Seniman Tua – Kak Lotring

Posted in Tak Berkategori, Tulisan on September 12, 2012 – 9:05 am
Post a comment

KUTA, 1926. Jukung-jukung nelayan dengan layar terkembang bertaburan, kemilau diterpa sinar matahari senja. Pikiran I Wayan Lotring malah berdenyar-denyar liar. Jiwa maestro tabuh asal Banjar Tegal, Kuta, Badung, kelahiran 1887 itu menari-nari mengikuti nada-nada yang menggema di benaknya, tiada henti. Di rumahnya yang sederhana, di tepian Pantai Kuta dia terus gelisah memikirkan irama gending yang tiada henti menggedor-gedor relung rohnya. Di matanya terus membayang kotekan demi kotekan nan rancak tiada ubahnya irama garis sinar matahari senja.

Dari pergumulan kreatif Lotring itulah kelak lahir gending palegongan Layar Samah, yang mengimajikan kemilau hamparan beraneka (samah) layar jukung di pantai. Namun belakangan orang lebih suka menyebut gending monumental ciptaan Lotring itu dengan Liar Samas, yang berarti 2.400 uang kepeng.

Toh, Lotring tiada terganggu dengan sebutan orang lain. Sebab pragina yang menyerahkan segenap hidupnya pada seni tari dan tabuh, perhatiannya begitu dihabiskan untuk mencipta dan mencipta, tiada henti. Untuk kerja kreasi itu, dia kerap memetik inspirasi dari irama hidup sehari-hari. Manakala menyaksikan ikan hiu berlompatan di tengah samudra lepas, dia kemudian melahirkan gending Jagul. Ketika hatinya terusik melihat lelaki uzur berjalan terhuyung-huyung, pelatuk kreatifnya terpantik, menjadikan gending Kompyang.

Kreativitas Lotring sungguh tiada pernah putus sepanjang hayatnya. Itu menjadikan bila hendak menyebut alir tradisi palegongan di Badung orang tiada bisa melupakan gaya Lotring. Lotring memang mpu palegongan dengan gaya tersendiri, berpengaruh kuat dan luas. Bila Gianyar punya palegongan gaya Peliatan dan Saba, Karangasem punya Budakeling, maka Badung punya Lotring.

Etnomusikolog Colin McPhee melukiskan sosok I Lotring, ”pendek, ramping, penyabar, senyumnya dibuat-buat, rambutnya tipis dan jarang karena terlalu banyak berpikir.” Tentu yang dipikirkan adalah gending-gending baru original ciptaannya. Saban malam dia kerap tidak bisa tidur memikir-mikirkan gending yang berkelebat-kelebat di benaknya. Nada-nada itu menging-ngiang di relung jiwanya. Mencipta tabuh gending, bagi Lotring, memang kerja utuh menemukan bentuk, gaya, teknik, sekaligus rasa sukma.

Dia tidak pernah menotasikan gending-gending itu kecuali mencatatnya dalam-dalam di benak, di kedalaman rasa kalbu ini. Maka ketika gending itu dinilainya sudah jadi, dia pun dapat dengan mudah ”mengeja”, mentransfer mengajarkannya bagian demi bagian. Kerap di tengah-tengah khusyuk mengajar gending baru itu dia malah dapat menciptakan bagian yang baru lagi.

Dalam pemahaman McPhee, Lotring adalah seorang yang unreliable, tidak dapat dipercaya; selain juga ”a alittle triky”, rada bertipu daya, sekaligus penuh daya imajinatif. Sebagai pemuda Barat, Mchee rupanya kesulitan menimba ”sumur” kemampuan Lotring secara terbuka. Lotring dalam kesaksian sang murid, I Nyoman Rembang, memang rada tertutup, hanya terbuka pada yang benar-benar dipprcayainya. Manakala mengajar menabuh amat galak, tak segan memecut jemari muridnya yang rada bebal, tak bisa cepat menangkap gending yang diajarkan. Kerap pula mengeluarkan kata-kata tajam, penuh sindirin kepada murid yang berkecerdasan rasa pas-pasan. Itu memang watak umum genius-genius seni Bali bertaksu, yang tak bakalan mudah bisa dimengerti seorang muda asing, McPhee.

Sekitar tahun 1906, dalam usia menjelang 20 tahun Lotring belajar tari Nandir di Puri Blahbatuh, dengan berjalan kaki pergi-pulang dari Kuta. Nandir ini kemudian berkembang menjadi Legong. Tari dan tabuh palegongan kelak dipelajari bersama Anak Agung Bagus Jelantik dari Saba, dari Anak Agung Rai Perit dan Dewa Ketut Belacing di Puri Paang, Sukawati, 1917.

Tiga tahun berselang dia mendirikan sekaa palegongan di Kuta. Di sini dia menjadi ketua sekaa, yang kemudian melahirkan penari generasi pertama, seperti Ni Numbreg (Condong), Ni Wayan Dasni dan Ni Wayan Kinceg untuk Legong. Kinceg kelak menjadi istri Lotring dengan anak tunggal Ni Wayan Noni. Sekaa Lotring ini sempat diundang pentas ke Keraton Solo (1926), sehingga kelak dikenal sebutan Legong Keraton. Di sana dia sempat mengajarkan gending Goak Macok, namun sepulang dari Solo dia malah terkenang-kenang pada gaya menabuh orang Jawa di Keraton, lalu lahirlah Gonteng Jawa/Solo.

Intuisi dan kepekaan rasanya begitu tajam, memang. Gending-gending yang sudah ada pun dia beri sentuhan penyempurnaan dalam hal teknik maupun penghayatan rasa, sehingga sajian Lotring jadi lain, memberi efek orkestrasi berbeda.

Sebagai penggubah gending yang berkibar sejak dasawarsa 1920-an, Lotring selain menyerap dari fenomena alam di sekelilingnya juga terilhami gending gambang, gender wayang, bahkan juga genggong. Ilham itu ditransformasikan ke dalam komposisi palegongan. Garapan Lotring, seperti Ngalap Base, Sisya, Tunjang, bahkan sudah direkam dalam piringan hitam tahun 1928. Rekaman piringan hitam inilah jadi ‘pintu masuk’ bagi musikus muda Kanada, Colnn McPhee, jatuh cinta pada musik Bali.

Tahun 1932 McPhee bertemu Lotring, lalu berguru sangat karib pada sang maestro. Phee bahkan menetap di gubuk bikinan sekaa gong Kuta di tepi Pantai Kuta, sebagai gantinya; Phee membantu menghidupkan kembali sekaa Legong Kuta yang telah bubar tahun 1929. Kelak, lewat publikasi buku Music in Bali nama Lotring kian melambung, cemerlang, dan McPhee sebagai penulisnya pun memetik keharuman nama. Saban kali orang membicarakan lintasan kesejarahan gamelan Bali, nama dan buku McPhee itu dipastikan disebut-sebut.

Setelah sekaa palegongan Kuta bubar 1929, Lotring sangat sibuk meladeni permintaan sebagai guru tari maupun tabuh. Tak cuma sekaa-sekaa di lingkup Badung, tapi meretas hingga Gianyar, Tabanan, Karangasem, hingga Buleleng di belahan utara Bali. Untuk itu dia kerap menginap berhari-hari, berbulan-bulan, dan pergi-pulang dalam jarak puluhan hingga ratusan kilometer kerap dengan berjalan kaki. Ia tak cuma melatih palegongan, tapi juga angklung, gender wayang, bahkan juga pajogedan, gandrung, hingga kekebyaran.

Ketenaran nama sekaa gong Jaya Kumara, Banjar Geladag, Badung, tidak lepas pula dari sentuhan Lotring, sejak angkatan ketiga, 1 April 1942. Bersama istrinya yang melatih tari, Lotring ngurukang, menjadi guru tabuh di Geladag hingga 1979. Selama itu pula dia kerap mengantarkan sekaa gong Geladag menjuarai festival tabuh kebyar di Bali, berhadiah panggul mas.

Murid-muridnya yang kelak mewarisi bakat ke-mpu-annya, antara lain I Wayan Kale, I Wayan Reteg, I Gusti Putu Geria, I Wayan Beratha, Anak Agung Mandra, I Nyoman Rembang, bahkan juga I Wayan Tembres, I Wayan Kelo, hingga generasi sekolahan I Wayan Sinti, M.A. Ketika pertengahan 1980 dia berpulang dalam usia 93 tahun, posisinya sebagai guru tabuh di Geladag digantikan penuh oleh I Kale, Ketut Rintig, dan I Gusti Putu Geria.

Lotring yang juga piawai memande emas dan gemar memasak ini dicatat pula sebagai sesepuh tari dan tabuh palegongan Banjar Binoh, Badung. Hingga kini kaset-kaset Binoh tetap mencantumkan nama Lotring sebagai sesepuh bersama I Wayan Jiwa. Di sana foto Lotring tua berkacamata tebal, dengan kepala botak di bagian depan dipasang bersama Jiwa. Tokoh segenerasi maestro kebyar I Nyoman Kaler ini memang disegani. Meskipun di seantero Kuta gending-gending Lotring kini sangat mungkin tiada lagi terdengar, toh gending-gending ciptaannya tetap suntuk dimainkan sekaa-sekaa palegongan tangguh di Bali, dinikmati lewat kaset dan CD, hingga kini. Di sekaa-sekaa palegongan dengan alir tradisi bening, gending-gending Lotring memang tiada henti menggema, menembus kanal-kanal zaman, menggedor-gedor pintu kesadaran rasa.

Tapi, di Kuta kini orang-orang begitu sibuk dan riuh menggaungkan ratapan hati menyusul paceklik turis, usai dibom, 12 Oktober 2002 lalu. Nada-nada kesadaran gending Lotring terasa begitu asing di tanah akar kelahirannya sendiri, kini. Padahal, Kuta bahkan Bali, kini amatlah perlu menabuh nada-nada kesadaran itu sebagai energi pembangkitan, guna menapak fajar baru, pascadentuman bom.


This entry was written by baguskrishna, filed under Tak Berkategori, Tulisan.
Bookmark the permalink or follow any comments here with the RSS feed for this post.
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *

*
*