• Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    917

    STILISTIKA PENERJEMAHAN PUISI DI DEPAN ARCA SARASWATI DARI BAHASA

    INDONESIA KE BAHASA INGGRIS

    Ni Ketut Dewi Yulianti, Putu Agus Bratayadnya, dan Ni Made Diana Erfiani

    Institut Seni Indonesia Denpasar dan UNDHIRA Denpasar

    dewiyulianti37@gmail.com

     

    Abstrak

    Paper ini akan membahas tentang stilistika penerjemahan puisi yang berjudul Di Depan Arca

    Saraswati dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris Before the Statue of Saraswati, Goddess of

    Knowledge. Paper ini akan menjadi bahan acuan khususnya bagi mahasiswa dan tenaga pengajar

    bahasa yang ingin mendalami lebih jauh mengenai gaya / style penulisan puisi dan bagaimana gaya

    tersebut diterjemahkan, dan bagi siapa saja yang ingin mendalami puisi yang tentunya sangat

    memperhatikan penggunaan pilihan kata/diksi dalam sebuah puisi.

    Dalam paper ini, metode yang diterapkan oleh penerjemah dalam menerjemahkan stilistik

    puisi tersebut terutama perihal diksinya, akan dibahas dengan lengkap dan tentunya dikaitkan dengan

    budaya kedua bahasa (bahasa sumber/BS dan bahasa target/BT), mengingat penerjemahan tidak

    dapat dipisahkan dari unsur budaya. Hal ini sangat signifikan, karena tanpa pengetahuan tentang

    budaya BS dan BT, seorang penerjemah tidak mungkin dapat melakukan penerjemahan dengan baik.

    Secara teoritis, paper ini akan dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan bahasa

    terutama dalam bidang stilistika puisi dan penerjemahan, sehingga dapat membantu dalam

    meningkatkan kegiatan penerjemahan teks lainnya, mengingat penerjemahan sudah menjadi sebuah

    kebutuhan di era globalisasi ini. Secara praktis, paper ini dapat diaplikasikan dalam proses

    pembelajaran baik formal maupun informal, sehingga puisi dan penerjemahan menjadi semakin

    menarik untuk dikaji.

    Keywords: Stilistika, Penerjemahan Puisi, Diksi

    PENDAHULUAN

    Tujuan utama dari penerjemahan adalah menghasilkan padanan yang paling alami di dalam

    bahasa target atas suatu teks sumber yang diterjemahkan, baik dalam hal makna maupun gaya. Dalam

    menerjemahkan pesan sebuah puisi, bentuk maupun isinya harus diusahakan sama-sama dipertahankan.

    Dalam hal ini penerjemahan sebuah puisi menuntut kemampuan interpretasi yang tinggi, sebab kalau

    tidak demikian akan berakibat pada pemaknaan yang salah.

    Karya sastra seperti puisi selalu memakai ungkapan figuratif, untuk membantu dalam

    membangun makna dari puisi tersebut. Dalam menganalisa ungkapan figuratif yang digunakan dalam

    puisi tersebut, tema merupakan elemen yang tidak terhindarkan. Tujuan dari tulisan ini adalah: (1) )

    untuk menentukan tema dari puisi yang memotivasi penggunaan ungkapan-ungkapan figuratif dalam

    pusis tersebut; (2) untuk mengidentifikasi dan menjelaskan jenis-jenis ungkapan figuratif yang

    merupakan aspek stilistika yang ditemukan pada puisi bahasa sumber (Indonesia) dan terjemahannya

    ke dalam bahasa Inggris; dan (3) untuk menganalisa metode yang diterapkan untuk mencapai

    kesepadanan dalam penerjemahan ungkapan-ungkapan figuratif dari puisi bahasa sumber ke dalam

    puisi bahasa target.

    Landasan Teori

    Teori Terjemahan

    Dalam kajian ini akan diterapkan teori penerjemahan oleh Nida (1982), teori stilistika oleh

    Kraft (2000), dan metode penerjemahan oleh Newmark (1998).

    Nida (1984) memberikan difinisi mengenai pentingnya gaya (style) dalam penerjemahan:

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    918

    “ Translation consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent

    of the source language massage, first in terms of meaning and secondly in terms of style.”

    Definisi di atas mengandung pengertian bahwa dalam proses penerjemahan, isi dan gaya dari

    teks bahasa sumber (BS) harus dipertahankan sejauh mungkin dalam teks bahasa target (BT). Dengan

    kata lain, dari definisi ini diperoleh gambaran bahwa penerjemahan harus mengutamakan kesepadanan

    isi dan gaya bahasa (stilistik).

    Teori Stilistika

    Keraf (2002) mengatakan bahwa gaya bahasa merupakan cara pengungkapan pikiran melalui

    bahasa khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pengarang. Mengkaji gaya bahasa

    memungkinkan dapat menilai pribadi, karakter, dan kemampuan pengarang yang menggunakan bahsa

    tersebut. Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan pikiran melalui bahasa secara khas yang

    memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulisnya.

    Adapun gaya bahasa yang dimaksud dalam tulisan ini adalah ungkapan figuratif yang

    digunakan dalam penulisan teks puisi. Penjelasan dari masing-masing ungkapan figuratif tersebut

    adalah sebagai berikut.

    Antitesis

    Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang berisikan ide-ide dan gagasan-gagasan yang

    bertentangan, dengan memakai kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dari

    kalimat berimbang.

    Contoh:

    Bibirku tersenyum, namun hatiku menangis.

    Mencari terang dalam kegelapan malam.

    Eufemisme

    Eufemisme adalah semcam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung

    perasaan orang atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin

    dirasakan menghina, menyinggung persaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.

    Contoh:

    Ayahnya sudah tak ada di tengah-tengah mereka (=mati)

    Pikiran sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini (=gila)

    Hiperbola

    Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan,

    dengan membesar-besarkan sesuatu hal (see Larson 1998).

    Contoh :

    Cintanya pada anaknya seluas angkasa dan sedalam samudra

    Kecantikannya begitu agung sehingga menggetarkan setiap jiwa yang melihatnya.

    Idiom

    Idiom adalah pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum,

    biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal

    dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya.

    Contoh:

    Dia telah mencuri hatiku dia membuatku jatuh cinta

    Irony

    Ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan

    dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya.

