PERTUNJUKAN JEGOG MEBARUNG

Posted by Arsa Wijaya on Maret 07, 2012
Tulisan

Di Kabupaten Jembrana, sering sekali diadakan pertunjukan Jegog mebarung. Jegog mebarung diadakan pada waktu acara resepsi pernikahan, mesangih, nyambutin, piodalan diĀ  pura dan lain-lain. Jegog mebarung dipertunjukan untuk menghibur masyarakat dan dipertunjukan pada akhir acara. Selain itu, Jegog mebarung juga diadakan untuk menentukan sekehe Jegog terkuat dan terhebat. Mebarung artinya bertarung antara dua Jegog atau bisa juga bertarung antara tiga Jegog, yang dalam Bahasa Bali disebut Jegog Barung Dua atau Jegog Barung Telu.

Pada tanggal 24 Oktober 2011, di rumah Anak Agung Kade Suarsa, di Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana diadakan resepsi pernikahan. Dalam acara resepsi itu, dipertunjukan kesenian Jegog mebarung, yaitu antara sekehe Rai Gita Suara dengan sekehe Suara Bajra Mukti.

Sekehe Jegog Rai Gita Suara merupakan sekehe Jegog yang berasal dari Banjar Dangin Tukad Daya, Desa Dangin Tukad Aya, Kecamatan Jembrana. Sekehe yang terdiri dari 19 orang ini diketuai oleh Anak Agung Kade Suarsa. Sekehe Jegog ini berdiri pada tanggal 25 Oktober 2010 dan dibina oleh I Made Adi Putra. Gamelan Jegog ini merupakan milik pribadi dari Anak Agung Kade Suarsa.

Sekehe Jegog Suara Bajra Murti merupakan sekehe Jegog yang berasal dari Banjar Masean, Desa Batu Agung, Kecamatan Jembrana. Sekehe yang dibina dan diketuai oleh Wayan Artika ini berdiri pada awal tahun 2009. Sekehe ini terdiri dari 21 orang. Gamelan Jegog yang dimiliki merupakan hasil sumbangan dari pemerintah dan sumbangan masyarakat.

Gamelan Jegog yang dimiliki oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara memakai cat dasar berwarna merah dengan berisi corak berwarna biru, merah, hijau, dan kuning, dengan motif ukiran karang bunga, dan menggunakan togog berbentuk naga, Rangda, dan Bomo. Sedangkan gamelan Jegog yang dimiliki oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti memakai cat dasar berwarna merah dengan berisi corak berwarna hijau, kuning, dan orange, dengan memakai motir ukiran karang bunga, dan menggunakan togog berbentuk naga, Rangda, paksi, Dewa Wisnu, dan Hanoman.

Pada saat pertunjukan, sekehe Jegog Rai Gita Suara memakai baju berwarna biru dengan berisi corak orange, udeng berwarna coklat dan kamben berwarna gelap, sedangkan sekehe Jegog Suara Bajra Mukti memakai baju berwarna hitam dengan berisi corak merah, udeng batik berwarna coklat, dan memakai kamben berwarna gelap.

Sebelum pertunjukan Jegog dimulai, masing-masing pemangku Jegog melakukan suatu ritual untuk sekehe Jegognya. Hal ini diadakan agar pertunjukan Jegog mebarung tersebut berjalan dengan lancar. Pertunjukan dimulai dengan penampilan Tabuh Teruntungan oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tabuh Teruntungan oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara. Setelah menampilkan Tabuh Teruntungan, pertunjukan dilanjutkan dengan Tabuh Pategak yang dimulai oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti yang menampilkan tabuh klasik Saung Galing. Saung Galing merupakan sebuah tabuh yang memang sudah ada sejak dulu dan tidak diketahui siapa penciptanya. Setelah pertunjukan Tabuh Saung Galing selesai, dilanjutkan dengan sekehe Jegog Rai Gita Suara yang menampilkan tabuh klasik Jegog yang berjudul Sandat Gading yang dibuat oleh I Made Adi Putra. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan pertunjukan Joged oleh kedua sekehe. Sekehe Jegog Suara Bajra Mukti menampilkan Joged yang menggunakan baju berwarna biru, kamben berwarna orange, dan selendang berwarna merah. Sedangkan sekehe Jegog Rai Gita Suara menampilkan Joged yang menggunakan baju berwarna merah, kamben berwarna merah muda, dan selendang berwarna kuning. Setelah pertunjukan Joged, dilanjutkan dengan pertunjukan Tabuh Pategak yang berjudul Becica Nguci yang ditampilkan oleh sekehe Jegog Suara Bajra Mukti. Tabuh Becica Nguci merupakan tabuh klasik Jegog yang memang sudah ada sejak dulu. Setelah itu, dilanjutkan dengan menampilkan Tabuh Petegak Klinyeng yang ditampilkan oleh sekehe Jegog Rai Gita Suara. Pada akhir pertunjukan, ditampilkanlah Tabuh Mebarung, kedua sekehe menabuh secara bersamaan dengan gending yang hampir sama dengan motif gilak. Sekehe Jegog Suara Bajra Mukti menggunakan motif 7 4 5 7 7 5 3 (7), sedangkan sekehe Jegog Rai Gita Suara menggunkan motif 5 3 3 7 7 4 4 (5).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *