RSS Feed
Jan 13

CONTOH LAPORAN KELOMPOK KKN, ( Desa Kedis, Kec.Busung Biu, Buleleng ) #2013

Posted on Senin, Januari 13, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Masyarakat merupakan suatu komunitas yang majemuk dengan berbagai kreatifitas dan aktifitas yang berbeda baik social, budaya dan ekonomi serta tingkat pendidikan yang berbeda – beda. Terjun ke masyarakat bagi para mahasiswa merupakan tingkat pembelajaran yang sangat berharga dan kreatif untuk mengaplikasikan / mempraktekkan apa yang telah dipelajari di bangku kuliah di perguruan tinggi. Sehingga diharapkan nantinya mampu menghasilkan sarjana – sarjana yang berkualitas dan dapat memahami potensi masyarakat serta mampu menumukan jalan keluar bagi pengembangannya.

Pada saat terjun kelapangan ini juga merupakan ajang yang sangat potensial bagi para mahasiswa untuk mengasah kepekaan serta kepedulian terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar kita. Dalam pelaksanaan kegiatan KKN ini mahasiswa dituntun kemampuan untuk beradaptasi, bergaul dan berberbaur dengan masyarakat sehingga kita betul – betul dapat memahami dari setiap situasi yang berkembang di masyarakat karena apa yang didapat oleh mahasiswa di kampus belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang ada di lapangan.

Tujuan seperti diatas dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi disebut dengan pengabdian masyarakat. Namun dalam hal ini tidak mempunyai maksud bahwa para mahasiswa yang terjun ke lapangan masyarakat memberikan, menggurui masyarakat setempat. Melainkan yang ditekankan disini adalah bagaimana menggali pontensi yang ada dan menerima kelebihan – kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat yang barang kali belum didapatkan di kampus dan dipelajari ketika kembali ke kampus.

Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng menjadi salah satu tempat pelaksanaan KKN tahun 2013 mahasiswa ISI Denpasar. Desa ini memiliki berbagai kesenian yang layak untuk dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari program pemerintah Kabupaten Buleleng. Dalam kegiatan KKN di Desa Kedis mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan / mempraktekkan apa yang telah didapat / dipelajari dibangku perkuliahan seperti mengajar karawitan.

Dari latar belakang tersebut mahasiswa yang bergelut dibidang kesenian diharapkan untuk tetap mendukung dan berpartisipasi didalam melestarikan nilai – nilai kesenian dan budaya daerah baik secara langsung maupun tidak langsung demi terciptanya Ajeg Bali dalam arti yang sebenarnya.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1                  Potensi apa saja yang ada di desa Kedis?

1.2.2                  Permasalahan apa saja yang ada di desa kedis kususnya dalam hal seni dan budaya ?

 

1.3  Tujuan Program

1.3.1         Tujuan umum kuliah kerja nyata mempunyai 3 tujuan penting antara lain :

1.3.1.1  Mahasiswa dapat mempelajari relepasi bidang ilmu yang dipelajari dengan masyarakat dan memperoleh pengalaman belajar yang berharga. Melalui keterlibatan yang secara langsung menemukan, merumuskan, memecahkan dan mengulangi permasalahan secara pragmatis dan bertanggung jawab.

1.3.1.2  Mahasiswa dapat menggali ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam upaya memberikan pemikiran – pemikiran untuk memulihkan dan mempercepat gerak serta mempersiapkan generasi penerus pembangunan.

1.3.1.3  Perguruan tinggi dapat menghasilkan sarjana – sarjana yang berpikir praktis dan dapat memahami kondisi masyarakat serta gerak dan permasalahannya hanya yang bersifat komplek yang dihadapi oleh masyarakat dalam melaksanakan pembangunan.

1.3.2         Tujuan khusus kuliah kerja nyata mempunyai 2 tujuan penting antara lain :

1.3.2.1  Untuk melestarikan seni dan budaya di Desa Kedis sebagai bagian dari program pemerintah Kabupaten Buleleng.

1.3.2.2  Untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dibangku kuliah khususnya bidang seni karawitan untuk diterapkan dimasyarakat Desa Kedis.

 

 

1.4  Manfaat Program

1.4.1        Manfaat Praktis yang didapat adalah berkesempatan untuk mengaplikasikan kemampuan yang diperoleh di bangku kuliah, mempelajari lagu-lagu ( gending-gending asli ciptaan seniman kedis. Mendapat pengetahuan baru dalam bidang seni pertunjukan, dan merupakan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang di peroleh di Institut Seni Indonesia Denpasar.

1.4.2        Manfaat Teoritis yang didapat adalah mendapat input (masukan) megenai Karya-karya asli seniman Kedis seperti I Ketut Merdana dan Putu Sumiasa, sehingga menambah wawasan pemikiran. Input tersebut selanjutnya akan dibahas kembali setelah perkuliahan.

 

 

 

BAB II

KONDISI SENI DAN BUDAYA

 

2.1 Sejarah Desa Kedis

Berdasarkan Lontar Pustaka Raja Dalem Tamblingan,disebutkan bahwa Sejarah Desa Kedis adalah sebagai berikut :

Pada awalnya para leluhur atau Nenek Moyang Desa Kedis tinggal pada suatu tempat yang disebut Yeh Kedis sekarang.Disana bermukim 4(empat) KK (petang bungkul) dengan 11 (sebelas jiwa (Prawayah Buana).Setelah beberapa tahun kehidupan mereka disini diganggu (rejeng semut gatel) dan mereka mengadakan musyawarah (pawilangan)dengan Prawayah untuk pindah ke Watu lumbang dan bertemu dengan Prawayah Mokoh putra dari Prawayah Prodong dan sepakat mereka untuk pindah ke sebelah utara Tukad Yeh Jeha (Sungai Jeha) ke suatu tempat yang bernama Jaka Tebel.Disini mereka berkembang dan sambil menunggu Prawayah prawayah yang dating dari penjuru Bali.Di daerah ini mereka melaksanakan kegiatan adat istiadat,merencanakan pembangunan Pura Puseh,Pura Segare dan Khayangan Desa lainnya.Adapun Prawayah-prawayah yang dating ke Jake Tebel sesuai dengan urutan kedatangan Prawayah/Leluhur masing-masing.

1.    Prawayah Wayah Sumyarti,Gobleg

2.    Prawayah  Wayah Dateng,Gelgel Klungkung

3.    Prawayah Lanang Marta,Gelgel Klungkung,Tabanan Tangun titi,Bantiran

4.    Prawayah Wayah Nur ,Pulesari Tunju

5.    Prawayah Wayah Kentung,Wangaya

6.    Prawayah Wayah Sumyani,Dawan Klungkung

7.    Prawayah Wayah Prejani,Wangaya

8.    Prawayah Wayah Kita,Ketewel Gianyar

9.    Prawayah Wayah Dulu,Klungkung

10. Prawayah Wayah Braba,Klungkung,Padang Bulia,Pande Tusan

11. Prawayah Wayah Ketes,Sukasada Bubunan

Saat ini adat istiadat dipegang oleh Wayah Sumyarti dengan didampingioleh Wayah Dateng dan Wayah Lanang Marta Toh Jiwa.Saat ini karma mengadakan paruman (rapat) pada Caka 1623 dengan dihadiri oleh 40(empat puluh) KK membicarakan masalah adat istiadat di Jake Tebel.Setelah Wayah Sumyarti meninggal dunia kekuasaan adat dipegang oleh Wayah Lanang Marta Toh Jiwa.

Oleh karena itu Negara Indonesia dijajah Pemerintah Belanda dan termasuk Buleleng,pada suatu saat Pemerintah Belanda menaklukkan Daerah Buleleng dan Banjar yang selanjutnya penjajah melaksanakan pendataan adat keseluruh wilayah Buleleng.Pada saat Wayah adat di Jaka Tebel menyatakan bahwa Palemahan atau Wilayah Jaka Tebel dinamakan Desa Kedis pada Tahun Caka 1623 atau tahun 1701 Masehi.

