Seniman Tua – Kak Lotring

Posted in Tak Berkategori, Tulisan on September 12, 2012 – 9:05 am
Comments (0)

KUTA, 1926. Jukung-jukung nelayan dengan layar terkembang bertaburan, kemilau diterpa sinar matahari senja. Pikiran I Wayan Lotring malah berdenyar-denyar liar. Jiwa maestro tabuh asal Banjar Tegal, Kuta, Badung, kelahiran 1887 itu menari-nari mengikuti nada-nada yang menggema di benaknya, tiada henti. Di rumahnya yang sederhana, di tepian Pantai Kuta dia terus gelisah memikirkan irama gending yang tiada henti menggedor-gedor relung rohnya. Di matanya terus membayang kotekan demi kotekan nan rancak tiada ubahnya irama garis sinar matahari senja.

Dari pergumulan kreatif Lotring itulah kelak lahir gending palegongan Layar Samah, yang mengimajikan kemilau hamparan beraneka (samah) layar jukung di pantai. Namun belakangan orang lebih suka menyebut gending monumental ciptaan Lotring itu dengan Liar Samas, yang berarti 2.400 uang kepeng.

Toh, Lotring tiada terganggu dengan sebutan orang lain. Sebab pragina yang menyerahkan segenap hidupnya pada seni tari dan tabuh, perhatiannya begitu dihabiskan untuk mencipta dan mencipta, tiada henti. Untuk kerja kreasi itu, dia kerap memetik inspirasi dari irama hidup sehari-hari. Manakala menyaksikan ikan hiu berlompatan di tengah samudra lepas, dia kemudian melahirkan gending Jagul. Ketika hatinya terusik melihat lelaki uzur berjalan terhuyung-huyung, pelatuk kreatifnya terpantik, menjadikan gending Kompyang.

Kreativitas Lotring sungguh tiada pernah putus sepanjang hayatnya. Itu menjadikan bila hendak menyebut alir tradisi palegongan di Badung orang tiada bisa melupakan gaya Lotring. Lotring memang mpu palegongan dengan gaya tersendiri, berpengaruh kuat dan luas. Bila Gianyar punya palegongan gaya Peliatan dan Saba, Karangasem punya Budakeling, maka Badung punya Lotring.

Etnomusikolog Colin McPhee melukiskan sosok I Lotring, ”pendek, ramping, penyabar, senyumnya dibuat-buat, rambutnya tipis dan jarang karena terlalu banyak berpikir.” Tentu yang dipikirkan adalah gending-gending baru original ciptaannya. Saban malam dia kerap tidak bisa tidur memikir-mikirkan gending yang berkelebat-kelebat di benaknya. Nada-nada itu menging-ngiang di relung jiwanya. Mencipta tabuh gending, bagi Lotring, memang kerja utuh menemukan bentuk, gaya, teknik, sekaligus rasa sukma.

Dia tidak pernah menotasikan gending-gending itu kecuali mencatatnya dalam-dalam di benak, di kedalaman rasa kalbu ini. Maka ketika gending itu dinilainya sudah jadi, dia pun dapat dengan mudah ”mengeja”, mentransfer mengajarkannya bagian demi bagian. Kerap di tengah-tengah khusyuk mengajar gending baru itu dia malah dapat menciptakan bagian yang baru lagi.

Dalam pemahaman McPhee, Lotring adalah seorang yang unreliable, tidak dapat dipercaya; selain juga ”a alittle triky”, rada bertipu daya, sekaligus penuh daya imajinatif. Sebagai pemuda Barat, Mchee rupanya kesulitan menimba ”sumur” kemampuan Lotring secara terbuka. Lotring dalam kesaksian sang murid, I Nyoman Rembang, memang rada tertutup, hanya terbuka pada yang benar-benar dipprcayainya. Manakala mengajar menabuh amat galak, tak segan memecut jemari muridnya yang rada bebal, tak bisa cepat menangkap gending yang diajarkan. Kerap pula mengeluarkan kata-kata tajam, penuh sindirin kepada murid yang berkecerdasan rasa pas-pasan. Itu memang watak umum genius-genius seni Bali bertaksu, yang tak bakalan mudah bisa dimengerti seorang muda asing, McPhee.

Sekitar tahun 1906, dalam usia menjelang 20 tahun Lotring belajar tari Nandir di Puri Blahbatuh, dengan berjalan kaki pergi-pulang dari Kuta. Nandir ini kemudian berkembang menjadi Legong. Tari dan tabuh palegongan kelak dipelajari bersama Anak Agung Bagus Jelantik dari Saba, dari Anak Agung Rai Perit dan Dewa Ketut Belacing di Puri Paang, Sukawati, 1917.

Tiga tahun berselang dia mendirikan sekaa palegongan di Kuta. Di sini dia menjadi ketua sekaa, yang kemudian melahirkan penari generasi pertama, seperti Ni Numbreg (Condong), Ni Wayan Dasni dan Ni Wayan Kinceg untuk Legong. Kinceg kelak menjadi istri Lotring dengan anak tunggal Ni Wayan Noni. Sekaa Lotring ini sempat diundang pentas ke Keraton Solo (1926), sehingga kelak dikenal sebutan Legong Keraton. Di sana dia sempat mengajarkan gending Goak Macok, namun sepulang dari Solo dia malah terkenang-kenang pada gaya menabuh orang Jawa di Keraton, lalu lahirlah Gonteng Jawa/Solo.

Intuisi dan kepekaan rasanya begitu tajam, memang. Gending-gending yang sudah ada pun dia beri sentuhan penyempurnaan dalam hal teknik maupun penghayatan rasa, sehingga sajian Lotring jadi lain, memberi efek orkestrasi berbeda.

Sebagai penggubah gending yang berkibar sejak dasawarsa 1920-an, Lotring selain menyerap dari fenomena alam di sekelilingnya juga terilhami gending gambang, gender wayang, bahkan juga genggong. Ilham itu ditransformasikan ke dalam komposisi palegongan. Garapan Lotring, seperti Ngalap Base, Sisya, Tunjang, bahkan sudah direkam dalam piringan hitam tahun 1928. Rekaman piringan hitam inilah jadi ‘pintu masuk’ bagi musikus muda Kanada, Colnn McPhee, jatuh cinta pada musik Bali.

Tahun 1932 McPhee bertemu Lotring, lalu berguru sangat karib pada sang maestro. Phee bahkan menetap di gubuk bikinan sekaa gong Kuta di tepi Pantai Kuta, sebagai gantinya; Phee membantu menghidupkan kembali sekaa Legong Kuta yang telah bubar tahun 1929. Kelak, lewat publikasi buku Music in Bali nama Lotring kian melambung, cemerlang, dan McPhee sebagai penulisnya pun memetik keharuman nama. Saban kali orang membicarakan lintasan kesejarahan gamelan Bali, nama dan buku McPhee itu dipastikan disebut-sebut.

Setelah sekaa palegongan Kuta bubar 1929, Lotring sangat sibuk meladeni permintaan sebagai guru tari maupun tabuh. Tak cuma sekaa-sekaa di lingkup Badung, tapi meretas hingga Gianyar, Tabanan, Karangasem, hingga Buleleng di belahan utara Bali. Untuk itu dia kerap menginap berhari-hari, berbulan-bulan, dan pergi-pulang dalam jarak puluhan hingga ratusan kilometer kerap dengan berjalan kaki. Ia tak cuma melatih palegongan, tapi juga angklung, gender wayang, bahkan juga pajogedan, gandrung, hingga kekebyaran.

Ketenaran nama sekaa gong Jaya Kumara, Banjar Geladag, Badung, tidak lepas pula dari sentuhan Lotring, sejak angkatan ketiga, 1 April 1942. Bersama istrinya yang melatih tari, Lotring ngurukang, menjadi guru tabuh di Geladag hingga 1979. Selama itu pula dia kerap mengantarkan sekaa gong Geladag menjuarai festival tabuh kebyar di Bali, berhadiah panggul mas.

