GAMELAN GAMBUH

This post was written by ekaadisaputra on Mei 14, 2012
Posted Under: Tak Berkategori

GAMBELAN GAMBUH

Gambelan gambuh telah ada di bali pada tahun 929 Saka atau tahun 1007 masehi. Dikatakannya sejarah tentang gambelan gambuh ini adalah sebagai pengiring tarian gambuh dimana disebutkan Gambuh telah ada di Bali pada permulaan abad ke-11 tepatnya pada tahun 1007 masehi, pada masa pemerintahan Sri Udayana beserta permaisurinya Sri Gunapriya Dharmapatni di Bali.

Gamelan yang dalam lontar Aji Gurnita disebut sebagai gamelan Melad perana, adalah gamelan pengiring dramatari Gambuh. Gamelan Penggambuhan termasuk barungan madya dan hingga kini dianggap sebagai salah satu sumber terpenting dari semua bentuk seni tabuh yang muncul di Bali setelah abad XV. Gending-gending Gambuh yang melodis dan ritmis merupakan tabuh-tabuh yang bernafaskan tari dari pada hanya bersifat tabuh instrumental.

Tabuh Penggambuhan pada umumnya berkesan formal, karena adanya berbagai aturan yang membedakan satu jenis lagu dengan yang lainnya, dan adanya patet yang mengatur susunan nada-nada. Karena gending-gending Gambuh adalah terkait dengan tarian, maka kebanyakan komposisi lagunya mengikuti pola tari yang diiringi. Gending-gending Gambuh disesuaikan dengan tarian yang mengiringi, setiap jenis tarian mempunyai gending, melodi dan patet tersendiri sesuai dengan perwatakannya.

Di samping secara tidak langsung dalam
sebuah pertunjukan difungsikan sebagai instrumental (tabuh petegak) sebelum pertunjukan
dimulai. Secara umum instrumentasi Gamelan Gambuh Batuan hampir sama dengan
instrument Gambuh pada umumnya, yaitu: Suling Gambuh, Kendang Krumpungan, Rebab,
Kajar Krentengan, Ceng-ceng Ricik, Klenang, Gumanak, Gentorag, Kenyir dan Kempul.

Suling dan rebab adalah instrumen penting dalam Penggambuhan yang merupakan instrumen pemimpin dan pemangku melodi. Gamelan Penggambuhan berlaras pelog, tepatnya Pelog Saih Pitu (tujuh nada).

Tabuh-tabuh yang dimainkan memakai 5 patetan/ tetakep, yaitu:
Selisir, Baro, Tembang, Sunaren, Lebeng.

Di antara tabuh-tabuh yang berupa tabuh Pategak (tabuh yang bukan pengiring tari) dan tabuh Paigelan (tabuh pengiring tari atau drama) yang terdiri dari:
Batel, Bapang, Tabuh telu, dan lain – lainnya.

gambelan Gambuh yang juga ada kaitannnya dengan dramatari gambuh, ternyata gambelan gambuh termasuk golongan gambelan madya yang lebih muda dari gambang, saron, selonding kayu, gong besi, gong luang, selonding besi, angklung klentangan, dan gender wayang. Tetapi Gambelan dramatari Gambuh lebih tua dari gambelan Arja, gong kebyar, gambelan jangger, angkung bilah 7, gambelan joged bumbung, gong suling.

