RSS Feed
Jan 13

ASAL – USUL JEGOG, BALI BAGIAN BARAT.

Posted on Senin, Januari 13, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

 

Gamelan Bali adalah salah satu produk budaya yang memiliki arti dan peranan sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali. Gamelan tidak saja digunakan sebagai sarana yang ekspresi emosional dalam kaitannya dengan masalah kesenian, melainkan juga sebagai sarana sosial, pengikat solidaritas sebuah komunitas atau kelompok. Gamelan juga salah satu sarana upacara yadnya/adat yang kehadirannya tidak hanya sebagai pelengkap, namun sangat menunjang sebuah upacara baik adat maupun keagamaan. Fungsi dan kegunaan inilah yang menyebabkan gamelan Bali berkembang dengan pesat.

Pada saat ini terdapat kurang lebih 35 jenis barungan gamelan Bali yang berbeda bentuk, bahan, karakter, fungsi dan kegunaannya. Dari segi fungsi dapat teramati dari beberapa segi yaitu berfungsi sebagai sarana ritual dan berfungsi sebagai sarana hiburan. Sedangkan dari segi penggunaannya, ada yang digunakan sebagai iringan tari/seni pertunjukan lainnya dan ada juga disajikan khusus memainkan lagu-lagu instrumental/tabuh pategak. Tabuh pategak pada umumnya difungsikan untuk mengawali sebuah pertunjukan. Apabila tabuh pategak secara khusus dipagelarkan, biasanya itu berfungsi sebagai musik protokoler, penambah suasana baik suasana meriah, hikmat, sedih dan sebagainya sesuai dengan fungsi dan tata penyajiannya. Umumnya setiap gamelan dapat disajikan sebagai mana hal tersebut diatas. Keragaman serta lintas fungsi juga kerap terjadi dari keseluruhan perangkat gamelan yang ada.

Salah satu dari 35 jenis barungan yang ada di Bali adalah gamelan Jegog. Gamelan Jegog adalah gamelan khas Kabupaten Jembrana yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu. Gamelan Jegog dibuat oleh Kiyang Gliduh dan diperkirakan muncul pada tahun 1912 di Desa Dangin Tukad Aya.

Gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, penyebarannya masih sangat sedikit. Gamelan Jegog mempunyai keunikan pada nada-nada yang dimilikinya, sehingga bisa membuat orang belum terbiasa mendengarnya menjadi bingung. Selain nadanya yang unik, Jegog juga mempunyai pertunjukan yang unik, yaitu pertunjukan Jegog mebarung dimana dua atau tiga (bisa juga lebih banyak) sekehe Jegog ditampilkan (menabuh) secara bersamaan. Keunikan yang terdapat pada gamelan Jegog membuat penulis tertarik untuk mengapresisasikan suatu pertunjukan Jegog mebarung dalam bentuk paper.

BAB II

GAMELAN JEGOG

 

2.1 Asal Usul Gamelan Jegog

Sebagai daerah yang berlandaskan seni dan budaya, di Bali sering kali diadakan suatu pertunjukan. Selain sebagai pengiring upacara keagamaan, seni di Bali juga sering dipertunjukan sebagai seni hiburan (profan). Jegog merupakan salah satu gamelan khas Kabupaten Jembrana yang biasa dipertunjukan sebagai seni hiburan.

Gamelan Jegog adalah gamelan khas Kabupaten Jembrana. Jegog merupakan gamelan golongan baru yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu besar yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperangkat alat musik bambu yang suaranya sangat merdu dan menawan hati. Kata Jegog diambil dari nama instrumen dalam gamelan Gong Kebyar. Tiap-tiap tungguh instrumen yang membangun perangkat Jegog itu sendiri terdiri dari delapan bilah yang tergantung sedemikian rupa pada pelawahnya. Instrumen-instrumen pada Jegog dimainkan menggunakan dua buah panggul, baik terbuat dari karet ataupun kayu. Gamelan Jegog memakai laras Pelog empat nada dengan padantara yang khas sehingga akan menimbulkan laras yang unik dan menarik.

Gamelan Jegog diperkirakan ada sejak tahun 1912 di sebuah desa di pinggiran kota Negara yang memiliki bentangan sawah yang luas. Kiyang Gliduh adalah pencipta gamelan Jegog, setelah itu Jegog berkembang di Desa Delod Berawah pada tahun 1920, dan kemudian dilanjutkan oleh sekehe Jegog di Desa Pohsanten bersamaan dengan Desa Mendoyo Dangin Tukad dan di Desa Tegal Cangkring pada tahun 1940. Kurangnya penyebaran gamelan Jegog ini membuat gamelan ini kurang dikenal oleh masyarakat Bali dan hanya berkembang di Kabupaten Jembrana.

Gamelan Jegog ditemukan ketika Kiyang Gliduh pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya di hutan beliau mulai mengumpulkan kayu bakar. Setelah  mendapatkan kayu bakar, maka dalam perjalanan pulang beliau merasa agak payah. Kemudian beliau beristirahat sambil  berteduh  di bawah pohon yang rindang. Alangkah kagetnya Kiyang Gliduh ketika beliau mendengarkan suara yang aneh tetapi indah. Lama sekali beliau tertegun mendengarkannya, suara itu makin lama makin menjadi-jadi, dan kedengarannya mirip dengan wirama Acwalalita yaitu satu dari sekian banyak wirama yang dikuasainya. Karena begitu besar hasratnya untuk mengetahui suara itu,maka beliau terus menelusuri ke arah yang dianggap sebagai sumber bunyi itu. Kemudian beliau mengetahui bahwa suara itu dating dari arah timur, lalu beliau pun menelusurinya kea rah datangnya suara itu. Alangkah kagetnya Kiyang Gliduh ketika sampai di timur karena suara itu datangnya dari arah yang lain. Susul-menyusul arah pun terjadi hingga akhrinya Kiyang Gliduh menjadi bingung karena tidak berhasil menemukan sumber yang sebenarnya. Akhirnya, beliau kembali ke pohon tempatnya berteduh semula. Sambil melepas lelah beliau mencoba untuk mengingat suara yang ternyata merupakan rangkaian nada-nada. Ditirukanlah nada-nada tersebut dengan menggunakan bilah-bilahan kayu apai yang berhasil dikumpulkannya tersebut dan menghasilkan suara yang bagus. Setibanya di rumah, Kiyang Gliduh mencari jenis kayu yang lain yaitu kayu bayur dan panggal buaya untuk bahan bilah serta dikerjakannya dengan lebih baik Meskipun demikian, beliau belum merasa puas karena suara yang dihasilkan tidak keras. Untuk itu maka bilah-bilah tadi ditambahkan dengan resonator yang terbuat dari bambu sehingga menghasilkan suara yang sangat bagus.

Sifat seorang seniman yang tidak mau cepat puas membuat Kiyang Gliduh untuk terus mencoba membuat tiruan nada itu menggunakan bahan yang lain. Dari usaha mencoba dan mencoba secara terus menerus, akhirnya ditemukan bahwa bamboo adalah bahan yang paling baik untuk membuat tiruan nada tersebut. Berbagai jenis bambu dari ukuran yang kecil hingga besar dipilihnya sebagai bahan instrumen. Hasilnya pun sangat membanggakan, meggelegar seolah-olahmembelah bumi. Oleh karena suaranya demikian hebat dan menakjubkan maka instrumen atau gamelan itu diberi nama gamelan Jegog.

Dalam buku “Penerima Penghargaan Seni Dharma Kusuma” disebutkan bahwa Kiyang Gliduh mendapat inspirasi membuat gamelan Jegog pada saat menghalau burung yang memakan tanaman padi yang menguning di sawah. Ketika itu, ia sedang berteduh di sebuah kubu sambil mengusir burung dengan memukul kulkul dari bahan bambu yang saling bersahutan dengan rekannya yang juga menjaga tanaman padi di sebelah sawah. Ia mendengar suara merdu yang dapat ditimbulkan dari kulkul itu, kemudian ia mencoba menerapkan suara merdu tersebut dengan membuat instrumen musik tradisional yang sangat sederhana yang terbuat dari bambu tapi ukurannya lebih kecil yang disebut Tingklik.

Setiap kubu dilengkapi dengan Tingklik yang digunakan untuk menghibur dirinya saat selesai membajak sawah. Seluruh kubu di subak Sebual menyuarakan Tingklik dan alunan suara yang merdu tersebut menjadi ramai. Ketika petani pulang ke rumah masing-masing secara serempak mereka sepakat untuk membuat “Barungan Tingklik”.

Dalam perkembangannya perangkat gamelan Tingklik disempurnakan, ditambah disana-sini dengan alat musik dengan ukuran yang bervariasi dan masing-masing memiliki fungsi yang berbeda dan kemudian secara keseluruhan gamelan tersebut disebut gamelan Jegog.

 

2.2 Instrumentasi

Satu barungan gamelan Jegog terdiri dari 14 buah instrumen. Adapun nama dan fungsi instrumen tersebut adalah:

  1. satu buah Patus Barangan, berfungsi untuk memulai gending, memberi aba-aba

atau memimpin seluruh penabuh, pukulannya mengikuti matra.

  1. dua buah Pengapit Barangan, berfungsi untuk nyandetin Patus Barangan.
  2. 3.   satu buah Patus Kancil, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan,bermain polos.

  1. 4.   dua buah Pengapit Kancil, berfungsi untuk nyandetin Patus Kancil.
  2. 5.   satu buah Patus Swir, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan, bermain polos, menguatkan suasana gending karena

nadanya tinggi.

  1.  dua buah Pengapit Swir, berfungsi untuk nyandetin Patus Swir.
  2.  dua buah Celuluk/Kuntung, berfungsi sebagai pembawa melodi.
  3.  dua buah Undir, berfungsi sebagai pembawa melodi, tetapi pukulannya lebih

jarang dari Kuntung.

  1.  satu buah Jegog, berfungsi sebagai pembawa melodi hanya saja pukulannya lebih

jarang dari Undir dan dimaninkan oleh dua orang penabuh.

 

2.3 Sistem Pelarasan

Apabila kita perhatikan laras Jegog itu maka kita akan mendapatkan hal yang sangat unik. Jegog memiliki empat nada dalam satu oktafnya, yaitu dong, deng, dung, ding (4, 5, 7, 3). Apabila kita bertitik tolak pada laras pelog maka akan didapatkan sruti sebagai berikut.

  1. Dong (4) ke deng (5) adalah pendek.
  2. Deng (5) ke dung (7) adalah panjang, karena melewati satu pamero (6).
  3. Dung (7) ke ding (3) paling panjang, karena melewati nada dang (1) dan pamero (2).

Dong, deng, dung, ding (4, 5, 7, 3) merupakan urutan nada Jegog yang biasa diucapkan di Jembrana. Karena keunikannya inilah laras Jegog cenderung disebut laras Pelog.

Namun hal tersebut hanya dalam hal pengucapannya saja. Nada pada gamelan Jegog bisa didapat dalam laras pelog lima nada yaitu dengan menggunakan nada dung, dang, ding, deng (7, 1, 3, 5). Selain menggunakan laras pelog lima nada, dalam laras pelog tujuh nada pun juga bisa di dapat nada pada gamelan Jegog dengan menggunakan nada dong, deng, dung, dan pemero daing (4, 5, 7, 2).

 

2.4 Fungsi

Awalnya, gamelan Jegog itu berfungsi sebagai hiburan untuk para pekerja yang bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia, yang dalam istilah Bali disebut nyucuk. Gamelan Jegog lebih banyak berfungsi sebagai seni hiburan, misalnya untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, makepung (lomba balap kerbau), mebarung, atraksi pencak silat dalam bentuk akrobat dan belakangan ini juga dipentaskan untuk para wisatawan. Selain itu, gamelan Jegog juga biasa dipentaskan pada acara resepsi untuk menghibur para tamu undangan.

 

2.5 Perkembangan Gamelan Jegog

Gamelan Jegog yang diamati sekarang ini telah mengalami tiga perkembangan dalam hal bahan, yaitu pada awalnya gamelan Jegog dibuat dari kayu , kemudian berkembang menjadi bambu dengan ukuran yang sama. Lama-kelamaan bentuk gamelan Jegog tersebut dikembangkan lagi dengan menggunakan bahan dari bambu yang ukurannya lebih besar. Dengan adanya perubahan ukuran bambu, maka pelawah atau wadah yang digunakan juga lebih besar.

Selain dalam hal bahan, perkembangan gamelan Jegog juga terjadi dalam hal memainkannya. Dulunya gamelan Jegog dimainkan dengan cara duduk, tentu saja dengan pelawah yang kaki-kakinya agak pendek. Sekarang permainan gamelan Jegog dimainkan dengan cara berdiri dengan menggunakan pelawah yang kakinya panjang. Hal ini digagas pertama oleh I Nyoman Sutama, SSKar.

Selain itu, perkembangan juga dialam oleh gamelan Jegog dalam hal repertoar gending. Dulunya gamelan Jegog hanya memainkan gending-gending klasik saja, namun akibat perkembangan gamelan Gong Kebyar, gamelan Jegog memainkan gending-gending yang ditransfer dari gending-gending Gong Kebyar. Berkat inisiatif dari I Nyoman Sutama, SSKar, gamelan Jegog kini bisa memiliki gending-gending kreasi yang pertama kalinya dipelopori oleh sanggar Suar Agung. Dengan adanya hal ini gamelan Jegog semakin di kenal oleh masyarakat di Bali, di Indonesia dan di dunia terutama di Jepang. Gamelan Jegog kini sering dipentaskan, selain ke luar negeri, Jegog juga sering tampil dalam acara PKB.

Gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, di Bali mungkin penyebarannya hanya ada di Ubud dan di kampus ISI Denpasar saja (sepengetahuan penulis). Selain di Bali, gamelan Jegog juga ada di negeri sakura, yaitu di Jepang.

 

2.6 Jenis Gending

Gending-gending yang dapat dimainkan dalam gamelan Jegog adalah Tabuh Teruntungan, Tabuh Pategak, Tari-tarian, dan Joged. Tabuh Terungtungan ini adalah tabuh yang suaranya lembut dan kedengarannya sangat merdu karena melantunkan lagu-lagu dengan irama yang sangat mempesona sebagai inspirasi keindahan alam Bali. Tapi pada saat ini Tabuh Teruntungan sudah dimodifikasi sehingga menjadi seperti tabuh kreasi, akan tetapi masih berpedoman pada pakem-pakem tabuh teruntungan yang ada.

Selain gending klasik, gending-gending yang ditransfer dari Gong Kebyar juga sering ditampilkan, yaitu gending Bhakti Marga, Gopala, Belibis, dan lain-lain. Selain itu, gending-gending kreasi juga sering dipentaskan oleh sanggar-sanggar Jegog seperti Suar Agung, Jimbarwana, dan Yudistira.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PERTUNJUKAN JEGOG MEBARUNG

 

Di Kabupaten Jembrana, sering sekali diadakan pertunjukan Jegog mebarung. Jegog mebarung sering diadakan pada waktu acara resepsi pernikahan, mesangih, nyambutin, piodalan di  pura dan lain-lain. Jegog mebarung dipertunjukan untuk menghibur masyarakat dan dipertunjukan pada akhir acara. Selain itu, Jegog mebarung juga diadakan untuk menentukan sekehe Jegog terkuat dan terhebat. Dalam perlombaan karapan kerbau (makepung), Jegog mebarung juga sering dipertunjukan untuk menambah semangat para peserta makepung. Mebarung artinya bertarung antara dua Jegog atau bisa juga bertarung antara tiga Jegog, yang dalam Bahasa Bali disebut Jegog Barung Dua atau Jegog Barung Tiga. Jegog mebarung ini biasanya dipertontonkan pada acara-acara syukuran yaitu pada acara suka ria di desa. Pada saat mebarung masing-masing Jegog mengawali dengan menampilkan tabuh yang namanya Tabuh Terungtungan yaitu suatu tabuh sebagai ungkapan rasa terima kasih dan hormat kepada para penonton dan penggemar seni Jegog, dan juga sebagai tabuh untuk menandakan bahwa pertunjukan Jegog sudah dimulai. Setelah penampilan Tabuh Terungtungan baru dilanjutkan dengan Tabuh Pategak khas sekehe masing-masing, dan setelah itu dilanjutkan dengan atraksi Jegog mebarung, yaitu masing-masing penabuh memukul gamelan Jegog secara bersamaan antara sekehe Jegog yang satu dengan sekehe Jegog lawan mebarung. Penabuh memukul gamelan Jegog dengan sangat keras sehingga kedengarannya musik Jegog tersebut sangat riuh dan sangat gaduh dan kadang-kadang para penonton sangat sulit membedakan suara lagu musik Jegog yang satu dengan yang lainnya. Penentuan kalah dan menang Jegog mebarung ini adalah para penonton karena Jegog mebarung ini tidak ada tim juri khusus, jadi tergantung penilaian para penonton saat itu. Apabila suara salah satu gamelan Jegog kedengarannya oleh sipenonton lebih dominan dan teratur suara lagu-lagunya, maka Jegog tersebut dinyatakan sebagai pemenang mebarung. Jegog mebarung adalah pertunjukan kesenian yang tujuannya untuk menghibur para penonton dan para penggemarnya.

Pada tanggal 24 Oktober 2011, di rumah A.A. Kd Suarsa, di Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana diadakan resepsi pernikahan. Dalam acara resepsi itu, dipertunjukan kesenian Jegog mebarung, yaitu antara sekehe Rai Gita Suara dengan sekehe Suara Bajra Mukti.

Sekehe Jegog Rai Gita Suara merupakan sekehe Jegog yang berasal dari Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana. Sekehe yang terdiri dari 19 orang ini diketuai oleh A.A. Kd Suarsa. Sekehe Jegog ini berdiri pada tanggal 25 Oktober 2010 dan dibina oleh I Made Adi Putra. Gamelan Jegog ini merupakan milik pribadi dari A.A. Kd Suarsa.