    Contoh:

    Seseorang mengatakan pada temannya: “kamu sangat cerdas”, padahal temannya berbuat

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    919

    Metafora

    Metafora adalah semcam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam

    bentuk yang singkat.

    Contoh:

    Rumahku adalah istanaku

    Matanya bagai bintang kejora

    Metonimia

    Metoniamia adalah gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal

    lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.

    Contoh :

    Mereka membeli sebuah Toyota

    Itu tak akan terjadi semasih aku bernafas (bernafas digunakan secara figuratif yang berarti

    masih hidup)

    Paradox

    Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan

    fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena

    Contoh:

    Musuh sering merupakan kawan yang akrab.

    Ia kesepian dalam keramaian malam itu .

    Personification

    Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati

    atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-seolah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi

    (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati

    bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.

    Contoh :

    Bintang menatapku mesra

    Angin memeluknya dengan hangat

    Pleonasme

    Pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata yang lebih banyak daripada yang

    diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan.

    Contoh :

    Saya hal itu dengan saya sendiri.

    Dia telah mendengar dengan telinganya sendiri.

    Sarkasme

    Sarkasme merupakan acuan yang lebih kasar dari ironi, dan merupakan suatu acuan yang

    mengandung kepahitan dan celaan yang getir.

    Contoh:

    Bau tubuhnya membuat kami mual.

    Kamu memang jahanam tak berperasaan.

    Simile

    Simili adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud perbandingan bersifat

    eksplisit adalah bahwa ia menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain (McArthur, 1996:935).

    Contoh:

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    920

    Hatinya seperti batu

    Kulitnya putih bagaikan salju

    Sinekdoke

    Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal

    untuk menyatakan keseluruhan, atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.

    Contoh:

    Mereka masih tinggal di atap yang sama (tinggal serumah)

    Pulau Bali sedang merayakan kemenangan hari ini.

    Metode Penerjemahan

    Newmark (1998) menjelaskan bahwa metode penerjemahan dibagi menjadi dua kelompok

    besar, yang masing-masing kelompok terdiri atas empat metode penerjemahan. Kelompok pertama

    adalah metode penerjemahan kata-demi-kata, metode penerjemahan harfiah, metode penerjemahan

    setia dan metode penerjemahan semantik. Metode penerjemahan kelompok pertama tersebut sangat

    menghargai sistem dan budaya bahasa sumber. Kelompok kedua terdiri atas metode penerjemahan

    adaptasi, metode penerjemahan bebas, metode penerjemahan idiomatis dan metode penerjemahan

    komunikatif. Metode penerjemahan kelompok kedua ini sangat menghargai sistem dan budaya bahasa

    target. Oleh karena itu, terjemahan yang dihasilkan melalui metode-metode penerjemahan kelompok

    kedua, sangat alamiah dan akrab dengan pembacanya.

    Kedelapan metode penerjemahan yang disebutkan di atas digambarkan ke dalam suatu

    diagram, yang dia sebut sebagai diagram berhuruf V, seperti yang diadaptasi di bawah ini.

    Diagram Huruf V Metode Penerjemahan (Newmark, 1998: 45)

    Diagram di atas menunjukkan bahwa metode penerjemahan mempunyai dua polar atau kutub.

    Kutub sebelah kiri memberikan penekanan pada bahasa sumber, sedangkan kutub sebelah kanan

    memberikan penekanan pada bahasa target. Di bawah ini dibahas secara singkat sifat dari masingmasing

    metode penerjemahan tersebut.

    (1)Metode penerjemahan kata-demi-kata sangat terikat pada sistem dan budaya bahasa sumber.

    Susunan kata pada teks terjemahan sama persis dengan susunan kata dalam teks bahasa sumber.

    Pemadanan berlangsung pada tataran kata dan dilakukan tanpa memperhatikan konteks kata tersebut

    dalam kalimat.

    (2)Metode penerjemahan harfiah, pemadanan juga berlangsung pada tataran kata dan dilakukan tanpa

    mempertimbangkan konteks kata tersebut dalam kalimat. Perbedaannya adalah bahwa metode

    penerjemahan harfiah mempersyaratkan penyesuaian struktur (structural adjustment). Dengan kata

    lain, terjemahan yang dihasilkan telah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa target.

    (3)Metode penerjemahan setia, berusaha sesetia mungkin menduduki struktur posisi yang persis sama

    dalam menghasilkan makna kontekstual teks bahasa sumber meskipun tidak sesuai dengan struktur

    gramatika bahasa target.

    (4)Metode penerjemahan semantik mengarah pada pencarian padanan pada tataran leksikal dengan

    tetap mempertahankan makna bahasa BS, konsep kata dalam BS dan BT dikatakan sepadan jika

    komponen makna alan fitur-fitur semantiknya sama.

    Communicative

    Idiomatic Translation

    Free Translation

    Adaptation

    Orientasi Pada BT

    Sematic

    Faithful translation

    Literal translation

    Word-for-word translation

    Orientasi pada BS

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    921

    (5)Metode penerjemahan adaptasi merupakan metode penerjemahan yang paling bebas. Disebut

    demikian karena penerjemah mempunyai kebebasan yang luas dalam mengadaptasi budaya bahasa

    sumber ke dalam budaya bahasa target. Penerjemah dapat mengadaptasi nama pelaku tempat peristiwa

    dan waktu peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber agar terjemahannya dekat atau akrab

    dengan pembaca sasaran. Metode yang seperti ini hanya dapat diterapkan pada teks sastra. Metode

    penerjemahan adaptasi seyogianya jangan diterapkan dalam penerjemahan teks-teks yang sensitif

    (misalnya teks hukum, agama, dsb) karena hasilnya akan berakibat fatal.

    (6)Metode penerjemahan bebas. Namun, kebebasan yang dimiliki penerjemah dalam menerapkan

    metode ini, terbatas hanya pada cara menyampaikan pesan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa

    target. Pencarian padanan yang dilakukan penerjemah bukan pada tataran kata atau kalimat tetapi pada

    tataran teks.

    (7)Metode penerjemahan idiomatis berusaha untuk menghasilkan kembali “pesan” teks sumber dalam

    leks terjemahan, tetapi cenderung merusak nuansa makna dengan jalan menggunakan bahasa kolokial

    dan ungkapan idiomatis meskipun kedua hal ini tidak terdapat dalam bahasa sumber.