1. Suling Gambuh

Suling merupakan sebuah instrument dalam karawitan Bali, suling berasal dari dua
suku kata yaitu su yang dalam bahasa Bali berarti baik (luwih) dan ling yang berarti tangis
atau suara (dalam bahasa Kawi), jadi suling dapat diartikan suara tangisan yang baik. Suling
Gambuh merupakan ciri dari pada Gamelan Pegambuhan karena suling yang dipergunakan
merupakan ukuran paling besar dan panjang dalam karawitan Bali. Suling ini memiliki
panjang 100 cm dan diameter 3cm, ukuran pembuatan Suling Gambuh disebut dengan sikut
kutus, yang artinya panjang suling terdiri dari delapan kali lingkaran badan bambu.
Suling Gambuh dimainkan dengan cara yang sama seperti suling pada umumnya,
yaitu menggunakan sistem tiupan tanpa terputus-putus (ngunyal angkihan). Tetapi yang
membedakan di sini adalah teknik tutupan, pada waktu memainkan Suling Gambuh teknik
tutupan pada enam buah lubang suling menggunakan ibu jari, telunjuk dan jari tengah
(tangan kanan atau kiri). Hal tersebut dikarenakan jarak lubang suling satu dan berikutnya
cukup jauh, yang tidak memungkinkan menutup lubang suling tersebut menggunakan
telunjuk, jari tengah dan jari manis, seperti teknik penutupan suling pada umumnya.
Gamelan Gambuh di Desa Batuan mempergunakan empat buah instrumen suling
yang memiliki fungsi sebagai pembawa melodi (menggarap Gending) dalam suatu
pertunjukan, baik bersifat instrumental maupun iringan tari. Suling ini dimainkan secara
bersama-sama di dalam memainkan sebuah lagu (gending), hanya pada bagian lagu tertentu
suling dimainkan secara tunggal seperti mengawali sebuah lagu (kawitan gending). Jika
ditinjau dari segi estetika suling dapat mendukung berbagai adegan yang diperankan, seperti
adegan keras, sedih, gembira dan sebagainya, yang dapat mendukung suasana dengan melodi
gending dan patet yang dipergunakan.

2. Kendang Krumpungan

Kendang adalah sebuah instrumen pada karawitan Bali, kendang merupakan
instrument yang tergolong jenis membranophone atau sumber suara yang dihasilkan berasal
dari membrane (selaput kulit). Istilah atau nama kendang sering dikaitkan dengan nama
sebuah barungan gamelan yang menyatakan bagian tungguhan dari barungan tersebut,
seperti: Kendang Pegambuhan, Kendang Pengarjan, Kendang Pelegongan dan yang lainnya.
Meskipun kendang tersebut memiliki nama tersendiri yang sering disebut dengan Kendang
Krumpungan.
Secara umum di Bali kendang berfungsi sebagai pamangku atau pamurba irama.
Gamelan Pegambuhan di Desa Batuan menggunakan sepasang kendang Pegambuhan
(krumpungan) yang dimainkan berpasangan yaitu lanang dan wadon. Apabila melihat fungsi
kendang dalam barungan tersebut, tidak jauh berbeda dengan fungsi kendang secara umum.
Pada barungan tersebut kendang difungsikan sebagai pamurba irama dalam suatu gending
yang dimainkan, seperti aksen transisi (nyalit), aksen angsel, dan aksen untuk mengawali dan
mengakhiri suatu lagu. Kendang ini memiliki pola-pola permainan yang klasik menyesuaikan
dengan pola tari yang diiringinya.

3. Rebab

Instrument rebab adalah satu-satunya instrument gesek yang terdapat pada karawitan
Bali, instrument ini biasanya terdapat pada barungan Semar Pagulingan Saih Pitu, Semar
Pagulingan Saih Lima, Gamelan Pegambuhan, Gong Suling dan Gong Kebyar. Rebab pada
umumnya hanya sebagai pelengkap dalam gamelan tersebut, yang berfungsi sebagai penghias
atau pemanis suatu lagu dengan mempergunakan cengkok serta wilet untuk
memvariasikannya,
Pada Gamelan Gambuh di Desa Batuan mempergunakan satu instrument rebab,
yang berfungsi sebagai penghias suatu melodi, di samping rebab juga berfungsi memegang
melodi pokok dengan empat buah suling lainnya.

4. Kajar

Kajar merupkan instrument yang memeliki peran cukup penting pada Gamelan Bali.
Hampir semua jenis barungan gamelan terdapat instrument kajar, seperti pada jenis gamelan
yang tergolong barungan menengah dan barungan besar. Dilihat dari bentuknya kajar di Bali
terdiri dari dua bentuk, yaitu kajar krentengan (memakai ideng) adalah kajar yang penconnya
tidak menonjol ke luar melainkan penconnya sejajar dengan muka kajar atau di sebut dengan
moncon padah. Kajar ini biasanya terdapat pada Gamelan Pegambuhan, Gamelan Semar
Pagulingan, Gamelan Palegongan dan Gamelan Geguntangan. Kajar yang menconnya keluar
(tidak menggunakan ideng) adalah kajar yang terdapat pada barungan Gong Kebyar, Gong
Suling, Angklung Kebyar, Semarandhana dan yang lainya.
Bila dilihat fungsinya secara umum kajar dalam karawitan Bali berfungsi sebagai
pemegang tempo serta irama dalam suatu gending. Akan tetapi kajar krentengan juga
berfungsi untuk memperjelas motif-motif kendang krumpungan yang dimainkan. Untuk
mewujudkan bunyi kendang lanang tung (hasil tabuhan tangan kanan) tungguhan kajar
dipukul bada bagian penconnya, sedangkan untuk mewujudkan bunyi kendang wadon dah
atau deng (hasil tabuhan tangan kanan) kajar dipukul pada bagian tangkar. Kajar pada
Gamelan Gambuh juga berfungsi sebagai tanda pada paletan lagu (gatra) yang berukuran
panjang, yang dimainkan dengan istilah neruktuk.
Pada barungan Pegambuhan yang terdapat di Desa Batuan mempergunakan kajar
krentengan dengan teknik memainkan sama seperti di atas, mengikuti pola permainnan
kendang krumpungan. Sesekali juga memakai tempo yang tetap pada waktu gending-gending
batel (perang). Menurut I Gusti Ngurah Widiantara, seorang pemain kajar harus mengetahui
teknik-teknik permainan kendang, karena pola permainan kajar banyak mengikuti motif-
motif permainan kendang.

5. Ceng-Ceng Ricik

Dalam karawitan Bali terdapat tiga jenis ceng-ceng yaitu: ceng-ceng kopyak, ceng-
ceng kecek dan ceng-ceng ricik. Ceng-ceng kopyak adalah ceng-ceng yang dipergunakan
untuk memainkan gending-gending Balaganjur dan gending lelambatan, pada Gong Gede
maupun pada Gong Kebyar. Ceng-ceng ini paling besar dengan diameter 25cm, apabila
memainkannya harus satu cakep/pasang (terdiri dari dua buah ceng-ceng). Ceng-ceng kecek
adalah ceng-ceng yang terdapat dalam barungan Gong Kebyar. Bagian alas terdiri dari 5 buah
ceng-ceng dan pada bagian atas terdiri dari dua buah ceng-ceng yang dipergunakan untuk
memukul ceng-ceng bagian bawah pada saat memainkannya. Ceng-ceng ricik adalah ceng-
ceng yang bentuknya hampir sama dengan ceng-ceng kecek hanya saja bentuknya lebih kecil.
Ceng-ceng ricik biasanya terdapat pada barungan Pegambuhan, Semar Pagulingan,
Palegongan, Geguntangan, Bebarongan dan yang lainnya.
Barungan Pegambuhan yang ada di Batuan memakai ceng-ceng ricik yang berfungsi
memberikan kesan ritmis dalam suatu lagu (gending), serta memperjelas aksen-aksen
kendang pada waktu melodi batel (angsel mesiat). Ceng-ceng ricik ditempatkan di atas
pelawah yang berbentuk bedawang (penyu) yang dihiasi dengan warna prada.

6. Klenang

Klenang merupakan instrument pencon dalam karawitan Bali, klenang bentuknya
seperti reong, klenang biasanya diletakan pada pelawah ataupun tidak menggunakan
pelawah, seperti klenang pada Gamelan Gambuh Batuan. Klenang dimainkan oleh satu
orang penabuh.
Nada instrument klenang adalah nada ndang (1),tetapi memiliki suara yang tinggi
(kecil). Klenang biasanya terdapat pada Gamelan Semar Pagulingan Saih lima, Semar
Pagulingan Saih Pitu, Pelegongan, Bebarongan, Angklung, Geguntangan, Gong Suling, serta
Pegambuhan. Tabuhan klenang dimainkan pada sela-sela tabuhan kajar atau terdapat pada
hitungan ( sabetan) ganjil.

7. Gumanak

Gumanak adalah satu buah instrument yang berbentuk tabung yang terbuat oleh
prunggu. Gumanak memiliki panjang 15 cm dengan diameter 2 cm, terdapat sebuah lubang
yang memanjang di tengah yang merupakan resonator. Gumanak ini dimainkan dengan cara
dipukul menggunakan besi sebesar lidi. Gumanak merupakan satu-satunya instrument yang
cukup unik dan hanya terdapat dalam barungan Pegambuhan. Tidak ada pola yang baku
dalam menabuh Gumanak, memainkannya dilakukan dengan bebas asalkan dapat
menimbulkan jalinan dalam permainan tersebut.
Pada Gamelan Pegambuhan yang terdapat di Desa Batuan terdapat instrument
Gumanak yang berjumlah sepasang (dua buah), yang diletakan pada sebuah pelawah yang
dihiasi dengan ukiran yang diberi warna (prada). Instrument Gumanak diletakan kanan dan
kiri secara horisontal, serta dipukul dari atas mengunakan dua batang besi panjang dengan
kedua tangan.

