Perbedaan Gamelan Gong Kebyar Bali Selatan dengan Bali Utara

Perbedaan dari segi ukiran gamelan

Gong Kebyar Bali selatan kalau di lihat dari segi pelawah gambelan ukirannya lebih rapet dan dalam setiap instrument gamelan tersebut uirannya penuh kalau gamlan gong kebyar bali utara jenis ukirannya sedikit dan simpel, dar segi ukirannya adalah lebih besar motif ukiran gamelan bali utara banyak orang hawam bilang ukiran gamelan gong kebyar adalah semi bakiak. Di lihat dari sekian banyak instrument yang ada dalam gong kebyar yang terlihat keras perbedaannya adalah instrument gangsa, kantil, penyahcah, jublag, dan jegog antara gamelan bali selatan denan bali utara

  • Gangsa gambelan gong kebyar bali selatan ukiran di resonator/bumbung gangsa sudah tidak terlihat karena sudah menggunakan motif ukiran pandil.
  • Gangsa gambelan gong kebyar bali utara ukiran di resonator/bumbung gangsa ini hanyalah sedikit karena bumbung gangsa masih di perlihatkan.

Perbedaan dari bentuk bilah gamelan

Gamelan gong kebyar bali selatan yang saya lihat dari segi setiap bilah gamelannya lebih tebal dan menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung sedangkan gambelan bali utara pada bentuk bilah penjain dan di pacek. Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.

Jumlah jublag Bali Selatan dengan Bali Utara

Jumlah jublag pada gambelan Gong Kebyar Bali Selatan adalah 5 buah bilah sedangkan jumlah jublag pada gambelan Gong Kebyar Bali Utara adalah 7 buah bilah. Kalau jublag ini memiliki juga persamaan yaitu dari segi tungguhan sama – sama di gantung tidak ada di pacek.

Perbedaan Tetekep

Tetekep adalah menutup bilah gambelan apabila habis di pukul atau akan di pukul menurut kepentingan dalam praktek menabuh. Menutup bilah gambelan Bali Utara mungkin agak sedikit gampang di karenakan dari segi gambelan yang di pacek dan nada gambelan yang tidak terlalu lama getarannya karena dari sekian banyak karya tabuh maupun tabuh iringan tari asli Bali Utara yaitu Buleleng tempo tabuh sangat dinamis dan kebanyakan kekebyaran sedangkan gambelan Bali Selatan lebih sulit tetekep di saat sedang mempermainkan gambelan tersebut karena gambelan Bali Selatan adlah megantung dan nada gambelan saat di pukul lebih lama getarannya maka dari itu bila penabuh bali utara di suruh memainkan gambelan gong kebyar bali selatan mungkin tidak akan serapi dan sebagus penabuh bali selatan gaya tetekep maupun cara memainkan gambelannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Permainan Magoak-Goakan

Sejarah Magoak-Goakan

Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa. Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “SUKASADA” yang artinya selalu Bersuka Ria. Selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat. Untuk lebih memperkuat dalam memepertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.

Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah utara Desa Sukasada.
Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.

 

Pengertian Megoak-Goakan

Megoak-Goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Megoak-Goakan merupakan permainan tradisional rakyat khususnya khas Desa Panji yang biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba.Nama Megoak-Goakan sendiri diambil dari nama Burung Gagak (Goak yang gagah) yang terilhami ketika melihat burung ini tengah mengincar mangsanya. Kegiatan Megoak-Goakan sendiri merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng Bali ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur. Secara turun-temurun Megoak-Goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Ketika merayakan acara Megoak-Goakan ini suasana kekeluargaan dan kegembiraan warga yang merayakannya akan sangat terasa sekali. Meskipun tak jarang para peserta yang melakukannya harus jungkir-balik karena memang arena yang dipakainya miring, namun sama sekali tak mengendurkan semangat dan antusiasme warga yang mengikutinya.
Bagi warga yang sudah ikut, bisa langsung pulang atau menonton rekannya bermain. Dalam permainan tradisi kolot ini, satu regu terdiri dari 11 peserta yang melawan kelompok yang lainnya dengan jumlah yang sama. Supaya tertib, maka dalam arena permainan diatur oleh pecalang. Disebutkan filosofi permainan ini, sebagai wujud purusa pradana (laki-laki melawan perempuan). Disebutkan, dalam satu kelompok goak terdiri dari sebelas orang. Sementara penentuan kemenangan adalah kelompok Goak-goakan yang pertama kali mampu menangkap ekor (orang paling belakang) dalam kelompok lawannya. Maka dialah pemenangnya.

Lokasi Perayaan Tarian Megoak-Goakan dirayakan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada sekitar 6 km ke selatan Kota Singaraja.  Oleh masyarakat Buleleng (Bali utara) permainan-ini benar-benar mempunyai nilai heroik, karena berkat taktik inilah raja Panji Sakti dapat mengobarkan semangat juang yang spontan dari pada rakyatnya. Permainan ini tetap disukai oleh masyarakat Buleleng, bahkan meluas ke seluruh Bali. Memang daerah-daerah diluar Kabupaten Buleleng menganggap permainan ini tidaklah sekhidmad daerah Buleleng. Daerah-daerah diluar Buleleng menganggap permainan ini dipakai sebagai permainan yang baik, karena disamping bernilai hiburan, olahraga, juga ada unsur seninya.

Oleh karena itu permainan ini dari sejarah kelahirannya sekitar abad ke 16, dan sekarang akan diangkat untuk dijadikan seni pertunjukan. Sebenamya kalau diangkat menjadi tari masih banyak sekali memerlukan persyaratan. Tetapi untuk diangkat sebagai “media pertunjukan” tidaklah terlalu sulit, karena ia sudah memenuhi syarat bagi sebuah per mainan rakyat, bahkan yang paling menonjol unsur kompetitifnya, karena itu benar-benar bernilai olahraga.

 

 

Cara Bermain dan Fungsi Megoak-Goakan

 

Megoak-Goakan merupakan permainan yang diikuti oleh banyak peserta maksimal sepuluh orang. Satu orang menjadi goak dan sembilan orang sisanya menjadi ular dengan bentuk berjejer seperti berbaris. Kemudian setelah pesiapan siap dan permainan dimulai, si Goak langsung mengejar ekor (orang yang paling belakang) dari barisan ular tersebut. Dengan arah berhadap-hadapan antara ular dan goak, kepala ular (orang yang pertama di barisan ular) menghalang-halangi goak untuk mengejar ekor si ular dan yang menjadi ekor ular akan terus berusaha menghindar dari dekapan si goak. Seandainya dalam permainan ini ekor ular tersebut di dapatkan oleh si goak, maka yang menjadi ekor ular tersebut berganti menjadi goak dan yang menjadi goak sebelumnya menjadi kepala ular yang akan menjaga seluruh badan ular, begitu pula seterusnya.

Fungsi yang sangat terpenting dalam permainan ini adalah kerjasama antara semua orang dalam barisan ular tersebut dan kegigihan orang yang menjadi goak untuk mendapatkan ekor si ular.

 

 Nilai-nilai yang Terkandung dalam Permainan Megoak-Goakan

Permainan ini memiliki nilai afektif, kognitif dan npsikomotor sebagai bentuk dari pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Lebih terperinci sebagai berikut :

  1. Nilai afektif

Nilai afektif adalah nilai keaktifan dalam melaksanakan permainan ini. Nilai afektif yang terkandung adalah  saat anggota serius dan sportif dalam bermain dan melaksanakan tugas dengan baik dan benar. Permainan Megoak-Goakan juga mengajarkan nilai kebersamaan/kekompakan, nilai kegigihan, dan heroik para pemain. Kita juga diajak untuk melestarikan permainan tradisional yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.

  1. Nilai kognitif

Nilai kognitif yaitu nilai tertulis berdasarkan penguasaan materi atau pengetahuan pemain.Peserta pemain Megoak-Goakan dinilai baik apabila anggota mengerti aturan main dan memahami perannya sebagai goak dan seekor ular. Disini pemain yang manjadi goak akan diasah kemampuan kognitifnya dalam mengolah taktik atau strategi agar ia dengan cepat dapat menangkap ekor ular dengan halangan dari kepala ular yang berada di depan.

  1. Nilai psikomotor

Nilai psikomotor adalah nilai prilaku dalam permainan. Nilai ini berupa kehadiran dan mentaati peraturan bermain. Pemain memiliki psikomotor yang baik harus melaksanakan permainan sesuai peraturan permainan. Pemain Megoak-Goakan harus sportif dalam upaya menangkap ekor ular.

 

Definisi Lingkungan Hidup

Definisi Lingkungan Hidup 

Lingkungan hidup menjadi bagian mutlak dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak terlepas dari kehidupan manusia

Berikut ini adalah pengertian lingkungan hidup menurut para ahli:
1. S.J MCNAUGHTON & LARRY L. WOLF
Lingkungan hidup didefinisikan sebagai semua faktor ekstrenal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengarui kehidupan, pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi organism
2. PROF DR. IR. OTTO SOEMARWOTO
Lingkungan hidup merupakan jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita
3. PROF. DR. ST. MUNADJAT DANUSAPUTRO, SH
Pengertian lingkungan hidup adalah semua benda dan kondisi, termasuk di dalamnya manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang tempat manusia berada dan mempengaruhi hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya.
4. MICHAEL ALLABY
Lingkungan hidup didefinisikan sebagai: the physical, chemical and biotic condition surrounding and organism atau kondisi yang mencakup fisik, kimia dan biotic termasuk organisme.

