SELAYANG PANDANG BANJAR ADAT TUMBU KALER KARANGASEM

 

 

  • Sejarah Perjuangan bangkitnya Banjar Adat Tumbu Kaler Karangasem

 

Dari  geografis letak Banjar Adat Tumbu kaler Kaler Karangasem adalah di Desa Tumbu bagian utara yang terdiri dari dataran rendah.dan di sebelah selatan Banjar selatan banjar adat tumbu kelod dengan sawah dan laut.pencaharian penduduk pada umumnya di Desa Tumbu ada pertanian di sawah dan tegalan berdagang serta anyaman tikar dimana kalau dilihat dari inkam perkapita dari kebanyakan penduduknya dapat digolongkan miskin namun beberapa dianggap mampu dilihat dari segi ekonomi.mengenai hal Pemerintahan di Desa Tumbu adalah Pemerintahan yang dipimpin oleh kelian Desa Tumbu yang berbau dengan cara-cara aotoriter dan feodal.

  1. 1.        Dimulainya Perjuangan .

A. Kejadian sosial seperti bantuan kepada orang yang mempunyai kedudukan, tidak ada yang meperhatikan terutama keluarga yang tidak mampu,maka ada organisasi  sosial yaitu yang dipimpin oleh I Wayan Kayua dan Anggota dari warga Tempek Kaler turut pula tempek kaler turut pula dari tempek selatan seperti I Ketut Gerti, I Wayan Lugra yang ikut menghimpun sumbangan warga melaksanakan bantuan yang diberikan kepada keluarga yang memerlukan saat ada keluarga kematian hal ini dibuktikan saat Bapa Binder,I bengkok, dan I Jengker Meninggal Dunia.

  1. B.  Pada awal Nopember 1950 bertempat di Pamereman Dadia I Komang Rindi Krama Desa tempek kaler melaksanakan rapat umum yang pipmpi Kelian I Wayan Sarba dimana membicarakan mengenai patus kematian yang dikenakan kepada anggota Banjar untuk membantu/meringankan bagi keluarga yang kedukaan.

C. Beberapa orang yang melopori dengan kata – kata kalu sudah siap membangun siap untuk menyumbangkan beberapa bahan bangunan seperti :

  1. 1.  I Nengah Repi menyumbang 3 pohon kelapa dan dapat dipilih ladangnya.

2. Bapa Dapan menyumbang pohon kelapa dan palpalan.

3. Dan lain – lain banyak lagi yang tidak ingat namanya.

  1. D.  Pada awal tahun 1951 dalam menindak lanjuti hasil pararemanDadia ( I Komang Rindi ). I Komang Gejer sebagai Pemimpin sekeha Joged  yang dipimpinnya adalah milik Banjar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak tertentu. Dalam usaha ini melalui kesenian Joged menjalin hubungan dengan Sekeha Joged Seraya Kauh yang dipimpin oleh I Ketut Pelego dengan demikian persatuan ini betul- betul mengglegar seantero Tumbu dan Seraya Kauh. Dengan suasna yang demikian penuh dengan heroik dimana-mana membicarakan rencana ini sehingga seluruh warga tempek kaler betul- betul demam banjar.

 

  1. 2.       Berdirinya Banjar Adat Tumbu Kaler.

Masih di Tahun 1951, dimana kegiatan penggalian dana secara aktif menunjukkan kegiatannya, maka dibuat/dibangunlah sebuah Sanggah patokan disebelah utara dengan bergaris pinggir dengan tengah lokasi menghadap ke selatan sebagai Pelinggih Betara Penyarikan yang antara lain adalah manifestasinya Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penuntun umatnya (krama banjar) dalam menjalankan tugas dari tahapan-tahapan hidupnya.

Dengan dibangun Sanggah Patokan tersebut yang disusul dengan  pembentukan pengurus sebagai berikut :

–          I Wayan Sarba sebagai Kelian Banjar/Desa Tempek Kaler.

Pengurus sebanyak 5 orang  dengan Pengerahan tenaga I Ketut Tubuh penggali dana I Wayan Wanta, seksi perlengkapan dan pembantu serta seorang penasehat dengan jumlah semua 11 orang.Pengurus yang dibentuk bersama warga untuk memudahkan mengatur strategi selanjutnya sepakat untuk mengadakan Paruman setiap sebulan sekali dengan memilih waktu Redite Klliwon yang sedia menjalankan peran tugas serta fungsinya untuk melaksanakan Pasuka dukaan ngemong Gama Pati Urip maka demikian berdirilah Banjar Adat Tumbu Kaler sebagai tindak lanjut Desa Tempek Kaler yang disambut gembira ria oleh warga masyarakat yang bergabung dengan dengan para pengurus yang selanjutnya akanmemperjuangkan pembangunan fisik dan meperjuangkan hak Banjar kepda Desa. Pada saat itu beberapa warga dari banjar Kebon datang ke Banjar Kaler itu berpatisipasi dan mendukung gerakan dengan berdirinya Adat Tumbu Kaler.

