Categories
Tak Berkategori

komentar video 2

 

Penata                                   :I Wayan Sudana

Nim                                        :2007 02 005

Program Studi                  :Seni Karawitam

Pendukung Karawitan  :ST. Dwi Tunggal Ubung.

 Sinopsis :

 Damai, aman dan sejahtera, merupakan suatu hal yang sulit dicapai pada saat ini. Hal itu tak lepas dari sifat manusia yang kurang berpikir panjang dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga hanya pertikainlah yang selalu menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan.Dari realita itulah karya seni music Cymbran Show ini tercipta. Dengan mempergunakan media music cymbal dan membrane, penata mencoba untuk mengolah berbagai instrumen seperti kendang, bedug, drum dan cymbal sebagai ungkapan dari realita di atas. Karya ini juga sarat akan makna perdamain dan memberi pesan untuk selalu menjunjung tinggi rasa perdaamain agar semua elemen masyarakat dapat merasakan kehidupan yang damai, aman dan sejahtera.

 

 

Komentar video

Dari segi penataan lampu

Menurut saya masih agak terlihat remang-remang,trus menurut saya perlu dpergunakan lampu khusus untuk penatanya sehinga orang-orang  yang menyaksikan pertunjukan tersebut akan lebih mudah mengenali siapa penata atau yang punya garapan tersebut.

Dari segi sound sistem

Suara drum lebih mendominan suara instrumen yang lain nya,apa lagi dengan jumlah nya 3,sehingga instrumen yang lain seperti kendang dan kendang besar perlu diisi micropon untuk menyeimbangkan sura drum dengan instrumen yang lainnya.

 

Categories
Tak Berkategori

komentar video Chimbran show

 

Penata                                   :I Wayan Sudana

Nim                                        :2007 02 005

Program Studi                  :Seni Karawitam

Pendukung Karawitan  :ST. Dwi Tunggal Ubung.

 Sinopsis :

 Damai, aman dan sejahtera, merupakan suatu hal yang sulit dicapai pada saat ini. Hal itu tak lepas dari sifat manusia yang kurang berpikir panjang dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga hanya pertikainlah yang selalu menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan.Dari realita itulah karya seni music Cymbran Show ini tercipta. Dengan mempergunakan media music cymbal dan membrane, penata mencoba untuk mengolah berbagai instrumen seperti kendang, bedug, drum dan cymbal sebagai ungkapan dari realita di atas. Karya ini juga sarat akan makna perdamain dan memberi pesan untuk selalu menjunjung tinggi rasa perdaamain agar semua elemen masyarakat dapat merasakan kehidupan yang damai, aman dan sejahtera.

 

 

Komentar video

Dari segi penataan lampu

Menurut saya masih agak terlihat remang-remang,trus menurut saya perlu dpergunakan lampu khusus untuk penatanya sehinga orang-orang  yang menyaksikan pertunjukan tersebut akan lebih mudah mengenali siapa penata atau yang punya garapan tersebut.

Dari segi sound sistem

Suara drum lebih mendominan suara instrumen yang lain nya,apa lagi dengan jumlah nya 3,sehingga instrumen yang lain seperti kendang dan kendang besar perlu diisi micropon untuk menyeimbangkan sura drum dengan instrumen yang lainnya.

 

Categories
Tak Berkategori

komentar video Chimbran show

 

Penata                                   :I Wayan Sudana

Nim                                        :2007 02 005

Program Studi                  :Seni Karawitam

Pendukung Karawitan  :ST. Dwi Tunggal Ubung.

 Sinopsis :

 Damai, aman dan sejahtera, merupakan suatu hal yang sulit dicapai pada saat ini. Hal itu tak lepas dari sifat manusia yang kurang berpikir panjang dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga hanya pertikainlah yang selalu menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan.Dari realita itulah karya seni music Cymbran Show ini tercipta. Dengan mempergunakan media music cymbal dan membrane, penata mencoba untuk mengolah berbagai instrumen seperti kendang, bedug, drum dan cymbal sebagai ungkapan dari realita di atas. Karya ini juga sarat akan makna perdamain dan memberi pesan untuk selalu menjunjung tinggi rasa perdaamain agar semua elemen masyarakat dapat merasakan kehidupan yang damai, aman dan sejahtera.