Murid-muridnya yang kelak mewarisi bakat ke-mpu-annya, antara lain I Wayan Kale, I Wayan Reteg, I Gusti Putu Geria, I Wayan Beratha, Anak Agung Mandra, I Nyoman Rembang, bahkan juga I Wayan Tembres, I Wayan Kelo, hingga generasi sekolahan I Wayan Sinti, M.A. Ketika pertengahan 1980 dia berpulang dalam usia 93 tahun, posisinya sebagai guru tabuh di Geladag digantikan penuh oleh I Kale, Ketut Rintig, dan I Gusti Putu Geria.

Lotring yang juga piawai memande emas dan gemar memasak ini dicatat pula sebagai sesepuh tari dan tabuh palegongan Banjar Binoh, Badung. Hingga kini kaset-kaset Binoh tetap mencantumkan nama Lotring sebagai sesepuh bersama I Wayan Jiwa. Di sana foto Lotring tua berkacamata tebal, dengan kepala botak di bagian depan dipasang bersama Jiwa. Tokoh segenerasi maestro kebyar I Nyoman Kaler ini memang disegani. Meskipun di seantero Kuta gending-gending Lotring kini sangat mungkin tiada lagi terdengar, toh gending-gending ciptaannya tetap suntuk dimainkan sekaa-sekaa palegongan tangguh di Bali, dinikmati lewat kaset dan CD, hingga kini. Di sekaa-sekaa palegongan dengan alir tradisi bening, gending-gending Lotring memang tiada henti menggema, menembus kanal-kanal zaman, menggedor-gedor pintu kesadaran rasa.

Tapi, di Kuta kini orang-orang begitu sibuk dan riuh menggaungkan ratapan hati menyusul paceklik turis, usai dibom, 12 Oktober 2002 lalu. Nada-nada kesadaran gending Lotring terasa begitu asing di tanah akar kelahirannya sendiri, kini. Padahal, Kuta bahkan Bali, kini amatlah perlu menabuh nada-nada kesadaran itu sebagai energi pembangkitan, guna menapak fajar baru, pascadentuman bom.

KARYA ILMIAH – MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN DENGAN MENDAUR-ULANG SAMPAH ANORGANIK MENJADI SUATU TRASH MUSIC

Posted in Karya, Tulisan on Juli 3, 2012 – 1:51 pm
Comments (0)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya. Dengan jumlah sampah semakin meningkat, dimana masalah ini merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Sampah digolongkan menjadi dua macam yaitu sampah organik dan sampah nonorganik :

  1. Sampah organik – dapat diurai (degradable)
  2. Sampah anorganik – tidak terurai (undegradable)

1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. contohnya daun. Namun tidak semua daun yang diuraikan itu dapat dengan cepat diurai oleh bakteri, seperti halnya daun srikaya yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk diuraikan.

2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, pipa, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.

Dari segala rancangan yang telah ada, baik dengan segi model bahkan hiasan kami juga akan berusaha merancang sebuah karya yang tak kalah menariknya, walaupun bahan yang kami buat itu dari barang bekas. Jadi kami merasa data yang ada pada saat itu sudah tercukupi, apalagi sekarang teknologi sudah berkembang. Jadi kami dapat memperoleh informasi mengenai rancangan ini dengan mudah.

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse,Reduce,andRecycle).
Material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, dan barang elektronik. Meskipun mirip, proses pembuatan kompos yang umumnya menggunakan sampah biomassa yang bisa didegradasi oleh alam, tidak dikategorikan sebagai proses daur ulang. Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan.

Sebuah musik bisa dihasilkan melalui mediasi apapun. Termasuk barang bekas sekalipun, unsur musikal bisa diperoleh asalkan kita pintar-pintar mengolah nada-nada yang kemungkinan bisa dihasilkan oleh suatu benda. Sampah anorganik akan sangat bisa diharapkan untuk membuat sebuah alat musik yang bisa menghasilkan suara-suara yang unik dan diolah menjadi nada-nada yang kita inginkan. TrashMusic.., trash merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris yang artinya sampah. Gagasan ini akan menampilkan suatu pola garap musikal yang memakai mediasi sampah anorganik yang sudah diolah sedemikian rupa menjadi suatu barang bekas yang akan menghasilkan suara.

Menjadikan sampah anorganik yang didaur-ulang menjadi suatu Trash Music, maka dipandang perlu adanya penelitian dan pemanfaatan terhadap aneka jenis sampah anorganik sebagai salah satu sumber terciptanya suatu Trash Music yang setidaknya mampu mengurangi pencemaran lingkungan. Untuk itu penulis mengamati jenis sampah anorganik, untuk bisa diolah menjadi sebuah alat musik.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan dari gagasan ini adalah :

–       Mengatasi masalah pencemaran lingkungan akibat dari sampah khususnya sampah anorganik.

–        Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.

–        Meningkatkan kreatifitas musik seniman di Indonesia pada umumnya dan di Bali khusunya.

 

GAGASAN

Kondisi Kekinian

Kerusakan lingkungan adalah deteriorasi lingkungan dengan hilangnya sumber daya air, udara, dan tanah; kerusakan ekosistem dan punahnya fauna liar. Kerusakan lingkungan adalah salah satu dari sepuluh ancaman yang secara resmi diperingatkan oleh High Level Threat Panel dari PBB. The World Resources Institute (WRI), UNEP (United Nations Environment Programme), UNDP (United Nations Development Programme), dan Bank Dunia telah melaporkan tentang pentingnya lingkungan dan kaitannya dengan kesehatan manusia, pada tanggal 1 Mei 1998.
Kerusakan lngkungan terdiri dari berbagai tipe. Ketika alam rusak dihancurkan dan sumber daya menghilang, maka lingkungan sedang mengalami kerusakan. Environmental Change and Human Health, bagian khusus dari laporan World Resources 1998-99 menjelaskan bahwa penyakit yang dapat dicegah dan kematian dini masih terdapat pada jumlah yang sangat tinggi. Jika perubahan besar dilakukan demi kesehatan manusia, jutaan warga dunia akan hidup lebih lama. Di negara termiskin, satu dari lima anak tidak bisa bertahan hidup hingga usia lima tahun, terutama disebabkan oleh penyakit yang hadir karena keadaan lingkungan yang tidak baik. Sebelas juta anak-anak meninggal setiap tahunnya, terutama disebabkan oleh malaria, diare, dan penyakit pernapasan akut, penyakit yang sesungguhnya sangat mungkin untuk dicegah.

 

Solusi Yang Pernah Ditawarkan

Metode penghindaran dan pengurangan. Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk , atau dikenal juga dengan “pengurangan sampah”. Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman). Metode-metode tersebut mungkin bukan solusi yang begitu baik, karena setelah sampah diolah menjadi suatu barang yang bisa digunakan lagi otomatis nantinya akan dibuang juga apabila barang tersebut tidak berguna lagi. Apabila kita mengubahnya menjadi sebuah alat musik, saya yakin alat musik tersebut tidak akan dibuang dan dapat menguragi pencemaran lewat sebuah kreatifitas musikal.

 

Kondisi Setelah Pengajuan Gagasan

Memanfaatkan jenis sampah anorganik, yang didaur-ulang dapat meningkatkan kreatifitas dikalangan seniman dan juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah anorganik. Kondisi lingkungan yang semakin tertimbun sampah sangat terlihat di kota-kota besar di Indonesia. Untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah kita harus melakuakan suatu tindakan serius mengenai pengolahan sampah tersebut. Tidak mungkin kita membakar sampah tersebut, karena akan memberi dampak yang sangat signifikan terhadap udara yang mengakibatkan polusi udara dan global warming. Dengan pemanfaatan sampah anorganik yang kemudian didaur-ulang menjadi suatu Trash Music adalah salah satu bentuk tindakan untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Disamping berfungsi untuk mengurangi pencemaran lingkungan, sampah buangan yang telah menjadi sebuah alat musik (trash music) akan bisa meningkatkan kreatifitas dikalangan seniman di Indonesia. Musik kontemporer adalah jenis musik yang cocok dengan mediasi sampah bekas, maka sampah-sampah tersebut akan sangat berfungsi guna pembuatan suatu garap musik kontemporer yang bertema Trash Music.

