Kakawin Smaradahana

Posted by Arsa Wijaya on April 05, 2012
Tulisan

Penulis kakawin Smaradahana adalah Empu Dharmaja yang hidup pada jaman kerajaan Kediri.

Kakawin Smaradahana adalah sebuah karya sastra Jawa Kuna dalam bentuk kakawin yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya (smara = asmara; dahana = api). Berikut merupakan ikthisar dari Kakawin Smaradahana.

Ketika Batara Siwa pergi bertapa, Indralaya didatangi musuh, raksasa dengan rajanya bernama Nilarudraka, demikian heningnya dalam tapa, batara Siwa seolah-olah lupa akan kehidupannya di Kahyangan. Supaya mengingatkan batara Siwa dan juga agar mau kembali ke Kahyangan ,maka oleh para dewa diutuslah batara Kamajaya untuk menjemputnya. Berangkatlah sang batara untuk mengingatkan batara Siwa, dicobanya dengan berbagai panah sakti dan termasuk panah bunga, tetapi batara Siwa tidak bergeming dalam tapanya. Akhirnya dilepaskannya panah pancawisesa yaitu:

  • hasrat mendengar yang merdu
  • hasrat mengenyam yang lezat
  • hasrat meraba yang halus
  • hasrat mencium yang harum
  • hasrat memandang yang serba indah

Akibat panah pancawisesa tersebut dewa Siwa dalam sekejap rindu kepada permaisurinya dewi Uma, tetapi setelah diketahuinya bahwa hal tersebut adalah atas perbuatan batara Kamajaya. Maka ditataplah batara Kamajaya melalui mata ketiganya yang berada di tengah-tengah dahi, hancurlah batara Kamajaya. Dewi Ratih istri batara Kamajaya melakukan “bela” dengan menceburkan diri kedalam api yang membakar suaminya. Para dewa memohonkan ampun atas kejadian tersebut, agar dihidupkan kembali, permohonan itu tidak dikabulkan bahkan dalam sabdanya bahwa jiwa batara Kamajaya turun ke dunia dan masuk kedalam hati laki-laki, sedangkan dewi Ratih masuk kedalam jiwa wanita. Ketika Siwa duduk berdua dengan dewi Uma, datanglah para dewa mengunjunginya termasuk dewa Indra dengan gajahnya, Airawata yang demikian dahsyatnya sehingga dewi Uma terperanjat dan ketakutan melihatnya, kemudian dewi Uma melahirkan putera berkepala gajah, dan kemudian diberi nama Ganesha. Datanglah raksasa Nilarudraka yang melangsungkan niatnya “menggedor” khayangan. Maka Ganesha ‘lah yang harus menghadapinya, dalam perang tanding tersebut ganesha setiap saat berubah dan bertambah besar dan semakin dahsyat. Akhirnya musuh dapat dikalahkan, dan para dewa bersuka cita.

Dalam kakawin Smaradahana (pupuh XXIX:8) terdapat potongan kakawin yang berbunyi:

“ginding daityaddhipati ya ta tinabih kendang, gong, gangsa, gubar asahuran…” artinya

“gending dari Sang Raja Raksasa dibunyikan, kendang, gong, gangsa, dan gubar bersahut-sahutan….”

            Mungkin yang di maksud sebagai Sang Raja Raksasa ini adalah raksasa Nilarudraka yang berniat ingin merusak khayangan. Ketika raksasa datang ke khayangan dibunyikan kendang, gong, gangsa dan gubar dengan bersahut-sahutan yang merupakan pertanda dari datangnya Nilarudraka ke khayangan. Jadi dapat saya simpulkan bahwa fungsi dari instrumen kendang, gong, gangsa dan gubar adalah sebagai alat musik yang dibunyikan untuk memberitahukan kedatangan dari Sang Raja Raksasa. Kendang merupakan alat musik yang tergolong membranophone, Gong merupakan alat musik yang terbuat dari kerawang yang berbentuk bulat besar dran bermoncol, Gangsa adalah alat musik yang berbilah, dan Gubar merupakan alat musik yang belum saya ketahui.

Sumber kekawin : http://macapatwungu.wordpress.com/2011/03/23/jenis-jenis-gamelan-jawa-2/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *