Fungsi gamelan Baleganjur

Fungsi Kesenian Baleganjur adalah sebagai pemujaan yaitu pengiring prosesi/ upacara keagamaan bagi Umat Hindu Dusun Ceto. Suara yang keluar dari alat musik Baleganjur saat dipukul dalam prosesi upacara keagamaan dipercaya dapat mendatangkan roh leluhur. Datang-nya roh leluhur, masyarakat yakin bahwa leluhur merestui apa yang menjadi harapan masyarakat dalam prosesi yang mereka lakukan.

Kesenian Baleganjur dipahami tidak hanya sebagai sebuah bentuk kese-nian yang digunakan untuk melengkapi sebuah ritual atau hiburan saja. Lebih dari itu, Kesenian Baleganjur memiliki potensi untuk melengkapi kehidupan mereka yang dilingkupi oleh budaya mitos

Asal-usul Gamelan Gambang

Secara umum gamelan Gambang di Bali diperkirakan muncul pada abad IX-X Masehi, dimana hal tersebut dapat dibuktikan dari adanya data-data sejarah dan Prasasti yang memiliki angka tahun pada abad tersebut. Namun demikian, prihal keberadaan gamelan Gambang di Desa Tumbak Bayuh hingga kini belum dapat dipastikan keberadaannya yang mana hal ini disebabkan oleh kurangnya data-data tertulis maupun fakta atau bukti fisik lainnya seperti, prasasti, lontar, maupun tulisan-tulisan lainnya yang dapat dijadikan bukti otentik tentang keberadaannya.

Menurut penuturan I Made Langsih (wawancara tanggal, 26 Juli 2009) selaku klian Gambang di Banjar Gunung Jeroan Desa Tumbak Bayuh, diceritakan bahwa, pada jaman dahulu ada seorang petani miskin yang sangat tekun mengerjakan tanahnya di wilayah Pesawahan Mengening. Sawahnya ini terletak dipinggir hutan yang luasnya sekitar 2 hektar. Pada saat menggarap lahan pertaniannya tersebut setiap akan istirahat untuk makan siang atau sekedar melepaskan lelahnya, petani itu pergi ke hutan tersebut.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berteduh di hutan tersebut, ia dijumpai oleh seorang wanita yang belum pernah dikenalnya. Wanita itu menawarkan seperangkat gambelan bambu dengan harga dua ratus dua puluh lima kepeng (satak selae kepeng). Dengan uang sebanyak itu, kembalilah petani itu menemui wanita tadi. Setelah tawar-menawar, wanita penjual gambelan tersebut tidak mau melepaskan gambelannya kalau tidak seharga yang diberitahukan tadi, yaitu seharga dua ratus dua puluh lima kepeng. Teringatlah petani bahwa pada tempat kapur sirihnya (selepa) ada tersimpan uang lima kepeng lagi. Sekarang genaplah seharga yang diminta oleh wanita tadi. Setelah gambelan tersebut diperiksa dan dicoba memasangnya petani itu menjadi ragu melihat ukuran bilah-bilahnya tak rata panjang pendeknya. Melihat keraguan dari pembelinya, wanita itu lalu memberi penjelasan dan memasang serta menyusun bilah-bilahnya. Setelah tersusun disuruh mencoba memukulnya. Kemudian dijelaskan lebih lanjut bahwa susunan bilah-bilah gambelan tersebut adalah sama dengan Palih Wadah. Karena gambelan ini hanya boleh dipakai mengiringi upacara ngaben saja, Gambelan tersebut diberitahu namanya adalah Gambang. Setelah memperoleh penjelasan, dengan rasa puas petani itu pulang membawa gambelan itu. Tiada berapa jauh berjalan lalu dia menoleh wanita penjual gambelan tadi, tapi di tempat itu seolah-olah gaib saja. Setelah sampai di rumah timbulah rasa kesal kenapa membeli gambelan yang tidak bisa kita memainkan dan sama sekali tidak tahu gending atau tabuh apa yang dipakai dalam gambelan itu.

http://www.isi-dps.ac.id/berita/asal-usul-dan-sejarah-gamelan-gambang-di-banjar-jeroan-desa-tumbak-bayuh