8. Gentorag

Gentorag adalah instrument yang menyerupai pohon genta, gentorag ini terdiri dari
genta kecil yang jumlah keseluruhannya sekitar 28-35 genta kecil yang di susun menjadi tiga
tingkatan. Paling bawah merupakan lingkaran paling besar dengan jumlah genta kecil yang
paling banyak, lingkaran paling tengah lebih kecil serta dengan jumlah lebih sedikit dari
jumlah yang pertama, dan lingkaran yang paling atas merupakan lingkaran yang paling kecil
dengan jumlah daun genta yang paling sedikit. Pada bagian tengah terdapat sebuah kayu yang
berfungsi sebagai pegangan dan mengunci ketiga lingkaran yang di pakai menggantungkan
daun genta kecil.
Pada Gamelan Gambuh yang terdapat di Desa Batuan mempergunakan satu buah
instrument Gentorag. Instrumen tersebut dimainkan dengan cara digoyang sesuai dengan
irama yang dimainkan, biasanya bersamaan dengan jatuhnya pukulan kempul dan di sela-sela
jatuhnya pukulan kempul. Gentorag dapat memberikan aksen ritmis di setiap melodi final.
Selain pada Gamelan Pegambuhan instrument gentorag juga terdapat pada Gamelan Semar
Pagulingan saih lima dan saih pitu, Pelegongan dan Bebarongan.

9. Kenyir

Kenyir kerupakan suatu tungguhan yang terdapat dalam barungan Pegambuhan.
Kenyir berbentuk bilah yang terdiri dari tiga atau dua bilah yang memiliki nada yang sama.
Kenyir merupakan instrument yang tergolong pada metallophone. Kedua bilah ini diletakan
di atas lubang resonator, yang berada pada bagian atas pelawah, serta di kunci dengan besi
yang berada pada lubang gegorok masing-masing bilah. Pada Gamelan Bali di kenal dengan
istilah mepacek. Pelawah tersebut dihiasi dengan ukiran (dengan motif kakul-kakulan dan
gigin barong) dan warna merah dan coklat tua dipadukan dengan perada. Kenyir dimainkan
dengan cara dipukul menggunakan alat pukul (panggul) yang bercabang dua. Pola permainan
kenyir dalam barungan Pegambuhan adalah secara alternating dengan dua/satu kali pukulan.

10. Kempul

Pada Gamelan Gambuh menggunakan satu buah instrument kempul yang
difungsikan sebagai gong. Instrumen kempul dimainkan oleh satu orang penabuh, dengan
menggunakan panggul kempul. Jatuhnya pukulan kempul merupakan sebuah tanda
berakhirnya sebuah melodi atau gending yang dimainkanGAMBELAN GAMBUH

Gambelan gambuh telah ada di bali pada tahun 929 Saka atau tahun 1007 masehi. Dikatakannya sejarah tentang gambelan gambuh ini adalah sebagai pengiring tarian gambuh dimana disebutkan Gambuh telah ada di Bali pada permulaan abad ke-11 tepatnya pada tahun 1007 masehi, pada masa pemerintahan Sri Udayana beserta permaisurinya Sri Gunapriya Dharmapatni di Bali.

Gamelan yang dalam lontar Aji Gurnita disebut sebagai gamelan Melad perana, adalah gamelan pengiring dramatari Gambuh. Gamelan Penggambuhan termasuk barungan madya dan hingga kini dianggap sebagai salah satu sumber terpenting dari semua bentuk seni tabuh yang muncul di Bali setelah abad XV. Gending-gending Gambuh yang melodis dan ritmis merupakan tabuh-tabuh yang bernafaskan tari dari pada hanya bersifat tabuh instrumental.

Tabuh Penggambuhan pada umumnya berkesan formal, karena adanya berbagai aturan yang membedakan satu jenis lagu dengan yang lainnya, dan adanya patet yang mengatur susunan nada-nada. Karena gending-gending Gambuh adalah terkait dengan tarian, maka kebanyakan komposisi lagunya mengikuti pola tari yang diiringi. Gending-gending Gambuh disesuaikan dengan tarian yang mengiringi, setiap jenis tarian mempunyai gending, melodi dan patet tersendiri sesuai dengan perwatakannya.

