GONG KEBYAR DI DESA PERGUNG

Posted by Arsa Wijaya on Maret 07, 2012
Tulisan / No Comments

Gong Kebyar merupakan gamelan yang paling populer dan paling di kenal oleh masyarakat di Bali. Karena kepopulerannya itu, gamelan Gong Kebyar dapat menyebar keseluruh pelosok dunia. Di Bali, hampir setiap banjar atau desa memiliki gamelan Gong Kebyar. Salah satu desa yang memiliki gamelan Gong Kebyar adalah Desa Pergung.

Desa Pergung merupakan sebuah desa yang berada di Kabupaten Jembrana. Desa Pergung memiliki seperangkat gamelan Gong Kebyar yang di dapat melalui sumbangan dari Bupati Jembrana dan swadaya masyarakat.

Sebelum memiliki gamelan Gong Kebyar, Desa Adat Pergung telah memiliki gamelan Angklung pada masa G 30 S/PKI.  Karena adanya perkembangan, maka muncul sebuah inisiatif untuk membuat gamelan Gong Kebyar. Kemudian gamelan Angklung yang dimiliki oleh Desa Adat Pergung dilebur menjadi gamelan Gong Kebyar. Peleburan gamelan Angklung menjadi gamelan Gong Kebyar didanai oleh Pak Gaduh dan swadaya dari masyarakat Desa Adat Pergung. Pada tahun 1965, gamelan Gong Kebyar dijual oleh Pak Gaduh tanpa meminta pertimbangan dari masyarakat. Uang hasil dari penjualan gamelan Gong Kebyar itupun tidak dibagikan kepada masyarakat ataupun ke desa, dan masyarakat tidak tahu uang itu digunakan untuk apa. Akan tetapi, masyarakat bisa memakluminya. Bertahun-tahun Desa Adat Pergung tidak memiliki gamelan. Pada tahun 2001, para pengurus desa berinisiatif untuk membeli seperangkat gamelan Gong Kebyar. Akibat keterbatasan dana, pengurus desa kemudian meminta sumbangan kepada Bupati Jembrana dan diberikan sumbangan sebesar 20 juta rupiah dan sisanya mendapat bantuan dari masing-masing KK (Kepala Keluarga) di Desa Pergung sebesar 15 ribu rupiah. Setelah sumbangan terkumpul, dibelilah Gong Kebyar di Pak Gableran yang beralamat di Desa Blahbatuh, Gianyar seharga 72 juta rupiah. Kemudian terbentuklah sekehe Gong Kebyar Dewasa di Desa Pergung yang diberi nama Jaya Swara. Anggota sekehe ini adalah berasal dari Desa Pergung. Sekehe Gong ini tidak pernah mendatangkan pelatih untuk memberikan gending, namun sekehe ini hanya mengandalkan kemampuannya sendiri untuk menuangkan gending-gending yang sudah ada. Kemampuan itu didapatkankan oleh para sekehe ketika mereka masih ikut bergabung bersama sekehe lain.

Gong Kebyar di Desa Pergung terdiri dari satu tungguh Terompong, dua buah Kendang Cedug, satu buah Kendang Cetut, satu buah Ceng-Ceng Ricik, satu buah Kajar, dua buah Ugal, empat buah Gangsa Pemade, empat buah Gangsa Kantil, satu tungguh Reyong, dua buah Penyahcah, dua buah Calung, dua buah Jegogan, dua buah Gong, satu buah Kempur, satu buah Bende, satu buah Kempli, satu buah Klentong, dan enam buah Suling. Dalam pengklasifikasian alat musik, Terompong, Gangsa, Ugal, Kajar, Kempli, Reyong, Gong, Kempur, Bende, Klentong, Penyahcah, Calung, Jegogan, dan Ceng-Ceng Ricik termasuk dalam golongan Ideophone, Kendang termasuk dalam golongan Membranophone, dan Suling termasuk dalam golongan Aerophone. Gamelan Gong Kebyar di Desa Pergung tidak memiliki instrumen Rebab yang termasuk dalam golongan Ordophone.

Gong Kebyar di Desa Pergung memiliki saih selisir, yaitu saih Gong Kebyar yang biasanya di gunakan untuk Festival dalam acara Pesta Kesenian Bali (PKB). Motif ukiran yang dimiliki merupakan ciri khas dari Gong Kebyar yang ada di Gianyar yang berupa motif sae dan memakai pandil.

Gong Kebyar ini difungsikan untuk ngayah di Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, dan pura yang ada di banjar yang ada di wilayah Desa Pergung. Sekehe Jaya Swara juga sering ngayah Calonarang di Pura Dalem Desa Pergung. Selain ngayah, sekehe ini juga sering di upah oleh masyarakat yang mempunyai kegiatan upacara yadnya. Gending-gending/tabuh-tabuh yang biasa dimainkan adalah tabuh lelambatan, tari-tarian, dan tabuh pategak.

Pada tahun 2009, Gong Kebyar di Desa Pergung membentuk sekehe Gong Wanita yang bernama Padni Wijayanti. Pada saat itu juga, Gong Kebyar Wanita ini mendapat kesempatan untuk mengikuti Festival Gong Kebyar Wanita di Kabupaten Jembrana mewakili Kecamatan Mendoyo. Materi yang di bawakan adalah Tabuh Kreasi Pepanggulan, Tari Puspa Wresti, dan Tari Kreasi. Sekehe Padni Wijayanti ini dibina dan dilatih oleh I Wayan Gama Astawa, S.Sn dari Desa Tegalcangkring dan sekehe Padni Wijayanti ini mendapat juara 2 di Kabupaten Jembrana.

Sampai saat ini, sekehe Gong Desa Pergung Jaya Swara dan Padni Wijayanti tetap aktif untuk melakukan kegiatan ngayah di pura-pura dan kadang kala juga di upah oleh masyarakat yang mempunyai kegiatan upacara yadnya/adat.

 

Perkembangan Gamelan Jegog

Posted by Arsa Wijaya on Maret 07, 2012
Tulisan / No Comments

Gamelan Jegog adalah gamelan khas Kabupaten Jembrana. Jegog merupakan gamelan golongan baru yang bilah-bilahnya terbuat dari bambu besar yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi seperangkat alat musik bambu yang suaranya sangat merdu dan menawan hati. Kata Jegog diambil dari nama instrumen dalam gamelan Gong Kebyar. Tiap-tiap tungguh instrumen yang membangun perangkat Jegog itu sendiri terdiri dari delapan bilah yang tergantung sedemikian rupa pada pelawahnya. Instrumen-instrumen pada Jegog dimainkan menggunakan dua buah panggul, baik terbuat dari karet ataupun kayu. Gamelan Jegog memakai laras Pelog empat nada dengan padantara yang khas sehingga akan menimbulkan laras yang unik dan menarik. Gamelan Jegog dibuat oleh Kiyang Gliduh dan diperkirakan muncul pada tahun 1912 di Desa Dangin Tukad Aya.

Gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, penyebarannya masih sangat sedikit. Gamelan Jegog mempunyai keunikan pada nada-nada yang dimilikinya, sehingga bisa membuat orang belum terbiasa mendengarnya menjadi bingung. Selain nadanya yang unik, Jegog juga mempunyai pertunjukan yang unik, yaitu pertunjukan Jegog mebarung dimana dua atau tiga (bisa juga lebih banyak) sekehe Jegog ditampilkan (menabuh) secara bersamaan.

Gamelan Jegog yang diamati sekarang ini telah mengalami tiga perkembangan dalam hal bahan, yaitu pada awalnya gamelan Jegog dibuat dari kayu, kemudian berkembang menjadi bambu dengan ukuran yang sama. Lama-kelamaan bentuk gamelan Jegog tersebut dikembangkan lagi dengan menggunakan bahan dari bambu yang ukurannya lebih besar. Dengan adanya perubahan ukuran bambu, maka pelawah atau wadah yang digunakan juga lebih besar.

Selain dalam hal bahan, perkembangan gamelan Jegog juga terjadi dalam hal memainkannya. Dulunya gamelan Jegog dimainkan dengan cara duduk, tentu saja dengan pelawah yang kaki-kakinya agak pendek. Sekarang permainan gamelan Jegog dimainkan dengan cara berdiri dengan menggunakan pelawah yang kakinya panjang. Hal ini digagas pertama oleh I Nyoman Sutama, SSKar.

Selain itu, perkembangan juga dialam oleh gamelan Jegog dalam hal repertoar gending. Dulunya gamelan Jegog hanya memainkan gending-gending klasik saja, namun akibat perkembangan gamelan Gong Kebyar, gamelan Jegog memainkan gending-gending yang ditransfer dari gending-gending Gong Kebyar. Kemudian, berkat inisiatif dari I Nyoman Sutama, SSKar, gamelan Jegog kini bisa memiliki gending-gending kreasi yang pertama kalinya dipelopori oleh sanggar Suar Agung. Selain Suar Agung, Jimbarwana, dan Yudistira merupakan sanggar Jegog yang menampilkan gending-gending kreasi yang semuanya di buat oleh I Nyoman Sutama, SSKar. Dengan adanya hal ini, gamelan Jegog semakin kaya akan repertoar dan semakin di kenal oleh masyarakat di Bali, di Indonesia dan di dunia (terutama di Jepang). Gamelan Jegog kini sering dipentaskan, selain ke luar negeri, Jegog juga sering tampil dalam acara PKB.

Sayangnya, gamelan Jegog ini hanya berkembang di Kabupaten Jembrana saja, di Bali mungkin penyebarannya hanya ada di Ubud dan di kampus ISI Denpasar saja (sepengetahuan penulis). Selain di Bali, gamelan Jegog juga ada di negeri sakura, yaitu di Jepang.

Komentar Artikel “Karawitan Bali”

Posted by Arsa Wijaya on Maret 07, 2012
Tulisan / No Comments

Seniman karawitan Bali masa lampau sesungguhnya sudah sangat peka terhadap rasa musikal, hal itu kita warisi hingga sekarang dan kita cukup dibuat terpesona ketika mendengarkan gending-gending ciptaan mereka, rasa musikalnya enak dan cocok/sesuai dengan apa yang mereka ingin ungkapkan. Ketika hal ini ditanyakan kepada beberapa guru senior tradisional mereka menjawab dengan bermacam-macam. Ada yang menyebutkan hal itu disebabkan sang komposer masa lampau sudah sangat sepuh dan sangat peka terhadap rasa musikal, namun ada juga menyebutkan karena sang komposer masa lampau membuat lagu melewati eksplorasi yang mantap dan membutuhkan waktu yang cukup lama termasuk mengadakan semedi sebelum mencipta lagu (Wawancara dengan I Wayan Berata tanggal 28 Juli 2004 dirumahnya). Jawaban seperti ini tentu sifatnya sangat filosofis bahkan mungkin juga politis sehingga membuat kita selalu tanda tanya dan terus ingin menelusuri guna mendapatkan jawaban yang lebih mudah dipahami dari segi keilmuan.

Beberapa literarur telah ada yang menyinggung masalah rasa musikai seperti misalnya Lontar Prakempa dan Aji Gurnita, kedua lontar ini sesungguhnya telah menjelaskan teori rasa dalam karawitan Bali, walaupun untuk memahami secara mendalam masih sangat susah karena sifat literatur tersebut lebih mengedepankan aspek estetika filosofis. Di satu sisi dewasa ini kita sangat membutuhkan teori yang bisa memandu para seniman muda untuk memahami teori sekaligus mempraktekkannya.

Lontar Prakempa menyebutkan ada empat aspek utama dalam gamelan Bali yaitu tatwa (filsafat atau logika), susila (etika), lango (estetika), dan gegebug  (teknik) (Bandem, 1986:1). Keempat unsur pokok sebagai isi dari lontar Prakempa ini pada dasarnya sebuah sumber berharga guna mencermati teori rasa musikal dalam karawitan Bait. Sebagai sebuah pedoman pokok keempat aspek utama ini masih perlu diteliti secara mendalam untuk bisa dijadikan landasan dalam menguraikan lebih eksplisit untuk menjadi sebuah keterangan yang mudah dicerna.

Lontar Aji Gurnita ada menyebutkan sebuah bab khsus yang diberi judul Tutur Catur Muni-Muni, yaitu empat gamelan sekawan yang semuanya dianggap bersumber pada gamelan Gambuh, sebuah gamelan yang konon penciptanya adalah para dewa dari langit (Ibid.,  p. 6). Gamelan Gambuh atau Pegambuhan oleh seniman Bali sering disebut-sebut sebagai “tambang emas” atau sumber inspirasi atau sumber acuan penciptaan gamelan dan repertoar gamelan lainnya.  Hal ini berarti dengan mengoreksi secara detail unsur-unsur musikal gamelan Gambuh akan ditemukan seperangkat cara atau aturan untuk menciptakan sebuah lagu yang baik.

Penelitian yang sifatnya menerangkan lebih detail mengenai isi Lontar Prakempa dan Aji Gurnita sesungguhnya sudah dilakukan oleh seniman karawitan Bali dan banyak melahirkan teori-teori yang sangat bermanfaat bagi pembelajaran karawitan Bali. Almarhum I Gusti Putu Geria lewat analisisnya telah melahir-kan konsep Tri Angga, sebuah teori logika musikal dan bedah struktur karawitan Bali, yang pada dasarnya adalah konsep estetika dalam memahami struktur. Teori ini sampai sekarang selalu dijadikan pedoman bagi para komposer untuk membuat struktur gending menjadi harmonis serta memiliki kaedah-kaedah estetika.

I Made Bandem selain telah menterjemahkan dan membedah dengan cermat isi Lontar Prakempa dan Aji Gurnita, juga menelaah dan menguraikan lebih detail aspek teknik/gegebug kemudian menyusun sebuah artikel berjudul Ubit-Ubitan, Sebuah Teknik Permainan Gamelan BaliUbit-ubitan atau kotekan yang dianalisis oleh I Made Bandem berdasarkan informasi dua maestro karawitan Bali yaitu almarhum I Gusti Putu Geria dan almarhum I Nyoman Kaler. Lebih lanjut disebutkan bahwa ragam kotekan atau ubit-ubitan juga akan menentukan rasa musikal tertentu (Ibid., p. 15).

I Wayan Rai S dalam orasi ilmiahnya berjudul Unsur Musikal dan Ekstra Musikal dalam Penciptaan Gending-Gending Iringan Tari Bali juga telah memberikan panduan kepada kita untuk memahami karakterisasi karawitan sebagai iringan tari. Rai menyebutkan ada dua unsur penting yang dijadikan acuan oleh komposer dalam menciptakan iringan tari Bail yaitu unsur musikal dan unsur ekstra musikal (Rai, op. cit. p. 4).  Penelitian yang dilaku-kan I Wayan Rai ini masih merupakan hasil analisis dan hipotesa awal untuk dijadikan acuan dalam mengadakan penyelidikan yang sifatnya lebih detail.

Colin McPhee dalam bukunya berjudul Music In Bali (1966) juga menjelaskan tentang adanya variasi dalam tetekep yang dapat melahirkan karakterisasi gending-gending Pegambuhan. McPhee menyebutkan tetekep selisir memiliki karakter halus (refined), tetekep tembung memiliki karakter keras (coarse), sedangkan tetekep sundaren memiliki karakter antara halus dan keras. Tetekep tebeng juga berkarakter halus tetapi biasanya digunakan secara khusus untuk mengiringi tokoh putri (princess), sedangkan tetekep baro untuk mengiringi tokoh pelayan dan pelawak dalam dramatari Gambuh (Phee, 1966:40). Namun demikian apa yang menyebabkan variasi tetekep itu dapat menentukan perbedaan rasa belum dijelaskan secara detail  McPhee hanya menjeiaskan kenyataan yang biasa dipergunakan kemudian dideskripsi seperti tersebut di atas.

 

Komentar:

Dalam artikel di atas ada kata yang tidak saya temukan di Kamus Bahasa Indonesia dan belum pernah saya dengar yaitu kata literarur yang terdapat pada paragraf kedua dan kata kedua. Mungkin yang penulis maksud adalah literatur. Selain itu juga terdapat kata yang salah pada paragraf kedua  dan kata kesembilan, seharusnya musikal tetapi ditulis musikai. Pada bab ketiga, seharusnya Bali ditulis Bait dan juga pada bab keempat kata khusus ditulis khsus. Pada paragraf kelima dan ketujuh terjadi kesalahan dalam pemenggalan kata, yang seharusnya kata itu tidak dipenggal, yaitu pada kata melahir-kan (seharusnya melahirkan) dan dilaku-kan (seharusnya dilakukan). Dan juga pada paragraf kelima ada kata yang salah yang seharusnya kaidah ditulis kaedah.

Jadi, dalam artikel yang berjudul Karawitan Bali banyak terjadi kesalahan dalam penulisan kata. Artikel di atas kurang bias menjadi artikel yang baik, karena banyak terjadi kesalahan dalam kata.

 

MANFAAT TRI HITA KARANA

Posted by Arsa Wijaya on Maret 07, 2012
Tulisan / No Comments

Mpu Kuturan yang datang di Bali pada abad ke-11 atas permintaan Raja Udayana dan Gunapriadharmapatni tidak hanya berhasil menyatukan berbagai sekte agama Hindu yang ada ketika itu dalam wadah kepercayan Tri Murti, tetapi juga telah meletakkan dasar-dasar kehidupan sosial religius dalam bentuk tatanan Desa Pakraman.

Desa Pekraman yang merupakan komunitas Hindu-Bali dibangun dengan kepercayaan Tri Murti di mana Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Brahma, Siwa, dan Wisnu distanakan di Pura Desa untuk Brahma, Pura Dalem untuk Siwa, dan Pura Segara atau Pura Puseh untuk Wisnu. Ketiga Pura ini dikenal sebagai Tri Kahyangan.

Atas dasar itu dikembangkan pula konsep Tri Hita Karana yang mengambil peranan manusia sebagai sentral atau penentu terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan.

Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.

Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara:

  1. Manusia dengan Tuhan (Parahayangan)
  2. Manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
  3. Manusia dengan manusia (Pawongan)

Konsep Tri Hita Karana memiliki konsep yang dapat melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi.  Pada dasarnya hakikat ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Banyak manfaat yang bisa kita dapat jika kita bisa menerapkan ajaran Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana, berasal dari bahasa sansekerta. Kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera dan Karana berarti penyebab. Jadi pengertian  Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan, kebahagian dan kemakmuran hidup manusia. Bagian-bagian dari Tri Hita Karana yaitu, Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Parahyangan adalah hubungan baik antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, Pawongan adalah hubungan antara manusia dengan manusia, dan Palemahan adalah hubungan baik antara manusia dengan lingkungan.

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu sebagai berikut.

  1. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan Atman yang ada dalam diri manusia merupakan percikan sinar suci kebesaran Tuhan yang menyebabkan manusia dapat hidup. Dilihat dari segi ini sesungguhnya manusia itu berhutang nyawa terhadap Tuhan. Oleh karena itu umat Hindu wajib berterima kasih, berbhakti dan selalu sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa terima kasih dan sujud bhakti itu dapat dinyatakan dalam bentuk puja dan puji terhadap kebesaran-Nya, yaitu :

  1. Dengan bersembahyang dan melaksanakan yadnya.
  2. Dengan melaksanakan Tirtha Yatra atau Dharma Yatra, yaitu kunjungan ke tempat-tempat suci.
  3. Dengan melaksanakan Yoga Semadhi
  4. Dengan mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.
  5. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya.

Sebagai mahluk sosial, umat Hindu tidak dapat hidup menyendiri. Mereka memerlukan bantuan dan kerja sama dengan orang lain. Karena itu hubungan antara sesamanya harus selalu baik dan harmonis. Hubungan antar manusia harus diatur dengan dasar saling asah, saling asih dan saling asuh, saling menghargai, saling mengasihi dan saling membingbing. Hubungan antar keluarga dirumah tangga harus harmonis. Hubungan dengan masyarakat lainya juga harus harmonis. Hubungan baik ini akan menciptakan keamanan dan kedamaian lahir batin di masyarakat. Masyarakat yang aman dan damai akan menciptakan Negara yang tenteram dan sejahtera.

  1. Hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya.

Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu umat Hindu harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya. Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tentram dalam diri manusia.

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:

    1. Parahyangan
      1. Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat
      2. Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga
      3. Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah
    2. Palemahan
      1. Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali
      2. Di tingkat desa adat meliputi “asengken” bale agung
      3. Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan
    3. Pawongan
      1. Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali
      2. Untuk di desa adat meliputi krama desa adat
      3. Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga

Dengan menerapkan Tri Hita Karana secara mantap, kreatif dan dinamis akan terwujudlah kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya. Setiap bagian-bagian Tri Hita Karana memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Keseimbangan, ketentraman, dan kedamaian tercapai apabila, manusia hidup dengan berpedoman pada segala tindakan yang baik. Hubungan antara manusia dengan alam lingkungan perlu terjalin secara harmonis, bilamana keharmonisan tersebut di rusak oleh tangan-tangan jahil, bukan mustahil alam akan murka dan memusuhinya. Perlu kita sadari bahwa alam lingkungan telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memanfaatkan alam lingkungan sebesar-besarnya guna kesejahteraan hidupnya.

Banyak sekali manfaat yang bisa kita terima jika kita sudah menerapkan ajaran Tri Hita Karana. Misalnya, jika kita sebagai manusia menjalin hubungan yang baik dengan manusia lain maka kita pastinya akan bisa hidup rukun, tentram dan damai dengan sesama manusia. Dan juga, jika kita sebagai manusia memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya (Palemahan) maka tidak akan terjadi bencana alam dan terciptalah lingkungan yang harmonis. Dan yang terakhir, jika kita menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu dengan melakukan persembahyangan secara teratur  maka kita selalu mendapatkan perlindungan dan anugerah dari-Nya.

Ogoh-ogoh dalam Rangkaian Hari Raya Nyepi di Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung

Posted by Arsa Wijaya on Maret 07, 2012
Tulisan / No Comments

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan (biasanya dalam wujud Raksasa).

Selain wujud Raksasa, ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Surga dan Neraka, seperti: naga, gajah, garuda, Widyadari, bahkan Dewa. Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbau politik atau SARA walaupun sebetulnya hal ini menyimpang dari prinsip dasar ogoh-ogoh. Contohnya ogoh-ogoh yang menggambarkan seorang teroris.

Dalam fungsi utamanya, ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.

Di setiap banjar baik di kota ataupun desa, tampil ogoh-ogoh dengan aneka macam bentuk dan rupa. Di satu banjar, mereka tak hanya membuat satu ogoh-ogoh. Ada yang dibuat oleh seka teruna (kelompok pemuda) ada pula yang dibuat oleh seka anak-anak (kelompok anak-anak).

Begitu juga dengan Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, seka teruna dan seka anak-anak membuat ogoh-ogoh yang berwujud Raksasa. Ogoh-ogoh itu dibuat tiga minggu sebelum hari pengrupukan. Ogoh-Ogoh digelar sebagai salah satu rangkaian acara perayaan Hari Raya Nyepi.

Ogoh-ogoh di Banjar Petapan Kelod ini berfungsi sebagai sarana ritual untuk menetralisir sifat negatif manusia atau alam menjelang datangnya Tahun Baru Saka dengan harapan sifat buruk manusia bisa dibersihkan sehingga pada Hari Raya Nyepi seluruh umat Hindu di Banjar Petapan Kelod ini dapat menyongsong kehidupan baru yang lebih bersih, baik dan damai sejahtera dan juga berfungsi sebagai upacara Bhuta Yadnya yang dilakukan untuk menyucikan keseimbangan alam. Selain itu, ogoh-ogoh juga berfungsi sebagai hiburan untuk menyemarakkan malam pengrupukan.

Sebelum di arak, ogoh-ogoh dipajang di pinggir jalan. Ogoh-ogoh yang diusung dan diarak keliling banjar itu diiringi suara gambelan Baleganjur yang bertalu-talu serta tingkah riuh sorak yang mengandung makna mengusir roh-roh jahat dan menetralisasi alam semesta. Setelah ogoh-ogoh di arak, ogoh-ogoh itu dibakar di perbatasan banjar.