0

Perkembangan Serta Fungsi Tari Telek Desa Jumpai Klungkung

Posted by arthakusuma on Jun 6, 2018 in Tak Berkategori

Perkembangan tari Telek pada saat ini masih menunjukkan eksistensinya khususnya di daerah Jumpai, walaupun di daerah lain di Bali tidak banyak yang mengetahui tentang tari Telek. Tari Telek masih mengalami eksistensi yang baik di daerahnya, ini disebabkan tari Telek adalah tarian sakral daerah Desa Jumpai yang terkenal dengan mistisnya dan harus dipentaskan setiap 15 hari sekali atau tepat pada rahinan Kajeng Kliwon, maka dari itu tarian ini masih tetap ada hingga saat ini, walaupun tidak banyak yang mengetahui.

Tarian  ini tidak diketahui kapan munculnya, tarian ini ditarikan oleh anak-anak, tarian ini setiap dipentaskan selalu disandingkan dengan rangda atau barong. Karena dipercaya menolak bala sampai saat ini desa Jumpai rutin mementaskan tarian tersebut. Bagi warga khususnya warga Bali yang tidak mengetahui tentang tari Telek, semoga dengan makalah ini bisa memberi atau menambah wawasan nya mengenai tarian sakral yang ada di Bali seperti contohnya tari Telek.

Fungsi Tari

Tari Telek merupakan salah satu tari wali atau tari sakral. Tarian ini biasa ditarikan setiap hari rahinan kejng kliwon khususnya hanya di Desa Jumpai, tarian ini mengandung aura mistis yang sangat kuat yang juga diyakini atau dipercaya oleh warga setempat sebagai penolak bala dan jika tidak dipentaskan secara rutin akan menimbulkan bencana atau menyebabkan keadaan sekitar menjadi kacau dan bisa juga menjadi penyebab datangnya wabah penyakit.

Tarian ini juga sekaligus sebagai tari hiburan karena setiap tarian ini dipentaskan, dipastikan seluruh warga desa jumpai akan menyaksikan tarian ini, setelah atau sebelum melakukan persembahyangan.

 
0

Sejarah Tari Telek Desa Jumpai Klungkung

Posted by arthakusuma on Jun 6, 2018 in Tak Berkategori

Tari Telek yang merupakan salah satu jenis tari  tradisional, dimana asal usulnya tidak diketahui secara pasti, hal ini disebabkan oleh kurangnya data yang mengungkapkan asal mula tarian ini. Namun saat ini baru Tari Telek Anak Anak di Desa Jumpai yang di ketahui sejarah terciptanya tarian.  Tetapi  informasi yang di dapat masih akan dibandingkan dengan sumber-sumber literatur yang ada kaitannya dengan Tari Telek di Bali. Yang mana sejarah dari Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai itu sendiri adalah di awali dari penemuan kayu yang terdampar (kampih) oleh  I Sweca alias Nang Turun di pantai dan sudah berbentuk calonan (sebuah kayu yang belum berwujud) Rangda. Sambil membawa pahat dan temutik (pisau peraut kayu), Nang Turun membawa kayu tersebut sambil menggembala sapi. Ketika itu, cuaca sangat panas dan ia pun berteduh di Pura Dalem Kekeran. Semasih ia sadar, ia mendengar suara “tempe kai” (tirulah aku) dan datang suatu bayangan berwujud Rangda. Dengan segera ia meniru bayangan tersebut, baru selesai wajahnya dan belum bertelinga, bayangan Rangda itu sudah menghilang, sehingga perwujudan Rangda sampai sekarang tidak ada telinganya. Oleh karena tapel tersebut dianggap terlalu besar setelah selesai dibuat oleh Nang Turun dan memiliki kekuatan  magis  yang terlalu besar (misalnya saat dipentaskan/mesolah aura magis dari tapel tersebut menimbulkan pagar-pagar rumah masyarakat di sekitar tempat pementasan roboh), atas petunjuk seorang yang kesurupan dibuatlah tapel yang baru dengan meminta ijin pada penunggu pohon Pole ke setra Akah dan membawa sesajen. Namun, sebelum itu, pada suatu masa di Desa Jumpai mengalami wabah penyakit hingga rakyat yang berjumlah 800 orang tinggal 300 orang. Karena banyak yang mati dan ada pula yang meninggalkan desa mengungsi ke Badung, Seseh, dan Semawang, banjar menjadi menciut dari 5 banjar menjadi 2 banjar. Saat itu, masyarakat Desa Jumpai menganggap kejadian tersebut diakibatkan oleh daya magis yang ditimbulkan oleh Rangda, Barong, dan Telek yang setiap mesolah menggunakan tapel yang dibuat oleh Nang Turun dari kayu yang ditemukan di tepi pantai. Kemudian, oleh masyarakat Desa Jumpai tapel-tapel tersebut dihanyut kembali ke pantai. Akan tetapi, tapel-tapel tersebut datang kembali diusung oleh mahkluk halus (gamang) ditempatkan di pinggir pantai lagi. Berselang beberapa hari, tapel-tapel tersebut ditemukan oleh sekelompok masyarakat Desa Jumpai di pinggir pantai. Selanjutnya, masyarakat Desa Jumpai meyakini bahwa tapel-tapel tersebut memang untuk Desa Jumpai dan masyarakat menyimpannya di Pura Dalem Penyimpenan (sampai sekarang). Oleh karena itu tapel tersebut terlalu besar daya magisnya, maka atas kesepakatan tetua-tetua di Desa Jumpai dibuatkanlah tapel baru lagi dengan fungsi yang sama, yaitu menghindari Desa Jumpai dari wabah penyakit. Adapun yang membuat tapel-tapel tersebut (Barong, Rangda, dan Telek) bernama Kaki Patik bersama Tjokorda Puri Satria Kanginan. Upacara pamlaspas dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Griya Batu Aji yang berasal dari Puri Satria dan diselenggarakan di Desa Akah. Pada saat itu pula, selesai dibuat tapel Barong, Rangda, dan Telek secara bersama untuk di Desa Akah dan untuk di Desa Muncan dengan warna tapel yang berbeda-beda (Desa Akah warna tapelnya putih, Desa Muncan berwarna hitam, dan Desa Jumpai berwarna Merah), sehingga kini Bhatara Gde di Desa Akah dan di Desa Jumpai dianggap mesemeton (bersaudara).

Seperti yang telah diuraikan di atas, maka jelaslah bagaimana proses terjadinya Telek. Akan tetapi, dalam penjelasan tersebut tidak disebutkan kapan peristiwa itu terjadi. Demikian pula  halnya dengan mula pertama timbulnya Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Informasi yang dapat dikumpulkan selama penelitian, bahwa Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai sudah ada begitu saja atau sudah diwarisi secara turun temurun. Tetapi, informasi yang diinginkan adalah sedapat mungkin diperoleh data menyangkut perkembangan tarian ini. I Wayan Marpa mengatakan, bahwa Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai diperkirakan mulai berkembang sekitar tahun 1935 sampai sekarang. Tarian ini dipentaskan 15 hari sekali, yaitu setiap rahinan Kajeng Kliwon, dan setiap ada upacara piodalan di pura yang ada di lingkungan Desa Jumpai. Tari Telek ini biasanya dibawakan oleh 4 orang penari dan penarinya boleh laki-laki ataupun perempuan, yang terpenting masih anak-anak. Jenis tari wali ini merupakan warisan leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan di lingkungan setempat. Warga setempat meyakini pementasan Telek sebagai sarana untuk memohon keselamatan dunia, khususnya di wilayah desa adat setempat. Jika Tari Telek tidak dipentaskan oleh masyarakat setempat, dipercaya akan dapat mengundang datangnya merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak), sasab (wabah penyakit pada manusia), serta marabahaya lainnya yang dapat mengacaukan keharmonisasian dunia. Untuk menghindari bencana yang menimpa desa tersebut, maka dengan kesepakatan masyarakat Desa Jumpai diadakanlah pementasan Tari Telek Anak-Anak dengan Barong Ket yang merupakan sesuhunan Desa Jumpai. Sejak itu kematian semakin berkurang. Pementasan Telek di Desa Jumpai sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus hingga tragedi G-30-S/PKI pecah. Dua tragedi besar itu sempat menghancurkan kedamaian masyarakat di seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian tersebut, para tetua di Desa Jumpai sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala, salah satunya menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat. Desa Jumpai sekarang, terbagi menjadi 2 banjar, yaitu Banjar Kangin dan Banjar Kawan. Dua banjar tersebut secara bergiliran mementaskan Tari Telek, namun di masing-masing  banjar  memiliki   tapel  Telek dan para penari Telek. Setiap kali Telek dipentaskan, seluruh warga dipastikan menyaksikannya sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Tari Telek ini dibawakan oleh empat penari  yang boleh ditarikan oleh laki-laki ataupun wanita yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna bunga (akil balik kira-kira berusia 6 tahun sampai 12 tahun). Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi Tabuh Bebarongan. Baik di Banjar Kangin maupun Banjar Kawan, tarian ini tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa dirangkaikan dengan Tari Jauk, Tari Topeng Penamprat, Bhatara Gede (Barong), Rarung dan Bhatara Lingsir (Rangda). Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu-kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke dada yang bersangkutan maupun ke dada Bhatara Lingsir.

Adapun cerita yang dipergunakan dalam pertunjukan ini, sebagai berikut. Diceritakan bahwa Bhatari Giri Putri turun ke bumi untuk mencari air susu lembu, untuk suaminya, Bhatara Çiwa, yang berpura-pura sakit. Bhatara Çiwa ingin menguji keteguhan hati istrinya. Di bumi Bhatari Giri Putri bertemu dengan seorang pengembala lembu yang sedang memerah susu, lalu beliau mendekatinya dan meminta air susu lembunya untuk obat suaminya. Si pengembala akan memberinya apabila Bhatara Giri Putri mau membalas cinta asmaranya dan Bhatara Giri Putri menyetujuinya. Sebenarya si pengembala tersebut adalah Bhatara Çiwa sendiri yang ingin menguji kesetiaan istrinya. Setelah air susu lembu diperolehnya, lalu dihaturkan kepada Bhatara Çiwa, tetapi Bhatara Çiwa ingin menguji air susu tersebut dengan memasang nujumnya yang dilakukan oleh Bhatara Gana. Ternyata air susu tersebut didapat dengan jalan mengorbankan dirinya (berbuat serong). Seketika itu juga Bhatara Çiwa marah dan membakar lontar nujumnya. Bhatara Çiwa lalu mengutuknya menjadi Durga dan tinggal sebagai penghuni kuburan yang bernama Setra Ganda Mayu dengan hambanya yang bernama Kalika. Sang Hyang Kumara yang masih kecil ditinggal oleh ibunya, Bhatara Giri Putri, menangis kehausan. Bhatara Çiwa lalu mengutus Sang Hyang Tiga untuk mencari ibunya ke bumi. Pertama, turunlah Sang Hyang Wisnu dengan berubah menjadi Telek menyebar ke empat penjuru, tetapi tidak menemukannya. Kedua, turunlah Sang Hyang Brahma yang berubah bentuk menjadi Jauk Penamprat yang juga tidak menemukannya. Terakhir, turunlah Sang Hyang Iswara yang berbentuk Banaspati Raja (Barong). Karena dekat dengan Setra Ganda Mayu, maka beliau melihat Kalika sedang bersemedi. Kemudian Kalika dikoyak-koyak maka timbul marahnya, dan terjadilah perang antara Kalika dengan Barong (Bhatara Iswara). Akhirnya Kalika kalah, lari menuju Bhatara Durga untuk melaporkannya. Pada saat itu Durga berbentuk Rangda, sehingga terjadilah pertempuran antara Barong dengan Rangda dan kemenangan ada pada Rangda.

 
0

Rengganis, Cekepung, Genjek

Posted by arthakusuma on Jun 6, 2018 in Tak Berkategori
  1. Rengganis

Dari namanya dapat dibedakan menjadi dua yaitu reng yang artinya gema/suara dan ganis yang artinya manis. Kesenian ini sampai saat ini masih bisa dijumpai di Bali Utara. Dari bentuknya, rengganis ini memiliki kemiripan dengan kesenian yang lainnya. Kesenian ini termasuk dalam Karawitan olah vokal yang dimana setiap peserta rengganis masing-masing membawa pesan atau bagian masing-masing. Di dalam rengganis juga terdapat orang yang menyanyikan Kidungan dan Kekawin.

 

  1. Cekepung

Cekepung adalah suatu kesenian kalsik yang masih ada sampai sekarang. Asal kesenian ini berasal dari Lombok. Kesenian ini memiliki kemiripan dengan kesenian Genjek. Pada awal dimulainya kesenian ini diawali dengan kekawin dengan bahasa Bali. Berselang beberapa saat cekepung pun dimulai dengan nyanyian yang saya ketahui itu adalah lagu bahasa Sasak dan diiringi dengan personil yang lainnya. Ada yang mengatakan suara ‘cak’ ada yang menirukan suara kendang, ada yang menirukan suara kempur dan kesenian ini diiringi oleh alat musik suling.

 

 

  1. Genjek

Genjek adalah salah satu kesenian olah vokal yang sangat mengandalakan keseragaman dari para pemainnya. Kesenian ini dipergunakan sebagai sarana untuk berkumpul bersama teman sambil minum tuak. Mengawali dari kesenian ini samng pemain biasanya memulai dengan bernyanyi menggunakan bahasa Bali Madya secara bersama-sama. Disaat bernyanyi, genjek ini juga diiringi oleh alat musik seperti Penting, Grantang, Suling dan Petuk. Setelah bernyanyi beberapa putaran tempo genjek semakin cepat dan para pemain menyuarakan suara genjek secara bersama-sama. Namun ada salah satu pemain yang tetap menghantarkan melodi dengan suaranya dan diiringi alat musik yang tadi disebutkan, ditambahkan dengan alat musik Kendang, Kecek, dan Gong Pulu. Dalam genjek yang membawakan melodi terkadang berjumlah dua orang tergantung tema yang dibawakan. Apabila itu termasuk dalam tema percintaan maka akan ada penyanyi perempuan pada genjek tersebut. Akan tetapi tugas si perempuan hanya bernyanyi saat awalnya saja.

 
0

Ulasan Buku Etnomusikologi Rahayu Supanggah (1995) BAB 2

Posted by arthakusuma on Jun 6, 2018 in Tak Berkategori

Pada buku etnomusikologi yang diterbitkan oleh Rahayu Supanggah (1995) akan membahas bab 2 yang ditulis oleh George List dengan judul Etnomusikologi: Definisi dalam Disiplinnya. Adapun pada paragraf pertama dimana Jaap Kunst menciptakan istilah baru yaitu etnomusikologi karena dia tidak puas dengan isitilah yang dulunya bernama musikologi komparatif. Sejak saat itu pun sebutan etnomusikologi berkembang dengan begitu cepat dan studi etnomusikologi ini juga memasukkan aspek-aspek sosiologis yang terdapat di dalam musik. Studi ini juga menggunakan metode-metode yang dapat digunakan yang berasal dari teori kedisiplinan yang dapat dijumpai dalam seni. George List mengutarakan bahwa etnomusikologi tidak cukup hanya dengan mendefinisikannya sebagai kegiatan interdisipliner ilmu. Dan dapat juga dijelaskan bahwa etnomusikologi juga memperlihatkan keterbatasan di dalam lapangan yang menjadi perhatiannya. Pada buku juga membahas tentang penyajian musik yang dianggap sama tetapi ternyata mempunyai perbedaan-perbedaan dalam beberapa cara seperti karya Mozart serta nyanyian yang dilagukan oleh Vedda. Adapun juga kegiatan yang terjadi pada saat bersamaan adalah penting untuk pemahaman terhadap gaya dan struktur musik. Selain itu juga ada pembahasan tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan musik, musik juga bias sebagai satu cara memecahkan masalah non musikal. Selain itu juga ada membahas tentang melodi lagu dan melodi percakapan di Thailand, adapun maksud dan tujuan tersebut dilakukan untuk menentukan nada-nada dalam bahasa member pengaruh kepada nyanyian.

Adapun beberapa hal yang menarik dan kurang menarik setelah membaca dan membuat ulasan dari buku etnomusikologi pada bab 2 yaitu dapat mengetahui teori tentang etnomusikologi definisi dalam disiplinnya, perubahan istilah musikologi komparatif menjadi etnomusikologi yang diciptakan oleh Jaap Kunst, adanya penyajian komposisi dan alat pengukur waktu yang disebut metronome, pemahaman terhadap gaya dan struktur musik, pembahasan tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan musik, membahas tentang melodi lagu dan melodi percakapan di Thailand, dan masih banyak hal-hal yang menarik lainnya. Tetapi selain banyak hal yang menarik, dapat mengetahui penyajian komposisi dan alat pengukur waktu yaitu metronome, saya juga bisa mengetahui definisi etnomusikologi dan interdisipliner yang melalui proses konsep dan penyajian yang dilakukan oleh para narasumber dan para peneliti yang melakukan penyajian karya. Ada juga beberapa hal yang masih kurang menarik menurut saya karena beberapa kata-kata atau bacaan yang masih kurang saya pahami dan dimengerti, seperti istilah-istilah kata yang masih asing ditelinga saya.