 

 

Komentar video

Dari segi penataan lampu

Menurut saya masih agak terlihat remang-remang,trus menurut saya perlu dpergunakan lampu khusus untuk penatanya sehinga orang-orang  yang menyaksikan pertunjukan tersebut akan lebih mudah mengenali siapa penata atau yang punya garapan tersebut.

Dari segi sound sistem

Suara drum lebih mendominan suara instrumen yang lain nya,apa lagi dengan jumlah nya 3,sehingga instrumen yang lain seperti kendang dan kendang besar perlu diisi micropon untuk menyeimbangkan sura drum dengan instrumen yang lainnya.

 

Categories
Tak Berkategori

komentar video 1

Penata                                  : I Komang Teja Ambara

 NIM                                     : 2007.02.004

Program Studi                 : Seni Karawitan

Pendukung Karawitan : Mahasiswa semester II dan  VI Jurusan Karawitan FSP, ISI Denpasar.

 Sinopsis :

 Air merupakan sumber kehidupan bagi semua mahkluk hidup yang membuat lingkungan menjadi asri. Akibat dari pergeseran jaman, membuat aliran air yang mengalir di sungai menjadi tidak tetap atau mengalami pasang surut. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor kehidupan kehidupan warga seperti : penebangan pohon liar yang mengakibatkan hutan menjadi gundul, sehingga air pun tidak mendapat resapan di daerah pegunungan. Aliran air sangat mudah membesar bahkan menyebabkan terjadinya banjir bandang. Fenomena air diatas menjadi sumber inspirasi untuk dikemas kedalam suatu bentuk penciptaan komposisi karawitan inovatif dengan judul “Nyat Mancuh”.

Komentar video:

Dari segi penataan lampu:

Terlihat masih kurang karena peletakan lampu hanya di bagian atas, menurut saya akan lebih bagus kalau ada beberapa lampu yang diletakkan dibagian depan bawah.

Dari segi panggung:

Pada bagian depan jegog terdapat 5 orang yang memainkan angklung kocok. Dapat kita lihat para pemain angklung duduk dilantai. Dengan demikian akan kelihatan tidak seimbang antara pemain angklung dengan bentuk dari instrumen jegog yang lumayan tinggi, sehingga menurut saya akan lebih bagus kalau tempat duduk para pemain angklung lebih tinggi lg sedikit misalkan dengan menggunakan papan tertentu.

Dari segi sound sistem:

Kalau dilihat dari segi suara barang tentu suara angklung kedengaran lebih kecil dari suara jegog,dengan demikian perlu di tiap angklung disi microfon agar bunyinya lebih seimbang lg.

Categories
Tak Berkategori

komentar video Nyat mancuh

Penata                                  : I Komang Teja Ambara

 NIM                                     : 2007.02.004

Program Studi                 : Seni Karawitan

Pendukung Karawitan : Mahasiswa semester II dan  VI Jurusan Karawitan FSP, ISI Denpasar.

 Sinopsis :

 Air merupakan sumber kehidupan bagi semua mahkluk hidup yang membuat lingkungan menjadi asri. Akibat dari pergeseran jaman, membuat aliran air yang mengalir di sungai menjadi tidak tetap atau mengalami pasang surut. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor kehidupan kehidupan warga seperti : penebangan pohon liar yang mengakibatkan hutan menjadi gundul, sehingga air pun tidak mendapat resapan di daerah pegunungan. Aliran air sangat mudah membesar bahkan menyebabkan terjadinya banjir bandang. Fenomena air diatas menjadi sumber inspirasi untuk dikemas kedalam suatu bentuk penciptaan komposisi karawitan inovatif dengan judul “Nyat Mancuh”.

Komentar video:

Dari segi penataan lampu:

Terlihat masih kurang karena peletakan lampu hanya di bagian atas, menurut saya akan lebih bagus kalau ada beberapa lampu yang diletakkan dibagian depan bawah.

