini sebagai anak-anak kesayangan dewa Siwa.

Cukup banyak jenis layangan di Bali. secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu layangan tradisi (trdisional) dan layangan kreasi (modern). Yang termasuk layangan tradisi yaitu bebean, jangan, dan pecukan. Layangan ini banyak mengambil bentuk dari wujud-wujud yang ada di alam. Seperti halnyabebeanberasal dari kata be yang berarti ikan. bentuknya menyerupai ikan, memiliki sirip dan ekor serta ketika mengangkasa meliak-liuk mirip ikan berenang. Sedangkan pecukan, bentuknya sangat sederhana menyerupai daun yang tertiup angin. Jenis yang paling anggun dan spektakuler adalah jenis jangan. bentuknya mengambil binatang mitologi naga. Jenis jangan merupakan pengembangan dari jenis pecukan, yang dilengkapi dengan kepala naga dan ekor yang sangat panjang hingga ratusan meter. Ketiga jenis layangan tradisi tersebut biasanya akan dilengkapi dengan guwangan yaitu instrumen bunyi-bunyian yang dihasilkan dari tiupan angin terhadap pita yang dibentangkan dengan bambu. Perpaduan antara gerak atau tarian layangan dan suara guwanganmenjadi satu gelar pertunjukan yang sangat dinikmati pencinta layangan tradisi di Bali.

Perkembangan layangan di Bali semakin semarak dengan banyaknya ragam jenis layangan kreasi yang terus bermunculan. Jenis ini merupakan jenis baru hasil kreasi pengrajin (undagi) layangan. Bentuk-bentuknya sangat beragam, tidak hanya mengambil rupa burung dan binatang tetapi juga mampu menyerap bentuk dari kondisi dan fenomena yang tengah trend di masyarakat. Seperti mengambil wujud tokoh populer di televisi, (batman, drakula, upin ipin), atau menampilkan kegiatan sehari-hari (orang mengayuh sepeda, wanita menjunjung sesaji, naik pesawat terbang, dsb) yang cenderung berwujud tiga dimensi. Pada layangan kreasi, kreator layangan lebih terfokus pada permasalahan airodinamika dan tema layangan.

Dewasa ini, tradisi memainkan layangan tidak hanya digemari oleh anak-anak kecil, tetapi juga dicintai oleh orang dewasa. Pada musim layangan akan banyak ditemui penyelenggaran festival layangan, dari tingkat desa hingga bertaraf nasional dan internasional. Salah satu festival layangan yang paling tua di Bali adalah yang diselenggarakan oleh Persatuan Layang-layang Indonesia (Pelangi) Bali. festival ini telah berlangsung sejak tahun 1978, dengan mengambil tempat di sisi Barat pantai Padang Galak Denpasar. festival ini melibatkan ribuaan penggemar layangan dari seluruh Bali dan menghadirkan ratusan layangan super jumbo yang berukuran puluhan meter dan jenis jangan yang memiliki panjang ekor hingga ratusan meter. Di sini ditampilkan suatu kerjasama dan kebersamaan tim dalam menaikkan layangan super jumbo yang  membutuhkan tenaga 20 hingga ratusan orang. Semua perbedaan seakan larut diantara debu dan pasir yang berterbangan mengikuti tarian layangan menuju angkasa, untuk menghibur rasa. Layangan sebagai tradisi yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Bali. melestarikan layangan adalah melestarikan dan mengenalkankearifan Bali yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan spiritualitas kepada generasi selanjutnya.

Agus Eka Cahyadi

Citra Bali dan Seni Rupanya

  • September 13, 2013 at 2:41 pm in

Oleh: I W. Agus Eka Cahyadi
Bali pulau kecil, yang memiliki gema besar di dunia. Keindahan alam, keunikan upacara tradisi,
dan keramahan penghuninya dianggap sebagai produk yang laku “dijual”. Sering dipuji dan
diromantiskan sebagai pulau indah dengan penghuni yang cantik dan ganteng yang tetap
melestarikan warisan tradisi leluhur yang indah dan meriah, disanjung sebagai orang-orang
berdarah seni, penghuni surga dunia, dan segudang mitos lainnya yang mengalir melayangkan
benak penghuninya ke awang-awang. Hal yang membuat orang Bali harus merasa beruntung dan
bangga sebagai manusia yang dilahirkan di pulau ini.
Namun dari sudut lain, konon pada jaman kerajaan pulau ini lebih populer sebagai pulau yang
menjual rakyatnya sebagai budak, dan perampok kapal karam. Pada masa „gestok‟ tanah dewata
tercatat mengalami banjir darah yang cukup besar, ratusan ribu manusia Bali dipaksa meregang
nyawa. Tetapi semua itu seakan hilang oleh aroma wangi dupa dan bedak tebal sebuah
pencitraan. Bali adalah semua yang tampak indah, penghuninya hidup bahagia tanpa masalah
seperti yang tergambar dalam berbagai tulisan, foto dan poster yang dibuat untuk promosi
pariwisata. Peran atau campur tangan orang Barat sangat besar menjadikan Bali sepopuler
sekarang. Banyak orang bilang citra Bali adalah hadiah dari orang asing.
I
Bali semakin populer seiring dengan perkembangan pariwisata. Pariwisata Bali merupakan
warisan kolonial yang kemudian jadi kebanggaan. Bali dan pariwisata seakan tidak bisa
dipisahkan. Hidup-mati Bali bergantung pada industri ini. Pariwisata selalu mempertemukan dua
atau lebih kebuadayaan yang berbeda, yang mempunyai perbedaan dalam norma, nilai,
kepercayaan, kebiasaan dan sebagainya yang berdampak adanya akulturasi, asimilasi, adopsi,
adaptasi dan seterusnya yang mengarah pada perubahan kebudayaan. Ramainya kunjungan orang
asing dari berbagai latar budaya, memberi dampak pada dinamika budaya Bali khususnya
kehidupan berkesenian masyarakat.
Sebelum takluk di bawah pemerintahan Belanda, Bali diperintah dengan sistem „feodal‟
kerajaan. Kekuasaan dipegang oleh raja dengan puri sebagai pusat pemerintahan, dan pura
sebagai tempat melangsungkan kegiatan ritual keagamaan. Pusat-pusat kesenian tumbuh di
sekitar lingkungan istana di bawah naungan kekuasaan raja. Kesenian difungsikan untuk
keagamaan (religi) dan untuk memperindah puri (feodal art). Seni lukis yang berkembang
mengambil bentuk wayang serta tema dari kisah Mahabarata, Ramayana, dan cerita rakyat.
Kehidupan kesenian di Bali mengalami perkembangan dengan masuknya pendatang-pendatang
asing. Mereka mendorong berbagai pembaharuan dalam tradisi kesenian di Bali. Di antara
pengunjung itu, terdapat sejumlah seniman dan budayawan asing yang kemudian membawa
dampak langsung tehadap pembaharuan kesenian di Bali. Dua seniman asing, Rudolf Bonnet dan
Walter Spies yang datang ke Ubud pada tahun 1927 dan 1929 menjadi tokoh yang dianggap
paling berjasa terhadap pembaharuan seni rupa di Bali. Bersama dengan raja Ubud Tjok. Gde
Agung Sukawati, mereka mendirikan kumpulan seniman yang diberi nama Pita Maha.
Pita maha menjadi tonggak pembaharuan paradigma berkesenian di Bali. Seni tidak sebatas
berfungsi sosial dan religius, tetapi berkembang juga sebagai sebuah profesi. Di sini pariwisata
hadir sebagai „bapak angkat‟ yang menghidupi seniman dan karyanya. Pita Maha menghadirkan
pembaharuan terhadap teknik dan tema dari tradisi sebelumnya yang cenderung mengambil
objek pewayangan. Kehidupan sehari-hari, petani di sawah, aktivitas di pasar menjadi objek
bidikan seniman. Lingkungan dan tradisi Bali sebagai tempat berkecimpung tercermin kuat
dalam karya-karya Pita Maha. Gairah seniman untuk memperhatikan lingkungannya mulai
terbangun.
Namun dalam perkembangannya, tonggak pembaharuan itu menjadi kaku dan baku sebagai
tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Mungkin dipengaruhi oleh karakter budaya Bali
yang sangat menghargai warisan leluhurnya, maupun faktor pariwisata yang selalu
menghembuskan energi positif dan negatif. Di sini citra sebagai kerajinan, repetitif, atau seni
eksotisme untuk wisatawan begitu kuat menerpa karya seniman-seniman Bali. wacana ini tentu
tersisihkan oleh wacana nasional yang berusaha menghadirkan seni rupa berkarakter perjuangan,
kerakyatan yang menunjukkan sikap heroik perlawanan terhadap kolonial. Sering ditemui jika
perkembangan seni rupa di Bali harus dibaca berbeda dari mainstream wacana nasional.
II
Proklamasi kemerdekaan mengakhiri masa kolonial. Namun kolonial tidak sepenuhnya hilang
dari Indonesia, warisannya tetap hidup dan dinikmati oleh pribumi. Pembelajaran seni secara
akademis pun dapat dinikmati oleh warga bangsa. Berbondong-bondonglah penghuni Bali
merantau ke tanah Bandung dan Yogyakarta.
Di Yogyakarta tahun 1970 lahir Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Dari kumpulan beberapa
mahasiswa seni, kemudian berkembang menjadi sebuah sanggar dengan anggota yang sangat
besar. Sudah puluhan generasi dilahirkan dan ratusan seniman diretaskan. Sekian dasawarsa juga
telah dilalui, namun seakan tidak ada kata berhenti dalam benak orang-orang SDI, layaknya
sumber mata air yang terus mengalir ke bawah memberikan kesegaran dan energi kepada
generasi berikutnya untuk tumbuh dan berkembang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Kegairahan, keterbukaan dan itikad sanggar ini, menjadikan SDI menyandang nama istimewa.
Tapi nama besar biasanya menawarkan beban besar. Berbagai tantangan dan masalah yang
datang dari internal maupun eksternal sanggar tiada henti menerpa eksistensinya. Keterbukaan
dan kebersamaan menjadi kata bijak yang tetap ampuh.
Namun selama ini citra dari SDI terlalu dipersempit dengan menyebutkan beberapa nama dan
seakan digeneralisasi menjadi satu identitas yang kaku. Sebagai komunitas seniman dengan
jumlah anggota yang besar, SDI merupakan kumpulan dari ego-ego dan individu-individu yang
merdeka, yang memiliki kecendrungan kreativitas yang berbeda-beda. Progresifitas dan gelora
kreativitas telah tertanam di setiap benak anggotanya.
Sekian masa dan jaman telah berlalu, banyak hal sudah berubah, peta lama telah usang, sudah
sepatutnya SDI memungut, mengumpulkan dan menyatukan kembali mozaik-mozaik yang
berserakan menjadi kekayaan untuk kembali mewarnai jagat seni rupa ini. Bahwa kecendrungan
atau pergerakan terkini yang tengah terjadi dalam tubuh Sanggar belum terbaca dengan jelas
untuk kemudian bisa menjadi pencitraan baru. Apakah SDI masih sebatas abstrak-ekspresionis,
romantis-eksotisme, atau apolitis yang selama dicitrakan orang, tentu hal itu akan dijawab
melalui karya-karya pada pameran ini.
Pada kesempatan kali ini, SDI berusaha menunjukkan kembali eksistensi di tanah leluhurnya.
Melalui suatu pergelaran pameran lintas generasi, mereka mencoba menghadirkan ruang yang
sangat luas untuk digores, diisi dengan ungkapan pendapat, keluh kesah ataupun sikap sebagai
orang Bali terhadap kondisi terkini tempatnya berpijak.Dari jaman kolonial, Bali sudah banyak
dibaca, dikisahkan, ditulis dari sudut pandang orang asing, maka sangat dibutuhkan pandangan
dari penghuninya sendiri yang sepatutnya lebih mengenal tanah kelahirannya.
Karya seni merupakan bunga-bunga pencapaian dari suatu jaman. Citra atau makna suatu karya
seni sangat ditentukan oleh konteks ruang dan waktu serta dipengaruhi oleh cara pandang si
pengamat. Seniman dan karya seninya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan. Sebagai manusia
yang dianugrahi sensibilitas tinggi, seniman lewat karyanya akan mampu menyerap, menyimpan
debu dan aroma jaman.

 

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!

Top