Tari Ngorek

Menceritakan keceriaan anak-anak setelah panen raya buah kopi di daerah “Lumbung Kopi” Pupuan Tabanan. Mereka beraktifitas sambil mengumpulkan sisa-sisa buah kopi yang luput saat dipanen, yang dikenal dengan istilah “Ngorek”.

Keceriaan anak-anak saat “ngorek” dilakukan sambil bermain dengan penuh kegembiraan dan riang canda. Sesekali bertindak sedikit “nakal” dengan sembunyi-sembunyi mengguncang pohon kopi secara langsung untuk mendapat “hasil” lebih banyak.

Sebagaimana layaknya anak-anak, di sela-sela riang canda mereka, sesekali pula terjadi pertengkaran kecil saat berebut buah kopi. Namun tidak bertahan lama, semangat persahabatan mengakrabkan mereka kembali dan bermaafan, kemudian kembali bermain ceria seperti sedia kala.

Tari Kreasi “Ngorek” adalah salah satu pementasan pada Parade Gong Kebyar Anak Anak, Duta Kabupaten Tabanan di Pesta Kesenian Bali XXXV 2013. Minggu, 23 Juni 2013, Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar.

Penata Tari : I Made Gede Wiartawan

Penata Karawitan : I Wayan Tusti Adnyana

Iringan Tabuh : Sekaa Gong Anak-Anak Yohana Sasana Bhakti, Banjar Soka, Desa Antap,

Selemadeg Tabanan.

 

Macam-macam gerakan tari Ngorek

  • Macam-Macam Gerakan Kaki

Macam-macam gerakan kaki yang disebut “Gegajalan” pada tari Ngorek terdiri dari berbagai bentuk seperti berikut :

 

  1. Gandang Arep = Berjalan ke muka
  2. Gandang Uri = Berjalan ke belakang
  3. Malpal = Berjalan cepat
  4. Nyregseg = Bergeser cepat

 

  • Macam-Macam Gerakan Tangan

Fungsi gerakan tangan disebut “pepiletan” dalam tari Ngorek terdapat macam-macam yang sebagai berikut :

 

  1. Luk Nagasatru = Haluan tangan berputar ke dalam
  2. Luk Nerudut = Haluan tangan seiring

 

  1. Macam-Macam Gerakan Jari

Fungsi gerakan jari disebut “tetanganan” yang terdiri dari berbagai macam tersebut di bawah ini

  1. Ulap-ulap = Melambai-lambai

 

  • Macam-Macam Gerakan Badan

Fungsi gerakan badan disebut “leluwesan” terdiri dari bermacam-macam gerakan seperti dibawah ini :

  1. Ngejatpala = Pangkal lengan bergetar

 

  • Macam-Macam Gerakan Mimik

Fungsi gerakan mimik disebut “entiah-tjerengu” terdiri dari ber-macam macam bentuk sebagi tersebut di bawah ini :

 

  1. Kenjungmanis = tersenyum
  2. Luru = Riang gembira
  3. Ngeluncit = Kening berkedip

 

  • Macam-Macam Gerakan Leher

Fungsi gerakan leher disebut “dedengkek” terdiri dari bermacam-macam bentuk sebagai tersebut di bawah ini :

  1. Uluwangsul = leher bergeleng halus
  2. Ngotag = menggeleng gelengkan leher (keras)
  3. Gerakan Mata
  4. Nyeledet (kanan/kiri)
  5. Ngelier

Tari Angsana

Tema dari tari angsana yaitu tarian yang menggambarkan keagungan seorang Dewi yang diiringi oleh sekelompok burung angsa. Di dalam tarian ini terdapat perpaduan antara kebudayaan Timur maupun Barat. Tarian yang menggambarkan sekelompok angsa yang sedang bercanda ria sambil mencari makan. Tari ini biasanya dipertunjukan atau dimainkan oleh anak kecil. Dari segi gerakan tarian ini lebih banyak jongkok-berdiri. Gerakannya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan. Tari angsana didominasi dengan gerakan berputar, ngumbang, mengangguk-anggukkan kepala, melompat kanan kiri. Melakukan gerakan seperti gerakan terbang, melakukan gerakan seperti mencari makan. Tarian ini di ciptakan oleh I Ketut Rena, S.St dan penata tabuh Dewa Gede Dharmayasa, S.Skar, M.Fil.