Di samping secara tidak langsung dalam
sebuah pertunjukan difungsikan sebagai instrumental (tabuh petegak) sebelum pertunjukan
dimulai. Secara umum instrumentasi Gamelan Gambuh Batuan hampir sama dengan
instrument Gambuh pada umumnya, yaitu: Suling Gambuh, Kendang Krumpungan, Rebab,
Kajar Krentengan, Ceng-ceng Ricik, Klenang, Gumanak, Gentorag, Kenyir dan Kempul.

Suling dan rebab adalah instrumen penting dalam Penggambuhan yang merupakan instrumen pemimpin dan pemangku melodi. Gamelan Penggambuhan berlaras pelog, tepatnya Pelog Saih Pitu (tujuh nada).

Tabuh-tabuh yang dimainkan memakai 5 patetan/ tetakep, yaitu:
Selisir, Baro, Tembang, Sunaren, Lebeng.

Di antara tabuh-tabuh yang berupa tabuh Pategak (tabuh yang bukan pengiring tari) dan tabuh Paigelan (tabuh pengiring tari atau drama) yang terdiri dari:
Batel, Bapang, Tabuh telu, dan lain – lainnya.

gambelan Gambuh yang juga ada kaitannnya dengan dramatari gambuh, ternyata gambelan gambuh termasuk golongan gambelan madya yang lebih muda dari gambang, saron, selonding kayu, gong besi, gong luang, selonding besi, angklung klentangan, dan gender wayang. Tetapi Gambelan dramatari Gambuh lebih tua dari gambelan Arja, gong kebyar, gambelan jangger, angkung bilah 7, gambelan joged bumbung, gong suling.

1. Suling Gambuh

Suling merupakan sebuah instrument dalam karawitan Bali, suling berasal dari dua
suku kata yaitu su yang dalam bahasa Bali berarti baik (luwih) dan ling yang berarti tangis
atau suara (dalam bahasa Kawi), jadi suling dapat diartikan suara tangisan yang baik. Suling
Gambuh merupakan ciri dari pada Gamelan Pegambuhan karena suling yang dipergunakan
merupakan ukuran paling besar dan panjang dalam karawitan Bali. Suling ini memiliki
panjang 100 cm dan diameter 3cm, ukuran pembuatan Suling Gambuh disebut dengan sikut
kutus, yang artinya panjang suling terdiri dari delapan kali lingkaran badan bambu.
Suling Gambuh dimainkan dengan cara yang sama seperti suling pada umumnya,
yaitu menggunakan sistem tiupan tanpa terputus-putus (ngunyal angkihan). Tetapi yang
membedakan di sini adalah teknik tutupan, pada waktu memainkan Suling Gambuh teknik
tutupan pada enam buah lubang suling menggunakan ibu jari, telunjuk dan jari tengah
(tangan kanan atau kiri). Hal tersebut dikarenakan jarak lubang suling satu dan berikutnya
cukup jauh, yang tidak memungkinkan menutup lubang suling tersebut menggunakan
telunjuk, jari tengah dan jari manis, seperti teknik penutupan suling pada umumnya.
Gamelan Gambuh di Desa Batuan mempergunakan empat buah instrumen suling
yang memiliki fungsi sebagai pembawa melodi (menggarap Gending) dalam suatu
pertunjukan, baik bersifat instrumental maupun iringan tari. Suling ini dimainkan secara
bersama-sama di dalam memainkan sebuah lagu (gending), hanya pada bagian lagu tertentu
suling dimainkan secara tunggal seperti mengawali sebuah lagu (kawitan gending). Jika
ditinjau dari segi estetika suling dapat mendukung berbagai adegan yang diperankan, seperti
adegan keras, sedih, gembira dan sebagainya, yang dapat mendukung suasana dengan melodi
gending dan patet yang dipergunakan.

