CV SAYA

Curriculum Vitae

 

Data Pribadi

Nama                                                             : I Gede Satria Langgeng Asmara

Tempat, Tanggal lahir                                : Denpasar, 03 Desember 1993;

Agama                                                           : Hindu;

Alamat rumah                                             : Jl. Subita, Gang Tigaron, No. 20

Nomer telepon                                            : 081916563378 (mobile phone);

Email                                                            : [email protected]

 

Riwayat Pendidikan

Ø  Pendidikan Formal:

  • 2010 sampai dengan 2012      :   SMA SLB A Negeri Denpasar;
  • 2007 sampai dengan 2009      :   SLTP SLB A Negeri Denpasar;
  • 1999 sampai dengan 2006      :   SD SLB A Negeri Denpasar;

Ø  Pendidikan Non Formal:

  • 2011     : Kursus Bahasa Inggris di SLB B Pembina Jimbaran bersama English Club Jakarta

Riwayat Organisasi

  • 2009 sampai dengan sekarang                  : Anggota Grup Sanggar Seni Musikalitas Penyandang Disabilitas Denpasar

 

Pengalaman

  • 2008 sampai dengan 2009                       : Juara lomba memainkan alat music tingkat provinsi

 

Keahlian Bermain Musik

  • Keyboard, Gitar, dan Drum.

Demikian Curriculum Vitae ini saya buat dengan sebenar-benarnya, semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Hormat saya,

Denpasar, 10 Maret 2014

 

I Gede Satria Langgeng Asmara

 

 

 

BANJAR

Nama: I Gede Satria Langgeng Asmara

Nim: 201312006

SEKILAS TENTANG BANJAR

BANJAR ROOBAN DESA TULIKUP GIANYAR

Banjar adalah suatu komunitas desa, dimana para warga selalu melakukan kegiatan sangkep atau rapat desa. Banjar juga sering digunakan sebagai sarana komunikasi antar para pemuda yang terkumpul dalam sebuah kelompok khusus.

Khusus untuk di Banjar Rooban ini, terbagi atas beberapa kelompok, mulai dari kelompok keluarga, sampai kelompok adat desa. Banjar ini dipimpin oleh seorang kelihan banjar/ketua banjar yang mengatur seluruh kelompok banjar tersebut. Kelihan banjar juga sering melakukan sangkep/musyawarah bersama para warga. Banjar memiliki satu pura yang harus disungsung atau dipelihara. Pura tersebut nantinya akan dikelola untuk mempererat hubungan manusia khususnya para warga dengan Sang Pencipta.

Adapun kelompok-kelompok yang ada di banjar ini adalah:

 

  1. Tempekan.

Tempekan atau kelompok keluarga merupakan pembagian khusus atas tanah yang ditempati oleh masing-masing keluarga. Tempekan-tempekan tersebut dibagi menjadi 4, antara lain: Tempekan Kawan, Tempekan Jero Agung, Tempekan Kaja Kangin, dan Tempekan Kaja Kauh. Di masing masing tempekan ini juga dipimpin oleh sinoman-sinoman.

 

  1. Seka Gong.

Seka gong merupakan kelompok orkes gamelan yang ada di banjar. Biasanya kelompok ini bertugas mengiringi setiap upacara yang ada di pura maupun di luar pura. Dalam kelompok ini, terbagi menjadi 3, yaitu: Seka Gong Alit/Teruna, Seka Gong Istri/Wanita, dan Seka Gong Lingsir (sebagian besar kelompoknya adalah para pria dewasa).

 

  1. Seka Teruna/Teruni.

Kelompok ini adalah wadah para pemuda maupun anak-anak yang sudah beranjak remaja. Kegiatan mereka biasanya adalah membantu kelompok-kelompok yang lebih tinggi dalam melakukan kegiatan banjar. Seperti: Gotong royong, sangkep atau musyawarah, kegiatan ngayah di pura, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Seka Teruna Teruni ini juga sering melakukan kegiatan tirtayatra ke berbagai pura suci yang ada di bali setiap tahunnya.

 

Adapun hubungan para warga dengan banjar antara lain: mempererat tali persaudaraan antar keluarga, menjalin komunikasi yang baik, membangun pemikiran-pemikiran positif di setiap keluarga, dan menjadikan banjar sebagai tempat bertukar fikiran.

Selain itu, banjar juga memiliki kegunaan yang harus dipertahankan yaitu: Mempertahankan struktur bangunan khas Bali yang ada di banjar.

Banjar juga membantu setiap keluarga di masing-masing kelompok dalam melakukan kegiatan kemanusiaan seperti: ngaben, potong gigi, ngeroras, dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

Di hari besar keagamaan, banjar juga sering mengadakan kegiatan Dana Punia. Kegiatan ini sering dilakukan, apabila akan dipergunakan untuk perbaikan pura maupun bangunan yang ada di banjar. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga untuk menyumbangkan donasinya ke dalam kotak amal yang ada di setiap pura.

Banjar juga mewakili seluruh petugas keamanan yang ada. Pecalang adalah salah satu petugas keamanan yang wajib ada di setiap banjar. Kelompok ini bertugas ketika ada upacara di pura, pengawalan pawai ogoh-ogoh di saat pengeripikan, dan menjaga keamanan ketika perayaan nyepi.

Selain itu, pecalang juga mempunyai tugas untuk menjaga kedamaian antar warga, agar tidak terjadi perselisihan saat diadakannya musyawarah. Tak ketinggalan juga, banjar disungsung oleh bendesa adat atau kepala desa. Tugasnya di banjar adalah: memberikan tata tertib setiap petugas banjar dan menjadi penanggung jawab atas seluruh komponen yang ada di banjar. Selain kegiatan-kegiatan di atas, banjar juga menjadi tempat prosesi upacara adat. Khusus di Banjar Rooban ini, banjar sudah setiap tahun menjadi tempat upacara pecaruan tawur kesanga dalam rangka hari raya nyepi, dan tempat berkumpulnya para komponen penggarap ogoh-ogoh.

 

Demikian sekilas tentang banjar di Desa Tulikup Gianyar.

sekilas profil saya

CV SAYA

                        Nama:   I Gede Satria Langgeng Asmara.

Nim:   201312006

 

Pengalaman:

 

Saya menderita tunanetra sejak lahir. Saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara.

Saya sudah menyukai music sejak saya berumur 2 tahun. Awalnya, saya mendengar suara piano mainan yang sangat bagus dari sebuah kereta bayi. Dengan rasa keingin tahuan saya, saya pun mencoba mendekati suara itu. Kemudian, saya mencoba menekan semua tombol nada yang ada di atas kereta itu. Saya sangat kagum saat itu, karena alat yang saya mainkan secara tiba-tiba menjadi idaman saya setiap hari.

Ketika usia saya beranjak 4 tahun, saya mulai dikenalkan dengan piano yang sebenarnya. Awalnya, saya mengira bahwa ini sama dengan yang ada di kereta yang dulu. Setelah saya mencobanya, ternyata ini berbeda dengan yang ada di kereta bayi yang pernah saya mainkan. Saya merasa, ini lebih asyik dimainkan.

Dari situlah hobi bermain keyboard saya muncul. Saya anggap Keyboard adalah teman saya saat itu.

Hari, bulan, dan tahun berganti. Diceritakan ketika saya sudah kelas 6 SD, Saya ditunjuk untuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba bermain alat music tingkat provinsi. Saya menyanggupi ajakan guru saya itu. Kemudian, saya mulai latihan dengan baik.

Ketika hari yang ditentukan tiba, saya mulai mempersiapkan mental dengan baik. Saya tak lupa berdoa, agar selalu diberi kemudahan olehNya.

Tibalah saatnya saya bermain. Saya pun maju dengan penuh harap. Ketika jari-jari saya mulai menari di atas toots, semua penonton dan teman-teman bersorak mendukung saya. Saat itu juga, semangat saya mulai tumbuh dan berkobar.

Permainan saya pun selesai, saya pun segera turun dari panggung.

Waktu pembacaan pengumuman telah tiba. Saya dan teman-teman menunggu hasil dengan penuh harap. Saya sangat kaget dan bangga, karena saat itu saya terpilih sebagai juara, dan berhak mewakili Bali ke tingkat nasional di Bandung. Semua guru dan teman-teman sangat bangga sekali saat itu.

Pada saat perlombaan di Bandung, saya belum beruntung. Saya hanya mendapatkan sertivikat penghargaan dan medali sebagai peserta yang telah mengikuti lomba.

Namun saya tetap bersyukur, karena dengan itu, saya mendapat pengalaman lomba di luar Bali. Selain lomba bermain alat music, saya juga pernah mengikuti lomba mengarang dan bercerita. Hal yang sama saya dapatkan. Hanya pengalaman yang dapat saya temukan, namun, saya belum menyerah. Masih ada waktu untuk mengejar.

Saya sangat menyukai hobi yang saya miliki, karena dari hobi, saya dapat mencari inspirasi dalam bermusik.

Ketika saya sudah beranjak dewasa dan sudah duduk di kelas 3 SMA, saya mulai terjun ke dunia kerja yang sesuai dengan hobi saya.

Pada tahun 2010 yang lalu, saya ditunjuk oleh grup untuk mengikuti lomba band di salah satu stasiun radio nasional yang ada di Bali.

Pada saat kami mendaftar, kami sangat kaget, karena saat itu, lawan-lawan kami bukan dari teman-teman penyandang disabilitas netra seperti kami.

Walaupun demikian, kami tidak akan menyerah begitu saja. Saya sebagai wakil dari kelompok band sangat yakin dan percaya, kalau kelompok saya bisa menjadi yang terbaik walaupun tidak menjadi juara.

Perlombaan pun dimulai. Kami menunggu giliran dengan sabar. Kami juga tak lupa memohon kepada Tuhan, agar dilancarkan dan diberi kemudahan.

Giliran untuk kami pun tiba. Semua teman-teman mulai bersemangat. Kami memainkan beberapa lagu yang kami aransir ulang. Semua juri terpukau melihat kami. Dan kami mendapat sambutan yang baik dari para juri.

Namun, kami sangat agak kecewa, karena pengumuman hasil lomba akan diselenggarakan keesokan harinya.

Hari yang kami nanti-nantikan tiba. Kami segera berangkat ke tempat lomba dengan semangat serta penuh pengharapan.

Singkat cerita, kami sampai di tempat lomba dengan selamat.

Akhirnya, pengumuman pun dibacakan.

Kami semula tidak percaya dengan yang kami dengar. Kami saat itu mendapatkan juara pertama dari total 40 peserta lomba.

Berkat usaha saya dan teman-teman, akhirnya saya pun memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan music.

Itulah yang dapat saya ceritakan untuk pengalaman ini.