Setelah membaca buku etnomusikologi Rahayu Supanggah (1995) bab 2, saya dapat menarik kesimpulan yaitu dimana Jaap Kunst menciptakan istilah baru yang bernama etnomusikologi yang sebelumnya bernama musikologi komparatif. Etnomusikologi adalah studi untuk musik dari berbagai ras manusia dengan batasan musik barat dan musik popular tidak menjadi jangkauan studi ini. Etnomusikologi tidak mungkin dirangkum kedalam sebuah definisi karena pendekatan-pendekatan, ragam, filsafat, dan metode-metode yang digunakan sangat luas. Etnomusikologi tidak cukup hanya dengan mengdefinisikannya sebagai kegiatan interdisipliner ilmu. Dengan adanya juga metode-metode untuk menganalisis karya yang dilakukan para peneliti dengan komposisi yang dibuat oleh narasumber.

 
0

Estetika Kegunaan Bambu Sebagai Alat Musik

Posted by arthakusuma on Jun 5, 2018 in Tak Berkategori

Pada umumnya orang-orang pasti mengenal tumbuhan bambu, tumbuhan bambu ini sangat banyak memiliki kegunaan sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang memanfaatkannya. Khususnya di Bali bambu memiliki kegunaan untuk membuat perlengkapan upacara, yang paling identik adalah pada saat perayaan hari raya Galungan. Selain itu bambu juga digunakan sebagai bahan baku untuk alat musik tradisional. Tetapi pada jaman modern ini, musik tradisional kurang diminati oleh para generasi muda dan anak-anak, karena pada jaman modern ini lebih banyak kaum anak-anak dan remaja mungkin lebih mengenal musik modern. Sebetulnya selain alat musik modern masih banyak alat musik tradisional yang perlu kita kenal sebelum mengenal alat musik modern. Salah satu alat musik tradisional yang sebetulnya tidak kalah menariknya adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Alat musik yang terbuat dari bambu ini memiliki suara yang khas dan memiliki karakter suaranya berbeda-beda. Selain itu bambu juga sangat gampang diolah untuk dijadikan alat musik. Salah satu alat musik berbahan bambu yang memiliki karakter suara paling lembut adalah suling. Yang saya ketahui tentang suling adalah alat musik bambu paling tua yang ada dari jaman maha bharata sekitar 5.000 tahun yang lalu, suling sudah digunakan oleh Krisna Awatara sejak beliau lahir di Bumi menjelma sebagai anak berkulit biru yang mebinasakan kejahatan pada jaman tersebut. Selain suling, masih ada beberapa jenis alat musik yang berbahan dari bambu seperti, jegog jembrana dan gambang. Jegog jembrana adalah barungan gamelan yang berasal dari Bali Barat, barungan jegog jembrana ini memiliki ciri khas suara yang sangat besar, bahkan tanpa bantuan pengeras suara pun barungan ini bisa terdengar hingga jarak berkilo-kilo meter. Alat musik ini muncul di Desa Dangintukadayapada tahun 1912. Berikutnya alat musik yang berbahan dasar bamboo adalah Gambang. Gambang adalah suatu alat musik tua yang ada di Bali. Gambang dikenal sangat langka dan sakral dan hanya dimainkan untuk mengiringi ritual keagaman.

Alasan saya tertarik dengan topik Estetika Kegunaan Bambu Sebagai Alat Musik, karena bagi saya hal ini cukup menarik dan mungkin memiliki perbedaan dengan tema tugas yang dibuat oleh teman-teman saya. Saya memilih topik ini juga karena saya suka memainkan alat musik yang terbuat dari bambu dan saya juga suka mengolah bambu untuk dijadikan alat musik. Selain itu, tujuan saya adalah ingin lebih banyak mengetahui jenis-jenis alat musik tradisional yang terbuat dari bambu.

Dalam alat musik memang benar bambu adalah bahan baku yang paling gampang untuk diolah. Berbeda dengan gamelan yang menggunakan bahan krawang dan besi. Dari cara melaras nadanya, bambu bisa dilaras menggunakan benda tajam saja, lain halnya dengan krawang dan besi yang menggunakan cara melebur dengan suhu yang sangat panas pada saat melarasnya.

Copyright © 2018 arthakusuma All rights reserved. Theme by Laptop Geek.