Pengetahuan akan fungsi sebuah alat musik bekas sampah anorganik tidak hanya sekedar untuk meningkatkan kreatifitas musikal melainkan memiliki fungsi utama untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang kini rasanya sudah meningkat akibat kurangnya antisipasi terhadap sampah-sampah, khususnya sampah anorganik. Selain itu dalam dunia musik, akan terjadinya perkembangan daya kreatifitas yang dapat memunculkan ide-ide yang kreatif dan inovatif melalui mediasi alat musik hasil olahan sampah anorganik.

 

Pihak-Pihak Yang Dapat Membantu

Untuk mewujudkan gagasan ini maka perlu adanya pegembangan lebih lanjut berbagai jenis sampah anorganik dengan pemilihan berbagai jenis sampah yang cocok untuk didaur-ulang  menjadi sebuah alat musik. Oleh karena itu perlu adanya kerja sama dari seniman-seniman musik kontemporer yang sudah biasa menghasilkan alat-alat musik baru. Seniman Kontemporer biasanya membuat suatu karya yang mediasinya menggunakan alat-alat musik yang aneh dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Maka dari itu peranan seniman kontemporer sangat berpengaruh dalam terwujudnya gagasan ini.

Selain pihak-pihak diatas, peranan pemerintah menjadi sangat penting untuk mempercepat terwujudnya gagasan ini dalam sekala lebih luas, untuk mengatasi atau mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, polusi udara dan juga untuk memerangi Global Warming yang saat ini sangat diperhatikan oleh-oleh Negara-negara di seluruh dunia.

 

Strategi Untuk Mengimplementasi Gagasan

Dalam perwujudan gagasan ini diperlukan publikasi lewat pementasan musik kontemporer dengan tema Trash Music yang menggunakan seluruh mediasi sampah anorganik yang sudah didaur-ulang menjadi sebuah alat musik serta memberikan informasi akan manfaat dari alat musik yang berbahan sampah anorganik, sehingga orang tertarik untuk memanfaatkan sampah anorganik menjadi sebuah alat musik. Sehingga masalah pencemaran lingkungan akibat buruknya tindakan kita mengatasi sampah-sampah bisa terjadi apabila kita tidak menanganinya secara efektif, maka sangat besar kemungkinan sampah-sampah akan menimbun kota-kota besar di Indonesia dan dunia. Trash Music akan menjadi Tren musik baru dikalangan seniman-seniman di Indonesia. Selain itu, perkembangan Trash Music yang unik, yang mampu mewadahi gagasan ini untuk menghasilkan gaya dan tren tersendiri dalam perkembangan musik yang ramah lingkungan, menjadikan masalah ini juga sebagai bentuk tanggung jawab para seniman untuk menciptakan suatu karya seni musik yang dapat  mengurangi adanya pencemaran lingkungan dan memberikan rangsangan musik kepada seniman-seniman muda di Indonesia untuk bisa lebih peka terhadap lingkungan disekitar kita.

 

KESIMPULAN

Gagasan Yang Diajukan

Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi. Pada pemahaman yang terbatas, proses daur ulang harus menghasilkan barang yang mrip dengan barang aslinya dengan material yang sama, contohnya kertas bekas harus menjadi kertas dengan kualitas yang sama. Jadi, daur ulang adalah proses penggunaan kembali material menjadi produk yang fungsinya berebeda dengan aslinya. Daur ulang adalah sesuatu yang luar biasa yang bisa didapatkan dari sampah. Proses daur ulang aluminium dapat menghemat 95% energi dan mengurangi polusi udara sebanyak 95% jika dibandingkan dengan ekstrasi aluminium dari tambang hingga prosesnya di pabrik. Penghematan yang cukup besar pada energi juga didapat dengan mendaur ulang kertas, logam, kaca dan plastik. Dengan mendaur ulang jenis sampah anorganik menjadi suatu Trash Music adalah salah satu upaya kita dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan daya kreatifitas dikalangan seniman Indonesia pada umumnya dan Bali khusunya.

Trash Music mungkin bisa tergolong dalam jenis musik kontemporer. Musik kontemporer adalah suatu sikap, yaitu sikap dalam berkesenian yang senafas dengan konsep seni modern yang berorientasi kepada masalah-masalah kehidupan masa kini sekaligus untuk menanggapi secara kritis dan mengatasi nilai-nilai budaya tradisi yang tidak relevan dengan jiwa masa kini. Intinya, Para Komponis kontemporer tidak takut menampilkan sifat-sifat aneh, nakal, urakan, humor, dan sifat lain yang muncul sebagai ekspresi musikal disamping mengekploitasikan berbagai macam emosi, serta mengekploitasi mediasasi yang akan digunakan guna terbentuknya suatu garap musik kontemporer yang lepas dari konteks tradisi dengan perhitungan yang matang dan melalui proses seleksi.

Berikut adalah jenis sampah anorganik yang sudah didaur ulang menjadi sebuah alat musik untuk menghasilkan suatu Trash Music:

 

 Teknik Implementasi

Teknik implementasi yang akan dilakukan sebagai langkah awal adalah melakukan pemilihan jenis sampah anorganik yang kiranya bisa didaur ulang menjadi suatu Trash Music, untuk diolah sedemikian rupa dijadikan suatu alat musik yang bisa menghasilkan ide-ide kreatif dibidang musik kontemporer Trash Music dikalangan musisi di Indonesia dan bermanfaat untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah anorganik. Cara ini dapat terwujud selain dengan memberikan contoh jenis sampah anorganik yang bisa didaur ulang menjadi sebuah alat musik, juga dapat dipublikasikan dengan contoh berupa alat-alat musik yang baru dihasilkan dari barang-barang bekas sebelumnya.

Mengenal teknik-teknik dalam pembuatan, penyusunan serta pengetahuan akan jenis media alat musik dari berbagai bahan jenis sampah anorganik, untuk dapat diaplikasikan dalam suatu garap musik Trash Music sehingga setiap orang tidak ragu untuk menentukan jenis sampah anorganik untuk didaur ulang menjadi sebuah alat musik yang bisa berguna untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan daya kreatifitas dalam bermusik.

 

 

 

Manfaat Gagasan

Manfaat yang dapat dicapai adalah mengurangi pencemaran lingkungan yang selama ini sudah menjadi topik hangat di masyarakat. Lingkungan yang asri, bersih sejuk, indah, sehat dan nyaman akan bisa terwujud apabila kita pintar-pintar untuk mendaur ulang kembali sampah-sampah bekas yang bisa menghasilkan suatu barang yang bisa berguna kembali. Trash Music adalah suatu bentuk kreatifitas musik yang sangat peduli akan lingkungan disekitar dengan memanfaatkan sampah anorganik yang sudah tebuang menjadi sebuah alat musik yang bisa sangat berguna untuk terciptanya suaru garap musik kontemporer.

Manfaat lain dari gagasan ini adalah akan memunculkan ide dan gagasan baru dalam dunia musik kontemporer yang lebih kreatif dalam memunculkan imajinasinya yang menggunakan mediasi sampah bekas. Trash Music akan menjadi sebuah tren musik yang sangat memberikan kontribusi postif terhadap alam, masyarakat maupun indivual masing-masing. Disamping itu manfaat lain dari gagasan ini adalah munculnya Trash Music yang bisa dikategorikan menjadi Genre musik yang mendunia. Perkembangan musik saat ini sangat signifikan, bisa dilihat dari beragamnya genre musik yang bermunculan di seluruh dunia, itu terjadi karena akibat pola pikir manusia saat ini sudah berubah, yang dulunya masih terpaku dalam tradisinya masing-masing, sekarang sudah mulai bisa terbebas dari tradisinya dan akan menghasilkan tradisi baru di dunia permusikan. Trash music akan banyak membantu dalam perkembangan rangsang musik terhadap keadaan lingkungan sekitar kita.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

World Resources 1998-99, edited by Leslie Roberts and published by Oxford University Press

Hardjana, Suka, 2003, “Corat – coret  Musik  Kontemporer  Dulu  dan  Kini”, Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Jakarta.