Selanjutnya pelaksanaan adat istiadat dilaksanakan oleh Wayah Sumyarti dan turunannya,Nengah Telage,Nengah Menge,Ketut Sugina,Nyoman Alit Winangun dan Perbekel sekarang adalah I Wayan Suwibawa.

 

2.2 Potensi Desa Kedis

 

2.2.1 Sumber Daya Alam

Desa Kedis adalah termasuk wilayah Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut dengan luas 924 ha yang berbatasan dengan ;

Sebelah Utara              :           Desa Kekeran

Sebelah Barat              :           Desa Tinggarsari

Sebelah Timur             :           Desa Pelapuan

SebelahSelatan            :           DesaBengkel

Luas Pemukiman         : 31 ha, Luas Persawahan        : 175 ha, Luas perkebunan      : 367 ha, Usaha perikanan       : 17 ha.

 

2.2.2 Sumber Daya Manusia

Desa Kedis terdiri dari 2 Banjar Dinas yaitu Banjar Dinas Kaja dan Banjar Dinas Kelod dengan jumlah penduduk secara kesluruhan adalah 3791 orang, sebagian besar masyarakat desa Kedis berprofesi sebagai petani, profesi yang lainnya adalah sebagai buruh tani, karyawan perusahaan swasta, peternak, PNS, Polri, pengusaha kecil dan menengah.

 

 

2.3 Potensi Seni Dan Budaya

Desa Kedis merupakan desa yang memiliki banyak potensi dalam bidang seni, seperti seni karawitan, seni tari, seni pahat / patung. Di desa ini ada beberapa klompok-kelompok kesenian seperti, skeha gong, skeha santi, skeha angklung.

Keberadaan skeha ini tentunya di dukung oleh adanya perangkat / sarana pendukung. Di desa Kedis ada dua barungan gamelan gong kebyar dan dua barung gamelan angklung, Keberadaan barungan tersebut masih memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat di desa Kedis dalam melaksanakan upacara Agama seperti upacara Dwa Yadnya, Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Sehingga kesenian-kesenian tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan.

Sejarah mengatakan bahwa desa kedis sejak dahulu memang sangat terkenal di Era tahun 1965 kebawah dengan gamelan kebyarnya, desa Kedis termasuk salah satu bagian dari wilayah Buleleng barat ( dauh enjung ). Kesenian yang paling menonjol adalah gamelan gong kebyar milik desa Kedis, dibuktikan dengan banyak lagu-lagu (gending) gong kebyar baik instrumental maupun iringan tari  yang lahir di desa Kedis seperti Kebyar susun, gambang suling, tari becak, tari nelayan, wiranjaya,tari Pancasila, Hujan mas, tari puputan margarana, tari merpati. Karya-karya tersebut penulis dapatkan dari hasil observasi dan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat desa Kedis.

Kejayaan gong kebyar desa kedis yang bernama Skeha Gong Bandha Sawitra sangat terkenal seiring dengan perkembangan gamelan gong kebyar, banyak karya yang terlahir di era tahun 50-an oleh seniman-seniman di desa kedis seperti sang maestro I Ketut Merdana dan I Putu Sumiasa. Kedua seniman ini merupakan tokoh yang sangat berperan dalam pengembangan kesenian di desa Kedis, dalam bidang seni tari dan tabuh. Karya-karya kedua maestro tersebut hingga saat ini masih bisa kita nikmati, seperti Tari Nelayan, Tari Wiranjaya, Tabuh Gambang suling. Karya-karya tersebut hingga saat ini masih tetap di lestarikan baik oleh msyarakat Bali maupun masyarakat desa Kedis sebagai penerus nama besar I Ketut Merdana dan I Putu Sumiasa. Hingga saat ini gending-gending tersebut masih tetap dipelajari oleh generasi penerusnya yang ikut bergabung dalam skeha gong Bandha Sawitra Desa Kedis, tetapi memang sangat disayangkan ada banyak karya-karya yang tidak bisa dipelajari karena tidak ada sumber tertulis maupun rekaman audio yang bisa dipergunakan sebagai media pelestarian dan pembelajaran, sehingga dapat dikatakan beberapa karya-karya emas sang maestro tersebut sudah hilang/punah seperti Tari Pancasila, Tari Puputan Margarana, dan Tabuh Hujan Mas.

            Proses kreatif dalam bidang seni pertunjukan di desa Kedis hingga sekarang masih terlaksana misalnya proses latihan gong kebyar masih dilakukan secara rutin, hal tersebut tentunya tidak lepas dari peran serta seluruh masyarakat dan pemerintah, tetapi sangat disayangkan karena tidak pernah adanya pembinaan-pembinaan kesenian oleh orang-orang yang memang berkompeten dalam bidang seni. Tahun ini mungkin untuk pertama kalinya desa Kedis mendapatkan kesempatan untuk menjadi desa tujuan mahasiswa KKN ISI Denpasar, tetapi hanya mahasiswaa jurusan Seni Karawitan saja. Kesempatan dan peluang-peluang seperti ini memang harus selalu diupayakan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat guna melestarikan dan mengembangkan kesenian yang ada di desa Kedis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PROGRAM DAN PELAKSANAAN KEGIATAN

 

3.1 Program dan Rencana Kerja

            Kuliah kerja nyata (KKN) ISI Denpasar tahun 2013 dilaksanakan 1 agustus 2013 dan berakhir pada tanggal 31 Agustus 2013, satu bulan. Mengingat waktu pelaksanaan KKN tersebut yang relatif singkat, maka kami membuat atau menyusun beberapa rencana kegiatan yang kami peroleh setelah melakukan penjajagan kelokasi KKN. Setelah wawancara dengan kelian sekaa gong yaitu I Gede Artaya, beliau mengungkapkan bahwa desa Kedis akan mewakili kecamatan Busungbiu dalam acara festival gong kebyar Buleleng yang akan dilaksanakan pada bulan September. Sehingga kami dituntut untuk melatih mater-materi yang sudah ditentukan oleh Disbudpar Kabupaten Buleleng, materinya antara lain :

  1. Tabuh Lelonggoran-pepayasan
  2. Iringan Tari Wiranjaya
  3. Iringan Tari Merpati

Ketiga materi tersebut akan diusahakan supaya rampung selama masa KKN. Selain program yang sudah ada didesa kami juga membuat beberapa rencana kerja untuk diberikan kepada sekaa gong desa Kedis diantaranya :

  1. Mengajar iringan Tari Selat Segara
  2. Mengajar iringan Tari Gadung Kasturi
  3. Mengajar Tabuh Gesuri untuk Sekaa Gong Anak-anak
  4. Mengajar iringan Tari Satya Brastha
  5. Merintis Sekaa Gong Wanita

3.2 Pelaksanaan Program dan rencana kerja.

            Dalam rangka mempersiapkan ajang bergengsi di Kabupaten Buleleng kami merasa sangat tertantang dengan adanya program tersebut, sekali terjun ke masyarakat dalam kegiatan KKN di desa Kedis langsung mendapat tugas yang berat, tapi penulis harus bisa memecahkan masalah tersebut. Materi yang dibawa adalah Tabuh Lelonggoran-pepayasan, iringan Tari Wiranjaya, Dan Iringan Tari merpati.

Dalam proses platihannya maahasiswa KKN diminta agar mengasah kembali, dan melakuan perbaikan terhadap kedua iringan tari baik dari segi dinamika, penampilan, dan keseragaman tekhnik permainan. Selain iringan tari penulis juga bertugas untuk membuat pepayasan tabuh Lelonggoran.

