HISTORY ,INSTRUMENTAL DAN PERKEMBANGAN GAMELAN GONG KEBYAR DI BANJAR TARO KELOD

03 April 2012 | Tak Berkategori

1. Pendahuluan

            Ada sekitar 30 jenis barungan gamelan salah satunya adalah Gamelan Kebyar yang hingga kini masih aktif dimainkan oleh masyarakat Bali. Barungan-barungan ini didominir oleh alat-alat musik pukul, tiup dan beberapa instrumen petik. Instrumen-instrumen ini ada yang dibuat dari bambu, kayu dan perunggu (krawang). Gamelan-gamelan ini sebagian besar milik kelompok masyarakat, hanya beberapa saja diantaranya merupakan milik pribadi/perorangan. Berdasar jumlah pemain atau penabuhnya, gamelan Bali dapat dikelompokkan barungan alit (kecil), madya (sedang) dan barungan ageng (besar). Baruangan gamelan alit pada umumnya dimainkan oleh 4-10 orang, ruangan madya antara 11-25 orang, sedangkan barungan ageng memerlukan diatas 25 orang. Dilihat dari usia barungan dan latar belakang sejarahnya, para pakar karawitan Bali membagi jenis-jenis gamelan yang ada didaerah ini kedalam 3 (tiga) kelompok yaitu gamelan golongan tua, gamelan golongan madya, gamelan golongan modern.

            Gamelan kebyar merupakan satu bentuk karya dari gamelan golongan madya  seni budaya yang ekspresif dan dinamis diterima masyarakat dan berkembang ke seluruh Bali, bahkan sampai keluar Bali. Sebagai karya baru, kebyar mampu menampung berbagai inspirasi yang muncul sari bentuk-bentuk seni tradisional yang telah ada.

2. Historis Gamelan Gong Kebyar secara umum  dan yang ada di taro

            Pemberian nama “Kebyar” terhadap karya seni tersebut tepat, karena perangkat gamelan baru itu betul mampu mengekspresikan karakter kebyar, yaitu keras, lincah, cepat, agresif, mengejutkan, muda, enerjik, gelisah, semangat, optimis, kejasmanian, ambisius, dab penuh emosional.

            Gamelan baru pelog pancanada ini pada awalnya merupakan sebuah pengembangan dari asambel Gamelan Gong Gede, sebuah orkes agung gaya kuno yang sangat diperlukan pada hari-hari besar atau upacara odalan di pura. Gamelan tradisional ini merupakan sebuah asambel gamelan yang paling lengkap di Bali yaitu dengan banyak menggunakan instrument yang dimainkan kurang lebih enam puluh orang penabuh. Dalam perkembangannya menjadi Gamelan Kebyar ada beberapa instrument Gamelan Gong Gede yang dihilangkan, dikurangi, diubah bentuknya, dan ada pula yang tidak mengalami perubahan. Instrument yang dihilangkan

            Secara pasti kapan terjadi perubahan dari Gamelan Gong Gede menjadi Gamelan Kebyar pada saat ini belum diketahui. Namun demikian ada satu informasi Anak Agung Gede Gusti Jelantik (Bupati Buleleng) yang dituturkan kepada Colin McPchee pada tahun 1937 yang menyebutkan bahwa Gamelan Kebyar pertama kali didengar dikalangan masyarakat umum pada bulan Desenber 1915 ketika tokoh gamelan di Bali Utara menyelenggarakan kompetisi Gamelan Kebyar di Jagaraga Buleleng. Data ini mendekati apa yang dikatakan Made Bandem bahwa Gamelan Kebyar telah terwujud di Bali pada tahun 1914. ini berarti masyarakat bali Slatan, meraka lebih dahulu terbuka terhadap pengaruh-pengaruh modern, khususnya setelah Bali sepenuhnya dapat dikuasai pemerintah Belanda.

            Nah sekarang saya akan membicarakan sejarah berdirinya gamelan gong kebyar yang ada di di desa saya yaitu di desa Taro,awal mulanya gong kebyar yang di desa saya yaitu karna adanya banjar Cerik yang sekarang disebut tempek Dlodseme yang menyungsung barong yang dulunya hanya memiliki gamelan bebarongan tetapi mungkin karena tempekan tersebut kecil sehingga tidak kuat untuk memelihara gamelan dan nyungsung barong tersebut maka dikasilah banjar untuk nyungsungnya dan lama-kelamaan di belikan lah gamelan gong kebyar untuk meniringi upacara/pada saat ada odalan. Gamelan gong kebyar ini sepengetahuan saya umurnya sudah lumayan  lama,karena yang membeli pertama menurut kata kakek saya yaitu seumuran kumpi dari kakek saya itu.

3. Instrumental Gamelan Kebyar

            Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, ataupun peniadaan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 (lima) dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 (sembilan) atau 10 (sepuluh). Ceng-ceng kopyak yang terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) pasang dirubah menjadi 1 (satu) atau 2 (dua) set ceng-ceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.

Barungan Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 :

  1. Utama = Yang besar dan lengkap
  2. Madya = Yang semi lengkap
  3. Nista = Yang sederhana

Barungan yang utama terdiri dari:

Jumlah Satuan Instrumen
10 buah gangsa berbilah (terdiri dari 2 giying / ugal, 4 pemade, 4 kantilan)
2 buah jegogan berbilah 5 – 6
2 buah jublag atau calung berbilah 5 – 7
1 tungguh reyong berpencon 12
1 tungguh terompong berpecon 10
2 buah kendang besar (lanang dan wadon) yang dilengkapi dengan 2 buah kendang kecil
1 pangkon cengceng
1 buah kajar
2 buah gong besar (lanang dan wadon)
1 buah kemong (gong kecil)
1 buah babende (gong kecil bermoncong pipih)
1 buah kempli (semacam kajar)
1-3 buah suling bambu
1 buah rebab

Instrumen gamelan gong kebyar yang ada di Taro yaitu hanya ada:

  1. Dua kendang ( lanang dan wadon)
  2. Trompong                                         9. Bende
  3. Satu ugal                                           10. Riong
  4. Empat pemade                                 11.Sepasang gong( lanang wadong)
  5. Empat kantilan                                12. Bende.
  6. Sepasang penyacah                          13. Kempur.
  7. Sepasang jublag/calung                 14. Kajar
  8. Sepasang jegogan                             15. Kempli dan ceng-ceng.

            Dilihat dari embat-nya (warna suaranya) terdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu:

  • Gamelan kebyar yang bersumber dari Gong Gede,
  • dari gamelan palegongan,
  • dan yang murni buatan baru.

Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara, kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali.Embat gamelan gong kebyar yang di Taro yaitu embat gamelan pelegongan saih slisir. Gending yang diketahui antara lain: tabuh gilak,tabuh telu,tabuh besik dan tabuh pat yang diwariskan dari kakek-kakek  yang sudah tiada hingga sekarang masih lestari gending-gendingnya.

4. Perkembangan Gamelan Gong Kebyar

Dalam periode tahun 1970 sampai dengan 1990an, seni karawitan Bali mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Kemajuan seni karawitan Bali pada waktu itu memperlihatkan dua sisi yang menarik dan sangat menentukan masa depan dari seni karawitan di daerah ini.

Di satu sisi telah terjadi penyebaran gamelan keseluruh Bali, bahkan keluar daerah serta keluar negeri. Kondisi ini diikuti oleh munculnya komposisi-komposisi karawitan baru yang semakin rumit dengan teknik permainan yang semakin kompleks.

5. Kesimpulan

Dilihat dari sejarah, instrumental dan perkembangan Gong Kebyar di masa yang akan datang, bentuk-bentuk seni karawitan dan barungan gamelan Bali baru akan terus bermunculan. Adanya “kebiasaan” dikalangan seniman Bali untuk terus mencoba, mencari dan menggali ide-ide baru, baik dari dalam seni budaya tradisi mereka maupun dari unsur luar yang senafas, sangat memungkinkan akan terwujudnya perkembangan seni karawitan Bali yang lebih baik di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSAKA

Beratha, I Wayan,   Pembaharu Gamelan Gong Kebyar. Yogyakarta, Tarawang. 2002.

Bandem, I Made, Mengenal Gamelan Bali ( Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar, 1982).

Ngurah Rai Mirsha, I Gusti ,et.al., Sejarah bali (Denpasar; Proyek Penyusunan Sejarah Bali Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1986), hal. 165-202


Leave a Reply