Mack, Dieter, 2004, “Musik  Kontemporer  dan   Persoalan  Interkultural”, Arti, Bandung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS LITERATUR MUSIK NUSANTARA 1

Posted in Tak Berkategori on April 10, 2012 – 9:39 am
Comments (0)

KEKAYAAN BUDAYA

Lebih dari ribuan tahun , kebudayaan-kebudayaan besar sepaerti Cina, India, Islam, dan Eropa mempengaruhi kebudayaan yang ada di wilayah Nusantara, atau Indonesia yang kita kenal sekarang ini. Tak salah bila kemudian sarjana-sarjana Barat dari berbagai bidang ilmu lebih memilih Nusantara sebagai lokasi risetnya. Ketertarikan terhadap Nusantara tidak dapat diartikan hanya sebatas kawasan budaya persinggahan, pertemuan, penampungan, kolonisasi, sekaligus konsumen dari empat kebudayaan besar tersebut. Lebih dari itu, sisi menarik dari kawasan ini adalah jaringan-jaringan yang menjalin hubungan kebudayaan antara pribumi dengan agen-agen budaya besar yang mempengaruhinya. Termasuk, kemampuan pribumi yang tidak bergantung pada salah satu dari keempat kebudayaan besar Cina, India, Islam, dan Eropa ini. Kekayaan budaya Nusantara ini terlihat dengan mudah dalam aneka tekstil dan kain adat.

RAGAM MUSIK INDONESIA

Para etnomusikolog yang melakukan riset di kawasan Nusantara hanya dapat menghasilkan sebagian kecil dari seluruh musik yang ada di Nusantara. Aneka ragam gong atau gamelan, musik vokal, musik membra, musik tiup, musik dengan instrumen yang dimainkan secara solo atau kelompok, tangga nada, idiom-idiom, repertoar, pengaruh Eropa/Amerika/Timur Tengah/India, Cina, bentuk-bentuk hybrid yang mencampurkan elemen-elemen tradisional dengan asing, adalah sejumlah bagian dari seuruh kumpulan gejala musik yang ditemukan di kawasan Nusantara.

ETNOMUSIKOLOG NUSANTARA

Etnomusikolog Nusantara mempunyai profil berbeda-beda mulai dari mereka yang berangkat dari latar musik-baik musik tradisional, musik rakyat, musik etnik, musik pop, dan kadang-kadang musik Barat sampai dengan yang berlatar bidang antropologi dan bidang ilmu lain.tetapi siapapun orangnya dan bagaimana caranya mempelajari musing tersebut mereka adalah orang-orang yang mengadakan penelitian tentang musik dalam konteks budaya. Jadi, mereka bisa saja berangkat sebagai bahan kajian, ‘alat pembuktian,’ dan analisis dalam kerjanya.

Di Indonesia, etnomusikologi juga mengalami permasalahan yang sama, yaitu merupakan bidang yang mempunyai cakupan wilayah beragam dan tidak sempit. Ini disebabkan karena musik memang mempunyai banyak dimensi dan aspek yang dapat dijadikan sasaran untuk suatu penelitian.

CIRI PERSPEKTIF ETNOMUSIKOLOGI NUSANTARA

Etnomusikologi Nusantara mempunyai perspektif khusus yaitu membentuk bangunan pikir dan landasan konseptual dari bahan-bahan dan untuk kehidupan musik Indonesia. Secara khusus bidang ini mencoba memberikan penjelasan tentang apa saja yang terjadi di wilayah ini sesuai dengan nilai dan konsep-konsep yang ada dan hidup di dalamnya.

ETNOMUSIKOLOGI DAN ANTROPOLOGI MUSIK

Etnomusikologi mempunyai perspektif khusus bila dibandingkan dengan antroplogi musik, karena walaupun dalam hal sasaran keduanya mempunyai kesamaan tetapi dalam penekanan dan fokusi kajian terdapat perbedaaan yang mencolok. George List menyadari perbedaan dan mencoba memberikan rumusan tentang etnomusikologi dengan cara yang sangat bebas tersebut sejak awal perkembangan etnomusikologi di Amerika Serikat. Ia mengungkapkan perbedaan tersebut dalam sebuah artikel ketika ia merumuskan definisi etnomusikologi pada tahun 1979. List sadar akan hal ini dan secara tegas dan gambling ia mengatakan bahwa: “Etnomusikologi hanya akan dapat didefinisikan apabila kita lihat bahwa etnomusikologi diberi peralatan yang baik untuk bekerja dibanding dengan antroplog, ahli folklor, ahli sejarah, ahli linguistik, ahi yang dikenal dengan musikolog histories, psikolog, dan sosiolog” (List,1979:1-5).

ETNOMUSIKOLGI DAN KARAWITAN

Di Indonesia etnomusikolgi dan karawitan bisa berada di dalam satu wadah jurusan (seperti yang terjadi di ISI Surakarta) atau dalam jurusan yang berbeda, tergantung tujuan dan kesiapan tenaga institusi yang mengelolanya. Bagaimanapun posisinya, etnomusikologi seharusnya dipandang sebagai sebuah disiplin yang berdiri sendiri karena cara kerjanya tidak seperti jurusan karawitan pada umumnya. Di satu pihak, jurusan karawitan muncul dari kebutuhan untuk menyediakan tenaga pemusik karawiatn, sehingga pelatihan diarahkan untuk menjadikan lulusannya pemain gamelan.

IMPLEMENTASI ETNOMUSIKOLOGI NUSANTARA

Ibarat mewarisi spirit awal pelahiran etnomusikologi-yang lahir dari kegiatan pengkoleksian, perekaman, sampai kepada pembelajaran, pertunjukan dan desiminasi-implementasi etnomusikologi adalah kegiatan operasional untuk menerapkan disiplin ilmu etnomusikogi ke dalam kehidupan bermasyarakat. Implementasi etnomusikologi tidak berkutat pada wacana-wacana teoritik tetapi wacana-wacana praktis , yaitu wacana-wacana terapan yang lebih mampu mengakrabkan disiplin etnomusikologi dengan kebutuhan masyarakat. Menjadikan etnomusikolgi sebagai disiplin ilmu yang memiliki pengaruh dan sumbangan bernilai untuk penguatan kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun untuk pengembangan ilmu etnomusikologi.

ETNOMUSIKOLOGI NUSANTARA DALAM PERSPEKTIF DUNIA

Dalam konteks ini musik ( dan kesenian sejenis lain) dianggap menjadi ‘mesin penggerak’ yang berfungsi untuk mendorong terwujudnya tidak hanya toleransi di antara anggota masyarakatnya tetapi lebih dari itu dapat mengeluarkan enerji perekat yang mampu memberikan inspirasi bagi terbentuk identitas nasional. Hal ini bukan mustahil karena musik mampu menggerakan tekanan-tekanan bawah sadar anggota masyarakat untuk diaktualisasikan dalam wujudnya yang nyata yaitu situasi social yang mempunyai kohesi tinggi dalam menaggulangi berbagai anasir kebudayaan asing maupun untuk mengkristalisasikan elemen-elemen pokok dalam kehidupan social dan kultural.

