SEJARAH GAMELAN GONG KEBYAR DI BANJAR TARO KELOD

  • Jumat, Oktober 18th 2013

SEJARAH GAMELAN GONG KEBYAR DI BANJAR TARO KELOD

Ada sekitar 30 jenis barungan gamelan salah satunya adalah Gamelan Kebyar yang hingga kini masih aktif dimainkan oleh masyarakat Bali. Barungan-barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup dan beberapa instrumen petik. Instrumen-instrumen ini ada yang dibuat dari bambu, kayu dan perunggu (krawang). Gamelan-gamelan ini sebagian besar milik kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya merupakan milik pribadi/perorangan. Berdasar jumlah pemain atau penabuhnya, gamelan Bali dapat dikelompokkan barungan alit (kecil), madya (sedang) dan barungan ageng (besar). Baruangan gamelan alit pada umumnya dimainkan oleh 4-10 orang, ruangan madya antara 11-25 orang, sedangkan barungan ageng memerlukan diatas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali membagi jenis-jenis gamelan yang ada didaerah ini kedalam 3 (tiga) kelompok yaitu gamelan golongan tua, gamelan golongan madya, gamelan golongan modern.

Gamelan kebyar merupakan satu bentuk karya dari gamelan golongan madya  seni budaya yang ekspresif dan dinamis diterima masyarakat dan berkembang ke seluruh Bali, bahkan sampai keluar Bali. Sebagai karya baru, kebyar mampu menampung berbagai inspirasi yang muncul sari bentuk-bentuk seni tradisional yang telah ada.

Pemberian nama “Kebyar” terhadap karya seni tersebut tepat, karena perangkat gamelan baru itu betul mampu mengekspresikan karakter kebyar, yaitu keras, lincah, cepat, agresif, mengejutkan, muda, enerjik, gelisah, semangat, optimis, kejasmanian, ambisius, dan penuh emosional.

 

Awal mula berdirinya gong kebyar di banjar taro kelod

Setelah saya mewawancarai beberapa sesepuh yang ada di banjar saya yaitu yang pertama dari I Ketut Jejel, sekarang saya akan membicarakan sejarah berdirinya gamelan gong kebyar yang ada di di banjar saya yaitu di banjar Taro Kelod . awal  mulanya gong kebyar yang di banjar saya yaitu karna adanya banjar Cerik yang sekarang disebut tempek Delodseme yang menyungsung barong yang dulunya pada tahun 1964 hanya memiliki gamelan gong kebyar tetapi memiliki bilah 5 yang bentuknya seperti gangsa jongkok,inilah beberapa instrument yang ada pada waktu itu :

–          Kantilan ( 2 )

–          Jegogan  ( 2 )

–          Calung     ( 2 )

–          Reong/riyong

–          Terompong

–          Kendang ( 2 )

–          Ceng-ceng ricik

–          Gong lanang,wadon

–          Bende

–          Kajar

–          Kempur

 

Tetapi mungkin karena tempekan tersebut kecil sehingga tidak kuat untuk memelihara gamelan dan nyungsung barong langsung yang menyungsung adalah krama banjar Taro Kelod. Pada waktu mempunyai gamelan seperti itu,Cuma memiliki sekaa gong waktu itu sekitar 20 orang,tabuh yang di mainkan adalah tabuh-tabuh lelambatan,rejang,dan baris gede. Gamelan gong kebyar itu untuk pelawahnya kurang bagus atau sudah darurat.sekaa gong tersebut  ngayah di banjar Yeh Tengah,Pakuseba,karena di Desa Taro Cuma banjar Taro Kelod saja pertama memiliki gamelan pada waktu itu.

Setelah 2 tahun ( 1966 ) krama banjar membeli gamelan baru sedikit demi sedikit,pertama yang di beli adalah giying/ugal ( 1 ),lama ke lamaan sudah memiliki gamelan gong kebyar. Gamelan gong kebyar yang memiliki bilah 5 itu seperti kantilan,bende,dan gong langsung di keramatkan atau di sakralkan dan penempetannya tidak sembarangan,ada odalan gede baru gamelan itu di tedunkan atau di keluarkan. Selain dari kantilan,bende,dan gong gamelan seperti reong,terompong,kendang,jegong,calung,kajar,ceng-ceng ricik langsung di gabungkan dengan yang baru dan dari segi pelawahnya sudah agak mendingan dari pada pelawah yang dahulu itu,memiliki sekha sekitar 30 orang. Dan harga gamelan pada waktu itu,saya sudah keliling bertanya di banjar Taro Kelod yang menjadi sekha gong yang masih hidup sampai sekarang sudah lupa dengan harganya,yang menjadi ketua sekaa gong yang bernama kak Jantuk ( Almarhum )pun sudah lupa dengan harganya,beliau sudah meninggal dunia,tetapi saya sudah sempat bertanya kepada beliau.

Gamelan gong kebyar yang baru itu memiliki berbagai macam instrument yaitu:

–          Terompong

–          Satu buah giying/ugal

–          Empat buah gangsa

–          Empat buah kantil

–          Dua buah penyahcah

–          Dua buah jublag/calung

–          Dua buah jegog

–          Riyong

–          Kajar + kempli

–          Kendang ( lanang,wadon )

–          Ceng-ceng ricik

–          Ceng-ceng kopyak

–          Empat suling besar + satu suling kecil

–          Bende

–          Gong (lanang,wadon)

–          Kempur

Pada tahun 1968,sekha gong pertama kali menabuhkan tari lepas seperti,tari oleg tamulilingan,taruna jaya,wiranata,tenun,margapati,nelayan, dengan penarinya dari satu banjar yang penguruknya atau Pembina yang berasal dari Gianyar yang bernama Dewa Nyambu ( Almarhum ),pada waktu itu pentas di desa Blusung,Tampaksiring,dan ke Kintamani. Tahun 1971 mulai lagi latihan gamelan drama gong yang membina juga sama yaitu Dewa Nyambu ( Almarhum ). Pada saat mau mementaskan drama gong ini,pasti meminjam tukang kendang dan tukang ugal yan berasal dari Pujung,Tegallalang yang bernama Bpak Lila dan Bpak Pulig,kenapa meminjam tukang kendang,kata I Wayan Parwata karena sekha gong di banjar belum siap mementaskan drama gong begitu juga pementasannya tidak di banjar,pementasannya di luar Desa yaitu di Karangasem,Bebandem,Penarungan,Badung. Pada zaman itu di berikan upah 500 rupiah perorangan,berarti penabuh 30 orang keseluruhan mendapatkan 15.000 rupiah dan membayar tukang kendang sama tukang ugal setengah dari pendapatan itu,sisa upah tersebut di jadikan khas.

Pada tahun1980 pelawah gong kebyar baru mau di isi ukir-ukiran,dari dulu pelawahnya Cuma dengan dari kayu saja tidak berisi pariasi ukir-ukiran sedikitpun. Saya bertanya lagi kepada Bpak Nduk,karena kata I Wayan Parwata Bpak Nduk yang menjadi ketuanya,minggu yang lalu langsung saya mewawancarai beliau mengenai pelawah yang mau di ukir. Kata beliau pelawah gong kebyar tersebut di ukir di pura,tukang ukirnya semuanya dari banjar Taro Kelod,mengapa di ukir di banjar,kata Bpak Nduk karena keterbatasan dana dan semua tukang ukir tidak mau di berikan uang,karena kata mereka iklas untuk ngayah.

Fungsi dari gamelan gong kebyar tersebut :

–          Mengiringi pada saat ada Upacara Agama

–          Upacara Ngaben

–          Di pakai ngayah ke luar Desa untuk mengiringi tari-tarian,prembon,dll.

Tahun 1997, Bpak saya I Made Sukada mengatakan gamelan gong kebyar sudah di cat prada,dan pekerjanya juga dari banjar Taro Kelod,adapun orang-orang pada waktu itu yang mengecat pelawah gong kebyar yaitu:

I Wayan Duri,I Made Kerti,I Wayan Kerta,I Made Jodog,I Wayan Wales,I Wayan Lueh,I Wayan Sueta,dan I Nyoman Kacir. Semua orang pekerja ini sudah sering di banjar-banjar lain,dan saya pernah mewawancarai I Wayan Duri,kata beliau sama seperti pada saat mengukir pelawah gong kebyar,semua pekerja cat prada itu juga tidak mau di berikan uang sedikit pun karena sumua pekerja itu berdasarkan Ngayah dengan iklas.

 

Beberapa gambar instrument pelawah gong kebyar yang sudah di cat prada :

Foto1048

 

Kalau dulu pada waktu pelawahnya belum di prada,sesudah pentas jarang ada perawatan,tpi dari tahun 1997 pelawah sudah di cat prada setiap selesai pementasan langsung di bungkus dengan kain supaya tetap bersih dan cat pradanya bisa awet.

Dari tahun awal membeli gamelan gong kebyar ini memang tidak mempunyai rebab,karena sekaa gong di banjar tidak punya pemain rebab.Adapun personil yang masih aktif  sekarang ada sejumlah 40 orang,dan sampai tahun 2013 ini gamelannya masih seperti dulu yang mempunyai giying/ugal Cuma satu buah,sampai sekarang seperti di katakan tadi memang tidak memiliki instrument Rebab.

Konflik

Dimana-mana ada kegiatan pasti ada yang namanya konflik,seperti di banjar saya tahun 2012 yang lalu pada saat kegiatan pawai ulang tahun kota Gianyar,saya bersama teman-teman saya di sanggar mau mulai latihan gamelan Baleganjur,tiba-tiba tidak menyangka ada orang meninggal,di banjar saya tidak bisa ke pura mengambil gamelan karena halangan,tempat menaruh gamelan kalau di banjar saya memang tetap menaruh di pura tidak pernah menaruh di Balai Banjar,teman-teman saya putus asa,tetapi ada dari banjar tetangga mau mengambilkan gamelan itu ke pura, kata orang-orang yang tua mengatakan tidak boleh menyentuh gamelan di saat ada orang yang meninggal tetapi ada juga yang mengatakan boleh menyentuh gamelan,dan setelah kita selesai menyentuh gamelan itu langsung gamelan itu di upacarakan ( di bantenin ).langsung di izinkan pada waktu itu latihan gamelan Baleganjur.

Dan sampai sekarang tahun 2013 kalau ada orang meninggal di bolehkan menyentuh gamelan tetapi selesai menyentuh gamelan itu langsung di upacarakan,mengapa demikian karena Awig-Awig/Undang-Undang di setiap Banjar/Desa saling berlainan. Dan dengan itu mari kita jaga Awig-Awig yang ada di Bali ini dan jangan pernah kita melanggar Awig-Awig itu.

 

NARASUMBER

Kak Jantuk ( Almarhum )

I Ketut Jejel

Bpak Nduk

I Wayan Duri

I Made Sukada

Saya mewawancarai narasumber tersebut pada hari bersamaan yaitu pada tanggal 22 september 2013 di rumahnya masing-masing di banjar Taro Kelod.

Add your comment

Leave a Reply

Leave A Comment


Top