Proses kegiatannya meliputi:

  • Hari pertama penulis ditunjukkan gending-gending tersebut untuk dipelajari, agar bisa mencari bagian-bagian yang harus di perbaiki dan bisa membuat pepayasan untuk tabuh lelonggoran.
  • Perbaikan tabuh iringan tari wiranjaya dilakukan hari kedua dan ketiga, persentase nya adalah 90%
  • Hari keempat dan kelima difokuskan untuk perbaikan iringan tari merpati, persentasenya 60%
  • Hari keenam penulis pergunakan untuk menuangkan pepayasan Tabuh Lelonggoran, 5%.
  • Minggu kedua penulis tidak bisa melaksanakan KKN, karena harus melaksanakan tugas Kampus ISI Denpasar untuk menabuh di Istana Negara di Jakarta.
  • Minggu ketiga setelah datang dari Jakarta difokuskan untuk menuangkan pepayasan tabuh lelonggoran. Hasilnya 90%. Danpertengahan minggu ketiga diusahakan untuk melatih sekeha gong anak-anak desa kedis setiap sore dengan materi tabuh Gesuri.
  • Minggu keempat dipergunakan untuk pengulangan materi-materi yang sudah rampung, hasilnya tabuh lelonggoran selesai 95%, iringan tari Wiranjaya 90%, iringan Tari Merpati 90%. Dan untuk tabuh Gesuri rampung hingga penutupan kegiatan, dengan persentase 70%.

 

3.3 Program Seni Tertunda.

Ada beberapa program seni yang tertunda diantaranya:

  • Pembentukan sekeha Gong Wanita.
  • Pelatihan iringan Tari Selat Segara.
  • Mengajar iringan Tari Gadung Kasturi
  • Mengajar iringan Tari Satya Brastha

 

 

3.4 Faktor Penghambat Dan Pendukung Kegiatan.

ü  Faktor penghambat kegiatan di Desa Kedis adalah kurang kompaknya kehadiran anggota sekeha gong pada saat peroses latihan, sehingga latihan menjadi tehambat.

ü  Faktor pendukung kegiatan adalah untuk materi-materi yang akan dibawa sudah sebagian besar diketahui dan secara tekhnik permainan sekeha gong desa Kedis ini sudah sangat bagus.

3.5 Peluang Sebagai Desa Binaan.

            Penulis rasa seni pertunjukan seperti seni karawitan merupakan kesenian unggulan desa Kedis, hal ini sesuai dengan sejarah bahwa di desa Kedis banyak terlahir karya oleh I Ketut Merdana dan I Putu Sumiasa seperti Tari Tenun, Tari Wiranjaya, Tari Merpati, Tari Becak, tabuh Gambang Suling, Tabuh Hujan Mas, Tabuh Kebyar Susun, Tari Pancasila, semua karya tersebut merupakan icon ( identitas ) desa Kedis, sehingga harus selalu dipertahankan oleh masyarakat desa kedis. Disini peranan pemerintah atau lembaga-lembaga yang membidangi seni dan budaya seperti ISI Denpasar sudah seharusnya ikut berperan aktif dalam melestarikan kesenian yang ada di desa Kedis, dan menjawab semua permasalahan yang ada seperti tidak adanya sumber mengenai iringan tari dan tabuh instrumental ciptaan desa kedis yang bisa dikatakan punah, bagaimana caranya lembaga pendidikan ISI Denpasar membantu masyarakat desa Kedis untuk menemukan dan mengajarkan kembali kepada masyarakat desa kedis. Beberapa karya yang sudah hilang adalah Tabuh Hujan Mas, Iringan Tari Becak, iringan Tari Pancasila.

Di desa Kedis juga terdapat Tari Palawakya style desa Kedis, tari Tenun style desa Kedis dan banyak tabuh-tabuh klasik asli desa Kedis. Hal-hal tersebutlah yang mejadi unggulan desa Kedis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1  Simpulan

  1. Desa Kedis merupakan desa yang memiliki banyak potensi dalam bidang seni, seperti seni karawitan, seni tari, seni pahat / patung. Di desa ini ada beberapa klompok-kelompok kesenian seperti, skeha gong, skeha santi, skeha angklung. Sejarah mengatakan bahwa desa kedis sejak dahulu memang sangat terkenal di Era tahun 1965 kebawah dengan gamelan kebyarnya, desa Kedis termasuk salah satu bagian dari wilayah Buleleng barat ( dauh enjung ). Kesenian yang paling menonjol adalah gamelan gong kebyar milik desa Kedis, dibuktikan dengan banyak lagu-lagu (gending) gong kebyar baik instrumental maupun iringan tari  yang lahir di desa Kedis seperti Kebyar susun, gambang suling, tari becak, tari nelayan, wiranjaya,tari Pancasila, Hujan mas, tari puputan margarana, tari merpati. Karya-karya tersebut penulis dapatkan dari hasil observasi dan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat desa Kedis.
  2. Dalam rangka mempersiapkan ajang bergengsi di Kabupaten Buleleng sekeha gong desa Kedis sebagai duta kecamatan Busungbiu. Materi yang dibawa adalah Tabuh Lelonggoran-pepayasan, iringan Tari Wiranjaya, Dan Iringan Tari merpati. Dalam proses platihannya mahasiswa KKN diminta agar mengasah kembali, dan melakuan perbaikan terhadap kedua iringan tari baik dari segi dinamika, penampilan, dan keseragaman tekhnik permainan. Selain iringan tari kami juga bertugas untuk membuat pepayasan tabuh Lelonggoran.

 

4.2 Saran

  1. Bagi pemerintah yang membidangi seni dan budaya baik di tingkat kecamatan, Kabupaten maupun Propinsi sudah seharusnya ikut berperan aktif dalam melakukan upaya-upaya pembinaan kesenian yang ada di desa Kedis karena desa Kedis merupakan desa yang sangat kaya dengan kesenian khususnya Seni pertunjukan, sehingga kepedulian pemerintah untuk menjaga dan melestarikan kesenian yang ada di desa Kedis bisa selalu menjadi prioritas. Dan bagi para seniman dan budayawan agar mau melakukan kajian-kajian serta penelitian dalam bidang seni yang ada di desa Kedis.
  2. Bagi KKN ISI Denpasar agar selalu melaksanakan KKN di desa Kedis, karena sentuhan-sentuhan seniman akademis akan sangat membantu perkembangan kesenian yang ada. KKN di desa Kedis juga sangat menambah pengetahuan kita dalam bidang Seni Pertunjukan khususnya seni Karawitan diluar dari yang kita peroleh di bangku perkuliahan.

 

 

 

Daftar Pusataka

LP2M, ISI Denpasar.2013. Buku Pedoman Kuliah Kerja Nyata Institut seni Indonesia Denpasar : ISI Denpasar.

Profil Desa Kedis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Informan

  1. I Gede Artaya sebgai ketua sekeha gong Bandha Sawitra desa Kedis.
  2. I Ketut Swiditha selaku Bendesa Adat desa Kedis.
  3. I Putu Sumiasa salah seorang seniman tua dari desa Kedis.
Jan 13

MAKNA HARI RAYA GALUNGAN

Posted on Senin, Januari 13, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Hari Raya Galungan adalah Hari Raya Umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali, sesuai dengan kalender penanggalan Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan. Kata Galungan dalam bahasa jawa Kuno berarti menang, dan makna dari perayaan Hari Raya Galungan ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma atau kebajikan melawan adharma atau kebhatilan dan menghaturkan rasa terima kasih dan angayubagia ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi /Tuhan yang maha Esa atas terciptanya dunia serta segala isinya dan atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Hari raya Galungan selama ini sering dimaknai sebagai Hari raya untuk merayakan kemenangan Dharma (Kebaikan ) melawan Adharma (Kejahatan) yang mana hal ini dikaitkan dengan cerita kemenangan Dewa Indra melawan Raksasa Maya Denava.Maka dari itu selain mengetahui tentang pengertian hari raya galungan yang upacaranya kita harus mengetahui makna yang terkandung dalam hari raya galungan.

  1. Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :

  1. Rangkaian hari raya Galungan beserta makna simboliknya ?
  2. Apakah makna filosofi yang terkandung dalam hari raya galungn hari raya galungan ?

