Sejarah Pura Beji

This post was written by aridarmayasa on April 14, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

Sejarah Pura Beji

Pura Beji di Desa Sangsit Kecamatan Sawan satu warisan peninggalan leluhur yang kini masih terjaga keasriannya. Sejak didirikan sekitar pada abad I5 silam pura ini memang di-empon oleh krama subak di desa setempat, namun dalam perjalanannya seluruh krama desa menjadi pengempon pura yang terletak di Dusun Beji, Desa Sangsit ini.

Tidak hanya pengempon-nya mengalami perubahan, namun pura ini juga menjadi satu daya tarik wisata. Setiap

hari ada saja wisatawan asing berkunjung ke pura ini. Konon, kunjungan wisatawan yang tak pernah sepi ini karena wisatawan tertarik mengetahui bahwa di pura tersebut terdapat dua buah patung orang asing yang dikenali sebagai warga negara Belanda. Satu patung warga Belanda memegang gitar dan satu lagi memegang rebab. Dua patung ini terletak di kori agung menuju ke jeroan pura.

Tidak ada bukti tertulis yang memuat sejarah Pura Beji. Kondisi ini membuat tokoh masyarakat di Sangsit menyusun buku yang menceritakan sejarah pura. Buku ini ditulis dengan narasumber dari pengelingsir yang mengetahui sejarah Pura Beji. Selain itu, secara tata letak dan arsitektur pura juga sempat diteliti oleh salah satu tokoh masyarakat desa setempat.

Dari upaya itu terungkap bahwa Pura Beji sebenarnya bukan pura subak. Tetapi karena sejak didirikan sekitar abad 15 silam notabene krama di Sangsit merupakan petani, sehingga seolah-olah Pura Beji itu di-emong oleh krama subak saja. Sementara dari hasil penelitian menyebutkan bahwa berdasarkan tata letak pura itu sebelah utara komposisi pelinggihnya untuk krama subak, di tengah-tengah dibangun pelinggih yang masuk dalam kategori puseh dan di sebelah selatannya terdapat kelompok pelinggih jajaran. Ciri lainnya yang berhasil dikupas dalam penelitian ini adanya bangunan Bale Agung Saka Kutus yang biasa terdapat pada Pura Puseh pada umumnya.

Selama ini ada sebagian masyarakat di Desa Sangsit meyakini bahwa situasi Pura Beji Sangsit bukan hanya sebagai Pura Subak Beji, melainkan merupakan Cikabakal Pura Desa (dahulu disebut Desa Beji) terutama pada awal pembuatannya. Namun entah kenapa didalam perjalanan waktu situasi Pura ini berubah menjadi Pura Subak yang diempon oleh Rama Krama Subak Beji saja, sedangkan

Pura desa yang sekarang diempon oleh masyarakat Desa Sangsit letaknya kurang lebih 500m dari Pura Beji, yang konon berasal dari Sanggah salah satu warga (keluarga Gusti) yang diserahkan kepada desa karena ceput (tidak ada keturunan).

Bila melihat tatanan Pelemahan dan usia ukiran Pura Beji maka keyakinan sebagai masyarakat Desa Sangsit akan Pura Beji mendekati kebenaran namun karena kurangnya informasi serta data yang mendukung tentang keberadaan Pura Beji maka sampai saat ini tidak ada masyarakat yang berani mengungkapkan dan mengatakan masalah ini kepermukaan. Di samping itu adanya rumor bahwa Pura Beji diperuntunkan kepada mereka yang punya sawah semakinn menyiutkan nyali sebagai masyarakat yang kebetulan tidak punya sawah pertanian untuk tangkil atau sembahyang atau mengaturkan bakti ke Pura yang merupakan Pura termegah di Desa Sangsit.

Kenyataan ini menyebabkan makin hari Pemedek yang tangkil ke Pura ini semakin sedikit, mereka hanya dari karma Subak Beji yang jumlahnya ratusan orang dan segelincir masyarakat lainnya yang merasa masih punya kaitan sejarah dengan Pura tersebut. Apalagi krama Subak makin hari makin berkurang jumlahnya seiring makin menciutnya luas lahan pertanian di Desa Sangsit, yang beralih fungsi menjadi

lahan pemukiman.

Oleh karena itu sudah saatnya keprihatinan ini harus disikapi dengan mengadakan penelitian dan pengkajian untuk mengetahui keberadaan dan status Pura Beji didalam tatanan Pura Kahyangan yang ada di Desa Sangsit dengan maksud agar sebagai karma Desa Sangsit yang senangtiasa dikaruniai kesehjahteraan, kemakmuran, dan rejeki oleh Beliau yang berstana disana, tidak begitu saja melupakan keberadaan Pura Beji yang bukan tidak mungkin krama Desa Sangsit dimanapun berada. Sedangkan dilain pihak justru banyak wisatawan manca negara yang sangat antusias berkunjung dan mengagumi Pura ini sebagai mana karya leluhur yang Adi Luhung.

Karena keterbatasan data, maka jejak-jejak yang dapat dipakai untuk menapak tilas status Pura Beji ini, secara nyata dapat di lacak diantaranya dari tata letak pelemahan Pura terhadap wilayah Desa Sangsit (letak geografis), tatanan Arsitektur Pura yang terdiri Tri Mandala lengkap dengan ciri khas arsitektur Bali Utara yang sempurna, tata upacara piodalan yang beragam dan tradisi yang dilaksanakan serta informasi dari nara sumber yang dipercaya.

Letak Geografis Pura Beji

Pura Beji sesuai dengan nam

anya terletak di Dusun/Banjar Beji, Desa Pakram

an

Sangsit Dauh Yeh, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. Dusun/ Banjar Beji adalah salah satu dari 8 Dusun dan 7 Banjar adat yang ada di desa Pakraman Sangsit dauh yeh, yang menempati areal yang berbatasan dengan :

  1. Sebelah selatan adalah jalan raya Sangsit (jalan propinsi)
  2. Sebelah timur adalah Tukad Gelung (tukad Sangsit)
  3. Sebelah Barat adalah Banjar Tegal
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan Dusun Pabean Sangsit dimana lokasi PPI dan pelabuhan rakyat berada

 

Di kawasan ini juga terdapat Pura Dalem Klod, yang orang menyebutnya sebagai Pura Dalem Purwa karena kekunoannya, juga ada Pura Segara yang terletak di Pantai Sangsit (wilayah Pabean Sangsit), Pura Pasupati Wong Aya yang sebelumnya disebut dengan Pura Kauh dan Pura Limascatu yang merupakan Pura Subak Beji di tengah sawah serta Setra Klod yang letaknya mengambil sisi klod kangin di pinggir Tukad Gelung.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa ada 2 Pura berstatus Pura Kahyangan desa yaitu Pura Dalem Klod dan Pura Segara, satu Pura Kahyangan diluar Tri Kahyangan Desa yaitu Pura Pasupati dan satu Pura yang berstatus Pura Subak yaitu Pura Limascatu. Sedangkan Pura Beji mengambil posisi di tangah-tengah dusun sebagai sentral dan tidak kalah pentingnya adalah adanya bangunan Bale Kulkul yang mengambil posisi Hulu.

Sedangkan Pura Dalem Kaja, Setra Kaja dan Pura Desa sekarang terletak di sebelah selatan dan barat banjar Beji. Posisi Setra Kaja dan Pura Dalem Kaja bila dilihat dari konsep arsitektur Bali (Asta Bumi) sepertinya tidak lazim, karena menduduki posisi hulu kaja, yang merupakan posisi tersuci pada tatanan arsitektur bali.

Bila diteliti tata ruang atau lokasi Pura-pura yang disebutkan diatas, seperti Pura Dalem Klod, menempati sisi klod (nista mandala atau teben), Pura Segara menempati posisinya sesuai dengan fungsinya yaitu di segara, Pura Limascatu terletak di sawah, sabagai Pura Subak, Pura Beji menempati posisi sentral dan Pura Pasupati sebagai Pura Kahyangan Desa menempati sisi barat, sehingga disebut dengan Pura Kauh, sedangkan bangunan Bale Kulkul yang menempati posisi hulu atau pojokan Catus Pata sangat mendekati dengan konsep tata ruang bangunan tradisional Bali Kuno. Sehingga dari sisi ini bias ditaksir kemungkinan Pura Dalem Kaja, Setra Kaja, dan Pua Desa sekarang dibangun jauh dibelakangnya, bukan merupakan satu kesatuan dengan yang di atas.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address