tari sekar sandat

Juli 18th, 2018

SINOPSIS TARI SEKAR SANDAT

Bunga sandat begitu terkenal di Bali. Selain karena baunya yang harum, warnanya hijaunkaelm, berbunga hamper tidak mengenal musim, juga bau harumnya mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama. Bahkan semakin layu semakin menebar keharuman

 

ASAL USUL TARI SEKAR SANDAT

             Kautamaan dari Bungan sandat (sekar sandat) nampaknya juga mengilhami pemerintah kabupaten Bangli untuk menjadikan bunga tersebut sebagai ikon, namun keagungan bunga tersebut dituangkan dalam bentuk garapan tari, yakni tari Sekar Sandat. Kini Tari Sekar Sandat dijadikan ikon tari untuk kota Bangli. Belasan penari yang menarikan tari Sekar Sandat, di depan monument patung Pahlawan Kapten Adi Putra. Gerakan yang indah, dengan kostum dominan warna hijau, putih, dan kuning, mampu memukau ribuan warga yang menyaksikan tari Sekar Sandat tersebut.

 

Instrument pengiring tari Sekar Sandat yaitu barungan Gambelan Gong Kebyar. Karena gong kebyar itu mempunyai rasa spserti Gender Wayang yang bersifat lincah, Goong Gede yang bersifat kokoh atau agung, dan Palegongan yang bersifat Melodis. Dalam tarian ini pada motif tabuhnya lebih dominan mengambil rasa Palegongan yang bersifat Melodis.

 

  1. Bagian pertama yaitu Kawitan

Pada bagian kawitan ini semua instrument gangsa bermain secara bersamaan dan mengeluarkan sifat kebyar yang dinamika. Kemudian dilanjutkan dengan pepeson dimana disini semua instrument bermain pada satu nada yaitu pada nada “NDANG” (1), da nada sedikit melodi penyali mencari ke pengawak.

Notasi

5713171754534543

.7.3.457.545713(1)

 

 

 

  1. Bagian kedua yaitu Pengawak

Dimana pada bagian ini merupakan inti dari gending tari Sekar Sandat ini. Pada bagian pengawak semua instrument bermain mengikuti alunan melodi jublag secara bersamaan. Pada bagian pengawak ini menggunakan pola Legod Bawa seperti iringan tari-tari yang sudah ada sebelumnya. Bagian pengawak ini diulang 3x lalu disambung pada bagian akhir terdapat 3 baris melodi dengan hitungan 16 ketukan yang mencari pengecet.

Notasi :

..345..754..457131713

.4535.3.1….5713.71

5713131.754377.77377.

7717545.7543.

  1. Bagian ketiga yaitu Pengecet

Pada bagian Pengecet ini merupakan gending akhir dari tari Sekar Sandat. Dimana pada bagian ini semua instrument pemade dan kantilan memainkan motif pukulan polos dan sangsih, dan pada bagian pengecet ini ada 4 baris melodi pokok yang diulang 3x dan pada bagian akhir yaitu bagian pekaad, yang merupakan ending atau akhir dari gending ada lagi 1 bari melodi pokok. Melodi pada bagian ini motifnya diambil motif bapang lalu ada aksen kendang atau angsel untuk menandakan kode bahwa gending pelan dan selesai.

 

gambelan geguntangan di desa abuan bangli

Juli 18th, 2018
  1. Gamelan Bali

              Gamelan Bali merupakan salah satu jenis alat musik gamelan tradisional yang khas dari Bali. Gamelan Bali ini memiliki beberapa perbedaan dengan alat musik gamelan pada umumnya, baik dalam bentuk maupun cara memainkannya. Gamelan Bali ini biasanya di tampilkan sebagai pengiring suatu pertunjukan kesenian di Bali, baik bersifat sakral maupun hiburan.

  1. Pengertian Gamelan Geguntangan

Gambelan Geguntangan adalah suatu barungan yang ditentukan oleh adanya 2 buah instrumen yang sama yaitu instrumen guntang dan kedua instrumen tersebut mempunyai tugas dan fungsi berlainan. Dua buah guntang itu adalah guntang alit sebagai mat dan guntang kempur sebagai finalis. Kata gambelan geguntangan terdiri dari kata gambelan dan kata geguntangan dimana masing-masing kata kalau dipisahkan akan mempunyai arti berlainan.

  1. Sejarah Gamelan Geguntangan

Gambelan Geguntangan tidak bisa lepas dari pada sejarah timbulnya Arja. Hal ini tidak lain disebabkan oleh kenyatan bahwa gambelan Geguntangan merupakan bagian dari pada pertunjukan Drama Tari Arja. Untuk mengungkap instrumen guntang secara umum maka di dalam kidung yadnya yaitu buku yang dihimpun oleh Narendra Dewa Sastri pada bagian pengantas layon/Sudamala dalam bait ketiga dan lainnya ada disebutkan :

 

“Widhyadara prasama tumurun, mapagin atmane,

watek nawasanga sami, tatbuhane gemuruh,

suling rebab mwang calempung, pareret, warapsarine,

gong gending angalun alun, guntang kumarincing kareng

wan caring munya kaklentingan.”

 

“Widyadhara prasama angrubung, amundut kabeh,

padha papandon rimihin, tatabuhane anglangan,

sopacara munggahin ayun, angresing hati polah

swaraning gumpit anglangan, curing rebab kecapine,

guntang muri kaklentingan “

 

Artinya :
“Para bidadara semuaya turun, bersama menjemput atma

para Dewa yang jumlahnya sembilan, bunyi gambelan gemuruh,

suling, rebab beserta celempung, pareret bidadari

lagu gambelan mengalun-alun, guntang kedengaran bergerincing disertai

dengan suara caring

 

“ Para bidadari semua mengerumun, semuanya memikul,

didahului oleh para emban, suara gambelan mempesona

didahului dengan upacara,yang membikin hati kusut,

bunyi gumpit mempesona, curing rebab dan kecapi

bunyi guntang berkelanting “ (Sastri, I caka 1883 :57)

 

Dalam bait kidung yadnya diatas hanya disebutkan kata guntang sedangkan dalam gambelan geguntangan bukan saja terdapat dua buah guntang melainkan terdapat pula instrumen lain seperti kendang, cengceng, tawa-tawa, dan lain-lain. Seperti telah disebutkan diatas bahwa asal-usul gambelan geguntangan sangat erat hubungannya dengan timbulnya Arja Pertunjukkan Arja untuk pertama kali diduga terjadi tahun 1814 yaitu atas persembahan I Dewa Agung Manggis (Gianyar) dan I Dewa Agung Jambe (Badung), pada saat pelebon I Dewa Agung Gede Kusamba di Klungkung (Proyek penggalian/pembinaan Seni Budaya Klasik/Tradisional dan Baru, 1975, 14-15)

Pada awal perkembangan Arja ini sama sekali tidak diiringi dengan gambelan, tapi mempergunakan tembang lelawasan sejenis kidung atau tembang gambuh. Dalam perkembangan selanjutnya yaitu setelah Arja Doyong di Singapadu maka timbullah Arja Pakangraras di Banjar Tameng Sukawati. Yang perlu dicatat bahwa semenjak timbulnya Arja Pakangraras ini Arja mulai diiringi dengan gambelan geguntangan

Menurut informasi yang penulis terima dari Jro Nyoman Rawi bahwa adanya gambelan geguntangan di Desa Abuan karena munculnya sebuah Barong Landung yang gambelannya menyerupai dengan Barong Landung. Munculnya arja di Abuan adalah atas prakarsa dari Jro Nyoman Rawi. Beliaulah yang mendatangkan pelatih dari Gianyar. Sekaha ini bertahan kira-kira sekitar 15 tahun yang akhirnya mengalami kemunduran. Karena adanya barong landung yang katanya seneng mesesolahan maka dengan dipaksa dan tidak terpaksa salah satu klian mencari seke arja dan geguntangan walaupun hasil dari pada pementasan tidak maksimal. Tetapi lakon yang digunakan adalah Sampik Intai dan Sri Jaya Pangus karena terhubung dengan Barong landung itu.

Kesenian arja di desa Abuan sampai sekarang masih ada dan berkat dari para penglingsir-penglingsir di Abuan yang mempunyai prinsip bahwa kesenian Arja harus tetap dilestarikan karena merupakan tetamian dari para leluhur kita dan juga gambelnnya tidak boleh mengandung kontemporer dan harus dengan gambelan Arja atau disebut juga dengan geguntangan. Karena dari prinsip itulah maka setiap tahun pemain arja itu ada generasinya.