Dari segi panggung:

Pada bagian depan jegog terdapat 5 orang yang memainkan angklung kocok. Dapat kita lihat para pemain angklung duduk dilantai. Dengan demikian akan kelihatan tidak seimbang antara pemain angklung dengan bentuk dari instrumen jegog yang lumayan tinggi, sehingga menurut saya akan lebih bagus kalau tempat duduk para pemain angklung lebih tinggi lg sedikit misalkan dengan menggunakan papan tertentu.

Dari segi sound sistem:

Kalau dilihat dari segi suara barang tentu suara angklung kedengaran lebih kecil dari suara jegog,dengan demikian perlu di tiap angklung disi microfon agar bunyinya lebih seimbang lg.

Categories
Tak Berkategori

Tokoh seniman di banjar jurang pahit,desa kutampi kecamatan nusa penida

Nama                                     : I Nyoman Swasta

Tempat, tanggal lahir     : Nusa Penida,31 desember 1940

Status                                    : menikah

Tamatan                              : SPG

        Menurut wawancara yang saya lakukan, beliau bercerita banyak hal tentang perjalanannya dalam menekuni kesenian khususnya karawitan. I nyoman swasta, itu biasa panggilan beliau di rumah, selain itu beliau juga biasa dipanggil pekak bali. I nyoman swasta berasal dari keluarga yang sederhana. kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani. hal itu tidak menyurutkan niat beliau untuk menuntut ilmu. Beliau mengatakan pada saat itu sama sekali belum ada sekolah TK,sekolah dasar saja masih sangat sederhana  “maklum pada saat itu masih jaman penjajahan” ujar beliau. Pada saat beliau masih  duduk dibangku sekolah dasar, di banjar jurang pahit belum memiliki gamelan,akan tetapi di banjar jurang pahit telah ada angklug yang instrumennya masih sangat sederhana (sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya). Pada saat beliau berumur 18 tahun beliau melanjutkan di SPG. Pada saat itulah beliau mulai belajar memainkan alat musik gamelan. Karena ketekunan dan semangat beliau,akhirnya beliau pun berhasil memainkan gamelan. Akan tetapi belum selesai sampai disitu,beliau juga berguru belajar gamelan sampai ke desa pikat klungkung.

       Pada saat beliau menyempatkan diri pulang ke kmpung halaman beliau selalu mengajar gamelan drumah. Setelah tamat dari SPG beliau kemudian menjadi guru di sekolah dasar di banjar jurang pahit. Pada saat itu beliau kemudian ditunjuk menjadi seksi kesenian. Beliau selalu bersemangat untuk mengembangkan dan mencari bakat-bakat seniman lainnya. Pada saat itu beliau mengajar megambel dengan menggunakan suatu teknik putar,artinya setiap personil tidak diam disatu tempat saja. Selain gong kebyar beliau juga membentuk sekaa rindik yang langsung dibikin sendiri bersama teman-temannya. Pada tahun 1967 beliau mengakhiri masa lajangnya. Beliau mempunyai 4 (empat) orang anak yakni 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. saat anak-anaknya masih kecil beliau selalu mengajarkan seni kepada empat orang anaknya. Dari ke empat anaknya hanya satu yang berminat untuk melanjutkan ke sekolah seni yaitu anaknya yang pertama yang bernama I Wayan Andra. I Wayan Andra ini merupakan tamatan ASTI dan sekarang bekerja di taman budaya Art Center.

       Sampai umur 54 tahun I nyoman swasta masih tetap eksis menjadi anggota sekaa gong dbanjar jurang pahit. Selain itu beliau juga ikut menjadi anggota sekaa gong disebuah sanggar yang dibentuk oleh para seniman yang bisa meluangkan waktunya untuk megambel di banjar jurang pahit yang diberi nama sanggar “padaliang”. Pada tahun 1995 beliau mengundurkan diri menjadi anggota sekaa gong di banjar dan di sanggar karena beliau sakit. Di sanggar beliau digantikan oleh anak laki-lakinya yang terakhir yang bernama Iketut diftasada yang sekarang menjadi tukang kendang lanang dibanjar jurangpahit. Pada saat pembelian gong semarandana di banjar paibon tutuan di banjar jurang pahit akhirnya beliau dipanggil lagi untuk menjadi anggota sekaa gong semarandana dan sekaa anggklung sampai sekarang.

Categories
Tak Berkategori

sejarah gong semarandana di banjar jurang pahit

Sejarah Perkembangan Gong Semarandana diBanjar Jurang Pahit

Pada awalnya di banjar jurang pahit hanya memiliki 1(satu) barungan gong kebyar saja. Kemudian pada tahun 2007 seorang tokoh karawitan yang bernama I Ketut Arta dwita berinisiatif untuk membeli barungan gong semarandana. Tujuan dari beliau untuk membeli gong semaradana karena beliau menganggap barungan ini masih langka khususnya untuk daerah nusa penida bahkan klungkung. Selain itu barungan gong semarandana juga multi fungsi yakni bisa dipakai untuk gong kebyar dan angklung. Kemudian pada pertengahan tahun 2007 beliau mengemukakan pendapatnya dihadapan sekaa krama banjar Jurang Pahit. Akan tetapi warga masyarakat banjar Jurang Pahit tidak setuju dengan pendapat beliau. Warga menganggap hal tersebut hanya menghambur-hamburkan uang saja dan satu barungan gong kebyar dianggap sudah cukup.

Setelah berselang beberapa bulan akhirnya beliau mencoba untuk mengemukakan pendapatnya dihadapan salah satu krama paibon yang terdapat di banjar jurang pahit yakni paibon kawitan tutuan. Beliau menganggap krama tutuan mampu untuk membeli sebuah barungan gong semarandana  karena jumlah krama atau warganya yang berkisar 90 orang yakni 65 % dari jumlah penduduk banjar Jurang Pahit. Dengan segala pertimbangan akhirnya krama paibon tutuan menyetujui pendapat beliau dan dibentuklah panitia khusus untuk menangani hal tersebut. Kemudian pada awal tahun 2008 krama paibon tutuan resmi membeli satu barungan gong semarandana.

Semenjak itu krama paibon tutuan membentuk sekaa gong yang dberi nama gita semarandana. Adapun personil sekaa gong gita semarandana tidak hanya dari kaum laki-laki saja akan tetapi ada juga dari kaum ibu-ibu yang juga pernah ikut pentas diajang parade gong kebyar wanita pada pesta kesenian bali tahun 2007.selain itu juga dbentuk sekaa angklung dimana personilnya merupakan sekaa gong kebyar yang ada di banjar jurangpahit.

Selain untuk mengiringi upacara keagamaan di pura paibon,gong semarandana juga dipergunakan ngayah dpura pura puseh Mastulan yang merupakan pura puseh banjar jurang pahit.

Categories
Tak Berkategori

Komentar Video Jnapaka

Jnapaka berasal dari bahasa Jawa Kuna yang berarti memberi tahu dan mengajari. Harmonisasi antara guru dan murid harus terjalin layaknya bunga dan kumbang yang saling membutuhkan satu sama lain. Ketulusan dan kesungguhan , merupakan modal utama untuk melahirkan sebuah keharmonisan. Hal ini diungkapkan kedalam sebuah garapan tari kreasi yang diambil dari cerita penyamaran Arjuna dengan nama Werhatnala ,menjadi seorang guru kesenian di kerajaan Wirata

Penata Tari: I Made Putra Wijaya Nim : 200701031, Program Studi : Seni Tari.  Pendukung Tari :

  1. I Made Nova Antara (Mhs Smtr IV/T ISI Dps).
  2.  NI Wayan Sumantari (Mhs Smtr II/T ISI Dps);
  3.  Gst.Ayu Indra Mahyurani (Mhs Smt IV IKIP PGRI Bali).
  4.  IB. Adi Prawira Utama (Siswa SMA Negeri 1 Ubud).
  5.  Dewa Ayu Eka Rismayanti (Siswi SMK Negeri 4 Dps).