Gong Suling

  1. Gong Suling pada dasarnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, teknik tabuh yang digunakan hampir semuanya berasal dari Gong kebyar, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Gong Suling diperkuat dengan melodi bersifat unisono oleh ricikan rebab dengan memiliki dua utas dawai yang disebut wadon dan lanang. Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kebyar, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Kesenian ini adalah salah satu kesenian tua yang ada di kabupaten Jembrana. kesenian ini hanya ditampilkan pada saat ada upacara keagamaan saja. Namun dengan perubahan jaman, kesenian ini berubah menjadi sebuah seni umum yang dipertontonkan.
    Sajian Pertunjukan
    Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan ber­jajarnya para pemain suling dengan pemain tawa-tawa, klenang dan gong pulu di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya per­kembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.
    Organologi
    Salah satu instrumen dalam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.
    Instrumen dari Gamelan Gong Suling
    Kendang
    Kendang bali berbentuk truncated/bulat panjang dan memakai hourblass atau pakelit . kendang itu dibuat dari kayu nangka, jati, atau seseh yang dibungkus dengan kulit sapi pada kedua ujung dan dicancang dengan jangat. Fungsi kendang adalah sebagai pemurba irama, mengatur cepat lambat dan perubahan dynamio/dinamika, penghubung bagian-bagian lagu, dan sebagai pembuat angsel-angsel.
    Adapun teknik permainan kendang di dalam gamelan gong suling, yaitu:
    Gegulet: jalinan antara pukulan kendang lanang dan kendang wadon.
    Cadang runtuh: pukulan yang terdapat pada muka kanan kendang wadon yang artinya mengimbangi pukulan dari kendang lanang.
    Ceng-ceng Ricik
    Ceng-ceng Ricik yaitu ceng-ceng kecil yang berfungsi untuk memperkaya rythm dan mengikuti kendang saat memberikan aksen-aksen pada suatu tabuh.
    Kajar Pelegongan
    Kajar Pelegongan adalah salah satu kajar yang teknik pukulannya mengikuti pukulan kendang lanang dan wadon.
    Timbung
    Berfungsi sebagai kajar atau penentu cepat lambat jalannya tempo dalam memainkan sebuah repertoar lagu.
    Suling Kantil
    Suling yang berfungsi seperti kantilan pada gong kebyar yaitu “ngotek”.
    Suling Gangsa atau Pemade
    Suling yang berfungsi seperti gangsa atau pemade pada gong kebyar yaitu “ngotek”.
    Suling Calung
    Suling yang berfungsi menjalankan melodi sebuah tabuh atau gending pada gamelan gong suling.
    Suling Jegog
    Suling yang memainkan nada-nada akhir dari satu kalimat gending yang bertujuan memperjelas nada-nada akhir pada sebuah kalimat tabuh.
    Gong Pulu
    Gong pulu berfungsi sebagai gong atau finalis dan bermain imbalan dengan tawa-tawa.
    Klenang
    Klenang bermain imbalan/alternating dengan instrument timbung.
    Tawa-tawa
    Tawa-tawa bermain imbalan dengan gong pulu atau sebagai semifinalis
    Laras dan Tetekep
    Laras yang dipakai dalam gamelan gong suling ialah laras Pelog dan Selendro, sesuai dengan tabuh atau lagu yang dimainkan. Masalah laras hanya terdapat pada suling, karena suling satu-satunya instrumen yang fix melody di dalam gamelan gong suling.
    Tabuh atau Gending- Gending
    Didalam Gamelan Gong Suling ada beberapa gending petegak yang biasa dimainkan, di antaranya:
    Sekar Eled
    Pangecet Subandar
    Lengker
    Godeg miring
    Sinom ladrang
    Selisir
    Dan lain-lain.