Sekehe Jegog Suara Bajra Murti merupakan sekehe Jegog yang berasal dari Banjar Masean, Desa Batu Agung, Kecamatan Jembrana. Sekehe yang dibina dan diketuai oleh Wayan Artika ini berdiri pada awal tahun 2009. Sekehe ini terdiri dari 21 orang. Gamelan Jegog yang dimiliki merupakan hasil sumbangan dari pemerintah dan sumbangan masyarakat.

Sebelum pertunjukan Jegog dimulai, masing-masing pemangku melakukan suatu ritual untuk sekehe Jegognya. Hal ini diadakan agar pertunjukan Jegog mebarung berjalan dengan lancar. Pertunjukan dimulai dengan penampilan Tabuh Teruntungan oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tabuh Teruntungan oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara. Setelah menampilkan Tabuh Teruntungan, pertunjukan dilanjutkan dengan Tabuh Pategak yang dimulai oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti yang menampilkan tabuh klasik Saung Galing. Kemudian dilanjutkan dengan sekehe Jegog rai Gita Suara yang menampilkan tabuh klasik Jegog yang berjudul Sandat Gading yang di buat oleh I Made Adi Putra. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan pertunjukan Joged oleh kedua sekehe. Setelah pertunjukan Joged, dilanjutkan dengan pertunjukan tabuh pategak yang berjudul Becica Nguci yang ditampilkan oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti. Kemudian dilanjtkan dengan menampilkan tabuh petegak Klinyeng yang ditampilkan oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara. Pada akhir pertunjukan, ditampilkanlah tabuh mebarung, kedua sekehe menabuh secara bersamaan dengan gending yang hampir sama dengan motif gilak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

 

4.1  Simpulan

Jegog merupakan gamelan golongan baru yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu besar yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperangkat alat musik bambu yang terdiri dari 14 instrumen, yaitu satu buah Patus Barangan, dua buah Pengapit Barangan, satu buah Patus Kancil, dua buah Pengapit Kancil, satu buah Patus Swir, dua buah Pengapit Swir, dua buah Celuluk/Kuntung, dua buah Undir, dan satu buah Jegog. Gamelan Jegog memakai laras Pelog empat nada (4,5,7,3) dengan padantara yang khas sehingga akan menimbulkan laras yang unik dan menarik. Gamelan Jegog diciptakan oleh Kiyang Geliduh pada tahun 1912. Selain bisa menyajikan lagu-lagu instrumental, gamelan Jegog juga bisa dijadikan untuk mengiringi tari-tarian dan joged.

Pada tanggal 24 Oktober 2011, di rumah A.A. Kd Suarsa, di Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana diadakan resepsi pernikahan. Dalam acara resepsi itu, dipertunjukan kesenian Jegog mebarung, yaitu antara sekehe Rai Gita Suara dengan sekehe Suara Bajra Mukti. Masing-masing sekehe membawakan empat materi gending, yaitu Tabuh Teruntungan, dua Tabuh Pategak, dan Joged. Pada akhir pertunjukan, diadakanlah pertunjukan Jegog mebarung yang merupakan penampilan final.

 

4.2            Saran

Gamelan Jegog merupakan gamelan yang suaranya sangat unik dan khas, dan juga hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, maka dari itu gamelan Jegog harus dilestarikan agar gamelan ini tidak punah.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aryasa, I WM, 1984/1985. Pengetahuan Karawitan Bali. Denpasar : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.

Bandem, I Made, 1986. Prakempa, Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar : Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar.

Dibia, I Wayan, 1977/1978. Pengantar Karawitan Bali. Denpasar : Proyek Peningkatan/Pengembangan ASTI Denpasar.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2001. Penerima Penghargaan Seni Dharma Kusuma. Denpasar : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Rai S, I Wayan, 2001. GONG Antologi Pemikiran. Denpasar : Bali Mangsi.

Sukerta, Pande Made, 1998. Ensiklopedi Mini Karawitan Bali. Bandung : Sastrataya-Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).

, 2010, Tetabuhan Bali I. Surakarta : ISI Press Solo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUMBER INTERNET

 

http://www.parissweethome.com

http://www.babadbali.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR NARASUMBER

 

Nama               : I Made Adi Putra

Umur               : 24 tahun

Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat            : Desa Dangin Tukad Aya

 

Nama               : Wayan Artika

Umur               : 30 tahun

Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat            : Desa Batu Agung

 

Be the first to comment.

Leave a Reply