    (8)Metode penerjemahan lainnya yang berorientasi pada bahasa target adalah metode-metode

    penerjemahan komunikatif. Metode penerjemahan komunikatif ini sangat memperhatikan efek yang

    ditimbulkan oleh suatu terjemahan pada pembaca meskipun hal itu acapkali sulit dicapai. Terjemahan

    yang dihasilkan melalui penerjemahan komunikatif sangat efektif berterima dan mudah dipahami oleh

    pembaca sasaran.

    Metode Penelitian

    Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang mencakup tiga tahapan, yakni

    (1) tahap pengumpulan data; (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis seperti yang

    terinci di bawah ini.

    Pengumpulan Data

    Objek penelitian ini berupa produk penerjemahan teks (puisi) berbahasa Indonesia berjudul Di

    Depan Arca Saraswati karya Putu Fajar Arcana dan teks terjemahannya dalam bahasa Inggris Before

    The Statue of Saraswati, Goddess of Knowledge, diterjemahkan oleh Vern Cork. Korpus data dalam

    kajian terjemahan ini berupa korpus bilingual paralel (paralel bilingual corpora) yang terdiri dari teks

    asli (bahasa sumber) dan versi terjemahannya (bahasa target) yang terdapat dalam buku The Morning

    After. Data yang berupa ungkapan figuratif sebagai salah satu aspek stilistika semuanya diambil dari

    teks puisi BS dan terjemahannya dalam teks BT.

    Metode dan Teknik Analisis Data

    Pada dasarnya dalam analisis data terkandung pengertian pengumpulan dan interpretasi data.

    Data yang terkumpul berupa ungkapan figuratif yang terdapat dalam teks sumber dan terjemahannya

    dalam teks target diklasifikasikan berdasarkan jenisnya untuk mendapatkan korpus-korpus data.

    Klasifikasi korpus tersebut didasarkan pada pengertian masing-masing ungkapan figuratif yang telah

    dijelaskan di atas, untuk selanjutnya dianalisis secara rinci dengan mengacu pada tema dari puisi yang

    memotivasi penggunaan ungkapan-ungkapan figuratif tersebut

    Metode dan Teknik Penyajian Data

    Karena analisis pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif maka hasil analisis akan

    disajikan secara deskriptif naratif untuk menghasilkan pelaporan dengan lebih rinci. Penelitian ini

    lebih menekankan pada kegiatan mengumpulkan dan mendeskripsikan data kualitatif yang berupa

    penerjemahan stilistik yang terdapat dalam pusis Di Depan Arca Saraswati dari bahasa Indonesia ke

    bahasa Inggris Before the Statue of Saraswati, Goddess of Knowledge. Penelitian ini dapat disebut

    penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif yang menekankan pada makna, lebih memfokuskan

    pada data kualitas dengan analisis kualitatifnya (Sutopo, 2004:48)

    Secara umum, prosedur penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut.

    (1) Pengumpulan data yang berbentuk ungkapan figuratif yang merupakan aspek stilistika yang

    terdapat dalam puisi Di Depan Arca Saraswati dari bahasa Indonesia dan terjemahannya dalam

    bahasa Inggris Before the Statue of Saraswati, Goddess of Knowledge, dengan mengacu pada

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    922

    tema dari puisi yang memotivasi penggunaan ungkapan-ungkapan figuratif tersebut, serta metode

    yang diterapkan dalam penerjemahannya.

    (2) Pengklasifikasian, pengkodean, dan penganalisisan data,

    (3) Penarikan simpulan penelitian,

    (4) Pengajuan saran dan implikasi penelitian.

    PEMBAHASAN

    Stilistika merupakan ilmu tentang gaya bahasa, ilmu interdisipliner antara linguistik dengan

    sastra, ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra, ilmu tentang penerapan kaidahkaidah

    linguistik dalam penelitian gaya bahasa, dan ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam

    karya sastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya sekaligus latar belakang

    sosialnya. Dengan memahami uraian ini, jelaslah bahwa dalam menganalisa laras tutur (stilistika)

    dalam sebuah wacana/teks, sekaligus akan dapat dikaji kaidah-kaidah linguistiknya (Kuta

    Ratna:2009). Seperti dijelaskan di atas bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi

    ungkapan-ungkapan figuratif yang merupakan salah satu aspek stilistika dan metode yang digunakan

    dalam penerjemahannya, yang tentu harus mengacu pada tema dari puisi dimaksud.

    Tema adalah pola makna yang muncul secara bertahap dari pemahaman keseluruhan terhadap

    sebuah puisi (Smith, 1985:46). Smith juga mengatakan bahwa the number of themes is much smaller

    in comparison to the trillions of poems already in existence (bahwa jumlah tema jauh lebih sedikit

    dibandingkan dengan triliunan puisi yang sudah ada. Fakta ini akhirnya kembali pada kemungkinan

    dan keterbatasan keberadaan manusia. Tema tersebut berhubungan dengan bagian kehidupan manusia

    yang tidak dapat dihindari dan dikontrol. Bagian utama kehidupan manusia yang dihubungkan dengan

    tema adalah: (1) the effects of time : growth, change, ageing, death, transience, renewal, birth,

    (2)human relationship : love, friendship, parting, loss, constancy, unfaithfulness, (3) human

    consciousness : hope, fear, happiness, despair, self-esteem, self-rejection, dan (4) human

    circumstances: freedom, restriction, abundance, deprivation, communion, isolation (Smith, 1985:47).

    Setelah membaca teks puisi BS dan BT, tema puisi tersebut dapat diformulasikan ke dalam

    makna tertentu dari human circumstances khususnya restriction yaitu ‘kekecewaan masyarakat

    terhadap pembangunan pulau Bali yang menyempitkan gerak dan aktifitasnya’.

    Analisis ungkapan figuratif yang dalam konteks penelitian ini disajikan dalam dua belas

    bagian, tidak per baris, untuk memberikan pemahaman yang seksama bagi pembaca.

    Teks BS Teks BT

    1. Dewi, pelataran pura ini 1. Goddess, the forecourt of this temple

    tak cukup buatku menari is not wide enough for me to dance in

    Pada bagian awal puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    mempergunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘pelataran pura ini’ untuk menyatakan

    keseluruhan, yaitu pulau Bali, dan ‘menari’ untuk menyatakan setiap gerak dan aktifitas masyarakat

    Bali. Dengan pembangunan yang semakin pesat di Bali, kemajuan pariwisata, serta perkembangan

    bidang lainnya, malah menyempitkan gerak dan aktifitas masyarakat Bali. Fakta ini sangat jelas dalam

    kehidupan masyarakat Bali dewasa ini. Pantai, yang dulu tidak begitu dipenuhi para wisatawan yang

    berkunjung ke Bali, yang merupakan tempat masyarakat Bali (hindu) ketika mekiis, sekarang sudah

    tidak ramah lagi untuk melakukan prosesi upacara keagamaan. Tidak jarang diantara iring-iringan

    umat yang sedang melaksanakan upacara keagamaan, ada pemandangan wisatawan mengenakan

    bikini di pantai tempat upacara tersebut sedang berlangsung.

    Metode yang diterapkan dalam menerjemahkan baris awal puisi ini adalah metode

    penerjemahan komunikatif, karena terjemahannya sangat efektif, berterima dan mudah dipahami.

    2. Terasa ruang kian sempit 2. It is closing in

    penuh ditumbuhi pepohonan overgrown with trees

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    923

    yang tidak kita kenal that are alien to us

    Pada bagian kedua ini, penulis kembali menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘terasa ruang kian sempit’ untuk menyatakan

    keseluruhan, yaitu pulau Bali, dan ‘pepohonan yang tidak kita kenal’ untuk menyatakan bangunan dan

    para pendatang yang ada di Bali.

    Metode yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi. Penerjemah mengadaptasi

    peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber yaitu ’terasa ruang kian sempit’ menjadi ’It is

    closing in’ dan ’ penuh ditumbuhi pepohonan yang tidak kita kenal’ menjadi ‘overgrown with trees

    that are alien to us’ agar terjemahannya dekat atau akrab dengan pembaca sasaran.

    3. Dewi, gerak manalagi mesti kumainkan 3.Goddess, which other movement should I perform

    Pada bagian ketiga ini, ungkapan figuratif sinekdoke kembali menjadi pilihan penulis, dengan

    menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘gerak manalagi mesti kumainkan’ untuk

    menyatakan keseluruhan, yaitu usaha apalagi yang harus dilakukan.

    Metode penerjemahan yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi. Penerjemah

    mengadaptasi peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber yaitu ’kumainkan’ menjadi ’I

    perform’ agar terjemahannya dekat atau akrab dengan pembaca sasaran.

    4. langit telah jadi dinding pembatas 4. the sky has become a dividing wall

    bagi keliatan burung-burung for the wildness of birds

    Pada bagian keempat ini, ungkapan figuratif pleonasme digunakan, dengan mempergunakan

    kata-kata yang lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan,

    yaitu pada kalimat ‘langit telah jadi dinding pembatas’, kata ‘dinding’ bisa dihilangkan.

    Metode penerjemahan yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi. Penerjemah

    mengadaptasi peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber yaitu ’ dinding pembatas’ menjadi ’a

    dividing wall’ agar terjemahannya terkesan natural dan mudah dipahami pembaca teks BT. Namun

    kata ’keliatan’ diterjemahkan menjadi ’the wildness’ tidak dapat dijelaskan metode yang digunakan,

    dengan asumsi apakah penerjemah salah baca kata ’keliatan’ menjadi ’keliaran yang dalam bahasa

    Inggris adalah ’toughness’ ataukah hal ini merupakan penerapan metode penerjemahan adaptasi.

    5. Dan rumput yang menghamba 5. And the grass which serves

    di kaki peradaban at the foot of civilization

    makin mengasingkan puja kita alienates our worship even more

    Pada bagian kelima puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif personifikasi, yaitu

    gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa

    seolah-seolah memiliki sifat-sifat kemanusiaan, bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia, yang

    dalam hali ini ‘dan rumput yang menghamba di kaki peradaban’ tidak mungkin rumput bisa

    menghamba di kaki peradaban. Di samping itu, ungkapan figuratif sinekdoke juga diterapkan, dengan

    menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘mengasingkan puja kita’ untuk menyatakan

    keseluruhan, yaitu mengasingkan keberadaan masyarakat Bali.

    Metode yang diterapkan dalam menerjemahkan bagian puisi ini adalah metode penerjemahan

    komunikatif, karena terjemahannya sangat efektif, berterima dan mudah dipahami

    6. Garis yang kau gores di atas debu 6. The line that you scrape in the dust

    diterbangkan angin ke awan has been blown away by wind into the air

    Pada bagian keenam puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu kalimat ‘garis yang kau gores di atas debu’ untuk

    menyatakan keseluruhan, yaitu segala pengetahuan yang diberikan oleh Dewi Saraswati, sebagai Dewi

    sumber pengetahuan. Ungkapan figuratif ini sangat mendukung pesan yang ingin disampaikan penulis,

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    924

    bahwa pengetahuan yang sudah diberikan oleh Tuhan, dalam hal ini Dewi Saraswati sebagai Dewi

    sumber pengetahuan telah diabaikan karena false ego sehingga kurang mampu menjaga tanah Bali dari

    derasnya arus modernisasi dan segala upaya untuk memajukan perekonomian namun memudarkan

    riak keindahan, kepolosan, dan keaslian pulau Bali tercinta ini.

    Metode penerjemahan yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi. Penerjemah

    mengadaptasi tempat peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber yaitu ’diterbangkan angin ke

    awan’ menjadi ’has been blown away by wind into the air’. Kata ‘ke awan’ diadaptasi menjadi ‘into

    the air’

    7. Kita sedang bertamu di pelataran sendiri 7. We are guests in our own courtyard

    Pada bagian ketujuh puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu kalimat ‘di pelataran sendiri’ untuk menyatakan

    keseluruhan, yaitu ‘di pulau kita sendiri’

    Metode penerjemahan yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi. Penerjemah

    mengadaptasi peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber yaitu ’kita sedang bertamu’ menjadi

    ’We are guests’

    8. Tak bebas lagi memetik bunga 8. No longer free to pick the flowers

    Pada bagian kedelapan puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu kalimat ‘tak bebas lagi memetik bunga’ untuk

    menyatakan keseluruhan, yaitu segala aktifitas yang di lakukan masyarakat Bali.

    Metode yang diterapkan adalah dalam menerjemahkan bagian puisi ini adalah metode

    penerjemahan komunikatif, karena terjemahannya sangat efektif, berterima dan mudah dipahami

    9. atau terlentang di pasir 9. or to lie down on the sand

    Pada bagian kesembilan puisi ini, penulis kembali menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke

    dengan menggunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘terlentang di pasir’ untuk menyatakan

    keseluruhan, yaitu hidup di pulau Bali.

    Metode yang diterapkan adalah dalam menerjemahkan bagian puisi ini adalah metode

    penerjemahan komunikatif, karena terjemahannya sangat efektif, berterima dan mudah dipahami.

    10. menciumi hangat matahari 10. feeling the sun’s warmth

    Pada bagian kesepuluh puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif hiperbola, gaya

    bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal,

    dalam hal ini frasa ‘menciumi hangat matahari’ adalah ekspresi yang berlebihan, karena ‘hangat

    matahari’ dirasakan bukan diciumi.

    Metode yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi, yaitu penerjemah

    mengadaptasi peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber ’ menciumi hangat matahari’ menjadi

    feeling the sun’s warmth’ agar akrab dengan pembaca sasaran dan mudah dipahami, namun jelas

    mengurangi keindahan bahasa puisi tersebut pada teks BT.

    11.Dewi, harus kutujukan kemana sembah ini? 11. Goddess, to whom should I offer up this prayer?

    Pada bagian kesebelas puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    mempergunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘sembah’ untuk menyatakan keseluruhan, yaitu

    ‘keluhan dan kekecewaan’.

    Metode yang diterapkan adalah metode penerjemahan adaptasi, yaitu penerjemah

    mengadaptasi peristiwa yang terdapat dalam teks bahasa sumber ’kemana’ menjadi ’to whom’ agar

    akrab dengan pembaca sasaran dan mudah dipahami.

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    925

    12. Di sekeliling pura telah tumbuh 12. Around this temple have grown

    pohonan yang tidak kita kenal! trees that are alien to us!

    Pada bagian akhir puisi ini, penulis menggunakan ungkapan figuratif sinekdoke dengan

    mempergunakan sebagian dari sesuatu hal yaitu frasa ‘Di sekeliling pura’ untuk menyatakan

    keseluruhan, yaitu pulau Bali, dan ‘telah tumbuh pohonan yang tidak kita kenal’ untuk menyatakan

    bangunan, pendatang, dan segala sesuatu yang bersifat asingyang sudah memenuhi pulau Bali.

    Metode yang diterapkan dalam menerjemahkan baris akhir puisi ini adalah metode

    penerjemahan adaptasi, penerjemah melakukan adaptasi terhadap penerjemahan ‘pohonan yang tidak

    kita kenal’ menjadi ‘trees that are alien to us’.

    SIMPULAN

    Setelah membaca teks puisi BS dan BT, tema puisi tersebut dapat diformulasikan ke dalam

    makna tertentu dari human circumstances khususnya restriction yaitu ‘kekecewaan masyarakat

    terhadap pembangunan pulau Bali yang menyempitkan gerak dan aktifitasnya’. Penelitian ini

    menunjukkan bahwa penggunaan ungkapan figuratif secara konsisten dimotivasi oleh tema puisi

    Jenis-jenis ungkapan figuratif yang merupakan aspek stilistika yang ditemukan pada puisi

    bahasa sumber (Indonesia) dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris adalah hiperbola (bagian 10),

    personifikasian (bagian 5), pleonasme (bagian 4), sinekdoke (bagian 1,2,3,5,6,7,8,9,11, dan 12), dan

    hanya pada bagian 10 ungkapan figuratif tidak diterjemahkan secara figurative.

    Metode yang diterapkan untuk mencapai kesepadanan dalam penerjemahan ungkapanungkapan

    figuratif dari puisi bahasa sumber ke dalam puisi bahasa target adalah metode penerjemahan

    adaptasi (bagian 2,3,4,6,7,10,11,dan 12) dan metode penerjemahan komunikatif (bagian 1,5,8, dan 9).

    Dengan begitu banyaknya ragam ungkapan figuratif, penulis semestinya masih bisa

    menyampaikan pesan dalam puisi ini dengan lebih indah namun memberi kesan tegas dan kuat.

    Demikian pula untuk penerjemahnya, ada bagian dari ungkapan figuratif dalam puisi (bagian 10), tidak

    diterjemahkan secara figuratif, sehingga mengurangi nilai puitisnya pada bahasa target.

    Masih ada banyak devices yang masih bisa dikaji dalam puisi ini, sehingga peneliti lain bisa

    melanjutkan penelitian ini, untuk membangun interpretasi yang lebih mendalam dalam puisi ini.

    DAFTAR PUSTAKA

    Cork, Vern. 2000. Bali The Morning After. Australia: Darma Printing.

    Keraf, Gorys. 2002. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

    Kutha Ratna, Nyoman. 2009. Stilistika. Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya.

    Yogyakarta:Pustaka Pelajar

    Larson, M.L. 1989. Meaning-Based Translation. A Guide to Cross-Language Equivalence. Second

    Edition. Lanham: University Press.

    Newmark,P. 1988. A Textbook of Translation. New York: Prentice-Hall International

    Nida,E: 1984. On Translation. Translation Publishing Corp. Beijing, China.

    Smith, Sybille,1985 Inside Poem. Victoria : Pitman

    Sutopo, H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian.

    Surakarta: Sebelas Maret University Press

    Prosiding

    Seminar Nasional Bahasa Ibu VII.

    ISBN ; 978-602-7776-89-0.

    926

    Apendiks

    DI DEPAN ARCA SARASWATI

    Dewi, pelataran pura ini

    tak cukup buatku menari

    Terasa ruang kian sempit

    penuh ditumbuhi pepohonan

    yang tidak kita kenal

    Dewi, gerak manalagi mesti kumainkan

    langit telah jadi dinding pembatas

    bagi keliatan burung-burung

    Dan rumput yang menghamba

    di kaki peradaban

    makin mengasingkan puja kita

    Garis yang kau gores di atas debu

    diterbangkan angin ke awan

    Kita sedang bertamu di pelataran sendiri

    Tak bebas lagi memetik bunga

    atau terlentang di pasir

    menciumi hangat matahari

    Dewi, harus kutujukan kemana sembah ini?

