Welcome To Our Site...

Fusce sed justo. Vestibulum eget pede. Pellentesque venenatis nisl et nulla. Nulla malesuada tincidunt nunc. Praesent erat diam, sollicitudin nec, egestas a, tempor et, felis. Aliquam ante lectus, vehicula ac, commodo sed, luctus a, turpis. Aliquam vehicula quam porttitor felis. Quisque metus ante, molestie sit amet, adipiscing sed, vulputate scelerisque, arcu. Nunc suscipit sem e.

Desember 2017
M S S R K J S
« Okt    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Perkembangan Gong Kebyar di Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kebupaten Jembrana

Posted By on 28 Oktober 2013

Perjalanan gong kebyar di Kelurahan Banjar Tengah mulai sejak dikukuhkannya Seke Gong Dharma Laksana (1931) hingga kini telah mengalami banyak perkembangan yang tedak lepas dari pasang surutnya aktivitas berkesenian seke Dharma Laksana. Dalam dokumentasi Seke Dharma Laksana tercatat bahwa telah terjadi 4 kali pergantian pengurus seke. Itu berarti seke Dharma Laksana telah mengelola gong kebyar tersebut dan hingga sampai 4 generasi dan setiap generasi tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam proses perkembangan gong kebyar tersebut. Berikut akan dipaparkan perkembangan gong kebyar tersebut pada masa masing-masing generasi berdasarkan data yang diperoleh dari nara sumber.

2.1. Seke Dharma Laksana Generasi I (1931-1943)
Seke Dharma Laksana I terdiri dari beliau-beliau para pelopor yang telah aktif berkesenian dari tahun 1920-an. sejak dikukuhkan pada tahun 1931 seke ini di ketuai oleh Nang Bodra dengan jumlah anggota kurang lebih 26 orang. Aktivitas berkesenian Seke hanya meliputi kundangan-kundangan untuk mengiringi rangkaian upacara keagamaan umat hindu. Seke dilatih oleh I Nengah Kereg yang asalnya dari Kabupaten Badung sehingga mampu memainkan tabuh-tabuh diantaranya tabuh iringan topeng, tari kebyar duduk, dan lelambatan Galang Kangin.
Satu persatu anggota seke mulai tidak aktif ketika memasuki masa penjajahan Jepang (1940-an) dan satu persatu pula generasi muda bermunculan untuk melengkapi seke.

2.2. Dharma Laksana Generasi II (1943-1980)
Dalam tugas ini, pergantian masa aktif seke dihitung dari pergantian kepengurusan seke, bukan berarti penyerahan gong kebyar secara begitu saja dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Pergantian Seke terjadi secara perlahan, anggota seke mulai tidak aktif satu persatu dan akan digantikan oleh generasi muda namun masih ada beberapa seke senior yang mendampingi dan mengayomi generasi muda. Penyerahan tanggung jawab tanggung pengolalaan gong kebyar mulai diserahkan kepada pengurus yang baru pada tepat pada masa kekalahan Jepang yaitu pada tahun 1943. Seke diketuai oleh A. A. Rai, dengan jumlah seke kurang lebih 30 orang. Gong kebyar masih dalam keadaan yang sama yaitu instrument gangsa, kantil, dan ugal berbilah 9, tanpa instrument penyahcah, dan pelawahnya pun masih tetap yang terbuat dari kayu sentul itu.
Setelah indonesia merdeka pada tahun 1945, Seke Gong Dharma Laksana mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aktivitas berkesenian terus memuncak dan keberadaan gong kebyar tersebut mulai dilirik dan menjadi hiburan yang spektakuler pada saat itu. Dipilihnya A. A. Bagus Suteja sebagai Kepala Daerah Tingkat I Bali yang pertama pada saat itu juga berpengaruh besar perkembangan gong kebyar tersebut. Beliau mengawasi dengan ketat aktivitas berkesenian seke Dharma Laksana. Bahkan ia memanggil dan memberikan peringatan kepada anggota seke yang tidak datang saat latihan. Tahun 1957-1959 karir gong kebyar Dharma Laksana sangat memuncak.
Seke Dharma Laksana generasi II pernah melakoni gong kebyar mepadu sebanyak 3 kali. Yang pertama pada tahun 1957 melawan Seke Gong Kebyar dari Desa Petemon Buleleng yang bertempat di Alun-alun Negara (sekarang dikenal dengan Lapangan Umum Negara) dengan menampilkan 4 tabuh yaitu Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin, Tari Kebyar Duduk, Tari Margapati, dan tabuh Kreasi. Yang kedua pada tahun 1958 melawan seke gong kebyar Desa Tegalcangkring Kec. Mendoyo. Pada saat itu pula A. A. Bagus Suteja memanggil pelatih kawakan dari Kabupaten Badung yang bernama I Nyoman Deng. Dan yang ketiga pada tahun 1959 melawan seke gong kebyar dari Desa Batuagung. Keadaan gamelan gong kebyar juga telah diperbaiki. Bilah instrument gangsa, ugal dan kantil telah di tambah menjadi 1 bilah. Pelawah diganti menggunakan kayu Gempinis namun masih tetap dalam bentuk yang sederhana tanpa ukiran. Umah gong (tempat menaruh gong) dipindah yang semula di rumah pekak tabuh dipindah ke sebuah rumah yang terletak di selatan alun-alun negara.
Karir seke meredup pada tahun 1965 ketika perang G 30 S PKI mulai berkecamuk. PNI mengancam akan membunuh semua seke gong karena dianggap bahwa seke gong kebyar Dharma Laksana adalah kelompok kesenian milik PKI yang bernama Gong Lekra. Insiden itu teratasi setelah pengurus seke berhasil menunjukkan bukti bahwa seke gong bernama Dharma Laksana dan bukan Gong Lekra milik PKI. Namun 2 orang anggota seke telah terbunuh kejadian itu membuat seke trauma, suasana takut membuat kegiatan berkesenian menjadi fakum. Semua perangkat gamelan di bongkar, dan duan gamelan dimasukkan kedalam sebuah peti. Beberapa bulan setelah itu 5 set daun instrument gamelan hilang, diantarannya ugal, 2 set pemade, dan set 2 kantil.
Tahun 1966 keributan 30 S PKI mereda, beberapa orang seke berinisiatif untuk membangunkan seke gong kembali. Beliau-beliau yaitu I Ketut Sarya, I Nengah Wira, I Wayan Desta, I Ketut Nirta, I Nyoman Wenya, dan I Ketut Sorden. Beliau-beliau langsung mencari kayu Nangka untuk mengganti pelawah gamelan yang masih tersisa. Umah gong dipindahkan untuk yang keduakalinya ke rumah I Ketut Sorden (sekarang beralamat di jln. Saestuhadi no 4). Seke berhasil bangkit dan kembali aktif kundangan-kundangan dengan jumlah anggota hanya 16 orang yang memainkan instrument gamelan yang masih tersisa dengan memainkan tabuh-tabuh gong Dag-Dog1. Kemudian mereka mampu memperbaiki keadaan gamelan dengan melebur instrument terompong dan 1 buah gong untuk mengganti bilah gamelan yang hilang. Pande didatangkan dari desa Tihingan Kelungkung. Jumlah kas yang dimiliki cukup untuk membayar upah pande, untuk membeli instrument gong. Keadaan gong kebyar kembali lengkap namun hanya kurang 1 instrument yaitu Terompong.

2.3. Dharma Laksana Generasi III (1986-2000)
Memasuki tahun 1980-an, satu persatu generasi muda mulai bermunculan kembali dan kepengurusan seke gong Dharma Laksana resmi diganti oleh generasi muda pada tahun 1986 yang diketuai oleh I Ketut Suarnita. Reputasi gong kebyar kembali memuncak ketika seke Dharma Laksana mewakili kecamatan negara dalam lomba gong kebyar antar kecamatan se-Kabupaten Jembrana dan berhasil meraih juara I. Kemudian bergabung dengan seke gong dari Desa Sangkaragung dan Batuagung untuk mewakili Kabupaten Jembrana ke tingkat Provinsi Bali. Ketika itu mendatangkan pelatih kawakan yaitu I Wayan Suweca (menjadi Dosen ISI Denpasar).
Keadaan gong kebyar di Kelurahan Banjar Tengah menjadi lengkap dengan ditambahkannya instrument terompong, penyahcah dan gecek. Terompong diperoleh dari bantuan Listibya Kabupaten Jembrana. ada yang berbeda dengan instrumen penyahcah yang dibuat. Penyahcah pada umumnya berdaun tujuh dengan nada terendah adalah nada ”dung”. Sedangkan yang dibuat di Banjar Tengah bernada terndah “ding”.

2.4. Dharma Laksana Generasi IV (2000-sekarang)
Pada tahun 1990-an muncul kembali generasi-generasi muda yang lebih kreatif. Mereka mengembangkan kesenian yang lainnya seperti Genjek, dan Jegog. Genjek adalah seni karawitan vokal intrumental yang mengolah jalinan suara dengan diiringi beberapa instrument seperti suling, kendang, gecek, dan rindik. Dan Jegog adalah kesenian alat musik khas Jembrana yang terbuat dari bambu. Jadi saat itu seke gong Dharma Laksana mengelola 4 jenis kesenian sekaligus yaitu gong kebyar, baleganjur, genjek, dan jegog. Aktivitas berkesenian Seke Dharma Laksana kembali memuncak. Bahkan dalam 1 hari seke bisa kundangan sampai 3 kali.
Pada tahun 2000, kepengurusan seke Dharma Laksana berganti untuk yang keempat kalinya dengan I Kade Arya Parjana sebagai ketua dengan jumlah seke kurang lebih 35 orang. Terhingtung kas yang dimiliki saat itu berjumlah kurang lebih 14 juta rupiah yang kemudian digunakan untuk biaya mengganti pelawah. Untuk ketiga kalinya dan itu penggantian pelawah yang terakhir. Pelawah diukir dan dicat prada (warna emas). Sehingga jadilah gong kebyar itu seperti saat ini.

Kemunculan Gong Kebyar Di Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana

Posted By on 28 Oktober 2013

Kemunculan Gong Kebyar di Kelurahan Banjar Tengah.
1.1. Kegiatan berkesenian di Kelurahan Banjar Tengah di Tahun 1920-an.
Berdasarkan hasil wawancara dengan I Ketut Sarya (88 tahun) yang merupakan salah satu anggota seke gong aktif pada tahun 1940-an, dijelaskan bahwa kegiatan berkesenian sudah ada di Kelurahan Banjar Tengah sebelum beliau lahir (1924). Kesenian itu berupa menarikan Barong Bangkung dan Rangda yang diringi dengan gamelan tingklik (instrument perkusi yang bilahnya terbuat dari bambu). Gambelan tingklik tersebut terdiri dari 4 tungguh instrument tingklik yang berlaras pelog 5 nada. Mereka menari berkeliling mengunjungi rumah-rumah warga. Mungkin kesenian itu dapat digambarkan seperti kesenian Ngelawang yang kita kenal saat ini. personilnya terdiri dari anak-anak berusia remaja, dan hanya ada dua orang yang berusia dewasa yang akrab dipanggil Nang Budra dan Nang Lingga. Mungkin beliau berdua yang mempunyai gagasan mengumpulkan anak-anak remaja untuk mendirikan kelompok kesenian tersebut. Dan kemudian kesenian tersebut berkembang, mereka mengganti instrument iringan dengan menggunakan 2 tungguh Gender Rambat, Gecek, Kempli, Kendang, Gong, Kempur, dan Klenang. Mereka juga membuat sebuah tarian jejangeran yang dikenal pada saat itu dengan sebutan “Baris Kekupu”. Tarian tersebut memiliki fungsi hanya sebagai hiburan dan ditarikan untuk memeriahkan upacara pernikahan.
Pada saat itu pula, di Kelurahan Banjar Tengah juga ada seorang tukang ukir yang bernama Kandia. Beliaulah yang membuat tapel (topeng) barong dan rangda yang ditarikan oleh Nang Budra dengan personilnya. Selain itu, ada pula seorang waria yang pandai merias bernama Nodya. Beliaulah yang selalu merias penari baris kekupu dengan bedak seadanya.
Beliau-beliau beridentitas sebagai seke Dharma Laksana terus aktif berkesenian dengan melakukan kundangan di setiap ada upacara pernikahan. Sekali kundangan mereka mendapatkan upah di antara 4 keteng sampai 40 keteng2. Sedikit demi sedikit upah yang mereka dapat itu dikumpulkan untuk mengembangkan kesenian mereka.

1.2. Terbentuknya Seke dan Pembuatan Gong Kebyar di Kelurahan Banjar Tengah, Negara (1931).
Gong Kebyar yang ada di Kelurahan Banjar Tengah dibuat pada tahun 1931 bersamaan dengan pengukuhan seke gong Dharma Laksana. Proses pembuatannya yang banyak dibantu oleh A. A. Bagus Suteja. Beliau adalah putra dari Tuanku Raja A. A. Bagus Negara di Puri Agung Negara. Beliau menyumbangkan bahan untuk membuat gamelan yang berupa 2 tungguh terompong gamelan jawa yang terbuat dari bahan kerawang dan satu buah gong besar terbuat dari kerawang berdiameter lebih dari 1 meter. Beliau juga mendatangkan seorang pande dari Desa Blahbatuh Gianyar untuk melebur bahan gamelan tersebut. Terompong gamelan jawa dan gong besar itu dilebur bersamaan dengan uang keteng milik seke Dharma Laksana yang diperoleh dari hasil kundangan dan urunan seke. Uang keteng digunakan sebagai bahan tambahan karena terbuat dari logam perunggu. Bahan itu dilebur dirumah salah satu anggota seke yang akrab di panggil Pekak Tabuh, lokasinya kini beralamat di jalan Gatot Subroto Gg. I No. 2 Kelurahan Banjar Tengah. Dari proses peleburan, memakan waktu 4 bulan sehingga menjadi sebuah barungan gong kebyar. Barungan gong kebyar tersebut terdiri dari:

– Instrument hasil peleburan:
o 1 tungguh instrument terompong
o 2 tungguh instrument ugal
o 4 tungguh instrument pemade
o 4 tungguh instrument kantil
o 1 tungguh instrument reong.
o 2 tungguh instrument jublag
o 2 tungguh instrument jegogan
o 1 buah instrument kajar
o 1 buah instrument kempli
o 1 buah bende
– Instrumen yang memang dimiliki dengan tambahan yang baru dibuat:
o 2 buah kendang
o 2 buah gecek
o 1 buah kempur
o 1 buah gong

Barungan gambelan tersebut dilaras oleh Nang Budra karena Pande tersebut hanya menyelesaikan sampai berbentuk bilah saja. Pelawahnya dibuat oleh seke yang terbuat dari Kayu Sentul yang dicari dan ditebang sendiri oleh seke pula. Instrument ugal, pemade, dan kantil hanya berbilah sembilan karena kurangnya bahan yang didapat. Selanjutnya Gamelan tersebut dikelola Seke Dharma Laksana dan disimpan dirumah pekak tabuh sekaligus menjadi tempat seke untuk latihan. Tetapi tidak lepas dari pengawasan pihak Puri Agung Negara.
Berdasarkan beberapa tulisan yang memuat tentang kemunculan gong kebyar di Bali diungkapkan bahwa pertama kali gong kebyar muncul pada tahun 1915 di Desa Jagaraga Kabupaten Buleleng. Kemudian nama gong kebyar meledak dan berkembang pesat hingga menyebar di seluruh Palau Bali (Rai S., 2008). Jika dikaitkan dengan tahun dibuatnya gamelan di Kelurahan Banjar tengah itu berarti 16 tahun setelah pertama kali muncul gong kebyar di Bali. Pertanyaannya kapan gong kebyar dikenal oleh masyarakat jembrana karena seke Dharma Laksana tak akan mungkin membuat gamelan gong kebyar jika tidak mengenalnya terlebih dahulu. Jika itu inisiatif daris seke, maka itu terjadi diantara tahun mulai terbentuk kelompok kesenian Dharma Laksana dan tahun pembuatan gong kebyar yaitu diantara 1920-1931. Atau tidak menutup kemungkinan bahwa A. A. Bagus Suteja yang mencetus ide untuk membuat gong kebyar. Beliau adalah putra dari seorang Tuanku Raja, setidaknya beliau mengetahui lebih dahuulu segala hal yang berkembang di Bali khusunya seni.

Seniman Dalam Indonesia Membangun

Posted By on 6 Mei 2013

Seniman adalah orang yang mempunai bakat seni dan berhasil menciptakan dan mempergelarkan karya seni (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa). Seniman mempunyai kedudukan sebagai penyaji dan ahli seni, mamu memadukan antara cipta, rasa, dan karsa sebagai yang tergambar dalam triloginya ki hajar dewantara, maka seniman dapat disejajarkan posisinya dengan para agamawan dan golongan cendikiawan.
Peranan seniman dalam masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan daripada pembicaraan tentang peranan seniman dalam masyarakat Indonesia membangun. Membangun diartikan sebagai usaha dalam berbagai bidang yang bertujuan untuk mencapai keadaan yang lebih layak dan sebih baik. Pembangunan nasional menghendaki terciptanya suatu pembangunan yang seimbang antara pembangunan lahiriah dan batiniah, sebab pada gakekatnya manusia itu terdiri dari dua baguan yang tak dapat dipisahkan yaitu lahir dan batin, untuk itu keduanya perlu ditangani secara bersama dan seimbang. Manusia Indonesia seutuhnya yang dicita-citakan dalam penbangunan adalah manusia yang memiliki keuletan dan ketangguhan fisik maupun keuletan dan ketangguhan mental yang terlihat dari kemampuan dan keterampila fisik serta kemampuan intelektual dan kesehatan mental.
Dalam uraian mengenai pola umum pelita kelima, khususnya yang menyangkut arah dan kebijaksanaan pembangunan umun yang termuat dalam GBHN 1988 dinyatakan bahwa pembangunan nasional merupakan pembangunan yang berwawasan kebudayaan. Dalam pembangunan nasional yang berwawasan kebudayaan diuraikan bahwa pembangunan nasional itu memiliki tiga kuadran utama yaitu:
1. Tujuan inti pembangunan
2. Arah implementasi
3. Alat pengukur dan pengarah keserasian/keterpaduan dalam pembangunan.
Dari tiga lapisan di atas, dapatlah disusun sebagai strategi dasar pembangunan nasional yag meliputi:
1. Tujuan pembangunan nasional yang berorientasi kepada pertumbuhan (ekonomi dan sosial)
2. Tujuan pembagunan nasional yang berorientasi kepada pemerataan.
3. Tujuan pembangunan nasional yang berorientasi pada kepada pelestarian nilai-nilai budaya, agama dan warisan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan pengembangan identitas bangsa.
Dengan melihat model pembangunan yang berwawasan kebudayaan seperti tersebut yang sangat menonjol dalam masyarakat Indonesia yang sedang membangun. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi posisi dan peranan seniman dalam pembangunan.
1. Pada masa mendatang, diperkirakan karya-karya seni di Indonesia akan tumbuh pesat karena semakin intensifnya interaksi sosial budaya antara sesame warga negara Indonesia yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang beraneka ragam, dan meningkatnya intensitas kontak-kontak dengan kebudayaan asing yang didukung oleh sistem komunikasi dan pengangkutan modern sehingga merangsang proses akulturasi secara lebih cepat (S. Budhisantoso, 1991: 3)
2. Konsepsi berkesenian masyarakat indonesia yang menganggap bahwa kegiatan berkesinian sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat dan mereka menganggap seni itu merupakan bagian dari kehidupan dan seni tidak mempunyai jarak dengan kegiatan mereka sehari-hari.
3. seni mimiliki berbagai fungsi bagi kehidupan manusia. berbagai penelitian mengenai peranan (fungsi) kesenian dari berbagai bangsa pernah dilakukan oleh para ahli antropologi, sosiologi, etnomusikologi, etnologi tari, dan ahli-ahli sosial lainnya.