MASA DEPAN ETNOMUSIKOLOGI NUSANTARA

Etnomusikologi Nusantara, meskipun spesifik dalam cara pendekatan dan kerja, mempunyai kekuatan dalam menga,bil sikap dalam budaya yang mempunyai dampak luas terhadap dialog antara musik yang satu dengan musik lainnya dan kehidupan masyarakat secara menyuluruh. Lebih luas lagi, etnomusikologi Nusantara (dan tentunya pada umumnya) akan memberikan warna terhadapa cara pandang masyarakat – baik masyarakat akademik maupun masyrakat umum yang secara tidak langsung berada di dalam wilayah kerja etnomusikologi – terhadap masyarakat dan kebudayaan lain. Hal ini disebabkan oleh karena dampak dari pengaruh etnomusikologi yang selalu berada di tempat (lokasi), berkomunikasi dengan para nara sumber di mana penelitian dilakukan, dan selalu memberikan pandangan dan inspirasi tentang kehidupan musik dalam masyarakatnya.

MEMBANGUN PERADABAN MELALUI ETNOMUSIKOLOGI

Etnomusikolog dalam setiap strateginya mencoba meberikan kondisi berdasar atas suatu prinsip yaitu bahwa kebudayaan manusia merupakan entitas yang bersifat relatif yang seharusnya tidak dapat dibandingkan satu dengan lainnya dengan maskdu untuk mencari keuunggulan suatu kebudayaan.

TANTANGAN-TANTANGAN DI MASA MENDATANG

Masa mendatang kehidupan etnomusikologi Nusantara (dan rekan-rekannya di seluruh dunia) bukanlah selalu menjadi semakin cerah dan mudah karena adanya dampak peubahan-perubahan keyaknan dan nilai yang dianut oeh warga dunia. Kehidupan di dunia menjadi semakin kompleks bukan semakin sederhana dan dengan demikian sangat mudah diduga bahwa kehidupan musikpun mengalami perubahan posisi,status, dan permasalahan yang semakin kompleks juga. Hal inilah yang perlu dicermati agar kita dapat memposisikan musik kita dalam dunia kini dengan tanpa mengurangi nilai yang terkandung didalamnya. Tantangan dem tantangan akan muncul dank arena sifatnya yang kompleks tersebut maka diperlukan berbagai strategi khusus untuk menghadapinya, apalagi kalai kita mengingat bahwa tantangan-tantangan tersebut bermacam-macam, berubah-ubah, penuh dengan “tipuan-tipuan” serta sarat akan segala kemungkinan yang semakin meyulitkan posisi kita. Menjadikan etnomusikologi sebagai salah satu khasanah budaya dunia tidak cukup mudah tetapi bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Kita perlu berorientasi secara bersama serta merefleksikan nilai yang unggul dan bermakna untuk mencapai tujuan bersama, kesejahteraan dan kedamaian abadi. Hanya dengan demikian etnomusikologi (baik yang bersumber dari Indonesia maupun dari tempat lain di dunia) mendapatkan kehidupan bersama.

 

 

 

Gamelan – Karawitan Kontemporer – Galaksi 7

Posted in Karya on April 1, 2012 – 1:53 am
Comments (0)

A.  JUDUL            :  GALAKSI 7

 

B.  LATARBELAKANG MASALAH

Dalam proses perdebatan tentang seni yang aktual di Indonesia, seni musik paling sering dipermasalahkan. Kenyataan ini sendiri sudah cukup menarik, namun sampai saat ini, hal itu tampaknya belum pernah disadari oleh pihak yang bersangkutan. Untuk pemahaman permasalahn seni musik kontemporer, kita harus menyinggung situasi tersebut terkebih dahulu. Fenomena perbedaan persepsi antara jenis-jenis seni kontemporer tidak terjadi di Indonesia saja; di Barat sendiri sering terdapat hal yang sama. Pada suatu pembukaan pameran lukisan kontemporer misalnya, lazimnya musik populer disajikan sebagai “kertas dinding” (baca: Musik semacam ini tidak bermakna, melainkan berfungsi sebagai latar belakang , sama dengan musik “bar” di hotel-hotel). Kalau kebetulan terjadi semacam pagelaran seni seni musik, jarang kita dapat mengalami jenis musik yang juga bersifat kontemporer. Dilihat dari sisi lain, rata-rata para seniman dari kalangan seni visual (dan terutama di Eropa) menghibur diri dengan musik populer-baik jazz mainstream/fusion, maupun gaya “pop-pseudo-advantgarde yang ngetrend”. Kalau kita dapat mengalami kasus yang berbeda, kenyataan itu-mau tidak mau-pasti merupakan suatu perkecualian.

Sebagai kesimpulan pertama dapat dirumuskan, bahwa tampaknya seni musik mempunyai ciri khas yang berbeda dari seni yang lain. Secara sekilas mungkin ada dua hal utama.

Pertama, musik memiliki unsur-unsur yang paling kuat dalam konteks keagamaan, politik, maupun fungsi sosial, karena aspek komunikasi, secara langsung, berhubungan dengan teater, tari dan khusus musik (buku dapat dibaca tanpa orang lain;lukisan bisa dilihat tanpa senimannya).

Kedua, justru oleh kekuatan ini, jenis-jenis musik di luar fungsi-fungsi tersebut biasanya hanya diterima kalau tidak ada makna atau kaitan tertentu, yaitu timbul kesan “musik sebagai kertas dinding”(lihat di atas). Ironinya, justru musik semacam ini dianggap “komonikatif”. Maka musik ini harus berdasarkan unsur-unsur yang cukup netral.

Adapun proses perselisiham atau dialog antar budaya merupakan kenyataan yang sekaligus global dan alami. Namun dalam hal ini terdapat berbagai hambatan yang amat mendalam, sehingga hanya satu pandangan yang tegas bisa menghasilkan berbagai daya tarik yang efektif. Dalam hal ini, kita semua kadang-kadang menghadapi berbagai kendala psikologis yang sulit diatasi. Tetapi kami berkeyakinan bahwa akhirnya hanya jalur itu yang bisa menimbulkan efek progesif untuk semua pihak yang bersangkutan.

Mencermati  hasil  kekaryaan  musik para  komposer  yang  mana  akhir – akhir  Ini  menunjukan  kondisi  yang  semakin  mapan,  salah  satunya  hal  yang  dapat  dicermati  dari  hal  itu tidak  sedikit para  komposer  yang  idealis  dan  ingin  berkreativitas  secara  maksimal  mulai mengembangkan  bentuk –  bentuk  musik  kontemporer  sebagai  wujud  ekspresi  kesenian. Hal  ini dilakukan  untuk  mendapatkan  kebebasan  berekspresi  dan  bereksperimen  secara  maksimal  tanpa diikat  oleh  sesuat  peraturan –  peraturan  konvesional  yang  belaku  pada umunya.  eksperimen – eksperimen   yang  dilakukan  bertujuan  untuk  mencari  pembaharuan  atau  inovasi  musik. composer  kontemporer   pada  umunya  menekuni  musik  eksperimen  sebagai  sarana  ekspresi   kesenian. Komponis yang memiliki  idealisme  tinggi  dalam  kekaryaannya musik, kepuasan batin adalah yang diutamakan  dan  tidak  diukur  dengan materi.

 

Musik kontemporer merupakan musik yang liar dan memiliki visi    mengedepankan  sifat – sifat kekinian.  Musik  yang  mengemukakan  sejak  abad  ke -20  di  Indonesia  ini  muncul akibat  pertemuan  dua  tradisi, yaitu  tradisi   budaya  Indonesia  dan  tradisi  budaya  Eropa. Pertemuan  musik  etnik  yang  beraneka  ragam   di  Indonesia  dengan  musik  klasik   dari  Eropa telah banyak  meberikan  warna   baru,  sehingga  banyak  komponis – komponis dari  Barat  maupun Indonesia  mengkolaborasikan  dua kebudayaan ini. Eksperimen inilah selanjutnya  menghasilkan musik  yang  kebanyakan  orang  mengatakan  sebagi  musik  baru,  musik  inovatif,  atau  musik ekspeimental.