  1. JONNY PURBA
    Lingkungan hidup merupakan wilayah yang merupakan tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta pranatanya dengan simbol dan nilai
  2. SRI HAYATI
    Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan mahluk hidup. termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya
    7. Pengertian lingkungan hidup menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997
    Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Wawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

 Unsur – Unsur Lingkungan Hidup

Istilah lingkungan hidup sering digunakan untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup terbagi tiga, yaitu:

  1. Unsur Hayati (Biotik); yakni unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, sehingga lingkungan hayatinya didominasi tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
  2. Unsur Sosial Budaya; yakni lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
  3. Unsur Fisik (Abiotik); yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dll.

 

 

sejarah gamelan di desa selat kabupaten buleleng

Gamelan Gong Kebyar di Desa Selat, Kecamatan   Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Dari data yang saya dapat dari Kelian Desa Adat Selat,Gamelan Gong Kebyar yang berada di Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng ini di perkirakan dulu di buat  pada tahun 1948 di Pande Desa Bungkulan oleh orang tua terdahulu yang berprofesi sebagai pande di Desa Bungkulan, karena melihat di banyak desa sudah ada barungan gamelan Gong Kebyar oleh karena itulah tergugah semangat panglingsir-panglingsir Desa Adat untuk memiliki sebuah gamelan Gong Kebyar dan akhirnya hal tersebut dapat di wujudkan dengan cara para krama desa adat, pengempon, dan tokoh-tokoh yang ada mengumpulkan sumbangkan sukarela ( punia) guna untuk membayar biaya yang di perlukan. Hingga uang tersebut terkumpul, akhirnya Desa Selat memiliki barungan gamelan Gong Kebyar.

 Pemilik Gamelan

Gamelan tersebut bisa ada berkat kerjasama dan bantuan dari tokoh-tokoh dan krama di desa, maka atas keputusan rapat dari kelian adat desa dan tokoh-tokoh di desa bahwa gamelan tersebut di miliki oleh Krama Desa Adat ( milik desa). Hingga dua hari kemudian di kumpulkanlah warga Desa Adat Selat di Wantilan Pura Desa guna untuk memilih pengurus gamelan tersebut dan siapa saja yang ingin ikut belajar megamel, dan menentukan setiap hari apa latihan.

Sehingga hari latihan hanya dua kali dalam satu minggu yaitu hari kamis dan hari minggu, akan tetapi di buatkanlah peraturan untuk sekaha dan gamelan tersebut untuk krama desa (waraga desa) yang ikut dalam sekaha gamelan Desa Adat ini harus tetap bisa hadir ngaturang ngayah kalau ada karya di desa entah itu di Pura Desa,Pura Bukit,Pura Dalem, dan karya pura yang lainnya yang ada di desa, dan bagi sekaha bila ada cuntaka dilarang ikut ngaturang ngayah kalau ada karya di Pura. Peraturan untuk Barungan Gamelan ini adalah gamelan ttersebut tidak di perbolehkan dibawa atau di pentaskan di luar acara Pura misalnya acara 3 bulanan, metatah, atau yang lainnya karena gamelan tersebut milik desa hanya di bolehkan di pentaskan di Pura saja bila ada piodalan di pura dan peraturan ini masih berlaku sampai sekarang.

 Aktivitas yang Dilakukan oleh Sekaha

Sekaha yang ada untuk saat ini di Desa Selat ada dua yaitu sekaha untuk tua-tua dan sekaha pemuda, aktivitas yang di lakukan sekaha tua-tua sudah mulai jarang melakukan latihan karena kesibukan masing-masing mengurus keluarga atau bekerja tetapi kalau menjelang ada piodalan di pura semua sekaha pasti datang latihan. Untuk sekaha pemuda sampai saat ini masih tetap jalan latihan, latihan biasanya di laksanakan hari selasa dan minggu jam latihan biasanya mulai dari jam 7 sampai jam 9 malam.Tempat latihan untuk sekaha tua maupun pemuda yaitu di Bale Pegongan di Pura Desa.

Di Desa Selat setiap Purnama ataupun Tilem selalu ada yang sembahyang ke Pura Desa maka dari itu sekaha pemuda setiap Purnama atau Tilem sering sembahyang dulu jam 6 sore selesai sembahyang langsung ngayah di Pura Desa ya hitung hitung sekalian latihan lah, bila ada karya di Desa entah itu di Pura Desa, Pura Dalem dan yang lainnya sekaha tua-tua dan pemuda tetap melakukan ngayah sampai karya tersebut selesai.

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!