    Di sekeliling pura telah tumbuh

    pohonan yang tidak kita kenal!

    1996

    BEFORE THE STATUE OF SARASWATI, GODDESS OF KNOWLEDGE

    Goddess, the forecourt of this temple

    is not wide enough for me to dance in

    It is closing in

    overgrown with trees

    that are alien to us

    Goddess, which other movement should I perform

    the sky has become a dividing wall

    for the wildness of birds

    And the grass which serves

    at the foot of civilization

    alienates our worship even more

    The line that you scrape in the dust

    has been blown away by wind into the air

    We are guests in our own courtyard

    No longer free to pick the flowers

    or to lie down on the sand

    feeling the sun’s warmth

  •  

    “SEGARA WIDYA”

    JURNAL HASIL-HASIL PENELITIAN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

    ISSN: 2354-7154 Volume 1, Nomor 1, November 2013

    LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

    JURNAL “SEGARA WIDYA”

    Diterbitkan oleh
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

    ISSN : 2354-7154, Volume 1, Nomor 1, November 2013

    Pengarah

    Dr. I Gede Arya Sugiartha, SSKar., M.Hum (Rektor ISI Denpasar).
Prof. Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes. (PR I ISI Denpasar)

    Penanggungjawab

    Dr. Drs. I Gusti Ngurah Ardana, M.Erg. (Ketua LP2M ISI Denpasar)
I Wayan Sudana, SST. M.Hum. (Skretaris LP2M ISI Denpasar)

    Ketua Pelaksana Harian

    Drs. I Wayan Mudra, M.Sn.
(Ketua Pusat Penelitian LP2M ISI Denpasar)

    Dewan Redaksi

    Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST. (ISI Denpasar)
Prof. Dr. I Nyoman Sedana, SP. (ISI Denpasar) Prof. Dr. A.A.I.N. Marhaeni, M.A. (Undiksha) Prof. Dr. Ir. I Ketut Satriawan, MT. (Unud)
Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd. (ISI Denpasar)
Dr. I Komang Sudirga S.Sn., M.Hum. (ISI Denpasar) Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum. (ISI Denpasar) I Gede Oka Surya Negara, SST, M.Sn. (ISI Denpasar)

    Penyunting Bahasa

    (Bahasa Inggris)        Ni Ketut Dewi Yulianti. S.S., M.Hum.

    (Bahasa Indonesia)   Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum.

    Bendaharawan

    Ida Ayu Sri Sukmadewi, SSn.,M.Erg.

    Desain Cover

    Ni Luh Desi In Diana Sari, SSn.,M.Sn

    Tata Usaha & Sirkulasi

    Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si. Drs. I Ketut Sudiana,
I Gusti Ngurah Putu Ardika, S.Sos Putu Agus Junianto, ST.
I Wayan Winata Astawa,
I Made Parwata

    Jurnal “SEGARA WIDYA” terbit sekali setahun pada bulan November. Alamat Jalan Nusa Indah Denpasar

  • Timetable

    International Studio for Arts and Culture FSRD – ALVA (ISACFA)

    In collaboration between Faculty of Fine Art and Design (FSRD;Fakultas Seni Rupa dan Desain), ISI Denpasar and Faculty of Architecture, Landscape, and Visual Arts (ALVA), UWA

    1. I. Orientation Program

    Week 1 Activity Time Person Incharge Location Remarks
    SATURDAY

    June 11

    Grand Opening Bali Art Festival /

    Pesta Kesenian Bali (PKB)

    10 am Paul Trinidad Art Center, Denpasar Officially opened by President of Republic of Indonesia
    SUNDAY

    June 12

    Arrive in Denpasar – Meet at Taman Rosani Hotel.  Meet members of ISI Team. 12 pm

    (Noon)

    Paul Trinidad Taman Rosani Hotel,Pettitenget, Bali.
    http://tamanrosani.com/
    Taxi to Night Markets
    MONDAY

    June 13

    Transfer to Dormitories ISI 10 am Paul Trinidad & Group Denpasar Kota Welcome Party at Natya Mandala building.
    Lunch at ISI 12 pm Prof. Dr. I Wayan Rai S, MA. ISI Denpasar Lunch at Green Room
    Orientation to ISI Campus
    Visit to Bali Art Festival
    2 pm –

    4 pm

    Prof. Dr. I Wayan Rai S, MA.

    Wayan Suweca, S.Skar., M.Mus

    ISI Denpasar Introduction and Glance of ISI Denpasar

    1. II. Class Activities

    Week 1 Course Time Course Content Person Incharge Location
    TUESDAY

    June 14

    Breakfast 8 am Paul Trinidad Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am History of Indonesian/

    History of bahasa

    Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum.

    Ni Kadek Dwiyani, S.S

    Class – ISI Dps
    Bali  Art and Culture 10 am Understanding of Bali Art and Culture Drs. I Ketut Murdana, M.Sn.

    Dr. Tjok Udiana Np, S.H., M.Hum.

    Class – ISI Dps
    Photography 11 am Art Photography I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si.

    I Kadek Puriartha, S.Sn, M.Sn

    Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting Studio 1 pm Outdoor drawing with line technical Dra. Ni Made Rinu, M.Si.

    Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn.

    Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    First Photographic hunting 4 –5 pm I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.SI.   Ida Bagus Candra Yana, S.Sn. Art Center
    WEDNESDAY

    June 15

    Breakfast 8 am Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am Indonesian Grammar Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum.

    Nyoman Dewi Pebryani, ST,MA

    Class – ISI Dps
    Bali Art and Culture 10 am Prehistoric Civilization and Culture of Bali I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. Drs. Ketut Buda, M.Si. Class – ISI Dps
    Photography 11 am Photo Composition Anis Raharjo, S.Sn., M.Sn.

    Cokorda Istri Puspawati Nindhia, S.Sn.

    Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting Studio 1 pm Outdoor painting, water base black and white technic Drs. I Made Yasana, M.Erg.

    Drs. I Wayan Kondra, M.Si.

    Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    Photography hunting 4 –5 pm Anis Raharjo, S.Sn., M.Sn.

    Cokorda Istri Puspawati Nindhia, S.Sn.

    Art Center
    THURSDAY

    June 16

    Breakfast 8 am Dormitories
    IndonesianLanguage/ bahasa 9 am Vocabulary Drs. Wayan Mardana,M.Pd

    Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum

    Class – ISI Dps
    Bali Art and Culture 10 am Cultural Concepts in Bali I Drs. I Made Subrata, M.Si.