Setelah memahami apa yang sudah dipaparkan diatas mengenai kreativitas dan musik kontemporer, maka berpijak dari sinilah muncul sebuah imajinasi yang menghasilkan ide untuk membuat sebuah garapan musik kontemporer yang akan diajukan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yaitu pada bidang Karya Cipta. Hal ini diperoleh atas pertimbangan potensi mahasiswa atau penata secara maksimal untuk berkreatifitas tanpa harus terbelenggu oleh aturan-aturan yang telah disepakati dalam musik-musik tradisi. Penata ingin memberikan kebebasan untuk berimajinasi, namun tetap berorientasi pada prinsip komposisi serta konsep-konsep estetika dengan arah karya ini.

 

Ide garapan adalah sebuah hal yang paling  awal dari  suatu  proses  penciptaan. Dapat  dikatakan  tidak  ada  sesuatu  karya  yang  terbentuk  tanpa  adanya  suatu  ide  yang  merupakan gagasan  pikiran  yang  akan  disampaikan  dari  karya  tersebut. Dalam penggarapan suatu karya, ide tersebut tidak dapat ditebak waktu  kemunculannya. Terkadang  muncul  secara  tiba – tiba, namun terkadang  harus  dicari  dengan cara merenung  ataupun  dari beberapa  aktivitas  seperti membaca, menonton , mendengarkan  dan  sebagainya.

Mengenai  ide  garapan  ini,  penata  ingin  mewujudkan  suatu  garapan  atau  karya  musik kontemporer  yang  lebih  menonjolkan  ritme, tempo, perubahan tangga nada(pathet), jalinan nada(counterpoint) dan dinamika. Pengolahan  nada  sebagai  unsur  melodi   tetap  dimunculkan  dengan  intensitas  yang  kecil , walaupun  alat  yang  di  pakai  sebagai  media  ungkap  adalah  alat  musik  tradisi, akan  tetapi  penata  mencoba  berekspresi  dan  bereksperimen  secara  bebas  tanpa  harus  berpacu  pada  aturan – aturan  musik  tradisi  dengan segala  kemampuan  yang  dimiliki, sehingga  akan terwujud  sebuah  karya  yang  dibilang  kontemporer tapi  bisa  diterima  di  kalangan  masyarakat  umum. karena   memakai  alat  tradisi  sebagai  media ungkapnya.

Untuk membuat suatu karya yang indah maka perlu adanya suatu konsep garap estetis. Menurut Manroe Beardsley seorang ahli estetika abad ke-20 menyatakan bahwa ada 3 unsur yang menjadi sifat-sifat membuat baik atau mudahnya suatu karya seni. Ketiga unsure tersebut adalah; kesatuan (unity), kerumitan (compleksity), dan kesinggungan (intensity). Dalam garapan ini, ketiga unsure diatas akan penata gunakan sebagai alur oijak untuk membuat garapan ini agar memiliki nilai estetis. Unsur kesatuan (unity) akan diaplikasikan kedalam bentuk totalitas garapan ini yang tidak dapat dipisahkan,walaupun masing-masing dari instrumen memiliki pola yang berbeda. Unsur kerumitan(compleksity) akan ditampilkan dalam bentuk ragam teknik permainan instrument serta pengolahan ritme,tangga nada(pathet), ukuran bunyi, tempo, dinamika, harmoni, counterpoint, dan nada. Terakhir adalah unsur kesinggungan(intensity) penata mencoba menampilkan komposisi yang notabene nya lebih pada perubahan tangga nada(pathet) pada setiap transisi dan adanya counterpoint dalam komposisi garapan ini.

Garapan  ini  menggunakan Barungan(ensamble) dari  alat  musik tradisi  Bali  yaitu  Gamelan Semarandhana dengan penambahan suling dan rebab yang  cara  memainkannya tetap  sama  hanya  jenis  musiknya  berbeda  dari  musik  tradisi  dan  kreasi. Gamelan Semarandhan merupakan gamelan pelog 7 nada, berasal dari kata Semara dan Dhana. Semara artinya Suara dan Dhana artinya Kaya. Jadi, Gamelan Semarandhana adalah Gamelan pelog 7 nada yg memiliki minimal 3 pathet(tangga nada) dan masing-masing pathet memiliki nuansa musical yang berbeda. Oleh karena itu, kami memakai gamelan semarandhana dalam penggarapan ini agar lebih memudahkan penata untuk meluapkan ide dan imajinasinya dengan bebas. Awal mula keberadaan gamelan semarandhana karena dulunya pada saat ASTI yang sekarang bernama ISI Denpasar sering menggarap sendra tari dengan 2 gamelan, yaitu; Gong Kebyar dan Semara Pegulingan saih pitu oleh I Wayan Berata ini digabungkan, hasil eksperimen pertama menjadi genta pinara pitu, kemudian disempurnakan lagi sehingga menjadi gamelan semarandhana. Dengan adanya gamelan semarandhana ini memudahkan ASTI pada saat itu untuk menggarap sendra tari yang tidak lagi menggunakan 2 barungan, cukup menggunakan gamelan semarandhana saja. Gamelan semarandhana pertama dimiliki oleh Puri Saren Ubud.

 

Judul garapan ini adalah “Galaksi 7”. Di dalam ilmu astronomi, galaksi diartikan sebagai suatu sistem yang terdiri atas bintang-bintang, gas, dan debu yang amat luas, dimana anggotanya memiliki gaya tarik menarik (gravitasi). Suatu galaksi pada umumnya terdiri atas miliaran bintang yang memiliki ukuran , warna, dan karakteristik yang sangat beranekaragam. 7 diambil dari penggolongan gamelan semarandhana yang tergolong pelog 7 nada.

Galaksi adalah kumpulan bintang yang membentuk suatu sistem terdiri atas satu atau lebih benda angkasa yang berukuran besar dan dikelilingi oleh benda-benda angkasa lainnya sebagai anggotanya yang bergerak mengelilinginya secara teratur.

Dari pengertian galaksi diatas, penata mencoba menuangkan pengertian galaksi ke dalam bentuk garapan kontemporer. Suatu galaksi pada umumnya terdiri atas miliaran bintang yang memiliki ukuran, warna, dan karakteristik yang sangat beranekaragam. Dalam penggarapan ini, penata mencoba memadukan berbagai macam arah nada , tingkatan bunyi, adanya jalinan melodi(counterpoint), adanya transisi dengan perubahan tangga nada(pathet), irama(ketukan) dan karakteristik dari masing-masing instrumen yang berbeda-beda.

Karya baru ini terbentuk dari enam aspek ide dasar yang kemudian berproses menjadi bentuk yang lebih besar, namun kerangka dasarnya tetap bertumpu pada kelima aspek tersebut. Setelah hasil akhir pada proses pembentukan muncullah multi aspek yang sulit diprediksi. Sama halnya dengan galaksi yang sampai saat ini sulit diprediksi keberadaanya. Dapat dilihat dari banyaknya para ilmuan yang mendefinisikan galaksi dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Dalam garapan ini banyak aspek-aspek yang terdapat dalam komposisi garapan ini yang sulit diprediksi. Ketiga aspek tersebut adalah:

1.  Arah Nada

2. Tingkatan Bunyi

3.  Karakteristik

4. Tangga Nada (pathet)

5. Jalinan Melodi (counterpoint)

6. Ritme (ketukan)

Bumi termasuk dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way). Di dalam galaksi bima sakti terdiri atas miliaran bintang, satu bintang yang terdapat dalam galaksi bima sakti adalah Matahari. Matahari dulunya dikelilingi oleh 9 Planet, tapi sekarang hanya tersisa 8 Planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Planet Pluto telah keluar dari Orbitnya sehingga tidak lagi menjadi anggota dari galaksi bima sakti. Terinspirasi dari pemaparan diatas, penggarap berupaya menampilkan satu komposisi yang lebih menonjolkan adanya perubahan pathet dari setiap transisi, ada bagian-bagian dimana bagian tersebut telah keluar dari komposisi awal dan akan sendirinya membentuk komposisi baru.

