A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Kassian Cephas Pionir Fotografi Indonesia

Mungkin tak banyak yang mengenal nama Kassian Cephas. Meski memiliki andil besar di dunia fotografi Indonesia, namun ketenaran namanya seolah hilang ditelan jaman. Pria yang dilahirkan pada 15 Januari 1845 dari pasangan Kartodrono dan Minah adalah orang Indonesia pertama yang memiliki kesempatan mengenal fotografi.

Perkenalan Cephas pada dunia fotografi tak lepas dari pengaruh kehidupannya di masa kanak-kanaknya yang dekat dengan budaya Belanda. Ia bahkan menjadi anak angkat orang Belanda yang bernama Frederik Bernard Fr. Schalk.

Tahun 1860-an, Cephas muda mulai merintis karir di dunia fotografi. Ia bahkan menekuni kesenangannya ini dan belajar menjadi fotografer profesional.

Sebagai fotografer pribumi pertama, nama Kassian Cephas mulai bersinar sejak ia memutuskan terjun di dunia profesional. Bahkan pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII, Cephas pernah dipercaya sebagai fotografer khusus keraton.

Tak heran jika karya besar Kassian Cephas merekam kahidupan Keraton Yogyakarta. Karena kedekatannya ini, ia bisa memotret momen-momen khusus yang hanya diadakan di keraton pada waktu itu.

Karya-karya besar Kassian Cephas yang merekam kehidupan keraton dimuat dalam buku karya Isaac Groneman, seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa dan buku karya sejarahwan Belanda Gerrit Knaap yang berjudul “Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan”.

Selain bekerja untuk Keraton Yogyakarta, Cephas juga terlibat dalam berbagai proyek pemotretan untuk penelitian. Beberapa diantaranya adalah penelitaian kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan yang dilakukan oleh Archaeologische Vereeniging atau Archeological Union di Yogyakarta pada tahun 1889-1890.

Cephas juga terlibat dalam pemotretan untuk proyek penelitian Candi Borobudur saat mulai ditemukan. ia membuat sekitar 300 foto untuk penggalian ini. Pemerintah Belanda mengalokasikan dana 9000 gulden untuk penelitian ini.

Tak tanggung-tanggung, Cephas memperoleh bayaran hingga 10 gulden per lembar fotonya. Ia mengantongi 3000 gulden atau sekitar sepertiga dari seluruh uang penelitian. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu.

Tahun 1896 ia dinominasikan menjadi anggota KITLV (Lembaga Linguistik dan Antropologi Kerajaan) atas dedikasinya memotret untuk penelitian Archaeologiche Vereeniging. Ia resmi diterima menjadi anggota KITLV pada tanggal 15 Juni 1896.

Pada tahun 1912, saat usianya menginjak 67 tahun Cephas tutup usia.

Sumber : Wikipedia

Leave a Reply