Dari faktor-faktor di atas, dapat di kirakan bahwa seniman sebagai pencipta, penyaji dan ahli seni dapat berperan untuk “memelihara kesimbangan hidup dan meningkatkan kualitas hidup manusia. peranan ini dapat diwujudkan dengan berbagai jalan seperti berikut :
1. Penciptaan karya-karya seni dan menyebarluaskannya ke dalam masyarakat.
Seniman dengan berekplorasi dan bereksperimen, mampu mengangkat nilai-nilai material dan spiritual sebagai tema dari karya-karyanya. Bentuk-bentuk karya seni yang diciptakannya dapat disebarkan dan dinikmati secara luas memberi kepuasan batun kepada penikmatnya. Melalui berbagai bentuk penyajian seperti pameran dan pergelaran, seniman dapat mesosialisasikan karya-karya ke dalam masyarakat yang lebih luas.
2. Seniman berperan untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya bangsa.
Seniman memiliki kemampuan untuk mentransformasikan seni budaya bangsa dan kemudian mengembangkannya ke dalam masyarakat. Epos Ramayana dan Mahabharata ditransformasikan kedalam bentuk kakawin, kidung, temgang macapat dan puisi modern. Dengan perubahan-perubahan itu, Ramayana dan Mahabharata disengangi oleh kalangan luas dan hidupnya lestari di dalam masyarakat.
3. Media pendukung komunikasi antar bangsa dan pelaksana diplomasi budaya.
Seniman dapat berperan untuk memberi identitas pada hubungan antara Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia, dan melalui aktivitas keseniannya, seniman dapat memperlancar hubungan Indonesia dengan negara-negara lainnya. Berkembangnya kesenian Indonesia di negara lain seperti amerika serikat, jepang, Australia, inggris dan belanda disebabkan oleh adanya usaha keras oleh para seniman untuk menampilkan citra bangsa Indonesia di luar negeri. Berbagai misi kesenian yang telah dikirim ke luar negeri mulai dari expo di London pada tahun 1987, kemudian pameran colonial di Paris pada tahun 1931, misi kesenian Dewija dan San Pedro ke USA pada tahun 1939 telah memberi dampak yag cukup besar terhadap adab berkesenian di Indonesia. Kini kesenian Indonesia tidak hanya dipelajari sebagai bagian dari kurikulum suatu Universitas di luar negeri, akan tetapi banyak ahli-ahli kesenian asig memasukkan esensi dari kesenian Indonesia ke dalam karya-karya kontemporer barat. Desawa ini telah terdaftar sebanyak 300 perangkat gamelal donesia di luar negarai dan kekayaan seni Indonesia ini menjadi promosi yang besar terhadap kebesaran seni dan seniman Indonesia.
4. Menumbuhkan rasa solidaritas budaya antar bangsa.
Dalam era pembangunan ini berbagai jenis kesenian telah di pamerkan atau dipergelarkan, beribu-beribu seniman telah ditampilkan melalui panggung ataupun televise, sehingga panampilan-penampilan itu telah menumbuhkan apresiasi seni budaya yang makin tinggi di kalangan masyarakat. Masyarakat Indonesia mulai merasa memiliki kesenian yan beragam bentuknya dan hal ini dapat menumbuhkan rasa solidaritas di dalam membangun bangsa.
5. Seniman berperanan memberi hiburan yang sehat kepada masyarakat
Seniman dalam kemampuannya sebagai penyaji, khususnya di dalam bidangseni pertunjukan sering dapat berperan untuk memberi hiburan sehat kepada masyarakat. Pergelaran-pergelaran yang ditampilkan dalam pesta kesenian bali ternyata memiliki unsur-unsur menyenangkan, indah, bervariasi, berisi lelucon, memberikan keluasan pengetahuan, dapat mengharukan perasaaan, tidak menjemukan, menimbulkan rasa kebanggaan, bermutu dan memberikan tuntunan moral. Dalam tugasnya memberi hiburan, seniman juga sekaligus berperanan sebagai pendidik dan meneruskan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya seninya kepada masyarakat.
6. Seniman mempengaruhi perubahan sosial
Bila kita telusuri perkembangan tema sastra Indonesia. Akan terlihat sejak tahap-tahap permulaan perkembangan sastra Indonesia modern. sekitar tahun dua puluhan muncul tema-tema pokok yang menggambarkan kenyataan sodial tempat cerita itu berasal yang tidak luput dilatarbelakangi oleh kondisi sosiokultural dan sosiopolitik yang ada dalam masyarakat di saat cerita itu berlangsung. Dan setelah masa kemerdekaan, masalah sosial yang diyngkakan dalam sastra Indonesia menjadi tersebar luas dalam segala lapangan kehidupan. Tema-tema yang dipilih terutama yang dirasakan sebagai persoalan masyarakat yang tidak terbatas pada masyarakat tertentu saja, tetapi mencakup masalah manusia pada umumnya seperti masalah cinta kasih, pengabdian, kemiskinan, keagamaan, dan lain sebagainya.

Untuk dapatnya seniman lebih berperan di dalam masyarakat pembangunan, maka pemerintah perlu meningkatkan pembinaan dan pengembangan kesenian bangsa dengan memupuk dan merangsang kreativitas seniman, membina aktivitas organisasi kesenian melalui wadah organisasi tradisional seperti desa, banjar, seka-seka dan subak. Taman budaya perlu dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan dan informasi kesenian di daerah. Pusat-pusat kesenian dan museum pula perlu ditingkatkan peranannya, dan penelitian terapan serta pengkajian warisan budaya itu perlu memperoleh prioritas yang tinggi.
Kirannya itu beberapa langkah yang kiranya dapat ditempuh oleh pemerintah dalam pembangunan kesenian, sehingga dengan langkah-langkah seperti itu, pembangunan Nasional akan mempunai peranan yang besar di dalam memberi identitas seniman Indonesia. Identitas yang dimaksud adalah tiada lain yaitu pengukuhan nilai-nilai pancasila dalam kesenian Indonesia.

Instrument Reong dalam Barungan Gong Kebyar

Posted By on 1 Mei 2013

DESKRIPSI INSTRUMEN REYONG PADA GONG KEBYAR
Reyong adalah salah satu instrumen yang berbentuk pencon/bermoncol. Umumnya reyong dibuat dari bahan kerawang (campuran timah murni dan tembaga) namun ada juga yang dibuat dari bahan besi atau pelat. Warna pencon reyong umumnya berwarna keemasan tergantung bahan yang digunakan.
Satu pencon reyong hanya dapat menghasilkan satu nada saja, sehingga pada sebuah instrumen gamelan, satu tungguh reyong terdapat beberapa pencon reyong menyesuaikan dengan banyak nada yang digunakan oleh instrumen gamelan tersebut. Tinggi rendahnya nada yang dihasilkan sebuah pencon reyong ditentukan oleh besar kecil pencon dan cembung cekungnya pencon reyong. Semakin besar pencon reyong maka semakin rendah nada yang dihasilkan, dan semakin cembung pencon reyong maka semakin rendah nada yang dihasilkan.
Pada gong kebyar, satu tungguh reyong menggunakan dua belas pencon reyong dengan wilayah nada 3 oktaf, dengan susunan nada dari nada 5, 7, 1, 3, 4, 5, 7, 1, 3, 4, 5, 7, dibaca ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, dan ndung. Dua belas pencon reyong tersebut diletakan pada sebuah penyangga yang biasa disebut “Pelawah”. Semua pencon reyong tersebut diikat dengan tali pada lubang “gegorok” (lubang yang ada pada bagian bawah pencon). Penempatan nada-nada reyong berjejer dari nada rendah ke nada tinggi (dari kiri ke kanan), sesuai dengan ukurannya besar ke kecil (nirus).