 

 

C.  PERUMUSAN MASALAH

Berangkat dari situasi dan media yang ada, penata berusaha menggali gagasan yang muncul dari dalam diri pribadi dan menangkap momen-momen artistik yang terjadi untuk menciptakan karya komposisi karawitan. Hal ini bukan hanya situasi saja yang dibayangkan, tetapi faktor media merupakan bagian penting untuk dapat mentranspormasikan situasi yang ingin disampaikan. Dalam proses karya karawitan ini, penata mencoba merangsang diri dengan berbagai motivasi dan sejauh mana ide atau gagasan bisa tertuang dalam garapan, sehingga unsur-unsur pembentuk karya dapat menyatu dalam satu kesatuan yang harmonis.

Dengan kelebihan yang dimiliki, yaitu beragamnya pathet(tangga nada) yang bisa digunakan untuk ungkapan imajinasi dari penata, gamelan semarandhana cukup potensial dipergunakan sebagai media ungkap, dengan mengaktualisasikan permaianan pathet, warna suara, dan counterpoint. Untuk mewujudkan karya karawitan kontemporer Galaksi 7 dengan mempergunakan gamelan Gong Semarandhana sebagai media, aspek-aspek  penggarapannya dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana mengimplementasikan “sistem tata surya yang membentuk suatu galaksi” ke-dalam sebuah karya karawitan kontemporer ?

2.  Sejauh mana pengembangan  teknik  permainan, motif  dan  melodi yang mampu dihasilkan, dengan mengolah unsur-unsur musikal dalam barungan Gong Semarandhana sehingga terwujud komposisi karawitan kontemporer ?

D.  TUJUAN

Tujuan penciptaan karya karawitan kontemporer ini, adalah :

  1. Untuk belajar menuangkan ide ke dalam sebuah karya seni yang berbentuk komposisi musik karawitan kontemporer.
  2. Untuk mengembangkan serta melestarikan warisan seni budaya khususnya gamelan Semarandhana.
  3. Untuk mengembangkan teknik pukulan dalam permainan gamelan Semarandhana.
  4. Untuk meningkatkan dalam merespon ide-ide baru yang dituangkan ke dalam bentuk komposisi musik karawitan.
  5. Untuk mewujudkan salah satu bentuk keragaman karawitan Bali, yang memiliki  identitas dan karakteristik tersendiri.
  6. Mengembangkan seni karawitan, sebagai sebuah tontonan musikal-instrumental.
  7. Mengembangkan model penciptaan seni karawitan Bali, yang kini sudah banyak dipengaruhi oleh kreativitas penciptaan musik akibat adanya sentuhan budaya masyarakat plural Indonesia.
  8. Agar kita bisa lebih mengetahui bagaimana sistem tata surya itu bisa terbentuk menjadi sebuah galaksi yang pada konteks ini terlihat dari komposisi garapan yang terinspirasi dari sistem tata surya tersebut.

 

E.  LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan melalui penciptaan ini adalah karya karawitan yang diberi judul ”Galaksi 7”, berbentuk karawitan kontemporer, suatu pengolahan komposisi yang telah mengalami perubahan secara mengkhusus yang mencoba terbebas dari aturan-aturan komposisi karawitan tradisi.

Karya karawitan Galaksi 7 adalah karya seni yang berbentuk musik karawitan kontemporer yang sudah terlepas dari ikatan tradisi pada komposisinya. Lebih cenderung menampilkan jalinan nada(counterpoint) dan perubahan tangga nada(pathet) pada komposisi garapan. Tema yang diangkat merupakan visualisasi tentang bagaimana sistem galaksi itu berjalan sesuai dengan sistemnya, tapi bagian dari sistem itu  sewaktu-waktu bisa hilang  dari pusat sistem tersebut karena telah keluar dari orbitnya (Planet Pluto) dan pada konteks garapan kali ini ditampilkan adanya suatu pengolahan transisi yang pada dasarnya tidak ada keterkaitannya tapi akan ada saatnya dimana pola-pola itu tersendiri akan berkaitan satu sama lain serta ada bagian-bagian dimana bagian tersebut telah keluar dari komposisi awal dan akan sendirinya membentuk komposisi baru.

F.  KEGUNAAN

Hasil penciptaan ini diharapkan dapat bermanfaat terhadap pengembangan wawasan metode penciptaan di bidang seni pertunjukan dan mampu memberi motivasi dalam menindaklanjuti kajian ilmiah untuk peningkatan kualitas penciptaan bagi kepentingan lembaga, khususnya bagi ISI Denpasar.

Dalam konteks pengembangan ilmu, hasil penciptaan karya karawitan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan secara akademik terutama pada mata Teknik Karawitan dan Praktek Karawitan. Disamping itu, penciptaan karya karawitan ini adalah sebagai upaya menumbuhkan budaya kritis-analisis terhadap munculnya fenomena baru termasuk unsur-unsur perubahan dalam seni pertunjukan Bali yang sarat dengan ide-ide pembaharuan. Manfaat praktis diharapkan dapat menambah pengalaman dan pengetahuan tentang penciptaan karya seni, terutama penciptaan seni karawitan daerah Bali. Sedangkan secara teoretis karya karawitan ini diharapkan dapat bermanfaat terhadap :

  1. Semangat penciptaan seni karawitan di kalangan para komposer dan mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar.
  2. Khasanah cipta seni yang bersumber dari nilai-nilai seni etnik daerah Bali yang memakai media gamelan Gong Semarandhana.
  3. Apresiasi terhadap dunia seni yang bukan hanya bersifat hiburan atau tontonan semata, tetapi juga memiliki manfaat edukasi bagi pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

 

G.  TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka merupakan sumber acuan yang ada relevansinya dengan penciptaan ini. Beberapa pustaka yang ditelaah diharapkan dapat bermanfaat untuk menelusuri materi yang berkaitan dengan penciptaan yang dilakukan. Terkait dengan penciptaan ini, kajian pustaka dibagi menjadi dua ; pertama, kajian pustaka yaitu pustaka yang ada relevansinya dengan rencana penciptaan, dapat memberikan inspirasi dan petunjuk dalam proses penciptaan yang dilakukan. Kedua, tinjauan discografi melalui hasil-hasil rekaman audio, dan audio visual dalam bentuk pita kaset, video, CD, dan VCD yang menampilkan hasil-hasil karya komposisi kontemporer.

  1. Sumber pustaka yang dapat memberikan inspirasi tentang ide dan petunjuk dalam proses penciptaan, adalah :

Buku yang berjudul Menjelajahi Bintang, Galaksi, dan Alam Semesta karya A.Gunawan Admiranto(2009 : 121 ), menguraikan tentang keberadaan galaksi-galaksi di alam semesta.

Carole Stott dalam bukunya yang berjudul Bintang&Planet (2007:14), menyebutkan bahwa planet Pluto telah keluar dari orbit Galaksi Bima Sakti.

Hartono dalam bukunya yang berjudul Geografi Jelajah Bumi dan Alam Semesta  (2007:27) menyebutkan tentang teori pembentukan suatu galaksi.

I Komang Sudirga. Musik Kontemporer di Tengah Arus Pergulatan Musik Tradisi  dalam Mudral seni budaya,volume 17 no 2.Denpasar . Institut Seni Indonesia ,2005.

Musik  Kontemporer  dan   Persoalan  Interkultural. Dieter  Mack .  Bandung  : Arti . 2004.  Buku  ini  merupakan  sebuah  kumpulan  esai  yang  secara  kritis  menyoroti  masalah music  kontemporer  dan  persoalan  intercultural  di Indonesia . Buku  ini  banyak  memberikan  gambaran   kepada  penata  mengenai  bentuk – bentuk  musik kontemporer .

Corat – coret  Musik  Kontemporer  Dulu  dan  Kini . Suka  Hardjana.  Jakarta :  Ford  Foundation

dan  Masyarakat   Seni  Pertunjukan  Indonesia .  2003.  Buku  ini  banyak  memberikan  masukan-

masukan  kepada  pinata  tentang  masalah – masalah  musik  kontemporer  dari  dulu  hingga  kini .