 

 

  1. Fungsi Gamelan Geguntangan

Gambelan geguntangan mempunyai dua fungsi yaitu fungsi umum dan khusus, karena sesuai dengan perkembangan jaman sekarang. Selain untuk arja juga mempunyai fungsi yang lain.

  1. Fungsi Umum

Fungsi umum dari pada gambelan geguntangan sangat banyak. Seperti sekarang gambelan geguntangan banyak mengiringi kidung-kidung interaktif contohnya yang ada di Bali TV dan juga seperti di Pura-Pura dipakai untuk Dharmagita yaitu mengiringi pesantian dengan pupuh-pupuh Sekar Alit yang hampir mirip dengan arja atau sering disebut dengan arja duduk dengan tanpa tarian. Dan ada juga gambelan geguntangan sering diiringi dengan pementasan Barong landung seperti yang ada di Desa Abuan.

  1. Fungsi Khusus

Gambelan geguntangan mempunyai andil yang sangat besar di dalam tugasnya sebagai iringan dalam pementasan Drama tari arja. Ini berarti bahwa gambelan geguntangan adalah bagian dari Dramatari Arja yakni sebagai iringan. Gambelan geguntangan disini adalah yang berfungsi sebagai gambelan iringan tari. Keduanya merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sama seperti di Abuan kalau gambelan geguntangan hanya dipakai untuk mengiringi Drama Tari Arja.

  1. Instrumen Geguntangan

Instrumen adalah alat-alat yang digunakan dalam suatu barungan gong yang mempunyai fungsi masing-masing. Untuk lebih jelasnya penulis akan uraikan mengenai jenis alat, bentuk, bahan dan ukuran dari pada gambelan geguntangan di Desa Abuan.

  1. Instrumen kendang yang berbentuk bulat panjang dibuat dari kayu nangka/ketewel, yang dilubang dan di dalamnya diisi palulit serta ditutup dengan kulit sapi pada kedua ujung dan di cancang dengan jangat.Kendang lanang dengan ukuran : panjang 40 cm, garis tengah muka kiri 9,5 cm dan garis tengah muka kanan 11,5 cm
  2. Instrumen kendang ada 2 yaitu kendang Wadon dengan ukuran : panjang 57cm, garis tengah muka kiri 10 cm dan garis tengah muka kanan 12,5 cm.
  3. Instrumen guntang (jumlahnya 2 buah) Guntang kempur : panjang                                          = 67 cmpanjang senar                                = 51 cmlubang di bawah lidah, panjang    = 4 cm danGuntang alit       : panjang                              = 4cmlubang di muka kiri           = 2,5 cmpanjang lidah                     = 6cm dengan lubang di bawahnya
  4. 2,5 x 1,5 cm
  5. panjang senar                    = 32 cm
  6. lebar                                  = 8 cm
  7. lebar                                              = 3 cm
  8. panjang lidah                                 = 6 cm
  9. lebar                                              = 15,5 cm
  10. Instrumen ini dibuat dari bambu yang berbentuk bulat panjang dengan ukuran :
  11. Kajar
  12. Instrumen ini berbentuk moncol bahannya dari kerawang dengan ukuran yaitu :
  • Tinggi moncol = 1 cm
  • Lebar mua       = 8 cm
  • Lebar daun      = 8 cm
  1. Tawa – tawa
  2. Instrumen ini juga berbentuk moncol, bahannya kerawang dengan ukuran yaitu :
  • Tinggi moncol = 2,5 cm
  • Lebar mua       = 11 cm
  • Lebar daun      = 7 cm
  1. Klenang
  2. Instrumen klenang berbentuk moncol, bahannya kerrawang mempunyai ukuran :
  • Tinggi moncol = 2cm
  • Lebar mua       = 4cm
  • Lebar daun      = 5 cm
  1. Cengceng
  2. Instrumen ini berbentuk lempengan bundar dibuat dari kerawang dan dipasang di atas sebuah kayu segi empat yang berukuran :
  • Panjang           = 32 cm
  • Lebar               = 15 cm
  1. Suling
  2. Instrumen suling terbuat dari bambu yang dapat dibuat dengan berbagai ukuran. Ukuran terbesar yang dipakai pada gambelan geguntangan di Abuan adalah :
  • Panjang           = 41,5 cm
  • Panjang           = 33 cm (ukuran menengah)
  • Panjang           = 24 cm (ukuran kecil)
  • Adapun instrument-instrumen yang terdapat dalam rancakan gambelan geguntangan di Desa Abuan adalah sebagai berikut :
  • Dua buah kendang kerampungan yang terdiri satu buah kendang lanang dan satu buah kendang wadon. Adapun tugas kendang ini sebagai pemurba irama/penguasa irama
  • Satu buah guntang kecil atau guntang alit yang bertugas sebagai pemegang mat
  • Satu buah guntang ageng atau disebut juga guntang kempur yang bertugas sebagai finalis
  • satu buah kajar, sebagai penambah kekayaan ritme
  • Satu buah klenang juga sebagai pembawa mat yang pukulannya selang seling dengan guntang alit
  • Satu buah rincik atau lebih dikenal dengan cengceng untuk memperkaya ritme
  • Dua atau tiga buah suling sebagai pembawa melodi karena suling satu-satunya instrument yang fix melodi
  1. Letak atau Komposisi Gamelan

Dalam bentuk penyajian ini penulis akan bagi menjadi 2 kelompok antara lain :

  1. Posisi Instrumen dan Tempat PenyajianTempat dimana arja dipentaskan disebut “kalangan” yang berbentuk arena yang dapat ditonton dari semua jurusan. Kalangan arja biasanya dibuat dengan panjang kurang lebih panjang 10 meter dan lebar 6 meter atau disesuaikan dengan tempat yang ada. Kalangan untuk pertunjukan di Bali sering-sering dibuat berdasarkan kepercayaan yang ada, misalnya penggunaan arah, di muka pura, menghadap tempat persembahyngan dll. Kalangan arja dilengkapi dengan sebuah rangki pada ujung pertama yaitu tempat penari mempersiapkan diri sebelum tampil ke arena.
  2. Posisi gambelan biasanya ditempatkan pada ujung kedua yaitu sebelah kiri   rangki. Untuk lebih bijaksana uraian dari pada posisi instrumen dan tempat penyajian ini, perhatikan gambar yang terlampir
  3. Posisi instrument yang penulis maksudkan disini adalah aturan penempatan instrument disaat menabuh, di dalam tugasnya dalam mengiringi pertunjukan arja
  4. Susunan gending pada saat penyajian
  5. Secara garis besarnya susunan gending / tabuh di dalam pengarjaan yang diiringi dengan geguntangan dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :
  1. Tabuh Pereren (petegah) yaitu tabuh pembukaan yang lagunya sering diambil dari lagu-lagu Pegambuhan seperti pengecet sekar elod, pengecet subang, tetamburan, dll.
  2. Tabuh pengiring igel pepesan yaitu tabuh yang biasanya disesuaikan dengan tembang-tembang yang dipakai oleh si penari arja. Seperti pangkur diiringi dengan batel, Adri diiringi dengan tabuh Adri, dll.
  3. Tabuh pengiring Drama, biasanya tidak banyak berbeda dengan tabuh pengiring pepeson. Hanya saja tabuh pegiring disini mampu menciptakan suasana yang sesuai dengan lakon yang dibawakan, seperti suasana sedih, marah, gembira, dll.
  1. Laras Pada Gamelan Geguntangan

Beberapa tahun yang lalu istilah laras yaitu laras pelog maupun laras selendro belum banyak dikenal oleh masyarakat umum bahkan juga oleh kebanyakan penabuh-penabuh gambelan di Bali. Tetapi pande-pande pembuat gambelan, sastrawan-sastrawan di Bali sudah dari dulu mengenal istilah-istilah tersebut dan mengerti betul apa yang dimaksud laras pelog dan selendro. Pada waktu itu banyak orang mempergunakan istilah – istilah “patutan gong” (maksudnya pelog) “patutan gender” (maksudnya selendro) dan “patutan gambang “ (maksudnya pelog saih pitu)

Gambelan dan tembang di Bali bisa disimpulkan mempergunakan 2 macam laras yakni laras pelog dan selendro. Oleh karena gambelan geguntangan pada hakekatnya adalah gambelan arja (untuk mengiringi drama tari arja) maka laras gambelan inipun selaras dengan tembang yang dipakai dalam arja yakni selendro dan pelog. Masalah laras atau perubahan laras hanya terdapat pada suling, karena suling satu-satunya instrumen fix melody dan flexible di dalam arja.

  1. Struktur Organisasi Gamelan Geguntangan di Desa Abuan

Pada umumnya organisasi-organisasi kesenian di Bali terhimpun dalam sebuah perkumpulan yang disebut sekaa. Adapun susunan atau struktur organisasi dari pada sekaa gambelan geguntangan di Desa Abuan adalah sebagai berikut :

  1. Kelian                   : I Gst. Ngurah Kadek (merangkap Pembina)
  2. Sekretaris             : I Made Kantor
  3. Bendahara            : I Nyoman Temeg
  4. Penabuh-penabuh : 1. Kendang Wadon        : Jro Nyoman Raka3.: Cengceng                    : Jro Made Dwiyanta Putra5. Guntang kempur/ageng: Jro Nyoman Rawi7. Kajar                            : Waya Mika9. Suling                          : I Nyoman Slamet
  5. 8. Klenong                       : Jro Made Anom Utama
  6. 6. Tawa-tawa                   : I Wayan Rendang
  7. 4. Guntang kajar/kecil     : Jro Ngurah Wiratama Putra
  8. 2. Kendang Lanang         : Nengah Suasta

NARASUBER

Kelihan Gede Sekaa Geguntangan de Desa Abuan Bangli

Nama : I Nengah Dwiarta

Umur : 42 tahun

Pekerjaan : perawat Rsu Bangli

 

analisa tabuh kekebyaran

Juli 18th, 2018

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karawitan bali merupakan sebuah music tradisi yang hidup serta berkembang di daerah bali. Secara operasional dipakai sebagai media ekspresi dalam berolah seni baik melalui vocal maupun instrumental.
Dalam kehidupan masyarakat bali yang merupakan kompleks ini, masih dijumpai 26 jenis perangkat gambelan dan tiap-tiap perangkat memiliki kekhasan tersendiri. Adapun ke 26 jenis perangkat gambelan tersebut antara lain ; gambelan gong gede, gambelan gong kebyar, gambelan gambang, gambelan gong luang, gambelan gong beri, gambelan palegongan, gambelan gambuh, gambelan selonding, gambelan semar pagulingan, gambelan angklung, gambelan jogged bungbung, gambelan tektekan, gambelan batel wayang, gambelan jegog, gambelan pereret baleganjur, gambelan babarongan, gambelan bebonangan, gambelan janger, gambelan kendang mabarung, gambelan bumbung gebyog, gambelan nong-nong kling, gambelan geguntangan, gambelan geng-gong, gambelan gender wayang, gambelan gandrung, gambelan terompong beruk, dan gambelan semarandana (Mustika, 1996 : 1).
Gambelan-gambelan diatas masing-masing barungan memiliki sistim atau cara permainan dan motif-motif pukulan yang berbeda satu dengan yang lain. Hal yang lebih penting lagi, bahwa dari masing-masing barungan gambelan tersebut, kadang-kadang memiliki motif pukulan yang sama da nada juga yang berbeda.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas atau latar belakang tersebut, penulis membatasi permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan Gong Kebyar di Bali ?
2. Apa Pengaruh Gambelan Gong Kebyar terhadap Gambelan Bali yang lain ?

1.3 Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan sudah tentu mempunyai suatu tujuan. Adapun tujuan dari pada penelitian ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu ; tujuan umum dan tujuan khusus.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk bisa menambah wawasan tentang pengaruh gong kebyar terhadap gambelan bali yang lainnya.
Secara khusus yang ingin dicapai oleh penelitian ini berusaha untuk mencari atau memperoleh informasi sebanyak-banyaknya, serta menggali, mengembangkan, menganalisa.
1.4 Manfaat Penelitian

Maanfaat penelitian ini adalah sebagai bahan studi lebih lanjut, diharapkan dapat berguna untuk menambah pengetahuan kita serta sebagai acuan dalam memahami tentang pengaruh Gong Kebyar terhadap Gambelan Bali yang lainnya.

2
BAB 11 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gong Kebyar
Gong kebyar adalah sebuah barungan baru. Gong adalah sebuah instrument pukul yang bentuknya bundar yang mempunyai moncol atau pencon di tengah–tengahnya. Kebyar adalah suatu bunyi yang timbul dari akibat pukulan alat–alat gambelan secara keseluruhan dan secara bersama–sama. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini Kebyar disini bermakna cepat, tiba-tiba, dan keras. Gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis. Gamelan ini digunakan untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan yang instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa
buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Kebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkokan yang berbilah lima dirubah menjadi gangsa gantung yang berbilah sembilan atau sepuluh. Cengceng kopyak yang terdiri dari empat sampai enam pasang dirubah menjadi satu atau dua set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tanga.
Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau pelegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Gamelan gong kebyar yakni sebagai seni musik tradisional di Bali yang diperkirakan muncul di Kabupaten Singaraja yakni pada tahun 1915.

3
Desa yang di sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.
Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara. kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali (Mustika, 1996 : 24)
2.2 Pengaruh Gong Kebyar terhadap Gambelan Bali lainnya
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kini gambelan Gong Kebyar sudah menunjukan perkembangan yang sangat pesat dan dahsyat. Gambelan gong kebyar yang baru muncul pada permulaan abad ke XX pada dewasa ini sudah mampu mengalahkan perkembangan gambelan Bali lainnya yang sudah ada sebelumnya. Sebagai suatu bentuk seni pertunjukan Bali yang paling popular hingga saat ini. Perkembangan yang begitu pesat dari pada gambelang Gong Kebyar ini ternyata membawa pengaruh yang cukup besar, tidak hanya terhadap jenis seni pertunjukan Bali lainnya. Dalam tabuh-tabuh gambelan Gong Kebyar itu sendiri dalam perkembangannya dari fase ke fase berikut juga telah banyak terjdi pembaharuan-pembaharuan sesuai dengan selera masyarakat pendukungnnya (Mustika, 1996 : 41)

4
Sebagaiman telah disinggung diatas, bahwa sebelum munculnya gambelan Gong Kebyar di Bali, sudah hidup dan berkembang berbagai jenis gambelan Bali yang masing-masing mempunyai bentuk barungan serta fungsi tersendiri di dalam kehidupan social dan agama dikalangan masyarakat. Dari gambelan-gambelan yang ada itu ada yang merupakan barungan yang besar seperti ; gambelan Gong Gede, gambelan Palegongan, gambelan Semar Pagulingan dan lain sebagainya dan ada juga yang merupakan barungan kecil seperti ; gambelan Geguntangan, gambelan Gambang, gambelan Babonangan dan lain-lainnya. Masing-masing jenis gambelan Bali itu mempunyai suatu sistim permainan yang berbeda satu sama lainnya, memiliki suasana lagu yang berbeda-beda serta bahan instrumentpun berbeda.
Dengan adanya kekhasan pada masing-masing gambelan Bali ini membuat para penikmatnya mendapat kesan yang berbeda-beda pula manakala mendengarkan lagu-lagu dari masing-masing jenis gambelan Bali ini. Munculnya gambelan Gong Kebyar dan berkembang dengan pesatnya hamper keseluruh plosok daerah Bali bahkan kini sudah sampai keluar Bali/ luar negeri, ternyata akhirnya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan gambelan Bali yang sudah ada sebelum adanya gambelan Gong Kebyar ini. Pengaruh-pengaruh dari pada gambelan Gong Kebyar ini tidak hanya tampak dalam segi teknik permainan, dinamika dan tempo lagu akan tetapi juga dalam segi instrumentasi dengan segala perubahan-perubahan (peleburan).
Gambelan Gender Wayang, Semar Pagulingan, Gong Gede yang merupakan barungan gambelan Bali yang ikut membentuk Gong Kebyar ini kemudian menjadi berbalik kemasukan pengaruh Gong Kebyar. Gender Wayang yang semula sangat menonjolkan sistim gegenderan (ubit-ubitan), Semare Pagulingan disana yang sudah biasa dengan bentuk lagunya yang tenang namun kini sudah ikut ngebyar sehingga rasa lagunya ditimbulkan menjadi sama dengan rasa gong kebyar.
5
Dinamika gambelan Gong Kebyar dengan perubahan tempo cepat-lambat dilakukan secara kompak oleh seluruh instrument Gong Kebyar kini sudah diterapkan pula dalam Gender Wayang, Semar Pagulingan, Palegongan dan lain-lainnya. Gambelan Geguntangan/ pengarjaan yang semula sangat menonjolkan jalinan yang rapat antara dua guntang,dua guntang kecil yang diikat oleh instrument suling kini sudah menampilkan system kekebyaran sekalipun dengan mempergunakan alat gambelan yang memang telah ada dalam geguntangan. Gambelan Angklumg, Joged Bumbung, Tingklik Gebyoh kini sudah biasa dengan ngebyar dang ending-gendinnyapun banyak yang mengambil gending-gending gambelan Gong Kebyar (Mustika, 1996 ; 43).

