tari kecak

Tari Kecak merupakan salah satu tari Bali yang paling populer yang diciptakan pada tahun 1930-an. Tarian ini dimainkan oleh puluhan atau lebih penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua tangan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Kata Kecak sendiri, konon diambil dari seruan mereka ketika menari yaitu “cak-cak-cak”, dan lama kelamaan menjadi Kecak. Kecak berasal dari ritual Sanghyang, yaitu tradisi dimana penarinya dalam keadaan tidak sadar karena melakukan komunikasi dengan Tuhan, atau roh para leluhur yang kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Pada tari kecak tidak menggunakan alat musik dan hanya menggunakan kincringan yang dikenakan pada kaki para penari yang sedang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sedangkan para penari yang duduk melingkar mengenakan kain kotak-kotak yang melingkari pinggang mereka. Tari kecak ini di ciptakan pada tahun 1930-an oleh Wayan Limbak dan dengan seorang pelukis Jerman Walter Spies. Tarian ini menjadi populer ketika Wayan Limbak bersama penari Bali-nya tour berkeliling dunia mengenalkan tarian Kecak tersebut. Hingga kini tari kecak menjadi tarian seni khas Bali yang terkenal dan dipentaskan setiap hari.

Keunikan : Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari Mahabarata.
Namun rekor ini dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000 penari pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali, Tari Kecak juga sering disebut dengan “The Monkey Dance”.

Alur Cerita Tari Kecak secara singkat dapat diceritakan sebagai berikut:

Adegan I
Rama, Sita dan Laksmana memasuki arena. Lalu muncul kijang emas, meminta Rama untuk menangkapnya. Rama meninggalkan Sita yang dijaga oleh Laksmana. Tiba-tiba terdengar jeritan minta tolong. Menurut Sita, itu pasti suara Rama, lalu Sita menyuruh Laksmana untuk membantunya. Karena dituduh hendak mencari untung atas kematian Rama, Laksmana naik pitam dan pergi meninggalkan Sita seorang diri.
Adegan II
Rahwana muncul mau menculik Sita namun tak berhasil. Tetapi dengan akal jahatnya Rahwana berubah wujud menjadi Bhagawan (orang tua) yang sedang kehausan dan minta diambilkan air oleh Dewi Sita. Setelah dibawakan air, lalu Sita dibawa lari oleh Bhagawan tersebut yang sebenarnya adalah Rahwana. Sita lalu menjerit minta tolong dan jeritannya tersebut didengar oleh Burung Garuda yang sedang terbang diangkasa, lalu Garuda menolong Sita. Namun pertolongannya tidak berhasil karena sayapnya putus ditebas oleh Rahwana. Sita pun dibawa kabur ke Alengka Pura oleh Rahwana.
Adegan III
Dengan ditemani abdinya, Rama dan Truna Laksmana yang sedang tersesat di hutan Ayodya Pura. Ingat dengan istrinya yaitu Dewi Sita yang dibawa kabur oleh Rahwana ke Alengka Pura. Laksmana dibantu oleh Hanoman (Sang Kera Putih) membawa cincin Rama ke Alengka Pura untuk diberikan Dewi Sita.

Adegan IV
Dengan ditemani Trijata keponakan Rahwana, Sita meratapi nasibnya di Taman Istana Alengka. Hanoman (Si Kera Putih) muncul, ia berkata bahwa ia adalah utusan Sang Rama dan ia pun memperlihatkan cincin Rama yang dibawanya. Sita lalu menyerahkan bunga untuk diserahkan kepada Rama dengan pesan agar Rama segera menyelamatkannya. Dan Hanoman pun langsung pergi menuju Taman Alengka Pura, lalu mengobrak-abrik sampai tak terbentuk. Para Abdi Alengka Pura terkejut melihat keadaan yang sudah parah dan langsung menyuruh para raksasa untuk mencari Si pembuat onar tersebut dan Hanoman pun tertangkap lalu diikat dan dibakar. Namun karena kesaktiannya Hanoman akhirnya lolos dari maut dan Sita pun dapat diselamatkan.
Ditambahkan oleh TariKecak.com, Tarian Kecak ini bisa ditemukan di beberapa tempat di Bali, tapi yang di Uluwatu adalah yang paling menarik untuk ditonton karena atraksinya bersamaan dengan sunset atau matahari tenggelam.

