RSS Feed
Jan 13

CONTOH LAPORAN KELOMPOK KKN, ( Desa Kedis, Kec.Busung Biu, Buleleng ) #2013

Posted on Senin, Januari 13, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Masyarakat merupakan suatu komunitas yang majemuk dengan berbagai kreatifitas dan aktifitas yang berbeda baik social, budaya dan ekonomi serta tingkat pendidikan yang berbeda – beda. Terjun ke masyarakat bagi para mahasiswa merupakan tingkat pembelajaran yang sangat berharga dan kreatif untuk mengaplikasikan / mempraktekkan apa yang telah dipelajari di bangku kuliah di perguruan tinggi. Sehingga diharapkan nantinya mampu menghasilkan sarjana – sarjana yang berkualitas dan dapat memahami potensi masyarakat serta mampu menumukan jalan keluar bagi pengembangannya.

Pada saat terjun kelapangan ini juga merupakan ajang yang sangat potensial bagi para mahasiswa untuk mengasah kepekaan serta kepedulian terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar kita. Dalam pelaksanaan kegiatan KKN ini mahasiswa dituntun kemampuan untuk beradaptasi, bergaul dan berberbaur dengan masyarakat sehingga kita betul – betul dapat memahami dari setiap situasi yang berkembang di masyarakat karena apa yang didapat oleh mahasiswa di kampus belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang ada di lapangan.

Tujuan seperti diatas dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi disebut dengan pengabdian masyarakat. Namun dalam hal ini tidak mempunyai maksud bahwa para mahasiswa yang terjun ke lapangan masyarakat memberikan, menggurui masyarakat setempat. Melainkan yang ditekankan disini adalah bagaimana menggali pontensi yang ada dan menerima kelebihan – kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat yang barang kali belum didapatkan di kampus dan dipelajari ketika kembali ke kampus.

Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng menjadi salah satu tempat pelaksanaan KKN tahun 2013 mahasiswa ISI Denpasar. Desa ini memiliki berbagai kesenian yang layak untuk dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari program pemerintah Kabupaten Buleleng. Dalam kegiatan KKN di Desa Kedis mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan / mempraktekkan apa yang telah didapat / dipelajari dibangku perkuliahan seperti mengajar karawitan.

Dari latar belakang tersebut mahasiswa yang bergelut dibidang kesenian diharapkan untuk tetap mendukung dan berpartisipasi didalam melestarikan nilai – nilai kesenian dan budaya daerah baik secara langsung maupun tidak langsung demi terciptanya Ajeg Bali dalam arti yang sebenarnya.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1                  Potensi apa saja yang ada di desa Kedis?

1.2.2                  Permasalahan apa saja yang ada di desa kedis kususnya dalam hal seni dan budaya ?

 

1.3  Tujuan Program

1.3.1         Tujuan umum kuliah kerja nyata mempunyai 3 tujuan penting antara lain :

1.3.1.1  Mahasiswa dapat mempelajari relepasi bidang ilmu yang dipelajari dengan masyarakat dan memperoleh pengalaman belajar yang berharga. Melalui keterlibatan yang secara langsung menemukan, merumuskan, memecahkan dan mengulangi permasalahan secara pragmatis dan bertanggung jawab.

1.3.1.2  Mahasiswa dapat menggali ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam upaya memberikan pemikiran – pemikiran untuk memulihkan dan mempercepat gerak serta mempersiapkan generasi penerus pembangunan.

1.3.1.3  Perguruan tinggi dapat menghasilkan sarjana – sarjana yang berpikir praktis dan dapat memahami kondisi masyarakat serta gerak dan permasalahannya hanya yang bersifat komplek yang dihadapi oleh masyarakat dalam melaksanakan pembangunan.

1.3.2         Tujuan khusus kuliah kerja nyata mempunyai 2 tujuan penting antara lain :

1.3.2.1  Untuk melestarikan seni dan budaya di Desa Kedis sebagai bagian dari program pemerintah Kabupaten Buleleng.

1.3.2.2  Untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dibangku kuliah khususnya bidang seni karawitan untuk diterapkan dimasyarakat Desa Kedis.

 

 

1.4  Manfaat Program

1.4.1        Manfaat Praktis yang didapat adalah berkesempatan untuk mengaplikasikan kemampuan yang diperoleh di bangku kuliah, mempelajari lagu-lagu ( gending-gending asli ciptaan seniman kedis. Mendapat pengetahuan baru dalam bidang seni pertunjukan, dan merupakan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang di peroleh di Institut Seni Indonesia Denpasar.

1.4.2        Manfaat Teoritis yang didapat adalah mendapat input (masukan) megenai Karya-karya asli seniman Kedis seperti I Ketut Merdana dan Putu Sumiasa, sehingga menambah wawasan pemikiran. Input tersebut selanjutnya akan dibahas kembali setelah perkuliahan.

 

 

 

BAB II

KONDISI SENI DAN BUDAYA

 

2.1 Sejarah Desa Kedis

Berdasarkan Lontar Pustaka Raja Dalem Tamblingan,disebutkan bahwa Sejarah Desa Kedis adalah sebagai berikut :

Pada awalnya para leluhur atau Nenek Moyang Desa Kedis tinggal pada suatu tempat yang disebut Yeh Kedis sekarang.Disana bermukim 4(empat) KK (petang bungkul) dengan 11 (sebelas jiwa (Prawayah Buana).Setelah beberapa tahun kehidupan mereka disini diganggu (rejeng semut gatel) dan mereka mengadakan musyawarah (pawilangan)dengan Prawayah untuk pindah ke Watu lumbang dan bertemu dengan Prawayah Mokoh putra dari Prawayah Prodong dan sepakat mereka untuk pindah ke sebelah utara Tukad Yeh Jeha (Sungai Jeha) ke suatu tempat yang bernama Jaka Tebel.Disini mereka berkembang dan sambil menunggu Prawayah prawayah yang dating dari penjuru Bali.Di daerah ini mereka melaksanakan kegiatan adat istiadat,merencanakan pembangunan Pura Puseh,Pura Segare dan Khayangan Desa lainnya.Adapun Prawayah-prawayah yang dating ke Jake Tebel sesuai dengan urutan kedatangan Prawayah/Leluhur masing-masing.

1.    Prawayah Wayah Sumyarti,Gobleg

2.    Prawayah  Wayah Dateng,Gelgel Klungkung

3.    Prawayah Lanang Marta,Gelgel Klungkung,Tabanan Tangun titi,Bantiran

4.    Prawayah Wayah Nur ,Pulesari Tunju

5.    Prawayah Wayah Kentung,Wangaya

6.    Prawayah Wayah Sumyani,Dawan Klungkung

7.    Prawayah Wayah Prejani,Wangaya

8.    Prawayah Wayah Kita,Ketewel Gianyar

9.    Prawayah Wayah Dulu,Klungkung

10. Prawayah Wayah Braba,Klungkung,Padang Bulia,Pande Tusan

11. Prawayah Wayah Ketes,Sukasada Bubunan

Saat ini adat istiadat dipegang oleh Wayah Sumyarti dengan didampingioleh Wayah Dateng dan Wayah Lanang Marta Toh Jiwa.Saat ini karma mengadakan paruman (rapat) pada Caka 1623 dengan dihadiri oleh 40(empat puluh) KK membicarakan masalah adat istiadat di Jake Tebel.Setelah Wayah Sumyarti meninggal dunia kekuasaan adat dipegang oleh Wayah Lanang Marta Toh Jiwa.

Oleh karena itu Negara Indonesia dijajah Pemerintah Belanda dan termasuk Buleleng,pada suatu saat Pemerintah Belanda menaklukkan Daerah Buleleng dan Banjar yang selanjutnya penjajah melaksanakan pendataan adat keseluruh wilayah Buleleng.Pada saat Wayah adat di Jaka Tebel menyatakan bahwa Palemahan atau Wilayah Jaka Tebel dinamakan Desa Kedis pada Tahun Caka 1623 atau tahun 1701 Masehi.

Selanjutnya pelaksanaan adat istiadat dilaksanakan oleh Wayah Sumyarti dan turunannya,Nengah Telage,Nengah Menge,Ketut Sugina,Nyoman Alit Winangun dan Perbekel sekarang adalah I Wayan Suwibawa.

 

2.2 Potensi Desa Kedis

 

2.2.1 Sumber Daya Alam

Desa Kedis adalah termasuk wilayah Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut dengan luas 924 ha yang berbatasan dengan ;

Sebelah Utara              :           Desa Kekeran

Sebelah Barat              :           Desa Tinggarsari

Sebelah Timur             :           Desa Pelapuan

SebelahSelatan            :           DesaBengkel

Luas Pemukiman         : 31 ha, Luas Persawahan        : 175 ha, Luas perkebunan      : 367 ha, Usaha perikanan       : 17 ha.

 

2.2.2 Sumber Daya Manusia

Desa Kedis terdiri dari 2 Banjar Dinas yaitu Banjar Dinas Kaja dan Banjar Dinas Kelod dengan jumlah penduduk secara kesluruhan adalah 3791 orang, sebagian besar masyarakat desa Kedis berprofesi sebagai petani, profesi yang lainnya adalah sebagai buruh tani, karyawan perusahaan swasta, peternak, PNS, Polri, pengusaha kecil dan menengah.

 

 

2.3 Potensi Seni Dan Budaya

Desa Kedis merupakan desa yang memiliki banyak potensi dalam bidang seni, seperti seni karawitan, seni tari, seni pahat / patung. Di desa ini ada beberapa klompok-kelompok kesenian seperti, skeha gong, skeha santi, skeha angklung.

Keberadaan skeha ini tentunya di dukung oleh adanya perangkat / sarana pendukung. Di desa Kedis ada dua barungan gamelan gong kebyar dan dua barung gamelan angklung, Keberadaan barungan tersebut masih memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat di desa Kedis dalam melaksanakan upacara Agama seperti upacara Dwa Yadnya, Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Sehingga kesenian-kesenian tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan.

Sejarah mengatakan bahwa desa kedis sejak dahulu memang sangat terkenal di Era tahun 1965 kebawah dengan gamelan kebyarnya, desa Kedis termasuk salah satu bagian dari wilayah Buleleng barat ( dauh enjung ). Kesenian yang paling menonjol adalah gamelan gong kebyar milik desa Kedis, dibuktikan dengan banyak lagu-lagu (gending) gong kebyar baik instrumental maupun iringan tari  yang lahir di desa Kedis seperti Kebyar susun, gambang suling, tari becak, tari nelayan, wiranjaya,tari Pancasila, Hujan mas, tari puputan margarana, tari merpati. Karya-karya tersebut penulis dapatkan dari hasil observasi dan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat desa Kedis.

Kejayaan gong kebyar desa kedis yang bernama Skeha Gong Bandha Sawitra sangat terkenal seiring dengan perkembangan gamelan gong kebyar, banyak karya yang terlahir di era tahun 50-an oleh seniman-seniman di desa kedis seperti sang maestro I Ketut Merdana dan I Putu Sumiasa. Kedua seniman ini merupakan tokoh yang sangat berperan dalam pengembangan kesenian di desa Kedis, dalam bidang seni tari dan tabuh. Karya-karya kedua maestro tersebut hingga saat ini masih bisa kita nikmati, seperti Tari Nelayan, Tari Wiranjaya, Tabuh Gambang suling. Karya-karya tersebut hingga saat ini masih tetap di lestarikan baik oleh msyarakat Bali maupun masyarakat desa Kedis sebagai penerus nama besar I Ketut Merdana dan I Putu Sumiasa. Hingga saat ini gending-gending tersebut masih tetap dipelajari oleh generasi penerusnya yang ikut bergabung dalam skeha gong Bandha Sawitra Desa Kedis, tetapi memang sangat disayangkan ada banyak karya-karya yang tidak bisa dipelajari karena tidak ada sumber tertulis maupun rekaman audio yang bisa dipergunakan sebagai media pelestarian dan pembelajaran, sehingga dapat dikatakan beberapa karya-karya emas sang maestro tersebut sudah hilang/punah seperti Tari Pancasila, Tari Puputan Margarana, dan Tabuh Hujan Mas.

            Proses kreatif dalam bidang seni pertunjukan di desa Kedis hingga sekarang masih terlaksana misalnya proses latihan gong kebyar masih dilakukan secara rutin, hal tersebut tentunya tidak lepas dari peran serta seluruh masyarakat dan pemerintah, tetapi sangat disayangkan karena tidak pernah adanya pembinaan-pembinaan kesenian oleh orang-orang yang memang berkompeten dalam bidang seni. Tahun ini mungkin untuk pertama kalinya desa Kedis mendapatkan kesempatan untuk menjadi desa tujuan mahasiswa KKN ISI Denpasar, tetapi hanya mahasiswaa jurusan Seni Karawitan saja. Kesempatan dan peluang-peluang seperti ini memang harus selalu diupayakan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat guna melestarikan dan mengembangkan kesenian yang ada di desa Kedis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PROGRAM DAN PELAKSANAAN KEGIATAN

 

3.1 Program dan Rencana Kerja

            Kuliah kerja nyata (KKN) ISI Denpasar tahun 2013 dilaksanakan 1 agustus 2013 dan berakhir pada tanggal 31 Agustus 2013, satu bulan. Mengingat waktu pelaksanaan KKN tersebut yang relatif singkat, maka kami membuat atau menyusun beberapa rencana kegiatan yang kami peroleh setelah melakukan penjajagan kelokasi KKN. Setelah wawancara dengan kelian sekaa gong yaitu I Gede Artaya, beliau mengungkapkan bahwa desa Kedis akan mewakili kecamatan Busungbiu dalam acara festival gong kebyar Buleleng yang akan dilaksanakan pada bulan September. Sehingga kami dituntut untuk melatih mater-materi yang sudah ditentukan oleh Disbudpar Kabupaten Buleleng, materinya antara lain :

  1. Tabuh Lelonggoran-pepayasan
  2. Iringan Tari Wiranjaya
  3. Iringan Tari Merpati

Ketiga materi tersebut akan diusahakan supaya rampung selama masa KKN. Selain program yang sudah ada didesa kami juga membuat beberapa rencana kerja untuk diberikan kepada sekaa gong desa Kedis diantaranya :

  1. Mengajar iringan Tari Selat Segara
  2. Mengajar iringan Tari Gadung Kasturi
  3. Mengajar Tabuh Gesuri untuk Sekaa Gong Anak-anak
  4. Mengajar iringan Tari Satya Brastha
  5. Merintis Sekaa Gong Wanita

3.2 Pelaksanaan Program dan rencana kerja.

            Dalam rangka mempersiapkan ajang bergengsi di Kabupaten Buleleng kami merasa sangat tertantang dengan adanya program tersebut, sekali terjun ke masyarakat dalam kegiatan KKN di desa Kedis langsung mendapat tugas yang berat, tapi penulis harus bisa memecahkan masalah tersebut. Materi yang dibawa adalah Tabuh Lelonggoran-pepayasan, iringan Tari Wiranjaya, Dan Iringan Tari merpati.

Dalam proses platihannya maahasiswa KKN diminta agar mengasah kembali, dan melakuan perbaikan terhadap kedua iringan tari baik dari segi dinamika, penampilan, dan keseragaman tekhnik permainan. Selain iringan tari penulis juga bertugas untuk membuat pepayasan tabuh Lelonggoran.

Proses kegiatannya meliputi:

  • Hari pertama penulis ditunjukkan gending-gending tersebut untuk dipelajari, agar bisa mencari bagian-bagian yang harus di perbaiki dan bisa membuat pepayasan untuk tabuh lelonggoran.
  • Perbaikan tabuh iringan tari wiranjaya dilakukan hari kedua dan ketiga, persentase nya adalah 90%
  • Hari keempat dan kelima difokuskan untuk perbaikan iringan tari merpati, persentasenya 60%
  • Hari keenam penulis pergunakan untuk menuangkan pepayasan Tabuh Lelonggoran, 5%.
  • Minggu kedua penulis tidak bisa melaksanakan KKN, karena harus melaksanakan tugas Kampus ISI Denpasar untuk menabuh di Istana Negara di Jakarta.
  • Minggu ketiga setelah datang dari Jakarta difokuskan untuk menuangkan pepayasan tabuh lelonggoran. Hasilnya 90%. Danpertengahan minggu ketiga diusahakan untuk melatih sekeha gong anak-anak desa kedis setiap sore dengan materi tabuh Gesuri.
  • Minggu keempat dipergunakan untuk pengulangan materi-materi yang sudah rampung, hasilnya tabuh lelonggoran selesai 95%, iringan tari Wiranjaya 90%, iringan Tari Merpati 90%. Dan untuk tabuh Gesuri rampung hingga penutupan kegiatan, dengan persentase 70%.

 

3.3 Program Seni Tertunda.

Ada beberapa program seni yang tertunda diantaranya:

  • Pembentukan sekeha Gong Wanita.
  • Pelatihan iringan Tari Selat Segara.
  • Mengajar iringan Tari Gadung Kasturi
  • Mengajar iringan Tari Satya Brastha

 

 

3.4 Faktor Penghambat Dan Pendukung Kegiatan.

ü  Faktor penghambat kegiatan di Desa Kedis adalah kurang kompaknya kehadiran anggota sekeha gong pada saat peroses latihan, sehingga latihan menjadi tehambat.

ü  Faktor pendukung kegiatan adalah untuk materi-materi yang akan dibawa sudah sebagian besar diketahui dan secara tekhnik permainan sekeha gong desa Kedis ini sudah sangat bagus.