 

  1. 3.       Sekeha Adat.

Pada akhir tahun 1952 pada saat Paruman Desa dari Banjar Tumbu Kaler dengan gigih memperjuangkan dalam usulan-usulan supaya Sekeha adat dua untuk Banjar Kaler dan Banjar kelod, sedangkan setengahnya diserahkan ke Desa Adat dengan 1 Barung Gongdan seperangkat Gamelan Gender. Hal ini melalui proses yang panjang dengan situasiada yang pro dan kontra.

Dari situasiyang memang sudah ada bibit pertentangan maka Sekeha Adat pun diwarnai dengan perbedan-perbedaan pendapat sehingga warga atau anggotaBanjar Tumbu Kelod seperti I Wayan Gomboh dan I NYoman Rai masuk Adat Tumbu Kaler dan setelah melalui proses perkembangan warga masyarakat maka kepemilikan Sekeha Adat ini masuk menjadi milik Banjar Adat Tumbu Kaler yang menjadi sumber untuk bantuan dana bagi Banjar Adat Tumbu Kaler dikemudian.

 

  1. 4.       Piodalan Banjar Pertama.

Januari 1955 dengan selesainya semua bangunan Banjar Tumbu Kaler dimana saat Paruman Banjar Adat,Warga dengan penuh semangat mengadakan usul :

  1. A.      Melaspas
  2. B.       Mendem daging
  3. C.       Ngenteg linggih
  4. D.      Ngodalin/mecaru
  5. E.       Mapesta

Krama Banjar dengan suara bulat dan termasuk pula yang bersangkutan yang memiliki sawah, ladang, dan ladang kelapa untuk meminjamkan dana menyutujui penuh dengan kerelaan karena dmikian bersoraklah wargayang sanngup dengan gagap gempita penuh girang,kmi lanjutkan rapat ini dengan menyampaikan berita tentang niat dari Bapa Galungan ( Desa Adat dari Tempek Selatan ) yaitu :

Bapa Galungan rela besedia untuk memberikan pinjaman kepada Krama Banjar kaler bila kurangan untuk biaya ngaturang piodalan berupa padi dengan uang 10 ringgit perak.boleh dikembalikan kemudian saat Banjar sudah mampu untuk dikemblikan kemudian pada saat banjar susdah mampu untuk mengmbalikannya, karena sudah bulat keinginan Krama dan semua sudah lega dari kesulitan maka bubarlah payuruman itu dengan masig-masing pulang dengan penuh senyum.

Pada esok harinya kami mengadakan koordinasi ke Tibulaka menerangkan pada hari Purnama sasih ke VII yang datang akan melaksanakan sesuai rencana yang tertera dimuka dan mendapat smabutan yang penuh gembira  karena sudah lama berpisah tak ada hubungan.

Pada Purnama bulan Januari sasih ke VII kami menyelenggarakan Upacara Piodalan I sesuai dengan urutan rencana karya diatas dan sesuai pula dengan karya Pujawali yang biasa berlaku didahului Melasti ke pantai ujung. Pada waktu itu pulalah kejadian yang tidak dapat dilupakan,berpesta pora bersama Pemedek dari Tibulaka tanpa kecuali/bersama menyuapi diri tidak lupa kami mengundang Punggawa (camat) A.A. Ketut Jelantik datang ke banjar Tumbu kaler untuk menyaksikan dan kami mohon agar Beliau memberikan Wejangan untuk menetapkan Upacara tersebut. Odalan dilaksanakan 3 hari dengan penuh ras bakti yang tulus dan pada malam hari selama 3 hari itu semua tempat yang dapat ditempati penuh dengan Pemedek ngaturang Mekemit.

Kejadian-kejadian yang penuh heroik romantisnya,tragedi,suka duka berbaur dengan penuh keharuan lulu menyatu,maka lahirlah Banjar Adat Tumbu Kaler.

Demikian kisah perjuangan dari warga masyarakat Desa Tumbu Tempek Kaler yang berubah menjadi Banjar Adat Tumbu Kaler mencapai cita-cita bebas dari segala tekanan yang penuh heroik.

 

 



Tinggalkan Balasan