RSS Feed
Jan 13

MAKNA HARI RAYA GALUNGAN

Posted on Senin, Januari 13, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Hari Raya Galungan adalah Hari Raya Umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali, sesuai dengan kalender penanggalan Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan. Kata Galungan dalam bahasa jawa Kuno berarti menang, dan makna dari perayaan Hari Raya Galungan ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma atau kebajikan melawan adharma atau kebhatilan dan menghaturkan rasa terima kasih dan angayubagia ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi /Tuhan yang maha Esa atas terciptanya dunia serta segala isinya dan atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Hari raya Galungan selama ini sering dimaknai sebagai Hari raya untuk merayakan kemenangan Dharma (Kebaikan ) melawan Adharma (Kejahatan) yang mana hal ini dikaitkan dengan cerita kemenangan Dewa Indra melawan Raksasa Maya Denava.Maka dari itu selain mengetahui tentang pengertian hari raya galungan yang upacaranya kita harus mengetahui makna yang terkandung dalam hari raya galungan.

  1. Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :

  1. Rangkaian hari raya Galungan beserta makna simboliknya ?
  2. Apakah makna filosofi yang terkandung dalam hari raya galungn hari raya galungan ?

 

  1. Tujuan penulisan

 

Untuk mengetahui rangkaian hari raya Galungan dan makna simbolnya

Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam hari raya galungan

 

  1. Manfaat penulisan

Diharapkan kepada pembaca terutama mahasiswa karawitan untuk dapat mengetahui makna yang terkandung dalam hari raya galungan secara menyeluruh dar rangkaian hari raya galungan

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang makna atau pesan yang diselipkan para pendahulu kita dalam hari raya Galungan ini bagi transformasi umat dalam mengubah pola pikir dan tingkah lakunya agar bersesuaian dengan simbolik yang dipakai dalam rerahinan tersebut, maka kita akan mencoba membahasnya satu-persatu. Rangkaian hari raya Galungan beserta makna simboliknya.

 

  1. Tumpek Pengatag. (Tumpek pengarah, Tumpek pengunduh,atau Tumpek unduh)

Beberapa sumber menyatakan bahwa persiapan perayaan Galungan ini telah dimulai dari hari tumpek pengatag (Hari yang diartikan sebagai otonan tumbuh-tumbuhan-bukan berarti bahwa tumbuh-tumbuhan diciptakan Tuhan pada hari ini, tetapi lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam aspeknya sebagai Sankara yang telah menyediakan keperluan hidup manusia dalam kaitannya dengan tumbuh-tumbuhan). Hari raya ini dilaksanakan pada hari sabtu Kliwon wuku Wariga. Menurut Lontar Sundari Bungkah, Wariga mengandung makna “Wewarah ring Raga”. Selanjutnya tumbuh-tumbuhan atau pohon (Kayu – dalam bahasa bali) merupakan symbol “Kayun” atau pikiran. Dengan demikian, di balik prosesi “ngatag” atau memberitahukan tumbuh-tumbuhan bahwa perayaan Galungan sudah dekat sehingga memerlukan banyak buah untuk dipakai persembahan, hari raya ini semestinya juga dimaknai sebagai langkah awal untuk mengingatkan diri perang antara Dharma dan Adharma dalam diri sedang berlangsung dan terus akan berlanjut sampai kita manusia tutup usia. Karenanya sangat dibutuhkan rasa mawas diri dan introspeksi agar musuh utama berupa Sad Ripu (Kemarahan,Ketamakan,Kebingungan,nafsu indria, kemabukan materi, dan juga iri hati kebencian) tidak sampai mengalahkan kata hati dan memperbudak pikiran. Jadi perayaan hari tumpek pengatag ini bukan hanya prosesi yang harus dijalani tanpa pemahaman yang jelas..

