Perkembangan Gong Kebyar di Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kebupaten Jembrana

Perjalanan gong kebyar di Kelurahan Banjar Tengah mulai sejak dikukuhkannya Seke Gong Dharma Laksana (1931) hingga kini telah mengalami banyak perkembangan yang tedak lepas dari pasang surutnya aktivitas berkesenian seke Dharma Laksana. Dalam dokumentasi Seke Dharma Laksana tercatat bahwa telah terjadi 4 kali pergantian pengurus seke. Itu berarti seke Dharma Laksana telah mengelola gong kebyar tersebut dan hingga sampai 4 generasi dan setiap generasi tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam proses perkembangan gong kebyar tersebut. Berikut akan dipaparkan perkembangan gong kebyar tersebut pada masa masing-masing generasi berdasarkan data yang diperoleh dari nara sumber.

2.1. Seke Dharma Laksana Generasi I (1931-1943)
Seke Dharma Laksana I terdiri dari beliau-beliau para pelopor yang telah aktif berkesenian dari tahun 1920-an. sejak dikukuhkan pada tahun 1931 seke ini di ketuai oleh Nang Bodra dengan jumlah anggota kurang lebih 26 orang. Aktivitas berkesenian Seke hanya meliputi kundangan-kundangan untuk mengiringi rangkaian upacara keagamaan umat hindu. Seke dilatih oleh I Nengah Kereg yang asalnya dari Kabupaten Badung sehingga mampu memainkan tabuh-tabuh diantaranya tabuh iringan topeng, tari kebyar duduk, dan lelambatan Galang Kangin.
Satu persatu anggota seke mulai tidak aktif ketika memasuki masa penjajahan Jepang (1940-an) dan satu persatu pula generasi muda bermunculan untuk melengkapi seke.

2.2. Dharma Laksana Generasi II (1943-1980)
Dalam tugas ini, pergantian masa aktif seke dihitung dari pergantian kepengurusan seke, bukan berarti penyerahan gong kebyar secara begitu saja dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Pergantian Seke terjadi secara perlahan, anggota seke mulai tidak aktif satu persatu dan akan digantikan oleh generasi muda namun masih ada beberapa seke senior yang mendampingi dan mengayomi generasi muda. Penyerahan tanggung jawab tanggung pengolalaan gong kebyar mulai diserahkan kepada pengurus yang baru pada tepat pada masa kekalahan Jepang yaitu pada tahun 1943. Seke diketuai oleh A. A. Rai, dengan jumlah seke kurang lebih 30 orang. Gong kebyar masih dalam keadaan yang sama yaitu instrument gangsa, kantil, dan ugal berbilah 9, tanpa instrument penyahcah, dan pelawahnya pun masih tetap yang terbuat dari kayu sentul itu.
Setelah indonesia merdeka pada tahun 1945, Seke Gong Dharma Laksana mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aktivitas berkesenian terus memuncak dan keberadaan gong kebyar tersebut mulai dilirik dan menjadi hiburan yang spektakuler pada saat itu. Dipilihnya A. A. Bagus Suteja sebagai Kepala Daerah Tingkat I Bali yang pertama pada saat itu juga berpengaruh besar perkembangan gong kebyar tersebut. Beliau mengawasi dengan ketat aktivitas berkesenian seke Dharma Laksana. Bahkan ia memanggil dan memberikan peringatan kepada anggota seke yang tidak datang saat latihan. Tahun 1957-1959 karir gong kebyar Dharma Laksana sangat memuncak.
Seke Dharma Laksana generasi II pernah melakoni gong kebyar mepadu sebanyak 3 kali. Yang pertama pada tahun 1957 melawan Seke Gong Kebyar dari Desa Petemon Buleleng yang bertempat di Alun-alun Negara (sekarang dikenal dengan Lapangan Umum Negara) dengan menampilkan 4 tabuh yaitu Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin, Tari Kebyar Duduk, Tari Margapati, dan tabuh Kreasi. Yang kedua pada tahun 1958 melawan seke gong kebyar Desa Tegalcangkring Kec. Mendoyo. Pada saat itu pula A. A. Bagus Suteja memanggil pelatih kawakan dari Kabupaten Badung yang bernama I Nyoman Deng. Dan yang ketiga pada tahun 1959 melawan seke gong kebyar dari Desa Batuagung. Keadaan gamelan gong kebyar juga telah diperbaiki. Bilah instrument gangsa, ugal dan kantil telah di tambah menjadi 1 bilah. Pelawah diganti menggunakan kayu Gempinis namun masih tetap dalam bentuk yang sederhana tanpa ukiran. Umah gong (tempat menaruh gong) dipindah yang semula di rumah pekak tabuh dipindah ke sebuah rumah yang terletak di selatan alun-alun negara.
Karir seke meredup pada tahun 1965 ketika perang G 30 S PKI mulai berkecamuk. PNI mengancam akan membunuh semua seke gong karena dianggap bahwa seke gong kebyar Dharma Laksana adalah kelompok kesenian milik PKI yang bernama Gong Lekra. Insiden itu teratasi setelah pengurus seke berhasil menunjukkan bukti bahwa seke gong bernama Dharma Laksana dan bukan Gong Lekra milik PKI. Namun 2 orang anggota seke telah terbunuh kejadian itu membuat seke trauma, suasana takut membuat kegiatan berkesenian menjadi fakum. Semua perangkat gamelan di bongkar, dan duan gamelan dimasukkan kedalam sebuah peti. Beberapa bulan setelah itu 5 set daun instrument gamelan hilang, diantarannya ugal, 2 set pemade, dan set 2 kantil.
Tahun 1966 keributan 30 S PKI mereda, beberapa orang seke berinisiatif untuk membangunkan seke gong kembali. Beliau-beliau yaitu I Ketut Sarya, I Nengah Wira, I Wayan Desta, I Ketut Nirta, I Nyoman Wenya, dan I Ketut Sorden. Beliau-beliau langsung mencari kayu Nangka untuk mengganti pelawah gamelan yang masih tersisa. Umah gong dipindahkan untuk yang keduakalinya ke rumah I Ketut Sorden (sekarang beralamat di jln. Saestuhadi no 4). Seke berhasil bangkit dan kembali aktif kundangan-kundangan dengan jumlah anggota hanya 16 orang yang memainkan instrument gamelan yang masih tersisa dengan memainkan tabuh-tabuh gong Dag-Dog1. Kemudian mereka mampu memperbaiki keadaan gamelan dengan melebur instrument terompong dan 1 buah gong untuk mengganti bilah gamelan yang hilang. Pande didatangkan dari desa Tihingan Kelungkung. Jumlah kas yang dimiliki cukup untuk membayar upah pande, untuk membeli instrument gong. Keadaan gong kebyar kembali lengkap namun hanya kurang 1 instrument yaitu Terompong.

