Karawitan di Era Modern

This post was written by dandipratama on April 11, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

Sejak tahun 1950an, Karawitan digunakan untuk menyebut seni suara berkembang di Nusantara, yang kedudukannya sejajar dengan musik. Karawitan tidak bisa dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan musik pada era modern ini, karena karawitan bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh musik pada era modern ini. Sebagai contoh, musik dalam jumlah banyak seperti orkestra, memerlukan seorang orang konduktor untuk menyamakan irama, tetapi sebaliknya, pada karawitan tidak diperlukan konduktor untuk menyamakan irama. Bisa dikatakan, karawitan adalah salah satu maha karya kebudayaan dari Nusantara.

Ironis memang, jika kita melihat perkembangan karawitan di era modern ini, abad 21. Andai dilakukan survei dalam bentuk tanya jawab pada anak-anak muda sekarang ini, bisa ditebak, “bisa dihitung dengan jari” anak-anak muda yang mengerti tentang karawitan.

Namun, hal terbalik malah terjadi di luar negeri. Karawitan berkembang pesat ! Sebuah fakta menggembirakan sekaligus mencengangkan, sebuah acara menempatkan gamelan sebagai menu utama festival diselenggarakan di Vancouver Kanada, bukan di Jawa yang merupakan daerah asal kebudayaan karawitan.

Hal tersebut tidak lepas dari “semakin jauhnya” generasi muda di Indonesia terhadap karawitan. Karawitan tidak lagi menjadi menu sehari-hari anak muda. Karawitan menjadi hal yang langka dan “terlarang” bagi kalangan muda. “Enggak gaul loe, anak muda selera musiknya kayak embah-embah” Sebuah celetukan yang mungkin didapatkan bagi penggemar muda karawitan di tengah anak-anak band.

Akses yang sulit juga berpengaruh terhadap perkembangan karawitan di Indonesia. Sedikit bercerita, pada pertengahan bulan Desember lalu, saya menjadi pendamping karya wisata yang umumnya disebut dengan piknik di sebuah SD di Kecamatan Nogosari. Pada awal keberangkatan, tidak terjadi hal yang aneh, biasa-biasa saja, anak-anak masih menyanyikan bersama-sama lagu anak-anak yang dipandu oleh guru di bus. Ketika perjalanan sudah cukup jauh, aktivitas menyanyi pun dihentikan, karena sudah capek juga. Dan lagu anak-anak pun digantikan dengan musik dangdut sesuai permintaan dari anak-anak. Ayah, satu dua lagu saya cukup mengerti, karena memang sudah familia. Anak-anak pun dengan senangnya ikut menyanyi menirukan lagu yang diputar di VCD.

Hal “aneh” pun terjadi, selama kurang lebih 3 jam non stop anak-anak masih menyanyi menirukan lantunan musik dari VCD ! Dan mereka hafal sebagian besar liriknya, yang bahkan saya sendiri pun tidak tahu lagu apa yang sedang diputar !

Hal yang cukup mencengangkan bukan ? Dan kita bisa menebak, di rumah dan di lingkungan anak-anak tersebut pasti musik-musik dangdut itu mudah sekali ditemukan dan sering kali diputar, yang berdampak membudayanya musik dangdut di kalangan anak-anak.

Tetapi hal tersebut tidak terjadi di karawitan pada era sekarang ini. Sekali lagi, karawitan begitu jauh dan begitu langka bagi generasi muda bangsa Indonesia. Padahal, jika dilihat dari segi kebermanfaatan dan nilai-nilai yang dikandung dalam karawitan jauh sekali lebih tinggi dibandingkan dengan musik dangdut. Andaikan saja musik karawitan yang membudaya, bukan musik dangdut, mungkin mental generasi muda bangsa ini menjadi lebih baik.

Selanjutnya, tentang fungsi. “Selama masih mempunyai fungsi, bisa dikatakan hidup dan berkembang”, kata Bapak Joko Daryanto. Karawitan sendiri mempunyai dua yaitu fungsi sosial dan fungsi musikal. Fungsi sosial karawitan yaitu digunakan untuk mendukung peristiwa atau kejadian di luar kesenian atau berkaitan dengan adat, contohnya digunakan ketika pernikahan, sekatenan, dll. Sedangkan fungsi musikal karawitan yaitu digunakan untuk mendukung kesenian yang lain, contohnya digunakan dalam pewayangan, karawitan teater, karawitan tari, konser karawitan mandiri dll.

Dalam perkembangannya, fungsi sosial dari karawitan mulai tergantikan dengan seni musik yang lebih “simpel”. Jika zaman dahulu ketika sunatan, kalau syukurannya belum anggap wayang, yang di dalamnya ada karawitan, belum marem rasanya. Tetapi, zaman sekarang ini, syukuran sudah marem hanya dengan memutar rekaman VCD. Fungsi kesenian dari karawitan di Indonesia pun berjalan kurang optimal, masih kalah dengan konser-konser band.

Dengan melihat potensi-potensi dari karawitan, karawitan harus tetap dilestarikan dan dibudayakan di kalangan anak muda, meskipun banyak permasalahan dan kendala.

Upaya yang bisa dilakukan, terutama sebagai calon guru sekolah dasar, adalah dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan tentang karawitan. Sebuah upaya yang mainstream, tetapi cukup efektif menjawab pertanyaan tentang apa yang haru dilakukan.

Upaya yang lain yaitu mengajak anak-anak menonton konser karawitan, wayang kulit, wayang orang, sendra tari, atau sekatenan. Dengan intensitas yang lumayan rutin, diharapkan kecintaan siswa semakin meningkat.

Tetapi upaya-upaya tersebut hanyalah upaya untuk mempertahankan ke eksisan karawitan secara sementara. Jika ingin karawitan lebih eksisi lagi, dukungan total dari pemerintah sangat berpengaruh sekali, seperti pembuatan peraturan tentang wajibnya setiap sekolah terdapat ekstrakulikuler karawitan, mengadakan perangkat karawitan bagi setiap sekolah, dll.

Keberhasilan dalam mempertahankan karawitan harus dilakukan bersama-sama antara masyarakat dan pemerintah. Maka, kita sebagai bagaikan dari masyarakat akademis, mari kita mulai melangkahkan kaki mengawali upaya regenerasi dan transfer of knowledge kebudayaan karawitan kepada generasi muda bangsa Indonesia.

 

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address