            Penata Iringan : I Wayan Sudiarsa, S.Sn, Pendukung Iringan : Sanggar ARMA Kumara Sari, Pengosekan, Ubud.

Komentar

Komentar yang bisa saya komentari dalam pegelara tugas akhir ini dalam garapan yang berjudul JNAPAKA adalah:

  1. PENATAAN LAMPU Dalam penataan lampu disini perlu saya tekankan dan  tambahkan untuk penataan lampu cahaya supaya bisa di pakai cahaya yang lebih terang atau lampu yang berwarna kuning pada saat baru tarian dimaulai yaitu pada saat penari sedang bermain suling, agar para penari bisa kelihatan dari jauh dan agak kelihatan terang. karena para penari sedang melakukan adegan yang sangat bagus yaitu duet dengan salah satu penari putri. Tidak seharusnya lampu juga harus warnanya kurang bersinar karena dalam pementasan para penari harus menggunakan lampu cahaya yang lebih terang supaya wajah atau mukanya tidak kelihatan  seperti bayang- bayangan.

  1. PENATAAN MIX , Penataan mix yang bisa saya tambahkan adalah pada saat penari sedang bermain suling dan para sendon atau nyanyian yang dilakukan oleh penabuh. Penari yang sedang bermain suling sangat kurang jelas suaranya ketikan sedang bermaindan suara vokal penabuh agak kurang kedengaran Disini perlu ditambahkan mix kecil yang bisa di bawa penari dan mix yang di pasang di alat instrumen pendukung atau gambelan agar ketika pergelaran ini bisa suara yang diahasilkan bisa lebih bagus.

  1. PENATAAN PANGGUNG. Dalam penataan panggung yang terdapat pada pegelaran karya tugas akhir ujian ini, menurut saya sudah pas dan cukup baik. Karena pada panggung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar yang cukup luas para penata sudah bisa menata komposisi panggung sehingga seluruh bagian penari atau struktur penari bisa kelihatan semua tanpa ada gangguan yang lain .

  1. PENATAAN PENGGAMBILAN GAMBAR . Dalam penataan pengambilan gambar disini menurut saya sudah bagus dan bisa ditonton dengan layak , karena tidak ada gangguan yang menjadi hambatan dalam pengambilan gambar.

Itulah yang bisa saya komentari dalam karya pegelaran tugas akhir dalam bidang seni tari yang berjudul jnataka  yaitu dalam penataan lampu cahaya sistim pemakaian mix penataan mix dan penataan pengambilan gambar. Untuk itu  saya bisa tambahkan supaya dalam ujian tugas akhir yang akan datang supaya sistem penataan lampu cahaya dan mik bisa lebih baik dari yang sebelumnya dan memuaskan semua pihak yang ada. Kalau ada kesalahan saya dalam komentar ini atau kurang berkenan saya mohon maaf  terima kasih .