Pelawah dibuat dari bahan kayu yang dirangkai berbentuk memanjang menyerupai balok dengan kaki yaitu pada samping kiri, kanan, dan tengah. Pada bagian atas diisi sekat-sekat yang lebarnya disesuaikan dengan ukuran pencon masing-masing nada untuk meletakkan reyong agar tidak berpindah-pindah ketika dimainkan. Tinggi pelawah disesuaikan supaya dapat dimainkan dengan senyaman mungkin, pada umumnya tinggi pelawan sekitar +40cm.
Penyangga dibuat sedemikian indah dari segi bentuk, dan warna. Sisi kanan dan kiri yang langsung menjadi bagian kaki dibuat dengan menyerupai gapura melengkung dari bagian tengah hingga bagian atas, sama seperti kaki pada bagian samping, kaki tengah dibuat dengan bentuk gapura juga. Diukir dengan ukiran-ukiran khas bali misalnya motif wajah rangda. Pada bagian depan juga diukir dengan ukiran bunga. Ukiran-ukiran diwarna sedemikian indah, kebanyakan menggunakan cat prada (cat warna emas) dengan cat dasar warna merah.
Reyong dimainkan dengan cara dipukul menggunakan teknik khusus permainan reyong. Pada gong kebyar, Reyong dimainkan oleh empat orang penabuh masing-masing mempergunakan dua buah panggul pada tangan kanan dan kiri. Setiap pemain reyong memiliki wilayah nadanya masing-masing sesuai dengan teknik pukulan yang dimainkan. (lebih…)

EVOLUSI TARI BALI

Posted By on 23 April 2013

EVOLUSI TARI BALI

Tari Sang Hyang

Tari Sang Hyang adalah salah satu tari yang masih hidup sebagai budaya di tengah-tengah masyarakat hindu di Bali. Hingga kini dijumpai kurang lebih dua puluh jenis tari Sang Hyang, yaitu meliputi Sang Hyang Dedari, Sang Hyang Jaran, Sang Hyang Celeng, Sang Hyang Lelipi, Sang Hyang Bojog, Sang Hyang Penyalin, Sang Hyang Deling, Sang Hyang Kuluk, Sang Hyang Sampat, Sang Hyang Penyu, Sang Hyang Sembe, Sang Hyang Memedi, dan lain-lain. Semua tari Sang Hyang memilki unsur penglukatan yang ditarikan pada saat berjangkitnya wabah penyakit.

Salah satu tari Sang Hyang adalah Sang Hyang Dedari. penarinya dipilih dari anak perempuan yang berumur antara sembilan sampai dua belas tahun. Biasanya tari Sang Hyang Dedari merupakan milik dari sebuah pura dan penari-penari itu amat taat terhadap pantangan sebagai penari Sang Hyang dan menjalankan kewajiban sebagai abdi dari pura tersebut.

Tari Sang Hyang biasanya dipertunjukan pada malam hari. Upacaranya dimulai dari jeroan pura. Bagian pertama dari pertunjukan tersebut disebut Penudusan. Selama periode penudusan para leluhur diundang untuk turun ke bumi. Jika para leluhur berkenan turun, penari Sang Hyang akan jatuh di tanah dalam suatu keadaan yang disebut kerawuhan. Mereka percaya bahwa leluhur itu telah turun ke bumi dan memasuki badan penari Sang Hyang.

Penari Sang Hyang akan menari dengan tidak sadar, melakukan gerak-gerak lemah lembut dan penuh improvisasi. Kemudian penari Sang Hyang diusung oleh para penyungsung ke sudut-sudut desa dan tempat-tempat lain untuk menghalau wabah penyakit. Setelah beberapa lama, penari Sang Hyang dibawa kembali ke pura dan segera melakukan upacara nglebaran, mengembalikan penari itu ke alam sadar.Yang paling menarik dalam Sang Hyang Dedari adalah pemberian obat-obatan oleh para leluhur kepada masyarakat yang mereka percayai dapat menghilangkan wabah penyakit dari muka bumi.

Drama Tari Gambuh

Drama tari Gambuh merupakan drama tari paling tua dan dianggap sebagai sumber drama tari Bali. Gambuh merupakan warisan drama tari yang dipentaskan pada masa kerajaan Majapahit dan Kerajaan Bali pada abad ke-14 sampai abad ke-16. Di dalamnya tersimpan tata cara dan ide-ide kebudayaan Majapahit dan kehidupan budaya yang tinggi dari kerajaan Bali.

Gambuh memasukan unsur cerita ke dalam tarian Bali karena tarian Bali pada zaman pra-Hindu tidak memiliki cerita. Gambuh juga memperkenalkan imajinasi musik yang berkualitas tinggi. Ini menyebabkan hubungan yang erat antara tari dan musik berkembang dalam drama tari Bali.

Pementasan-pementasan drama tari Gambuh pada masa Kerajaan Majapahit merupakan kejadian tertutup karena para penonton semuanya berasal dari kalangan bangsawan kerajaan. Akan tetapi, di Bali pertunjukan-pertunjukan drama tari Gambuh dipentaskan dalam berbagai upacara keagamaan sehingga drama tari Gambuh dapat diperkenalkan kepada masyarakat.

Drama tari Gambuh dipentaskan di Jaba tengah pura-pura di Bali. Panggung Pementasan (Kalangan) terdiri atas areal stage empat persegi panjang dengan ukuran kira-kira sepuluh kali enam meter. Dikelilingi dengan pagar bambu yang berfungsi sebagai pembatas para penari dan penonton.  Panggung tersebut dihiasi dengan berbagai hiasan khusus seperti dedaunan, bunga-bungaan, tombak, dan payung upacara. Tempat panggung itu disejajarkan dengan arah penting kaja dan kelod. Pergelaran Gambuh diiringi dengan gamelan pegambuhan.

Reportoar Gambuh berdasarkan cerita Panji. strukturnya terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya ialah peguneman (adegan pertemuan), Pengipuk (ungkapan roman), Tetangisan (ungkapan kesedihan), Pesiat (adegan perang),

Tokoh-tokoh dalam Gambuh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh manis atau halus dan tokoh keras atau kasar. Tokoh manis adalah tokoh yang mempunyai bentuk tubuh langsing, mata kecil, suara tinggi, gerak luwes, dan berwibawa. Berlawanan dengan tokoh manis, watak keras atau kasar biasanya dimainkan oleh penari yang memiliki tubuh kokoh, tulang besar, suara rendah dan keras, serta gerakan patah-patah.

Menurut tradisi, Gambuh dimainkan oleh laki-laki. Namun sekarang kaum wanita sudah biasa memerankannya. Gambuh tidak memakai topeng, namun perwatakannya diungkapkan melalui makeup. Kostumnya dibedakan menjari dua jenis, yaitu kostum untuk penari pria dan kostum untuk penari wanita. Kostum yang dipakai penari laki-laki diantaranya baju, jaket beludru, setewel (penutup kaki), dan saput. Kostum yang dipakai oleh penari wanita diantaranya lamak, ampok-ampok, gelang kana, oncer, sampur, dan sinjang. Bagian kostum yang paling penting adalah gelungan, dan bapang. Gelungan dan bapang dipakai oleh semua tokoh baik pria maupun wanita.

Keanggotaan perkumpulan kesenian Gambuh harus diambil dari anggota banjar yang bertanggung jawab atas pemeliharaan sebuah pura. Para penari yang lebih tua akan mengajar penari yang lebih muda untuk meneruskan tradisi gambuh ini kepada generasi yang akan datang.

pada tahun 1930-an gambuh sudah hampir punah. Akan tetapi, gambuh telah dihidupkan kembali, mengikuti pola pikiran seniman dan cendikiawan yang terlibat dalam kebijaksanaan pemerintah Indonesia. Gambuh juga telah menjadi bagian kurikulum ASTI Denpasar. Kini banyak grup Gambuh baru yang muncul, misalnya Bambuh di desa Pedungan (Denpasar), Desa Batuan dan Kedisan (Gianyar), Desa Jungsri (Amlapura) dan Lain-lainnya.

Gambuh menjadi sumber beberapa drama tari Bali. Gambuh menyediakan pola-pola gerak yang rumit, ide struktur, dan cerita dalam tari Bali.

Tari Legong

Tari legong merupakan tarian klasik yang paling dikenal oleh orang barat di antara berbagai variasi tarian Bali. Berdasarkan perbendaharaan geraknya, dikatakan bahwa tari Legong bersumber dari tari Sang Hyang (khususnya Sang Hyang Dedari) yang gerak-geraknya diperindah dan disempurnakan wujudnya. Tari Legong juga mengandung unsur-unsur Gambuh. Elemen cerita masuk ke dalam tari Legong. Motif gerak khas tari Legong juga banyak diambil dari Gambuh, seperti gerak Gelatik Nuwut Papah. Elemen Lain dari Gambuh yang dijumpai pada Legong misalnya busana, khusunya hiasan kepala, ide bentuk, dan struktur dramatisasinya.

Sampai sejauh ini, memang belum dapat dipastikan kapan sesungguhnya tari Legong diciptakan. I Gusti Gede Raka, seorang guru Legong dari desa Saba, mengatakan bahwa Legong telah dikenal de desanya sejak 1811 M. Ungkapan ini sesuai dengan Babad Dalem Sukawati bahwa Legong diciptakan kira-kira pada permulaan abad ke-19.

Legong dipentaskan pada sebuah kalangan. Kalangan berbentuk segi empat panjang di atas tanah, dengan ukuran delapan kali enam meter. Kalangan dekelilingi oleh pagar bambu yang dihiasi dengan janur. Kalangan juga diatur sesuai dengan arah spiritual dalam agama hindu yaitu Legong tampil dari arah utara. Dalam pementasannya, Tari Legong diiringi dengan seperangkat gamelan semarpegulingan.

Sejak abad ke-19 tampak ada pergeseran, tari Legong bukan lagi merupakan kesenian istana, melainkan menjadi milik masyarakat umum. Kini Legong dipergelarkan untuk kepentingan upacara keagamaan dan hiburan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam upacara keagamaan. Kemudian dalam perkembangannya, tari Legong meluas dengan cepat ke seluruh Bali dan dipengaruhi oleh gaya popular yang lain. Pengaruh terbesar berasal dari gaya kebyar yang muncul di Bali utara pada 1914. Banyak tari Legong diiringi dengan gamelan gong kebyar dengan angsel-angsel dan gerak-gerak yang lebih lincah dan sulit.

Kini struktur tari Legong semakin diperpendek dengan hilangnya bagian-bagian penting, seperti pengawak, pengecet, dan pangkat. Ini disebabkan oleh pengaruh kebutuhan turis yang ingin menyaksikan semuanya dalam waktu yang singkat. Petunjukan Legong yang dilakukan di hotel-hotel hampir tidak memperhatikan kalender upacara sama sekali. Kalangan-nya sudah dibuat permanen, dan sama sekali tidak memperhatikan arah angker kaja dan kelod. Hal ini menggambarkan tingkat terakhir masalah sekularisasi dan harus diperhitungkan serius agar masa depan tari Legong menjadi lebih baik.

Tari Joged

Tari Joged adalah tari yang memiliki aspek-aspek sosial yang tinggi nilainya. Tari joged  penuh dengan improvisasi. Salah satu bagiannya yang menjadi ciri khas joged sebagai tarian tradisional adalah ngibing. Joged menarikan bagian-bagian abstrak dari tari Legong. Tari Joged biasanya diiringi oleh seperangkat gamelan separpegulingan.

Pada masa lampau, Tari Joged merupakan kesenian milik istana yang dipersembahkan untuk tamu-tamu raja dan rombongan-rombongan terhormat. Namun Setelah Belanda mengambil alih kekuasaan di Bali, para raja tidak memiliki lagi tari joged. Dan sampai sekarang tari Joged hidup di desa-desa dan telah menjadi milik masyarakat.

A.    LEKO

Tari Joged Leko berhubungan erat dengan tari Legong. Dewasa ini Leko masih terpelihara baik di beberapa daerah tabanan, seperti Tunjuk, Tista, dan desa Bongan Jawa. selain dipertunjukan untuk kepentingan hiburan, Leko juga mempunyai fungsi ritual. Leko juga dipentaskan untuk amal dan upacara resmi pemerintahan lainnya. Tari Leko diiringi dengan seperangkat gamelan semarpegulingan. Lagu-lagu yang dimainkan sesuai dengan tarian Leko.

B.     JOGED GUDEGAN

Joged Gudegan disebut juga Joged Pingitan dan Joged Tongkohan. Tarian ini berasal dari  Joged Privat yang dimiliki oleh para raja pada zaman kerajaan Bali. Tari ini dipentaskan oleh wanita yang berumur 17-20 tahun. Joged Gudegan diiringi oleh seperangkat gamelan bambu berlaras pelog yang disebut gamelan rindik. Joged Gudegan ini mengadopsi bagian-bagian dari tari Legong.

Di desa Singapadu Gianyar, Joged Pingitan diciptakan atas keinginan seorang penari yang sudah lama menjadi penari istana kira-kira empat belas generasi yang lampau. Belakangan ini masyarakat setempat telah merekonstruksi kesenian itu dengan bekerja sama dengan penari Joged terkenal, almarhum I Made Kredek.

C.    ADAR

Adar merupakan jenis Joged Gudegan yang pada saat ini boleh dikatakan hampir punah. Pada masa lampau sekeha Adar biasanya terdapat di desa Kediri, Selingsing, dan Gebug, daerah Tabanan. Tari Adar diayomi oleh raja-raja dan dipentaskan untuk mengumpulkan dana guna memperbaiki bangunan-bangunan di masyarakat.

Tari Adar dipentaskan pada sebuah jalan muka balai banjar. Para penari menjual makanan pada warung-warung kecil yang disediakan di sekitar tempat pementasan sambil mengadakan perjanjian dengan para laki-laki yang ingin mempertaruhkan kekayaannya untuk menjadi pengibing.

Dalam pertunjukannya, Tari adar di desa Kediri Tabanan diiringi oleh seperangkat gamelan semarpegulingan. Adar memakai busana sederhana sesuai dengan pakaian tradisional Bali, terdiri dari baju kebaya, kain songket, dan tidak memakai gelungan.

D.    GANDRUNG

Gandrung merupakan sebuah tari pergaulan yang dilakukan oleh pria dan menjadi lambang cinta kasih atau kerinduan. Pada zaman dahulu tari Gandrung dipentaskan di istana atas permintaan raja-raja. Kini di Bali hanya ada beberapa grup gambuh yang masih aktif, diantaranya terdapat di Tapian Kaja Depasar, dan Pakuwudan Gianyar. Menurut I Ketut Rindha, Gandrung sudah ada di Bali pada permulaan abad ke-19.

Semula Gandrung hanya dilakukan dengan tari Gandrungan, namun kini telah mengikuti pola-pola Legong. Busana yang digunakan sama seperti tari Legong. Pertunjukan semula diiringi dengan gamelan semarpegulingan kini telah diiringi dengan gamelan Gandrung.

E.     JOGED BUMBUNG

Joged Bumbung adalah sebuah tari pergaulan yang memiliki unsur sosial yang sangat tinggi. Joged Bumbung biasanya dipertunjukan oleh empat atau enam orang penari dan tampil di pentas satu per satu. Busana yang dipakai meliputi kain batik, baju kebaya, dan selendang. Sejak permulaan tariannya si Joged Bumbung memegang sebuah kipas untuk menepak pasangannya. Gelungan yang dipakai juga sangat sederhana, berupa peritis yang dihiasi bunga cempaka yang sangat indah.

Joged Bumbung sangat populer di kalangan masyarakat Bali sekarang. Kini Joged Bumbung masih dijumpai di beberapa daerah di bali, seperti di Jagaraga, Umajero, Jineng Dalem, Tegal Mangu, Tohpati, dan Sanur.

            Disamping beberapa jenis tari Joged yang telah diuraikan, masih ada beberapa macam tari yang memiliki karakter yang mirip dengan teri-tari tersebut, yaitu memiliki unsur ibing-ibingan, yang tampaknya menjadi unsur utama dalam tari sosial di Pulau Bali.

Sendratari Ramayana dan Mahabharata

            Sendratari merupakan singkatan dari “seni, drama, dan tari”. Sendratari pertama yang diciptakan adalah sendratari Ramayana, yang dipentaskan pada panggung terbuka Candi Roro Jonggrang (Prambanan) pada tahun 1961. Sedangkan di Bali, Sendratari pertama yang dipentaskan adalah Sendratari Jayaprana Pada tahun 1962. Kemudian Menyusul Sendratari Ramayana pada tahun 1965. Sendratari Mayadenawa tahun 1966, Sendratari Rajapala tahun 1967, dan sendratari Arjuna Wiwaha tahun 1970.

A.    PEMENTASAN KOLOSAL

Sendratari Mahabharata dan Ramayana dalam bentuk garapan kolosal tercipta ketika pertama kali panggung terbuka Ardha Candra tahun 1977 digunakan untuk mengadakan pementasan tari Bali. Panggung yang luas itu menyebabkan adanya perubahan dari prinsip terperinci menjadi prinsip global. Hal ini merupakan awal perubahan baru dalam tari Bali. Sampai saat ini sendratari ini masih mendapat kritik yang cukup tajam dari para pengamat tari bali yang fanatik terhadap tari klasik Bali. Mereka melontarkan ungkapan bahwa sendratari ini tidak menggunakan uger-uger tari Bali. Akan tetapi, kecaman itu justru menumbuhkan semangat baru. Melalui berbagai pengolahan di studio tari di ASTI dan SMKI, para perancang tari berhasil menemukan pola-pola baru sehingga kesenian itu dapat dikomunikasikan dengan baik di atas panggung Ardha Candra.

B.     SKENARIO (PAKEM)

Sampai saat ini pentasan drama tari Bali pada umunya tidak pernah menggunakan skenario lengkap seperti hang digunakan dalam drama atau teater modern. Dalam drama tari Bali, skenario disusun secara lisan dan unit-unit skenario itu diteruskan kepada pemeran masing-masing. Peristiwa seperti itu disebut ngadungang lampahan. Pembagian peran dalam sebuah pementasan drama tari Bali memperhatikan kehadiran pemeran, kemampuan pemeran, dan melihat peralatan atau kostum yang dibawa. Para pemeran profesional sering memainkan lebih dari satu karakter.

I Made Kredek, seorang tokoh drama tari Topeng  mewariskan sebuah skenario Arja dengan kurang lebih delapan lakon yang berbeda-beda dan disusun dalam bentuk tembang macapat. Beberapa orang dalang di Bali Utara juga sudah menciptakan skenario sejenis untuk mempermudah mempelajari wayang kulit.

Berawal dari gagasan tersebut, untuk menghadapi para pemeran yang hampir dua tratus jumlahnya, perancang sendratari Ramayabna dan Mahabharata garapan kolosal ini menyusun suatu  skenario yang lebih lengkap. Penyusunan itu dimulai dari penyusunan sinopsis cerita, pembabakan cerita, penampilan tokoh, suasana iringan serta memasukkan aspek dramatis lainhya seperti peranan lampu dan lain-lainnya. Skenario yang telah disusun oleh tim itu dibagikan kepada para penggarap sendratari, termasuk para penari, penabuh, penata panggung, dan dalangnya sendiri.

C.    DHARMA PEDALANGAN

Dalam sendratari Bali, dalang berperan sebagai pengungkap cerita. Kaidah-kaidah dharma pedalangan yang berlaku pada sendratari berbeda dengan yang digunakan pementasan wayang kulit karena para dalang tidak berhadapan dengan wayang-wayang yang sebagian diantaranya disakralkan. Adapun pementasan dramatari lebih bersifat untuk kegiatan sekuler dan bersifat hiburan.

Peranan dalang semakin terasa penting, terutama jika sendratari itu dipentaskan  dalam bentuk kolosal pada panggung yang sangat luas. Dalang dituntut untuk memberikan antawacana terhadap semua tokoh yang ada. Semula tari lebih menggunakan konsep-konsep detail, kini disiasati dengan koreografi berkelompok, gerak-gerak tari yang dibutuhkan untuk mengungkap cerita dilakukan dengan pantomimik, dan dalang memberikan tekanan dengan menggunakan antawacana atau dialog-dialog tertentu. Antawacana yang baik oleh seorang dalang sendratari akan mampu memikat penontonnya sekitar 3-4 jam, dan tari-tari kelompok dengan penataan yang apik akan memberi nuansa baru kepada pertumbuhan tari Bali.

D.    GAMELAN (MUSIK PENGIRING)

Musik yang dipakai untuk mengiringi pergelaran sendratari Ramayana dan Mahabharata garapan kolosal adalah berbagai jenis gamelan yang dirangkai menjadi satu barungan besar sebagai pengiring kesenian itu. Jenis-jenis yang biasa digunakan meliputi gamelan gong gede, gong kebyar, semarpegulingan, dan beberapa instrumen seperti gong, kempul, gangsa, reyong, trompong, kendang, suling, dan rebab. Gabungan dari berbagai barungan instrumen di atas memberi kekayaan warna dn bunyi sehingga hampir setiap adegan yang berbeda kalam sendratari dapat diiringi dengan lagu-lagu yang sesusai dengan tuntutan dramatisasi.

Bentuk lagu yag digunakan untuk mengiringi sendratari ini masih berpolakan lagu-lag klasik pegambuan, dan aturannya masih mengikuti pola tabuh pisan, tabuh dua, tabuh telu, legod bawa, batel, dan sebagainya.

E.     STRUKTUR DRAMATIK DAN CONTOH SKENARIO

Untuk memberi gambaran lebih konkret mengenai struktur dramatik yang digunakan oleh sendratari Ramayana dan Mahabharata, berikut ini dipaparkan sebuah skenario Gugurnya Sumantri yang dipetik dari wiracarita Ramayana sebagai acuan untuk mengenal adegan dan penampilan karakter dalam sendratari.

1.      Ringkasan Cerita “Gugurnya Sumantri”

Dikisahkan Patih Sumantri berniat untuk menguji kesaktian Arjuna Sasrabahu (raja Mayaspati). Singkat cerita akhirnya Patih sumantri mengakui kesaktian Arjuna Sasrabahu. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya, Patih Sumantri ditugaskan memindahkan Taman Sri Wedari dari Surgaloka ke kerajaan Mayaspati. Tugas itu berhasil dilaksanakan oleh adiknya yaitu Sukasrana. Namun Patih Sumantri menutupi hal itu dihadapan Arjuna Sasrabahu dan menghalangi Sukasrana bertemu dengan Arjuna Sasrabahu. Sukasrana ditakut-takuti dengan panah yang akhirnya terlepas dengan tidak sengaja sehingga menyebabkan kematian Sukasrana. Roh Sukasrana mengeluarkan kutukan bahwa ia akan datang kembali untuk mencabut nyawa Sumantri ketika terjadi pertempuran antara Sumantri melawan Rahwana. Tersebut lah raja Alengka, Prabu Rahwana akan bertapa di tepi sungai Narmada. Rahwana merasa terganggu oleh air bah yang menggenangi tempat pertapaannya. Diketuhui air bah itu adalah ulah dari Arjuna Sasrabahu. Rahwana berangkat menuju Mayaspati untuk membunuh Arjuna Sasrabahu. Sumantri, yang pada saat itu bertugas sebagai penguasa di Kerajaan Mayaspati bertempur melawan Rahwana. Di tengah-tengah pertarungan itu datang bayangan Sukasrana. Akhirnya melalui taring Rahwana yang dimasuki roh Sukasrana, Sumantri dapat dikalahkan.

2.      Pembabakan

Babak  I

Mulai dari perjalanan Sumantri dengan niatnya menguji kesaktian Arjuna Sasrabahu. Hingga Sumantri melaksanakan tugas yang diberikan oleh Arjuna Sasrabahu kepadanya sebagai konseskuensi dari kekalahannya.

Babak  II

Pertemuan Sumantri dengan Sukasrana, adik kandungnya sendiri. Sukasrana kemudian bersedia membantu Sumantri memindahkan Taman Sri Wedari dari Wisnuloka ke Mayaspati dengan meminta satu hal, yakni agar Sumantri tidak lagi meninggalkan dirinya. Setelah Sumantri menyetujuinya, Sukasrana menerbangkan Sumantri ke Wisnuloka.

Babak  III

Sumantri dan Sukasrana tiba di Wisnuloka. Kemudian Sukasrana mengeluarkan aji-ajinya. Demikianlah keesokan harinya Taman Sri Wedari berada di dekat istana Mayaspati. Nama Sumantri pun kembali terangkat.

Babak  IV

Sukasrana ingin ikut bersama Sumantri untuk keberangkatan sang Raja dengan permaisurinya ke tepi sungai Narmada. Permintaan Sukasrana ditolak dan dengan tidak sengaja Sukasrana terbunuh oleh Sumantri. Roh Sukasrana berkata bahwa ia akan datang untuk mencabut nyawa Sumantri di saat Sumantri membendung Sungai Narmada.

Babak  V

Di alengka Rahwan menyiapkan suatu rencana pengrusakan pertapa  dan bermaksud untuk terus bersemedi di tepi sungai Narmada. Rahwana pun bergerak menuju tepian Sungai Narmada. Sementara itu Rombongan Arjuna Sasrabahu sampai di tepian Sungai Narmada. Arjuna Sasrabahu kemudian mulai berkasih-kasihan di tempat itu.

Babak  VI

Prabu Rahwana akan memulai tapanya  namun terganggu dengan air bah yang menggenangi tempat pertapaanya. Diketahui itu ulah Arjuna Sasrabahu. Kemudian Rahwana menyerang Mayaspati yang dijaga oleh Sumantri. Dalam pertempuran itu sumantri dihantui oleh bayangan Sukasrana. Ia diterjang oleh Rahwana yang taringnya sudah dimasuki roh Sukasrana. Sumantri memenuhi janjinya yang telah diucap di depan adiknya.

3.      Penampilan Peran

Babak I

Perjalanan Patih Sumantri ke Kerajaan Mayaspati

Dewi Citrawati

Patih Sumantri

Para Patih

Rakyat Pengiring

Sidang di Kerajaan Mayaspati

Barisan Pengawal Kerajaan

Dayang-dayang

Para Patih

Prabhu Arjuna Sasrabahu

Utusan Patih Sumantri

Perang Sumantri dengan Arjuna Sasrabahu

Arjuna Sasrabahu menemui Patih Sumantri

Sumantri siap menghadapi Arjuna Sasrabahu

Perang tanding

Sumantri Kalah dan ditugaskan mencari Taman Sriwedari

Babak  II

            Kehidupan di hutan

            Pohon-pohonan

            Kera-kera

            Raksasa Sukasrana

            Raksasa-raksasa

            Sumantri dalam kesedihan

            Pertemuan Sumantri dengan Sukasrana

Babak  III

Kehidupan Taman Sriwedari

Pohon-pohon dan bunga-bunga

Burung, kumbang, dan kupu-kupu

Dewa Narada

Dewa Wisnu dan Dewa Indra

Sukasrana dan Sumantri tiba di Taman Sriwedari

Sumantri kagum dan tertidur

Sukasrana menciutkan Taman Sriwedari

Sukasrana menerbangkan taman ke kerajaan Mayaspati

Babak  IV

Penyerahan taman Sriwedari kepada Arjuna Sasrabahu

Sukasrana tiba ke kerajaan Mayaspati

Sukasrana memperbesar Taman Sriwedari

Sumantri Menyerahkan taman kepada Arjuna Sasrabahu

Roman Arjuna Sasrabahu dengan para Istrinya

Arjuna Sasrabahu mengagumi Taman Sriwedari

Dewi Citrawati diiringi para selir

Dewi Citrawati bermaksud ke sungai Narmada

Perjalanan ke sungai Narmada

Sukasrana terbunuh

Sumantri didatangi oleh Sukasrana

Sukasrana bermaksud menghadap Arjuna Sasrabahu

Sumantri menghalangi niat Sukasrana

Sukasrana ditakut-takuti dengan panah Sumantri

Sukasrana terbunuh oleh panah Sumantri

Arwah Sukasrana mengutuk Sumantri

Babak  V

            Sidang di Kerajaan Alengka

            Para raksasa rakyat rahwana

            Patih Prahasta

            Prabu Rahwana

            Prabu Rahwana bermaksud bertapa di tepi sungai Narmada

            Perjalanan menuju sungai Narmada

Babak VI

Roman di sungai Narmada

Rombongan ArjunaSasrabahu tiba di Sungai Narmada

Citrawati mohon agar singai dibendung

Arjuna Sasrabahu ber-triwikrama menjadi raksasa seribu tangan

Air sungai yang dibendung meluap ke hutan di sekitarnya

Rahwana merasa tergganggu

Patih Prahasta terkejut melihat air meluap

Rahwana amat murka

Narada datang menemui Rahwana

Rahwana dan pasukannya datang ke Mayaspati

Pertempuran di kerajaan Mayaspati

Sumantri terkejut dengan kedatangna para raksasa

Pertempuran pasukan Mayaspati dengan pasukan Rahwana

Sumantri menghadapi patih Prahasta

Sumanti berhadapan dengan Rahwana

Roh Sukasrana menbayang-bayangi Sumantri dan masuk ke taring Rahwana

Sumantri gugur sesuai dengan kutukan Sukasrana