biografi i ketut suandita

Januari 7th, 2014

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

 

Peranan seniman, khususnya pada kalangan masyarakat Bali, dalam upaya mengaktualisasikan seni tradisinya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamannya telah menunjukkan hasil. Sebagaimana yang terjadi dalam seni karawitan Bali dewasa ini. Karya-karya karawitan di Bali tidak terlepas dari para konseptor atau komposer  yang mampu menerima segala jenis perkembangan maupun pengaruh budaya global tetapi masih berpegang teguh pada seni-seni tradisi yang diwariskan nenek moyang terdahulu. Sebagai salah satu contoh seniman Bali yang kreatif adalah I Ketut Suandita S.Sn, seorang seniman muda yang kini sedang naik daun dan cukup menonjol  dalam inovasinya dibidang seni karawitan Bali. Maka dari itu penulis tertarik untuk membuat biografi sosok seniman I Ketut Suandita, untuk mencari tahu asal-usul beliau dan secara tidak langsung juga bisa belajar dan mengetahui cara-cara beliau menggarap suatu gending atau lagu pada media ungkap gamelan Bali.

 

 

1.2  Rumusan Masalah

 

Berhubungan dengan hal tersebut di atas, kiranya penulis rumuskan beberapa masalah yang penulis ketengahkan dalam paper ini :

1. Bagaimana latar belakang kehidupan I Ketut Suandita?

2. Bagaimana kesenimanan I Ketut Suandita?

3. Bagaimanakah proses kreatif I Ketut Suandita dalam menggarap dan menghasilkan suatu gending atau tabuh?

 

 1.3 Ruang Lingkup Penelitian

 

Ruang lingkup pada penelitian ini dibatas pada bibliografi I Ketut Suandita yang mengungkap latar belakang  beliau, pengalaman berkesenian beliau, dan proses kreatif yang beliu terapkan sehingga dapat menggarap dan  menghasilkan tabuh-tabuh karawitan Bali.

 

 

1.4 Tujuan Penelitian

 

  1. Untuk mengetahui latar belakang kehidupan I Ketut Suandita.
  2. Untuk mengetahui kesenimanan I Ketut Suandita.
  3. Untuk mengetahui proses kreatif Ketut Suandita dalam menggarap dan menghasilkan suatu gending atau tabuh.

 

 

1.5  Manfaat Penelitian

 

Selain memiliki tujuan yang ingin dicapai, setelah terwujudnya  penelitian ini diharapkan nantinya akan memberi manfaat yang positif terhadap:

 

  1.  Pengembangan ilmu dan wawasan bagi penulis sebagai mahasiswa seni pertunjukan, jurusan karawitan, semester empat, program penciptaan seni. Dari hasil penelitian ini diharapkan  akan dapat belajar banyak tentang metode dan teknik dalam membuat gending atau tabuh karawitan Bali dari sosok kesenimanan dan proses kreatif I Ketut Suandita.
  2. Pengembangan ISI Denpasar sebagai sebuah lembaga pendidikan seni.  Dalam hal ini, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai metode penciptaan, ataupun memberikan sebuah pengetahuan bagi seniman-seniman lainnya yang akan mulai mencoba menggarap suatu gending atau tabuh. Selain juga menambah literature sebagai refrensi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Latar Belakang Kehidupan I Ketut Suandita

 

I Ketut Suandita adalah seorang seniman karawitan Bali yang berasal dari Banjar Kehen, Desa Kesiman, Denpasar Timur merupakan putra ke-8 dari pasangan I Made Rengkig (Almarhum) dengan Ni Made Rentib. Ia lahir pada tanggal 1 April 1970. Dilihat dari namanya, ia adalah Ketut balik ( Ketut kedua) dari urutan nama depan yang sudah menjadi identitas nama orang Bali pada umumnya. I Ketut Suandita mempunyai istri Ni Wayan Widari dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama I Wayan Srutha Wiguna. Dalam perjalanan hidupnya, I Ketut Suandita mempunyai cita-cita yang ingin dicapai yaitu ingin menjadi pemain sepak bola dan menjadi seorang seniman. Namun demikian, dari kedua cita-citanya itu, ia lebih condong bercita-cita menjadi seniman. Ini dikarenakan oleh faktor keturunan (genetik) dan bakat, yang sangat mempengaruhi cepat lambatnya seseorang dalam berproses. Darah kesenimanannya mengalir dari darah kakeknya yang juga seorang penabuh gamelan.

Bakat kesenimanan I Ketut Suandita sebagai pengrawit sudah kelihatan mulai ia duduk di bangku SD kelas 5. Bakatnya itu terbukti dari kecakapannya bermain gangsa dan kendang dalam sebuah garapan janger yang dibuat di sekolahnya. I Ketut Suandita mengikuti jenjang pendidikan dasarnya di SDN 6 Kesiman, Denpasar Timur. Ia memiliki seorang guru Agama Hindu bernama Ida Bagus Alit dari Desa Sanur yang sangat memperhatikan bakat kesenimanannya. Menurut I Ketut Suandita, sosok sesorang yang sangat berperan dalam pembentukan dirinya menjadi seorang seniman adalah guru agamanya itu.

Setelah lulus SD, Suandita melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 8 Denpasar. Dalam pendidikannya di bangku SMP, ia mengalihkan bakat keseniannya  kebidang olahraga. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya  pelajaran menabuh di sekolahnya. Di sini bakat olahraganya yang tumbuh dengan pesat. Hal itu terbukti dari keikutsertaannya dalam keanggotaan Persatuan Sepak Bola Denpasar (PERSEDEN). Kendatipun demikian disela-sela aktivitas olahraga yang ia lakukan, I Ketut Suandita juga merasakan ada suatu kebimbangan untuk menentukan jati dirinya kedepan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, dan menyadari pengalaman yang ia peroleh dari olahraga cukup banyak, maka ia dengan sigap menyatakan dirinya harus menjadi seorang seniman.

Ketika lulus  SMP, biasanya seorang siswa dibebaskan menentukan pilihannya untuk melanjutkan kesekolah mana yang diinginkan. Dalam pengisian formulir pendaftaran, I Ketut Suandita dalam menentukan pilihannya ia mendaftar di dua sekolah. Urutan pertama yang ia pilih adalah SMKI Bali, dan urutan kedua adalah SGO (Sekolah Guru Olahraga). Tetapi, karena keinginannya yang dominan menjadi seorang seniman, maka kemudian ia memastikan untuk melanjutkan studinya di SMKI Bali. Di sekolah seni inilah bakat keseniaannya secara formal mulai ditempa.

Bagaikan seseorang yang mendapatkan air minum ketika sedang kehausan, begitulah perasaan I Ketut Suandita ketika mendapat pendidikan dari guru-guru keseniaannya. Ia diajar oleh tokoh-tokoh karawitan Bali seperti I Gusti Ngurah Padang, I Ketut Gede Asnawa, I Wayan Sinti, dan yang lainnya. Pengetahuan yang ia peroleh dari masing-masing gurunya itu berbeda-beda. I Ketut Gede Asnawa banyak memberinya pengetahuan tentang cara menggarap tabuh lelambatan. I Wayan Sinti banyak mengajarinya tentang tabuh palegongan klasik. Kemudian dari sekian gurunya itu, ia mendapatkan pengetahuan paling banyak dari bapak I Gusti Ngurah Padang yaitu tentang penggarapan tabuh kreasi.

Semenjak I Ketut Suandita duduk dibangku SMK kelas 2, kesempatan menggarap gending atau tabuh telah diperolehnya. Gending atau tabuh yang dibuatnya itu merupakan sebuah tugas mata pelajaran titi laras. Pada saat itu gending/tabuh yang ditugaskan untuk dibuat adalah gending untuk iringan prajurit. Dari sekian banyak gending yang terkumpul, baik dari  I Ketut Suandita maupun teman-temannya, namun hanya gending I Ketut Suandita yang paling baik dan berhasil memenuhi syarat. Keberhasilan seniman asal Kesiman ini dalam membuat gending prajurit mulai membuatnya tertarik untuk menjadi komposer karawitan Bali.

Menarik lagi perjalanan hidup I Ketut Suandita ketika menyelesaikan studinya di tingkat SMKI Bali, sertifikat (ijazah) kelulusannya ditahan oleh Wakil Kepala Sekolahnya yaitu I Gede Yudana, karena alasan dari pihak sekolah menginginkan I Ketut Suandita langsung menjadi tenaga pengajar disana. Sungguh merupakan suatu kesempatan yang tidak patut disia-siakan bagi. Kendatipun sebagai tenaga pengajar, namun proses pembelajaran tentang arti kesenian itu ia terus pelajari.

Dalam sebuah kehidupan,memang selalu terjadi pasang surut. Setelah Wakil Kepala Sekolahnya meninggal, status I Ketut Suandita sebagai seorang tenaga pengajar di SMKI Bali menjadi mengambang. Akhirnya setelah 3 tahun lamanya mengabdi di sekolah almamaternya itu ia memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga pengajar dan melanjutkan pendidikannya ke STSI Denpasar.

Bagi I Ketut Suandita, dalam menempuh pendidikan itu tidak mengenal batas umur. Walaupun dal m menempuh pendidikannya ke STSI Denpasar ia seaangkatan dengan siswa-siswa yang pernah diajarnya ketika masih mengajar di SMKI, namun semangat belajar untuk menempa jati dirinya menjadi seorang seniman tak pernah surut. Dalam proses pembelajarannya di kampus seni ini ia lebih mencondongkan dirinya hanya untuk belajar ilmu komposisi. Akhirnya berkat keuletannya dan juga restu dari Ida Sang Hyang Widhi ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana (S1) dengan membuat satu garapan tugas akhir  (TA) yang berjudul “Maha Yuga”. Garapan inilah sebagai tonggak jati diri kesenimanannya talah diraihnya dan diakui secara akademis.

 

 

2.2 Kesenimanan I Ketut Suandita

 

Kesenimanan I Ketut Suandita tidak terlepas dari pengalaman beliau yang memang sangat berharga. Dari pengalaman orang menjadi tau, dari pengalaman orang menjadi bisa, dan dari pengalaman juga orang akan mendapat ilmu pengetahuan. Oleh karenanya tidaklah salah jika banyak orang mengatakan bahwa “Experience the best teacher” pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu pula dengan I Ketut Suandita, pengalamannya merupakan guru baginya. Pengalaman-pengalaman itu dijadikannya sebuah pedoman didalam ia melangkah kedepan. Hal ini juga ia lakukan atas dasar nasehat dari salah satu seorang gurunya yang juga merupakan seorang empu karawitan Bali yaitu I Wayan Berata, kutipan nasehat tersebut adalah adalah “Tut, jika kamu menjadi seniman hendaknya seperti pertapaan si kayu jati, semakin tua usianya ia semakin berguna. Agar jangan seperti atlet olahraga, semakin tua semakin tidak berguna”. Apa yang disampaikan oleh gurunya itu ia jadikan sebagai sebuah konsep kesenimanannya. Menurut I Ketut Suandita, seorang seniman semakin tua usianya hendaknya memiliki pengalaman yang luas guna dijadikan bekal untuk bisa seperti ‘kayu jati’. Mengamati pengalaman I Ketut Suandita dalm berkesenian khususnya sebagai seorang seniman karawitan Bali, hal tersebut dapat diamati dari pengalamannya sebagai seorang seniman penyaji dan pengalamannya sebagai seorang seniman komposer/penggarap.

Dalam pengalamannya sebagai seorang penyaji, Seniman lulusan STSI Denpasar ini lebih banyak terlibat dalam karawitan instrumental, sehingga kemampuannya dalam menyajikan karawitan vokal tidak berkembang. Sebagai sosok seniman penyaji karawitan instrumental, Suandita sudah mendapat pengalaman sejak ia masih duduk di bangku SD. Saat itu ia sudah mampu memainkan kendang janger. Ketika menginjak ke tingkat pendidikan SMP, pengalam berkeseniannya sempat mengalami stagnasi karena di sekolahnya tidak terdapat gamelan untuk ia latihan.

Selanjutnya, setelah ia masuk ke SMKI Bali, disini ia banyak sekali mendapatkan pengalaman sebagai penyaji. Suatu pengalaman berharga yang ia alami sebagai penyaji karawitan adalah ketika kemampuannya dalam bermain kendang diuji. Dalam posisi belajarnya yang pada waktu itu duduk di kelas 4 SMKI Bali, ia berhasil menjadi seorang penyaji dengan nilai yang memuaskan. Keberhasilan ini ia peroleh dengan proses belajar , baik melalui proses bimbingan maupun belajar secara autodidak. Dari sinilah setapak demi setapak ia terus melangkah maju untuk meningkatkan kemampuan kesenimanannya sebagai seorang penyaji.

Kemampuan I Ketut Suandita sebagai seorang penyaji tidak hanya mampu memainkan instrumen kendang saja, tetapi hampir dari semua instrumen gamelan Bali ia bisa mainkan. Pada kenyataannya sekarang, pengalamannya sebagai  seorang penyaji sudah sangat banyak ia dapatkan, baik dalam keikutsertaanya di sebuah sekaa atau sanggar seni maupun dalam event-event kejuaraan seperti Festival Gong Kebyar. Pengalamannya sebagai seorang penyaji ini juga membawanya menjadi seorang penggarap.

Meninjau pengalaman I Ketut Suandita dalam hal menggarap, pengalaman itu telah ia lakoni sejak duduk di bangku SMKI Bali kelas 2, namun itu hanya dibuat untuk kepentingan salah satu tugas dari mata pelajaran titi laras yang ia pelajari. Kemudian setelah duduk di kelas 4, ia mulai menggarap bentuk-bentuk gending kreasi Balaganjur. Kesuksesan pertama yang ia raih dalam garapannya itu kemudian memotivasinya untuk terus berkarya. Seperti salah satu contohnya, dalam event-event lomba Balaganjur setiap tahun Suandita selalu muncul sebagai sosok penggarap. Memang ia patut diacungi jempol karena setiap karya-karyanya itu masuk dalam nominasi tiga besar. Kendatipun dalam kesenimanannya ia lebih banyak terlibat dalam penggarapan kreasi Balaganjur, namun selain daripada itu ia juga tidak jarang menggarap gending/tabuh dengan menggunakan media Gong Kebyar. Beberapa bentuk garapannya itu yaitu tabuh kreasi pepanggulan, tabuh kreasi baru, sandya gita, iringan fragmentari, lelambatan, dan iringan tari seperti Tari Puja Prasamya dan Tari Sekar Jempiring yang sekarang merupakan tari maskot Kota Denpasar.

 

 

2.3  Mengetahui Proses Kreatif Ketut Suandita dalam Menggarap dan   Menghasilkan Suatu Gending atau Tabuh

 

Pada umumnya orang-orang kreatif adalah orang yang memiliki sikap berani untuk tampil berbeda, menonjol, membuat kejutan, ataupun berusaha untuk lepas dari ikatan tradisi. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mengambil suatu resiko. Dengan mengutamakan rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak putus cepat putus asa.

Suandita sebagai seniman penggarap dalam menghasilkan karya karyanya sangat didorong oleh sikap kreatifnya. Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif imajinatif serta kemampuan prakteknya secara optimal ia terus berupaya menghadirkan karya-karya musiknya dengan ide-ide yang segar. Jika boleh dikatakan, Suandita merupakan sosok seniman yang memiliki kemampuan kreatifitas sangat tinggi. Kemampuannya membaca situasi zaman dan kemampuannya bereksperimen serta bermain dengan ide, konsep-konsep atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan, yang kemudian diwujudkannya menjadi sebuah bentuk garap adalah kelebihannya sebagai sosok yang memiliki pribadi kreatif. Tingkat spontanitasnyapun tidak diragukan lagi, sehingga dalam proses menggarap ia termasuk seniman penggarap yang cepat dalam melahirkan ide-ide untuk mewujudkan sebuah garapan.

Pada dasarnya proses kreatif adalah proses yang dilakukan oleh seorang seniman dalam usahanya untuk mencipta atau menghasilkan sesuatu yang baru. Suandita sebagai seorang seniman penggarap secara substansi proses kerja kreatifnya dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Tahap Persiapan; 2. Tahap Penuangan; 3. Tahap revisi dan Finishing.

 

2.3.1   Tahap Persiapan

Tahap persiapan yang dilakukan Suandita sebagai proses awal kerja kreatifnya melalui dua tahapan yaitu : tahap eksplorasi dan penetapan ide, kemudian tahap penyusunan konsep garap. Pada eksplorasi dan penetapan ide, umumnya Suandita sebagai seorang penggarap berusaha mencari ide-ide garapan yang refresentatif dengan fenomena yang sedang aktual, baik menyangkut kondisi sosial maupun kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Setelah ide didapatkan, tahap selanjutnya yang ia lakukan adalah menyusun sebuah konsep garap. Konsep tersebut meliputi: menentukan bentuk, nafas,serta tujuan penggarapan, menentukan media ungkap/ prabot garap yang akan digunakan untuk menuangkan ide, menentukan konsep-konsep estetis serta konsep-konsep musikal yang akan digunakan dalam mewujudkan karyanya; serta mengamati tingkat kemampuan pendukung.

 

2.3.2 Tahap Penuangan

Tahap penuangan dilakukan dengan dua cara. Pertama, ide atau wujud garapan yang masih berada dalam tataran imajinasinya itu dituangkan dahulu ke dalam bentuk notasi, kemudian baru dituangkan ke dalam media ungkap. Cara ini ia lakukan ketika sedang berhadapan dengan penabuh yang memiliki daya tangkap diatas rata-rata serta penabuh yang sudah kawakan. Dalam hal ini notasi akan dapat ia gunakan untuk mempercepat proses penuangan idenya ia dapat langsung menuangkan idenya kedalam media ungkap. Kedua, untuk menuangkan idenya ia dapat langsung menuangkan idenya ke dalam media ungkap. Cara ini ia lakukan ketika berhadapan langsung dengan penabuh yang tingkat kemampuannya dan daya tangkapnya menengah ke bawah.

2.3.3 Tahap Revisi dan Finishing

Tahap revisi  merupakan tahap pebaikan yang dilakukan terhadap garapan yang sudah terbentuk. Suandita mengatakan, bahwa jika dalam bentuk global dari garapan yang ia telah wujudkan ada bagian yang menurutnya kurang sesuai maka ia akan merevisinya kembali. Metode revisi yang ia lakukan adalah dengan cara kembali ke tahap eksplorasi untuk mencari-cari kembali motif yang sesuai untuk mengganti bagian yang kurang sesuai itu. Tahap finishing merupakan tahap akhir dari proses kreatif yang dilakukan oleh Suandita. Tahap ini adalah tahap penyelesaian atau mengahaluskan sebuah bentuk garap yang sudah terbentuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

 

3.1  KESIMPULAN

 

 

Peranan seniman, khususnya pada kalangan masyarakat Bali, dalam upaya mengaktualisasikan seni tradisinya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamannya telah menunjukkan hasil. Sebagai salah satu contoh seniman Bali yang kreatif adalah I Ketut Suandita S.Sn, seorang seniman muda yang kini sedang naik daun dan cukup menonjol  dalam inovasinya dibidang seni karawitan Bali.

I Ketut Suandita adalah seorang seniman karawitan Bali yang berasal dari Banjar Kehen, Desa Kesiman, Denpasar Timur merupakan putra ke-8 dari pasangan I Made Rengkig (Almarhum) dengan Ni Made Rentib. Ia lahir pada tanggal 1 April 1970. Dilihat dari namanya, ia adalah Ketut balik ( Ketut kedua) dari urutan nama depan yang sudah menjadi identitas nama orang Bali pada umumnya. I Ketut Suandita mempunyai istri Ni Wayan Widari dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama I Wayan Srutha Wiguna. Bakat kesenimanan I Ketut Suandita sebagai pengrawit sudah kelihatan mulai ia duduk di bangku SD kelas 5. Bakatnya itu terbukti dari kecakapannya bermain gangsa dan kendang dalam sebuah garapan janger yang dibuat di sekolahnya.

Suandita sebagai seniman penggarap dalam menghasilkan karya karyanya sangat didorong oleh sikap kreatifnya. Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif imajinatif serta kemampuan prakteknya secara optimal ia terus berupaya menghadirkan karya-karya musiknya dengan ide-ide yang segar dan  Suandita sebagai seorang seniman penggarap secara substansi proses kerja kreatifnya dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Tahap Persiapan; 2. Tahap Penuangan; 3. Tahap revisi dan Finishing.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Informan

 

 

 

  1. Nama                 : I Ketut Suandita., S.Sn

Tempat

tanggal lahir       : Denpasar, 1 April 1970

Jenis Kelamin    : Laki-laki

Pekerjaan           : Pegawai Dinas Kebudayaan Kota Denpasar/ Komposer

Karawitan Bali

Alamat               : Jalan Sulatri nomer 34, Banjar Kehen  Desa Kesiman  Petilan,  Kecamatan   Denpasar Timur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

 

Peranan seniman, khususnya pada kalangan masyarakat Bali, dalam upaya mengaktualisasikan seni tradisinya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamannya telah menunjukkan hasil. Sebagaimana yang terjadi dalam seni karawitan Bali dewasa ini. Karya-karya karawitan di Bali tidak terlepas dari para konseptor atau komposer  yang mampu menerima segala jenis perkembangan maupun pengaruh budaya global tetapi masih berpegang teguh pada seni-seni tradisi yang diwariskan nenek moyang terdahulu. Sebagai salah satu contoh seniman Bali yang kreatif adalah I Ketut Suandita S.Sn, seorang seniman muda yang kini sedang naik daun dan cukup menonjol  dalam inovasinya dibidang seni karawitan Bali. Maka dari itu penulis tertarik untuk membuat biografi sosok seniman I Ketut Suandita, untuk mencari tahu asal-usul beliau dan secara tidak langsung juga bisa belajar dan mengetahui cara-cara beliau menggarap suatu gending atau lagu pada media ungkap gamelan Bali.

 

 

1.2  Rumusan Masalah

 

Berhubungan dengan hal tersebut di atas, kiranya penulis rumuskan beberapa masalah yang penulis ketengahkan dalam paper ini :

1. Bagaimana latar belakang kehidupan I Ketut Suandita?

2. Bagaimana kesenimanan I Ketut Suandita?

3. Bagaimanakah proses kreatif I Ketut Suandita dalam menggarap dan menghasilkan suatu gending atau tabuh?

 

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

 

Ruang lingkup pada penelitian ini dibatas pada bibliografi I Ketut Suandita yang mengungkap latar belakang  beliau, pengalaman berkesenian beliau, dan proses kreatif yang beliu terapkan sehingga dapat menggarap dan  menghasilkan tabuh-tabuh karawitan Bali.

 

 

1.4 Tujuan Penelitian

 

  1. Untuk mengetahui latar belakang kehidupan I Ketut Suandita.
  2. Untuk mengetahui kesenimanan I Ketut Suandita.
  3. Untuk mengetahui proses kreatif Ketut Suandita dalam menggarap dan menghasilkan suatu gending atau tabuh.

 

 

1.5  Manfaat Penelitian

 

Selain memiliki tujuan yang ingin dicapai, setelah terwujudnya  penelitian ini diharapkan nantinya akan memberi manfaat yang positif terhadap:

 

  1.  Pengembangan ilmu dan wawasan bagi penulis sebagai mahasiswa seni pertunjukan, jurusan karawitan, semester empat, program penciptaan seni. Dari hasil penelitian ini diharapkan  akan dapat belajar banyak tentang metode dan teknik dalam membuat gending atau tabuh karawitan Bali dari sosok kesenimanan dan proses kreatif I Ketut Suandita.
  2. Pengembangan ISI Denpasar sebagai sebuah lembaga pendidikan seni.  Dalam hal ini, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai metode penciptaan, ataupun memberikan sebuah pengetahuan bagi seniman-seniman lainnya yang akan mulai mencoba menggarap suatu gending atau tabuh. Selain juga menambah literature sebagai refrensi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Latar Belakang Kehidupan I Ketut Suandita

 

I Ketut Suandita adalah seorang seniman karawitan Bali yang berasal dari Banjar Kehen, Desa Kesiman, Denpasar Timur merupakan putra ke-8 dari pasangan I Made Rengkig (Almarhum) dengan Ni Made Rentib. Ia lahir pada tanggal 1 April 1970. Dilihat dari namanya, ia adalah Ketut balik ( Ketut kedua) dari urutan nama depan yang sudah menjadi identitas nama orang Bali pada umumnya. I Ketut Suandita mempunyai istri Ni Wayan Widari dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama I Wayan Srutha Wiguna. Dalam perjalanan hidupnya, I Ketut Suandita mempunyai cita-cita yang ingin dicapai yaitu ingin menjadi pemain sepak bola dan menjadi seorang seniman. Namun demikian, dari kedua cita-citanya itu, ia lebih condong bercita-cita menjadi seniman. Ini dikarenakan oleh faktor keturunan (genetik) dan bakat, yang sangat mempengaruhi cepat lambatnya seseorang dalam berproses. Darah kesenimanannya mengalir dari darah kakeknya yang juga seorang penabuh gamelan.

Bakat kesenimanan I Ketut Suandita sebagai pengrawit sudah kelihatan mulai ia duduk di bangku SD kelas 5. Bakatnya itu terbukti dari kecakapannya bermain gangsa dan kendang dalam sebuah garapan janger yang dibuat di sekolahnya. I Ketut Suandita mengikuti jenjang pendidikan dasarnya di SDN 6 Kesiman, Denpasar Timur. Ia memiliki seorang guru Agama Hindu bernama Ida Bagus Alit dari Desa Sanur yang sangat memperhatikan bakat kesenimanannya. Menurut I Ketut Suandita, sosok sesorang yang sangat berperan dalam pembentukan dirinya menjadi seorang seniman adalah guru agamanya itu.

Setelah lulus SD, Suandita melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 8 Denpasar. Dalam pendidikannya di bangku SMP, ia mengalihkan bakat keseniannya  kebidang olahraga. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya  pelajaran menabuh di sekolahnya. Di sini bakat olahraganya yang tumbuh dengan pesat. Hal itu terbukti dari keikutsertaannya dalam keanggotaan Persatuan Sepak Bola Denpasar (PERSEDEN). Kendatipun demikian disela-sela aktivitas olahraga yang ia lakukan, I Ketut Suandita juga merasakan ada suatu kebimbangan untuk menentukan jati dirinya kedepan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, dan menyadari pengalaman yang ia peroleh dari olahraga cukup banyak, maka ia dengan sigap menyatakan dirinya harus menjadi seorang seniman.

Ketika lulus  SMP, biasanya seorang siswa dibebaskan menentukan pilihannya untuk melanjutkan kesekolah mana yang diinginkan. Dalam pengisian formulir pendaftaran, I Ketut Suandita dalam menentukan pilihannya ia mendaftar di dua sekolah. Urutan pertama yang ia pilih adalah SMKI Bali, dan urutan kedua adalah SGO (Sekolah Guru Olahraga). Tetapi, karena keinginannya yang dominan menjadi seorang seniman, maka kemudian ia memastikan untuk melanjutkan studinya di SMKI Bali. Di sekolah seni inilah bakat keseniaannya secara formal mulai ditempa.

Bagaikan seseorang yang mendapatkan air minum ketika sedang kehausan, begitulah perasaan I Ketut Suandita ketika mendapat pendidikan dari guru-guru keseniaannya. Ia diajar oleh tokoh-tokoh karawitan Bali seperti I Gusti Ngurah Padang, I Ketut Gede Asnawa, I Wayan Sinti, dan yang lainnya. Pengetahuan yang ia peroleh dari masing-masing gurunya itu berbeda-beda. I Ketut Gede Asnawa banyak memberinya pengetahuan tentang cara menggarap tabuh lelambatan. I Wayan Sinti banyak mengajarinya tentang tabuh palegongan klasik. Kemudian dari sekian gurunya itu, ia mendapatkan pengetahuan paling banyak dari bapak I Gusti Ngurah Padang yaitu tentang penggarapan tabuh kreasi.

Semenjak I Ketut Suandita duduk dibangku SMK kelas 2, kesempatan menggarap gending atau tabuh telah diperolehnya. Gending atau tabuh yang dibuatnya itu merupakan sebuah tugas mata pelajaran titi laras. Pada saat itu gending/tabuh yang ditugaskan untuk dibuat adalah gending untuk iringan prajurit. Dari sekian banyak gending yang terkumpul, baik dari  I Ketut Suandita maupun teman-temannya, namun hanya gending I Ketut Suandita yang paling baik dan berhasil memenuhi syarat. Keberhasilan seniman asal Kesiman ini dalam membuat gending prajurit mulai membuatnya tertarik untuk menjadi komposer karawitan Bali.

Menarik lagi perjalanan hidup I Ketut Suandita ketika menyelesaikan studinya di tingkat SMKI Bali, sertifikat (ijazah) kelulusannya ditahan oleh Wakil Kepala Sekolahnya yaitu I Gede Yudana, karena alasan dari pihak sekolah menginginkan I Ketut Suandita langsung menjadi tenaga pengajar disana. Sungguh merupakan suatu kesempatan yang tidak patut disia-siakan bagi. Kendatipun sebagai tenaga pengajar, namun proses pembelajaran tentang arti kesenian itu ia terus pelajari.

Dalam sebuah kehidupan,memang selalu terjadi pasang surut. Setelah Wakil Kepala Sekolahnya meninggal, status I Ketut Suandita sebagai seorang tenaga pengajar di SMKI Bali menjadi mengambang. Akhirnya setelah 3 tahun lamanya mengabdi di sekolah almamaternya itu ia memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga pengajar dan melanjutkan pendidikannya ke STSI Denpasar.

Bagi I Ketut Suandita, dalam menempuh pendidikan itu tidak mengenal batas umur. Walaupun dal m menempuh pendidikannya ke STSI Denpasar ia seaangkatan dengan siswa-siswa yang pernah diajarnya ketika masih mengajar di SMKI, namun semangat belajar untuk menempa jati dirinya menjadi seorang seniman tak pernah surut. Dalam proses pembelajarannya di kampus seni ini ia lebih mencondongkan dirinya hanya untuk belajar ilmu komposisi. Akhirnya berkat keuletannya dan juga restu dari Ida Sang Hyang Widhi ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana (S1) dengan membuat satu garapan tugas akhir  (TA) yang berjudul “Maha Yuga”. Garapan inilah sebagai tonggak jati diri kesenimanannya talah diraihnya dan diakui secara akademis.

 

 

2.2 Kesenimanan I Ketut Suandita

 

Kesenimanan I Ketut Suandita tidak terlepas dari pengalaman beliau yang memang sangat berharga. Dari pengalaman orang menjadi tau, dari pengalaman orang menjadi bisa, dan dari pengalaman juga orang akan mendapat ilmu pengetahuan. Oleh karenanya tidaklah salah jika banyak orang mengatakan bahwa “Experience the best teacher” pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu pula dengan I Ketut Suandita, pengalamannya merupakan guru baginya. Pengalaman-pengalaman itu dijadikannya sebuah pedoman didalam ia melangkah kedepan. Hal ini juga ia lakukan atas dasar nasehat dari salah satu seorang gurunya yang juga merupakan seorang empu karawitan Bali yaitu I Wayan Berata, kutipan nasehat tersebut adalah adalah “Tut, jika kamu menjadi seniman hendaknya seperti pertapaan si kayu jati, semakin tua usianya ia semakin berguna. Agar jangan seperti atlet olahraga, semakin tua semakin tidak berguna”. Apa yang disampaikan oleh gurunya itu ia jadikan sebagai sebuah konsep kesenimanannya. Menurut I Ketut Suandita, seorang seniman semakin tua usianya hendaknya memiliki pengalaman yang luas guna dijadikan bekal untuk bisa seperti ‘kayu jati’. Mengamati pengalaman I Ketut Suandita dalm berkesenian khususnya sebagai seorang seniman karawitan Bali, hal tersebut dapat diamati dari pengalamannya sebagai seorang seniman penyaji dan pengalamannya sebagai seorang seniman komposer/penggarap.

Dalam pengalamannya sebagai seorang penyaji, Seniman lulusan STSI Denpasar ini lebih banyak terlibat dalam karawitan instrumental, sehingga kemampuannya dalam menyajikan karawitan vokal tidak berkembang. Sebagai sosok seniman penyaji karawitan instrumental, Suandita sudah mendapat pengalaman sejak ia masih duduk di bangku SD. Saat itu ia sudah mampu memainkan kendang janger. Ketika menginjak ke tingkat pendidikan SMP, pengalam berkeseniannya sempat mengalami stagnasi karena di sekolahnya tidak terdapat gamelan untuk ia latihan.

Selanjutnya, setelah ia masuk ke SMKI Bali, disini ia banyak sekali mendapatkan pengalaman sebagai penyaji. Suatu pengalaman berharga yang ia alami sebagai penyaji karawitan adalah ketika kemampuannya dalam bermain kendang diuji. Dalam posisi belajarnya yang pada waktu itu duduk di kelas 4 SMKI Bali, ia berhasil menjadi seorang penyaji dengan nilai yang memuaskan. Keberhasilan ini ia peroleh dengan proses belajar , baik melalui proses bimbingan maupun belajar secara autodidak. Dari sinilah setapak demi setapak ia terus melangkah maju untuk meningkatkan kemampuan kesenimanannya sebagai seorang penyaji.

Kemampuan I Ketut Suandita sebagai seorang penyaji tidak hanya mampu memainkan instrumen kendang saja, tetapi hampir dari semua instrumen gamelan Bali ia bisa mainkan. Pada kenyataannya sekarang, pengalamannya sebagai  seorang penyaji sudah sangat banyak ia dapatkan, baik dalam keikutsertaanya di sebuah sekaa atau sanggar seni maupun dalam event-event kejuaraan seperti Festival Gong Kebyar. Pengalamannya sebagai seorang penyaji ini juga membawanya menjadi seorang penggarap.

Meninjau pengalaman I Ketut Suandita dalam hal menggarap, pengalaman itu telah ia lakoni sejak duduk di bangku SMKI Bali kelas 2, namun itu hanya dibuat untuk kepentingan salah satu tugas dari mata pelajaran titi laras yang ia pelajari. Kemudian setelah duduk di kelas 4, ia mulai menggarap bentuk-bentuk gending kreasi Balaganjur. Kesuksesan pertama yang ia raih dalam garapannya itu kemudian memotivasinya untuk terus berkarya. Seperti salah satu contohnya, dalam event-event lomba Balaganjur setiap tahun Suandita selalu muncul sebagai sosok penggarap. Memang ia patut diacungi jempol karena setiap karya-karyanya itu masuk dalam nominasi tiga besar. Kendatipun dalam kesenimanannya ia lebih banyak terlibat dalam penggarapan kreasi Balaganjur, namun selain daripada itu ia juga tidak jarang menggarap gending/tabuh dengan menggunakan media Gong Kebyar. Beberapa bentuk garapannya itu yaitu tabuh kreasi pepanggulan, tabuh kreasi baru, sandya gita, iringan fragmentari, lelambatan, dan iringan tari seperti Tari Puja Prasamya dan Tari Sekar Jempiring yang sekarang merupakan tari maskot Kota Denpasar.

 

 

2.3  Mengetahui Proses Kreatif Ketut Suandita dalam Menggarap dan   Menghasilkan Suatu Gending atau Tabuh

 

Pada umumnya orang-orang kreatif adalah orang yang memiliki sikap berani untuk tampil berbeda, menonjol, membuat kejutan, ataupun berusaha untuk lepas dari ikatan tradisi. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mengambil suatu resiko. Dengan mengutamakan rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak putus cepat putus asa.

Suandita sebagai seniman penggarap dalam menghasilkan karya karyanya sangat didorong oleh sikap kreatifnya. Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif imajinatif serta kemampuan prakteknya secara optimal ia terus berupaya menghadirkan karya-karya musiknya dengan ide-ide yang segar. Jika boleh dikatakan, Suandita merupakan sosok seniman yang memiliki kemampuan kreatifitas sangat tinggi. Kemampuannya membaca situasi zaman dan kemampuannya bereksperimen serta bermain dengan ide, konsep-konsep atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan, yang kemudian diwujudkannya menjadi sebuah bentuk garap adalah kelebihannya sebagai sosok yang memiliki pribadi kreatif. Tingkat spontanitasnyapun tidak diragukan lagi, sehingga dalam proses menggarap ia termasuk seniman penggarap yang cepat dalam melahirkan ide-ide untuk mewujudkan sebuah garapan.

Pada dasarnya proses kreatif adalah proses yang dilakukan oleh seorang seniman dalam usahanya untuk mencipta atau menghasilkan sesuatu yang baru. Suandita sebagai seorang seniman penggarap secara substansi proses kerja kreatifnya dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Tahap Persiapan; 2. Tahap Penuangan; 3. Tahap revisi dan Finishing.

 

2.3.1   Tahap Persiapan

Tahap persiapan yang dilakukan Suandita sebagai proses awal kerja kreatifnya melalui dua tahapan yaitu : tahap eksplorasi dan penetapan ide, kemudian tahap penyusunan konsep garap. Pada eksplorasi dan penetapan ide, umumnya Suandita sebagai seorang penggarap berusaha mencari ide-ide garapan yang refresentatif dengan fenomena yang sedang aktual, baik menyangkut kondisi sosial maupun kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Setelah ide didapatkan, tahap selanjutnya yang ia lakukan adalah menyusun sebuah konsep garap. Konsep tersebut meliputi: menentukan bentuk, nafas,serta tujuan penggarapan, menentukan media ungkap/ prabot garap yang akan digunakan untuk menuangkan ide, menentukan konsep-konsep estetis serta konsep-konsep musikal yang akan digunakan dalam mewujudkan karyanya; serta mengamati tingkat kemampuan pendukung.

 

2.3.2 Tahap Penuangan

Tahap penuangan dilakukan dengan dua cara. Pertama, ide atau wujud garapan yang masih berada dalam tataran imajinasinya itu dituangkan dahulu ke dalam bentuk notasi, kemudian baru dituangkan ke dalam media ungkap. Cara ini ia lakukan ketika sedang berhadapan dengan penabuh yang memiliki daya tangkap diatas rata-rata serta penabuh yang sudah kawakan. Dalam hal ini notasi akan dapat ia gunakan untuk mempercepat proses penuangan idenya ia dapat langsung menuangkan idenya kedalam media ungkap. Kedua, untuk menuangkan idenya ia dapat langsung menuangkan idenya ke dalam media ungkap. Cara ini ia lakukan ketika berhadapan langsung dengan penabuh yang tingkat kemampuannya dan daya tangkapnya menengah ke bawah.

2.3.3 Tahap Revisi dan Finishing

Tahap revisi  merupakan tahap pebaikan yang dilakukan terhadap garapan yang sudah terbentuk. Suandita mengatakan, bahwa jika dalam bentuk global dari garapan yang ia telah wujudkan ada bagian yang menurutnya kurang sesuai maka ia akan merevisinya kembali. Metode revisi yang ia lakukan adalah dengan cara kembali ke tahap eksplorasi untuk mencari-cari kembali motif yang sesuai untuk mengganti bagian yang kurang sesuai itu. Tahap finishing merupakan tahap akhir dari proses kreatif yang dilakukan oleh Suandita. Tahap ini adalah tahap penyelesaian atau mengahaluskan sebuah bentuk garap yang sudah terbentuk.

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

 

3.1  KESIMPULAN

 

 

Peranan seniman, khususnya pada kalangan masyarakat Bali, dalam upaya mengaktualisasikan seni tradisinya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamannya telah menunjukkan hasil. Sebagai salah satu contoh seniman Bali yang kreatif adalah I Ketut Suandita S.Sn, seorang seniman muda yang kini sedang naik daun dan cukup menonjol  dalam inovasinya dibidang seni karawitan Bali.

I Ketut Suandita adalah seorang seniman karawitan Bali yang berasal dari Banjar Kehen, Desa Kesiman, Denpasar Timur merupakan putra ke-8 dari pasangan I Made Rengkig (Almarhum) dengan Ni Made Rentib. Ia lahir pada tanggal 1 April 1970. Dilihat dari namanya, ia adalah Ketut balik ( Ketut kedua) dari urutan nama depan yang sudah menjadi identitas nama orang Bali pada umumnya. I Ketut Suandita mempunyai istri Ni Wayan Widari dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama I Wayan Srutha Wiguna. Bakat kesenimanan I Ketut Suandita sebagai pengrawit sudah kelihatan mulai ia duduk di bangku SD kelas 5. Bakatnya itu terbukti dari kecakapannya bermain gangsa dan kendang dalam sebuah garapan janger yang dibuat di sekolahnya.

Suandita sebagai seniman penggarap dalam menghasilkan karya karyanya sangat didorong oleh sikap kreatifnya. Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif imajinatif serta kemampuan prakteknya secara optimal ia terus berupaya menghadirkan karya-karya musiknya dengan ide-ide yang segar dan  Suandita sebagai seorang seniman penggarap secara substansi proses kerja kreatifnya dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Tahap Persiapan; 2. Tahap Penuangan; 3. Tahap revisi dan Finishing.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Informan

 

 

 

  1. Nama                 : I Ketut Suandita., S.Sn

Tempat

tanggal lahir       : Denpasar, 1 April 1970

Jenis Kelamin    : Laki-laki

Pekerjaan           : Pegawai Dinas Kebudayaan Kota Denpasar/ Komposer

Karawitan Bali

Alamat               : Jalan Sulatri nomer 34, Banjar Kehen  Desa Kesiman  Petilan,  Kecamatan   Denpasar Timur

iformasi biografi ini saya dapatkan dari I ketut Suandita Pada Hari Sabtu tanggal 5 Oktober 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sejarah gambelan di banjar kesambi

Januari 7th, 2014

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah perkembangan Gong Kebyar banjar Kesambi terdapat hal yang begitu menarik buat saya. Dulunya sebelum kami mempunyai gamelan gong kebyar, kami hanya menggunakan Gender Wayang untuk mengiringi upacara agama dan gamelan Bebatelan untuk mengiringi Ida Batara ke Pura-Pura di sekitar lingkungan Br. Kesambi. Dalam rapat (sangkep) oleh masyarakat br. Kesambi, mereka sepakat untuk membeli gamelan Gong Kebyar tetapi dengan cara membeli setengah-setengah karena pada jaman itu sangat susah mencari pekerjaan dan semua masyarakat di Bali hanya mengandalkan pekerjaan di Sawah.Pada masa-masa itu para penglingsir dan seluruh masyarakat di Br. Kesambi sangat giat mengumpulkan Padi guna untuk melengkapi gamelan Gong Kebyar tersebut karena uang dari penjualan Padi itu di gunakan untuk membeli gamelan Gong Kebyar di Br. Kesambi. Menurut Bapak I Wayan Sama, setelah gamelan ini sudah lengkap  satu barung pada tahun 1967, kemudian para penglingsir membentuk sebuah Sekaa Gong yang di beri nama “Gita Jaya” dan nama itu masih di pergunakan hingga sekarang. Di dalam proses pembelajaran pada saat itu, mereka di ajari oleh I Nyoman Nambleg(alm). Seiring dengan bejalannya waktu sekaa ini sudah bisa memainkan beberapa buah gending gamelan Gong Kebyar di antaranya : Tabuh Telu lelambatan, tabuh dua lelmbatan dan beberapa gending iringan tari.

Seiring dengan berjalannaya waktu saya selaku penerus dalam sekaa gong di Br. Kesambi ini sudah bisa menggunakan gambelan ini tanpa ikut merasakan susahnya membeli gamelan yang ada di Br.kesambi dan juga sudah bisa membuat generasi lagi dengan mengajak anak-anak umur 7 sampai 10 tahun untuk meningkatkan mutu kesenian yang ada di Br.kesambi. Dalam perkembangan dan perjalanan sekaa ini pernah terjadi sebuah peningkatan yang signifikan karena dalam Pesta Kesenian Bali pada tahun 2011, sekaa Gong “Gita Jaya” ini di tunjuk untuk menjadi Duta Kota Denpasar dalam Parade Gong Kebyar 2011, tetapi gambelan yang di gunakan adalah gamelan pemerintah Kota Denpasar karena gambelan itu biasanya sering di pakai pada saat pementasan Gong Kebyar untuk Duta Kota Denpasar

Sejak dulu sudah banyak peneliti gambelan – gambelan yang ada di Bali, khususnya penelitian tentang gambelan Gong  kebyar. Hanya saja dari begitu banyaknya tulisan tentang Gong kebyar, namun masalah asal mula angklung kebyar dapat dikatakan belum terungkap secara jelas dan lengkap. Hal ini disebabkan oleh sangat sedikit data – data asal mula angklung kebyar. Terutama data – data tertulis yang dapat dijadikan pegangan dalam menelusuri asal mula Gong kebyar lebih lanjut.

Gambelan Gong kebyar merupakan suatu jenis gambelan yang tergolong ke dalam golongan  madya. Gambelan ini merupakan suatu bentuk seni pertunjukan yang  popular di Bali karena gambelan ini sudah tergolong baru.

               Barungan adalah satu kelompok alat gambelan yang terdiri dari berbagai jenis instrumen dengan jumlah tertentu.

               Gambelan  adalah suatu barungan alat – alat seni suara yang memiliki bentuk dan komposisi, yang dipergunakan sebagai sarana memanifestasikan lagu – lagu khususnya lagu – lagu daerah di Indonasia.

             Gong adalah sebuah alat music bali yang bernuansakan gagah atau berwibawa. Kebyar adalah suatu bunyi yang timbul dari akibat pukulan alat – alat gambelan secara keseluruhan dan secara bersama – sama.

Sekalipun gambelan Gong  kebyar ini termasuk ke dalam golongan gambelan Bali lama namun di dalamnya masih tampak jelas betapa kuatnya pengaruh – pengaruh terhadap gambelan Bali lainnya, yang masuk dan ikut membentuk Gong kebyar ini. Adapun gambelan – gambelan Bali yang mempengaruhinya sudah barang tentu adalah gambelan Bali yang telah ada sebelum munculnya gambelan  Gong kebyar. Banyak Penulis dalam tulisannya menyatakan bahwa gambelan angklung kebyar muncul pada awal abad XX, muncul di daerah Bali Utara yaitu sekitar tahun 1915 di Jagaraga ( Buleleng bagian Timur ).

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana bentuk fisik gamelan Gong Kebyar Di Br. Kesambi?
  2. Bagaimana fungsi dan instrument yang dimiliki?
  3. Bagaimana karakteristik Gong Kebyar?

 

1.3  Tujuan

      Tujuan dari pembuatan paper  ini adalah untuk mengetahui bentuk fisik, fungsi dan teknik masing-masing instrumen,dan karakteristik Gong Kebyar.

1.4  Teori

Difusi merupakan suatu proses persebaran unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat yang berlangsung dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dalam hal ini kebudayaan tersebut berupa gamelan Gong Kebyar. Di mana gambelan tersebut yang dulunya lahir di Buleleng kini telah tersebar ke seluruh wilayah Bali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Bentuk Fisik Gambelan Gong Kebyar di Br. Kesambi

Gambelan Gong Kebyar sebagai perangkat atau barungan yang berlaraskan pelog dengan 5 (lima) nada, secara fisik dapat dibedakan menjadi dua model. Pertama, bentuk fisik daun gambelan yang berbentuk bilah dan berbentuk pencon terbuat dari kerawang. Kerawang adalah campuran antara timah murni dengan tembaga.

Kadang-kadang gambelan Gong Kebyar juga dapat  dibuat dari besi dan pelat. Sedangkan kedua adalah tempat dari bilah dan pencon digantung/ditempatkan disebut pelawah. Khusus untuk instrument bilah, pada pelawah ditempatkan resonator yang terbuat dari bambu ataupun paralon. Sedangkan pelawah untuk instrument reyong bentuknya memanjang dan di atasnya ditempatkan instrumen bermoncol/pencon yang dicincang dengan tali pada lubang gegoroknya. Penempatan nada-nada kedua instrument ini berjejer dari nada rendah ke nada tinggi (dari kiri ke kanan), sesuai dengan ukurannya besar ke kecil (nirus). Instrumen ini tanpa mempergunakan resonator. Sedangkan untuk instrument yang lainnya seperti instrumen gong, kempur dan klentong hanya digantung pada trampa yang disebut dengan sangsangan. Selain itu juga instrumen kajar hanya ditempatkan pada atas trampe tanpa resonator, sedangkan untuk instrumen cengceng gecek, cakepannya diikat pada atas pelawah yang berbentuk kura-kura/empas, angsa ataupun bentuk lainnya.

Sedangkan  pada plawahnya di ukir sedemikian rupa dan di perada agar pelawahnya keliatan lebih sempurna, tetapi plawah tersebut tidak di isi dengan pandil agar gamelan tersebut tidak keliatan terlalu mewah dan ingin  lebih menonjolkan kesan lebih antik.

 

2.2  Fungsi dan instrument yang dimiliki  Br.kesambi

Gambelan Gong Kebyar memiliki instrumentasi yang cukup besar. Masing-masing instrument dalam barungan memiliki fungsinya tersendiri sesuai dengan ciri khas gamelan Gong Kebyar yaitu “NGEBYAR”.   Repertoar gamelan gong kebyar memakai teknik-teknik yang sangat komplek. Masing-masing instrument telah memiliki teknik tersendiri dalam sebuah lagu. Begitu juga fungsi alat dalam perangkat/barungan saat memainkan lagu disesuaikan dengan kebutuhan lagu yang dibawakan.

Adapun instrumen yang terdapat didalam gamelan Gong Kebyar di Banjar Kesambi :

  1. 1 tungguh terompong
  2. 2 buah kendang
  3. 1 buah cenceng ricik
  4. 5- 10 buah suling
  5. 1 buah ugal
  6. 1 buah kajar
  7. 4 buah pemade
  8. 4 buah kantilan
  9. 1 tungguh reyong
  10.  2 buah jublag
  11.  2 buah jegog
  12.  2 buah gong
  13.  1 kempur
  14.  1 buah bende
  15.  1 buah kemong
  16.  1 buah kempli

Dengan perangkat gamelan yang telah dimiliki di banjar Kesambi, Sekaa ini mampu mewujudkan rasa bakti dengan konsep ngayah-ngayah di lingkungan Banjar bahkan di luar Banjar. Dengan perkembangan gamelan Gong Kebyar masa kini yang telah adanya tambahan instrument 1 buah ugal , dan 2 buah penyacah, di banjar Kesambi tidak terdapat instrument tersebut karena sekha Gong Gita Jaya masih mempertahankan konsep tradisi namun plawah dari gamelan tersebut  di prade untuk memperindah wajah dari gamelan itu sendiri, namun bumbung(resonator) gamelan itu di biarkan tetap terbuka dan tidak di lengkapi dengan pandil untuk tidak menghilangkan cirri khas gamelan tersebut dan tidak merusak nilai estetika gamelan tersebut guna untuk bisa di wariskan kepada generasi penerus sekaa gong “Gita Jaya”.

2.3 Karakteristik Gong  Kebyar

Gong Kebyar sebagai barungan gamelan yang tercetus di Bali Utara sekitar tahun 1915 memiliki karakter yang multi karakter. Keras, enerjik, bisa juga lembut, hikmad, atau juga sedih. Sehingga barungan gong kebyar dikatakan sangat fleksibel. Beberapa karakter dan fungsi gong kebyar dapat disampaikan sebagai berikut:

  • Bersifat praktis
  • Bisa untuk sajian gending pategak instrumental  (lelambatan maupun kakebyaran dan juga tetangisan dan keklentangan).
  • Bisa juga untuk iringan drama tari
  • Sanggup mentranspormir repertoar ensamble-ensamble lain
  • Mengundang aksi penampilan secara tidak terbatas.

Sebagai sarana diplomasi kebudayaan melalui misi kesenian, yang hampir bisa menyaingi gong kebyar dalam tren musik d Bali maupun dunia seperti : mempesona, menarik, menyentuh, bersahabat dan inovatif.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Gambelan Gong kebyar merupakan suatu jenis gambelan yang tergolong ke dalam golongan madya. Gamelan ini merupakan suatu bentuk seni pertunjukan yang popular di Bali. Oleh sebab itu gambelan angklung kebyar berkembang dan tersebar hampir ke seluruh pelosok Pulau Bali. Gong Kebyar adalah gambelan yang dibuat dengan nuansa kekebyaran. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan petegak.. Gong Kebyar ini menggunakan laras Pelog dan mennggunakan lima nada dan sepuluh bilah daun gamela.,gamelan ini  konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkan dengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar ini sering dimainkan dengan nuansa manis, semangat, dan enerjik

3.2  Saran

Saya berharap kepada pemerintah khusunya di Bali agr bisa lebih aktif menggembangkan Gong Kebyar ini,selain itu juga besar harapan saya dari para generasi muda bisa ikut melestarikan barungan gambelan Gong Kebyar.

 

tari kecak

Juni 10th, 2013

Tari Kecak

Kecak (pelafalan: /’[email protected];ak/, secara kasar “KEH-chahk”, pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

History/Sejarah
Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Story/Cerita

 

 

Tari Kecak merupakan salah satu tari Bali populer yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan biasanya oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual Sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rhama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian Sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.

tarian sakral bali

Juni 10th, 2013

Tari Sang Hyang

 

Salah satu kesenian Bali yang berkar pada kebudayan pra-Hindu adalah tari sang hyang. Tari ini maih hidup sampai sekarang dan kini dapat dijumpai kurang lebih dua puluh macam tari Sang Hyang. Tarian tersebut banyak di dapat di desa- desa pegunungan, semua jenis tari Sang Hyang terdiri atas dua atau tiga penari dan mereka dapat mencapai tance ( kerawuhan). Pertunjukan tari Sang Hyang sangat beraneka ragam wujudnya, masing-masing memiliki unsur improvisasi sesuai dengan budaya yang berkembang di sekitarnya. Tipe kerauhan ini juga amat berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Jenis-jenis tari Sang Hyang meliputi, Sang Hyang Dedari , Sang Hynag Jaran, Sang Hyang celeng, Sang Hyang lelipi, Sang Hyang Bojog, Sang Hyang penyalin, Sang Hyang Kuluk, Sang Hyang Sampat, Sang Hyang Penyu, Sang Hyang Samba, Sang Hyang memedi, Sang Hyang Deling dan lain-lain. Jika Sang Hyang itu mulai kerauhan penyanyi wanita yang sedang menyanyikan gending-gending Sang Hyang berhenti dari tugasnya dan mereka diganti oleh penyanyi pria yang disebut cak. Penari cak yang terdiri atas para penyungsung pura tersebut menyanyikan ritme cak, ecak , ecak , ecak dengan patron prekusif yng amat unik.

Perlu di perjelas bahwa sesungguhnya tidak semua tari Bali memiliki unsur kerauhan. Unsur kerauhan juga ada dalam tari Bali yang bersifat sekuler yang dilatih secara teknis dan srius namun secara konseptual kedaan seperti ini disebut ketakson. Untuk tarin-tarin yang bersifat kerauhan atau sakral, penari di tuntut untuk dapat kerauhan ( nadi ) , sedangkan kemampuan untuk menari adalah soal belakang. Untuk tarian profesional persyaratan ini menjadi terbalik, karena kondisi seperti ini dapat membingungkan dalam tarian Bali , sepeti terlihat dalam tarian sekuler yang ditambahkan degan kerauhan begitu saja untuk menarik wisatawan asing. Disini sifat-sifat kerauhan itu secara mudah disebut dengan metode berekting.

 

 

 

Drama Tari Gambuh

 

Salah satu warisan budaya Bali yang amat mengesankah adalah Gambuh. Ini merupakan drama tari paling tua dan dianggap sebagai sumber drama tari Bali, gambuh terselamatkan hingga kini dengan perubahan kecil dari aslinyaratusan tahun yang lampau. Didalam gambuh kita masih melihat tersimpannya tata cara dan ide-ide kebudayaan Majapahit dan kehidupan budaya yang tinggi dari kerajaan Bali dari abad ke -14 sampai ke -16. Para penguasa majaphit dan keluarga raja pada waktu itu sangat menghargai, memelihara kesenian dan tari secara serius di dalam isitana.

Gambuh telah diayomi dari tahun ke tahun, namun dalam pengayoman terebut drama tari Gambuh  “ dibalinisasikan “. Dari pengelihatan pertama, orang- orang yang akan dapat menyaksikan bahwa tata busana adat Bali telah diadaptasi ke dalam Gambuh. Gambuh memasukan unsur cerita kedalam tarian bali karena taria Bali pada zaman pra-Hindu tidak memiliki cerita. Dari cerita akan timbul pengertian tentang struktur dramatis, dan struktur akan memperkenalkan elemen komposisi. Gambuh juga memperkenalkan imajinasi musik yang tinggi dan imni menyebabkan hubungan erat antara tarian dan musik berkembang dalam drama dan tari Bali.  Tari Bali yang berasal dari zaman pra-Hindu hanya diiringi musik sederhana yang terdiri atas pukulan-pukulan ritmis, nyanyian yang diulang- ulang  dan perbendaharan musik yang sederhana.

Gambuh mengandung persamaan dengan opera barat dlam hal cerita yang diungkapkan oleh penari dalam bentuk nyanyian dan dialog.  Seni suara vokal bagi para penari dalam pementasan tidak lah begitu sukar ,biasanya terdiri atas nyanyian panjang dengan ritme yang bebas  dan harmonis seiring dengan nada-nada gambelan yang sedang mengiringi tarian itu.

Sebuah pertunjukan gambuh yang semprna biasanya memakai tiga atau empat pegunem : pengipuk ( percintaan ), tetengisan ( sedih ), dan pesiat (adegan perang biasanya mengakiri pergelaran itu ) .

 

 

Sendratari Ramayana dan Mahabrata

 

Sendra tari merupakan singkatan dari “ seni, drama dan tari” di Indonesia istilah sendra tari dipakai untuk menggantikan kata “ balet ” , yaitu tari klasik barat yang pementasannya menggantungkan keharmonisan antara musik dan tari, sedangkan cerita diungkapkan tanpa dialog, cukup dengan gerak-gerak berarti. Adapun sendratari yang pertama dipertunjukan di Bali adalah  sendra tari Jayaprana , gubahan I Wayan Bratha seorang guru tari dan karawitan.

Sendaratari Mahabrarata dan ramayana sebgai kasus dalam perubahan ini dapat dimengerti oleh masyarakat secara luas karena sendratari sebagai ciptaan baru masih bersumber pada tarian-tarian klasik Bali dan tidak pernah tercabut dari akar kebudayaan. Sendratari Mahabrata dan Ramayana yang semula dicetuskan pada pesta kesenian Bali tahun 1979 dan penggarapannya dilakukan secara kolosal tenyata merupakan awal perubahan baru dalam tari Bali. Sampai pada pementasan ketiga sendratari ini masih mendapat kritik yang cukup tajam dari para pengamat tari Bali.

Berawal dari gagasan tersebut dan untuk menghadapai para pemeran yang hampir dua ratus jumlahnya, perancang sendratari Mahabrata dan Ramayana garapan lolosal ini menyusun suatu skenario yang lebih lengkap. Skenario ini disusun oleh sebuah tim yang ditunjung oleh Pemerintah Daerah Tingat 1 Propinsi Bali. Tim skenario sendratari ini pada awalnya dipipmpin oleh I Gusti Bagus Nyoman Panji dan dilanjutkan oleh I Made Bandem dengan anggota-anggota seperti I Wayan Simpen AB, I Gusti Ngurah Suparta, I Wayan Dibia, I Nyoman Sumadhi, I Dewa Ngakan Made Sayang, I Ketut Kodi, I Nyoman Astita dan seniman-seniman terkemuka lainnya.

Musik yang dipergunakan untuk mengiringi Sendratari Mahabrata dan dan Ramayana adalah beberapa gambelan yang dirangkai menjadi sebuah barungan gambelan sebaagai pengiring gambelan itu. Jenis – jenis barungan gambelan yang serig digunakan seperti gambelan gong gede, gong kebyar, semarapegulingan dan lain-lain.

terompong gong gede

Juni 10th, 2013

Gamelan, seniman, serta pengrajin gamelan merupakan tiga unsur yang tidak dapatdipisahkan, ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat. Terciptanya karya seni, khususnya dalam seni Karawitan, karena adanya kebutuhan seniman dalam menginterpretasikan daya imajinasinya dan instuisinya yang didukung oleh kemampuan teknik yang dimilikinya hinggaterlahir suatu bentuk karya seni yang memiliki nilai-nilai keindahan dan dapat dinikmati, dirasakan sehingga dapat menimbulkan rasa puas baik bagi penikmat dan seniman pelaku

 

Seniman selalu berfikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam mewujudkan daya imajinasinya. Keindahan itu sendiri secara kolektif dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang, rasa puas, rasa aman, nyaman, dan bahagia. Apabila perasaanitu sangat kuat, merasa terpaku, terharu dan terpesona, maka akan menimbulkan keinginan untuk menikmati kembali perasaan itu walaupun sudah dinikmati berkali-kali.1 Upaya ini tidak akanbisa berhasil sempurna jika tidak adanya media sebagai sarana penuangan dan perwujudan daya cipta yang dimiliki seniman. Oleh karena itu gamelan sangat diperlukan dalam mendukung kreativitas tersebut.

 

Gamelan adalah benda seni sebagai penghasil bunyi yang merupakan sarana seniman dalam menuangkan ide-ide kreatifnya dalam menghasilkan suatu karya seni musik tradisi/karawitan. Karya tersebut memiliki unsur keindahan yang dapat dirasakan baik oleh seniman pencipta, pelaku, serta dinikmati oleh masyarakat penikmat seni. Gamelan tidak saja dikenal oleh seniman, namun gamelan sudah sangat populer dalam tatanan budaya masyarakat Bali karena selalu eksis dalam berbagai konteks sosial budaya masyarakat Bali. Dengan penampilan dan penyajiannya yang kharismatik dalam setiap event, baik dalam konteks budaya spiritual maupun entertaimen, sangat menarik untuk mendapat dukungan dan perhatian dari masyarakat

      Trompong Gong Kebyar merupakan sebuah jenis instrumen yang memiliki keunikan,  kekhasan dari segi penampilan atau bentuk serta memiliki nilai estetik yang dihasilkan dari suara instrumen tersebut, dan dimainkan oleh satu orang hingga tiga orang pemain gamelan atau penabuh. Sebagai salah satu instrumen pencon atau memoncol dalam gamelan Gong Kebyar yang berbentuk bulat memiliki kaki atau lambe yang pada tengah-tengah bangun bagian atas atau muka terdapat sebuah cembungan yang mempunyai ukuran diameter paling kecil 3, 5 cm² hingga 7 cm², dan tingginya dari ukuran 4 cm² hingga 7 cm², besar maupun kecil ukuran moncol itu tergantung dari ukuran trompong, makil besar ukuran trompong maka makin besar pula ukuran pencol/moncolnya. Terkait dengan keberadaan Trompong Gong Kebyar dalam gamelan Bali telah disebut.

Dari kutipan di atas memberikan pernyataan bahwa Trompong Gong Kebyar merupakan sebuah instrumen tradisional Bali yang mana pada umumnya terdiri atas sepuluh buah pencon yang terdiri dari nada terendah ke nada tertinggi yang dimulai dari nada:

(1) dang (3) ding (4) dong (5) deng (7) dung

(1) dang (3) ding (4) dong (5) deng (7) dung

 

      Trompong merupakan instrumen yang biasa dipergunakan sebagai pengawit atau intro yaitu memulai suatu gending atau tabuh sekaligus berfungsi sebagai pembawa melodi dalam memainkan gending-gending lelambatan klasik, lelambatan kekebyaran maupun gending rerejangan. Trompong dalam permainannya mampu memberikan kesan yang estetis yang mempengaruhi suasana maupun karakter dalam penyajiannya. Dengan adanya suara dan

permainan trompong yang membawakan/menyajikan gending-gending lelambatan klasik maupun lelambatan kekebyaran maka akan terdengar indah dan sempurna hal tersebut tentu dipengaruhi oleh nilai estetis yang ada pada tunguhan trompong.

Melihat fungsi Trompong Gong Kebyar sebagai pembuka/pengawit atau mengawali suatu gending atau lagu, telah ditulis oleh Pande Made Sukerta dalam bukunya Gamelan Gong Kebyar Buleleng Perubahan dan Keberlanjutan Tradisi Gong Kebyar, dinyatakan bahwa: Trompong merupakan salah satu kelompok tungguhan pedandan dalam Gong Kebyar yang tugasnya lebih menekankan pada melodi, yaitu menyajikan bagian gending kawitan (di Jawa Tengah disebut dengan buka), sebagai penghubung gending, dan menggarap gending dengan pola tabuhan yang menggunakan berbagai variasi atau wilet. Menyajikan bagian gending kawitan terdapat pada jenis gending pepanggulan

 

 

 

 

 

 

 

Secara khusus Trompong digunakan untuk memulai lagu (kawitan), yaitu : memulai suatu gending atau tabuh sekaligus berfungsi sebagai pembawa melodi dalam memainkan gending- gending lelambatan klasik, lelambatan kekebyaran maupun gending rerejangan.

Adapun tehnik permainan dalam Trompong Gong Kebyar yaitu:

  1. Nyele                         : pukulan yang menjelaskan lagu

 

  1.  Ngembat                  : memukul dua buah nada besar dan kecil secara

bersamaan  dengan jarak 4 nada.

 

  1.  Ngempyung                        : memukul dua buah nada secara bersamaan nada (dang)

dan (deng) yang dihasilkan adalah nada (dang).

 

  1. Nyintut                      : memukul dua buah nada secara bersamaan yaitu ding

kecil dengan dung yang kedengaran ding.

 

  1. Nyilihasih                  : tehnik pukulan bergantian gentian antara tangan kanan

dan kiri.

 

  1. Nyekati                      : pukulan yang banyak lepas dari bagian pokoknya dan

bertemu pada bagian akhir.

 

  1.  Ngumad                   : memukul dengan membelakangi pokok gending.

 

  1.  Ngulunin                  : mendahului pukulan pokok.

 

  1.  Nerumpuk               : memukul satu nada secara beruntun.

 

 

  1.  Ngoret                      : memukul tiga buah nada yang ditarik dari besar ke kecil.

 

Ngerot                      : memukul tiga buah nada dari kecil ke besar.