SEJARAH GAMBELAN SEMARANDANA DI PURA PENATARAN PANDE DESA TIHINGAN KECAMATAN BANJARANGKAN KABUPATEN KLUNGKUNG

Bermula dari gambelan bebonangan atau baleganjur saih pitu,akhirnya menjadi gambelan Semarandana. Dulu gambelan Baleganjur merupakan seperangkat gambelan yang sangat terkait dengan hal kegiatan keagamaan, namun karena pengaruh dan sesuai dengan kebutuhan, maka gambelan Baleganjur pun menjadi sebuah barungan gambelan Semarandana. Gambelan Semarandana adalah gambelan yang termasuk gambelan golongan ke tiga atau gambelan golongan baru. Gamelan ini berlaras pelog tujuh nada dengan jumlah bilah dua belas bilah yang di ciptakan oleh alm,bapak Wayan Brata pada tahun 2000. Di desa Tihingan khususnya di pura Penataran Pande terdapat juga sebuah barungan gambelan Semarandana yang dulunya adalah gambelan baleganjur saih pitu. Awalnya sebelum terdapat gambelan semarandana pura penataran pande memiliki sebuh intrumen baleganjur saih pitu yang buat pada tahun 2000 dan diplapas atau disucikan pada bulan Nopember yang bertujuan untuk sebagai pengiring upacara keagamaan.  Dengan perkembangan jaman , para warga ingin menambah instrumen sehingga menjadi barungan yang lengkap. Akhirnya para warga dan penglingsing membuat gambelan Semarandana .Gambelan Semarandana ini pun di buat dengan penggagas jero kelian pura dan penglingsisr pura penataran pande ( Jro Mangku bargawa ) karena sesuai dengan jaman sekarang yang bisa dijadikan multi fungsi atau banyak kegunaan dan tujuan, antara lain seperti: untuk menabuh ngelambat, mengiringin tari-tarian, untuk menabuh Semarpegulingan ,untuk menabuh Angklung.dan lain sebagainya. Karena desa Tihingan adalah desa pariwisata pembuat gambelan atau desa pusat pembuatan gambelan di Bali, tidak mau kalah dengan desa yang ada di daerah lainnya. Maka krama desa pengempon pura penataran pande mencoba untuk membuat gambelan ini sesuai dengan gagasan penglingsir yang telah disepakati untuk dijadikan sebagai sarana dalam mengiringi upacara atau pelengkapan dalam upacara yadnya di pura Penatan Pande. Gambelan Semarandana ini dibuat pada tahun 2006  dengan secara bertahap, mulai dari dua tungguh gangsa pemade, hingga ke instrumen lainnya seperti kantialan,jublag, penyacah, jegogan, terompong, ugal dan reong.  Dana yang digunakan adalah melalui patungan dan sumbangan dari warga pengempon lainnya, Proses pembuatan gambelan ini juga dilakukan oleh pengempon pura dengan sistem gotong royong. Supaya hasilnya menjdi lebih baik, Para pengempon mencari duasa atau hari baik dalam proses pembuatannya. Gambelan Semarandana ini di proses hampir satu tahun lamanya sampai pinis. Ada yang mebuat bilahnya,dan ada yang membuat plawahnya.atau tempat bilahnya. Untuk ukiran pelawah, warga mencari tukang ukir dari desa Angantelu kecamatan Manggis kabupaten Karangasem yang kebetulan tukang ukir ini juga warga pande. Gambelan  Semarandana ini pun di sucikan dan di tempat kan dipura penataran pande dan digunakan setiap emam bulan sekali yaitu pada hari tumpek landep yaitu hari piodalan di pura Penatan Pande. Gambelan semarandana ini mempunyai keunikan tersendiri yaitu terletak pada instrumen reongnya, karena instrumen reongnya yang bentuknya lebih besar dari reong semarandana lainya. Reong ini mempunyai panjang dua meter lelih atau reong terpanjang yang belum ada seperti gambelan Semarandana pada umumnya. Jumlah mencol ini berjumlah delapan belas pencol dengan bentuk pelawah seperti jaro yang diukir dengan ukiran bome.

Comments are closed.