 

  1. Tujuan penulisan

 

Untuk mengetahui rangkaian hari raya Galungan dan makna simbolnya

Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam hari raya galungan

 

  1. Manfaat penulisan

Diharapkan kepada pembaca terutama mahasiswa karawitan untuk dapat mengetahui makna yang terkandung dalam hari raya galungan secara menyeluruh dar rangkaian hari raya galungan

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang makna atau pesan yang diselipkan para pendahulu kita dalam hari raya Galungan ini bagi transformasi umat dalam mengubah pola pikir dan tingkah lakunya agar bersesuaian dengan simbolik yang dipakai dalam rerahinan tersebut, maka kita akan mencoba membahasnya satu-persatu. Rangkaian hari raya Galungan beserta makna simboliknya.

 

  1. Tumpek Pengatag. (Tumpek pengarah, Tumpek pengunduh,atau Tumpek unduh)

Beberapa sumber menyatakan bahwa persiapan perayaan Galungan ini telah dimulai dari hari tumpek pengatag (Hari yang diartikan sebagai otonan tumbuh-tumbuhan-bukan berarti bahwa tumbuh-tumbuhan diciptakan Tuhan pada hari ini, tetapi lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam aspeknya sebagai Sankara yang telah menyediakan keperluan hidup manusia dalam kaitannya dengan tumbuh-tumbuhan). Hari raya ini dilaksanakan pada hari sabtu Kliwon wuku Wariga. Menurut Lontar Sundari Bungkah, Wariga mengandung makna “Wewarah ring Raga”. Selanjutnya tumbuh-tumbuhan atau pohon (Kayu – dalam bahasa bali) merupakan symbol “Kayun” atau pikiran. Dengan demikian, di balik prosesi “ngatag” atau memberitahukan tumbuh-tumbuhan bahwa perayaan Galungan sudah dekat sehingga memerlukan banyak buah untuk dipakai persembahan, hari raya ini semestinya juga dimaknai sebagai langkah awal untuk mengingatkan diri perang antara Dharma dan Adharma dalam diri sedang berlangsung dan terus akan berlanjut sampai kita manusia tutup usia. Karenanya sangat dibutuhkan rasa mawas diri dan introspeksi agar musuh utama berupa Sad Ripu (Kemarahan,Ketamakan,Kebingungan,nafsu indria, kemabukan materi, dan juga iri hati kebencian) tidak sampai mengalahkan kata hati dan memperbudak pikiran. Jadi perayaan hari tumpek pengatag ini bukan hanya prosesi yang harus dijalani tanpa pemahaman yang jelas..

 

  1. Sugian (Sugian Jawa dan Sugian Bali)

Jika kata sugian ini diartikan sebagai “Penyucian” seperti kata dasarnya Sugi, maka Sugian sebagaimana disebutkan dalam Lontar Sundarigama, adalah suatu prosesi pembersihan Bhuana Agung / alam semesta yang dilambangkan dengan nama tempat diluar Bali yakni Jawa dan juga pembersihan Bhuana alit yang terdiri dari unsur badan jasmani dan rohani, yang mana ia dilambangkan dengan nama tempat di dalam yakni Bali. dalam lontar ini disebutkan bahwa Sugian Jawa merupakan pasucian Dewa Kalinggania pamrastista Bhatara Kabeh. Dan Sugian Bali disebutkan “Kalinggania amrestista raga tawulan”. makna dari hari raya Sugian ini adalah proses penyucian diri (Mikrocosmos) dan juga alam (Makrocosmos) karena keduanya sangat terkait satu dengan lainnya ibarat janin dalam rahim. (jika ada kebajikan dalam hati,akan ada keindahan dalam watak. Jika ada keindahan dalam watak, akan ada harmoni dalam rumah tangga. Jika ada harmoni dalam rumah tangga, maka akan ada ketertiban dalam Negara. Dan jika sudah ada ketertiban dalam Negara maka sudah pasti akan ada kedamaian dalam dunia.) jadi segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. First to be, second to do, third to tell.

 

 

  1. Penyajaan

Pada hari ini Soma Pon Dungulan, umat merayakan Penyajaan berasal dari kata “Saja” Sungguh, Sajaan = sungguh-sungguh atau kesungguhan hati dalam menyongsong kemenangan Dharma ini. namun dalam tafsir lain, kata penyajaan juga diartikan sebagai kata “Jaja” yang mendapat awalan Pe- dan akhiran –an sehingga menjadi penyajaan. Oleh sebab itu, pada hari ini umat hindu melakukan proses membuat jajanan untuk persembahan.

Dalam kaitannya dengan penyajaan Galungan, Lontar Sundari Gama menyebutkan : Pengastawaning sang ngamong yoga semadhi. Yoga menyangkut komunikasi personal antara individu dengan Tuhan atau dengan dirinya sendiri. Komunikasi Atman dengan diri sendiri dalam hidup keseharian kita dikenal dengan istilah “Mendengar bisikan hati” oleh karena itu dalam segala aktivitas hendaknya manusia tidak pernah menentang kata hati yang menyuarakan kebenaran, jangan sampai ia diperbudak pikiran yang kadang telah ditunggangi kepentingan indera. Kesungguhan hati harus dipraktekkan secara perlahan berbarengan dengan jalur evolusi spiritual yang dilalui oleh pelakunya walaupun sedemikian sulit untuk melaksanakannya. Jadi pelaksanaan penyajaan ini baru dikatakan berhasil jika dalam tahapan ini manusia semakin dikuatkan dengan kesungguhan hati yang dimilikinya untuk menahan segala godaan Adharma yang berusaha disusupkan oleh sang kala tiganing dungulan.

  1. Penampahan

Selanjutnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan, umat melakukan Penampahan. Kata penampahan ini berasal dari kata Tampah yang artinya bunuh. Jadi penampahan berarti membunuh. Makna simboliknya adalah mengorbakan contonya babi dibunuh untuk upacara agama  yang tulis iklah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk keperluan yadnya.

  1. Galungan

Setelah melalui beberapa rangkaian, akhirnya pada Budha Kliwon wuku Dungulan, masyarakat hindu berada pada puncak perayaan.  Pada hari ini bahkan dari pagi-pagi sekali, umat sudah disibukkan dengan kegiatan mebanten (Menghaturkan persembahan). Ritual persembahyangan ini bahkan bisa berlangsung sampai malam hari. Dalam lontar Sundari Gama disebutkan  : Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang jnana Samadhi, galang apadang, maryakena sarva byaparaning idep. Artinya : Rabo Kliwon Dungulan, namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang sebagai wujud Dharma dalam diri, serta menghilangkan kekacau balauan pikiran yang merupakan bentuk dari Adharma. Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwasannya hakekat Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma.. Jadi perayaan Galungan bisa dikatakan berhasil dan layak untuk dirayakan adalah jika kita semakin bisa menunjukkan bahwa kita mahluk yang penuh cinta kasih dan punya kontribusi positive terhadap upaya pelestarian lingkungan dalam upaya membangun keharmonisan dengan alam, masyarakat, dan utamanya kepada Tuhan. Namun jika kita masih dalam tataran orang yang menafsirkan symbol agama secara sambil lalu saja,  tanpa mengerti apa yang kita kerjakan maka sebenarnya kita hanyalah orang yang ikut memeriahkan kemenangan Dharma dan bukan sebagai orang yang pantas menikmati kemenangan.

 

 

 

 

  1. Makna filosofi dalam perayaan hari raya galungan

 

  1. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan; Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, dan arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan dan melawan segala kekacauan pikiran. Jadi, Galungan adalah untuk menyatukan kekuatan rohani diri kita agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Untuk memenangkan Dharma atau kebajikan ini ada beberapa rangkaian upacara yang perlu dilaksanakan. Hari Raya galungan juga mengandung mana dalam perayaan besar bagi umat Hindu, pasar-pasar tradisional juga penuh sesak oleh warga yang akan membeli persiapan untuk Hari Raya Galungan, mulai dari beli buah-buahan, bunga, kue, janur dan salah satu yang terpenting adalah bambu utuh yang diperlukan untuk pembuatan penjor di hias dengan kreasi seni kemudian dipasang dipintu masuk samping kanan rumah, kelihatan berjejer rapi disepanjang jalan, kelihatan begitu indah dan meriah.Yang mencirikan rasa mengangad agama hindu dalam merayakan hari rayanya. Juga memupuk rasa kerja sama antar keluarga, contohnya pembagian tugas dengan pembagian ibu membuat banten dengan anak perempuan dan ayah membut penjor dengan anak laki-laki yang dapt memupuk rasa kekeluargaan.