2. Kendang Krumpungan

Kendang adalah sebuah instrumen pada karawitan Bali, kendang merupakan
instrument yang tergolong jenis membranophone atau sumber suara yang dihasilkan berasal
dari membrane (selaput kulit). Istilah atau nama kendang sering dikaitkan dengan nama
sebuah barungan gamelan yang menyatakan bagian tungguhan dari barungan tersebut,
seperti: Kendang Pegambuhan, Kendang Pengarjan, Kendang Pelegongan dan yang lainnya.
Meskipun kendang tersebut memiliki nama tersendiri yang sering disebut dengan Kendang
Krumpungan.
Secara umum di Bali kendang berfungsi sebagai pamangku atau pamurba irama.
Gamelan Pegambuhan di Desa Batuan menggunakan sepasang kendang Pegambuhan
(krumpungan) yang dimainkan berpasangan yaitu lanang dan wadon. Apabila melihat fungsi
kendang dalam barungan tersebut, tidak jauh berbeda dengan fungsi kendang secara umum.
Pada barungan tersebut kendang difungsikan sebagai pamurba irama dalam suatu gending
yang dimainkan, seperti aksen transisi (nyalit), aksen angsel, dan aksen untuk mengawali dan
mengakhiri suatu lagu. Kendang ini memiliki pola-pola permainan yang klasik menyesuaikan
dengan pola tari yang diiringinya.

3. Rebab

Instrument rebab adalah satu-satunya instrument gesek yang terdapat pada karawitan
Bali, instrument ini biasanya terdapat pada barungan Semar Pagulingan Saih Pitu, Semar
Pagulingan Saih Lima, Gamelan Pegambuhan, Gong Suling dan Gong Kebyar. Rebab pada
umumnya hanya sebagai pelengkap dalam gamelan tersebut, yang berfungsi sebagai penghias
atau pemanis suatu lagu dengan mempergunakan cengkok serta wilet untuk
memvariasikannya,
Pada Gamelan Gambuh di Desa Batuan mempergunakan satu instrument rebab,
yang berfungsi sebagai penghias suatu melodi, di samping rebab juga berfungsi memegang
melodi pokok dengan empat buah suling lainnya.

4. Kajar

Kajar merupkan instrument yang memeliki peran cukup penting pada Gamelan Bali.
Hampir semua jenis barungan gamelan terdapat instrument kajar, seperti pada jenis gamelan
yang tergolong barungan menengah dan barungan besar. Dilihat dari bentuknya kajar di Bali
terdiri dari dua bentuk, yaitu kajar krentengan (memakai ideng) adalah kajar yang penconnya
tidak menonjol ke luar melainkan penconnya sejajar dengan muka kajar atau di sebut dengan
moncon padah. Kajar ini biasanya terdapat pada Gamelan Pegambuhan, Gamelan Semar
Pagulingan, Gamelan Palegongan dan Gamelan Geguntangan. Kajar yang menconnya keluar
(tidak menggunakan ideng) adalah kajar yang terdapat pada barungan Gong Kebyar, Gong
Suling, Angklung Kebyar, Semarandhana dan yang lainya.
Bila dilihat fungsinya secara umum kajar dalam karawitan Bali berfungsi sebagai
pemegang tempo serta irama dalam suatu gending. Akan tetapi kajar krentengan juga
berfungsi untuk memperjelas motif-motif kendang krumpungan yang dimainkan. Untuk
mewujudkan bunyi kendang lanang tung (hasil tabuhan tangan kanan) tungguhan kajar
dipukul bada bagian penconnya, sedangkan untuk mewujudkan bunyi kendang wadon dah
atau deng (hasil tabuhan tangan kanan) kajar dipukul pada bagian tangkar. Kajar pada
Gamelan Gambuh juga berfungsi sebagai tanda pada paletan lagu (gatra) yang berukuran
panjang, yang dimainkan dengan istilah neruktuk.
Pada barungan Pegambuhan yang terdapat di Desa Batuan mempergunakan kajar
krentengan dengan teknik memainkan sama seperti di atas, mengikuti pola permainnan
kendang krumpungan. Sesekali juga memakai tempo yang tetap pada waktu gending-gending
batel (perang). Menurut I Gusti Ngurah Widiantara, seorang pemain kajar harus mengetahui
teknik-teknik permainan kendang, karena pola permainan kajar banyak mengikuti motif-
motif permainan kendang.

