Pura petitenget

Pura Petitenget Bali

Dulunya Hanya Sebuah Hutan Angker

Seminyak perlahan tapi pasti mengikuti jejak terkenal yang telah diambil oleh Kuta dan Legian dimana keramaian perlahan-lahan mulai mengisi wilayah tersebut dan beberapa tempat yang menarik menawarkan kualitas bintang lima di Petitenget, daerah yang dekat dengan Seminyak. Petitenget adalah sebuah pura berbau magis di daerah pantai nan eksotis berpasir emas di Banjar Batu Belig, Kerobokan, Kuta Utara, Bali.

Sejarah tempat ini tidak begitu terkenal seperti yang kita bayangkan dari cerita-cerita saat ini. Peti memiliki artian dari peti yang sebenarnya dan Tenget berarti angker. Pura ini dibangun pada abad ke-15, dan sejarah menyebutkan bahwa tempat ini merupakan wilayah alam liar yang dipenuhi semak dan pohon-pohon besar.

Sejarah Pura dimulai ketika Pendeta yang bernama Dang Hyang Dwijendra meninggalkan Pulau Serangan dan tiba di sebuah desa yang sekarang dikenal sebagai Kerobokan. Di desa beliau melihat bayangan berukuran raksasa bersembunyi di balik semak-semak. Beliau menyebut bayangan tersebut Bhuta Ijo, anak dari Bhatara Labuhan Masceti. Bhuta Ijo adalah roh yang diyakini memiliki wajah yang sangat menakutkan.

Sebelum Pendeta tersebut meninggalkan desa, ia memberi Bhuta Ijo kotak seperti peti dan memintanya untuk menjaga kotak tersebut. Setelah beberapa saat selama meditasi di Pura Uluwatu, Dang Hyang Dwijendra memiliki pengunjung dari Desa Kerobokan yang datang untuk meminta bantuan. Orang-orang dari desa mengatakan kepada Dang Hyang Dwijendra tentang tanah di dekat desanya yang sangat misterius karena setiap kali seseorang mencoba memasuki tanah tersebut, orang yang bersangkutan akan jatuh sakit. Sebagai solusinya, Dang Hyang Dwijendra kepada orang tersebut agar membangun Pura dan melakukan persembahan di Pura tersebut. Jadi Pura dibangun di daerah tersebut dan ajaibnya berhasil membuat daerah itu menjadi lebih ramah terhadap penduduk. Pura itu kemudian disebut Pura Petitenget Tidak ada suasana menyeramkan lagi, terutama saat ini, ketika Pura ini dikelilingi oleh villa, hotel, dan restoran.

Di depan Pura sendiri tempat parkir luas yang dijaga oleh pecalang (komunitas keamanan lokal). Tempat parkir mobil banyak digunakan oleh pengunjung yang datang ke pantai berpasir putih ini di depan Pura untuk jogging, berjemur, atau hanya sekedar melihat-lihat. Warga desa Kerobokan sebagai warga utama dari pura ini. Pura ini dibangun di sebidang tanah yang lebih tinggi dari pada tanah di sekitarnya.

Di sebelah Barat pura terbentang pantai Petitenget yang indah. Karena ombak di pantai Petitenget cenderung tinggi, banyak para peselancar yang merasa tertantang menaklukkan gulungan ombak yang ada di pantai ini. Disini Anda dapat melihat serunya para peselancar baik peselancar lokal maupun asing menyatu dengan gulungan ombak. Anda juga dapat menikmati pantai dengan berenang ataupun bermain air. Lokasi pantainya pun sangat bersih sehingga para wisatawan menjadi lebih nyaman menikmati keindahan pemandangan pantai.

Di pantai ini anda juga dapat menikmati keindahan matahari terbenam yang indah. Pada Hari Melasti/Mekiyis, pantai ini merupakan tempat untuk Melis bagi warga desa adat Kerobokan, Padangsambian serta Dalung. Upacara Piodalan di Pura Petitenget jatuh pada hari Rabu, Wage, wuku Merakih . Piodalan ini datangnya setiap 6 bulan (210 hari) sekali menurut perhitungan kalender Bali.

 

 

 

 

 

 

 

INSTRUMEN REBAB

     Alat musik tradisonal rebab adalah jenis alat musik yang di gesek dan mempunyai tiga atau dua utas tali dari dawai logam (tembaga) ini badannya menggunakan kayu nangka dan berongga di bagian dalam ditutup dengan kulit lembu yang dikeringkan sebagai pengeras suara.Alat ini juga digunakan sebagai pengiring gamelan, sebagai pelengkap untuk mengiringi sinden bernyanyi bersama-sama dengan kecapi. Dalam gamelan Jawa, fungsi rebab tidak hanya sebagai pelengkap untuk mengiringi nyanyian sindhen tetapi lebih berfungsi untuk menuntun arah lagu sindhen. sama juga yang di pake tradisi musiksunda.Sebagai salah satu dari instrumen pemuka, rebab diakui sebagai pemimpin lagu dalam ansambel, terutama dalam gaya tabuhan lirih. Pada kebanyakan gendhing-gendhing, rebab memainkan lagu pembuka gendhing, menentukan gendhing, laras, dan pathet yang akan dimainkan. Wilayah nada rebab mencakup luas wilayah gendhing apa saja. Maka alur lagu rebab memberi petunjuk yang jelas jalan alur lagu gendhing. Pada kebanyakan gendhing, rebab juga memberi tuntunan musikal kepada ansambel untuk beralih dari seksi yang satu ke yang lain.

Rebab merupakan salah satu nama tungguhan atau instrumen gesek yang digunakan dalam jenis-jenis barungan gamelan yang terdapat di daerah-daerah tertentu seperti di daerah bali, jawa timur, jawa tengah, jawa barat, sumatra, dan sebagainya.Di jawa barat terdapat 2 bentuk instrumen gesek, yaitu Rebab dan Tarawangsa. Kedua instrumen gesek tersebut mempunyai ukuran yang berbeda, yaitu relatif lebih besar instrumen tarawangsa dari pada instrumen rebab. Selain ukuran yang berbeda, warna suaranya juga berbeda karena menggunakan membran yang bahannya berbeda.Tungguhan rebab dalam jenis-jenis barunganV  gambelan tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda terutama dari segi musikal. Misalnya dalam barungan gamelan pegambuhan , tungguhan rebab merupakan salah satu tungguhan yang menggarap atau menyajikan melodi atau gending pada seluruh sajian gending/repertoar.

Dalam barungan gamelan pegambuhan selain tungguhan rebab yang menggarap atau menyajikan juga tungguhan suling yang berukuran besar atau sering disebut suling pegambuhan (suling gambuh). Sedangkan tungguhan rebab pada jenis-jenis barungan gamelan lainnya, peranan rebab tidak seperti barungan gamelan pegambuhan, yaitu lebih menekankan pada pemantapan hasil sajian suatu gending atau sering juga disebut oleh masyarakat luas adalah untuk memaniskan sajian gending (wawancara Wayan Berata tanggal 26 juni 1998). Dalam barungan gamelan ini (selain barungan gambelan pegambuhan) tidak semua sajian gending atau bagian gending yang menggunakan tungguhan rebab seperti dalam gending-gending gong kebyar, pada bentuk atau bagian gending kebyar, bebelat, sajian tabuhan tunggal. Meskipun peranan tungguhan rebab dalam jenis-jenis barungan gamelan tersebut hanya terbatas untuk memaniskan sajian gending tapi dapat mentukan kualitas sajian gending secara menyeluruh.dengan memperhatikan peranan rebab dalam jenis-jenis barungan gamelan tersebut di atas, maka keberadaan tungguhan rebab sangat dibutuhkan. Kalau diamati kehidupan tungguhan rebab di bali sekarang ini dapat dikatakan  suatu keharusan dan tidak mendesak. Anggapan ini dapat dibuktikan bahwa jenis-jenis barungan gamelan tersebut diatas sering tidak atau jarang menggunakan tungguhan rebab. Hal ini diantaranya disebabkan  kurangnya pengrebab sehingga dianggap tidak mempunyai peranan atau tidak sebagai keharusan seperti penggunaan tungguhan kendang, gong, dan jenis tungguhan lainnya. Dengan melihat kehidupan tungguhan rebab seperti itu, kita merasa prihatin sehingga tungguhan rebab di bali posisinya terletak diambang kepunahan.

Instrumen melodis lain dalm gamelan Pegambuhan adalah rebab. Rebab merupakan satu-satunya warga cordophone dalam gamelan Pegambuhan, instrumen melodis yang dimainkan secara unisono dengan suling. Alat gesek sejenis biola ini bentuk fisiknya terbagi menjadi lima bagian pokok yaitu kepala (bagian atas), bantang (badan penghubung), batok (badan utama), dongkrak (bagian bawah), dan sebuah pengaradan (penggesek).

Bagian kepala terdiri dari menur dan puntja (hiasan), kuping rebab yang terdiri dari klengan, kembang wong (alat pengatur ketegangan senar), dan irung-irung (lobang tempat memasukan senar dari kebagian kepala). Bantang merupakan yang menghubungkan badan utama dan kepala, dan bagian ini tempat memainkan nada dengan mengatur tutupan senar-senar yang melaluinya. Sementara senar yang berada pada bantang dimainkan dengan melepas dan menekan, senar yang berada pada bagian badan utama digesek dengan alat gesek (pengaradan). Badan utama atau batok biasanya terbuat dari batok kelapa ditutupi dengan membran yang terbuat dari babad kebo (kulit usus kerbau), direntangkan pada bagian depan badan utama. Sekarang ini rebab Bali yang terbuat dari batok kelapa sudah jarang digunakan, rebab Pegambuhan selalu didatangkan dari jawa. Rebab jawa badan utamanya terbuat dari kayu dan ukurannya relatif besar, yang ini tentu berdampak pula terhadap kualitas suara yang dihasilkan. Dongkrak adalah tangkai bagian bawah yang berfungsi sebagai kaki, sedangkan pengaradan terdiri dari batang dan arad (bulu-bulu plastik)

Senar rebab terbuat dari kuningan (biasanya dua buah) dipasang merentang dari bagian badan bawah hingga kepala. Senar ini ditegangkan dengan sebatang kayu yang disebut penyanteng, sedangkan untuk mengatur ketegangan yang berhubungan dengan tinggi rendahnya suara diatur dengan memutar kuping rebab.

