Artikel gamelan salukat

Juni 21st, 2014

 

 

 

 

 

SEJARAH GAMELAN SALUKAT

 

 

 

Kata Salukat  ditemukan oleh Idewa Ketut Alit pada saat beliau melukat di salah satu pura yang terdapat air mancur atau pancoran di sebuah desa di Bali, yang bernama desa Kramas. Pura atau pancoran ini dinamakan “PURA SLUKAT”, yang katanya barang siapa yang  melukat pada pacoran ini atau nunas tamba pada pura ini, bahwa diyakini  segala wabah penyakit akan sembuh dan itu sudah dibuktikan oleh beliau sendiri. Lalu setelah mengamati secara cermat pura “SLUKAT” tersebut, beliau membuat sebuah komposisi musik gamelan di Jepang yang diberi nama “SLUKAT”. Oleh ketertarikan beliau dengan kata tersebut.Akhirnya barungan gamelan beliau dinamakan “Salukat” bukan “Slukat”.Gamelan  Salukat dirancang dan dibuat pada tahun 2004. Kemudian gamelan ini selesai pada tahun 2006. Lalu mulai membuat group gamelan (sekeha)  yang juga bernama “Salukat” pada tahun 2007. Kemunculan gamelan ini disebabkan oleh senangnya beliau terhadap sifat yang eskprimental atas dasar pertimbangan dalam konteks gamelan Bali, banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dengan pasti.Selain itu juga, ide diciptakan barungan gamelan ini, beliau sangat suka berkomposisi dengan menggunakan gamelan 7 nada. Sebelum adanya barungan gamelan ini, gamelan yang menggunakan laras pelog 7 nada telah ada. Misalnya barungan gamelan semarandhana, semar pegulingan, selonding, gong luang dan lain sebagainya.Tetapi menurut beliau, jika berkomposisi menggunakan barungan tersebut, beliau merasa terbatas dan kurang puas. Oleh karena nada-nadanya hanya terdiri dari satu oktaf , kecuali patutan selisir yang terdapat dalam barungan gamelan semarandhana.

 

“Salukat”, dalam arti kata “Salu” artinya rumah dan “Kat” artinya melebur atau  menyucikan kembali. Artinya dalam konteks ini, rumah merupakan tempat pergi dan kembalinya orang untuk melaksanakan segala kreativitas dalam konteks berkeluarga. Jika dijabarkan juga sesuai dengan arti kata yang lain, “Sa” = Selonding, “Lu”= Luang, “Kat”= menyucikan kembali. Sehingga selonding, gong luang, merupakan jenis gamelan yang disakralkan di Bali sesuai dengan konteksnya. Barungan gamelan  ini dimainkan oleh 30 orang penabuh. Itu juga tidah harus berjumlah segitu.Tergantung juga dalam kebutuhan berkomposisi.Kalau dilihat dari wujud fisiknya, barungan gamelan ini sangat minimalis tetapi berisi. Maksud dari berisi ini, barungan ini mempunyai banyak makna dan maksud tertentu yang mempunyai alasan  yang edukatif. Bentuk tungguhan pada barungan gamelan ini tidaklah sama seperti halnya bentuk tungguhan yang sudah lumrah pada gamelan Bali. Bentuk tungguhan gamelan ini simple dan praktis untuk di bawa kemana-mana.Tetapi meskipun bentuk tungguhan barungan ini kecil, tidak ada sedikitpun berpengaruh terhadap suara gamelan. Yang anehnya juga tuning pada gamelan ini khusus untuk pemade, ngumbang isepnya dibagi menjadi empat dimensi, yang di bali biasanya hanya 2 dimensi. Tujuannya adalah pada barungan gamelan ini lebih banyak mengacu pada sistem bunyi.Disamping itu juga dalam barungan gamelan ini, menggunakan 5 gong dan 2 kempur. Maksudnya dalam  logika matematika, 5 + 2 = 7. Ini menunjukan bahwa gamelan ini berlaras 7 nada, tetapi gong atau kempurnya tidak dituning secara pasti sesuai dengan nada gamelan. Hanyalah dicari dimensinya saja, agar menimbulkan getaran atau suara yang diinginka. Adapun instrument yang terdapat pada barungan “Gamelan Salukat” yaitu terdiri dari :

 

  •          4 tungguh pemade yang daunnya berjumlah masing-masing 14 bilah
  •          4 tungguh kantilan yang jumlah daunnya masing-masing  berjumlah 14 bilah
  •          2 tungguh calung yang jumlah daunnya masing-masing berjumlah 11 bilah
  •          2 tungguh jegog yang jumlah daunnya masing-masing berjumlah 11 bilah
  •          1 tungguh ugal yang jumlah daunnya 14 bilah
  •          1 tungguh reong yang jumlah penconnya 17.
  •          1 buah kajar
  •          1 buah kempli
  •          1 buah cengceng ricik
  •          1 tungguh gambang
  •          5 gong dan 2 kempur
  •          Beberapa buah kendang yang terdiri dari kendang gegupekan, palegongan dan   jedugan.
  •          8 buah suling
  •          1 buah rebab

 

Ini merupakan gamelan yang mempunyai sifat evolusioner dan radikal.Dalam barungan gamelan ini, bisa dimainkan berbagai jenis lagu (gending) dari jenis repertoar musik yang ada di Bali. Misalnya gending-gending yang ada dalam barungan gamelan selonding, gong luang, angklung, gong gede, semar pegulingan, bebarongan, semarandhana dan lain sebagainya bisa dimainkan di dalam barungan Gamelan Salukat ini. Gamelan ini sungguh enerjik, baik dilihat dari konteks komposisi dan instrumentasinya.

 

Berikut karya-karya komposisi yang lahir dari Gamelan Salukat ini antara lain :

 

  •          Salju
  •          Aes
  •          Murwe Daksina (Persimpangan Jalan)
  •          Salugambuh
  •          Pangenter Alit
  •          Semesta
  •          Ginetik

 

 

 

Salukat Sebagai Gamelan Evolusi

 

 

 

Teori Evolusi memiliki pengertian sebagai perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya yang berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam teori evolusi disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen suatu organisme atau makhluk hidup yang akan diwariskan kepada keturunan dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi.

 

Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh sang induk. Sifat baru tersebut dapat diperoleh dari perubahan gen akibat terjadinya sebuah mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang mengalami reproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dapat terjadi oleh adanya rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme.Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan yang terwariskan dalam peristiwa ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.Seleksi alam dan hanyutan genetik merupakan dua faktor utama yang mendorong terjadinya teori evolusi.

 

Tanggapan Mayarakat Terhadap Munculnya Gamelan Salukat

 

 

 

Apresiasi masyarakat khususnya di Bali sangatlah mati ketika muncul karya-karya baru yang original.Hal ini bisa saya lihat ketika Salukat melakukan beberapa kali pementasan.Terbukti lebih antusias orang asing yang cendrung lebih perhatian daripada masyarakat dalam. Meskipun pertunjukan ini dilaksanakan secara gratis dan terbuka,tetap jumlah penonton tidak begitu banyak dari kalangan masyarakat intern.Mungkin hal ini terjadi oleh kebiasaan masyarakat dengan menyaksikan Festival Gong Kebyar.

 

 

 

 

 

BIYODATA NARASUMBER

 

 

 

 Nama : I Dewa Ketut Alit

 

Banjar : Pengosekan kaje Ubud

 

Pekerjaan : Komposer

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 gamelan salukat

 

Comments are closed.