5. Ceng-Ceng Ricik

Dalam karawitan Bali terdapat tiga jenis ceng-ceng yaitu: ceng-ceng kopyak, ceng-
ceng kecek dan ceng-ceng ricik. Ceng-ceng kopyak adalah ceng-ceng yang dipergunakan
untuk memainkan gending-gending Balaganjur dan gending lelambatan, pada Gong Gede
maupun pada Gong Kebyar. Ceng-ceng ini paling besar dengan diameter 25cm, apabila
memainkannya harus satu cakep/pasang (terdiri dari dua buah ceng-ceng). Ceng-ceng kecek
adalah ceng-ceng yang terdapat dalam barungan Gong Kebyar. Bagian alas terdiri dari 5 buah
ceng-ceng dan pada bagian atas terdiri dari dua buah ceng-ceng yang dipergunakan untuk
memukul ceng-ceng bagian bawah pada saat memainkannya. Ceng-ceng ricik adalah ceng-
ceng yang bentuknya hampir sama dengan ceng-ceng kecek hanya saja bentuknya lebih kecil.
Ceng-ceng ricik biasanya terdapat pada barungan Pegambuhan, Semar Pagulingan,
Palegongan, Geguntangan, Bebarongan dan yang lainnya.
Barungan Pegambuhan yang ada di Batuan memakai ceng-ceng ricik yang berfungsi
memberikan kesan ritmis dalam suatu lagu (gending), serta memperjelas aksen-aksen
kendang pada waktu melodi batel (angsel mesiat). Ceng-ceng ricik ditempatkan di atas
pelawah yang berbentuk bedawang (penyu) yang dihiasi dengan warna prada.

6. Klenang

Klenang merupakan instrument pencon dalam karawitan Bali, klenang bentuknya
seperti reong, klenang biasanya diletakan pada pelawah ataupun tidak menggunakan
pelawah, seperti klenang pada Gamelan Gambuh Batuan. Klenang dimainkan oleh satu
orang penabuh.
Nada instrument klenang adalah nada ndang (1),tetapi memiliki suara yang tinggi
(kecil). Klenang biasanya terdapat pada Gamelan Semar Pagulingan Saih lima, Semar
Pagulingan Saih Pitu, Pelegongan, Bebarongan, Angklung, Geguntangan, Gong Suling, serta
Pegambuhan. Tabuhan klenang dimainkan pada sela-sela tabuhan kajar atau terdapat pada
hitungan ( sabetan) ganjil.

7. Gumanak

Gumanak adalah satu buah instrument yang berbentuk tabung yang terbuat oleh
prunggu. Gumanak memiliki panjang 15 cm dengan diameter 2 cm, terdapat sebuah lubang
yang memanjang di tengah yang merupakan resonator. Gumanak ini dimainkan dengan cara
dipukul menggunakan besi sebesar lidi. Gumanak merupakan satu-satunya instrument yang
cukup unik dan hanya terdapat dalam barungan Pegambuhan. Tidak ada pola yang baku
dalam menabuh Gumanak, memainkannya dilakukan dengan bebas asalkan dapat
menimbulkan jalinan dalam permainan tersebut.
Pada Gamelan Pegambuhan yang terdapat di Desa Batuan terdapat instrument
Gumanak yang berjumlah sepasang (dua buah), yang diletakan pada sebuah pelawah yang
dihiasi dengan ukiran yang diberi warna (prada). Instrument Gumanak diletakan kanan dan
kiri secara horisontal, serta dipukul dari atas mengunakan dua batang besi panjang dengan
kedua tangan.

8. Gentorag

Gentorag adalah instrument yang menyerupai pohon genta, gentorag ini terdiri dari
genta kecil yang jumlah keseluruhannya sekitar 28-35 genta kecil yang di susun menjadi tiga
tingkatan. Paling bawah merupakan lingkaran paling besar dengan jumlah genta kecil yang
paling banyak, lingkaran paling tengah lebih kecil serta dengan jumlah lebih sedikit dari
jumlah yang pertama, dan lingkaran yang paling atas merupakan lingkaran yang paling kecil
dengan jumlah daun genta yang paling sedikit. Pada bagian tengah terdapat sebuah kayu yang
berfungsi sebagai pegangan dan mengunci ketiga lingkaran yang di pakai menggantungkan
daun genta kecil.
Pada Gamelan Gambuh yang terdapat di Desa Batuan mempergunakan satu buah
instrument Gentorag. Instrumen tersebut dimainkan dengan cara digoyang sesuai dengan
irama yang dimainkan, biasanya bersamaan dengan jatuhnya pukulan kempul dan di sela-sela
jatuhnya pukulan kempul. Gentorag dapat memberikan aksen ritmis di setiap melodi final.
Selain pada Gamelan Pegambuhan instrument gentorag juga terdapat pada Gamelan Semar
Pagulingan saih lima dan saih pitu, Pelegongan dan Bebarongan.