 

 

 

BENTUK DAN NAMA-NAMA BAGIAN REBAB

 

Dilihat dari segi bentuknya, tungguhan rebab bali terdapat kekhususan dalam hal bebetan, ukuran dan pontang. Di bali terdapat beberapa bentuk rebab yang perbedaanya terdapat pada bebetannya dan juga bagian batoknya yang berfungsi sebagai resonator. Perbedaan batok rebab terletak pada bentuk maupun bahan yang di gunankan. Batok dibuatb dari kayu atau tempurung kelapa.

Nama-nama bagian rebab di bawah ini :

  1. Menur
  2. Kuping
  3. Irung-irung
  4. Bantang
  5. Kawat
  6. Bebetan
  7. Penyanteng
  8. Jejebug
  9. Batok
  10. Babad
  11. Batis
  12. Gegemelan
  13. Pengaradan
  14. Gondorukem / harpus

KARAWITAN

KARAWITAN

 

Pengertian Karawitan

            Kata karawitan berasal dari suku kata “rawit” yang artinya kecil, rumit, indah. Jadi kata karawitan berarti seni musik daerah yang terdapat diseluruh nusantara dengan berlaraskan pelog dan selendro. Apabila kita amati salah satu media utama dari seni karawitan adalah suara, sehingga pengertian awal dari seni karawitan tersebut adalah seni suara. Dari pengertian awal ini selanjutnya dapat dikembangkan menjadi pengertian yang lebih spesifik, seperti:

  1. Seni Karawitan adalah seni suara yang disajikan menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi dan sifat nada dan mempunyai aturan garap dalam sajian instrumental, vokal, dan ampuran.
  2. Seni Karawitan adalah ukapan jiwa manusia yang dilahirkan melalui nada-nada yang diatur berirama, berbentuk, selaras enak di dengar baik secara vokal, instrumental maupun campuran.
  3. Seni Karawitan adalah seni suara (vokal), instrumental, maupun campuran yang menggunakan nada-nada yang sudah teratur tinggi rendahnya, serta berirama.

Berbicara musik daerah (seni karawitan) yang ada di Indonesia sangat beragam bentuk, cirinya, dan masih terasa sulit untuk menyebutkan secara pasti jumlahnya, oleh karena begitu banyak beraneka ragam bentuk-bentuk yang ada di masing-masing daerah. Berdasarkan beberapa pengertian karawitan di atas, maka dapat disumpulkan sebagai unsur pokok/utamanya adalah suara atau bunyi. Selain unsur utama karawitan itu bunyi, terdapat juga unsur-unsur yang lain seperti:  Nada, Melodi, Harmoni, Warna nada, Interval, Dinamika, Tangga nada, Tempo,  Irama,  Intonasi. Melodi adalah rangkaian atau susunan nada-nada menurut tinggi rendah yang teratur dan berirama. Harmoni merupakan kesesuaian nada yang satu dengan nada yang lainnya dimana dalam memadukan dua buah nada dalam ilmu karawitan ada yang dinamakan ngepat dan ngempyung. Warna Nada atau Timbre artinya sumber dari suatu bunyi yang berbeda tetapi dapat menimbulkan tinggi suara yang sama. Interval dakam istilah karawiran disebut suarantara atau seruti, yang artinya jarak dari satu nada ke nada yang lainnya baik naik maupun turun. Dinamika artinya, keras lembutnya suatu bunyi yang dihasilkan. Tangga Nada artinya, susunan nada atau urutan nada-nada yang teratur naik turunnya dalam satu gembyangan/oktaf. Tempo artinya, cepat lambatnya lagu/gending yang dimainkan. Irama artinya, keras lembutnya dan cepat lambatnya suatu lagu/gending yang dimainkan. Intonasi artinya, ketepatan nada.

Kelompok Karawitan

Adapun kelompok karawitan dapat dibagi menjadi tiga, diantaranya:

1.Karawitan Instrumental: karawitan yang disajikan/dihasilkan dengan menggunakan alat-alat musik.

2.Karawitan Vokal: karawitan yang disajikan/dihasilkan menggunakan suara manusia.

3.Karawitan Campuran: karawitan yang disajikan/dihasilkan menggunakan gabungan antara vokal dengan instrumental.