    Drs. I Ketut Muka, M.Si

    Class – ISI Dps
    Photography 11 am Lighting Ida Bagus Candra Yana, S.Sn

    I Made Bayu Pramana, S.Sn.

    Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting Studio 1 pm Mixing Technic I Wayan Sujana , S.Sn., M.Sn

    Drs. A.A.Ngr  Gede Surya Buana, M.Sn

    Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    Assignment 4 –5 pm
    Friday

    June 17

    Breakfast 8 am Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am Pronunciation Drs. Wayan Mardana,M.Pd

    Ni Kadek Dwiyani, S.S

    Class – ISI Dps
    Bali Art and Culture 10 am Cultural Concepts in Bali II I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si

    Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi,S.Sn, M.Erg

    Class – ISI Dps
    Field Trip 11 am – 5 pm Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn

    Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum

    Paul Trinidad

    Seeing Arts Museums in Ubud
    SATURDAY, June 18, Free Time Sight seeing : several art museums in Denpasar and Ubud
    SUNDAY,

    June 19

    Free Time
    Week 2 Course Time Course Content Person Incharge Location
    MONDAY
    June 20
    Breakfast 8 am Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am Greetings Ni Kadek Dwiyani, S.S

    Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum

    Class – ISI Dps
    Bali  Art and Culture 10 am Communities in the ritual and ceremony Drs. I Wayan Mudana., M.Par.

    I Wayan Setem, M.Si

    Drs. D.A. Tirta Ray, M.Si

    Class – ISI Dps
    Photography 11 am Arts and Journalism I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si

    Amoga Lelo, S.Sos., M.Sn.

    Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting studio 1 pm Basic painting with water color Dewa Putu Gde Budiarta,S.Sn, M.Si Dra. Ni Made Purnami Utami, M.Erg Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    Photography hunting 4 pm I Made Saryana, S.Sn., M.Sn.

    Amoga Lelo, S.Sos., M.Sn.

    Art Center
    TUESDAY

    June 21

    Breakfast 8 am Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am Indonesian behavior/ habit Ni Kadek Dwiyani, S.S

    Nyoman Dewi Pebryani, ST,MA

    Class – ISI Dps
    Bali Art and Culture 10 am Communities in system : Subak & Banjar Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si

    Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa,M.Sn

    Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si

    Class – ISI Dps
    Graphic Art 11 am History of Graphic Art I Made Saryana, S.Sn., M.Sn.

    Drs. Cok Gde Raka Swendra

    Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting Stuido 1 pm Ancient treasure (drawing temple and museum) I Made Jodog, MFA

    Drs. I Nyoman Marsa

    Drs. I Wayan Sutha,S

    Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    WEDNESDAY June 22 Breakfast 8 am Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am Simple Conversation I Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum

    Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum

    Class – ISI Dps
    Balinese Traditional Architecture 10 am Introducing of Balinese Traditional Architecture Dr.Drs. I Nyoman Artayasa,M.Kes

    A.A. Gde Bagus Udayana,S.Sn,M.Si

    Class – ISI Dps
    Graphic Art 11 am Wood Cut with Black White monoprint IB. Trina Windu

    I Made Saryana, S.Sn., M.Sn.

    Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting Studio 1 pm Painting Model using water color Drs. I Nyoman Nirma

    Drs. I Nyoman Wiwana, M.Si

    Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    THURSDAY

    June 23

    Breakfast 8 am Dormitories
    Balinese Traditional Architecture 9 am Asta bumi & Kosala-Kosali (Balinese Traditional Architecture) Drs. A.A. Gede Rai Remawa,M.Sn

    Drs. Cok Gde Rai Padmanaba, M.Erg

    Class – ISI Dps
    Graphic Art 10 am – 12am Wood cut and Print color Drs. Nyoman Mantra Fandy, M.Si. & Drs. Nengah Sudika Negara Class – ISI Dps
    Lunch 12 pm
    Drawing/Painting Studio 1 pm Opaque uses human model. Drs. A.A. Gde Ngurah TY, M.Si

    Drs. I Ketut Mustika

    Studio- ISI Dps/    outdoor area
    Break 3.30 pm
    Assignment 4 pm
    FRIDAY

    June 24

    Breakfast 8 am . Dormitories
    Indonesian Language/ bahasa 9 am Simple Conversation II Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum

    Nyoman Dewi Pebryani, ST,MA

    Class – ISI Dps
    Balinese Traditional Architecture 10 am Balinese ornament Drs. Olih Solihat Karso,M.Sn

    Drs. I Wayan Balika Ika, M.Si

    Made Ida Mulyati, S.Sn., M.Erg

    Class – ISI Dps
    Field trip 11am –  5 pm Visit holy spring temple at Tampak Siring Village
    SATURDAY June 25 Free Time .
    SUNDAY

    June 26

    Free Time Go to Klungkung earlier

    Check in at Tower Hotel Klungkung

    Visit Gamelan Foundary and Kertagosa
    1. III. Klungkung Activities
    Week 3 Course Time Course Content Person incharge Location
    MONDAY
    June 27
    Breakfast 8 am Klungkung Hotel
    Studying Painting 9 am Kamasan Painting I Nyoman Mandra (artist)

    Drs. I Made Mertanadi, M.Si

    Kamasan Village
    Studio Painting 1 – 4 pm Kamasan Painting I Nyoman Mandra (artist) Kamasan Village
    Break 4 pm
    TUESDAY

    June 28

    Breakfast 8 am Klungkung Hotel
    Studying Painting 9 am Kamasan Painting I Nyoman Mandra (artist)

    I Made Sumantra, S.SN.,M.Sn

    Kamasan Village
    Lunch 12 pm Kamasan Painting Kamasan Village
    Studio Painting 1 – 4 pm Kamasan Painting I Nyoman Mandra (artist) Kamasan Village
    Assignment work 3 pm Kamasan Painting Kamasan Village
    WEDNESDAY

    June 29

    Breakfast 8 am Check out from Hotel Klungkung Hotel
    Drawing/Painting 9 am Kamasan Painting I Nyoman Mandra (artist)

    I Made Brata, S.Sn., M.Sn

    Kamasan Village
    Lunch 12 pm Kamasan Painting Kamasan Village
    Studio Painting 1 – 3 pm Kamasan Painting I Nyoman Mandra (artist) Kamasan Village
    Assignment work 3 pm Kamasan Painting Kamasan Village
    THURSDAY

    June 30

    Breakfast 8 am Dormitories
    Folio day 9 am Prepare Exhibition
    Lunch 12 pm
    FRIDAY

    July 1

    Breakfast 8 am Dormitories
    Folio Day 9 am Prepare Exhibition
    Folio Submission 4 pm
    SATURDAY July 2 Preparation time 10 am Setting the exhibition place
    5 pm Exhibition Open
    8 pm Dinner + farewell party
    SUNDAY

    July 3

    RETURN OF FOLIOS 10 am Taman Rosani Hotel
    Monday

    July 4

    RETURN TO PERTH
  • Translated by Putu Agus Bratayadnya

    Collaboration Project of Dita Gambiro, Wayan Sujana “Suklu” and Ngurah Sudibya.