2.3. Dharma Laksana Generasi III (1986-2000)
Memasuki tahun 1980-an, satu persatu generasi muda mulai bermunculan kembali dan kepengurusan seke gong Dharma Laksana resmi diganti oleh generasi muda pada tahun 1986 yang diketuai oleh I Ketut Suarnita. Reputasi gong kebyar kembali memuncak ketika seke Dharma Laksana mewakili kecamatan negara dalam lomba gong kebyar antar kecamatan se-Kabupaten Jembrana dan berhasil meraih juara I. Kemudian bergabung dengan seke gong dari Desa Sangkaragung dan Batuagung untuk mewakili Kabupaten Jembrana ke tingkat Provinsi Bali. Ketika itu mendatangkan pelatih kawakan yaitu I Wayan Suweca (menjadi Dosen ISI Denpasar).
Keadaan gong kebyar di Kelurahan Banjar Tengah menjadi lengkap dengan ditambahkannya instrument terompong, penyahcah dan gecek. Terompong diperoleh dari bantuan Listibya Kabupaten Jembrana. ada yang berbeda dengan instrumen penyahcah yang dibuat. Penyahcah pada umumnya berdaun tujuh dengan nada terendah adalah nada ”dung”. Sedangkan yang dibuat di Banjar Tengah bernada terndah “ding”.

2.4. Dharma Laksana Generasi IV (2000-sekarang)
Pada tahun 1990-an muncul kembali generasi-generasi muda yang lebih kreatif. Mereka mengembangkan kesenian yang lainnya seperti Genjek, dan Jegog. Genjek adalah seni karawitan vokal intrumental yang mengolah jalinan suara dengan diiringi beberapa instrument seperti suling, kendang, gecek, dan rindik. Dan Jegog adalah kesenian alat musik khas Jembrana yang terbuat dari bambu. Jadi saat itu seke gong Dharma Laksana mengelola 4 jenis kesenian sekaligus yaitu gong kebyar, baleganjur, genjek, dan jegog. Aktivitas berkesenian Seke Dharma Laksana kembali memuncak. Bahkan dalam 1 hari seke bisa kundangan sampai 3 kali.
Pada tahun 2000, kepengurusan seke Dharma Laksana berganti untuk yang keempat kalinya dengan I Kade Arya Parjana sebagai ketua dengan jumlah seke kurang lebih 35 orang. Terhingtung kas yang dimiliki saat itu berjumlah kurang lebih 14 juta rupiah yang kemudian digunakan untuk biaya mengganti pelawah. Untuk ketiga kalinya dan itu penggantian pelawah yang terakhir. Pelawah diukir dan dicat prada (warna emas). Sehingga jadilah gong kebyar itu seperti saat ini.


About The Author

Comments

Leave a Reply