 

kecak diciptakan pada tahun 1930-an oleh Wayan Limbak yang bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Selain kisah Ramayana, ada beberapa judul dan tema kecak yang sering dipentaskan seperti :
– Kecak Subali dan Sugriwa, diciptakan pada tahun 1976.
– Kecak Dewa Ruci, diciptakan pada tahun 1982.
Keduanya merupakan hasil karya dari Bapak I Wayan Dibia.
Sejarah tari kecak berasal dari Bali ini, pengertian tari kecak biasanya disebut sebagai tari “Cak” atau tari api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari “Lakon Pewayangan” seperti Rama Sita dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan upacara lainnya.

Fungsi dan tujuan tari
tari sebagai upacara
fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan bagian dari tradisi yang ada dalam suatu kehidupan masyarakat yang sifatnya turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya sampai masa kini yang berfungsi sebagai ritual.

tari sebagai sarana hiburan
salah satu bentuk penciptaan tari ditujukan hanya untuk di tonton. Tari ini memiliki tujuan hiburan pribadi lebih mementingkan kenikmatan dalam menarikan
tari sebagai sarana pertunjukkan
tari pertunjukkan adalah bentuk momunikasi sehingga ada penyampai pesan dan penerima pesan. Tari ini lebih mementingkan bentuk estetika dari pada tujuannya. Tarian ini lebih digarap sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat
tari sebagai sarana pendidikan
tari yang digunakan untuk sarana pendidikan dengan mengajarkan di sekolah – sekolah formal.

Keunikan tari kecak
Tidak seperti tari bali lainnya menggunakan gamelan sebagai musik pengiring tetapi dalam pementasan tari kecak ini hanya memadukan seni dari suara – suara mulut atau teriakan – teriakan seperti “cak cak ke cak cak ke” sehingga tari ini disebut tari kecak.
Nama kecak adalah sebuah nama yang diambil dari suara yang keluar dari iringan tari tersebut yang berdendang “Cak ” yang di dendangkan secara terus menerus,dimana suara “cak” ini memiliki arti yamg sangat signifikan di dalam pementasan tarian ini. Mayoritas pemain tari kecak adalah laki-laki yang jumlahnya bisa mencapai puluhan. Tari Kecak juga sering disebut dengan “The Monkey Dance”. Sekarang ini tari kecak sudah sangat populer baik di kalangan masyarakat Indonesia maupun di kalangan Turist asing. Boleh di katakan salah satu kebudayaan asal indonesia ini telah mendunia dan bertaraf internasional. Tari Kecak sendiri mulai populer di mancanegara sejak tahun 1970’an ketika Wayan Limbak berkeliling dunia untuk mempromosikan tari ini.
Nilai Religius Masyarakat Bali mempercayai Tari Kecak sebagai salah satu tarian ritual memanggil dewi untuk mengusir penyakit dan juga sebagai sarana pelindung dari kekuatan jahat. Dalam hal ini masyarakat Bali sangat mempercayai Dewinya untuk melindungi dirinya dari ancaman-ancaman. Dewi yang biasanya dipanggil dalam ritual ini adalah Dewi Suprabha atau Tilotama.
Nilai estetika Gerakan Tari kecak yang sangat indah dan sangat khas dan unik menjadi alasan saya menjadikannya sebagai sebuah nilai estetika. Selain itu, unsur gerak dan bunyi yang menjadi ciri khas Tarian Kecak merupakan bagian yang paling sederhana yang dilakukan secara seragam dan bersamaan sehingga menjadi filosofi penting atas terjadinya persaudaraan yang universal.



Tinggalkan Balasan