Tari Truna Jaya

Juli 12th, 2018

Tari Tarunajaya adalah salah satu tarian yang mencerminkan ekspresi Budaya Bali
Utara (Buleleng). Tari ini melukiskan gerak-gerak seorang pemuda yang menginjak dewasa,
sangat emosional, tingkah serta ulahnya senantiasa untuk menarik/memikat hati wanita.
Tarunajaya termasuk tari putra keras yang biasanya ditarikan oleh penari putri. Pada 1910,
tari ini lahir dari seniman Buleleng bernama I Wayan Praupan alias Pan Wandres, dalam
bentuk tari Kebyar Legong (tari Kebyar yang banyak menggunakan unsur tari Legong
Keraton). Kemudian, pada 1925 disempurnakan oleh I Gde Manik menjadi tari Tarunajaya.
Hingga kini masyarakat Bali mengenal 2 (dua) jenis tari Tarunajaya, yaitu Tarunajaya
lengkap (dengan bapang guak macoknya), dan Tarunajaya pendek (tanpa bapang guak
macok). Ketika Tarunajaya lengkap ditambah dengan bagian pengawak legong, maka
keseluruhan tari ini (dengan durasi kurang lebih 25 menit) menjadi Kebyar Legong.
Tari Tarunajaya yang menggambarkan emosional seorang pemuda ini ditata sangat
dinamis dan ekspresif sesuai dengan karakteristik gamelan gong kebyar. Jadi, di dalam
menarikan tarian ini selain teknik tari yang kuat, juga dibutuhkan tenaga yang kuat untuk
dapat mengekspresikan dan memberikan aksen yang tepat dan tegas berdasarkan gerak-gerak serta iringannya yang dinamis.

Pembuatan Suling Gambuh

Juli 12th, 2018

Secara fisik, suling yang terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan. Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling.
Dalam paper ini saya akan menjelaskan bagaimana cara membuat suling yang baik dan benar. Saya sangat tertarik dengan suling gambuh karena mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suling-suling yang ada pada barungan gambelan lain. Gambelan pegambuhan adalah gambelan yang digunakan untuk menarikan tarian gambuh. Keunikan suling gambuh memiliki keunikan yang sangat menonjol yaitu ukuran yang panjang, bahkan panjangnya mencapai 75-100 cm. Bayangkan bagaimana besarnya usaha untuk meniup suling yang panjangnya mencapai 100cm itu. Pasti memerlukan nafas yang kuat dan kesabaran. Nah, dibalik keunikannya itu saya akan mencoba untuk menulis bagaimana cara pembuatan suling gambuh ini.
Bahan dasar pembuatan suling umumnya menggunakan bambu. Bambu yang digunakan untuk membuat suling umumnya memakai bambu buluh , karena memiliki tekstur yang tipis dan mudah dilobangi. Siwer adalah bagian dari suling. Bahan pembuatan siwer bisa menggunakan rotan dan bisa juga menggunakan bambu.
Pengambilan bambu sebagai bahan suling mempunyai tata-cara yang telah turun-temurun, kebiasaan ini masih dilakukan sampai sekarang ini. Bambu yang di ambil haruslah berumur lebih kurang lima tahun hal ini dimaksudkan agar bambu itu benar-benar tua dan tidak akan keriput ketika telah dikeringkan, waktu pengambilan bambu, yaitu setiap bulan Juni, Juli dan Agustus karena bulan ini adalah bulan kemarau.Sehingga kadar air pada bambu sedikit, lebih baik lagi pertengahan bulan Agustus sebab merupakan puncak dari musim kemarau. Selain itu ada jam-jam khusu dalam pengambilan bambu ini, yaitu : jika pengambilan dilakukan pada pagi hari haruslah dilakukan pada jam 10 pagi sampai jam 12 siang dan waktu berikutnya adalah jam 14 sampai 16 sore. Sebagai logikannya adalah watu jam 10 sampai 12 dan 14 sampai 16 tersebut merupakan saat dimana kadar air didalam bambu berkurang. Kemudian penebangan tidak dilakukan dari akarnya, namun disisakan satu sampai dua ruas dari akar, ini dimaksudkan agar bambu tersebut dapat tumbuh kembali.
Setelah bambu sudah siap, tahap selanjutnya adalah membersihkan bamboo dengan menggunakan sambuk (sabut kelapa). Setelah itu bamboo di potong menurut ukuran suling pegambuhan, biasanya menggunakan ukururan yang disebut sikut kutus (ukuran delapan), ada juga dengan cara sikut sia(ukuran sembilan), dan sikut roras (ukuran dua belas). Sikut kutus mempunyai arti panjang badan bambu diukur dengan menggunakan tali sepanjang delapan kali diameter bambu yang digunakan. Begitu juga sama halnya dengan sikut sia dan sikut roras. Teknik memotongnya, jangan sampai menghilangkan buku (sekat pada bambu) pada bagian atasnya karena disana tempat pembuatan song manis (lubang manis). Setelah diukur dengan teknik sikut kutus, yang selanjutnya dilakukan adalah pembuatan dedel (tempat siwer(cincin)). Pembuatan dedel dilakukan dengan cara memperkecil diameter bamboo pada bagian atas sehingga dapat menyangga siwer agar diam ditempatnya. Ujung bamboo di perkecil kurang lebih 1 inci dari diameter aslinya.
Setelah dedel siap selanjutnya dilanjutkan membuat song manis(lubang manis) sebagai penghantar angin kearah resonator. Resonator suling terletak pada badan suling itu sendiri. Setelah lubang manis selesai dibuat, dilanjutkan dengan memasang siwer(cincin) pada dedel(tempat siwer) bertujuan untuk mencoba suling, apakah suling sudah mau menghasilkan suara yang baik atau belum. Siwer berguna untuk memfokuskan arah angin menuju lubang manis agar membentuk suara yang jelas. Jika suling tidak dibuatkan siwer akan sulit untuk meniupnya karena angin yang masuk tidak sepenuhnya mengarah ke lubang manis, dan suara yang dihasilkan tidak akan terdengar jelas.
Cara membuat siwer adalah sebagai berikut, belah kecil bamboo atau rotan yang akan digunakan untuk membuat siwer. Ukur panjang siwer dengan menggunakan diameter dedel(tempat siwer), lebihkan ukuran panjangnya beberapa “cm” agar siwer nantinya bisa diikat sehingga membentuk menyerupai cincin. Setelah di ukur panjangnya, kemudian bamboo/rotan itu di belah tipis-tipis memanjang agar mudah ditekuk. Lalu rendam beberapa saat dengan air agar lebih lentur. Setelah itu letakkan bamboo yang sudah diiris tidis itu pada dedel, lalu ikat ujung ketemu ujung. Ikat menggunakan tali nilon yang ukuran kecil. Siwer pun sudah selesai dibuat.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan lubang pada badan suling agar menghasilkan nada-nada yang diinginkan. Jumblah lubang pada suling gambuh sama seperti suling pelog biasanya yang menggunakan 6 lubang dengan 5 nada pokok. Carapembuatan lubangnya sebagai berikut : lubang yang pertama kali dibuat adalah lubang urutan kedua dari atas, karena lubang urutan kedua merupakan ukuran tengah-tengah dari badan suling. Selanjutnya membuat lubang pertama, caranya dengan mengukur diameter bamboo dari lubang kedua, dan diameter tersebutlah yang digunakan sebagai ukuran jarak lubang kedua dan lubang pertama. Lubang pertama letaknya di atas lubang ke dua. Lalu pembuatan lubang ketiga sama dengan pembuatan lubang pertama yaitu menggunakan ukuran diameter lubang bambu, dan diamernya digunakan sebagai jarak lubang ke dua dan lubang ke tiga. Yang berbeda adalah pembuatan lubang keempat, yaitu menggunakan dua kali diameter dari lubang badan suling. Contoh, lubang satu, dua, dan tiga menggunakan jarak 5cm, berarti jarak lubang ke tiga menuju keempat menggunakan jarak 10cm. Jarak antara lubang tiga dan empat disebut dengan pengembang. Selanjutnya pembuatan lubang ke lima sama seterti pembuatan lubang satu, dua, dan tiga yaitu menggunakan ukuran diameter lubang badan suling. Pembuatan lubang keenam juga sama seperti pembuatan lubang satu, dua, tiga, dan lima.
Setelah semua lubang sudah selesai dibuat, suling gambuh sudah dapat dimainkan. Cara bermainnya juga susah-susah gampang karena ukuran suling yang panjang dan besar itu, nafas yang dibutuhkan pasti juga akan berbeda dengan meniup suling pada umumnya. Cara menutup lubang juga sudah pasti berbeda karena jatak antar lubang relatif jauh.
Sedikit tentang fungsi suling gambuh pada barungan gambelan pegambuhan adalah sebagai pemegang gending(lagu). Kapasitasnya dalam barungan gambelan gambuh sama dengan rebab pada barungan gambelan gambuh. Jadi intinya suling gambuh selain unik dengan panjang yang mencapai 100cm ini jaga sebagai alat yang vital, dalam artian sangat berpengaruh pada pementasan tari gambuh, karena dapat memberikan kesan yang berbeda. Adapun cara bermainnya meliputi :
1. Dimainkan dalam posisi diagonal, ujung bawah bersandar di lantai di depan pemainnya.
2. Pada tangan kanan diginakan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah untuk menutup lubang. Teknik memegangnya menggunakan system tetekep yang rumit dan repertoar gending-gending yang panjang, sudah jelas menandakan bahwa suling gambuh jauh lenih sukar memainkannya dibanding dengan suling kecil
Suara yang dihasilkan oleh suling gambuh akan memberikan warna tersendiri dari pementasan tari gambuh. Tetekep yang digunakan sama seperti tetekep suling pada umumnya. Dalam suling barungan pegambuhan menggunakan juga system “patet” diantaranya patet lebeng, selisir, baro, sundaren, dll.

Sejarah Tradisi Magoak-goakan

Juli 12th, 2018

Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa. Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “SUKASADA” yang artinya selalu Bersuka Ria. Selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat. Untuk lebih memperkuat dalam mempertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah Utara Sukasada.
Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.

 

 

 

Selonding Desa Tenganan

Juli 11th, 2018

Gambelan Selonding adalah merupakan peninggalan historis dari kegiatan berkesenian nenek moyang di masa silam. Gambelan Selonding merupakan salah satu contoh mengenai Local Geniusdari lelhur, yang mampu mengantarkan kita kepada suatu jenjang puncak budaya, sehingga keberadaannya masih eksis sampai saat ini. Peninggalan historis tersebut masih mampu menjembatani suatu masa ribuan tahun yang lalu dengan masa kini.Gambelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.
Pada dasarnya gambelan Selonding yang lahir dari hasil, cipta, rasa, dan karsa nenek moyang, itu adalah sebagai perwujudan dari pengalaman estetis dikala keadaan jiwa sedang mengalami kedamaian dan kesucian. Pendakian ini hanya mungkin dapat dicapai dengan penghayatan dan pengalaman yang immanent dari ajaran agama hindu. Rupa-rupanya gambelan Selonding tumbuh, hidup dan berkembang sebagai kultur religius, sehingga dapat dipahami bahwa gambelan Selonding banyak terdapat dipusat-pusat keagamaan pada zaman Bali kuno yang olehR. Goris disebut sebagai basis kebudayaan Bali Kuno. Dapat dimengerti, mengapa gambelan Selonding yang pernah ada di Jawa Timur pada zaman Kediri kini sudah lenyap.
Gambelan Selonding bukanlah segugusan instrumen primitif yang kosong tanpa makna. Gambelan ini banyak tercatat dalam prasasti raja-raja Bali Kuno dari babakan pemerintah Maharaja Sri Jaya Sakti sampai dengan awal pemerintahan Majapahit di Bali. Dan juga sejumlah karya sastra para pujangga dari zaman Kediri sampai Babakan zaman Majapahit akhir. Seperti Kekawin Bharata Yudha, Hari Wangsa, Gatot Kaca Sraya, Sumana Santaka, Wrttasancaya, Wrttayana, dan Rama Parasu Wijaya, banyak merekam nuansa keindahan gambelan Selonding yang masih dapat diwarisi sampai sekarang.
Istilah Selonding yang kemudian dikenal dengan nama Selonding di Bali, berdasarkan temuan dalam sebuah lintar kuno yaitu Babad Usana Bali yang menyebutkan seorang raja besar di zaman dahulu yang bergelar Sri Dalem Wira Kesari yang bertahta di lereng gunung Tolangkir(Gunung Agung).Bila dirunut asal muasal kosa kata Selonding itu berasal dari kata Salunding. H.N. der Tuukdalam bukunya Kawi Balineesch-Nederlandsch-1984, menyebutkan bahwa Salunding itu identik dengan gambelan gender.C.F. Winter SR menyebutkan Salunding adalah gambelan Saron.Wayang Warna menyebutkan kosa kata Salunding adalah nama gambelan yang suci yang ditabuh pada upacara tertentu.Guru-guru Kokar pada waktu mengadakan penelitian di Tenganan (1971) mengemukakan bahwa Selonding berasal dari kata Salon + Ning yang diartikan tempat suci. Karena gambelan Selonding itu dikenal sebagai perangkat gambelan yang disucikan dan disakralkan oleh masyarakat pendukungnya.Gambelan Selonding adalah salah satu gambelan kuno yang masih dapat diwarisi sampai sekarang di Bali. Gambelan ini semula dikenal pada masa pemerintahan Sri Jaya Bawa di Kediri yang berlanjut sampai pada zaman Majapahit.
Di Bali gambelan Selonding telah dikenal pada pemerintahan Sri Maharaja Jaya Sakti (1052-1071 C), merupakan suatu kesenian yang populer pada zamannya, mengingat kewajiban-kewajiban berupa pajak yang dikenakan yang merupakan pajak tertinggi diantara kesenian lainnya.Pada zaman pemerintah Sri Maharaja Bhatara Guru Sri Adikutiketana pada tahun 1126 C, kesenian Selonding ini akhirnya dibebaskan dari segala macam pajak, karena telah menjadi kesenian untuk mengiringi upacara keagamaan sampai dewasa ini. Gambelan Selonding tersebut masih sangat disakralkan sebagai sarana upacara keagamaan di Bali, seperti yang terdapat di Tenganan, Bungaya, Asak, Timbrah, Bugbug, Ngis, Trunyan, Kedisan ,Batur, Bantang, Manikliyu, dan Tigawas.
Pada barungan gamelan Selonding di Desa Tenganan ita dapat menjumpai alat-alat sebagai berikut :
1. Sepasang gong, masing-masing terdiri dari 4 bilah
2. Sepasang kempul, masing-masing terdiri dari 4 bilah
3. Satu tungguh pe-enem, terdiri dari 4 bilah
4. Satu tungguh petuduh, terdiri dari 4 bilah
5. Satu tunggung nyongnyong alit,terdiri dari 8 bilah
6. Satu tungguh nyongnyong ageng, terdiri dari8 bilah

Adapun gendng-gending petegak (instrumental) diantaranya :

1. Sekar gadung
2. Nyangjangan
3. Rejang Gucek
4. Puja Parwata
5. Puja Semara
6. Sudamala
7. Dll,

Tari Jagung Gembal

April 12th, 2018

Asal usul tari “Jagung Gembal”. 

Tari Jagung Gembal merupakan salah satu tari kreasi baru yang berasal dari Bali utara. Tarian ini diciptakan oleh I Gusti Ayu Parwiti S,Pd yang berasal dari barat Kabupaten Buleleng. Tarian ini merupakan karya pertama dari Parwiti yang diciptakan untuk parade Gong Kebyar Dewasa pada ajang Festival Kesenian Bali tahun 2014. Tarian ini merupakan salah satu tarian yang menyimbolkan tanaman jagung gembal yang dulunya banyak terdapat di Bali Utara khususnya di kota Singaraja dan dijadikan salah satu ikon Kabupaten Buleleng, dibuktikan dari patung singa yang menggenggam jagung gembal.

Parwiti memilih jagung gembal pada karya pertamanya karena dia menganggap jagung gembal merupakan sesuatu yang unik untuk digarap dalam suatu tarian dan juga untuk melestarikan salah satu ciri khas Kabupaten Buleleng tersebut.  Tari jagung gembal di tarikan oleh sembilan orang penari dengan berbagai macam gerak tubuh yang dirangkai menjadi satu dan pada akhir tarian ini ada satu penari yang menarikan sosok singa ambara raja yang menggenggam jagung gembal.

Tabuh dari tarian ini di garap oleh salah satu alumni ISI yang bernama Gusti Bagus Sukma Adi Oka S,Sn. angkatan 2005. Tari jagung gembal ini juga merupakan karya pertama dari Sukma. Parwiti dan Sukma sama-sama menggarap tarian ini dengan banyak rintangan karna mungkin sebelumnya mereka belum pernah menggarap suatu karya. Tapi dengan lebih sering bertanya dengan orang yang berpengalaman  dan juga lebih banyak latihan mereka dapat menghasilkan karya yang bagus dan dapat diterima oleh masyarakat khususnya di Buleleng.

Image result for tari jagung gembal