Gamelan baleganjur

Istilah Baleganjur berasal dari kata Bala dan Ganjur.Bala berarti pasukan atau barisan,Ganjur berarti berjalan.Jadi Balaganjur yang kemudian menjadi Baleganjur yaitu suatu pasukan atau barisan yang sedang berjalan,yang kini pengertiannya lebih berhubungan dengan sebuah barungan gamelan. Baleganjur adalah sebuah ensamble yang merupakan perkembangan dari gamelan bonang atau bebonangan.Baik dari segi instrumentasinya maupun komposisi lagu-lagunya.Menurut Dr.I Made Bandem dalam bukunya yang berjudul “Ensiklopedi Gamelan Bali” menulis: Bonang atau bebonangan adalah sebuah barungan yang terdiri dari berbagai instrument pukul(percussive) yang memakai pencon seperti reong,trompong kajar,kempli,kempur,dan gong. Gamelan bonang memakai dua buah kendang yang dimainkan memakai panggul cedugan. Dalam lontar Prakempa disebutkan bahwa gamelan bonang dipakai untuk mengiringi upacara ngaben.Sama kasusnya dengan gamelan baleganjur yang pada umumnya dipakai untuk mengiringi upacara ngaben.
Hampir setiap desa di Bali memiliki gamelan Baleganjur.Hal ini disebabkan karena berkembang pesatnya Gong Kebyar di seluruh Bali.Karena sebagian dari instrument kebyar dapat digunakan sebagai ensambel baleganjur.Hanya perlu ditambahkan instrument cengceng kopyak(semacam symbal),sebuah bebende(semacam tambur cina),dan sebuah tawa-tawa yang bertugas memegang matra.
Instrument pada barungan baleganjur:
1 buah kendang lanang
1 buah kendang wadon
4 buah reong(Dong,Deng,Dung,Dang)
2 Ponggang(Dung,Dang)
8-10 buah cengceng
1 buah kajar
1 buah kempli
1 buah kempur
1 pasang gong(lanang’wadon)
1 buah bende
Seperti telah disebutkan diatas bahwa gamelan baleganjur pada awalnya difungsikan sebagai pengiring upara ngaben atau pawai adat dan agama.Tapi dalam perkembangannya,sekarang peranan gamelan ini makin melebar.Kini gamelan baleganjur dipakai untuk mengiringi pawai kesenian,ikut dalam iringan pawai olah raga,mengiringi lomba laying-layang,dan ada juga yang dilombakan.
Meluasnya peranan baleganjur dari fungsi semula sebagai pelengkap upacara adat dan agama,atau pawai non ritual,mungkin disebabkan oleh tuntutan dan kebutuhan para pendukungnya,dalam dialektikanya dengan perkembangan nilai dan zaman.Tapi fenomena ini memberikan nilai positif bagi perkembangan gamelan baleganjur ini.Sebab,menurut Dr.edy Sedyawati,pengembangan lebih mempunyai konotasi kuantitatif daripada kualitatif;artinya membesarnya,dan meluasnya.Dalam pengertian kuantitatif itu,pengembangan seni traditional Indonesia berarti membesarkan penyajiannya atau meluaskan wilayah pengenalannya.Tapi bagaimanapun juga perkembangan suatu seni budaya berarti kita berbicara suatu proses.Sebab konsep suatu bentuk kesenian jelas tidak hanya mengacu secara horizontal saja,namun juga mengarah kepada perkembangan secara vertical.Ini berarti kualitas juga menjadi tujuan.Tahap perkembangan dan kondisi yang dialami gamelan Baleganjur itulah yang dijadikan modal dalam pengembangan gamelan ini untuk meraih kualitas yang lebih baik.Atau dengan adanya modal ini,harapan untuk mencapi tujuan kualitas tentu lebih terbuka.
Di dalam pengembangan traditional Indonesia,kita telah memiliki landasan yang kuat yang termuat dalm undang-undang dasar 1945 pasal 32.Bertolak dari landasan yang telah digariskan tersebut,dalam memajukan kebudayaan nasional Indonesia,Prof.Dr.Haryati Soebadio,merumjuskan yaitu : melestarikan apa yang dianggap sebagi puncak-puncak kebudayaan nasional yaitu yang berkembang didaerah-daerah sepanjang sejarah.Mendorong ciptaan-ciptaan baru sebagai pengembangan unsure-unsur tradisional.Mendorong ciptaan yang sama sekali baru (inovasi) tanpa merujuk unsure-unsur tradisional,dengan mengingat bahwa kita sudah perlu diperhitungkan manusia Indonesia yang modern.Dan tidak menolak unsure-unsur asing yang dapat memperkaya kebudayaan nasional.
Munculnya drumband tradisional Adi Merdangga jelas dilandasi keinginan melahirkan ciptaan baru sebagai pengembangan unsur-unsur tradisional dan tidak menolak unsure-unsur asing yang dapat memperkaya kebudayaan nasional.Adi merdangga pada dasarnya memang berangkat dari pengembangan nilai tradisional dari gamelan baleganjur,yang idenya dipengaruhi oleh seni dan budaya barat yaitu “Drumband”.
Dalam sector kesenian,kita tidak perlu takut mengambil konsep kesenian dari barat.Sebab,tidak selalu yang namanya kesenian Indonesia harus memakai konsep yang ada di Indonesia.Bentuk-bentuk materialnya bisa saja berubah,tetapi secara ideologis harus mencerminkan ke-Indonesiaan.
Drumband traditional adi merdangga yang dikembangkan dari gamelan Baleganjur merupakan wujud nyata dari keterbukaan budaya kita.Adi merdangga adalah suatu kreativitas seni yang mencoba mengangkat nilai tradisi menjadi sesuatu yang tidak statis.Mendinamiskan nilai tradisi menjadi sesuatu yang luwes sesuai dengan tuntutan kemajuan.Sebab,pekerjaan-pekerjaan kebudayaan Indonesia akan menemui kesulitan apabila masyarakat-masyarakatnya tidak bersifat kreatif terhadap tradisi.Tradisi bukanlah sesuatu yang mati.Seharusnya ia adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehidupan/perkembangan zaman.

Gamelan Baleganjur Banjar Petapan Kelod

Banjar Petapan Kelod merupakan wilayah kecil yang termasuk dalam Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Sebagai daerah yang sebagian besar warganya beragama Hindu, maka dapat dipastikan kegiatan upacara yadnya sering dilaksanakan. Untuk mendukung upacara yadnya tersebut biasanya difungsikanlah gamelan Baleganjur untuk mengiringi upacara yadnya tersebut. Namun, Banjar Petapan Kelod ini belum memiliki gamelan tersendiri. Biasanya Banjar Petapan Kelod ngupah sekehe Baleganjur Desa Pergung atau banjar lain yang ada di Desa Pergung dan ngupah sekehe-sekehe lain di luar Desa Pergung.
Menurut Nyoman Sudiarsana, warga masyarakat merasa terbebani dengan tidak adanya gamelan untuk menunjang upacara yadnya. Warga masyarakat juga mengeluh jikalau ngupah sekehe di luar banjar karena biayanya relatif agak mahal.
Menurut Nyoman Sudiarsana, untuk menunjang upacara yadnya, maka pengurus banjar berinisiatif untuk mengajukan proposal pembelian Baleganjur di Banjar Petapan Kelod kepada pengurus Desa Pergung. Karena alasan untuk kepentingan yadnya, maka disumbangkanlah dana untuk pembelian Baleganjur oleh pengurus desa. Pada tahun 2005, Banjar Petapan Kelod dibelikan seperangkat alat Baleganjur oleh pengurus banjar dengan uang yang didapat dari sumbangan desa tersebut. Seperangkat alat Baleganjur tersebut di beli dengan harga Rp. 12.000.000,00 di Gianyar. Banjar Petapan Kelod memiliki seperangkat barungan Gamelan Baleganjur yang terdiri dari:
1. 2 buah Kendang
2. 1 buah Tawa-tawa
3. 2 buah Ponggang
4. 4 buah Reong
5. 8 buah Ceng-ceng
6. 1 buah Kempur
7. 1 buah Gong
Dilihat dari instrumennya, gamelan Baleganjur ini termasuk kurang lengkap karena kekurangan instrumen Gong, Bebende, dan Kempli. Kekurangan ini terjadi karena dana yang diberikan hanya cukup untuk membeli gamelan Baleganjur yang kurang lengkap dan juga gamelan Baleganjur ini hanya digunakan untuk kepentingan upacara yadnya di daerah Banjar Petapan Kelod saja dan tidak dipergunakan untuk lomba, maka kekurangan ini tidak menjadi masalah.
Setelah gamelan Baleganjur dibeli, dibentulklah sekehe Baleganjur dengan nama Dharma Santi. Menurut Nyoman Sudiarsana, jumlah anggota sekehe kurang lebih 25 orang dan kebanyakan sekehe Baleganjur ini adalah orang tua, hanya sepertiga saja yang usianya masih remaja. Pada awal latihan, sekehe ini dilatih di Balai Banjar oleh I Wayan Patra dari Desa Tegalcangkring. I Wayan Patra memberikan materi Tabuh Tegak, Tabuh pejalan, dan Tabuh untuk orang ngaben. Sekehe Dharma Santi ini memiliki susunan pengurus, yaitu:
1. Ketua : Ketut Suarken
2. Sekretaris : Nyoman Sudiarsana
3. Bendahara : Putu Suarnita
Menurut Nyoman Sudiarsana, warga masyarakat sangatlah merasa terbantu dengan adanya sekehe Baleganjur ini karena warga yang sedang mengadakan upacara yadnya tidak susah untuk mencari sekehe baleganjur di luar Banjar Petapan Kelod. Warga masyarakat yang mempunyai kesenangan bermain gamelan juga dapat tersalurkan hobinya dengan ikut sekehe Baleganjur ini. Dibandingkan dengan waktu belum memiliki gamelan Baleganjur, warga masyarakat sangatlah susah untuk mencari sekehe Balegnjur, karena harus ngupah sekehe lain di luar banjar.
Dengan pengamatan dan pengalaman langsung dari saya, gamelan Baleganjur ini di beli untuk menunjang acara upacara yadnya yang berlangsung di Banjar Petapan Kelod, seperti Pitra Yadnya (ngaben), Melasti, dan Mebeji (mengantarakan Pretima ke Pura Taman). Setiap 1 tahun sekali, pada hari raya Nyepi, gamelan Baleganjur juga dipakai untuk mengiringi ogoh-ogoh pada saat pengrupukan. Selain itu Gamelan Baleganjur ini di beli untuk memajukan kesenian dan melestarikan budaya Bali khususnya dalam bidang seni Karawitan.