Categories
Tak Berkategori

Gamelan Baleganjur di Banjar Petapan Kelod, Mendoyo

Banjar Petapan Kelod merupakan wilayah kecil yang termasuk dalam Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Sebagai daerah yang sebagian besar warganya beragama Hindu, maka dapat dipastikan kegiatan upacara yadnya sering dilaksanakan. Untuk mendukung upacara yadnya tersebut biasanya difungsikanlah gamelan Baleganjur untuk mengiringi upacara yadnya tersebut. Namun, Banjar Petapan Kelod ini belum memiliki gamelan tersendiri. Biasanya Banjar Petapan Kelod ngupah sekehe Baleganjur Desa Pergung atau banjar lain yang ada di Desa Pergung dan ngupah sekehe-sekehe lain di luar Desa Pergung.
Menurut Nyoman Sudiarsana, warga masyarakat merasa terbebani dengan tidak adanya gamelan untuk menunjang upacara yadnya. Warga masyarakat juga mengeluh jikalau ngupah sekehe di luar banjar karena biayanya relatif agak mahal.
Menurut Nyoman Sudiarsana, untuk menunjang upacara yadnya, maka pengurus banjar berinisiatif untuk mengajukan proposal pembelian Baleganjur di Banjar Petapan Kelod kepada pengurus Desa Pergung. Karena alasan untuk kepentingan yadnya, maka disumbangkanlah dana untuk pembelian Baleganjur oleh pengurus desa. Pada tahun 2005, Banjar Petapan Kelod dibelikan seperangkat alat Baleganjur oleh pengurus banjar dengan uang yang didapat dari sumbangan desa tersebut. Seperangkat alat Baleganjur tersebut di beli dengan harga Rp. 12.000.000,00 di Gianyar. Banjar Petapan Kelod memiliki seperangkat barungan Gamelan Baleganjur yang terdiri dari:
1. 2 buah Kendang
2. 1 buah Tawa-tawa
3. 2 buah Ponggang
4. 4 buah Reong
5. 8 buah Ceng-ceng
6. 1 buah Kempur
7. 1 buah Gong
Dilihat dari instrumennya, gamelan Baleganjur ini termasuk kurang lengkap karena kekurangan instrumen Gong, Bebende, dan Kempli. Kekurangan ini terjadi karena dana yang diberikan hanya cukup untuk membeli gamelan Baleganjur yang kurang lengkap dan juga gamelan Baleganjur ini hanya digunakan untuk kepentingan upacara yadnya di daerah Banjar Petapan Kelod saja dan tidak dipergunakan untuk lomba, maka kekurangan ini tidak menjadi masalah.
Setelah gamelan Baleganjur dibeli, dibentulklah sekehe Baleganjur dengan nama Dharma Santi. Menurut Nyoman Sudiarsana, jumlah anggota sekehe kurang lebih 25 orang dan kebanyakan sekehe Baleganjur ini adalah orang tua, hanya sepertiga saja yang usianya masih remaja. Pada awal latihan, sekehe ini dilatih di Balai Banjar oleh I Wayan Patra dari Desa Tegalcangkring. I Wayan Patra memberikan materi Tabuh Tegak, Tabuh pejalan, dan Tabuh untuk orang ngaben. Sekehe Dharma Santi ini memiliki susunan pengurus, yaitu:
1. Ketua : Ketut Suarken
2. Sekretaris : Nyoman Sudiarsana
3. Bendahara : Putu Suarnita
Menurut Nyoman Sudiarsana, warga masyarakat sangatlah merasa terbantu dengan adanya sekehe Baleganjur ini karena warga yang sedang mengadakan upacara yadnya tidak susah untuk mencari sekehe baleganjur di luar Banjar Petapan Kelod. Warga masyarakat yang mempunyai kesenangan bermain gamelan juga dapat tersalurkan hobinya dengan ikut sekehe Baleganjur ini. Dibandingkan dengan waktu belum memiliki gamelan Baleganjur, warga masyarakat sangatlah susah untuk mencari sekehe Balegnjur, karena harus ngupah sekehe lain di luar banjar.
Dengan pengamatan dan pengalaman langsung dari saya, gamelan Baleganjur ini di beli untuk menunjang acara upacara yadnya yang berlangsung di Banjar Petapan Kelod, seperti Pitra Yadnya (ngaben), Melasti, dan Mebeji (mengantarakan Pretima ke Pura Taman). Setiap 1 tahun sekali, pada hari raya Nyepi, gamelan Baleganjur juga dipakai untuk mengiringi ogoh-ogoh pada saat pengrupukan. Selain itu Gamelan Baleganjur ini di beli untuk memajukan kesenian dan melestarikan budaya Bali khususnya dalam bidang seni Karawitan.

Categories
Tak Berkategori

”Tokoh seniman yang ada di daerah saya di desa Taro khususnya di Taro Kelod”

Di desa saya ada seorang seniman tetapi beliau itu dulunya hanya sekolah sampai di sekolah dasar saja. Berikut ini akan saya jabarkan biodata beliau.

  • Nama           : I Wayan Selem.
  • Alamat        : Br.Taro kelod,Taro,tegallalang,Gianyar,Bali.
  • Tgl lahir      : 5 Maret 1955
  • Agama        : Hindu
  • Status          : Sudah menikah.
  • Pekerjaan    : Pembuat patung.
  • Lulusan       : Sekolah Dasar.