3.5 Peluang Sebagai Desa Binaan.

            Penulis rasa seni pertunjukan seperti seni karawitan merupakan kesenian unggulan desa Kedis, hal ini sesuai dengan sejarah bahwa di desa Kedis banyak terlahir karya oleh I Ketut Merdana dan I Putu Sumiasa seperti Tari Tenun, Tari Wiranjaya, Tari Merpati, Tari Becak, tabuh Gambang Suling, Tabuh Hujan Mas, Tabuh Kebyar Susun, Tari Pancasila, semua karya tersebut merupakan icon ( identitas ) desa Kedis, sehingga harus selalu dipertahankan oleh masyarakat desa kedis. Disini peranan pemerintah atau lembaga-lembaga yang membidangi seni dan budaya seperti ISI Denpasar sudah seharusnya ikut berperan aktif dalam melestarikan kesenian yang ada di desa Kedis, dan menjawab semua permasalahan yang ada seperti tidak adanya sumber mengenai iringan tari dan tabuh instrumental ciptaan desa kedis yang bisa dikatakan punah, bagaimana caranya lembaga pendidikan ISI Denpasar membantu masyarakat desa Kedis untuk menemukan dan mengajarkan kembali kepada masyarakat desa kedis. Beberapa karya yang sudah hilang adalah Tabuh Hujan Mas, Iringan Tari Becak, iringan Tari Pancasila.

Di desa Kedis juga terdapat Tari Palawakya style desa Kedis, tari Tenun style desa Kedis dan banyak tabuh-tabuh klasik asli desa Kedis. Hal-hal tersebutlah yang mejadi unggulan desa Kedis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1  Simpulan

  1. Desa Kedis merupakan desa yang memiliki banyak potensi dalam bidang seni, seperti seni karawitan, seni tari, seni pahat / patung. Di desa ini ada beberapa klompok-kelompok kesenian seperti, skeha gong, skeha santi, skeha angklung. Sejarah mengatakan bahwa desa kedis sejak dahulu memang sangat terkenal di Era tahun 1965 kebawah dengan gamelan kebyarnya, desa Kedis termasuk salah satu bagian dari wilayah Buleleng barat ( dauh enjung ). Kesenian yang paling menonjol adalah gamelan gong kebyar milik desa Kedis, dibuktikan dengan banyak lagu-lagu (gending) gong kebyar baik instrumental maupun iringan tari  yang lahir di desa Kedis seperti Kebyar susun, gambang suling, tari becak, tari nelayan, wiranjaya,tari Pancasila, Hujan mas, tari puputan margarana, tari merpati. Karya-karya tersebut penulis dapatkan dari hasil observasi dan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat desa Kedis.
  2. Dalam rangka mempersiapkan ajang bergengsi di Kabupaten Buleleng sekeha gong desa Kedis sebagai duta kecamatan Busungbiu. Materi yang dibawa adalah Tabuh Lelonggoran-pepayasan, iringan Tari Wiranjaya, Dan Iringan Tari merpati. Dalam proses platihannya mahasiswa KKN diminta agar mengasah kembali, dan melakuan perbaikan terhadap kedua iringan tari baik dari segi dinamika, penampilan, dan keseragaman tekhnik permainan. Selain iringan tari kami juga bertugas untuk membuat pepayasan tabuh Lelonggoran.

 

4.2 Saran

  1. Bagi pemerintah yang membidangi seni dan budaya baik di tingkat kecamatan, Kabupaten maupun Propinsi sudah seharusnya ikut berperan aktif dalam melakukan upaya-upaya pembinaan kesenian yang ada di desa Kedis karena desa Kedis merupakan desa yang sangat kaya dengan kesenian khususnya Seni pertunjukan, sehingga kepedulian pemerintah untuk menjaga dan melestarikan kesenian yang ada di desa Kedis bisa selalu menjadi prioritas. Dan bagi para seniman dan budayawan agar mau melakukan kajian-kajian serta penelitian dalam bidang seni yang ada di desa Kedis.
  2. Bagi KKN ISI Denpasar agar selalu melaksanakan KKN di desa Kedis, karena sentuhan-sentuhan seniman akademis akan sangat membantu perkembangan kesenian yang ada. KKN di desa Kedis juga sangat menambah pengetahuan kita dalam bidang Seni Pertunjukan khususnya seni Karawitan diluar dari yang kita peroleh di bangku perkuliahan.

 

 

 

Daftar Pusataka

LP2M, ISI Denpasar.2013. Buku Pedoman Kuliah Kerja Nyata Institut seni Indonesia Denpasar : ISI Denpasar.

Profil Desa Kedis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Informan

  1. I Gede Artaya sebgai ketua sekeha gong Bandha Sawitra desa Kedis.
  2. I Ketut Swiditha selaku Bendesa Adat desa Kedis.
  3. I Putu Sumiasa salah seorang seniman tua dari desa Kedis.

Be the first to comment.

Leave a Reply