Gerak dan bentuk penyajian tari Angsana

            Tarian ini menggambarkan sekelompok angsa yang sedang bercanda ria sambil mencari makan. Dari segi gerakan tarian ini lebih banyak jongkok-berdiri. Gerakannya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan. Tari angsana didominasi dengan gerakan berputar, ngumbang, mengangguk-anggukkan kepala, melompat kanan kiri. Melakukan gerakan seperti gerakan terbang, melakukan gerakan seperti mencari makan.

Berikut adalah macam-macam gerak yang ada dalam tari Angsana

  • Macam-macam Gerakan Kaki tari Angsana

Macam-macam gerakan kaki yang disebut “Gegajalan” pada tari Angsana terdiri dari berbagai bentuk gerakan kaki seperti berikut :

 

  1. Gandang Arep = Berjalan ke muka
  2. Gandang Uri = Berjalan ke belakang
  3. Malpal                                        = Berjalan cepat
  4. Nyregseg = Bergeser cepat
  5. Ngelikas = Berjalan silang
  6. Ngunda = Bersejingkat naik turun

 

  • Macam-macam Gerakan Tangan

Fungsi gerakan tangan disebut “pepiletan” dalam tari Angsana terdapat macam-macam gerakan tangan sebagai berikut :

 

  1. Luk Nagasatru = Haluan tangan berputar ke dalam
  2. Luk Nerudut                              = Haluan tangan seiring
  3. Nepuk Kampuh = Tangan menekan kampuh

 

  • Macam Gerakan Badan

Fungsi gerakan badan disebut “leluwesan” terdiri dari bermacam-macam gerakan seperti dibawah ini :

 

  1. Ngotag pala                                = Pangkal lengan bergetar pelan
  2. Ngelo                                         = Badan dibelak-belok diikuti gerakan tangan
  3. Ngelung                                     = Badan di bengkokan

 

  • Macam-Macam Gerakan Leher

Fungsi gerakan leher disebut “dedengkek” terdiri dari bermacam-macam bentuk sebagai tersebut di bawah ini :

 

  1. Ngotag leher                              = Gerakan leher kekiri dan kekanan dengan pelan
  2. Nyeledet                                    = Gerakan mata ke kiri atau ke kanan

 

  • Macam-macam gerakan mimik wajah di tarian Angsana

Fungsi gerakan mimik disebut “entiah-tjerengu”berikut gerakan mimic wajah yang terdapat pada tarian Angsana :

 

  1. Luru                                            = Riang gembira
  2. Ngeluncit                                    = Kening berkedip
  3. Manis cerengu                             = Senyum manis

Ketug Bumi

Ketug Bumi merupakan konsep dari kesenian gamelan yang di ciptakan sndiri oleh Institut Seni Indonesia Denpasar. Konsep Ketug Bumi ini menggambarkan keagungan dan kegemuruhan suara yang bervolume tinggi.

Ketug Bumi jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia berarti ( Mengguncangkan Bumi ). Ketug Bumi adalah karya kebesaran Institut Seni Indonesia Denpasar dimana tabuh ini dipentaskan setiap tahunnya pada ajang pentas kesenian Bali.

Karya seni Ketug Bumi ini merupakan jenis kesenian kolosal yang sangat banyak memakai penabuh dan penari, maka dari itu tingkat kesulitannya juga bisa di bilang sulit karna memakai banyak orang untuk memntaskan kertug bumi, istilahnya dalam bahasalah bali (matuhan bayu) itu kategori yang tersulit dalam proses garapan kertug bumi ini.