 

  1. Tidak memaksakan kemanpuan seseorang( agama hindu fleksibel) Contohnya, semua Upacara Hindu di pulau dewata bisa dirayakan dengan tingkatan-tingkatan berdasarkan kemampuan seseorang, bisa dirayakan ditingkat paling rendah atau Nistaning utama sampai ketingkatan utama atau utamaning utama, jadi bagaimanapun bentuknya yang terpenting adalah kemampuan dan keiklasan sehingga tetap utama, tidak mengharuskan umatnya untuk mengeluarkan biaya yang tinggi. Ada yang juga yang sampai  mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk upara agama tentulah itu kembali pada kemampuan, keiklasan dan rasa untuk sebuah keyakinan, tidak dihitung secara matematis. Alangkah baiknya seandainya kita mampu dan iklas, secara tidak langsung membantu sesama memutar roda perekonomian.

 

  1. Hari raya galungan juga memiliki makna dari perayaan hari raya galungan ini yakni sebuah kebanggaan mengimani keyakinan Sanathana Dharma dalam tataran agama yang disebut Hindu karena dalam pengamalan ajaran agamanya, Hindu sangat dekat dengan alam. Berbagai ritual keagamaan dilaksanakan untuk tetap menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan, demikian juga dengan media persembahyangannya, hanya penganut agama timur yang menyertakan atau menggunakan hasil alam untuk mewujudkan rasa terima kasih dan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hidup serta kekayaan alam untuk menunjang kehidupan itu sendiri.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Setelah mengetahui hari raya galungan beserta maknanya kitasebagai mahasiswa harus mengerti tentang makna yang terkandung di dalamnya. Supaya tidak semata-mata melaksanakan hari raya tapi tidak tau maknanya. Galungan merupakan upacara agama hindu yang mempunya makna filosifi yang tinggi bagi kehidupan kita sebagai umat beragama.

 

 

  1. Saran

Saran yang dapat penulis berikan adalah kita harus tetap melestarika tradisi-tradisi agama hindu khusnya dalam pelaksanaan hari raya galungan. Dan makna – makna yang kita dapat dalam perayaan hari raya galungan dapat berguna dalam kehidupan kita .

 

Jan 13

ASAL – USUL JEGOG, BALI BAGIAN BARAT.

Posted on Senin, Januari 13, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

 

Gamelan Bali adalah salah satu produk budaya yang memiliki arti dan peranan sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali. Gamelan tidak saja digunakan sebagai sarana yang ekspresi emosional dalam kaitannya dengan masalah kesenian, melainkan juga sebagai sarana sosial, pengikat solidaritas sebuah komunitas atau kelompok. Gamelan juga salah satu sarana upacara yadnya/adat yang kehadirannya tidak hanya sebagai pelengkap, namun sangat menunjang sebuah upacara baik adat maupun keagamaan. Fungsi dan kegunaan inilah yang menyebabkan gamelan Bali berkembang dengan pesat.

Pada saat ini terdapat kurang lebih 35 jenis barungan gamelan Bali yang berbeda bentuk, bahan, karakter, fungsi dan kegunaannya. Dari segi fungsi dapat teramati dari beberapa segi yaitu berfungsi sebagai sarana ritual dan berfungsi sebagai sarana hiburan. Sedangkan dari segi penggunaannya, ada yang digunakan sebagai iringan tari/seni pertunjukan lainnya dan ada juga disajikan khusus memainkan lagu-lagu instrumental/tabuh pategak. Tabuh pategak pada umumnya difungsikan untuk mengawali sebuah pertunjukan. Apabila tabuh pategak secara khusus dipagelarkan, biasanya itu berfungsi sebagai musik protokoler, penambah suasana baik suasana meriah, hikmat, sedih dan sebagainya sesuai dengan fungsi dan tata penyajiannya. Umumnya setiap gamelan dapat disajikan sebagai mana hal tersebut diatas. Keragaman serta lintas fungsi juga kerap terjadi dari keseluruhan perangkat gamelan yang ada.

Salah satu dari 35 jenis barungan yang ada di Bali adalah gamelan Jegog. Gamelan Jegog adalah gamelan khas Kabupaten Jembrana yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu. Gamelan Jegog dibuat oleh Kiyang Gliduh dan diperkirakan muncul pada tahun 1912 di Desa Dangin Tukad Aya.

Gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, penyebarannya masih sangat sedikit. Gamelan Jegog mempunyai keunikan pada nada-nada yang dimilikinya, sehingga bisa membuat orang belum terbiasa mendengarnya menjadi bingung. Selain nadanya yang unik, Jegog juga mempunyai pertunjukan yang unik, yaitu pertunjukan Jegog mebarung dimana dua atau tiga (bisa juga lebih banyak) sekehe Jegog ditampilkan (menabuh) secara bersamaan. Keunikan yang terdapat pada gamelan Jegog membuat penulis tertarik untuk mengapresisasikan suatu pertunjukan Jegog mebarung dalam bentuk paper.

BAB II

GAMELAN JEGOG

 

2.1 Asal Usul Gamelan Jegog

Sebagai daerah yang berlandaskan seni dan budaya, di Bali sering kali diadakan suatu pertunjukan. Selain sebagai pengiring upacara keagamaan, seni di Bali juga sering dipertunjukan sebagai seni hiburan (profan). Jegog merupakan salah satu gamelan khas Kabupaten Jembrana yang biasa dipertunjukan sebagai seni hiburan.

Gamelan Jegog adalah gamelan khas Kabupaten Jembrana. Jegog merupakan gamelan golongan baru yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu besar yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperangkat alat musik bambu yang suaranya sangat merdu dan menawan hati. Kata Jegog diambil dari nama instrumen dalam gamelan Gong Kebyar. Tiap-tiap tungguh instrumen yang membangun perangkat Jegog itu sendiri terdiri dari delapan bilah yang tergantung sedemikian rupa pada pelawahnya. Instrumen-instrumen pada Jegog dimainkan menggunakan dua buah panggul, baik terbuat dari karet ataupun kayu. Gamelan Jegog memakai laras Pelog empat nada dengan padantara yang khas sehingga akan menimbulkan laras yang unik dan menarik.

Gamelan Jegog diperkirakan ada sejak tahun 1912 di sebuah desa di pinggiran kota Negara yang memiliki bentangan sawah yang luas. Kiyang Gliduh adalah pencipta gamelan Jegog, setelah itu Jegog berkembang di Desa Delod Berawah pada tahun 1920, dan kemudian dilanjutkan oleh sekehe Jegog di Desa Pohsanten bersamaan dengan Desa Mendoyo Dangin Tukad dan di Desa Tegal Cangkring pada tahun 1940. Kurangnya penyebaran gamelan Jegog ini membuat gamelan ini kurang dikenal oleh masyarakat Bali dan hanya berkembang di Kabupaten Jembrana.

Gamelan Jegog ditemukan ketika Kiyang Gliduh pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya di hutan beliau mulai mengumpulkan kayu bakar. Setelah  mendapatkan kayu bakar, maka dalam perjalanan pulang beliau merasa agak payah. Kemudian beliau beristirahat sambil  berteduh  di bawah pohon yang rindang. Alangkah kagetnya Kiyang Gliduh ketika beliau mendengarkan suara yang aneh tetapi indah. Lama sekali beliau tertegun mendengarkannya, suara itu makin lama makin menjadi-jadi, dan kedengarannya mirip dengan wirama Acwalalita yaitu satu dari sekian banyak wirama yang dikuasainya. Karena begitu besar hasratnya untuk mengetahui suara itu,maka beliau terus menelusuri ke arah yang dianggap sebagai sumber bunyi itu. Kemudian beliau mengetahui bahwa suara itu dating dari arah timur, lalu beliau pun menelusurinya kea rah datangnya suara itu. Alangkah kagetnya Kiyang Gliduh ketika sampai di timur karena suara itu datangnya dari arah yang lain. Susul-menyusul arah pun terjadi hingga akhrinya Kiyang Gliduh menjadi bingung karena tidak berhasil menemukan sumber yang sebenarnya. Akhirnya, beliau kembali ke pohon tempatnya berteduh semula. Sambil melepas lelah beliau mencoba untuk mengingat suara yang ternyata merupakan rangkaian nada-nada. Ditirukanlah nada-nada tersebut dengan menggunakan bilah-bilahan kayu apai yang berhasil dikumpulkannya tersebut dan menghasilkan suara yang bagus. Setibanya di rumah, Kiyang Gliduh mencari jenis kayu yang lain yaitu kayu bayur dan panggal buaya untuk bahan bilah serta dikerjakannya dengan lebih baik Meskipun demikian, beliau belum merasa puas karena suara yang dihasilkan tidak keras. Untuk itu maka bilah-bilah tadi ditambahkan dengan resonator yang terbuat dari bambu sehingga menghasilkan suara yang sangat bagus.

Sifat seorang seniman yang tidak mau cepat puas membuat Kiyang Gliduh untuk terus mencoba membuat tiruan nada itu menggunakan bahan yang lain. Dari usaha mencoba dan mencoba secara terus menerus, akhirnya ditemukan bahwa bamboo adalah bahan yang paling baik untuk membuat tiruan nada tersebut. Berbagai jenis bambu dari ukuran yang kecil hingga besar dipilihnya sebagai bahan instrumen. Hasilnya pun sangat membanggakan, meggelegar seolah-olahmembelah bumi. Oleh karena suaranya demikian hebat dan menakjubkan maka instrumen atau gamelan itu diberi nama gamelan Jegog.

Dalam buku “Penerima Penghargaan Seni Dharma Kusuma” disebutkan bahwa Kiyang Gliduh mendapat inspirasi membuat gamelan Jegog pada saat menghalau burung yang memakan tanaman padi yang menguning di sawah. Ketika itu, ia sedang berteduh di sebuah kubu sambil mengusir burung dengan memukul kulkul dari bahan bambu yang saling bersahutan dengan rekannya yang juga menjaga tanaman padi di sebelah sawah. Ia mendengar suara merdu yang dapat ditimbulkan dari kulkul itu, kemudian ia mencoba menerapkan suara merdu tersebut dengan membuat instrumen musik tradisional yang sangat sederhana yang terbuat dari bambu tapi ukurannya lebih kecil yang disebut Tingklik.

Setiap kubu dilengkapi dengan Tingklik yang digunakan untuk menghibur dirinya saat selesai membajak sawah. Seluruh kubu di subak Sebual menyuarakan Tingklik dan alunan suara yang merdu tersebut menjadi ramai. Ketika petani pulang ke rumah masing-masing secara serempak mereka sepakat untuk membuat “Barungan Tingklik”.

Dalam perkembangannya perangkat gamelan Tingklik disempurnakan, ditambah disana-sini dengan alat musik dengan ukuran yang bervariasi dan masing-masing memiliki fungsi yang berbeda dan kemudian secara keseluruhan gamelan tersebut disebut gamelan Jegog.

 

2.2 Instrumentasi

Satu barungan gamelan Jegog terdiri dari 14 buah instrumen. Adapun nama dan fungsi instrumen tersebut adalah:

  1. satu buah Patus Barangan, berfungsi untuk memulai gending, memberi aba-aba

atau memimpin seluruh penabuh, pukulannya mengikuti matra.

  1. dua buah Pengapit Barangan, berfungsi untuk nyandetin Patus Barangan.
  2. 3.   satu buah Patus Kancil, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan,bermain polos.

  1. 4.   dua buah Pengapit Kancil, berfungsi untuk nyandetin Patus Kancil.
  2. 5.   satu buah Patus Swir, berfungsi untuk memberi variasi, pepaketan,

oncang-oncangan, bermain polos, menguatkan suasana gending karena

nadanya tinggi.

  1.  dua buah Pengapit Swir, berfungsi untuk nyandetin Patus Swir.
  2.  dua buah Celuluk/Kuntung, berfungsi sebagai pembawa melodi.
  3.  dua buah Undir, berfungsi sebagai pembawa melodi, tetapi pukulannya lebih

jarang dari Kuntung.

  1.  satu buah Jegog, berfungsi sebagai pembawa melodi hanya saja pukulannya lebih

jarang dari Undir dan dimaninkan oleh dua orang penabuh.

 

2.3 Sistem Pelarasan

Apabila kita perhatikan laras Jegog itu maka kita akan mendapatkan hal yang sangat unik. Jegog memiliki empat nada dalam satu oktafnya, yaitu dong, deng, dung, ding (4, 5, 7, 3). Apabila kita bertitik tolak pada laras pelog maka akan didapatkan sruti sebagai berikut.

  1. Dong (4) ke deng (5) adalah pendek.
  2. Deng (5) ke dung (7) adalah panjang, karena melewati satu pamero (6).
  3. Dung (7) ke ding (3) paling panjang, karena melewati nada dang (1) dan pamero (2).

Dong, deng, dung, ding (4, 5, 7, 3) merupakan urutan nada Jegog yang biasa diucapkan di Jembrana. Karena keunikannya inilah laras Jegog cenderung disebut laras Pelog.

Namun hal tersebut hanya dalam hal pengucapannya saja. Nada pada gamelan Jegog bisa didapat dalam laras pelog lima nada yaitu dengan menggunakan nada dung, dang, ding, deng (7, 1, 3, 5). Selain menggunakan laras pelog lima nada, dalam laras pelog tujuh nada pun juga bisa di dapat nada pada gamelan Jegog dengan menggunakan nada dong, deng, dung, dan pemero daing (4, 5, 7, 2).

 

2.4 Fungsi

Awalnya, gamelan Jegog itu berfungsi sebagai hiburan untuk para pekerja yang bergotong royong membuat atap rumah dari daun pohon rumbia, yang dalam istilah Bali disebut nyucuk. Gamelan Jegog lebih banyak berfungsi sebagai seni hiburan, misalnya untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, makepung (lomba balap kerbau), mebarung, atraksi pencak silat dalam bentuk akrobat dan belakangan ini juga dipentaskan untuk para wisatawan. Selain itu, gamelan Jegog juga biasa dipentaskan pada acara resepsi untuk menghibur para tamu undangan.

 

2.5 Perkembangan Gamelan Jegog

Gamelan Jegog yang diamati sekarang ini telah mengalami tiga perkembangan dalam hal bahan, yaitu pada awalnya gamelan Jegog dibuat dari kayu , kemudian berkembang menjadi bambu dengan ukuran yang sama. Lama-kelamaan bentuk gamelan Jegog tersebut dikembangkan lagi dengan menggunakan bahan dari bambu yang ukurannya lebih besar. Dengan adanya perubahan ukuran bambu, maka pelawah atau wadah yang digunakan juga lebih besar.

Selain dalam hal bahan, perkembangan gamelan Jegog juga terjadi dalam hal memainkannya. Dulunya gamelan Jegog dimainkan dengan cara duduk, tentu saja dengan pelawah yang kaki-kakinya agak pendek. Sekarang permainan gamelan Jegog dimainkan dengan cara berdiri dengan menggunakan pelawah yang kakinya panjang. Hal ini digagas pertama oleh I Nyoman Sutama, SSKar.

Selain itu, perkembangan juga dialam oleh gamelan Jegog dalam hal repertoar gending. Dulunya gamelan Jegog hanya memainkan gending-gending klasik saja, namun akibat perkembangan gamelan Gong Kebyar, gamelan Jegog memainkan gending-gending yang ditransfer dari gending-gending Gong Kebyar. Berkat inisiatif dari I Nyoman Sutama, SSKar, gamelan Jegog kini bisa memiliki gending-gending kreasi yang pertama kalinya dipelopori oleh sanggar Suar Agung. Dengan adanya hal ini gamelan Jegog semakin di kenal oleh masyarakat di Bali, di Indonesia dan di dunia terutama di Jepang. Gamelan Jegog kini sering dipentaskan, selain ke luar negeri, Jegog juga sering tampil dalam acara PKB.

Gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, di Bali mungkin penyebarannya hanya ada di Ubud dan di kampus ISI Denpasar saja (sepengetahuan penulis). Selain di Bali, gamelan Jegog juga ada di negeri sakura, yaitu di Jepang.

 

2.6 Jenis Gending

Gending-gending yang dapat dimainkan dalam gamelan Jegog adalah Tabuh Teruntungan, Tabuh Pategak, Tari-tarian, dan Joged. Tabuh Terungtungan ini adalah tabuh yang suaranya lembut dan kedengarannya sangat merdu karena melantunkan lagu-lagu dengan irama yang sangat mempesona sebagai inspirasi keindahan alam Bali. Tapi pada saat ini Tabuh Teruntungan sudah dimodifikasi sehingga menjadi seperti tabuh kreasi, akan tetapi masih berpedoman pada pakem-pakem tabuh teruntungan yang ada.

Selain gending klasik, gending-gending yang ditransfer dari Gong Kebyar juga sering ditampilkan, yaitu gending Bhakti Marga, Gopala, Belibis, dan lain-lain. Selain itu, gending-gending kreasi juga sering dipentaskan oleh sanggar-sanggar Jegog seperti Suar Agung, Jimbarwana, dan Yudistira.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PERTUNJUKAN JEGOG MEBARUNG

 

Di Kabupaten Jembrana, sering sekali diadakan pertunjukan Jegog mebarung. Jegog mebarung sering diadakan pada waktu acara resepsi pernikahan, mesangih, nyambutin, piodalan di  pura dan lain-lain. Jegog mebarung dipertunjukan untuk menghibur masyarakat dan dipertunjukan pada akhir acara. Selain itu, Jegog mebarung juga diadakan untuk menentukan sekehe Jegog terkuat dan terhebat. Dalam perlombaan karapan kerbau (makepung), Jegog mebarung juga sering dipertunjukan untuk menambah semangat para peserta makepung. Mebarung artinya bertarung antara dua Jegog atau bisa juga bertarung antara tiga Jegog, yang dalam Bahasa Bali disebut Jegog Barung Dua atau Jegog Barung Tiga. Jegog mebarung ini biasanya dipertontonkan pada acara-acara syukuran yaitu pada acara suka ria di desa. Pada saat mebarung masing-masing Jegog mengawali dengan menampilkan tabuh yang namanya Tabuh Terungtungan yaitu suatu tabuh sebagai ungkapan rasa terima kasih dan hormat kepada para penonton dan penggemar seni Jegog, dan juga sebagai tabuh untuk menandakan bahwa pertunjukan Jegog sudah dimulai. Setelah penampilan Tabuh Terungtungan baru dilanjutkan dengan Tabuh Pategak khas sekehe masing-masing, dan setelah itu dilanjutkan dengan atraksi Jegog mebarung, yaitu masing-masing penabuh memukul gamelan Jegog secara bersamaan antara sekehe Jegog yang satu dengan sekehe Jegog lawan mebarung. Penabuh memukul gamelan Jegog dengan sangat keras sehingga kedengarannya musik Jegog tersebut sangat riuh dan sangat gaduh dan kadang-kadang para penonton sangat sulit membedakan suara lagu musik Jegog yang satu dengan yang lainnya. Penentuan kalah dan menang Jegog mebarung ini adalah para penonton karena Jegog mebarung ini tidak ada tim juri khusus, jadi tergantung penilaian para penonton saat itu. Apabila suara salah satu gamelan Jegog kedengarannya oleh sipenonton lebih dominan dan teratur suara lagu-lagunya, maka Jegog tersebut dinyatakan sebagai pemenang mebarung. Jegog mebarung adalah pertunjukan kesenian yang tujuannya untuk menghibur para penonton dan para penggemarnya.

Pada tanggal 24 Oktober 2011, di rumah A.A. Kd Suarsa, di Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana diadakan resepsi pernikahan. Dalam acara resepsi itu, dipertunjukan kesenian Jegog mebarung, yaitu antara sekehe Rai Gita Suara dengan sekehe Suara Bajra Mukti.

Sekehe Jegog Rai Gita Suara merupakan sekehe Jegog yang berasal dari Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana. Sekehe yang terdiri dari 19 orang ini diketuai oleh A.A. Kd Suarsa. Sekehe Jegog ini berdiri pada tanggal 25 Oktober 2010 dan dibina oleh I Made Adi Putra. Gamelan Jegog ini merupakan milik pribadi dari A.A. Kd Suarsa.

Sekehe Jegog Suara Bajra Murti merupakan sekehe Jegog yang berasal dari Banjar Masean, Desa Batu Agung, Kecamatan Jembrana. Sekehe yang dibina dan diketuai oleh Wayan Artika ini berdiri pada awal tahun 2009. Sekehe ini terdiri dari 21 orang. Gamelan Jegog yang dimiliki merupakan hasil sumbangan dari pemerintah dan sumbangan masyarakat.

Sebelum pertunjukan Jegog dimulai, masing-masing pemangku melakukan suatu ritual untuk sekehe Jegognya. Hal ini diadakan agar pertunjukan Jegog mebarung berjalan dengan lancar. Pertunjukan dimulai dengan penampilan Tabuh Teruntungan oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tabuh Teruntungan oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara. Setelah menampilkan Tabuh Teruntungan, pertunjukan dilanjutkan dengan Tabuh Pategak yang dimulai oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti yang menampilkan tabuh klasik Saung Galing. Kemudian dilanjutkan dengan sekehe Jegog rai Gita Suara yang menampilkan tabuh klasik Jegog yang berjudul Sandat Gading yang di buat oleh I Made Adi Putra. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan pertunjukan Joged oleh kedua sekehe. Setelah pertunjukan Joged, dilanjutkan dengan pertunjukan tabuh pategak yang berjudul Becica Nguci yang ditampilkan oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti. Kemudian dilanjtkan dengan menampilkan tabuh petegak Klinyeng yang ditampilkan oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara. Pada akhir pertunjukan, ditampilkanlah tabuh mebarung, kedua sekehe menabuh secara bersamaan dengan gending yang hampir sama dengan motif gilak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

 

4.1  Simpulan

Jegog merupakan gamelan golongan baru yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu besar yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperangkat alat musik bambu yang terdiri dari 14 instrumen, yaitu satu buah Patus Barangan, dua buah Pengapit Barangan, satu buah Patus Kancil, dua buah Pengapit Kancil, satu buah Patus Swir, dua buah Pengapit Swir, dua buah Celuluk/Kuntung, dua buah Undir, dan satu buah Jegog. Gamelan Jegog memakai laras Pelog empat nada (4,5,7,3) dengan padantara yang khas sehingga akan menimbulkan laras yang unik dan menarik. Gamelan Jegog diciptakan oleh Kiyang Geliduh pada tahun 1912. Selain bisa menyajikan lagu-lagu instrumental, gamelan Jegog juga bisa dijadikan untuk mengiringi tari-tarian dan joged.

Pada tanggal 24 Oktober 2011, di rumah A.A. Kd Suarsa, di Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana diadakan resepsi pernikahan. Dalam acara resepsi itu, dipertunjukan kesenian Jegog mebarung, yaitu antara sekehe Rai Gita Suara dengan sekehe Suara Bajra Mukti. Masing-masing sekehe membawakan empat materi gending, yaitu Tabuh Teruntungan, dua Tabuh Pategak, dan Joged. Pada akhir pertunjukan, diadakanlah pertunjukan Jegog mebarung yang merupakan penampilan final.

 

4.2            Saran

Gamelan Jegog merupakan gamelan yang suaranya sangat unik dan khas, dan juga hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, maka dari itu gamelan Jegog harus dilestarikan agar gamelan ini tidak punah.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aryasa, I WM, 1984/1985. Pengetahuan Karawitan Bali. Denpasar : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.

Bandem, I Made, 1986. Prakempa, Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar : Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar.

Dibia, I Wayan, 1977/1978. Pengantar Karawitan Bali. Denpasar : Proyek Peningkatan/Pengembangan ASTI Denpasar.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2001. Penerima Penghargaan Seni Dharma Kusuma. Denpasar : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Rai S, I Wayan, 2001. GONG Antologi Pemikiran. Denpasar : Bali Mangsi.

Sukerta, Pande Made, 1998. Ensiklopedi Mini Karawitan Bali. Bandung : Sastrataya-Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).

, 2010, Tetabuhan Bali I. Surakarta : ISI Press Solo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUMBER INTERNET

 

http://www.parissweethome.com

http://www.babadbali.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR NARASUMBER

 

Nama               : I Made Adi Putra

Umur               : 24 tahun

Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat            : Desa Dangin Tukad Aya

 

Nama               : Wayan Artika

Umur               : 30 tahun

Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat            : Desa Batu Agung

 

Jun 30

BAHAN MEMBUAT MASAKAN PECEL LELE :-D

Posted on Minggu, Juni 30, 2013 in Tak Berkategori

Bahan membuat sambal pecel lele :

  • 6 buah cabe merah besar
  • 10 buah cabe rawit tua
  • 6 buah cabe keriting
  • 1 buah tomat ukuran besar
  • 2 siung bawang merah
  • 2 sdt gula putih/gula merah
  • 1 sdt garam
  • 3 sdt terasi matang
  • 1 jeruk limau untuk perasan
  • Vetsin secukupnya kalo suka
  1. Semua cabai,tomat,bawang merah di rebus sampai matang,tiriskan, lalu bersama gula, garam, terasi dihaluskan bisa diuleg atau diblender tambahkan perasan jeruk limau (bisa langsung disajikan).
  2. Versi kedua … Panaskan minyak goreng kira-kira 2 sdm masukan sambal lalu tambahkan air 50 ml masak sampai kental.

Bahan pelengkap masakan pecel lele:

  • Timun
  • Daun kemangi
  • Kol
  • Tahu goreng

Cara Membuat pecel lele:

  1. Rendam lele dengan larutan bumbu perendam. Biarkan beberapa menit agar bumbu meresap.
  2. Panaskan minyak, goreng lele hingga matang dan kering. Angkat, tiriskan.
  3. Penyajian: Siapkan piring saji, atur lele, sambal dan bahan pelengkap. Siap di Hidangkan.

 

Jun 30

TARI LEGONG ANDIR

Posted on Minggu, Juni 30, 2013 in Tak Berkategori

TARI LEGONG ANDIR

Tari andir merupakan tarianan  yang ada di Desa Tista Br. Carik. Asal usul adanya tarian andir di desa Tista Br Carik adalah warisan leluhur mereka. Tari andir disaklarkan oleh masyarakat di desa tersebut dari  jaman nenek monyang mereka hingga sekarang anak cucu mereka yang mewarisinya.

Pementasan tari andir dilaksanaan tidak disembarang tempat hanya dapat dilaksanakan pada upacara-upacara Dewa nyadnya piodalan di pura pura.Tidak dapat diupah untuk upacara balih-balihan.  Dalam pemilihan penarinyapun juga tidak sembarang memilih,harus seorang perempuan yang bulum menikah serta pemilihannya dilaksanaakan dengan cara (nuur) pemilihan melalui perantara ida betara(pemangku)dan siapan yang terpilih harus melului upacara terlebih dahulu supaya dapat menarikan tarian andir tersebut. Penari Andir di Desa Tista Br carik berjumbelah 6 orang.Dalam pementasan tariannyapun tidak gampang  sebelum mereka menari serangkaian upakara dilaksanaakan. Para menari Andir dikasi banten oleh banjar tersebut ke rumah mereka masing-masing untuk dihaturkan kepada Ida Betara yang ada di merajan mereka masing – masing untuk memberitahu bahwa mereka akan menari andir supaya dikasi keselamatan dalam pementasannya dan berjalan dengan lancar.Busana perlengkapan tarian serta pernak-pernik tarian tersebut juga tidak ada yang menyewakan,mereka mempunya sendiri perlengkapan tarian tersebut yang ditaruh di bale banjar mereka.   Rangkaian  pelaksanaan tari andir di Desa Tista Br Carik dilaksanakan pada saat calonarang mesolah atau sebelum rangda mesolah, diiringi oleh gambelan yang dimiliki sendiri oler masyarakat di desa tersebut.Alunan gambelan yang mengiringi tarian andir adalan gambelan sejenis pelegongan  yang  dimainkan oleh masyarakat di desa tersebut.Gerakan tarian andir adalah sangat sederhana,ada suasana mistik,magis dan religious dan ditarikan secara kolektif dan isisnya menggugah emosional keagamaanyang menyebabkan para penari tersebut menjadi kesurupan(hilang kesadaran).Bila sudah  menginjak akan rangda mesolah penari andir menjadi kesurupan(hilang kesadaran)  dan diantara mereka ada yang sampek nebekin(menusuk) rangda tersebut. Bila  sudah selesai pertunjukan  penari andir bisa sadarkan diri seperti biasa.

Rangkaian pementasan tarian andir dan asal usulnya yang menjadikan tarian andir di Desa Tista banjar carik disaklarkan dan dipercayai ada unsur magicnya bagi kehidupan masyarakat di banjar tersebut.Tidak semua banjar mempunyai tarian saklar seperi andir di Desa Tista Banjar Carik maka dari itu generasi muda mereka terus mewarisinya supaya tidak terlupakan apalagi tarian ini merupakaan tarian sakral. Yang sudah kita ketahui tarian saklar yang dimiliki oleh suatu banjar/desa merupakan tarian yang patuh dibanggakan menjadikan banjar anatu desa dapat dikenal luas di sutu wilayah.

 

Sumber                : Pak wawan

Tanggal/jam       : 30 maret 2013 / 11.00 wita

 

 

 

TARI LEGONG ANDIR

Penari: Tarita
Bandung

Sebuah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari Gambuh. Kata Legong berasal dari kata “leg” yang artinya luwes atau elastis dan kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai (tari). Selanjutnya kata tersebut di atas dikombinasikan dengan kata “gong” yang artinya gamelan, sehingga menjadi “Legong” yang mengandung arti gerakan yang sangat terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Sebutan Legong Kraton adalah merupakan perkembangannya kemudian. Adakalanya tarian ini dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan tokoh Condongsebagai pembukaan dimulainya tari Legong ini, tetapi ada kalanya pula tari Legong ini dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari Legong ini adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali Condong.
 
Gamelan yang dipakai mengiringi tari Legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

Lakon yang biasa dipakai dalam Legong ini kebayakan bersumber pada:

  • cerita Malat khususnya kisah Prabu Lasem,
  • cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
  • Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
  • Kuntul (kisah burung),
  • Sudarsana (semacam Calonarang),
  • Palayon,
  • Chandrakanta dan lain sebagainya.

Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari:

  • Papeson
  • Pangawak
  • Pengecet, dan
  • Pakaad

Beberapa daerah mempunyai Legong yang khas, misalnya:

  • Didesa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang lain, dinamakan Andir (Nandir).
  • Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari Legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

Daerah – daerah yang dianggap sebagai daerah sumber Legong di Bali adalah:

Sumber : Team Survey ASTI / Internet

Tanggal : 27 maret 2013