6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Barungan gambelan Gong Kebyar yang usianya relative muda sudah mendapat tempat dikalangan masyarakat Bali. Sedangkan mengenai lagu-lagu atau gending-gending kekebyaran pertama kali muncul di desa bungkulan dan mengenai bentuk gendingnya belum dapat dipastikan. Gambelan Gong Kebyar dewasa ini sudah berkembang dikalangan Bali, malahan hamper disetiap desa atau disetiap banjar masyarakat sudah memiliki gambelan Gong Kebyar.
3.2 Saran
Instrument-instrument yang muncul didalam barungan gambelan Gong Kebyar sudah tentu mempunyai jenis-jenis pukulan yang nantinya akan bisa mepariasikan lagu dan akan terus berkembang.
Disamping itu khususnya pada para dosen atau tenaga pengajar karawitan di ISI Denpasar dan juga pada para pengrawit agar mampu atau mempunya perhatian untuk ikut melestarikan budaya kita yang sudah berkembang.

7
Daftar Pustaka
Mustika, Pande Gede SSKar. Mengenal Jenis-jenis Pukulan Dalam Barungan Gambelan Gong Kebyar, Dilaksanakan atas biaya Bagian Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas STSI. Denpasar DIP. Nomor 298/XXIII/3/-/1996, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar.

tari legong raja china

Juli 18th, 2018

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Secara historis filsafat merupakan induk ilmu, dalam perkembangannya ilmu makin terspesipikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat menjadi tumpuan untuk menjawabnya. Filsafat memberi penjelasan atau jawaban substansial dan radikal atas masalah tersebut. Sementara ilmu terus mengembangkan dirinya dalam batas-batas wilayahnya, dengan tetap dikritisi secara radikal. Proses atau interaksi tersebut pada dasarnya merupakan bidang kajian Filsafat Ilmu, oleh karena itu filsafat ilmu dapat dipandang sebagai upaya menjembatani jurang pemisah antara filsafat dengan ilmu, sehingga ilmu tidak menganggap rendah pada filsafat, dan filsafat tidak memandang ilmu sebagai suatu pemahaman atas alam secara dangkal.

Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan/Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontology, epistemology, dan axiology dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para ahli.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa definisi mempelajari Ilmu Filsafat?
  2. Apa makna filosofi tari Legong Raja Cina?
  3. Bagaimana tujuan dari Karawitannya pendukungnya?

 

 

 

1

1.3 Tujuan

            Dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia, lebih mendidik, dan membangun diri sendiri.

1.4 Manfaat

            Ada yang memandang filsafat sebagai segala sumber kebenaran yang mengharafkan dari filsafat kebahagiaan yang tulen dan jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Mempelajari Ilmu Filsafat

            Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan Sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian Sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu Sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikan dalam memutuskan soal-soal praktis (Salam, 2003 : 67)

Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam Webster (dalam soeparmo, 1984), sexara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyatan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti : logika, etika, estetika, dan teori pengetahuan.

Secara termiologi, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakikat dari sesuatu fenomena. Hakikat adalah suatu prinsip yang menyatakan “sesuatu” adalah “sesuatu” itu adanya. Filsafat mengkaji sesuatu yang ada dan yang mungkin ada secara mendalam dan menyeluruh. Jadi filsafat merupakan induk segala ilmu.

2.2 Makna Filosofi Tari Legong Raja Cina

            Makna adanya Tari Legong Raja Cina karena terkait dengan akulturasi budaya Cina dengan budaya Bali. Tujuannya untuk mengingat hubungan Bali dengan Cina, karena itu dibuatlah sebuah tarian Legong Raja Cina tersebut sebagai symbol hubungan Bali dengan Cina.

 

3

Jadi Tarian Legong Raja Cina ini menurut Agung Raka Puri Saba, blahbatuh Gyanyar, beliau mengatakan dulu sudah pernah ada tarian Legong Raja Cina, Cuma keberadaannya dan tahun dibuatnya belum diketahui sebelumnya. Beliau menafsirkan tarian Legong Raja Cina itu dibuat diatas tahun 30 an, kenapa dikatakan seperti itu kare dari penarinya waktu itu berjumlah 3 orang penari dan dikatakan kalau tidak 3 orang tarian itu tidak bisa ditarikan menurut beliau. Dikatakan bahwa ada tarian Legong yang belum lahir pada zaman itu yaitu, Legong Raja Cina dan Legong Bramara, yang belum lahir di bawah tahun 2000, dan beliau menyarankan untuk dorekam atau untuk didokumentasikan.

Akhirnya beliau melalukan penelitian terlebih dahulu dan mencari informasi tentang tarian Legong Raja Cina, dan akhirnya beliau bertemu dengan almarhum Pak Brata lalu disana beliau maminta gambelan atau gending tari Legong Raja Cina tersebut. Dan pada akhirnya gambelan tersebut dibentuk oleh beliau pada tahun 2012, pada saat itu hanya terbentuk dari struktur kawitan, pengawak, dan pengrangrang dan pada bagian lainnya beliau menambahkan langsung gendingnya. Sebelum beliau membuat tentu saja beliau memikirkan terlebih dahulu alur ceritanya, tokoh-tokohnya dan dianalisis terlebih dahulu oleh beliau. Lalu beliau mengadakan latihan dan pada saat pelatihan itu juga pernah didatangi oleh Prof. Dibia, dan pada akhirnya tarian Legong Raja Cina tersebut dapat dipentaskan di Art Centre pada bulan juni dalam acara Pesta Kesenia Bali. Setelah itu tarian ini mendapatkan banyak masukan sehingga beliau ingin mengolahnya kembali agar menjadi lebih sempurna lagi, sehingga terbentuknya tarian Legong Raja Cina tersebut.

2.3 Tujuan dari Karawitannya pendukungnya

            Music sebagai iringan tari sangat memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu banyak ungkapan yang mengatakan bila ibarat music ibarat sayur tanpa garam, ibarat siang tanpa malam. Dan ungkapan lainnya sesuai dengan aspirasi maupun selera setiap orang untuk mengungkapkan perasaan merek. Melihat pengalaman yang ada diiringan tari atau koreografi secara mendasar dapat dibagi menjadi dua iringan yang besifat conventional dan non conventional.

 

4

  1. Iringan Tari Conventional

Mengutamakan unsur-unsur tradisi baik dalam pemanfaatan instrumennya maupun pengolahan unsur-unsur musikalnya termasuk aturan-aturan yang menyangkut struktur atau komposisinya.

  1. Iringan Tari Non Conventional

Sebaliknya tidak terlalu terkait pada aturan tradisi baik dalam pemanfaatan alat-alat musiknya maupun pengolahan unsur-unsur musikalnya dengan kata lain seorang koreografi boleh lebih bebas dalam menata iringannya dengan tidak mengabaikan keindahan dan makna dari sebuah iringan.

Media yang digunakan dalam iringan Tari Legong Raja Cina adalah gambelan palegongan. Gambelan palegongan sesungguhnya dekat gambelan samara pagulingan baik secara mode maupun secara unstrumentasi hanya biasanya memakai pelog lima nada gambelan ini khusus mengiringi tarian palegongan yang merupakan tari klasik warisan raja-raja zaman pemerintahan para dalem dari kerajaan samara pura klungkung. Kemudian untuk komposisi musical dari iringan tari Legong Raja Cina ini berawal dari keinginan untuk merekontruksi tarian oleh A.A Ngurah Serama.

 

 

 

 

 

 

 

 

5

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Filsafat adalah suatu Ilmu Pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsata boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, merupakan bentuk pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri. Tentang hubungan antara filsafat dengan ilmu-ilmun pengetahuan itu telah menimbulkan persoalan yang hangat. Pada waktu sekarang dengan tegas dibedakan lapangannya masing-masing antara filsafat dan ilmu pengetahuan

3.2 Saran

            Dari uraian diatas jelaslah bahwa betapa besar kepentingan filsafat bagi perwujudan dan pembangunan hidup kita. Jadi kita menjunjung tinggi dan mempertahankan filsafat sebagai suatu hal yang sangat berharga. Akan tetapi bersama-sama dengan itu harus kita akui juga batas-batas atau kenisbian filsafat.

 

 

 

 

 

 

 

 

6

DAFTAR PUSTAKA

Salam, Drs. H. Burhanuddin. Pengantar Filsafat. Jakarta : Pengantar, H. Achmad Sanusi. –Ed. 1,Cet. 9.–, 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Unsur-unsur kalimat

Juli 16th, 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan karunia dan rahmatnya kami bisa menyelesaikan makalah mengenai Unsue Unsur Kalimat.
Kami sangat berharap makalah ini akan bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan juga wawasan kita menyangkut efek yang ditimbulkan dari berbahasa Indonesia.
Kami pun menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang sudah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Mudah-mudahan makalah sederhana ini bisa dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang sudah disusun ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri ataupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf jika terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di saat yang akan datang.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kalimat merupakan primadona dalam kajian bahasa. Hal ini disebabkan antara lain karena dengan perantaraan kalimatlah seorang guru atau dosen dapat menyampaikan maksud secara lengkap dan jelas.Satuan bentuk bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada ttaran kalimat adalah kata (mis.tidak ) dan frasa atau kelompok kata (mis. tidak tahu). Kata dan frasa tidak dapat mengungkapkan suatu maksud secara lengkap dan jelas, kecuali jika kata dan frasa itu sedang berperan dalam kalimat minor atau merupakan jawaban sebuah pernyataan. Untuk dapat berkalimat dengan baik perlu kita pahami terlebih dahulu sturuktur dasar suatu kalimat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja unsur-unsur dalam kalimat?
2. Bagaimana susunan pola kalimat dasar?
3. Apa saja yang menjadi pembagian dalam jenis kalimat?
4. Apa itu kalimat inti dan inti kalimat?
5. Apa itu kalimat efektif?
6. Apa saja yang menjadi kesalahan dalam kalimat?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi unsur-unsur dalam kalimat.
2. Untuk mengetahui susunan pola kalimat dasar.
3. Untuk mengetahui pembagian jenis kalimat.
4. Untuk mengetahui kalimat inti dan inti kalimat.
5. Untuk mengetahui apa itu kalimat efektif.
6. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi kesalahan dalam kalimat efektif.

BAB II
PEMBAHASAN
KALIMAT

A. Unsur-unsur Kalimat
Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang biasa disebut juga jabatan kata atau peran kata,yaitu subjek(S), predikat(P), objek(O), pelengkap(P), dan keterangan (Ket) [1].Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur ,yakni S dan P.Unsur yang lain (O,Pel,dan Ket) dapat wajib hadir,atau tidak wajib hadir dalam suatu kalimat.
Unsur-unsur kalimat dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Subjek
Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjuk pada pelaku,tokoh,sosok,sesuatu hal,atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan.Sebagian besar S diisi oleh kata benda/frasa nominal,kata kerja /frasa verbal,dan klausa.Subjek kalimat dapat dicari dengan rumus pertanyaan apa ataupun siapa. Contoh :
a. Kakek itu sedang melukis (S yang diisi kata benda/frasa nominal).
b. Berjalan kaki menyehatkan badan (S yang diisi kata kerja/frasa verbal).
c. Gunung Kidul itu tinggi (S yang diisi kata benda/frasa nominal).

2. Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan perbuatan (action) apa S,yaitu pelaku/tokoh atau sosok di dalam suatu kalimat.Satuan bentuk pengisian P dapat berupa kata atau frasa namun sebagian besar berkelas verbal atau adjektiva,tetapi dapat juga numeral,nominalatau frasa nominal.Pemakaian kata adalah pada predikat biasa terdapat pada kalimat nominal. Predikat (P) dapat dicari dengan rumus pertanyaan bagaimana,mengapa, ataupun diapakan. Contoh :
a. Ibu sedang tidur siang (P yang diisi dengan kata kerja/frasa verbal).
b. Soal ujian ini sulit sekali (P yang diisi dengan kata sifat/frasa adjektif).
c. Karangan itu sangat bagus (P yang diisi dengan kata sifat/frasa adjektif).
d. Santi adalah seorang kolektor (P dengan pemakaian kata adalah pada frasa nominal).

3. Objek
Objek merupakan bagian kalimat yang melengkapi Predikat (P).Objek biasanya diisi oleh nomina,frasa nominal atau klausa.Letak Objek (O) selalu di belakang P yang berupa verba transitif,yaitu veba yang menuntut wajib hadirnya O. Objek dapat dicari dengan rumus pertanyaan apa atau siapa terhadap tindakan Subjek. Contoh :
a. Mereka memancing ikan Pari (O yang diisi dengan kata benda/frasa nominal).
b. Orang itu menipu adik saya (O yang diisi dengan kata benda/frasa nominal).

4. Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P.Letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verbal.Posisi ini juga bisa ditempati oleh O,dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga bisa sama,yaitu nominal atau frasa nominal.akan tetapi,antara Pel dan O terdapat perbedaan. Contoh :
Ketua MPR //membacakan //Pancasila.
S P O

Banyak orsospol // berlandaskan // Pancasila
S P Pel
Kedua kalimat aktif di atas yang Pel dan O-nya sama-sama nominal Pancasila,jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat pertama dengan ubahan sbb :
Pancasila //dibacakan // oleh Ketua MPR
S P Ket
*Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol (tidak gramatikal karemna posisi Pancasila sabagai Pel pada kalimat kedua ini tidak dapat dipindahkan ke depan menjadi S dalam bentuk kalimat pasif).
Hal lain yang membedakan Pel dengan O adalah jenis pengisiannya.Pel bisa diisi oleh adjektiva,frasa adjektif,frasa verbal,dan frasa preposisional. Contoh :
a. Kita benci pada kemunafikan (Pel-nya frase preposisional).
b. Mayang bertubuh mungil (Pel-nya frase adjektiva).
c. Sekretaris itu mengambilkan bosnya air minum (Pel-nya frase nominal).
d. Pak Lam suka bermain tenis (Pel-nya frase verbal).

5. Keterangan.
Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan Pel dan klausa dalam sebuah kalimat.Pengisi Ket adalah adverbial,frasa nominal,frasa proposisional,atau klausa. Posisi Ket boleh manasuka,di awal,di tengah, atau di akhir kalimat. Contoh :
a. Antoni menjilid makalah kemarin pagi.
b. Antoni kemarin pagi menjilid makalah.
c. Kemarin pagi Antono menjilid makalah.
Keterangan terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya keterangan waktu,tempat,cara, alat, alasan/sebab,tujuan,similatif,dan penyerta. Contoh :
a. Aulia memotong tali dengan gunting. (Ket.alat)
b. Mahasiswa fakultas Hukum berdebat bagaikan pengacara. (Ket.similatif)
c. Karena malas belajar, mahasiswa itu tidsk lulus ujian. (Ket.sebab)
d. Polisi menyelidiki masalah narkoba dengan cara hati-hati.(Ket.cara)
e. Amir pergi dengan teman-teman sekelasnya. (Ket.penyetara)
f. Karena malas belajar, Petrus tidak lulus ujian. (Ket.penyebab)

B. Pola kalimat dasar
Kalimat dasar bukanlah nama jenis kalimat, melainkan acuan untuk membuat berbagai tipe kalimat. Kalimat dasar terdiri atas beberapa struktur kalimat yang dibentuk dengan lima unsur kalimat, yaitu S,P,O,Pel,Ket.
Berdasarkan fungsi dan peran gramatikalnya ada enam tipe kalimat yang dapat dijadikan model pola kalimat dasar bahasa Indonesia [2].Keenam tipe kalimat itu tercantum dalam tabel berikut:

Tipe dan fungsi Subjek Predikat Objek Pelengkap Keterangan
1.S-P Orang itu
Saya sedang tidur
mahasiswa baru –
– –
– –

2.S-P-O Ayahnya
Rani mengendarai
mendapat mobil baru
piagam –
– –

3.S-P-Pel Beliau
Pancasila menjadi
merupakan –
– ketua koperasi
dasar negara kita –

4.S-P-Ket Kami
Kecelakaan itu tinggal
terjadi –
– –
– di Jakarta
tahun 1999
5.S-P-O-Pel Hasan
Diana mengirimi
mengambilkan ibunya
adiknya uang
buku tulis –

6.S-P-O-Ket Pak Bejo
Beliau menyimpan
memperlakukan uang
kami –
– di bank
dengan baik

C. Jenis Kalimat Dasar
Kalimat dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa jenis menurut (a) jumlah klausa pembentuknya,(b) fungsi isinya,(c) kelengkapan unsurnya, (d) susunan subjek dan predikatnya,dan (e) sifat hubungan aktor-aksi [3].
1. Jenis Kalimat menurut Jumlah Klausanya
Menurut jumlah klausa pembentuknya,kalimat dapat dibentuk atas dua macam,yaitu (1) kalimat tunggal dan (2) kalimat majemuk.