  • Tabuh Ketug Bumi serta alat-alat yang di pakai dalam kertug bumi

Kertug bumi memiliki konsep yang berarti menguncangkan bumi jadi alat-alat yang dipakai pun sangatlah banyak dan beragam. Berikut alat-alat yang di gunakan dalam Tabuh Kertug Bumi :

  • Kendang
  • Ceng-ceng
  • Okokan
  • Kulkul
  • Tawa-tawa
  • Jimbe
  • Bedug
  • Preret
  • Gong

Sejarah Puri Agung Tabanan

Setelah Kerajaan Bali ditaklukkan oleh Majapahit dan Sri Aji Kresna Kepakisan berkuasa, maka Sri Arya Kenceng diserahi tugas menjaga Tabanan dengan memiliki 40.000 rakyat. Bhatara Arya Kenceng yang menguasai daerah Tabanan beristana di Desa Pucangan bernama Buwahan yang terletak disebelah selatan Baleagung.
Batas wilayahnya :
– Sebelah Timur : We (sungai ) Panahan.
– Sebelah Barat : We Sapwan.
– Batas Utara : Gunung Batukaru, ketimur bagian utara sebelah utara kekuasaan desa Sanda.
– Sebelah Selatan : Kerambitan, Blumbang, Tanggun Titi dan Bajra., termasuk wilayah Kaba-Kaba.
Mulai tahun Saka 1256 / 1334 M dilakukan pembuatan taman kearah timur istana yang bernama Taman Sari.

Raja Tabanan I

Raja Tabanan I adalah Bhatara Arya Kenceng yang beristrikan putri keturunan Brahmana Ketepeng Reges di Daerah Majapahit. Brahmana Ketepeng Reges mempunya 3 orang putri, yang pertama diambil istri oleh Sri Kresna Kepakisan, dan yang bungsu oleh Arya Sentong.
Bhatara Arya Kenceng dengan sang Brahmani berputra:
1. Dewa Raka, dinobatkan dengan nama Sri Megadaprabu.
2. Dewa Made, dinobatkan dengan nama Sri Megadanata atau Sri Arya Ngurah Tabanan.
Dari Istrinya yang lain, melahirkan :
1. Kyayi Tegeh Kori.
2. Bibi Kyayi Tegeh Kori.
Entah berapa lamanya wafatlah Bhatara Arya Kenceng dan dibuatkan upacara pembakaran jenazah dengan memakai wadah tumpang sebelas yang dipakai sampai sekarang. Adapun Sanghyang Pitara dibuatkan Pura Pedarman dengan sebutan Batur yang dipuja oleh para putra, sanak keluarga sampai kemudian hari.
Beginilah kekeluargaan Rajaputra empat orang, beliau Sri Megadaprabu tidak ingin menduduki kekuasaan dan menyerahkan kepada sang adik Sri Megadanata.
Adapun Kyayi Tegeh Kori mencari kekuasaan di Negara Badung disebelah selatan kuburan Badung. Beliau berhasil membuat bendungan di Pegat dan melahirkan golongan Gusti Di Tegeh.
Putra yang terkecil seorang putri bertempat tinggal di Istana di Buwahan.
Sri Megadaprabu : mempunyai putri yang dijadikan istri oleh Kepala Desa Pucangan dan mempunyai anak lima orang seperti
1. Ki Tegehan di Buwahan
2. Ki Bandesa di Tajen
3. Ki Telabah di Twak Ilang
4. Ki Guliang di Rejasa mempunyai trah Ngurah Tegeh
Awo
5. Ki Bendesa Beng mempunyai trah Pasek Buduk.
Tidak lama kemudian Sri Megadaprabu meninggal

Raja Tabanan II

Karena Sri Megadaprabu tidak bersedia memegang kekuasaan di Tabanan, maka yang menjadi Raja menggantikan Bhetara Arya Kenceng adalah Sri Megadanata, dengan nama yang lain Sri Ngurah Tabanan. Beliau tidak lupa dengan hubungan baik dengan Dalem yang pada waktu itu adalah Dalem Ketut, yang lebih dikenal dengan Sri Kepakisan yang beristana di Swecapura atau Linggarsapura Sukasada atau Gelgel. Beliau putra dari Sri Kresna Kepakisan (cucu dari Dalem Wawu Rawuh) yang mempunyai istana di Samprangan dan merupakan adik dari Dalem Ile. Beliau Arya Ngurah Tabanan mempunyai dua orang istri dari keturunan kesatria dan memberikan 7 orang putra.

