RSS Feed
Jul 6

REVIEW 5 BUKU

Posted on Tuesday, July 6, 2010 in Lainnya

KARAWITAN/IV

LITERRATUR MUSIK NUSANTARA

Judul         : Perkembangan Seni Karawitan Bali

Oleh         : I Wayan Aryasa, BA

Penerbit    : Proyek Sasana Budaya Bali

Tahun       : 1976/1977

Untuk melihat perkembangan yang sudah ratusan tahun suatu perkembangan dalam jangka                 waktu cukup lama, maka sangat dibutuhkan orientasi tentang perkembangan karawitan Bali.                     Sebenarnya istilah karawitan bukanlah suatu gagasan baru meski ia masih perlu dipopulerkan                     ditengah-tengah masyarakat. Perkembangan kehidupan karawitan Bali sebagai hal yang tidak                     disengaja, karena sangat berkaitan erat dengan pelaksanaan upacara adat di Bali.

Karawitan Bali bersistem panca nada dan sapta nada atau sistem 5 nada dan 7 nada, yang                 yang lebih dikenal dengan istilah ;pentatonis” dan “septatonis”. Laras yang dipakai dalam gamelan                 Bali adalah pelog dan slendro. Seiring berkembangnya jaman, motif/tekhnik permainannya                         tidak sesederhana dulu.

Kata Kunci : Perkembangan Karawitan Bali

Judul        : Bothekan Karawitan I

Oleh        : Rahayu Supanggah

Penerbit   : Ford Foudation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia

Tahun      : 2002

Di Jawa, salah satu jenis bunyian yang dianggap tua dan masih bertahan hidup dan                             berkembang sampai sekarang adalah karawitan atau gamelan. Di Jawa Tengah misalnya, alat musik             perkusi (sejenis kendang/rebana) mendominasi kehidupan musik di daerah ini.

Berkaitan juga dengan perkembangan jaman, pengembangan fungsi kesenian, selera jaman,                 baik untuk memenuhi fungsinya yang baru dan dalam kadar tertentu, masih sering digunakan                         menurut fungsinnya.

Kata Kunci : Gamelan Jawa

Judul        : Musik Aantara Kritik dan Apresiasi

Oleh         : Suka Hardjana

Penerbit    : Buku Kompas

Tahun       : 2004

Ketertinggalan langkah, tak jarang membuat kesenjangan jarak antara kritik dan obyek kritik             sebagai subjek persoalan. Pada dasarnya, kritik adalah sebuah tanggapan dalam bentuk pendapat             pribadi berdasarkan pandangan yang mengacu pada suatu pengalaman tertentu seseorang.

Dalam kondisi keterasingan karya seni dengan publiknya, kritik tidak beroprasi secara ideal.             Oleh karena itu pesan-pesan apresiasi dibutuhkan untuk menjembatani jarak kesenjangan antara                 kritik, seni, dan publikasinya.

Kata Kunci : Musik Antara Kritik dan Apresiasi

Judul        : Esensi Bunyi Gamelan Dalam Prosesi Ritual Umat Hindu

Oleh         : I Ketut Donder

Penerbit    : Paramita Surabaya

Tahun       : 2005

Sejarah telah mencatat bahwa gamelan merupakan salah satu warisan budaya dari produk                    agama Hindu di masa lalu. Gamelan Jawa maupun gamelan Bali merupakan karya monumental                  yang memiliki nilai setara dengan candi. Gamelan adalah salah satu sarana seni yang dikembangkan              kerajaan Hindu di masa lalu.

Umat Hindu di Bali dalam melaksanakan upacara adat/prosesi ritual, tidak pernah terlepas                  dari yang namanya gamelan. Singkatnya, tidak ada upacara adat yangdilaksanakan tanpa                          menggunakan gamelan.

Kata Kunci : Keterkaitan Bunyi Gamelan dengan Prosesi Ritual Umat Hindu

Judul         : Basita Paribasa

Oleh         : I Wayan Simpen, AB

Penerbit    : Upada Sastra

Tahun       : 1991

Sesungguhnya sangat sukar menggolongkan atau membedakan isi ungkapan-ungkapan itu,                   yang mempunyai arti kiasan, dan menyimpang dari arti sebenarnya. Mungkin juga ungkapan                       itu mempunyai dua atau tiga arti. Buku ini juga dapat dipakai pelajaran disekolah, dari tingkat                       SD,SMP, dan SLTA, untuk menambah perbendaharaan bahasa Bali bagi para siswa.