          Saya sudah dapat mewawancarai seniman yang ada di daerah saya, yaitu di desa Taro. Beliau adalah seorang kelahirang Taro,menurut pengakuan beliau,asal mulanya (kawitan) beliau berasal di peliatan Ubud tetapi sudah tinggal di Taro sejak dari kakeknya. Beliau itu sekarang sudah resmi menjadi banjar di Taro.

Seniman kelahiran Taro ini kalu di desa saya sudah terkenal dan dikagumi oleh semua masyarakat terutama masyarakat desa Taro. Seniman ini suka ngayah atau beryadnya dengan mengandalkan kemampuannya yaitu dalam semua bidang seni,karena beliau dianggap paling bisa dan paling berani memulai kalau ada pembangunan seperti membuat patung-patung di desa Taro. Kekaguman masyarakat pada beliau, tidak menjadi alasan buat beliau suka, dan terus ngayah. Setiap pembangunan ataupun ada kegiatan seperti ada upacara ngaben beliau sudah pasti ikut didalamnya dalam pembuatan petulangan atau patung binatang yang dipakai di upacara tersebut seperti: lembu,gajah mina,singa,macan,dan yang lainnya.

          Kemampuan beliau bukan hanya membuat patung saja tapi beliau sebagai tukang barong yang sudah terkenal di sekitar Taro. Banjar-banjar yang sudah pernah beliau buatkan barong antara lain:

  • Banjar Taro Kelod.
  • Banjar Taro Kelod.
  • Banjar Tatag.
  • Banjar Ked
  • Banjar Pakuseba.
  • Banjar Belong.
  • Banjar Patas.
  • Banjar Pisang Kaja.
  • Banjar Pisang kelod.
  • Banjar kelusa
  • Banjar Seming,Kintamani.
  • Banjar mangguh,Kintamani.
  • Dan desa-desa yang lainnya.

          Menurut pengakuan beliau belum pernah ngayah membuat barong tersebut  menerima ongkos seperti layaknya tukang-tukang barong lainnya yang memakai target pasti,karena beliau bukan pedagang barong,melainkan beliau membuat barong dengan alasan ngayah dan beryadnya. Keloyalan beliau tersebutlah  yang membuat masyarakat menjadi kagum padahal kehidupan beliau tidak begitu kaya.

          Hasil karya beliau tidak hanya di daerah sekitar saja tetapi sudah biasa dijual ke manca negara,dan beliau sudah sering diajak keluar negeri untuk membuat patung-patung sesuai dengan pemesanan toris-toris,tetapi beliau diajak oleh bosnya,karena beliau tidak bisa berbahasa Inggris. Kemampuan seniman ini tidak hanya seperti saya sebutkan diatas tetapi beliau itu bisa juga melukis pandil-pandil wayang yang dipakai di pura atau merajan.

          Pada waktu hari raya hindu khususnya hari raya pengrupukan atau sehari sebelum nyepi,beliau juga sangat dibutuhkan dalam pembuatan ogoh-ogoh. Disamping seniman ini pintar dalam hal mematung,membuat barong,melukis,dan yang lainnya,beliau juga bisa dalam hal karawitan,karena beliau itu didesa saya sebagai pemain suling. Seniman ini kalau di banjar saya sebagai sekaa baris yang biasa ngayah-ngayah pada waktu odalan di pura.

          Yang saya herankan dari beliau ini,padahal beliau mengaku tidak pernah bersekolah seni atau bekerja di tempat pembuatan barong atau pelukis tapi katanya beliau hanya melihat-lihat saja sudah bisa membuat barong ataupun lukisan wayang tersebut.

beberapa hasil karya beliau:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Patung  Rsi Markandya yang di bangun  di  Pura Gunung Raung Taro.

Barong  yang  di buat dan  disungsung di banjar Taro kaja yang disebut barong bangkal.

Barong buah-buahan yang dipai pada waktu “KARYA  PANCA  WALI  KRAMA” di Pura Agung Gunung Raung                                                          Taro,dan masih banyak lagi hasil karya beliau yang lainnya.