Tradisi Siat Sampian

Di pulau Bali memang terdapat banyak tradisi sakral, sehingga wajar saja kalau turis mancanegara tak pernah jemu singgah di Bali, bahkan turis – turis lokal banyak pula yang hadir bila suatu tradisi digelar.Hampir setiap daerah memiliki tradisi masing-masih bahkan bisa juga sebagai ciri atau identitasnya tersendiri.Dalam tradisi tersebut pastilah terkandung makna yang sangat dalam.Tidak hanya itu,masyarakat di suatu daerah tertentu masih menjalankan tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan dengan tidak mengurangi nilai yang terkandung di dalamnya dan bahkan menjadi tradisi dalam suatu kebudayaan.Sebagaian besar tradisi yang masih di jalankan di Bali dirangkai dengan upacara adat-agama setempat.Seperti halnya tradisi “Siat Sampian”.

Tradisi Siat Sampian adalah tradisi yang menjadi pertunjukan perang-perangan dalam suasana sakral. Senjata yang digunakan untuk menyerang adalah rangkaian janur yang disebut sampian. Pertunjukan yang diselenggarakan dalam rangkaian upacara odalan di Pura Samuantiga,yang berlokasi di desa Bedulu,Gianyar itu dilakukan oleh perempuan dan laki-laki yang sudah kaelingan, artinya ditunjuk oleh Ida Batara (Tuhan) melalui upacara pawintenan atau pembersihan diri secara sakral. Para pemain melakukan siat layaknya perang, saling serang dan saling pukul tanpa membedakan lawan dan kawan. Pertunjukan itu diselenggarakan satu kali setiap tahun, tiga hari setelah upacara puncak(sekitar purnama Jiyestha).Pada abad ke-10 Masehi, di Pura ini digelar pertemuan besar antar berbagai sekte agama Hindu yang ada di Bali dengan mediator pemerintah yang berkuasa di Bali waktu itu.Pertemuan ini menyepakati penyudahan konflik antar sekte agama Hindu di Bali dan menjadi awal konsep pura Tri Kahyangan Jagat di Bali, serta penerimaan konsep Tri Murti (Tiga Dewa Utama) di setiap desa yang ada di Bali.

Upacara yang sekaligus menjadi tradisi tersebut dilakukan oleh dua kelompok yang berbeda yang sebelumnya sudah diwinten (disucikan), yakni kelompok perempuan yang disebut Jro Permas dan kelompok laki yang disebut Parekan. Jumlah anggota Jro Permas lebih kurang 35 orang, sedangkan kelompok Parekan terdiri dari beratus-ratus orang. Pertunjukan tahap pertama yang dilakukan Jero Permas lebih lama daripada tahap berikutnya yang dilakukan oleh Parekan. Rangkaian kegiatan kelompok perempuan dimulai saat matahari terbit sampai hampir tengah hari.

Rangkaian Pertunjukan Siat Sampian.

Ada 3 tahap yang harus dilakukan warga desa Bedulu yang ikut untuk proses penyucian sebelum upacara Siat Sampian dilakukan, yakni :

  1. Tahap pertama diawali dengan Nampiog, yaitu menari mengelilingi pura 11 kali searah jarum jam atau dalam istilah Bali disebut dengan purwa daksina.
  2. Tahap kedua yakni melakukan kegiatan Ngombak,dimana pada kegiatan ini para masyarakat yang ikut menirukan gerakan ombak dan hanya dilakukan di jaba tengah pura (halaman tengah pura).Para pemain satu sama lainnya berbaris berpegangan tangan, maju-mundur di depan pelingih.Upacara ini dilakukan dengan cara berpegangan tangan satu sama lainnya, kemudian bergerak laksana ombak.
  3. Tahap ketiga adalah melakukan kegiatan Ngindang,yakni terbang seperti burung lalu mengambil sampian dari pelinggih tertentu yang sudah disiapkan. Tiap pemain mengambil sebuah sampian (kadang-kadang diperbolehkan dua), lalu langsung mengadakan siat atau perang-perangan.

Setelah 3 tahap itu usai, kelompok perempuan yang disebut Jro Permas dan kelompok laki yang disebut Parekan yang sudah disucikan oleh pemangku Pura Samuan tiga tersebut langsung mengambil Sampian (rangkaian janur untuk sesajen) dan saling pukul serta lempar atau ‘perang’ dengan sampian satu sama lainnya. Dalam perang-perangan, setiap pemain memandang teman mainnya itu sebagai musuh. Mereka saling kejar, saling pukul dan hindar-menghindar. Peperangan makin lama tambah panas dan tambah hebat,serta diiringi tabuh gong dan angklung yang sangat dinamik. Apabila masing-masing Jro Permas sudah berhasil memukul teman mainnya sampai tiga kali, maka permainan dapat diakhiri. Semua sampian yang digunakan senjata tadi dikembalikan ke tempat semula.

 

 Makna yang terkandung dalam tradisi “Siat Sampian”.

Setiap upacara pastinya memiliki berbagai macam makna yang melekat pada upacara tersebut.Dalam ajaran agama Hindu,untuk merealisasikan ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang maha Esa biasanya umat Hindu melakukan suatu upacara. Seperti halnya Upacara Siat Sampian. Siap Sampian itu tergolong rangkaian Upacara yang dilaksanakan di Pura samuan Tiga yang berlokasi di desa Bedulu,Gianyar.Siat Sampian yang merupakan sebuah rangkaian upacara,kini menjadi tradisi yang harus dilakukan warga disana setiap satu tahun sekali yaitu bersamaan dengan piodalan di pura tersebut.Sesuai dengan namanya,“Sampian itu merupakan lambang senjata Dewa Wisnu, dan senjata ini dipergunakan untuk memerangi Adharma (kejahatan).

Filosofi yang diambil dari tradisi ini adalah untuk mengenyahkan Adharma atau kejahatan dari muka bumi.Selain simbol perang terhadap kejahatan, siat sampian juga untuk merayakan bersatunya berbagai sekte keagamaan (Hindu) di Bali, disamping untuk memohon kesejahteraan lahir dan batin. Pada intinya, Siat Sampian itu bermakna untuk menyucikan Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (bumi).Tradisi Siat Sampian ini sudah dilakukan sejak turun temurun dan harus dilaksanakan oleh warga di desa Bedulu.Ini sudah menjadi kepercayaan para masyarakat disana sebagai upacara yang sakral dan harus dilaksanakan setiap satu tahun sekali.Masyarakat di Bedulu percaya bahwa dengan melakukan upacara yang menjadi tradisi turun temurun ini maka niscaya ketentarama akan slalu dilimpahkan oleh ida sang hyang widhi(Tuhan).

Hubungan kebudayaan dengan tradisi “Siat Sampian”.

Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebagai aspek dari kebudayaan itu sendiri.Dalam kebudayaan,terdapat unsur-unsur kebudayaan yang terdiri dari 7 unsur yang disebut dengan Culture Universal.Salah satu unsur kebudayaan itu adalah sistem religi.Dalam sistem religi seperti tradisi suatu kebudayaan masih melekat dan dilaksanakan oleh masyarakat daerah.Seperti halnya upacara yang sekaligus menjadi tradisi di desa Bedulu.Tradisi tersebut dinamakan        ”Siat Sampian”.Dalam hubungannya dengan kebudayaan,Siat sampian ini menjadi suatu tradisi dan menjadi gagasan,tindakan dan hasil karya manusia dalam perwujudan yang dilaksanakan dalam upacara yang dilakukan setiap satu tahun sekali.Tidak lepas dari itu,Setiap kebudayaan khusunya tradisi Siat Sampian,cenderung menjadi suatu fenomena yang sangat penting dalam masyarakat.Hal tersebut dikarenakan sesuatu yang tidak bisa lepas dari adat istiadat yang merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat.

Demikian pula bagi masyarakat di desa Bedulu,Gianyar yang masih menjalankan tradisi

Siat Sampian.Anggapan masyarakat desa Bedulu terhadap upacara “Siat Sampian” (perang sampian) merupakan  suatu bentuk upacara keagamaan yang bersifat sakral ( suci ) yakni suatu kelakuatan simbolis atau tindakan sekaligus sebagai wujud dari ekspresi  jiwa mereka dalam menyucikan alam semesta.Penyelenggaraan upacara “Siat Sampian” mempunyai kandungan nilai yang penting bagi kehidupan masyarakat pendukungnya, karena  dianggap sebagai suatu nilai budaya yang dapat membawa keselamatan diantara sekian banyak unsur budaya yang ada pada masyarakat dan sampai saat ini masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Bedulu,Gianyar.

Tradisi Megibung

Pulau Bali dikenal kaya dengan berbagai macam tradisi atau budaya. Megibung merupakan salah satu tradisi yang ada di kabupaten Karangasem. Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah. Jumlah peserta yang ikut megibung dalam satu wadah biasanya terdiri dari delapan orang. Tradisi megibung adalah salah satu tradisi yang memiliki nilai kebangsaan yang tinggi dan nilai-nilai luhur yang sangat mulia. Di dalamnya banyak terkandung nilai yang dapat meningkatkan rasa kekeluargaan dan semangat kebersamaan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan derajat. Selain itu, juga terkandung nilai semangat gotong royong, nilai disiplin diri, nilai etika dan sopan santun yang tinggi di antara masyarakat. Nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam tradisi megibung ini dapat dijadikan suri tauladan bagi daerah lain di Indonesia sebagai media komunikasi yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Tradisi megibung di kabupaten Karangasem sudah ada berabad-abad silam, akan tetapi karena perkembangan dan pelestraian budaya yang masih rendah menyebabkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi terlupakan. Sehingga opini publik tentang tradisi megibung pun menjadi bergeser. Banyak masyarakat sekarang yang beranggapan bahwa megibung adalah kegiatan yang menghabiskan uang (pemborosan) dan tidak efektif. Hal ini dapat dilihat ketika masyarakat yang selesai megibung, biasanya ada sisa makanan yang dibuang. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa megibung itu tidak sehat, karena pada saat megibung akan memunculkan peluang untuk penyebaran virus atau kuman penyakit.
Dalam melestarikan budaya megibung di kabupaten Karangasem, pemerintah kabupaten Karangasem telah melakukan berbagai upaya diantaranya dengan mengadakan megibung massal di taman ujung kota Amlapura. Tradisi megibung yang dihandel langsung oleh pemerintah kabupaten Karangasem menghabiskan dana 1 miliar rupiah yang dananya diambil dari dana recovery Bali, dana sumbangan dari donatur dan dana swadaya masyarakat. Akan tetapi upaya pemerintah dalam melestarikan budaya megibung masih belum optimal. Hal ini disebabkan masih adanya pro dan kontra di kalangan masyarakat mengenai dana yang digunakan oleh pemerintah kabupaten Karangasem menyangkut masalah megibung. Menurut masyarakat, kegiatan megibung massal secara umum kurang bermanfaat bagi masyarakat, dan justru dianggap menghambur-hamburkan uang, mengapa uang tersebut tidak digunakan untuk membangun SDM yang lebih berkualitas dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Karangasem secara berksinambungan. Pelestarian budaya megibung bukan berarti harus mengadakan kegiatan yang mewah dan besar serta dengan dana yang banyak dan apalagi membuat masyarakat menderita.
Pelestarian seni budaya megibung tidak hanya tergantung pada peranan pemerintah saja, melainkan sangat tergantung pada kemampuan kehidupan masyarakat untuk menentukan dan menghargainya. Masyarakat Bali begitu mudah terpengaruh dan memegang peranan penting dalam asimilasi selektif terhadap kebudayaan asing. Karena masyarakatlah yang paling dekat dengan budaya, bahkan masyarakat yang justru akan sering menggunakannya. Sebenarnya masyarakat Bali dalam melestarikan budaya megibung telah diwariskan dari generasi ke generasi secara turun-temurun. Karena mereka yakin akan memberi manfaat yang baik secara lahir maupun batin. Akan tetapi, karena keterbatasan SDM masyarakat kabupaten Karangasem masih mengalami kesulitan dalam melestarikan budaya tersebut sehingga harus kehilangan nilai-nilai luhurnya.
Pergeseran nilai-nilai dan memudarnya budaya megibung di kabupaten Karangasem akan membawa dampak yang besar bagi kehidupan masyarakatnya. Diantaranya, masyarakat Karangasem yang terkenal dengan wilayahnya yang kering (daerah Kubu) dan daerah kemiskinan terbesar di Bali akan memperlebar jarak pemisah antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin. Selain itu, semangat gotong royong yang diwariskan oleh nenek moyang kita akan semakin punah. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang seharusnya dilakukan secara bersama, akan tetapi dilakukan oleh beberapa orang dengan dibayar, misalnya membersihkan balai banjar, membuat rompok dan rumah, memanen padi dan atau jagung dan membantu orang yang sedang melaksanakan acara pernikahan. Akibatnya semangat kekeluargaan dan kebersamaan antar masyarakat sudah tidak ada lagi dan mereka sudah tidak peduli lagi dengan lingkungan di sekitarnya.
Melihat fenomena di atas, maka perlu dicarikan alternatif lain sebagai solusi dalam melestarikan seni budaya megibung dengan tetap memperhatikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Adapun alternatif yang penulis gunakan dalam melestarikan tradisi megibung adalah melalui pendekatan partisipasi masyarakat. Pendekatan partisipasi masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat diberikan pengetahuan dan wawasan akan pentingnya pelestarian seni budaya megibung dengan cara memberikan cara atau teknik bagaimana megibung yang baik dan benar. Baik dan benar maksudnya bagaimana cara kita membuat acara megibung tersebut tidak mengeluarkan biaya banyak, dan nilai kesehatannya terjamin.
Pendekatan partisipasi masyarakat dalam pelestarian megibung menekankan dan mementingkan proses yang bersifat botoom-up, serta menempatkan manusia sebagai suyek dan pelaku budaya. Pemberdayaan masyarakat dengan posisi dan peran seperti itu diharapkan makin mampu menumbuhkan kesadaran budayayang tinggi, memperokokoh jati diri, memantapkan ketahanan budaya yang pada gilirannya mampu menjadikan bangsa Indonesia yang kuat dan berdaya di bidang kebudayaan.

Manfaat penulisan
1. Untuk penulis
Manfaat yang diperoleh oleh penulis yaitu menambah wawasan penulis tentang pelestarian tradisi megibung  sebagai media komunikasi pemersatu  bangsa dengan   Pendekatan  partisipasi masyarakat.

2. Untuk Pembaca
1). Dapat memeberikan gambaran kepada mayarakat tentang bagaimana sebenarnya proses megibung yang efektif, efesien dan sehat. Sehingga masyarakat secara umum akan kembali untuk melestarikan budaya megibung yang ada di kabupaten karangasem.
2). Dengan melestarikan budaya megibung maka dapat tetap menjaga rasa semangat kekeluargaan, semangat kebersamaan, semangat gotong royong, semangat disiplin dan semangat etika dan sopan santun antar masyarakat.
3). Dapat memberikan informasi tentang pelestarian tradisi megibung  Sebagai media komunikasi pemersatu  bangsa dengan pendekatan partisipasi masyarakat.

3. Untuk Pemerintah
1). Dengan melestarikan budaya megibung, aset pemerintah tentang kebudayaan bangsa tidak akan punah dan tetap terawat atau terjaga. Sehingga dampaknya terhadap pariwisata bali akan terus mengalami perkembangan.
2). Dapat digunakan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan terkait tradisi megibung yang saat ini nilainya terus mengalami pergeseran ke arah negatif, sehingga perlu dilakukan pelestarian

Upacara Nangluk Mrana

Upacara Nangluk Mrana (merana) adalah upacara yadnya yang dilaksanakan sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa agar berkenan menangkal atau mengendalikan gangguan – gangguan yang dapat membawa kehancuran atau penyakit pada tanaman, seperti padi di sawah, hewan maupun manusia sehingga tidak membahayakan lagi, sebagaimana dijelaskan dalam kutipan artikel upacara ngaben tikus dalam jornal Bali.

Asal katanya disebutkan “Nangluk Mrana” berasal dari kata bahasa Bali yang kemungkinan juga mendapat pengaruh bahasa sansekerta.

  • “Nangluk”  berarti empangan, tanggul, pagar, atau penghalang; dan “mrana”  berarti hama atau bala penyakit.
  • Mrana adalah istilah yang umum dipakai untuk menyebut jenis-jenis penyakit  yang merusak  tanaman. Bentuknya bisa berupa serangga, binatang maupun dalam bentuk gangguan keseimbangan kosmis yang berdampak merusak  tanaman.

Jadi “nangluk mrana” berarti mencegah atau menghalangi hama (penyakit), atau ritual penolak bala.

Dalam lontar “Perembon Indik Ngaben Tikus”  sekilas dijelaskan bila tikus telah menjadi hama  ganas yang menyerang sawah petani, maka sebaiknya dilakukan upacara seperti mengupacarai orang mati biasa. Dan upacara hendaknya dilakukan di tepi pantai dengan cara dibakar. Namun dalam lontar itu tidak dijelaskan secara rinci jenis upakara atau tetandingan banten maupun tata cara pelaksanaannya. Tata cara upacaranya seperti mengupacarai orang mati biasa dan hendaknya tempat upacara di tepi pantai dengan cara dibakar atau disebut dengan istilah “ngaben tikus”. Hal ini dijelaskan sekilas dalam lontar “Sila Gama Catur Pataka.”   Dalam lontar “Yama Tattwa” disebutkan bahwa waktu yang paling tepat untuk melaksanakan ngaben tikus adalah pada saat gugusan bintang di langit membentuk rasi tikus. Hampir semua lontar yang sekilas menjelaskan ngaben tikus menyebut pantai (laut) sebagai tempat yang paling baik untuk menggelar upacara pengabenan tikus itu. Menurut kepercayaan orang Bali, segala penyakit dan hama bersumber dari laut selatan yang dikuasai oleh Dewa Laut, Sang Hyang Baruna.

Dari laut selatan itulah segala hama penyakit disebarkan oleh Ratu Gde Mecaling (Penguasa Kegelapan) yang beristana di Nusa Penida. Bahkan Pura Masceti yang terletak di pinggir pantai di Gianyar dianggap sebagai pura yang menguasai tikus. Para petani  wajib datang ke Pura Masceti memohon agar terhindarkan dari wabah tikus yang menyerang tanaman padi mereka.

Sasih yang paling baik untuk menggelar upacara Nangluk Mrana adalah :

  • Sasih keenam (Desember),
  • Sasih kepitu (Januari),
  • Sasih keulu / Kawolu (Pebruari),
  • Sasih kesanga (Maret)

yang menurut keyakinan orang Bali merupakan bulan-bulan rawan yang penuh marabahaya.

Menurut kepercayaan yang tumbuh subur di pesisir selatan Bali,

pada bulan-bulan keramat itu, seperti yang telah disebutkan di atas, penguasa Nusa Penida, Ratu Gde Mecaling sedang gencar-gencarnya menyebarkan wabah dan penyakit ke Bali daratan.

Dan pada bulan-bulan rawan itu biasanya berbagai jenis wabah penyakit merajalela. Untuk menetralkan kembali keseimbangan kosmis yang terganggu maka digelarlah berbagai jenis ritual penolak bala, salah satunya adalah ritual  Nangluk Mrana.

Sebagai tambahan,

  • keris juga digunakan pada saat upacara nangluk merana pecaruan sasih desa adat Kuta.
  • Banaspatiraja merupakan kekuatan pelindung dari segala macam penyakit atau hama yang ada di sawah yang berfungsi sebagai nangluk merana untuk menetralisir kekuatan negatif.
  • Nangluk merana yang dilakukan oleh krama subak dalam rangka untuk menolak hama yang ada di sawah

Dalam penelitian ritual nangluk mrana ini disebutkan upacaranya terbagi menjadi dua yaitu ritual nangluk marana di lingkungan rumah tangga dan dalam bidang pertanian.

Tradisi Mekepung

Makepung adalah tradisi bali sama seperti karapan sapi hanya saja makepu menggunakan hewan kerbau. Mekepu berasal dari kabupaten jembrana, bali. Makepung artinya berkejar-kejaran inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai Bajak Lampit Slau. Saat ini mekepung di jadikan ajang perlombaan yang menarik. Berbeda dengan dulu saat ini pakaian joki makepung sudah berubah hanya menggunakan kaos berkerah lengan panjang, pengikat kepala dan celana panjang. Sistem pertandingan makepung sangatlah unik berbeda dengan karapan sapi yang di mainkan di lapangan yang datar. Makepung di mainkan di jalanan yang datar dan lebar yang relatif hanya muat 1 makepung. Sistem pertandingan makepung adalah apabila makepung yang di depan bisa menjaga jarak 10 meter dari makepung yang di belakang maka makepung depanlah yang menang dan apabila mekepung yang di depan tidak bisa menjaga jarak 10 meter dari makepung yang di belakang maka makepung belakanglah yang menang. Pesan moral yang dapat di ambil dari tradisi makepung adalah kerja keras, keberanian, dan kerjasama.

SEJARAH MAKEPUNG

Atraksi Mekepung di sawah ini berkembang sekitar tahun 1930 dan Sais-
nya berpakain ala prajurit Kerajaan di Bali zaman dulu yaitu memakai destar, selendang, selempod, celana panjang tanpa alas kaki dan dipinggang terselip sebilah pedang yang memakai sarung poleng (warna hitam putih). Makepung dibagi menjadi 2 wilayah (blok) yaitu blok barat(hijau), blok timur (merah). Mekepung juga berarti kejar-kejaran, inspirasi berasal dari kegiatan petani pengolahan sawah mereka sebelum mereka menanam benih padi yang bajak lahan basah ke dalam lumpur dengan menggunakan bajak tradisional.Bajak ditarik oleh dua ekor kerbau, kerbau mengenakan alat dekoratif seperti lonceng kayu, sehingga ketika kerbau berjalan menarik bajak akan terdengar suara seperti musik.asal usul dari tradisi makepung ini tidak menggunakan sapi, karena sapi merupakan hewan yang disucikan oleh masyarakat Hindu Bali, maka mereka memilih menggunakan kerbau sebagai hewan pekerja dan tunggangan. Tradisi makepung ini sangat populer di Jembaran, di bagian barat Pulau Bali.

MAKANA MAKEPUNG

1.Mekepung sebagai salah satu tradisi khas dan kegemaran masyarakat Kabupaten Jembrana sampai saat ini.

2.Aset pariwisata yang setrategis dan potensial untuk dilestarikan dan dikembangkan, karena daya tarik dan keunikannya yang tiada duanya di Bali dan bahkan di tingkat nasional dan internasional. serta sebagai ajang promosi Pariwisata Kabupaten Jembrana pada khususnya dan Bali pada umumnya

3.Pelaksanaan lomba mekepung juga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap sektor lain seperti pertanian dan peternakan, karena dengan adanya tradisi Mekepung, terbukti mampu mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian, dan di sisi lain masyarakat merasa terpacu untuk memelihara karbau secara intensif guna bisa ikut berpartisipasi dalam lomba mekepung yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun.

MAKEPUNG DI JEMBRANA

Makepung adalah tradisi bali sama seperti karapan sapi hanya saja makepu menggunakan hewan kerbau. Mekepu berasal dari kabupaten jembrana, bali. Makepung artinya berkejar-kejaran inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai Bajak Lampit Slau. Saat ini mekepung di jadikan ajang perlombaan yang menarik. Berbeda dengan dulu saat ini pakaian joki makepung sudah berubah hanya menggunakan kaos berkerah lengan panjang, pengikat kepala dan celana panjang. Sistem pertandingan makepung sangatlah unik berbeda dengan karapan sapi yang di mainkan di lapangan yang datar. Makepung di mainkan di jalanan yang datar dan lebar yang relatif hanya muat 1 makepung. Sistem pertandingan makepung adalah apabila makepung yang di depan bisa menjaga jarak 10 meter dari makepung yang di belakang maka makepung depanlah yang menang dan apabila mekepung yang di depan tidak bisa menjaga jarak 10 meter dari makepung yang di belakang maka makepung belakanglah yang menang. Pesan moral yang dapat di ambil dari tradisi makepung adalah kerja keras, keberanian, dan kerjasama.

Tradisi Perang Tipat Bantal Tradisi Adat Kapal

Desa Kapal adalah salah satu desa tradisional di Bali yang kaya akan keunikan adat dan  budaya. Desa Kapal termasuk dalam wilayah Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung Provinsi Bali ini memiliki berbagai tradisi unik dan menarik yang masih berlangsung sampai sekarang.  Salah satunya adalah pelaksanaan tradisi Aci Rah Penganggon atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Perang Tipat – Bantal. Tradisi Perang Tipat – Bantal  ini berkaitan erat dengan kehidupan pertanian masyarakat di desa Kapal, di mana tradisi ini dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diciptakan – Nya serta berlimpahnya hasil panen di desa Kapal ini. Tradisi Aci Rah Penganggon atau Perang Tipat Bantal ini dilaksanakan setiap Bulan Keempat dalam penanggalan Bali ( Sasih Kapat ) sekitar bulan September – bulan Oktober.

Pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk Perang Tipat – Bantal. Tipat atau ketupat adalah olahan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda berbentuk segi empat, sedangkan Bantal adalah olahan makanan yang terbuat dari olahan beras ketan yang juga dibungkus dengan anyaman janur namun berbentuk bulat lonjong. Dua hal ini adalah suatu simbolisasi dari keberadaan energi maskulin dan feminism yang ada di semesta ini, yang mana dalam konsep Hindu disebut sebagai Purusha

Predana. Pertemuan Purusha dan Predana ini dipercaya memberikan kehidupan pada semua makhluk di dunia ini, segala yang tumbuh dan berkembang baik dari tanah ( tumbuh), bertelur maupun

dilahirkan berawal dari pertemuan kedua hal ini. Ritual yang berlangsung di Pura Desa Kapal ini diawali dengan upacara persembahyangan bersama oleh seluruh Desa Kapal. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Tipat – Bantal ini.

Tidak lama kemudian beberapa pria melepas baju dan bertelanjang dada. Mereka terbagi menjadi dua kelompok dan berdiri saling berhadapan. Setelah aba – aba dimulai, para pria yang bertelanjang dada itu mulai melemparkan tipat dan bantal itu ke kelompok yang ada di depan mereka. Suasana pun gempar ketika tipat dan bantal mulai berterbangan di udara. Lalu aksi lempar ketupat dan bantal ini dihentikan sementara. Warga mulai beranjak keluar Pura dan kini mereka bersiap di jalan raya yang berada di depan pura Desa Kapal lalu berdiri berkelompok, dan saling berhadapan sekitar 15 meter.

Suasana kembali riuh ketika ritual itu dimulai lagi. Warga melempar tipat dan bantal itu membabi buta sambil berteriak dan tertawa. Perang Tipat – Bantal ini menjadi lebih seru ketika para penonton yang berdiri di trotoar ikut mengambil dan melempar tipat itu. Tak jarang ada ketupat nyasar ke arah penonton atau fotografer yang tengah mengabadikan momen tersebut. Beberapa dari warga yang menonton berteriak dan berlindung. Maklum, jika terkena lemparan tipat dan bantal ini, badan terasa sakit seperti terkena benda keras. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita. Tradisi Perang Tipat – Bantal ini bermakna bahwa pangan yang kita miliki adalah senjata utama untuk mempertahankan diri dari hidup dan berkehidupan.