    Tapak Telu is a collaboration project between 3 Artists, Dita Gambiro, Wayan Sujana “Suklu” and Ngurah Sudibya, which are coming from different discipline, meet in one project. What interesting phenomenon from this project is their works from each individual conception and those are met together with a concept. On this collaboration, they carry Tapak Telu concept, which has meaning trilateral. Trilateral is a form that have a lot of meaning in many cultures, likes there is golden section trilateral,  Bermuda trilateral and in certain religion likes Hindu, there is many trilateral/three concepts likes Tri Murti, Tri Datu, Tri Sula, Tri Hita Karana etc.  Golden Section trilateral is used for translating spiritual concept, on above corner is reference to The Suprime God and for twin below corner is reference to human and life or nature. In Tri Hita Karana concept, those references are as regard relationship between human and God, human and human and the last human and nature.

    Because of its trilateral concept on this collaboration project made the 3 artists evolved their works. Dita evolved happen and not happen concepts with approach cycle of birth, grow and death (shattered), then from this concept he translated into simbolic delegation with the use of human body and combination of meru. Meru is pentagon form of Hindu temple in Bali that the structure of floor is smaller to its top. Human , life circle and meru simbolize of imortalitas.

    Meanwhile Suklu talks about bamboo facture that he responded trilateral concept with bamboo composition with trilateral concepts. In his works, Suklu gave more space for meaning process from this form. He believes that in this phenomenon save many concepts and meaning who match with context of space and time in many cultures. So trilateral on Suklu works is an open composition phenomenon form from many variety of meaning.

    Deferent with Ngurah Sudibya, who is already long time to explore trilateral concept from Hindu philosophy. As an artist from dance department, he focus on performance composition in his performance to response this trilateral concept.  From paradoks on binary opposition, black-white, noon-night, He produced transition phenomenon, gray colour. In life binary of paradox opposition always following by transition phenomenon (in between) and this concept he translates to his performance. Ngurah Sudibya makes his performance to response Suklu and Dita works, also Ngurah makes those works as section of his performance. In this collaboration project,  relevance is happen between concept and style from each exponent so it will present of many mixing artistic and aesthetic phenomenon.

    Desember 16 Des 2010

    I Wayan Seriyoga Parta

  • Translated by Putu Agus Bratayadnya

    Text by I Ketut Murdana

    Art appreciation Horizon is opener if back up by extensive observation and consciousness change towards “creative intelligence.” Creative intelligence is  intelligence unity of scientific thinking with the creative process. Intelligence could arise through a variety of activities, observation, selection, interpretation, contemplation, sublimation and so forth. Observation activity has very important position related to issues in thematic and visual creative process. Through intelligent observation in an effort to position the historical background of various artifacts and aesthetic moments presented from earlier works. It is clearly a role to find creative territory. Intelligence was found intensity when fully supported by adequate practical skills in an effort to express images after going through the selection and interpretation that arise in the process of observation. Configuration is the process of observation and practical strength with one of the unique features of its form, a personal intensity that is able to put them self in the area of creativity. Creative struggle is towards the realization of authenticity that determines itself as a power of identity.

    Arts Collaborative is a way, which is very important to measure the quality of expression, appreciation, contemplation and others that affect the rise of a new passion for art beings especially in an effort to form a creative intelligence as “characteristic” education of Arts Iinstitutions that distinguish from other non-academic Institutions.

    Faculty of Fine Arts and Design (FSRD), Indonesian Institute of the Arts (ISI) Denpasar with Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts (ALVA), University of Western Australia (UWA) will held a joint exhibition at  ISI Denpasar on  22nd of Desember 2010 up to 2nd of January 2011 at the Kriya Hasta Mandala Exhibition Building to achieve the desired academic quality with appropriate vision and mission of each Institutions.

    The works are presented together from both Faculties from two countries, which have different cultural backgrounds in the exhibition space with a very diverse visual presentation. Historical series are presented ranging from classical art, realist, expressionist, abstract until the postmodern with a variety of touch, which is sometimes very intriguing. First, it was something that escaped from the view turned out to be a moment of aesthetic that be able to creatively in last. Piles of bricks, rocks, terracing, screwdriver, dolls, masks, puppets, dancers, cows, birds, Balinese alphabet (rajah), human objects and others say the issue containing aesthetic value and struggle of new meaning. Aesthetic values and meaning in question of each work, its intensity is different from one another.

    Serving framing aesthetic values who want to fight for artists such as social critique which begins from the sensitivity to the natural environment, the power of technology that helps the process of destruction of nature, the question of personal images, signs or symbols that appear represent the personal statement. Intensity of charges both has different variations. On one hand, It is interesting to note as a transition to a paradigm, one side appeared some very personal moments of aesthetic eloquence respond to the work presented is very compact and harmony but on the other hand need to creative to the intensity of the maturation process. Something is usually happen when the personal still in education college. Here it is interesting to note in this exhibition, happen a leap of thinking and imagination addressing developed of the aesthetic world and change the value of the external culture. Both can be viewed as a statement of self (self-assertion) via a work of art. Both these tendencies are expressed himself and united, represents an essential aspect to all living systems (Capra: 1982.43).

    When it thinks one by one, it coasts long time and tiring, overall it is the intensity observed by public appreciator through selection, interpretation, contemplation and other personnel who determine next steps. Will all these things will prosper in the world creative competition, would wait patiently and take care, to make strong.

    Happy exhibiting

« Previous Entries