 

  1. Sumber  Discografi

Rekaman  VCD  karya  Dewa Ketut Alit  , dengan  judul “Genetik”. Dari  rekaman  video ini  penata  mendapat  masukan  mengenai  cara – cara

membuat arah nada, irama(ketukan) dan membuat tingkatan bunyi.

Rekaman VCD karya I Gede Yudana, dengan judul “Water One”. Dari rekaman video ini, penata mendapat masukan mengenai cara-cara membuat jalinan nada agar terdengar harmoni dan bagaimana cara menonjolkan karakteristik dari masing-masing instrumen dalam sebuah garapan.

H.  METODE PELAKSANAAN

Terwujudnya karya karawitan yang diberi judul Galaksi 7 adalah dengan mempertimbangkan aspek-aspek keutuhan, kerumitan dan kesungguhan untuk memenuhi tujuan estetis. Aktivitas penciptaannya diterapkan melalui metode, dengan meminjam pendapatnya Alma M. Hawkins menggunakan tiga tahapan, yaitu ; eksplorasi, improvisasi, dan forming (Sumandiyo Hadi, 2003 : 27 – 49).

Tahap eksplorasi menyangkut perenungan ide, observasi, penjelajahan terhadap nada, ritme, yang akan diolah dalam ciptaan karya ini. Pada tahapan ini penata lebih banyak untuk melakukan pemilihan, analisis, dan pengolahan materi gending. Dalam memilihnya penata harus rajin membuka-buka file dokumen sehingga ada beberapa motif dari garapan sebelumnya yang dianggap menarik “dikutip” kembali dengan warna dan pengolahan yang baru. Begitu pula, tidak mengabaikan sederet hasil karya seniman lainnya yang dianggap bagus untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari motif-motif dan pola-pola garap musikal yang telah ada sebelumnya, baik yang berkaitan dengan bentuk maupun suasana yang penata inginkan.

Tahap improvisasi adalah tahap untuk melakukan “pencarian”, terutama dalam hal penyusunan materinya. Teknik yang penata lakukan dalam tahap pencarian ini antara lain ; pengulangan, pemindahan ritme ke nada lain, peniruan, pengurangan dan  penambahan serta penggabungan dari beberapa teknik.

Tahap pembentukan (forming) adalah tahap penggabungan dari hasil improvisasi yang telah dituangkan. Didalam penataan bentuk, penata selalu melakukan pembenahan-pembenahan terhadap rasa musikal yang dianggap kurang sesuai untuk terus disempurnakan sehingga memenuhi standar estetis sesuai dengan keinginan penata. Disamping aspek bentuk juga dilakukan penataan terhadap aspek isi dan penampilan untuk mewujudkan keharmonisan sebagai sebuah penyajian yang presentasi estetis.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Admiranto, A. Gunawan, 2009, ”Menjelajahi Bintang,Galaksi, dan Alam Semesta”,Kanisius,Yogyakarta.

 

Stott, Carole, 2007, ”Bintang&Planet”, Erlangga, Jakarta.

Hartono, 2007, “Geografi Jelajah Bumi dan Alam Semesta”, Citra Praya, Bandung.

 

Sudirga, I. Komang, 2005 “Musik Kontemporer di Tengah Arus Pergulatan Musik Tradisi”, Mudral seni budaya,volume 17 no 2.Denpasar . Institut Seni Indonesia.

Mack, Dieter, 2004, “Musik  Kontemporer  dan   Persoalan  Interkultural”, Arti, Bandung.

Hardjana, Suka, “Corat – coret  Musik  Kontemporer  Dulu  dan  Kini”, 2003, Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Jakarta.

 

“Biografi Seniman di Desa Adat Ubud”

Posted in Tulisan on Desember 20, 2011 – 11:37 am
Comments (0)

Tjokorda Agung Mas,

Sosok seniman yang merupakan kakek saya ini menjadi panutan dalam bidang pelestarian seni dan budaya di Desa Ubud. Lahir pada tahun 1920 di Desa Mas,Ubud.Gianyar. Bertempat tinggal di Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud, Gianyar. Beliau mulai berkecimpung dalam seni karawitan sejak ia berusia belasan tahun (tahun 1934). Pertama, beliau mempelajari karawitan (gambelan) gong, joged dan palegongan. karena bakat seni yang mengalir dalam tubuhnya, tidak menutup kemungkinan beliau dapat menguasai bidang seni lainnya seperti seni tari maupun seni pahat. Tahun 1948, beliau diangkat sebagai penasehat seni pahat seluruh Bali (Beluit Residen Bali dan Lombok tanggal 10 Desember 1948 No. CI/14/14). Tahun 1954, beliau mendirikan Yayasan Ratna Wartha Ubud, Museum Puri Lukisan Ubud. Dengan kepiawainnya ini pula, tahun 1960 beliau diundang pihak Fakultas University California Los Angeles (UCLA) Los Angeles, USA, untuk mengajar karawitan Bali. Kegiatan ini dilakukannya hingga tahun 1966. Berhasil membawa misi kesenian Bali dan Jawa di dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat, kemudian beliau menerapkan pengalamannya di tanah kelahirannya dengan mengembangkan Museum Puri Lukisan Ubud. Ketika menjabat sebagai sekretaris Museum Puri Lukisan Ubud, seniman yang juga Veteran Pejuang ini sempat mengembangkan study banding ke Tokyo, Hongkong, Bangkok dan Singapura untuk menambah wawasan tentang permuseuman. Tahun 1969 dipercaya oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Goanyar sebagai anggota permuseuman, anggota Listibya Tingkat II Gianyar dan juri Festival Gong Kebyar.

Tjokorda Agung Mas adalah sosok seniman Bali yang mendunia. Setelah sempat mengajar karawitan Bali dan Jawa di Amerika Serikat, tahun 1975 kembali mendapat kehormatan dari Eduard Van Beinum Stichting, Breuken Holland dalam rangka pertemuan musisi Internasional, untuk membahas musik tradisional. Ketika mengadakan demonstrasi karawitan Bali di Tropen Museum yang sempat disaksikan atase kebudayaan, Kusnadi Hardjosoemantri. Tahun 1977 kembali dipangil atase pendidikan dan kebudayaan KBRI di Den Haag, Holland untuk mengajar karawitan Bali.

Di samping sebagai seniman, veteran pejuang, Tjokorda Agung Mas adalah salah seorang tokoh pendidikan, serta tokoh masyarakat. Misalnya tahun 1952 mendirikan Sekolah Menengah SLU di Ubud cabang Denpasar (sekarang SMP Kerta Yoga). Tahun 1958 mendirikan Yayasan Dharma Usada. Jabatan kepala desa pun pernah dijabatnya di Desa Mas. Darah seni yang mengalir dalam tubuh Tjokorda Agung Mas kini menurun pada putra-putra dan cucu-cucunya. Beliau merupakan sosok kakek yang memompa semangatku dalam mendalami kesenian karawitan Bali, pekerjaan mulia terdahulu beliau yang telah mengembangkan kesenian karawitan Bali mendunia akan menjadi sumber inspirasi dan cita-cita saya.

Pendidikan beliau berawal dari Sekolah Rakyat tahun 1929, kemudian dilanjutkan di Sekolah Belanda(HIS) di Denpasar pada tahun 1937. Beliau wafat pada tahun 1988. Beliau pernah mendapatkan penghargaan Wijaya Kusuma pada tahun 1988.

 

Demikian Biografi dari Tjokorda Agung Mas sebagai seniman yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kesenian di Desa Ubud yang bisa saya sampaikan. Kalau terdapat kesalahan dalam penyampaian dan penulisan , saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kritik dan Saran sangat saya perlukan, Terima Kasih.

 

Daftar Pustaka

Kabupaten,Daerah Tingkat II Gianyar, Profil Seniman Gianyar, Gianyar, 1996.