1 : Sri Arya Ngurah Longwang / Languan .
2 : Ki Gusti Madyatara / Ki Gusti Made Kaler.
3 : Ki Gusti Noman Pascima / Ki Gusti Noman Dawuh
4 : KI Gusti Ketut Wetaning Pangkung.
5 : Ki Gusti Ngurah Samping Boni.
6 : Ki Gusti Nomam Batan Ancak.
7 : Ki Gusti Ketut Lebah.
Beliau Sri Megadanata karena suatu hal yang tidak jelas, beliau difitnah ingin mengatasi Dalem, maka beliau diutus ke Majapahit menyaksikan tingkah laku Raja Majapahit. Keadaan di Majapahit aman, sejahtera dan sepi karena masuknya Agama Islam.
Diceritakan bahwa adik beliau yang tinggal diistana yang bernama Bibi Kyahi Tegeh Kori diambil oleh Dalem Gelgel dan diserahkan kepada putra Si Arya Wongaya Kepakisan yang bernama Kyahi Asak yang tinggal di Kapal. Setelah kembali dari Majapahit dan mengetahui adiknya diambil oleh Dalem, beliau marah terhadap Dalem, lalu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan pada putranya Sri Arya Longwan.
Beliau Sri Megadanata lalu menjalani kehidupan suci serta membuat rumah didaerah Kebon Tingguh yang terletak dibarat daya dari Istana di Pucangan. Kemudian beliau mengambil istri anak Bendesa di Pucangan dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Pucangan.
Setelah besar lalu diserahkan kepada kakaknya Sri Arya Ngurah Longwan / Sri Arya Ngurah Tabanan dan tetap tinggal di Istana. Setelah selesai membuat rumah, wafatlah beliau dan diadakan upacara sebaimana mestinya.

Puri Agung Pindah Ke Tabanan

Sirarya Ngurah Langwang, Raja Tabanan III. Dia menggantikan Ayahnya Sri Megada Natha menjadi raja, yang kemudian mendapat perintah dari Dalem Raja Bali agar memindahkan Kerajaannya / Purinya di Pucangan ke daerah selatan, hal ini kemungkinan disebabkan secara geografis dan demografis sulit dicapai oleh Dalem dari Gegel dalam kegiatan inspeksi. Akhirnya Arya Ngurah Langwang mendapat pewisik, dimana ada asap (tabunan) mengepul agar disanalah membangun puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon Tingguh, terlihat di daerah selatan asap mengepul ke atas, kemudian dia menuju ke tempat asap mengepul tersebut, ternyata keluar dari sebuah sumur yang terletak di dalam area Pedukuhan yaitu Dukuh Sakti( di Pura Pusar Tasik Tabanan sekarang ). Akhirnya ditetapkan disitulah dia membangun Puri, setelah selesai, dipindahlah secara resmi Puri Agung / Kerajaannya beserta Batur Kawitannya dari Pucangan ke Tabanan ( Sekitar Abad 14 ). Oleh karena asap terus mengepul dari sumur seperti tabunan sehingga puri dia diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya berubah menjadi Puri Agung Tabanan, sedangkan Kerajaannya disebut Puri Singasana dan Raja bergelar Sang Nateng Singasana.

Semenjak itu pula Arya Ngurah Langwang beserta saudara-saudaranya (Ki Gusti Made Utara, Ki Gusti Nyoman Pascima dan Ki Gusti Wetaning Pangkung) dan seketurunannya berpura kawitan di Pura Batur di Puri Singasana Tabanan (Puri Agung Tabanan). Sedangkan bekas lahan Pura Batur di Buahan/Pucangan, diserahkan penggunaannya kepada putra upon-upon Ki Tegehan di Buahan.

Zaman penjajahan Belanda

Pada 27 September 1906, zaman penjajahan Belanda, Kerajaan Tabanan dikuasai oleh Belanda, Raja Tabanan saat itu, Cokorda Ngurah Rai Perang beserta Putra dan Saudara-Saudaranya ditawan oleh Belanda di Puri Denpasar. Tanggal 28 September Puri Agung Singasana, Puri Mecutan Tabanan, Puri Dangin Tabanan, Puri Denpasar Tabanan dan beberapa yang lainnya dihancurkan oleh Belanda. Raja Tabanan Cokorda Ngurah Rai Perang dan seorang Putra dia (I Gusti Ngurah Gede Pegeg) dengan keberaniannya melakukan puputan (bunuh diri ) di Puri Denpasar, karena tidak mau tunduk atau menjadi tawanan Belanda. Tanggal 29 September 1906 putra dan saudara-saudaranya di Puri Dangin Tabanan, Puri Pemecutan Tabanan dan Puri Denpasar Tabanan diselong / diasingkan ke Sasak Lombok.

Setelah beberapa tahun diselong di Lombok, masih dalam masa penjajahan Belanda, putra dan saudaranya Alm. “Cokorda Ngurah Rai Perang” lagi dikembalikan ke Tabanan.

Dalam rangka memilih Kepala Pemerintahaan di Tabanan, Belanda juga mencari dan menerima saran-saran dari beberapa Puri / Jero yang sebelumnya ada dalam struktur kerajaan, tentang bagaimana tatacara memilih seorang raja di Tabanan sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, pada tanggal 8 Juli 1929, diputuskan sebagai Kepala / Bestuurder Pemerintahan Tabanan dipilih I Gusti Ngurah Ketut putra I Gusti Ngurah Putu ( putra Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) dari Puri Mecutan, dengan gelar Cokorda.

Selanjutnya Dia membangun kembali puri beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng di area bekas letak Puri Agung Tabanan yang telah dihancurkan Belanda. Karena adanya keterbatasan saat itu, luas area yang digunakan dan jumlah bangunan adat yang didirikan tidak seperti yang semula. Pada tanggal 1 Juli 1938 Tabanan menjadi Daerah Swapraja, Kepala Daerah Swapraja tetap dijabat oleh I Gusti Ngurah Ketut ( dari Puri Mecutan Tabanan ), kemudian Dia dilantik / disumpah di Pura Besakih pada Hari Raya Galungan tanggal 29 Juli 1938 dan Mabiseka Ratu bergelar Cokorda Ngurah Ketut, dilihat dari urutan Raja Tabanan, dia adalah Raja Tabanan ke XXII 1938 s/d 1947.

Puri Agung Tabanan setelah kemerdekaan sampai sekarang

Cokorda Ngurah Ketut berada di Puri Agung Tabanan bersama putra dan saudaranya ( I Gusti Ngurah Wayan, I Gusti Ngurah Made, Sagung Nyoman, Sagung Rai dan Sagung Ketut ). Pada zaman kerajaan, hanya raja dan putera mahkota saja yang menempati Puri Agung Tabanan, sedangkan putra-putra lainnya, oleh raja dibuatkan Puri / Jero baru beserta kelengkapannya. Seiring dengan terjadinya perubahan zaman dan pemerintahan, hal tersebut tidak berkelanjutan, dimana tidak dibangun lagi Puri Pemecutan Tabanan dan Puri-Puri/Jero-Jero baru.

Sekarang yang berada di Puri Agung Tabanan adalah kelanjutan keturunan Cokorda Ngurah Ketut dan Saudaranya, yang merupakan putera I Gusti Ngurah Putu ( Putera Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) yang berasal dari Puri Pemecutan Tabanan.

  • Cokorda Ngurah Ketut berputera :
  1. I Gusti Ngurah Gede
  2. I Gusti Ngurah Alit Putra
  3. Sagung Mas
  4. I Gusti Ngurah Agung

Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede, putera sulung Cokorda Ngurah Ketut menjadi Cokorda Tabanan, bergelar Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan XXIII Maret 1947 s/d 1986 dan dia menjabat Bupati Tabanan Pertama tahun 1950, tempat tinggal Dia disebut Puri Gede / Puri Agung Tabanan.

  • Cokorda Ngurah Gede, Berputra :
  1. Sagung Putri Sartika
  2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
  3. Sagung Putra Sardini
  4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
  5. Sagung Ayu Ratnamurni
  6. Sagung Jegeg Ratnaningsih
  7. I Gusti Ngurah Agung Dharmasetiawan
  8. Sagung Ratnaningrat
  9. I Gusti Ngurah Rupawan
  10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
  11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
  12. Sagung Putri Ratnawati
  13. I Gusti Ngurah Bagus Grastawan
  14. I Gusti Ngurah Mayun Mulyawan
  15. Sagung Rai Mayawati
  16. Sagung Anom Mayadwipa
  17. Sagung Oka Mayapada
  18. I Gusti Ngurah Raka Heryawan
  19. I Gusti Ngurah Bagus Rudi Hermawan
  20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
  21. Sagung Jegeg Mayadianti
  22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan.

Pada tanggal 21 Maret 2008, I Gusti Ngurah Rupawan putera Cokorda Ngurah Gede Mabiseka Ratu, bergelar Ida Cokorda Anglurah Tabanan merupakan urutan Raja Tabanan ke XXIV, berpuri di Puri Agung Tabanan.

Pembuatan Riong di desa Tihingan kabupaten Klungkung

Tempat Pembuatan Reong

Gong Windu. Jl. Raya Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 18.00 Wita. Menjual: alat-alat musik trasional Bali, di tempat ini para pengrajin alat musik tradisional bali kususnya yang berpencon seperti reong, kajar, kempli, tawa-tawa, kemong dan lain sebagainya, selain itu disisni juga terdapat pembuatan alat terapi yang umumnya hanya diketahui oleh konsumen non local atau orang asing yang dikirim ke beberapa Negara seperti Thailand, Amerika, dan alat terapi tersebut bernama singing bowl.

Tempat ini sudah dikenal oleh tokoh-tokoh seniman seperti Arik Wirawan, Tiodore, dan juga dosen-dosen seni dari perguruan tinggi di Bali umumnya mengetahui tempat ini, karena hasil dari pembuatan reong atau alat musik yang berpencon yang dilahirkan dari Gong Windu ini sangatlah berkualitas dan memuaskan sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih memesan gamelan umumnya yang berpencon di Gong Windu ini.

I Nyoman Suta Pandita adalah orang yang bertanggung jawab atas kepemilikan tempat kerajinan ini, ia mengaskan bahwa ia sangat mengutamakan kualitas ketimbang harga, biarpun harga alat musik disini terbilang mahal namun hasil yang dikerjakan sangat berkualitas tinggi dan bagus, jadi bliau tidak mau mengerjakan pasuh dengan sembarangan dan asal-aasalan, karena ini menjual nama jika ada orang yang ingin membeli dengan hanya sekedar dapat harga yang tak begitu mahal dan kualitas tak begitu bagus ia sarankan agar mencari ditempat lain tegas bliau.

 

 

 

Proses Pembuatan Reong

Proses pembuatan reong dimulai dari proses peleburan campuran antara tembaga dan timah putih dengan takaran 3:10 atau 1:3, selanjutnya bahan yang sudah cair ini dicetak berbentuk bulat dengan bagian bawahnya cembung yang disebut dengan laklakan. Selanjutnya adalah proses pembentukan dengan cara menempa laklakan secara berulang-ulang yang bertujuan mengubah bentuk lempengan pejal menjadi bentuk awal reong setengah jadi. Proses penempaan (nguwad) reong dikerjakan empat oleh empat orang perajin dimana satu orang bertugas untuk memanaskan bahan baku di perapen yang disebut tukang perapen, satu orang bertugas memegang, memutar dan mengarahkan perlahan bahan laklakan yang akan ditempa yang disebut tukang jepit dan dua orang yang bertugas menempa disebut tukang nguwad.

Teknik penempaan dilakukan dalam kondisi laklakan yang telah dipanaskan hingga membara selanjutnya ditempa oleh tiga orang yang berdiri berjajar sehingga telapak palu tepat berjajar secara tepat dan membentuk lingkaran pada laklakan. Penempaan selalu dimulai dari poros atau bagian tengah bahan baku, seperti sedang membuat lingkaran dengan tiga titik palu sehingga dalam beberapa kali pemukulan, bekas telapak palu pertama akan kembali bertemu seperti gugusan gelang. Hal ini dapat terjadi karena bahan baku yang sedang ditempa itu diputar perlahan dan bertahap oleh pengarah yang disebut Tukang jepit.

Proses berikutnya adalah ngicep yaitu proses pembentukan sudut bagian tepi dengan muka trompong dan moncolin yaitu membuat bagian pencon. Proses akhir finishing adalah proses yang dilakukan di luar perapen yang bertujuan untuk menghaluskan bagian permukaan trompong hingga mengkilap dan menyelaraskan suara trompong. Proses ini terdiri dari proses ngerinda 6 (menggerinda), ngikir (mengikir), manggur (menyerut) dan metuding (penyelarasan suara).

 

Dari seluruh tahapan proses pembuatan instrumen gamelan reong, proses nguwad merupakan proses kerja dengan beban kerja yang paling berat dirasakan oleh perajin karena harus dikerjakan di perapen dengan nyala api yang terbuka sehingga panas radiasi dan debu panas sisa pembakaran memapar perajin selama kerja.

Demikian juga cara dan sikap kerja yang belum alamiah menyebabkan lebih cepat meningkatnya keluhan pada otot skeletal dan kelelahan perajin. Sikap kerja tukang perapen adalah duduk di lantai produksi dengan alas duduk sehingga sikap kerjanya seperti sikap kerja jongkok di depan perapen dengan kedua tangan memegang alat pemegang bahan baku yang disebut dengan culik, yaitu alat pemegang bahan berbentuk tangkai besi yang dilengkapi pegangan dari kayu yang digunakan untuk memutar dan membalikkan bahan baku dalam api. Kemudian satu orang sebagai tukang jepit.

Tukang jepit memiliki keahian mengarahkan benda kerja pada saat penempaan sehingga tukang nguwad dapat dengan tepat memukul bagian yang harus ditempa. Cara kerja tukang jepit ini adalah mengarahkan dengan cara menjepit dan memutar benda kerja di landasan tempa sehingga bidang atau bagian yang akan ditempa oleh tukang nguwad tepat sasaran hingga terbentuk cobekan trompong. Sikap kerja tukang jepit ini adalah duduk di lantai produksi dengan alas duduk yang terbuat dari papan kayu sehingga sikap kerjanya seperti jongkok di lantai. Tukang jepit duduk berhadapan dengan tukang nguwad. Sikap kerja tukang nguwad adalah berdiri berjajar mengintari landasan tempa tempat benda kerja ditempa.

Tukang nguwad memiliki keahlian di bidang pembentukan dengan cara menempa berulang-ulang dengan beban yang merata pada semua bidang agar benda kerja dapat melebar dan terbentuk cobekan trompong tanpa ada keretakan. Tukang nguwad berdiri pada sebuah lubang yang terletak di depan tukang jepit, sehingga sikap kerjanya membungkuk saat menempa. Sikap kerja membungkuk atau kondisi perapen peleburan yaitu perubahan terhadap tinggi dan bentuk atap serta sikap kerja yang tidak alamiah dapat menyebabkan keluhan pada punggung, setelah proses nguwad ini terdapat proses merapikan ujung lingkar pinggiran reong yang disebut basing reong.

Setelah itu lanjut keproses ngemoncolin, sistem kerja ini dilakukan dengan memukul bagian tengah reong pada batu yang berisikan lobang dan dipukul menggunakan palu, proses ini dikerjakan dua orang yang bertugas masing-masing satu sebagai penjepit reong dan yang satunya lagi sebagai pemukul untuk menimbulkan bagian pencong dai reong tersebut, setelah tu memasuki pembentukan bagian bangkiang, gelang, ( pada bagian ini dilakukan diatas tiang besi yang dipukul menggunakan palu sehingga pencon mulai terlihat bentuk aslinya)  tangkar, rusuk, kalor,  pejungut, lambe, pengilat dan yang trerakir adalah pembentukan basang, proses ini dilakukan diatas lempengan besi yang berisi cekungan, lanjut keproses terakhir adalah finising yitu proses pengamplasan agar reong terliat mengkilap dan bagus.

Data Informant

Nama : I Nyoman Suta Pandita

Alamat : Tihingan, Klungkung, Bali

Tempat / tgl lahir : Tihingan 13 Februari 1994