9. Kenyir

Kenyir kerupakan suatu tungguhan yang terdapat dalam barungan Pegambuhan.
Kenyir berbentuk bilah yang terdiri dari tiga atau dua bilah yang memiliki nada yang sama.
Kenyir merupakan instrument yang tergolong pada metallophone. Kedua bilah ini diletakan
di atas lubang resonator, yang berada pada bagian atas pelawah, serta di kunci dengan besi
yang berada pada lubang gegorok masing-masing bilah. Pada Gamelan Bali di kenal dengan
istilah mepacek. Pelawah tersebut dihiasi dengan ukiran (dengan motif kakul-kakulan dan
gigin barong) dan warna merah dan coklat tua dipadukan dengan perada. Kenyir dimainkan
dengan cara dipukul menggunakan alat pukul (panggul) yang bercabang dua. Pola permainan
kenyir dalam barungan Pegambuhan adalah secara alternating dengan dua/satu kali pukulan.

10. Kempul

Pada Gamelan Gambuh menggunakan satu buah instrument kempul yang
difungsikan sebagai gong. Instrumen kempul dimainkan oleh satu orang penabuh, dengan
menggunakan panggul kempul. Jatuhnya pukulan kempul merupakan sebuah tanda
berakhirnya sebuah melodi atau gending yang dimainkan. Instrument kempul diletakan dalam
sebuah tungguhan kempul atau disebut juga dengan istilah gayor. Gayor diletakan berdiri
tegak dan instrument kempul digantung pada bagian tengah gayor. Pada ding-ding depan dan
belakang gayor dihiasi dengan ukiran motif bun-bunan (jalinan batang pohon), yang dihiasi
dengan warna merah, hitam coklat tua dan dipadukan dengan warna perada.
Jatuhnya pukulan kempul disesuaikan dengan lagu yang dimainkan, apabila gending
batel, untuk batel pejalan pukulan kempul jatuh pada hitungan ke empat (4x pukulan kajar
dan diselingi 2x pukulan klenang). Untuk batel pesiat, jatuh kempul pada hitungan kedua (1x
pukulan kajar diselingi 2x pukulan klenang) dengan tempo lebih cepat.
Untuk batel pejalan.
Bgitu juga dengan gending yang ukurannya panjang disesuaikan dengan ukuran
melodi atau gendingnya.
Penabuh Gambuh yang lengkap terdiri dari 15-17 orang. Begitu juga dengan penabuh
Gambuh di Desa Batuan,Br Pekandelan terdiri dari 16 orang, karena tidak terdapat instrument kangsi pada barungannya.

Narasumber : tugas ini dikutip dari www.isi-dps.ac.id dan hasil dari wawancara dengan Bapak Made Djimat selaku ketua dari sekaha gambuh di Desa adat Batuan,Br Pekandelan
. Instrument kempul diletakan dalam
sebuah tungguhan kempul atau disebut juga dengan istilah gayor. Gayor diletakan berdiri
tegak dan instrument kempul digantung pada bagian tengah gayor. Pada ding-ding depan dan
belakang gayor dihiasi dengan ukiran motif bun-bunan (jalinan batang pohon), yang dihiasi
dengan warna merah, hitam coklat tua dan dipadukan dengan warna perada.
Jatuhnya pukulan kempul disesuaikan dengan lagu yang dimainkan, apabila gending
batel, untuk batel pejalan pukulan kempul jatuh pada hitungan ke empat (4x pukulan kajar
dan diselingi 2x pukulan klenang). Untuk batel pesiat, jatuh kempul pada hitungan kedua (1x
pukulan kajar diselingi 2x pukulan klenang) dengan tempo lebih cepat.
Untuk batel pejalan.
Bgitu juga dengan gending yang ukurannya panjang disesuaikan dengan ukuran
melodi atau gendingnya.
Penabuh Gambuh yang lengkap terdiri dari 15-17 orang. Begitu juga dengan penabuh
Gambuh di Desa Batuan,Br Pekandelan terdiri dari 16 orang, karena tidak terdapat instrument kangsi pada barungannya.

Narasumber : tugas ini dikutip dari www.isi-dps.ac.id dan hasil dari wawancara dengan Bapak Made Djimat selaku ketua dari sekaha gambuh di Desa adat Batuan,Br Pekandelan

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: