BIOGRAFI SENIMAN Pande Ketut Cakri

This post was written by ekaariana on November 7, 2012
Posted Under: Tak Berkategori

Bapak Pande Ketut Cakri merupakan tokoh seniman yang menggeluti bidang karawitan, dimana beliau merupakan pakar atau ahli dalam bidang karawitan. Beliau lahir pada tanggal 1 Desember 1954 yang bertempat di Desa Tamanbali, Bangli. Menginjak ke masa pendidikan, Beliau menuntut pendidikan dasar di SD Negeri 2 Tamanbali selama 6 tahun dari tahun 1961-1967. Setelah tamat dari jenjang pendidikan dasar, beliau melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah ke SMP Negeri 1 Bangli selama 3 tahun dari tahun 1967-1970. Pada saat itu Beliau sangat menggemari seni khusnya karawitan. Setelah tamat dari jenjang pendidikan menengah, kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya ke SMEA Bangli atau sekarang sekolah tersebut sudah di sah kan menjadi SMK Negeri 1 Bangli, dimana pada saat itu Beliau menggambil jurusan ekonomi/bagian hitung menghitung, beliau bersokolah disini, karena adanya tuntutan dari pihak keluarga untuk bersekolah di sekolah ini pada tahun 1970 an. Karena merasa tidak diminati dibidang ini, Beliau hanya menuntut pendidikan di sekolah ini selama 2 kuartal (8 bulan). Kemudian Beliau pindah ke SPMA Saraswati, Gianyar pada tahun 1971. Beliau menuntut pendidikan disini selama 3 kurtal saja (12 bulan/1 tahun) yang menjelang kenaikan kelas, karena Beliau merasa kurang menggeluti di bidang otomotif. Beliau bersekolah disini karena adanya faktor dorongan dari orang tua juga, padahal sebelum melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Beliau sudah bercita-cita untuk bisa bersekolah di KOKAR yang bertempat di Jln. Ratna, Denpasar atau sekarang sudah dikenal dengan SMK Negeri 5 Denpasar. Pada saat itu kedua orang tua Beliau tidak mengijinkan anaknya untuk untuk bersekolah di KOKAR. Karena adanya niat dan kemauan yang bersikeras supaya bisa bersekolah di KOKAR, akhirnya orang tua Beliau mengizinjankan untuk bersekolah disini pada tahun 1973-1975.
Beliau hidup dengan sederhananya, dimana Beliau hanya dibekali beras, dan lauk yang hanya bisa di makan beberapa hari saja. Dalam aktifitasnya atau dalam sebuah pegelaran disekolah maupun diluar sekolah, Beliau terkenal sebagai pemain instrument riyong yang handal. Teman-teman Beliau sangat kagum dengan kemampuan yang beliau miliki. Hasil dari pegelaran yang Beliau lakukan bisa untuk mencukupi hidup kesehariannya tanpa dibekali uang dari orang tuanya. Dari sivitasnya Beliau yang masih duduk di bangku kelas II, Beliau pernah mengajar dari satu desa ke desa lainnya, seperti di Desa Puluk-puluk, Penebel, Tabanan. Disana Beliau pernah mengajarkan sebuah tabuh iringan tari bersama Bapak I Wayan Surka yang dimana Bapak I Wayan Surka sebagai Pembina tarinya. Beliau juga pernah mengajar di Desa Kerobokan, Kecamatan Busung Biyu, Kabupaten Buleleng, dimana beliau mengajarkan atau menuangkan lagu seperti : Kosala Arini, Palguna Warsa (Ujan Teduh), dan tidak halnya juga Beliau mengajar di desa sendiri Beliau juga aktif untuk melakukan pelatihan terhadap pemuda maupun orang tua disini di desanya sendiri. Beliau pernah menuangkan lagu/gending bersama Bapak I Wayan Rai S., seperti gending KOKAR JAYA, Muni Dwara Murti Candra.
Setelah tamat dari KOKAR,Beliau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, karena faktor ekonomi yang kurang mendukung, jadi Beliau setelah tamat langsung melamar pekerjaan di sebuah penginapan di Toya Bungkah yang bernama Penginapan Takdir Alisabana sampai tahun 1977. Karena adanya lowongan pekerjaan di tempat lain yang Beliau rasa lebih bagus, akhirnya Beliau pindah ke tempat pekerjaan yang baru, dimana bertempat di Sasana Budaya, Bangli dari tahun 1977-1978. Kemudian, karena kurangnya pengajar seni di SMP Negeri 1 Bangli sekolah Beliau dulu, Beliau di tarik atau diangkat menjadi guru atau pengajar seni di sekolah ini pada tahun 1978 sampai sekarang.
Pada tanggal 19 April 1979 Beliau melangsungkan pernikahan dengan Pande Nyoman Oka yang dimana masih ada hubungan keluarga dengan Beliau (soroh Pande). Dari perkawinan ini, Beliau di karuniai empat oarng anak. Dimana dalam kesehariannya sebagai seorang kepala keluarga sekaligus sebagai seorang seniman, Beliau juga berprofesi sebagai juri dalam ajang perlombaan seni pada saat itu dan masih sampai sekarang.
Beberapa pengalaman Beliau sebagai seorang pengrawit, antara lain :
Tahun 1982 Beliau berpartisipasi sebagai peserta dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) wakil Kabupaten Bangli.
Tahun 1983 Beliau sebagai Pembina festival tabuh drama Kabupaten Bangli.
Tahun 1984 Beliau sebagai Pembina festival gong kebyar remaja Kabupaten Bangli.
Tahun 1985 Beliau sebagai Pembina festival gong kebyar remaja dan wanita wakil PGHN Kabupaten Bangli, dimana pada saat itu festival gong kebyar wanita Bangli mendapatkan juara 1 Tahun 2007 mewakili festival tari tradisional Bali judul “Kang Cing Wie” yang mendapat juara 2.
Dan masih banyak lagi pangalaman Beliau yang sudah tidak ingat untuk Beliau paparkan kembali.
Eksistensi Beliau sebagai seoarang pembina masih sampai sekarang, dimana Beliau merupakan seorang seniman yang sangat dihormati, karena Beliau merupakan salah satu seoarang tokoh seniman yang membawa atau mengajegkan seni khususnya di Kabupaten Bangli. Dewasa ini Beliau sedang menekuni gamelan slonding, gender wayang, dan angklung yaitu bertujuan untuk upacara yadnya atau istilah Balinya ngayah. Karena menurut Beliau, sebagai seorang seniman setidaknya bisa ngaturang ayah kepada Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, supaya kita sebagai seorang seniman dikaruniai keselamatan, kedamain hati, dan ketenangan lahir bathin.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address