Basita Paribasa artinya , “bicara atau kata-kata”. Yang termasuk Basita Paribasa

adalah :

1. Sesonggan(pepatah)

2. Sesenggakan(ibarat)

3. Wewangsalan(tamsil)

4. Sloka(bidal)

5. Bladbadan(metafora)

6. Peparikan(perumpamaan)

7. Pepindan(perumpamaan)

8. Sesawangan(perumpamaan)

9. Cecimpedan(teka-teki)

10. Cecangkriman(syair teke-teki)

11. Cecangkitan(olok-olokan)

12. Raos ngempelin(pelawak)

13. Sesimbing(sidiran)

14. Sasemon(sinddiran halus)

15. Sipta(hamat)

16. Sesapaan(do’a)

Kata Kunci : Bicara atau Kata-kata

Apr 7

FUNGSI GAMELAN DALAM MASYARAKAT HINDU

Posted on Wednesday, April 7, 2010 in Tulisan

Umat Hindu (teristimewa di Bali) dalam melaksanakan kegiatan ritual tidak pernah terlepas dengan penggunaan bunyi gamelan. Pelaksanaan berbagai macam ritual Hindu selalu diiringi bunyi gamelan. Namun upacara yang besar seperti upacara Panca Yadnya menggunakan gamelan seperti : bleganjur, angklung/klentangan, gong gede, gambang, gong kebyar, dimainkan secara bergantian ataupun secara bersamaan. Bahkan ada dijumpai masyarakat Hindu didaerah transmigran Sulawesi Tengah membuat gamelan dari bahan sisa potongan-potongan pipa galvanis yang telah dibuang oleh proyek PDAM. Pada daerah transmigran yang sudah sedikit maju dan diantara mereka ada yang bisa menjadi pande gong, mereka berusaha membuat gong besi dari sisa pir gerobak.
Demikian besarnya kecintaan umat Hindu terhadap gamelan, menyebabka banyak pertanyaan yang muncul. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain: (1) Apakah yang mendorong kecintaan umat Hindu yang sedemikian besar terhadap gamelan ? (2) Adakah kecintaan yang sedemikian besar itu didorong pemahaman teologis atau filosofis dari bunyi gamelan itu ?
Ada banyak laporan hasil penelitian dan buku-buku tentang musik. dari sekian hasil penelitian dan hasil buku-buku tersebut, dua hasil penelitian yang terkait langsung dengan tulisan ini adalah hasil penelitian terhadap gamelan yang dilakukan oleh Wallis (1979) dan hasil penelitian Lontar Prakempa yang dilakukan oleh Bandem (1986).

Sumber : I Ketut Donder
ESENSI BUNYI GAMELAN dalam PROSESI PITUAL UMAT HNDU

Apr 7

GAMELAN DALAM KONSEP TEOLOGI Saiva-Siddhanta

Posted on Wednesday, April 7, 2010 in Tulisan

Dalam mitologi India musik atau gamelan dianugrahkan oleh Dewa Siwa kepada umat manusia (Khan, 2002 : 13). Dalam wujud sakala “riil”, bahwa sesuatu yang mampu menguasai segala arah di buana agung ini adalah udara atau angin, sedangkan di alam buana alit tiada lain adalah napas atau udara dalam pori-pori. Untuk memuja Dewa Siwa yang disimbulkan dengan nyasa lingkaran dan udara, maka sarana yang paling tepat digunakan adalah unsur-unsur bunyi atau yang dapat mengeluarkan bunyi,seperti: pranayama, kidung, mantra, damaru (suara gendang), dan gamelan. Secara filosofis uraian mengenai gamelan Bali dapat ditemukan dalam lontar Prakempa. Agama Hindu mengajarkan konsep keharmonisan tiga dimensi, yaitu Trihita Karana (Parhyangan, Pawongan, Palemahan). Konsep-konsep persembahan diatas membangkitkan kreativitas untuk mempersembahkan segala sesuatu yang baik, suci, dan indah kepada sang pencipta. Unsur bunyi gamelan berfungsi sebagai pengiring dan memperindah persembahan. Superposisi kedua jenis vibrasi gelombang sekala dan niskala itu akan mengubah pola-pola pikiran manusia pada frekuensi gelombang yang lebih kecil.   Sang bijaksana yang mulia para Resi-Senggu-Bhujangga, Siwa-Sogata (Bhuda) mengukuhkan pendirian suci terhadap institusi gamelan yang diberi nama Aji Gurnita, Prakempa, dan Gong Wesi. Genta Pinara Pitu adalah konsepsi puncak nada-nada asli, suci, murni, indah, dan yang selalu menggetarkan sukma hati dalam pribadi sang hamba. Tujuh polaritas nada skala musik niskala, adalah tujuh medan cakra dipuncak gunung Pribadi. Ia adalah tangga-tangga pusaran energi Meru Danda Cakra yang berjumlah tujuh. Ketujuh cakra yang dimaksud adalah ; (1) sahasrara, (2) ajna, (3) visuddha, (4) anahata, (5) manipura, (6) svasdhisthana, dan (7) muladhara. Bunyi gamelan memiliki efek psikologis baik bagi penabuhnya maupun bagi pendengarnya, karena dapat membangkitkan kesadaran spiritual diareal upacara yang sedang dilaksanakan. Selain itu, cara memukul dan bunyi yang dihasilkan merupakan cermin dari kepribadianya. Dari bunyi tetabuhan itu dapat dikethui isi hati sanubari si penabuhnya, itulah sebabnya seseorang ingin mengetahui dan menguasai lagu atau tetabuhan.

Sumber : Prof. dr. I Gusti Ngurah Nala, MPH ESENSI BUNYI GAMELAN dalam PROSESI  Ritual Umat Hindu

Mar 23

Halo dunia!

Posted on Tuesday, March 23, 2010 in Lainnya

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!