1.Seni Karawitan Instrumental

Di Bali hingga kini ada sekitar 30 jenis barungan gamelan yang masih aktif dimainkan oleh warga masyarakat. Barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup, dan beberapa intrumen petik. Instrumen ini ada yang terbuat dari bambu, kayu, kulit, besi, dan perunggu (kerawang). Gamelan tersebut sebagian besar miliki kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya miliki pribadi/perorangan. Berdasarkan jumlah pemain atau penabuh, gamelan bali dapat dikelompokan menjadi: barungan kecil (alit) dimainkan oleh 4-10 orang, barungan menengah atau sedang (madya) dimainkan oleh 11-25 orang, barungan besar (ageng) melibatkan di atas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali menggolongkan jenis-jenis gamelan yang ada di daerah Bali ini ke dalam tiga kelompok, yaitu: Gamelan zaman tua, diperkir akan telah ada sebelum abad 15, pada umumnya didominir oleh alat-alat yang berbentuk bilahan, memakai dua buah panggul, dan tidak mempergunakan kendang. Contoh: Gamelan Gambang, Gamelan Selonding, Gamelan Gender Wayang, dll. Gamelan zaman madya, diperkirakan telah ada sekitar abad 16-19, merupakan barungan yang sudah mempergunakan kendang dan bermoncol (pencon). Dalam hal ini kendang sudah memiliki peran yang penting. Contoh: Gamelan Pegambuhan, Gamelan Joged Pingitanamelan , Gamelan Gong Gede, dll. Gamelan zaman baru, jenia-jenia barungan gamelan yang muncul pada abad 20, barungan yang sudah menonjolkan tehnik-tehnik permainan yang rumit dan diwarnai dengan permainan yang bersifat sektoral dan individual. Contoh:  Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Semarandana, Gamelan Gomg Suling, dll.

 

2.Seni Karawitan Vokal

Masyarakat Bali pada umunya mengenal  empat jenis seni suara vokal tradisional, diantaranya:

1.Sekar Rare/Tembang Rare atau Dolanan: jenis lagu anak-anak yang suasananya penuh kegembiraan serta dinyanyikan sambil bermain. Bentuk tembang ini sangat sederhana, mengandung makna yang sangat mendalam, dan tidak terikat oleh hukum (uger-uger). Contoh: Meong-meong, Juru pencar, Ongkek-ongkek Ongke, dll.

2.Sekar Alit/Tembang Macepat, Geguritan: mencakup berbagai jenis pupuh yang diikat oleh hukum pada lingsa yang terdiri dari “guru wilangam dan guru ding dong”. Contoh: Pupuh Pucung, Pupuh Maskumambang, Pupuh Durma, dll.

3.Sekar Madya atau Kidung/Malat: jenis lagu pemujaan yang pada umumnya menggunakan bahsa Jawa Tengah dan tidak terikat oleh guru lagu maupun pada lingsa. Bagian-bagian yang ada didalamnya seperti: pengawit yaitu kawitan bawak atau kawitan dawa dan pengawak.  Tembang ini diduga datang dari Jawa Tengah pada abad 16-19. Contoh: Kidung Dewa Yadnya, Kidung Bhuta Yadnya, Kidung Pitra Yadnya, Kidung Manusa Yadnya, dll.

4.Sekar Agung atau Kekawin: jenis lagu yang memakai bahasa kawi serta diikat oleh hukum guru lagu. Kekawin biasanya dilakukan dengan aktivitas “mebebasan”, artinya setelah lagunya dinyanyikan kemudian diselingi dengan terjemahannya. Dapat diduga bahwa kekawin ini diciptakan di Jawa pada abad 9-14. Contoh: Geguritan Ramayana, Geguritan Dukuh Siladri, Geguritan Sampik Ingtai, dll.

Untuk dapat menyanyikan tembang-tembang di atas dengan baik, seorang penembang (penyanyi) harus memiliki: Suara harus bagus dan tahu cara pengolahannya, Nafas panjang dan tahu pengaturannya, Mengerti masalah laras, baik selendro maupun pelog, Mengerti tetabuhan dan menguasai tentang mantra, Tahu hukum/uger-uger yang ada pada masing-masing tembang, Memahami seni sastra.

 

 

BARUNGAN GONG SULING

Hasil gambar untuk GONG SULING

320 × 320 – gedemahardika.wordpress.com
Latar Belakang

            Gong Suling pada dasarnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, teknik tabuh yang digunakan hampir semuanya berasal dari Gong kebyar, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Gong Suling diperkuat dengan melodi bersifat unisono oleh ricikan rebab dengan memiliki dua utas dawai yang disebut wadon dan lanang. Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kebyar, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Kesenian ini adalah salah satu kesenian tua yang ada di kabupaten Jembrana. kesenian ini hanya ditampilkan pada saat ada upacara keagamaan saja. Namun dengan perubahan jaman, kesenian ini berubah menjadi sebuah seni umum yang dipertontonkan.

Sajian Pertunjukan

          Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan ber­jajarnya para pemain suling dengan pemain tawa-tawa, klenang dan gong pulu di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya per­kembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Organologi

            Salah satu instrumen dalam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.

Instrumen dari Gamelan Gong Suling

  1. Kendang

Kendang bali berbentuk truncated/bulat panjang dan memakai hourblass atau pakelit . kendang itu dibuat dari kayu nangka, jati, atau seseh yang dibungkus dengan kulit sapi pada kedua ujung dan dicancang dengan jangat. Fungsi kendang adalah sebagai pemurba irama, mengatur cepat lambat dan perubahan dynamio/dinamika, penghubung bagian-bagian lagu, dan sebagai pembuat angsel-angsel.

Adapun teknik permainan kendang di dalam gamelan gong suling, yaitu:

  • Gegulet: jalinan antara pukulan kendang lanang dan kendang wadon.
  • Cadang runtuh: pukulan yang terdapat pada muka kanan kendang wadon yang artinya mengimbangi pukulan dari kendang lanang.
  1. Ceng-ceng Ricik

Ceng-ceng Ricik yaitu ceng-ceng kecil yang berfungsi untuk memperkaya rythm dan mengikuti kendang saat memberikan aksen-aksen pada suatu tabuh.

  1. Kajar Pelegongan

Kajar Pelegongan adalah salah satu kajar yang teknik pukulannya mengikuti pukulan kendang lanang dan wadon.

  1. Timbung

Berfungsi sebagai kajar atau penentu cepat lambat jalannya tempo dalam memainkan sebuah repertoar lagu.

  1. Suling Kantil

Suling yang berfungsi seperti kantilan pada gong kebyar yaitu “ngotek”.

  1. Suling Gangsa atau Pemade

Suling yang berfungsi seperti gangsa atau pemade pada gong kebyar yaitu “ngotek”.

  1. Suling Calung

Suling yang berfungsi menjalankan melodi sebuah tabuh atau gending pada gamelan gong suling.

  1. Suling Jegog

Suling yang memainkan nada-nada akhir dari satu kalimat gending yang bertujuan memperjelas nada-nada akhir pada sebuah kalimat tabuh.

  1. Gong Pulu

Gong pulu berfungsi sebagai gong atau finalis dan bermain imbalan dengan tawa-tawa.

  1. Klenang

Klenang bermain imbalan/alternating dengan instrument timbung.

  1. Tawa-tawa

Tawa-tawa bermain imbalan dengan gong pulu atau sebagai semifinalis

 

Laras dan Tetekep

Laras yang dipakai dalam gamelan gong suling ialah laras Pelog dan Selendro, sesuai dengan tabuh atau lagu yang dimainkan. Masalah laras hanya terdapat pada suling, karena suling satu-satunya instrumen yang fix melody di dalam gamelan gong suling.

Tabuh atau Gending- Gending

Didalam Gamelan Gong Suling ada beberapa gending petegak yang biasa dimainkan, di antaranya:

  1. Sekar Eled
  2. Pangecet Subandar
  3. Lengker
  4. Godeg miring
  5. Sinom ladrang
  6. Selisir
  7. Dan lain-lain

Youtube//Gaongsuling

TARI PANJI SEMIRANG

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

            Tari Panji semirang  merupakan tari yang terinspirasi dari cerita candra kirana  yang ada di daerah Jawa Timur. Yang mana tari Panji Semirang ini merupakan tari bebali  yang berfungsi sebagai tari pertunjukan. Tarian ini biasa didemonstrasikan di dalam maupun di luar areal pura.Tari ini dibawakan oleh seorang  penari pria atau wanita. Dengan tata rias dan tata busana lelaki.Para penari biasanya membawa kipas dan memegang kancut. Tarian ini merupakan ciptaan dari I Nyoman Kaler (seniman tari) pada tahun 1942. Tarian ini pertama kali ditarikan oleh Luh Cawan, yang dimana ia merupakan salah satu murid dari I Nyoman Kaler. Tarian ini menggambarkan Dewi Candra Kirana yang menyamar sebagai seorang lelaki untuk mencari kekasihnya Raden Panji Inu Kertapati. Tari ini termasuk tari putra halus biasanya ditarikan oleh penari putri.

  1.  Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:

  1. Mahasiswa mengetahui sejarah dan asal-usul tari Panji Semirang.
  1. Mahasiswa mengetahui macam gerakan (pedom karang dalam tari Panji Semirang.
  1. Mahasiswa mengetahui penggunaan tata rias dan tata busana dalam tarian Panji Semirang.
  1. Mahasiswa mengetahui profil pencipta tari Panji Semirang.
  1. Mahasiswa mengetahui fungsi tari Panji Semirang

BAB II

PEMBAHASAN

1.1.    Sejarah Tari Panji Semirang

            Panji Semirang adalah sebuah nama dari Galuh Candrakirana yang sedang menyamar untuk mencari Raden Panji. Tersebutlah sebuah kerajaan bernama Jenggala, dengan putra mahkotanya bernama Raden Inu Kertapati. Dia berwajah rupawan, badannya tegap, dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang status dan jabatannya. Dia sudah bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Kediri.

            Suatu waktu, Raden Inu Kertapati berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya. Rombongannya lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang siap siaga.

            Di tengah perjalanan, rombongan Raden Inu diberhentikan oleh gerombolan dari Negeri Asmarantaka yang dipimpin oleh Panji Semirang. Melihat ada orang yang menyuruhnya berhenti Raden Inu bersiap-siap seandainya harus bertempur. Akan tetapi gerombolan tersebut tidak menyerang mereka. Mereka hanya meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, Panji Semirang.

            Tanpa rasa takut Raden Inu menemui Panji Semirang, yang menyambutnya dengan ramah, sehingga Raden Inu bertanya, “Rupanya engkau tidak seperti yang selama ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang?”. Panji Semirangpun mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka tidak dipaksa.

            Akhirnya Raden Inu melanjutkan perjalanannya, setelah menceritakan bahwa dia sedang menuju Negeri Kediri, untuk menemui calon istrinya, Dewi Candra Kirana.

            Radin Inu baru pertama kali bertemu dengan Panji Semirang. Namun selama pertemuan tersebut dia merasa seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab. Hanya saja Raden Inu tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji Semirang. Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang, Raden Inupun melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.

            Tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut dengan meriah. Bahkan selir Raja Kediri bernama Dewi Liku yang memiliki putri bernama Dewi Ajeng ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati. Hanya saja Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana. Ketika Raden Inu menanyakan keberadaan Dewi Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.

            Mendengar keterangan kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali sehingga jatuh pingsan. Iapun segera dibawa masuk ke dalam istana. Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil memperdaya Raja Kediri sehingga menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng. Menjelang acara pernikahan ini segala macam persiapan diperintahkan oleh Raja Kediri, pesta yang sangat meriah.

            Rupanya rencana jahat Dewi Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh persiapan pernikahan tersebut. Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan rombonganpun meninggalkan istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji Semirang. Dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra Kirana. Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Negeri Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.

            Rupanya Panji Semirang sudah meninggalkan negeri tersebut. Tanpa putus asa, Raden Inu mencari keberadaan Panji Semirang hingga akhirnya tibalah mereka di Negeri Gegelang, yang rajanya masih kerabat dari Raja Jenggala. Di Negeri Gegelang ini Radn Inu disambut dengan gembira. Rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal. Akhirnya, Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan pasukan dari Negeri Gegelang menghadapi para perampok. Raden Inu mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi perampok tersebut, dan berhasil mengalahkannya hingga pimpinan perampok tersebut mati.

            Pesta tujuh hari tujuh alam diadakan untuk menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya. Pada malam terakhir pesta tersebut Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh gemulai. Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut. Selidik punya selidik, rupanya rupanya ahli pantun tersebut memang adalah Panji Semirang alias Dewi Candra Kirana. Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha. Dia disembuhkan oleh seorang pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakHasil gambar untuk nyoman kalerit.

            Setelah semua misteri terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Jenggala untuk melangsungkan pernikahan meriah, dan mereka menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia.

1.2.    Profil Pencipta Tari Panji Semirang

Hasil gambar untuk nyoman kaler

I Nyoman Kaler lahir pada tahun 1892 di Desa Pamogan, Kecamatan Denpasar Selatan. Ayahnya I Gde Bakta adalah seorang seniman serba bisa pada zamannya. Sang ibu, Ni Ketut Taro, juga memiliki seni Kakeknya, I Gde Salin, kemudian darah ayahnya sendiri merupakan guru tari dan tabuh yang punya nama. Kaler sendiri berguru kepada kakek dan ayahnya, yang nantinya mewariskan padanya tari nandhir, baris kupu-kupu, sisia Calonarang, wayang wong, dan parwa.

I Nyoman Kaler tak pernah mengenyam pendidikan formal, sebab seingatnya, sampai tahun 1900 di Denpasar belum dibuka sekolah-sekolah. Namun kemampuannya baik baca tulis aksara Bali maupun huruf Latin tak bisa diragukan. Kepandaian ini didapat dari pendidikan non-formal di sela-sela kesibukannya memperdalam seni tari dan tabuh.

Dalam penguasaan tari dan tabuh pagambuhan ia sempat dididik oleh I Gusti Gede Candu, I Made Sariada, I Made Nyankan. semuanya dan Denpasar, dan I Made Sudana dari Tegal Taniu. Pada tahun 1918, dalam usia 26 tahun, I Nyoman Kaler memperdalam tari Legong Kraton pada gurunya, Ida Bagus Boda dari Kaliungu Klod, Denpasar. Tahun 1924 memperdalani tari dan tabuh pada Anak Agung Rai Pahang dari Sukawati Gianyar. I Nyoman Kaler menciptakan tari panji semirang pada tahun 1942. Tarian ini.ditarikan.untuk.pertama.kalinya.oleh.Luh.Cawan.

