CONSEPTUAL OF “RAIN BEFORE THE RAINBOW” PIECE

Posted in Karya on Juli 7, 2013 – 2:18 am
Comments (0)

 

    

 

Sebelum kami menjelaskan mengenai konsepsual karya kami, mungkin alangkah baiknya jika kami menjelaskan makna dari komposisi tersebut. Jadi dari terminologi kata, komposisi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu “Compouse”, adapun pengertian komposisi tersebut adalah rangkaian dari beberapa materi-materi yang nantinya bisa membentuk suatu wujud, dalam konteks kali ini  adalah berwujud sebagai karya musik Tabuh Kreasi baru yang menggunakan mediasi Gong Kebyar. Kalau kita membahas mengenai Gong Kebyar, pastinya pemikiran kita tertuju pada wilayah Bali Utara, karena kita telah mengetahui bahwa Gong Kebyar lahir di wilayah tersebut. Kami akan coba paparkan sekilas mengenai komponis-komponis  yang terkenal pada masa-masanya. Pertama adalah karyanya Pan Wandres asal Buleleng yang berjudul Kebyar Legong, setelah masa Pan Wandres, dilanjutkan oleh Gede Manik, lalu Kariasa, mulai menyebar ke Bali Selatan dengan munculnya Bape Regog, Bape Berata, Gede Yudana mulai menyebar ke daerah Gianyar, Pak Gandra asal Peliatan, Nyoman Windha, Gede Yudana, Subandi, Dewa Alit. Semua komponis yang saya sebutkan tadi merupakan seorang “Local Genius” telah berhasil membius masyarakat Bali menurut periode masanya. Dari hal tersebut, pada periodisasi kekinian (Post Modern) kami mencoba membuat sebuah tawaran Tabuh Kreasi Baru yang lain dari pada yang lain. Penekanan kami ini dalam konteks komposisi yang berbeda, karena kami berpikir bahwa akan sangat sulit untuk membandingkan karya-karya para sesepuh Gong Kebyar terdahulu dengan karya kami apabila kami membuat komposisi yang mirip seperti karya-karya beliau diatas. Jadi kami mempunyai visi dan misi yang sama, yaitu dengan mencari jati diri komponis muda pada masa ini agar bisa menunjukan kreatifitas yang berkualitas dan berpondasi pada karya-karya kekebyaran yang telah ada sebelumnya. Karya ini terinspirasi dari pengalaman kami ketika sedang duduk-duduk santai di lingkungan kampus ISI Denpasar, ketika itu hujan sedang turun dengan sangat deras, tanpa sengaja kami mengamati proses-proses kejadian hujan tersebut. Ternyata tidak hanya hujan yang bisa kami lihat, tetapi ketika hujan mulai reda, dengan kondisi sedikit grimis dan mulai adanya sinar matahari ketika itu juga kami dapat menyaksikan pelangi yang menghiasi langit. Fenomena tersebutlah yang menginspirasi kami untuk membuat suatu garapan Tabuh Kreasi dengan judul:

“RAIN BEFORE THE RAINBOW”

Tabuh Kreasi ini kami bagi menjadi tiga bagian yang ditandai oleh penggunaan, tanpa urutan tertentu, beberapa bagian yang menonjolkan setiap kelompok dari setiap instrumen gamelan Gong Kebyar. Bagian-bagian dan transisi diantaranya sering terkesan mendadak, dan tidak metris serta penuh dengan ciri khas kebyar yaitu perubahan tempo dan tekstur. Hanya ketika mendekati bagian akhir komposisi, seluruh instrumen bermain bersama. Diantara sub genre kebyar, tabuh kreasi baru menunjukan tingkat inovasi musical yang tertinggi dan paling konsisten disamping penggunaan topik yang beragam.

Seperti judul karya Tabuh Kreasi yang kami tawarkan diatas berjudul “Rain Before The Rainbow” yang artinya hujan sebelum pelangi. Adapaun penjelasannya seperti ini; Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air.

Air-air tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal.

Terjadinya pelangi adalah karena pembiasan cahaya. Ketika dibiaskan, cahaya akan berubah arah. Biasanya. pembelokan ini terjadi ketika cahaya pindah dari medium satu ke yang lain.

 

Hal ini terjadi karena cahaya bergerak dengan kecepatan berbeda dalam medium berlainan. Ketika memasuki prisma kaca, cahaya akan dibelokkan. Begitu pula jika keluar dari prisma. Selain membiaskan cahaya, prisma memisahkan cahaya putih menjadi komponen warnanya. Warna cahaya yang berlainan ini berbeda frekuensinya, sehingga memiliki kecepatan tempuh berbeda ketika memasuki suatu zat. Cahaya yang kecepatannya rendah di dalam kaca akan dibelokkan lebih tajam ketika pindah dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatannya berlainan. Tak mengherankan jika komponen yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensinya ketika melewati kaca. Pada prisma, cahaya akan dibelokkan dua kali, ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi.

Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi. Dari peristiwa yang menyebabkan sinar monokromatik menjadi 7 sinar polikromatik yang dikenal dengan mejikuhibiniu, yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Pelangi dapat kita lihat jika matahari cukup rendah di kaki langit (karena itu mengapa pelangi tidak terjadi di siang yang terik), dan kita harus berada membelakangi matahari untuk melihat pelangi.