(a) Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu klausa bebas [4].Hal itu berarti hanya ada satu P di dalam kalimat tunggal.Unsur Padalah sebagai penanda klausa.Unsur S dan P menang selalu wajib hadir di dalam setiap kalimat.Adapun O,Pel,dan Ket sifatnya tidak wajib hadir di dalam kalimat,termasuk dalam kalimat tunggal.Jika P masih perlu dilengkapi,barulah unsur yang melengkapi itu dihadirkan.
Berdasarkan jenis kata/frasa pengisi P-nya,kalimat tunggal dapat dipilah menjadi empat macam yang diberi nama atau label tambahan sesuai jenis kata atau frasanya,yaitu nominal,adjektiva,verbal,dan numeral. Contoh :
1. Kami mahasiswa UIN Suska Riau (kalimat nominal)
2. Jawaban anak pintar itu sangat tepat (kalimat adjektiva)
3. Sapi-sapi sedang merumput (kalimat verbal)
4. Mobil orang kaya itu ada delapan (kalimat numeral)

(b) Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal [5]. Dengan kata lain kalimat majemuk adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan dua predikat. Kalimat majemuk dibagi menjadi dua bagian yaitu:
(1) Kalimat majemuk setara/koordinatif
Kalimat majemuk setara/koordinatif yaitu gabungan dua pokok pikiran atau lebih yang kedudukannya setara [6].Struktur kalimat yang di dalamnya terdapat,sekurang-kurangnya,dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal.Konjungtor yang menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk setara jumlahnya cukup banyak.Konjungtor itu menunjuk beberapa jenis hubungan dan menjalankan beberapa fungsi. Berikut tabel penghubung klausa dalam kalimat majemuk setara:
Jenis Hubungan Fungsi Kata Penghubung
1.Penghubung menyatakan penjumlahan atau gabungan kejadian,kegiatan,peristiwa, dan proses dan,serta,baik,maupun
2.Pertentangan mbahwa hal yang dinyatakan dalam klausa pertama bertentangan dengan klausa kedua tetapi,sedangkan,bukannya,melainkan
3.Pemilihan menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan atau
4.Perurutan menyatakan kejadian yang berurutan lalu,kemudian

Contoh kalimat majemuk setara/koordinatif :
1. Anto gemar menulis sedangkan Anita gemar menari.
2. Engkau tinggal di sini, atau ikut dengan saya.
3. Sinta cantik,tetapi sombong.
4. Ia memarkirkan mobil di lantai 3, lalu naik lift ke lantai 7.

(2) Kalimat Majemuk Bertingkat/Kompleks/Subordinatif
Kalimat majemuk bertingkat/kompleks/subordinatif yaitu kalimat tunggal yang salah satu jabatannya diperluas membentuk kalimat baru.Dalam kalimat majemuk bertingkat kita mengenal
a. Induk kalimat (jabatan kalimat yang bersifat tetap atau tidak mengalami perubahan)
b. Anak kalimat (jabatan kalimat yang diperluas membentuk kalimat baru.Anak kalimat ditandai pemakaian kata penghubung dan bila mendahului induk kalimat dipisah dengan tanda baca koma).
Berikut tabel jenis hubungan antarklausa,konjungtor,dan fungsinya dalam kalimat majemuk bertingkat.

Jenis Hubungan Kata Penghubung
a.waktu sejak,sedari,sewaktu,
sementara,seraya,setelah,sambil,sehabis,sebelum,ketika,tatkala,hingga,sampai
b.syarat jika(lau),seandainya,
an-daikata,andaikan,asalkan,kalau,apabila,bilaman,manakala
c.tujuan agar,supaya,untuk,biar
d.konsesif walau(pun),meski(pun),sekalipun,biar(pun),kendati(pun),sungguh(pun)
e.pembandingan seperti,bagaikan,laksa-na,sebagaimana,dari-pada,alih-alih,ibarat
f.penyebaban sebab,karena,oleh karena
g.pengakibatan sehingga,sampai-sampai,maka
h.cara/alat dengan,tanpa
i.kemiripan seolah-olah,akan
j.kenyataan Padahal
k.penjelasan Bahwa
l.hasil Makanya

Contoh kalimat majemuk bertingkat/kompleks/subordinatif :
1. Agar koperasi unit desa (KUD) berkembang,perlu dipikirkan penciptaan kader-kader yang tangguh.
2. Ketika memberikan keterangan,saksi itu meneteskan air mata.
3. Pembangunan rumah susun itu memerlukan penelitian sebab beberapa unit rumah susun belum berpenghuni.
4. hujan turun berhari-hari sehingga banjir besar melanda kota itu.
5. Dengan menurunkan harga beberapa jenis BBM,kita berharap kegiatan ekonomi tidak lesu lagi.
6. Pengurus lama berjanji bahwa koperasi kita akan memilih pengurus baru.
7. Tempat itu kotor,makanya dia malas kalau disuruh ke situ.
8. Dia diam saja seakan-akan tidak tahu kesalahannya.
9. Semangat belajarnya tetap tinggi meskipun usianya sudah lanjut.
10. Aku memahaminya sebagaimana ia memahamiku.

2. Jenis kalimat Menurut Fungsinya
Sesuai Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia (2003:337) disebutkan berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya kalimat dibedakan atas empat macam,yaitu : (1)kalimat berita (deklaratif), (2) kalimat tanya(introgatif), (3) kalimat perintah (imperatif),dan (4) kalimat seru (ekslamatif) [7].
(a) Kalimat Berita(Deklaratif)
Kalimat berita adalah kalimat yang dipakai untuk menyatakan suatu berita. Ciri-ciri kalimat berita, yaitu : bersifat bebas,boleh langsung atau tak langsung,aktif atau pasif,tunggal atau majemuk , berintonasi menurun dan kalimatnya diakhiri tanda titik (.). Contoh :
1. Pembagian beras gratis di kampungku dilakukan kemarin pagi.
2. Perayaan HUT RI 63 berlangsung meriah.

(b) Kalimat Tanya (Introratif)
Kalimat tanya adlah kalimat yang dipakai untuk memperoleh informasi.Ciri –ciri kalimat tanya, yaitu : diakhiri tanda tanya(?),berintonasi naik dan sering pula hadir kata apa(kah),bagaimana,dimana, siapa,yang mana,dll. Contoh :
1. Apakah barang ini milikmu?
2. Kapan adikmu kembali ke Indonesia?

(c) Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah (imperatif) dipakai untuk menyuruh dan melarang orang berbuat sesuatu. Kalimat perintah berintonasi menurun dan diakhiri tanda titik (.) atau seru (!). Kalimat perintah dapat dipilah lagi menjadi kalimat perintah suruhan,kalimat perintah halus,kalimat perintah permohonan,kalimat perintah ajakan dan harapan,kalimat perintah larangan,dan kalimat perintah pembiaran. Contoh :
1. Tolonglah bawa motor ini ke bengkel.(k.perintah halus)
2. Buka pintu itu! (k.perintah suruhan)
3. Jangan buang sampah di sungai itu! (k.perintah larangan)
4. Mohon hadiah ini kamu terima. (k.perintah permohonan/permintaan)
5. Ayolah, kita belajar. (k.perintah ajakan dan harapan)
6. Biarlah dia pergi bersama temannya. (k.perintah pembiaraan)

(d) Kalimat Seru (Ekslamatif)
Kalimat seru (ekslamatif) adalah kalimat yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat,termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Kalimat ini berintonasi naik dan diakhiri tanda seru (!). Contoh :
1. Hai,ini dia orang yang kita cari!
2. Wah,pintar benar anak ini !