 

  1. Sugian (Sugian Jawa dan Sugian Bali)

Jika kata sugian ini diartikan sebagai “Penyucian” seperti kata dasarnya Sugi, maka Sugian sebagaimana disebutkan dalam Lontar Sundarigama, adalah suatu prosesi pembersihan Bhuana Agung / alam semesta yang dilambangkan dengan nama tempat diluar Bali yakni Jawa dan juga pembersihan Bhuana alit yang terdiri dari unsur badan jasmani dan rohani, yang mana ia dilambangkan dengan nama tempat di dalam yakni Bali. dalam lontar ini disebutkan bahwa Sugian Jawa merupakan pasucian Dewa Kalinggania pamrastista Bhatara Kabeh. Dan Sugian Bali disebutkan “Kalinggania amrestista raga tawulan”. makna dari hari raya Sugian ini adalah proses penyucian diri (Mikrocosmos) dan juga alam (Makrocosmos) karena keduanya sangat terkait satu dengan lainnya ibarat janin dalam rahim. (jika ada kebajikan dalam hati,akan ada keindahan dalam watak. Jika ada keindahan dalam watak, akan ada harmoni dalam rumah tangga. Jika ada harmoni dalam rumah tangga, maka akan ada ketertiban dalam Negara. Dan jika sudah ada ketertiban dalam Negara maka sudah pasti akan ada kedamaian dalam dunia.) jadi segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. First to be, second to do, third to tell.

 

 

  1. Penyajaan

Pada hari ini Soma Pon Dungulan, umat merayakan Penyajaan berasal dari kata “Saja” Sungguh, Sajaan = sungguh-sungguh atau kesungguhan hati dalam menyongsong kemenangan Dharma ini. namun dalam tafsir lain, kata penyajaan juga diartikan sebagai kata “Jaja” yang mendapat awalan Pe- dan akhiran –an sehingga menjadi penyajaan. Oleh sebab itu, pada hari ini umat hindu melakukan proses membuat jajanan untuk persembahan.

Dalam kaitannya dengan penyajaan Galungan, Lontar Sundari Gama menyebutkan : Pengastawaning sang ngamong yoga semadhi. Yoga menyangkut komunikasi personal antara individu dengan Tuhan atau dengan dirinya sendiri. Komunikasi Atman dengan diri sendiri dalam hidup keseharian kita dikenal dengan istilah “Mendengar bisikan hati” oleh karena itu dalam segala aktivitas hendaknya manusia tidak pernah menentang kata hati yang menyuarakan kebenaran, jangan sampai ia diperbudak pikiran yang kadang telah ditunggangi kepentingan indera. Kesungguhan hati harus dipraktekkan secara perlahan berbarengan dengan jalur evolusi spiritual yang dilalui oleh pelakunya walaupun sedemikian sulit untuk melaksanakannya. Jadi pelaksanaan penyajaan ini baru dikatakan berhasil jika dalam tahapan ini manusia semakin dikuatkan dengan kesungguhan hati yang dimilikinya untuk menahan segala godaan Adharma yang berusaha disusupkan oleh sang kala tiganing dungulan.

  1. Penampahan

Selanjutnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan, umat melakukan Penampahan. Kata penampahan ini berasal dari kata Tampah yang artinya bunuh. Jadi penampahan berarti membunuh. Makna simboliknya adalah mengorbakan contonya babi dibunuh untuk upacara agama  yang tulis iklah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk keperluan yadnya.

  1. Galungan

Setelah melalui beberapa rangkaian, akhirnya pada Budha Kliwon wuku Dungulan, masyarakat hindu berada pada puncak perayaan.  Pada hari ini bahkan dari pagi-pagi sekali, umat sudah disibukkan dengan kegiatan mebanten (Menghaturkan persembahan). Ritual persembahyangan ini bahkan bisa berlangsung sampai malam hari. Dalam lontar Sundari Gama disebutkan  : Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang jnana Samadhi, galang apadang, maryakena sarva byaparaning idep. Artinya : Rabo Kliwon Dungulan, namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang sebagai wujud Dharma dalam diri, serta menghilangkan kekacau balauan pikiran yang merupakan bentuk dari Adharma. Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwasannya hakekat Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma.. Jadi perayaan Galungan bisa dikatakan berhasil dan layak untuk dirayakan adalah jika kita semakin bisa menunjukkan bahwa kita mahluk yang penuh cinta kasih dan punya kontribusi positive terhadap upaya pelestarian lingkungan dalam upaya membangun keharmonisan dengan alam, masyarakat, dan utamanya kepada Tuhan. Namun jika kita masih dalam tataran orang yang menafsirkan symbol agama secara sambil lalu saja,  tanpa mengerti apa yang kita kerjakan maka sebenarnya kita hanyalah orang yang ikut memeriahkan kemenangan Dharma dan bukan sebagai orang yang pantas menikmati kemenangan.