Dari penjelasan Hujan dan Pelangi diatas, kami ingin mencoba bereksperimen dengan memperhitungkan aspek-aspek musikalnya lewat dasar pemikiran ide kami diatas, yaitu pada bagian pertama kami mencoba mengexplorasi proses awal terjadinya hujan dimana terjadi penguapan air dari dasar bumi yang dibantu oleh adanya panas bumi dan populasi udara. Pada bagian I kami lebih menekankan suasana yang dinamik, dengan tempo yang cepat dan kebyar. “Akord (keserentakan suara) hebat”  adalah konvensi musical dan orkestrasi yang disebut dengan anamatope, yaitu byar. Byar dimainkan dengan aksen keras dan bersama (tutti sforzando) oleh seluruh instrumen metalofon dengan bilah perunggu, memukul nada yang sama pada masing-masing wilayah nada, yang keseluruhannya mencakup lebih dari empat oktaf dari gamut (keseluruhan wilayah nada) gamelan. Di samping itu, riyong, perangkat ricikan yang tediri dari dua belas gong berpencon yang diletakkan diatas rancakan horizontal, dimainkan oleh empat musisi. Byar tersebut tidak berfungsi sebagai harmoni melainkan merupakan perpanjangan warna suara dari nada tertentu dari laras yang dimainkan oleh seluruh instrumen bilah dan pencon. Pada bagian II kami berintrepetasi tentang keadaan cuaca yang mendung akibat panas bumi yang berhasil membuat air menguap ke permukaan udara yang menyebabkan langit menjadi gelap. Pada bagian ini kami lebih menonjolkan tekstur figurasi jalinan, dimana mereka bergantian dengan melodi melodi unisono secara tak terduga , dan muncul kontinuitas motorik dari garis melodi sebagai ritme silang yang menonjol. Intinya kami bereksperimen pada instrumen melodi, yaitu jegogan, calung, dan penyacah. Ketiga instrumen tersebut sudah mempunyai rentetan melodi yang berbeda, tapi sangat berhubungan satu sama lainnya dan terjadi interaksi figurasi jalinan antar nada-nada yang dihasilkan. Suasana mendung menunjukkan kegalauan yang teramat besar, jadi kami ingin menimbulkan suasana yang haru akibat kegelepan. Pada Bagian terakhir yaitu pada bagian ketiga, kami ingin memvisualisasikan tentang adanya pelangi, sesuai dengan judul yang coba kami tawarkan yaitu Rain before The Rainbows, yang artinya Hujan sebelum Pelangi. Pada bagian III kami lebih menonjolkan komposisi yang riang gembira. Karena kami ingin menonjolkan sesuai dengan konsep kami, yaitu pelangi. Pelangi merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya pembiasan sinar matahari yang menyinari rintik-rintik hujan.

Demikian konsepual dari karya kami yang berjudul “Rain Before The Rainbow” yang bisa kami paparkan, jikalau ada kesalahan dalam pemahaman kami, dalam penyajian karya kami ataupun dalam proses kami berkarya, kami mohon dengan sangat agar bapak bisa membimbing kami. Karena menurut kami, komponis mudalah yang nantinya akan bisa mengembangkan dan mengharumkan seni dan budaya khususnya di bidang Gamelan Bali.

Sekian dan Terima Kasih.

Salam Kreatif

 

 

Etnomusikologi – Definisi; Arah; Masalah.

Posted in Karya, Tulisan on Februari 18, 2013 – 2:52 pm
Comments (0)

ETNOMUSIKOLOGI

 

  1. A.    Definisi

Telah banyak definisi mengenai Etnomusikologi, namun tidak satu pun dari definisi tersebut yang dapat memuaskan. Etnomusikologi telah didefinisikan sebagai studi tentang musik yang ada dalam tradisi lisan, akan tetapi tradisi lisan tersebut juga merupakan komponen yang penting dari budaya musik yang menggunakan notasi. Banyak budaya yang tergantung pada tradisi lisan yang tetap menggunakan perangkat musik dengan notasi monemonik.

Etnomusikologi kadang-kadang juga didefinisikan sebagai studi tentang musik yang asing untuk diri sendiri. Akan tetapi ditemukan juga ulama yang menyebut diri mereka sebagai Etnomusikolog dan mempelajari musik dari kebudayaan aslinya. Definisi lain tentang Etnomusikologi, diantaranya bahwa Etnomusikologi adalah studi tentang sistem musik kontemporer.

Istilah Etnomusikologi telah ada sejak dua puluh lima tahun yang lalu, meskipun kegiatan dilapangn sudah dimulai jauh lebih awal. Kebanyakan individu yang menganggap dirinya seorang Etnomusikolog merupakan seorang musisi, mahasiswa Musikologi dalam arti yang lebih tradisional, dan beberapa Antropolog. Individu-individu yang mulai membuat Musikolog menjadi disiplin formal di akhir abad kesembilan belas, terutama di Jerman dan Austria. Para sarjana ini menyadari keberadaan musik di seluruh dunia dan mulai kenal dengan teori evolusi Biologis dan budaya.

Etnomusikologi tampaknya telah terpecah menjadi dua, yaitu kesatuan dasar umat manusia seperti yang diperagakan dalam musik dan perilaku musik dan berbagai fenomena musik tak terbatas yang di temukan di dunia. Ulama dalam bidang ini mencoba untuk menggambarkan daerah yang luas dari budaya musik seperti musik primitif, musik rakyat dan musik suku yang mencoba mengatakan hal yang sangat umum tentang cara dimana timbangan dibangun, arah umum gerakan melodis, dan cara dimana musik di seluruh dunia telah dikembangkan. Dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, dari vokal untuk isntrumental, dari eksklusif agama untuk beragam penggunaan dan fungsi, dari struktur universal yang sederhana untuk berbagai fenomena besar, namun dipersatukan oleh karakteristik dan interval melodis.

Banyak Antropologis yang mendukung definisi Etnomusikologi sebagai studi tentang musik dalam kebudayaan dan musik sebagai kebudayaan, studi tentang bagaimana orang menggunakan, mempertunjukan, menulis, dan berpikir tentang musik, dan sikap umum mereka ke arah itu. Penekanan dari definisi ini adalah pada struktur musik itu sendiri.

Definisi yang terakhir, yaitu Etnomusikologi adalah studi komparatif sistem musik dan budaya. Definisi ini mungkin kontroversial, beberapa ahli berpendapat bahwa kita tidak cukup tahu tentang budaya musik dunia untuk melakukan perbandingan yang bermakna.

Jadi, jelaslah kalau tidak ada definisi yang benar-benar dapat diterima Etnomusikologi. Hal ini sama pasti apakah Etnomusikologi adalah disiplin yang terpisah, yang membutuhkan pemikiran sendiri, metodologi, peralatan, kursus, kurikulum, dan masyarakat yang belajar, atau apakah itu memang hanya sebuah bidang minat dan aktivitas yang menarik pengikutnya.

 

  1. B.    Arah

Etnomusikologi bergerak di bidang penelitian lapangan untuk mengumpulkan informasi. Teknik khusus tertentu untuk  penelitian lapangan telah dikembangkan, dari perangkat rekaman film yang canggih untuk kontemplasi dari berbagai pendekatan. Teknik lapangan sangat bervariasi, mereka sangat pribadi, mereka melibatkan hubungan khusus antara penyidik, dengan latar belakang budaya dan pribadi, dan informannya. Pendekatan ini tentu saja sangat berharga dalam banyak hal, kita dapat belajar banyak tentang sistem musik dari proses belajar itu sendiri dan mengetahui bagaimana anggota menginternalisasi budaya musik mereka sendiri.

Etnomusikologi sadar bahwa fenomena musik dalam budaya yang berbeda mungkin tampak identik dengan orang luar, tetapi dapat diinterpretasikan dengan memperlihatkan perbedaan oleh anggota budaya ini. Misalnya, kesamaan irama India Afrika dan negara timur yang dapat mengaburkan, dimana struktur inidirasakan dalam konteks budaya mereka, akan tetapi mereka mulai merasa bahwa ada semacam struktur yang identik dalam fenomena musik itu. Pada saat yang sama, Etnomusikolgi masih tertari dalam menghadirkan keragaman yang luas dari suaran musik dan cara perilaku musik.

Notasi yang diberikan oleh seni musik Barat sering ditemukan tidak memadai untuk tujuan Etnomusikolgi. Dari awal sejarah mereka, Etnomusikologi telah menemukan berbagai cara menyalin musik non-Barat ke dalam notasi. Tiga pendekatan yang menarik untuk notasi, yaitu Solusi Seeger,  Hipkinds Solusi, dan Laban Solusi. Solusi Seeger, melibatkan pengembangan mesin yang kompleks untuk notasi musik secara otomatis melalui sirkuit komputer logika untk menghasilkan tampilan tiga bagian fotografi yang terdiri dari lapangan, kenyaringan, dan timbre (warna suara). Hipkinds Solusi didasarkan pada sistem notasi yang ditemukan di berbagai musik non-Barat, dengan asumsi bahwa seseorang tidak dapat menotasi segala macam musik. Ada fenomena yang signifikan dan tidak signifikan, jika ingin mencari dengan benar, kita mungkin melihat pernyataan sendiri mengenai budaya yang dipamerkan notasinya. Laban Solusi mengusulkan menggunakan jenis notasi untuk musik yang akan  menunjukan suara serta sikap, gerakan, dan hubungan dari musisi dengan sangat rinci.

Akhirnya, pemeriksaan publikasi Etnomusikologi menunjukan bahwa para ulama terdahulu mentranskripsikan musik hanya demi melestarikan, berpikir bahwa tugas  utama mereka memang untuk menulis, namun belum tentu dalam menganalisis. Ada banyak pendekatan yang termasuk golongan ekstrem, dan salah satu ciri malang Etnomusikologi adalah bahwa belum ada standarisasi prosedur analisis.

Kepedulian pertama yang menarik dalam sejarah musik dunia adalah pertumbuhan beberapa musik hadir dengan semua kompleksitas dari beberapa jenis sebelumnya. Perbandingan budaya di seluruh dunia, pencaraian universal, membawa kita hampir secara otomatis untuk pertimbangan kemungkinan bahwa fenomena yang paling luas di dunia juga cenderung menjadi tertua dan yang paling sederhana juga mungkin menunjukan sebuah lapisan kuno. Hal ini berlaku dari musik dengan nada sedikit dan singkat, dan instrumen sederhana seperti busur musik, seruling tanpa lubang jari, dan mainan kerincingan.

Etnomusikologi selalu tertarik denan musik sebagai fenomena yang dihasilkan oleh budaya. Jenis-jenis pendekatan yang Etnomusikologi telah lakukan untuk mempelajari hubungan musik ke budaya sangat bervariasi. Ada upaya untuk merangkum seluruh kebudayaan, ada juga afforts untuk membangun kerangka kerja untuk studi banding. Ada afforts untuk menunjukan korelasi antara jenis musik dan jenis budaya. Beberapa orang mencatat bahwa musik mereplikasi secara rinci sebagai sistem budaya yang dapat dipelajari baik sebagai mikrokosmos budaya.

Etnomusikologi juga mengambil minat besar dalam sejarah komposisi individu. Cara lain dimana Etnomusikologi mengejar kepentingan dalam proses ini. Peradaban Asia memiliki dokumen yang memberikan informasi tentang sejarah secara umum, tentang sejarah musik, dan dapat mempelajari dokumen sebagai suatu studi teoritis dan biografi dalam sejarah musik Eropa, misalnya ada dalam sejarah sastra, sejarah, atau filsafat jepang, Cina, Indonesia, India, dan Timur tengah. Selain itu, sebagai sejarawan dimasa sekarang, telah mulai memuat meningkatnya penggunaan tradisi lisan. Ahli musik telah mulai menggunakannya sebagai sumber untuk penelitian.

Ada suatu masa ketika Etnomusikologi berpikir bahwa mereka bisa menumukan musik seluruh dunia secara murni yang tidak tercemar. Mereka beranggapan bahwa musik dalam budaya lain tetap statis dibawah pengaruh musik Barat. Di negara lain, mungkin perubahan telah terjadi dengan cepat, sepertu pada periode tertentu dalam sejarah Indonesia dan Timur Tengah. Hal ini tergantung pada jumlah kontak dengan budaya lain, pada struktur masyarakat itu sendiri, dan pada nilai-nilai stabilitas dan kebaruan.

Ada ulama yang percaya bahwa Etnomusikologi dalam keadaan kritis. Ada panel dan publikasi yang membahas masa depan bidang ini, ada yang bertanya apakah Etnomusikologi memiliki legitimasi antara disiplin akademik. Etnomusikologi masih terus  mencoba untuk mencari definisi yang pas.

Tapi memang penelitian Etnomusikologi telah menumpahkan banyak cahaya pada masalah yang dihadapi musisi, guru musik, dan para sarjana. Ini adalah Etnomusikologi yang telah menyatakan dengan jelas bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan perspektif musik pada umumnya tanpa mempertimbangkan keragaman dari musik dunia dan dari konteks budaya dimana mereka ada. Etnomusikologi telah membuat perhatian komposer kepada banyak fenomena musik di seluruh dunia sebagai inspirasi.

Etnomusikologi masih belum memiliki data mengenai semua musik dunia dan dengan demikian tidak dapat membuat pernyataan pasti tentang berbagai keragaman musik dunia. Etnomusikologi juga asih belum membuat apa yang merupakan musik, konsep analog dengan bahasa, sehingga kita secara ilmiah dapat menentukan unit yang bisa berfungsi sebagai dasar untuk memahammi keragaman ini. Kerja lapangan merupakan hal yang sangat penting, tapi banyak kesulitan yang dialami dalam mengajar.

Meskipun kita menerima manfaat transkripsi dan analisis, disini kami menenda diri secara konstan bekerja denga dua sisi mata uang, mencoba menyeimbangkan pengamatan orang luar terhadap mereka dari orang yang telah dibesarkan dalam budaya yang sedang dipelajari seorang yang dapat memberikan langsung semacam informasi yang dapat dipelajari. Kami belum tahu bagaimana cara terbaik untuk belajar musik sebagai bagian dari budaya. Ada bebrapa teknik, sebuah pendekatan beberapa sampel, tetapi kami hampir tidak mulai menggores permukaan. Kita tidak tahu apakah akan memperlakukan musik sebagai bagian yang benar-benar komponen budaya atau sebagai sesuatu yang entah bagaimana berada diluar budaya sendiri.

Dan akhirnya, kita masih frustasi oleh fakta bahwa sementara kita sangat tertarik dalam proses, dalam perkembangan musik sebagai individu, dalam keingintahuan bagaimana musik dibuat, diajarkan, belajar, diubah, dan dipertahankan. Kita menyadari bahwa kita jauh dari mengetahui jawaban dan bahwa kita mungkin tidak pernah memiliki data yang cukup untuk menemukan jawaban. Oleh karena itu, Etnomusikologi adalah bidang yang telah menyumbang banyak tapi harus berkontribusi lebih besar karena pendekatan yang sangat penting untuk memahami musik sebagai produk manusia.

 

  1. C.   Masalah

Para sarjana mulai mencari keragaman musik dunia dan mencoba memahami berbagai fenomena musik yang ditemukan dalam budaya yang dikemandagkan oleh umat manusia. Alasan untuk membahas identitas dan mengisyaratkan sejarah Etnomusikologi adalah untuk mengetahui musik yang sangat berbeda di dunia dan memberitahu mereka dari berbagai sudut pandang. Dalam beberapa kasus perbedaan ini berasal dari perbedaan antara budaya sendiri. Sebaai contoh, orang Amerika asli tidak menulis teori musik sehingga aspek musik mereka tidak dapat didiskusikan, tetapi hal tersebut tidak benar menurut musik klasik India. Selain itu, perbedaan esai juga berasal dari perbedaan jenis informasi yang tersedia untuk berbagai budaya di dunia. Bagi beberapa orang, materi musik banyak yang telah di catat, akan tetapi informasi tentang konteks budaya adalah jerawatan dan telah dikumpulkan tanpa sistem. Oleh karena itu, Etnomusikologi ini tidak hanya menyajikan berbagai macam budaya musik tapi juga menyediakan pembaca dengan panorama pendekatan untuk bidang Etnomusikologi.

Gamelan Genggong di Desa Batuan

Posted in Tulisan on Februari 18, 2013 – 2:40 pm
Comments (0)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Bali dikenal oleh masyarakat luas adalah karena keagungan budaya yang berkembang dan tersohor akibat berbagai unsure penunjang dan salah satu diantaranya adalah unsure kesenian yang merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung kebudayaan secara universal.

Kesenian dengan berbagai bentuk dan wujudnya telah berkembang dengan pesat sesuai dengan perkembangan zaman. Adapun salah satu kesenian tersebut adalah seni karawitan. Seni karawitan yang dimaksud disini adalah seni karawitan instrumental. Karawitan instrumental adalah musik tradisi yang mempergunakan alat-alat sebagai sumber bunyi yang berlaraskan pelog/selendro. Alat-alat yang dimaksud sudah barang tentu berupa gamelan baik dalam bentuk barungan/ensambel maupun tungguhan/instrument.

Karawitan Bali (musik instrumental) terdiri dari bermacam-macam bentuk dan bahan serta fungsinyapun berbeda-beda pula. Kendatipun demikian, banyak juga insur kesamaannya. Perbedaan gamelan yang dimaksud, ada yang dari perunggu, ada juga yang dari kerrawang, ada yang dari kayu, dan ada juga yang dari bambu. Salah satu karawitan yang bahannya lain dari pada yang lain adalah Genggong, yang terbuat dari pelapah enau.

Dalam jajaran karawitan Bali, Genggong merupakan suatu ensambel yang sangat unik. Namun demikian Genggong pada umumnya masih asing ditelinga masyarakat Bali, hal ini mungkin di sebabkan oleh pertumbuhan yang belum merata. Seperti Desa Batuan di Kabupaten Gianyar, di Desa munduk, Bestala, Kabupaten Buleleng, dan Desa budakeling Kabupaten Karangasem.

Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sudah kita warisi sejak zaman yang lampau. Sebagai instrumen musik tua, Genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian, alat musik yang mudah di bawa ini sebenarnya memiliki akustik dan teknik yang cukup rumit. Tambahan pula bahwa genggong atau alat musik yang mempunyai prinsip yang hampir sama dengan genggong, tidak saja dapat kita jumpai di Bali melainkan hampir di seluruh dunia, misalnya di India dikenal dengan nama Morsing, di Eropa atau Amerika populer dengan sebutan Jew’s harp, dan sebagainya. Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang , dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah- tengahnya sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain. Pada mulanya genggong nampaknya merupakan sebuah instrumen yang dimainkan secara tunggal. Seorang pemain genggong akan menunjukan kebolehannya lewat inprovisasi gending- gending yang disukainya. Genggong sering dimainkan oleh para petani sambil melepas lelah di sawah, kadang- kadang di mainkan di rumah, bahkan tidak jarang bahwa seseorang memainkan genggong dengan maksud menarik perhatian wanita (kekasihnya), sebagaimana halnya dilakukan dengan instrumen suling. Kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi di Bali saja, melainkan juga terjadi pada beberapa daerah yang lain seperti; Eropa, Laos (pada suku Hmong ), dan lain – lainnya. Hanya saja dengan adanya parkembangan dunia yang sangat pesat dewasa ini, kebiasaan untuk menarik perhatian wanita dengan menggunakan genggong semakin jarang kita jumpai.
1.2 RUMUSAN MASALAH

Pada latar belekang karya tulis ini telah tertulis dan diterangkan bahwa bagaimana penting atau perlunya berkesenian dan juga didalam menyajikan ataupun didalam memainkan berbagai jenis alat musik khususnya gambelan Bali. Untuk itu sudah barang tentu banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan dan sebagai bahan kajian untuk memperoleh suatu karya yang cukup baik. Didalam hal ini  sudah barang tentu  yang menjadi pokok permasalahan  serta pembahasan di dalam penulisan ini adalah:

1.2.1      Bagaimana cara membuat gambelan genggong?

1.2.2      Bagaimana cara memainkan gamelan genggong?

 

 1.3 TUJUAN PENELITIAN

Untuk mendapatkan hasil tulisan seperti yang diharapkan, dalam hal ini diharapkan tulisan atau laporan ini menjadi sesuatu yang berguna untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang gamelan genggong dan cara memainkan alat musik dan gambelan genggong itu sendiri. Disamping itu pula untuk dijadikan bahan studi perbandingan serta berguna bagi penyebaran informasi tentang gamelan genggong. Didalam penulisan ini dapat dijabarkan tujuan penulisan yang ingin dicapai yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

  1. Tujuan umum

penulisan ini bertujuan agar bisa menambah wawasan serta pengetahuan bagaimana gamelan Bali khususnya genggong.

  1. Tujuan khusus
    1.  Untuk mengetahui bagimana cara pembuatan gamelan genggong.
    2. Untuk mengetahui cara memainkqn gamelan genggong.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat  memberikan pengetahuan kepada masyarakat khususnya masyarakat Bali  tentang pengertian gamelang genggong, bentuk gamelan genggong, cara pembuatan gambelan genggong dan cara memainkan gamelan genggong.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian Genggong

Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sudah kita warisi sejak zaman yang lampau. Sebagai instrumen musik tua, Genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian, alat musik yang mudah di bawa ini sebenarnya memiliki akustik dan teknik yang cukup rumit. Tambahan pula bahwa genggong atau alat musik yang mempunyai prinsip yang hampir sama dengan genggong, tidak saja dapat kita jumpai di Bali melainkan hampir di seluruh dunia, misalnya di India dikenal dengan nama Morsing, di Eropa atau Amerika populer dengan sebutan Jew’s harp, dan sebagainya. Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang , dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah- tengahnya sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain. Pada mulanya genggong nampaknya merupakan sebuah instrumen yang dimainkan secara tunggal. Seorang pemain genggong akan menunjukan kebolehannya lewat inprovisasi gending- gending yang disukainya. Genggong sering dimainkan oleh para petani sambil melepas lelah di sawah, kadang- kadang di mainkan di rumah, bahkan tidak jarang bahwa seseorang memainkan genggong dengan maksud menarik perhatian wanita (kekasihnya), sebagaimana halnya dilakukan dengan instrumen suling. Kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi di Bali saja, melainkan juga terjadi pada beberapa daerah yang lain seperti; Eropa, Laos (pada suku Hmong ), dan lain – lainnya. Hanya saja dengan adanya parkembangan dunia yang sangat pesat dewasa ini, kebiasaan untuk menarik perhatian wanita dengan menggunakan genggong semakin jarang kita jumpai.

 

2.2  Proses Pembuatan Genggong

Proses Pembuatan Genggong, bahan yang diperlukan untuk membuat Genggong adalah sebuah “papan pupung” kering dan benang. ”Papan pupung” ialah kulit pelapah daun enau yang sudah tua (kering) yang dalam bahasa Balinya disebut “papah jaka”.

Di dalam memilih atau menentukan bahan Genggong yang baik bagi seniman Genggong di Desa Batuan telah mempunyai suatu kepercayaan tertentu yang sering dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas bahan Genggong yang akan dikerjakan. Dikatakan bahwa bahan Genggong yang baik, apabila pelapah enau itu sudah cukup tua (kalau dapat biar daunnya supaya kering di pohon). Jika ada pelapah yang sudah menunjukkan tanda-tanda suara nyaring ketika bergesekan satu pelapah dengan pelapah yang lainnya, itulah bahan Genggong yang baik.

Memang secara logika hal itu banyak menunjukan kebenaran. Sebab kalau pelapah enau itu belum cukup umur, jelas ia masih banyak mengandung kadar air. Sudah tentu suara yang dihasilkan tidak akan nyaring dan kalau dikeringkan kadang-kadang ia akan “kisut” (mengkerut).

Untuk mengerjakan bahan-bahan tersebut sehingga menjadi Genggong, diperlukan alat-alat sebagai berikut:

  1. Gergaji, belakas dan timpas.
  2. Pahat pemukul dengan segala ukuran.
  3. Pengutik, pusut dan pangot dengan segala ukuran.

Proses pembuatan Genggong tersebut cukup rumit serta sulit menjelaskannya. Secara singkat dapat diuraikan yaitu pelapah daun enau itu diiris-iris memanjang hingga menjadi papan pupug yang tipis, kemudian dipotong-potong dengan panjang kira-kira 20 cm dan lebar 212 cm, lalu proses dengan beberapa tahapan yang rumit dengan teknik tertentu hingga berbentuk sebuah Genggong.

Didalam membuat Genggong, harus mempunyai pengalaman, ketekunan dan kesabaran yang baik dibidang itu, karena resikonya kalau si pembuat Genggong kurang sabar dan kurang hati-hati akan sering berakibat patah. Untuk menghindari kegagalan tersebut seorang seniman pembuat Genggong memerlukan suasana yang tenang dalam mengerjakannya. Karena sulit dan rumitnya membuat Genggong, di Desa Batuan kini hanya ada beberapa tukang pembuat Genggong.

 

2.3  Teknik Bermain Genggong

 

Yang dimaksud teknik bermain Genggong disini yaitu  sebagaimana cara “menabuh” alat itu sehingga menimbulkan bunyi sesuai dengan kondisi alat dan kehendak serta kemampuan pemainnya, mengingat instrument ini mempunyai cara permainan yang unik.

Ketika hal ini penulis coba selidiki, tidak seorang pemain Genggong pun dapat memberikan metode atau definisi yang pasti bagaimana cara bermain Genggong. Menurut mereka, didalam belajar bermain Genggong mereka tidak dibekali dengan metode tertentu. Karena sering mendengar dan melihat orang bermain Genggong, mereka coba-coba meniru, karena tekun dan berbakat, akhirnya bias.

Apa yang diuraikan di atas ada benarnya juga. Mereka, mereka para pemain Genggong di Desa Batuan, belajar bermain Genggong tidak secara mengkhusus. Lingkungan pengaruh senilah yang memudahkan mereka mewarisi nilai-nilai yang ada disekelilingnya.

Menurut Pande Wayan Pageh, teknik bermain Genggong menurutnya adalah sebagai berikut:

  1. Buka mulut sesuai dengan lebar Genggong yang dimainkan.
  2. Tempelkan genggong pada mulut yang terbuka tadi secara horizontal. Tangan kanan memainkan tali,sementara tangan kiri memegang alatnya.

Keluarkan nafas secara “ngangkihin”, mainkan bentuk mulut maka lidah genggong itu akan bergetar menimbulkan bunyi yang khas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Dari data yang penulis dapatkan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sudah kita warisi sejak zaman yang lampau. Sebagai instrumen musik tua, Genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana.
  2. Proses Pembuatan Genggong, bahan yang diperlukan untuk membuat Genggong adalah sebuah “papan pupung” kering dan benang. ”Papan pupung” ialah kulit pelapah daun enau yang sudah tua (kering) yang dalam bahasa Balinya disebut “papah jaka”.
  3. teknik bermain Genggong disini yaitu  sebagaimana cara “menabuh” alat itu sehingga menimbulkan bunyi sesuai dengan kondisi alat dan kehendak serta kemampuan pemainnya, mengingat instrument ini mempunyai cara permainan yang unik.

3.2  Saran

Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Genggong harus selalu dilestarikan karena genggong adalah salah satu musik yang diwarikan oleh nenek moyang kita.
  2. Sebaiknya para orang tua mewarikan  kepada para pemuda proses bembuatan genggong dan teknik bermain genggong.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Suartanaya, Kadek. 1985. Genggong di Desa Batuan. Akademi Seni Tari Indonesia. Denpasar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

Hasil Pengukuran nada-nada Gamelan Bali

Posted in Tak Berkategori on September 20, 2012 – 12:26 pm
Comments (0)

Hasil pengukuran nada-nada gamelan Bali

Tulisan I Wayan Rai tentang gamelan Smar pagulingan, jarak seperti ini terdapat pada sebagian instrumen Smar Pagulingan di banjar Abian Kapas yang mempunyai interval pendek ada yang mempunyai interval 133 dan 134 cent, sedangkan untuk jarak interval panjang berjarak 252 sampai 264,5 cent (I Wayan Rai S., Peranan Sruti Dalam Pepatun Gamelan Semar Pagulingan Saih Pitu, Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1998., p. 14 – 19). Dapat  ditarik kesimpulan bahwa interval 265 sampai 267 bisa di bagi dua dengan interval nada sebesar 132,5 – 133,5.

Susunan nada dan interval dalam gamelan Gong Kebyar Penglatan, yang diambil adalah instrumen bagian pengumbang, antara lain jegogan, jublag, ugal, pemade, kantilan. Dalam gamelan Bali dikenal dengan istilah ngumbang dan ngisep (pengumbang, dan pengisep) Untuk melihat perbedaan nada antara pengumbang dan pengisep di tampilkan seperti dalam instrumen jegogan sedangkan untuk instrumen lainnya akan di tabelarisasi hanya pengumbangnya saja. Adapun susunan nada-nada berserta intervalnya adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Hasil pengukuran instrumen Jegogan:( I Wayan Rai S. dkk., “Keragaman Laras (Tuning System) Gamelan Gong Kebyar” laporan penelitian Hibah Bersaing, Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1999, p. 21)

Pengumbang

pengisep

Nada

Tuner

interval

Tuner

interval

A A-37 A#-25
286 320
I C-51 C+45
211 235
O D-41 D#-20
177 135
E D#+36 E+15
392 376
U G+28 G#-9
136 134
A A-36 A+25
391 379
i C#-45 C#+4

Tabel 2. Hasil pengukuran Instrumen Jublag dan Ugal(I Wayan Rai S. dkk., “Keragaman Laras (Tuning System) Gamelan Gong Kebyar” laporan penelitian Hibah Bersaing, Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1999, p. 21)

Jublag

Pengumbang

Ugal

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

U G+31 O D-36
134 179
A A-35 E D#+43
391 388
I C#-44 U G-31
132 135
O D-12 A A-34
174 391
E E-12 I C#-43
395 134
U G+57 O D-34
129 175
a A-14 E E-34

Tabel 3. Hasil pengukuran Instrumen Pemade dan Kantilan (I Wayan Rai S. dkk., “Keragaman Laras (Tuning System) Gamelan Gong Kebyar” laporan penelitian Hibah Bersaing, Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1999, p. 21)

Pemade

Pengumbang

Kantilan

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

O D-9 O D+16.5
174.5 176
E E-34.5 E E-7.5
392.5 387
U G+58 U G#-20
128 125
A A-14 A A+5
387 472
I C#-27 I C#-12.5
143 147.5
O D+16 O D+35
175 160
E E-9 E E-50
387 395.5
U G#-22 U G#-9.5
125 118
A A+3 A A+17.5
383 411
I C#-13.5 I C#+29.5

Tabel 4. Rata-rata interval gamelan Gong Kebyar pada setiap oktaf

Oktaf

Nada

I – O O – E E – U U – A A – i I – i
3 21.75 166 375.58 145.09 384.25 128.17
4 130.98 181.15 383.3 125.85 388.05 1209.33
5 138.81 176.69 382.5 12.76 379.81 1204.51
6 148.44 219.25 322.25 124 412.75 1237.69

Tabel 5. Hasil pengukuran instrument Saron Gender pada Gamelan Gender wayang

Pemade

Pengumbang

Kantilan

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

E F-30 E F+30
250 230
U G+20 U G#-40
270 250
A A#-10 A A#+10
240 240
I C+30 I C#-50
260 270
O D#-10 O D#+20
250 210
E F+40 E F+30
220 290
U G#-40 U G#+20
260 230
A A#+20 A B-50
230 230
I C#-50 I C#-30
220 310
O D#-30 O E-20

Tabel 6. Hasil pengukuran instrument pada Angklung Bali Utara

Kantil

Pengumbang

Pemade

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

I F-20 I E+20
O G+30 O G-10
E A+25 E A-5
U C-20 U B+20
A D+35 A D+10
I F-10 I F-30

Tabel 7. Hasil pengukuran instrument Jegogan pada Gamelan Angklung Bali Utara

Jegogan

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

I E+30
O G-20
E A+10
U B+20
A D+10
I F-30

Tabel 8. Hasil Pengukuran Instrumen Jegogan gamelan Semar Pagulingan

jegogan

Pengumbang

jegogan

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

1 C#+8.5 1 C#+8.5
127.5 127.5
2 D+36 2 D+36
217 217
3 F-47 3 F-47
227.5 227. 5
4 G-19.5 4 G-19.5
141 141
5 G#-32.5 5 G#-32.5
146 146
6 A#-32.5 6 A#-32.5
167.5 167.5
7 B+35 7 B+35

Tabel 9. Hasil Pengukuran Instrumen Jublag gamelan Semar Pagulingan

Jublag

Pengumbang

Jublag

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

1 C#+31 1 C#+31
136 136
2 D#-33 2 D# 33
167 167
3 E+34 3 E+34
284 284
4 G+18 4 G+18
123 123
5 G#+41 5 G#+41
122 122
6 A#-37 .5 6 A#-37
183 183.5
7 B+46.5 7 B+46.5

Tabel 10. Hasil Pengukuran Instrumen Gender rambat gamelan Semar Pagulingan

Gender Rambat

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

1 C#+21.5
143
2 D#-35.5

161

3 E+25.5
295.5
4 G+21
121.5
5 G#+42.5
145
6 A#-12.5
177.5
7 C-35
202.5
8 D-32.5
122
9 D#-10.5
185
10 F-25.5
234
11 G+8.5
132.5
12 G#-41
149.5
13 A#-10.5
221
14 C+10.5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 11. Hasil Pengukuran Instrumen Pemade gamelan Semar Pagulingan

Pemade 1 dan 2

Pengumbang

Pemade 3 dan 4

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

1 D-12 1 D-31
100.5 119
2 D#-11.5 2 D#-12
182 183
3 F-29.5 3 F-29
212.5 211.5
4 G-17 4 G-17.5
158 159
5 G#+41 5 G#-41.5
146 160.5
6 A#-13 6 A#+2
224 209
7 C+11 7 C+11

Tabel 12. Hasil Pengukuran Instrumen Kantilan gamelan Semar Pagulingan

Kantilan 1 dan 2

Pengumbang

Kantilan 3 dan 4

Pengumbang

Nada

Tuner

interval

Nada

Tuner

interval

1 D-5 1 D-5.5
127.5 124.5
2 D#+22.5 2 D#+19
168.5 172.5
3 F-9 3 F-8.5
279 284
4 G#-30 4 G#24.5
141 135
5 A+11 5 A+10.5
103.5 104.5
6 A#14.5 6 A#+15
197.5 203
7 C+12 7 C+18

Art and Beautiful

Posted in Tulisan on September 12, 2012 – 9:36 am
Comments (0)

Seni dan Keindahan

filsafat

Bidang pengetahuan yang senantiasa bertanya dan mencoba menjawab persoalan yang sangat menarik perhatian manusia sejak dahulu hingga sekarang

The Liang Gie

Enam jenis persoalan falsafi:

1.            Persoalan metafisis

2.            Persoalan epistemologi

3.            Persoalan Metodologis

4.            Persoalan logis

5.            Persoalan etis

6.            Persoalan estetika

ESTETIKA

ž            Berasal dari bahasa Yunani “aisthetika” yang berarti hal-hal yang dapat diserap oleh panca indera oleh karena itu sering diartikan sebagai persepsi indera (sense of perception)

ž            Pertama kali diungkapkan oleh filsuf Jerman, Alexander Baumgarten (1714-1762)

ž            Baumgarten memberikan tekanan pada pengalaman seni sebagai suatu sarana untuk mengetahui

ž            Estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang disebut keindahan.

 

ž            Secara ringkas hal-hal yang indah dapat digolongkan menjadi dua, yaitu keindahan alami yang tidak dibuat oleh manusia dan keindahan yang dibuat oleh manusia yang secara umum disebut sebagai barang kesenian.

ž            Pada umumnya apa yang disebut indah adalah perasaan di jiwa yang dapat menimbulkan rasa senang, rasa puas, rasa aman, rasa nyaman, bahagia, dan perasaan itu sangat kuat sehingga penikmat merasa terpaku, terharu, terpesona, serta menimbulkan keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu, walaupun sudah dinikmati berkali-kali (Djelantik, 1999:15).

 

Persoalan estetika pada pokoknya meliputi empat hal:

1.            Nilai estetika (hal-hal yang terkandung dalam karya seni)

2.            Pengalaman estetis

3.            Seniman

4.            Karya seni

 

ž            Djelantik menegaskan, bahwa semua benda atau peristiwa mengandung tiga unsur pokok, yakni:

ž            (1) wujud atau rupa – appearance -,

ž            (2) bobot atau isi – content, substance -,

ž            (3) penampilan atau penyajian – presentation – (Djelantik, 1999:15).

 

Di lain pihak Beardsley seorang ahli estetika abad ke-20, menyatakan ada tiga unsur yang menjadi sifat-sifat membuat baik atau indah sesuatu karya seni yang diciptakan seniman, yaitu:

(1)            Kesatuan – unity – berarti karya seni tersusun secara sempurna bentuknya,

(2)            Kerumitan – complexcity – berarti karya dengan variasi atau unsur-unsur yang saling berlawanan atau mengandung perbedaan secara halus, sehingga mewujudkan kesatuan dalam keragaman – unity in variety -,

(3)            Kesungguhan – intensity – suatu karya seni yang baik harus memiliki suatu kualitas tertentu yang menonjol yang sungguh-sungguh intensif.