3. Jenis Kalimat menurut Kelengkapan Unsurnya
Dipandang dari segi kelengkapan unsurnya, kalimat dibedakan menjadi dua yaitu : (1) kalimat sempurna (mayor) dan kalimat tak lengkap (minor).

(a) Kalimat Sempurna (Mayor)
Kalimat sempurna adalah kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa bebas (Cook,197 : 47) [8]. Oleh karena yang mendasari kalimat sempurna adalah suatu klausa bebas maka kalimat sempurna ini cukup kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Contoh :
1. Ayah membaca koran. (K.S. dilihat dari kalimat tunggal)
2. Kalau saya mempunyai uang, saya akan membeli rumah itu.(K.S. dilihat dari kalimat majemuk bertingkat.

(b) Kalimat Tak Sempurna (Minor)
Kalimat tak sempurna adalah kalimat yang subjek dan predikatnya tidak lengkap atau dengan kata lain subjek dan predikatnya tidak ada sama sekali.. Kalimat tak sempurna ini mencakup kalimat pertanyaan,minor,dan seruan [9]. Contoh :
a. “Maksudmu?”
b. “Ayah di Sumatera Utara.”

4. Jenis Kalimat menurut Susunan Subjek dan Predikatnya
Jenis kalimat menurut susunan subjek dan predikatnya dapat dibagi menjadi dua yuitu : kalimat versi dan kalimat inversi.
(a) Kalimat Versi
Kalimat versi adalah kalimat yang berpola S-P. Kalimat ini bisa dikatakan sama dengan kalimat tunggal tunggal yang mempunyai satu klausa.Contoh :
1. Dokter menangani pasien itu dengan baik.
2. Mereka bersalaman.

(b) Kalimat InversiI
Kalimat inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S sehingga membentuk pola P-S.Selain merupakan variasi dari pola S-P,ternyata kalimat berpola P-S dapat memberi penekanan atau ketegasan makna tertentu.Memang kata atau frase yang pertama muncul dalam tuturan bisa menjadi kata kunci yang mempengaruhi makna. Contoh :
1. Matikan televisi itu.
2. Tidak terkabul permintaannya.

5. Kalimat menurut Sifat Hubungan Aktor-Aksi.
Dipandang dari segi hubungan aktor-aksi, maka kalimat ini terbagi menjadi empat yaitu : (1) kalimat aktif, (2) kalimat pasif, (3) kalimat medial dan (4) kalimat resiprokal [10].

(a) Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat kalimat yang subjeknya sebagai pelaku atau aktor (Cook,1971 : 49). Kalimat aktif umumnya berawalan me- dan ber- pada P-nya. Contoh :
1. Anto mengambil buah mangga.
2. Adik bermain bola.

(b) Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita atau dikenai pekerjaan / tindakan. Kalimat pasif umumnya berawalan di- , ter- , ke-an. Contoh :
1. Piring dicuci Anita.
2. Adik terjatuh di kamar mandi.
3. Suaranya kedengaran ke sana.

(c) Kalimat Medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku dan atau sebagai penderita (objek). Contoh :
1. Dia menghibur dirinya.
2. Wanita itu menggantung dirinya sendiri.
3. Mereka menyusahkan diri sendiri.

(d) Kalimat Reiprokal
Kalimat resiprokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu perbuatan yang berbalas-balasan. Contoh :
1. Saya sering tukar-menukar buku dengan si Joni.
2. Para pembeli ramai tawar-menawar dengan para pedagang.

D. Kalimat Inti dan Inti `Kalimat
Kalimat inti adalah kalimat yang terdiri atas S dan P. Sedangkan inti kalimat adalah kalimat yang terdiri atas inti-inti kalimat atau unsur-unsur kalimat yaitu S-P-O.
Syarat-syarat kalimat inti :
1. Terdiri dari dua suku kata
2. Berpola S dan P
3. Intonasi netral
Syarat-syarat inti kalimat :
1. Terdiri dari tiga suku kata
2. Berpola S-P-O
3. Intonasi netral
Contoh :
a) Adik saya yang paling bungsu sedang mempelajari bahasa Mandarin
Kalimat inti : Adik mempelajari
Inti kalimat : Adik mempelajari bahasa Mandarin
b) Penelitian-penelitian mutakhir memusatkan perhatian pada makanan dari soya, yang ternyata dapat membantu mencegah kanker payudara.
Kalimat inti : Penelitian – penelitian memusatkan
Inti kalimat : Penelitian – penelitian memusatkan perhatian

E. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur/ penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar / pembaca secara tepat pula [11]. Dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mencapai sasarannya dengan baik sebagai alat komunikasi. Kalimat efektif memiliki diksi (pilihan kata)yang tepat, tidak mengalami kontaminasi frasa , sesuai ketentuan EYD, baik penulisan tanda baca dan penulisan kata.Selain itu kalimat efektif juga memiliki enam syarat keefektifan ,yaitu adanya (1) kesatuan , (2) kepaduan (3) kepararelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, dan (6) kelogisan

(1) Kesatuan
Kesatuan dalam kalimat efektif adalah dengan adanya ide pokok (S dan P) sebagai kalimat yang jelas . Contoh :
• Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk .(salah)
K P
• Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. (benar)
S P
(2) Kepaduan
Kepaduan terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termasuk unsur pembentuk kalimat adalah kata , frasa, tanda baca, dan fungsi sintaksis S-O-O-Pel-Ket. Kepaduan juga menyangkut pemakaian kata tugas yang tepat. Contoh :
• Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat izin mengemudi .(tidak mempunyai subjek/ subjeknya tidak jelas). (salah)
• Setiap pengemudi mobil harus memiliki surat izin mengemudi (subjeknya sudah jelas).(benar)

• Kami telah membicarakan tentang hal itu.(salah)
• Kami telah membicarakan hai itu. (benar)

(3) Keparalelan
Keparalelan adalah pemakaian bentuk gramatikal yang sama untuk bagian-bagian kalimat tertentu.Umpamanya alam sebuah perincian,jika unsur pertama menggunakan verba (kata kerja) dan seterusnya juga harus verba .Jika unsur pertamanya nomina (kata benda), bentuk berikutnya juga harus nomina. Contoh :
• Kami telah merencanakan membangun pabrik, membuka hutan, pelebaran jalan desa, dan membuat tali air. (salah)
• Kami telah merencanakan membangun pabrik,membuka hutan,melebarkan jalan desa, dan membuat tali air. (benar)

• Kakakmu menjadi dosen atau sebagai pengusaha ? (salah)
• Kakakmu menjadi dosen atau menjadi pengusaha ? (benar)

(4) Ketepatan
Ketepatan adalah kesesuain/ kecocokan pemakaian unsur- unsur yang membangun suatu kalimat sehingga terbentuk pengertian yang bulat dan pasti. Contoh :
• Karyawan teladan itu memang tekun belajar dari pagi sehingga petang. (salah)
• Karyawan teladan itu memang tekun belajar dari pagi sampai petang. (benar)

(5) Kehematan
Kehematan yaitu hemat pemakaian kata atau kelompok kata.Dengan kata lain tidak mengalami gejala bahasa pleonasme.Dengan hemat kata, diharapkan kalimat menjadi padat berisi. Contoh :
• Hanya ini saja yang dapat saya berikan. (salah)
• Hanya ini yang dapat saya berikan.(benar)
• Ini saja yang dapat saya berikan. (benar)

(6) Kelogisan
Kelogisan di sini adalah terdapatnya arti kalimat yang logis/ masuk akal. Supaya efektif, kata-kata dalam sebuah kalimat tidak boleh menimbulkan makna ambigu (ganda) atau tidak boleh mengandung dua pengertian.Contoh :
• Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-57.(salah)
Alasan : Seolah-olah ada 57 negara Republik Indonesia.
• Heri kemerdekaan ke-57 Republik Indonesia. (benar)

• Kepada Bapak Gubernur waktu dan tempat kami persilahkan.(salah)
Alasan : Waktu dan tempat tidak mungkin kami persilahkan.
• Bapak Gubernur kami persilahkan. (benar)

F. Kesalahan dalam Kalimat
Beberapa kesalahan yang terjadi dalam kalimat, diantaranya : (1) kalimat kontaminasi, (2) ketidakjelasan unsur S dan P dalam kalimat , (3) gejala pleonasme dalam kalimat,dan (4) penggunaan kata yang salah dalam kalimat.
(1) Kalimat Kontaminasi
Kalimat kontaminasi atau kalimat rancu adalah kalimat yang kacau susunannya , namun kekacauan susunan kata dalam kalimat itu sifatnya khas [12]. Dikatakan khas karena adanya pembentukan satu kalimat yang kurang tepat dari dua kalimat yang benar sehingga gagasan kalimatnya menjadi kabur atau tidak jelas. Contoh :
• Melalui kursus ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan.(salah)
Bagian pertama kalimat di atas melalui kursus ini ; bagian keduanya diharapkan bermanfaat untuk… Hubungan bagian pertama dan kedua tidak cocok.Kalau kita bertanya ,”Apa yang diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan?” Jawabnya bukan “melalui kursus ini.”Jawaban yang tepat adalah “kursus ini”. Kalau bagian pertama ingin dipertahankan seperti itu, maka bagian kedua harus diubah menjadi : diharapkan dapat ditingkatkan keterampilan.
Mari kita kembalikan kalimat pertama yang rancu itu kepada dua buah kalimat asalnya yang benar.Perhatikan kalimat asal itu.
a. Kursus ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan.(benar)
b. Melalui kursus ini diharapkan dapat ditingkatkan keterampilan.(benar)
Contoh kalimat kontaminasi lain, yaitu :
• Dalam perutnya mengandung racun. (salah)
a. Dalam perutnya terkandung racun.(benar)
b. Perutnya mengandung racun. (benar)

(2) Ketidakjelasan Unsur Subjek dan Predikat dalam Kalimat
Pada sebagian kalimat yang tidak jelas unsur S dan tidak memiliki unsur P akan membuat ketidakefektifan dan hanya memiliki unsur lain seperti O, Ket dan Pel. Contoh :
o Di antara beberapa negara Eropa Barat berupaya membuat heli antitank untuk menekan biaya bersama.(tidak jelas unsur S)
• Negara Eropa Barat berupaya membuat heli antitank untuk menekan biaya bersama. (jelas unsur S)

o Ayah ke kantor jam tujuh pagi.(tidak ada unsur P)
• Ayah pergi ke kantor jam tujuh pagi. (ada unsur P)

(3) Gejala Pleonasme dalam Kalimat
Yang dimaksud dengan gejala pleonasme dalam kalimat adalah penggunaan unsur kata atau bahasa yang berlebihan [13]. Contoh :
• Para tamu-tamu mulai datang ke pesta itu. (salah)
Para tamu mulai datang ke pesta itu. (benar)
Tamu-tamu mulai datang ke pesta itu. (benar)

• Sejak dari terminal sampai pesawat, Pamella diikuti terus oleh para wartawan asing (salah)
Sejak terminal sampai pesawat, Pamella diikuti terus oleh para wartawan asing.(benar)
Dari terminal sampai pesawat, Pamella diikuti terus oleh para wartawan asing. (benar)

(4) Penggunaan Kata yang Salah dalam Kalimat
Beberapa penggunaan kata yang salah dalam kalimat diantara (a) penggunaan kata ”kalau” yang salah,(b) penggunaan kata “di” yang salah,(c) penggunaan kata ”daripada” salah, dan (d) pengulangan kata [14].
a) Penggunaan Kata “Kalau” yang Salah
Kadang-kadang kita melihat pemakaian kata kalau yang kurang tepat sebagai unsur penghubung antarklausa seperti yang akan diperhatikan pada contoh di bawah ini. Kata kalau kita gunakan di depan klausa yang bersifat kondisional (=syarat).Isinya menyatakan sesuatu yang mungkin,namun dapat juga sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan atau mungkin tercapai. Dalam halseperti yang disebutkan terakhir itu, kata sambung kalau dapat diganti dengan kata lain yang menyatakan ketidakmungkinan itu, yaitu kata umpamanya, seandainya, andai kata dan sekiranya. Contoh :
• Kalau engkau bersungguh-sungguh belajar, engkau akan lulus dalam ujian nanti. (benar)
o Kalau engkau menjadi burung, biarlah aku menjadi dahan tempatmu bertengger.(salah)
Kalimat 2 klausa bersyarat itu berisi sesuatu yang mustahil.Mana mungkain orang akan menjelma menjadi burung.Karena isinya mengandung ketidakmungkinan makna, kata kalau dapat diganti dengan kata lain, misalnya andai kata, umpamanya, dan sekiranya. Contoh :
• Andai kata engkau menjadi burung, biarlah aku menjadi dahan tempatmu bertengger.(benar)

b) Penggunaan Kata Depan “Di” yang Salah
Penggunaan kata depan “di” yang salah, di antaranya :
o Pakaian itu disimpannya di dalam lemari. (salah)
• Pakaian itu disimpannya dalam lemari.(benar karena kata depan “di” dihilangkan)

o Perkara itu di atas tanggungan sayalah. (salah)
• Perkara itu atas tangungan sayalah.(benar karena kata depan “di” dihilangkan)

c) Penggunaan Kata “Daripada” yang Salah
Penggunaan kata “daripada” yang salah, di antaranya :
o Pukulan smash daripada Icuk menghujam tajam. (salah)
• Pukulan smash Icuk menghujam tajam.(benar)
o Hati kita sedih melihat daripada penderitaan korban bencana itu.(salah)
• Hati kita sedih melihat penderitaan korban bencana itu. (benar)

d) Pengulangan Kata
Pengulangan kata yang terjadi dalam kalimat , misalnya :
o Setahunnya hanya menghasilkan sekitar 200 film setahun.(salah)
• Setahun hanya menghasilkan 200 film. (benar)

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Dari pembahasan tenteng kalimat maka diperoleh beberapa kesimpulan , yaitu :
1. Kalimat merupakan bagian ujaran/tulisan yang mempunyai struktur minimal subjek (S), predikat (P) dan intonasi finalnya menunjukkan bagian ujaran/tulisan itu sudah lengkap dengan makna (bernada berita, tanya, atau perintah).
2. Kalimat dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa jenis menurut (a) jumlah klausa pembentuknya,(b) fungsi isinya,(c) kelengkapan unsurnya, (d) susunan subjek dan predikatnya,dan (e) sifat hubungan aktor-aksi.
3. Kalimat inti berbeda dengan inti kalimat. Kalimat inti adalah kalimat yang terdiri atas S dan P. Sedangkan inti kalimat adalh kalimat yang terdiri atas inti-inti kalimat atau unsur-unsur kalimat yaitu S-P-O.
4. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur/ penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar / pembaca secara tepat pula. Dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mencapai sasarannya dengan baik sebagai alat komunikasi. Kalimat efektif memiliki diksi (pilihan kata)yang tepat, tidak mengalami kontaminasi frasa , sesuai ketentuan EYD, baik penulisan tanda baca dan penulisan kata.Selain itu kalimat efektif juga memiliki enam syarat keefektifan ,yaitu adanya (1) kesatuan , (2) kepaduan (3) kepararelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, dan (6) kelogisan.
5. Dalam kalimat kita akan menemui beberapa keasalan atau ketidakefektifan. Beberapa kesalahan yang terjadi dalam kalimat, diantaranya : (1) kalimat kontaminasi, (2) ketidakjelasan unsur S dan P dalam kalimat , (3) gejala pleonasme dalam kalimat,dan (4) penggunaan kata yang salah dalam kalimat.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Lamuddin Finoza,Komposisi Bahasa untuk Mahasiswa Jurusan Non Bahasa,(jakarta : Gramedia, 2008),hal.142
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] Henry Guntur Tarigan,Pengajaran Sintaksis,(Bandung : Pustaka Setia,1984),hal.10
[5] Lamuddin Finoza.,Op.cit :hlm:155
[6] Dendy Sugono,Berbahasa Indonesia Dengan Benar,(Jakarta: Gramedia Press 1999),hlm.141
[7]Lamuddin Finoza.,Op.Cit:hlm: 159
[8] Henry Guntur Tarigan.,Op.cit:hlm:16
[9] Ibid
[10] Ibid
[11] Lamuddin Finoza.,Op.cit:hlm:163-164
[12] J.S.Badudu,Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar III,(Jakarta: Pustaka Setia, 1989),hlm.113
[13] Ibid
[14] Ibid