 

 

 

 

  1. Makna filosofi dalam perayaan hari raya galungan

 

  1. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan; Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, dan arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan dan melawan segala kekacauan pikiran. Jadi, Galungan adalah untuk menyatukan kekuatan rohani diri kita agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Untuk memenangkan Dharma atau kebajikan ini ada beberapa rangkaian upacara yang perlu dilaksanakan. Hari Raya galungan juga mengandung mana dalam perayaan besar bagi umat Hindu, pasar-pasar tradisional juga penuh sesak oleh warga yang akan membeli persiapan untuk Hari Raya Galungan, mulai dari beli buah-buahan, bunga, kue, janur dan salah satu yang terpenting adalah bambu utuh yang diperlukan untuk pembuatan penjor di hias dengan kreasi seni kemudian dipasang dipintu masuk samping kanan rumah, kelihatan berjejer rapi disepanjang jalan, kelihatan begitu indah dan meriah.Yang mencirikan rasa mengangad agama hindu dalam merayakan hari rayanya. Juga memupuk rasa kerja sama antar keluarga, contohnya pembagian tugas dengan pembagian ibu membuat banten dengan anak perempuan dan ayah membut penjor dengan anak laki-laki yang dapt memupuk rasa kekeluargaan.

 

  1. Tidak memaksakan kemanpuan seseorang( agama hindu fleksibel) Contohnya, semua Upacara Hindu di pulau dewata bisa dirayakan dengan tingkatan-tingkatan berdasarkan kemampuan seseorang, bisa dirayakan ditingkat paling rendah atau Nistaning utama sampai ketingkatan utama atau utamaning utama, jadi bagaimanapun bentuknya yang terpenting adalah kemampuan dan keiklasan sehingga tetap utama, tidak mengharuskan umatnya untuk mengeluarkan biaya yang tinggi. Ada yang juga yang sampai  mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk upara agama tentulah itu kembali pada kemampuan, keiklasan dan rasa untuk sebuah keyakinan, tidak dihitung secara matematis. Alangkah baiknya seandainya kita mampu dan iklas, secara tidak langsung membantu sesama memutar roda perekonomian.

 

  1. Hari raya galungan juga memiliki makna dari perayaan hari raya galungan ini yakni sebuah kebanggaan mengimani keyakinan Sanathana Dharma dalam tataran agama yang disebut Hindu karena dalam pengamalan ajaran agamanya, Hindu sangat dekat dengan alam. Berbagai ritual keagamaan dilaksanakan untuk tetap menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan, demikian juga dengan media persembahyangannya, hanya penganut agama timur yang menyertakan atau menggunakan hasil alam untuk mewujudkan rasa terima kasih dan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hidup serta kekayaan alam untuk menunjang kehidupan itu sendiri.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Setelah mengetahui hari raya galungan beserta maknanya kitasebagai mahasiswa harus mengerti tentang makna yang terkandung di dalamnya. Supaya tidak semata-mata melaksanakan hari raya tapi tidak tau maknanya. Galungan merupakan upacara agama hindu yang mempunya makna filosifi yang tinggi bagi kehidupan kita sebagai umat beragama.

 

 

  1. Saran

Saran yang dapat penulis berikan adalah kita harus tetap melestarika tradisi-tradisi agama hindu khusnya dalam pelaksanaan hari raya galungan. Dan makna – makna yang kita dapat dalam perayaan hari raya galungan dapat berguna dalam kehidupan kita .

 

Be the first to comment.

Leave a Reply