I Nyoman Kaler sangat terkesan pada gurunya yang satu ini. Cara mengajar gurunya yang luar biasa itu memungkinkan I Nyoman Kaler memahami seluk-beluk dan gerak tari dengan mendalam. Dia pun menjadi murid kesayangan karena bakatnya yang mengagumkan sampai-sampai sang guru menganugerahkan seekor kuda pada murid yang rajin ini.

I Nyoman Kaler menguasai hampir seluruh perangkat gambelan Bali dan memahami betul semua gending-gending pegongan, gender, angklung, semar pagulingan, dan sebagainya. Dari pengetahuan yang dimiliki maka Nyoman Kaler telah mulai mengajar sejak tahun 1918.

Deskripsi.Profesi:
Hampir sepenuhnya riwayat hidup Nyoman Kaler diabdikan untuk kesenian. Dari tahun 1918 – 1959 Kaler bak bintang yang menyala. Karya dan pemikirannya terhadap seni tumbuh subur. Sebagai seorang guru seni, Nyoman Kaler melahirkan banyak seniman tari yang belakangan namanya juga menjadi cukup monumental. Mulai dari mendirikan sekaa Legong Kraton di Pura Jurit Klandis, Denpasar, tahun 1924, yang nantinya melahirkan penari Ni Ketut Ciblun dan Ni Ketut Polok. Pada tahun yang sama, ia mengajar pula tari janger di Banjar Kedaton, dari sini lahir penari terkenal Ni Gusti Ayu Rengkeng, Ni Ketut Reneng, Ni Rening, dkk. Pada tahun 1933 ia mengajar Legong Kebyar di Banjar Lebah, Kesiman, melahirkan.penari.I.Wayan.Rindi,.Ni.Luh.Cawan,.Ni.Sadri.

Penghargaan:

·                     Atas pengabdiannya terhadap seni, ia telah menerima penghargaan tertinggi bidang seni dari pemerintah RI pada 1968 yakni Wijaya Kusuma dan pada 1980.

·                     Dharma Kusuma dari Pemda Bali.

1.3. Fungsi Tari Panji Semirang.

Fungsi tari semirang adalah sebagai sarana pertunjukan (tari bebali), dimana fungsi sebagai sarana pertunjukan ini masuk dalam contoh tari kekebyaran yang ditarikan oleh satu orang (tari tunggal). Selain itu, tari ini juga biasanya digunaka untuk menghibur wisatawan.

1.4.    Tata Rias dan Tata Busana

Tata rias dan busana dalam seni pertunjukan selain berfungsi memperindah, memperkuat karakter juga menunjang nilai-nilai filosofis, nilai simbolik dari tari tersebut. Dalam bukuEnsiklopedi Tari Bali, telah dijelaskan bahwa busana adalah faktor yang sangat penting dalam tari Bali, karena melalui busana penonton akan dapat mengetahui identitas dari suatu tarian atau penonton dapat membedakan tokoh atau karakter yang ditampilkan.

Dalam suatu pementasan seni tari, khususnya seni tari Bali, elemen tata rias kostum sangat diperlukan dan juga sangat penting guna memperindah suatu pertunjukan seni tari. Tata rias dan busana juga bisa digunakan untuk membedakan atau mencirikan jenis tarian tersebut. Misalnya dengan melihat tata rias dan busananya kita bisa menggolongkan apakah tarian tersebut termasuk ke dalam kategori tari putri, tari putra, ataupun tari bebancihan. Melalui tata rias dan kostum juga bisa menentukan sebuah karakter yang dibawakan. Di dalam sebuah pertun-jukan, tata rias dan busana juga bisa membantu untuk merubah karakternya baik menjadi cantik, tampan, jelek, ataupun lucu sesuai keinginan dari si pelakunya. Oleh karena itu elemen kostum memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan.

  1. Tata rias

    Tata rias merupakan rias wajah atau make up panggung yang menonjolkan lekuk-lekuk dan garis-garis wajah agar tampak segar dan cantik, karena fungsi rias yang utama adalah untuk mempercantik wajah. Adapun tata rias dalam panji semirang yaitu alis-alis, eye shadow warna kuning, biru, merah, bedak warna kuning langsat, blosh on warna merah muda, dasar bedak, lipstick, cundang.

  1. Tata Busana

          Melalui busana yang digunakan suatu tarian dapat diketahui karakter tarian yang ditampilkan.

          Busana yang digunakan dalam Tari Panji Semirang ini, di antaranya adalah destar,bunga mas, bunga    merah di telinga kanan, bunga putih di telinga kiri, badong, bebed (kain prada) penutup dada, ampok- ampok, kancut prada, gelang kana, kipas, anting-anting.

1.5.    Pedom Karang Tari Panji Semirang.

  1. Pepeson:

Ngegol (ngambil kancut), piles kiri, ngeseh, piles kiri, agem kiri, ngelier, sledet kiri, piles kanan, angkat kaki kanan, angkat kaki kiri, angkat kaki kanan, angkat kaki kiri, mungkah lawang, agem kanan, sledet kanan, nuduk bunga, ngelier, sledet kanan, badan naik turun, ngelier kanan, sledet kanan, badan naik turun, ngulap-ulap ke kanan, ngelier, agem kanan, sledet kanan, tengah, pojok, ngangget (tangan kiri), ngulap-ulap kiri, ngangget, ngelier, sledet kanan, piles kiri, angkat kaki kiri, angkat kaki kanan, angkat kaki kiri, angat kaki kanan, agem kiri, badan naik turun, ngelier kiri, sledet kiri, ngulap-ulap kiri, ngelier, sledet, tengah, pojok, ngulap-ulap kanan, ngangget kanan, ngelier kanan, sledet kiri, agem kanan, ngulap-ulap kiri, tanjek kanan (tangan kiri ke pojok, tangan kanan nepik destar), ngangget kiri, piles kiri, agem kiri, ngulap-ulap kiri, ngelier, sledet kiri, angkat kaki kanan, putar badan ke kiri, ngulap-ulap kanan, agem kiri, sledet kiri, putar badan ke depan, piles kiri, agem kiri, ngulap-ulap kanan, tanjek kiri (tangan kanan ke pojok, tangan iri nepik destar), ngangget kanan, piles kanan, agem kanan, ngulap-ulap kanan, ngelier, sledet kanan, angkat kaki kiri, putar badan ke depan, agem kanan, nuduk bunga, angkat kaki kanan, angkat kaki kiri, ngangget, sledet kiri, tengah, agem kiri, sledet, nuduk bunga, angget kanan, sledet kanan, ngoyog, agem kanan, ngulap-ulap, jalan ke pojok kanan, tengah, pojok kri, tengah, (tangan berganti dengan nepik destar atau lurus ke pojok), ngeseh, tajek kiri, ngambil kancut (tangan kiri), sledet kiri, jalan mundur lalu maju dan berputar, lepas kancut, angkat kaki kiri, ngeseh, piles kanan, luk nerudut, ngeseh, angkat kiri, luk nerudut, badan naik turun, ngeseh, ngelier kiri, sledet kanan, sledet kiri, sledet kanan, ngambil kancut, jalan memutar.

  1. Pengawak

 Metimpuh, ngambil kipas, ngulap-ulap kiri, sledet kanan, kepala ngotag, sledet kiri, sledet kanan, buka kipas, piles kiri, ngambil kancut, jalan (putar kipas), taruh kancut, nepik kampuh, ngulap-ulap kanan, sledet kiri, sledet kanan, sledet kiri, ngambil kancut, jalan (putar kipas), angkat kaki kiri, ngeseh, ngambil kampuh.

  1. Pengecet

Jalan, mundur lalu maju, lepas kancut, angkat kaki kiri, ngeseh, agem kanan, agem kiri, ngelier, tanjek kiri, tanjek kanan (3x) angkat kaki kanan, agem kanan, tanjek kiri, tajek kanan (3x) angkat kaki kanan, agem kanan, sledet kanan, ngambil kancut, tanjek kanan, putar kipas, tanjek kiri, angkat kaki kanan, agem kanan, angkat kaki kiri, ngeseh, ngambil kancut, sledet kiri.

  1. Pemuput

Jalan mundur lalu maju, angkat kaki kiri, ngeseh, putar ke depan, piles kiri, piles kanan, agem kiri, sledet kiri.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

            Tari Panji semirang  merupakan tari yang terinspirasi dari cerita candra kirana yang ada di daerah Jawa Timur. Yang mana tari Panji Semirang ini merupakan taribebali  yang berfungsi sebagai tari pertunjukan. Tarian ini biasa didemonstrasikan di dalam maupun di luar areal pura. Tari ini dibawakan oleh seorang  penari pria atauwanita. Dengan tata rias dan tata busana lelaki. Para penari biasanya membawa kipas dan memegang kancut. Tarian ini merupakan ciptaan dari I Nyoman Kaler (seniman tari) pada tahun 1942. Tarian ini pertama kali ditarikan oleh Luh Cawan, yang dimana ia merupakan salah satu murid dari I Nyoman Kaler. Tarian ini menggambarkan Dewi Candra Kirana yang menyamar sebagai seorang lelaki untuk mencari kekasihnya Raden Panji Inu Kertapati. Tari ini termasuk tari putra halus biasanya ditarikan oleh penari putri.

  1. Saran

Adapun saran dari penulisan makalah ini yaitu agar siswa khususnya kaum remaja lebih mengetahui sejarah, unsur, maupun tata rias dan busana tarian tradisional Bali dan mempertahankan budaya Bali.