Kemunculan Gong Kebyar Di Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana

Kemunculan Gong Kebyar di Kelurahan Banjar Tengah.
1.1. Kegiatan berkesenian di Kelurahan Banjar Tengah di Tahun 1920-an.
Berdasarkan hasil wawancara dengan I Ketut Sarya (88 tahun) yang merupakan salah satu anggota seke gong aktif pada tahun 1940-an, dijelaskan bahwa kegiatan berkesenian sudah ada di Kelurahan Banjar Tengah sebelum beliau lahir (1924). Kesenian itu berupa menarikan Barong Bangkung dan Rangda yang diringi dengan gamelan tingklik (instrument perkusi yang bilahnya terbuat dari bambu). Gambelan tingklik tersebut terdiri dari 4 tungguh instrument tingklik yang berlaras pelog 5 nada. Mereka menari berkeliling mengunjungi rumah-rumah warga. Mungkin kesenian itu dapat digambarkan seperti kesenian Ngelawang yang kita kenal saat ini. personilnya terdiri dari anak-anak berusia remaja, dan hanya ada dua orang yang berusia dewasa yang akrab dipanggil Nang Budra dan Nang Lingga. Mungkin beliau berdua yang mempunyai gagasan mengumpulkan anak-anak remaja untuk mendirikan kelompok kesenian tersebut. Dan kemudian kesenian tersebut berkembang, mereka mengganti instrument iringan dengan menggunakan 2 tungguh Gender Rambat, Gecek, Kempli, Kendang, Gong, Kempur, dan Klenang. Mereka juga membuat sebuah tarian jejangeran yang dikenal pada saat itu dengan sebutan “Baris Kekupu”. Tarian tersebut memiliki fungsi hanya sebagai hiburan dan ditarikan untuk memeriahkan upacara pernikahan.
Pada saat itu pula, di Kelurahan Banjar Tengah juga ada seorang tukang ukir yang bernama Kandia. Beliaulah yang membuat tapel (topeng) barong dan rangda yang ditarikan oleh Nang Budra dengan personilnya. Selain itu, ada pula seorang waria yang pandai merias bernama Nodya. Beliaulah yang selalu merias penari baris kekupu dengan bedak seadanya.
Beliau-beliau beridentitas sebagai seke Dharma Laksana terus aktif berkesenian dengan melakukan kundangan di setiap ada upacara pernikahan. Sekali kundangan mereka mendapatkan upah di antara 4 keteng sampai 40 keteng2. Sedikit demi sedikit upah yang mereka dapat itu dikumpulkan untuk mengembangkan kesenian mereka.

1.2. Terbentuknya Seke dan Pembuatan Gong Kebyar di Kelurahan Banjar Tengah, Negara (1931).
Gong Kebyar yang ada di Kelurahan Banjar Tengah dibuat pada tahun 1931 bersamaan dengan pengukuhan seke gong Dharma Laksana. Proses pembuatannya yang banyak dibantu oleh A. A. Bagus Suteja. Beliau adalah putra dari Tuanku Raja A. A. Bagus Negara di Puri Agung Negara. Beliau menyumbangkan bahan untuk membuat gamelan yang berupa 2 tungguh terompong gamelan jawa yang terbuat dari bahan kerawang dan satu buah gong besar terbuat dari kerawang berdiameter lebih dari 1 meter. Beliau juga mendatangkan seorang pande dari Desa Blahbatuh Gianyar untuk melebur bahan gamelan tersebut. Terompong gamelan jawa dan gong besar itu dilebur bersamaan dengan uang keteng milik seke Dharma Laksana yang diperoleh dari hasil kundangan dan urunan seke. Uang keteng digunakan sebagai bahan tambahan karena terbuat dari logam perunggu. Bahan itu dilebur dirumah salah satu anggota seke yang akrab di panggil Pekak Tabuh, lokasinya kini beralamat di jalan Gatot Subroto Gg. I No. 2 Kelurahan Banjar Tengah. Dari proses peleburan, memakan waktu 4 bulan sehingga menjadi sebuah barungan gong kebyar. Barungan gong kebyar tersebut terdiri dari:

– Instrument hasil peleburan:
o 1 tungguh instrument terompong
o 2 tungguh instrument ugal
o 4 tungguh instrument pemade
o 4 tungguh instrument kantil
o 1 tungguh instrument reong.
o 2 tungguh instrument jublag
o 2 tungguh instrument jegogan
o 1 buah instrument kajar
o 1 buah instrument kempli
o 1 buah bende
– Instrumen yang memang dimiliki dengan tambahan yang baru dibuat:
o 2 buah kendang
o 2 buah gecek
o 1 buah kempur
o 1 buah gong

Barungan gambelan tersebut dilaras oleh Nang Budra karena Pande tersebut hanya menyelesaikan sampai berbentuk bilah saja. Pelawahnya dibuat oleh seke yang terbuat dari Kayu Sentul yang dicari dan ditebang sendiri oleh seke pula. Instrument ugal, pemade, dan kantil hanya berbilah sembilan karena kurangnya bahan yang didapat. Selanjutnya Gamelan tersebut dikelola Seke Dharma Laksana dan disimpan dirumah pekak tabuh sekaligus menjadi tempat seke untuk latihan. Tetapi tidak lepas dari pengawasan pihak Puri Agung Negara.
Berdasarkan beberapa tulisan yang memuat tentang kemunculan gong kebyar di Bali diungkapkan bahwa pertama kali gong kebyar muncul pada tahun 1915 di Desa Jagaraga Kabupaten Buleleng. Kemudian nama gong kebyar meledak dan berkembang pesat hingga menyebar di seluruh Palau Bali (Rai S., 2008). Jika dikaitkan dengan tahun dibuatnya gamelan di Kelurahan Banjar tengah itu berarti 16 tahun setelah pertama kali muncul gong kebyar di Bali. Pertanyaannya kapan gong kebyar dikenal oleh masyarakat jembrana karena seke Dharma Laksana tak akan mungkin membuat gamelan gong kebyar jika tidak mengenalnya terlebih dahulu. Jika itu inisiatif daris seke, maka itu terjadi diantara tahun mulai terbentuk kelompok kesenian Dharma Laksana dan tahun pembuatan gong kebyar yaitu diantara 1920-1931. Atau tidak menutup kemungkinan bahwa A. A. Bagus Suteja yang mencetus ide untuk membuat gong kebyar. Beliau adalah putra dari seorang Tuanku Raja, setidaknya beliau mengetahui lebih dahuulu segala hal yang berkembang di Bali khusunya seni.


About The Author

Comments

Leave a Reply