Sejarah Tari Wiranjaya

TARI WIRANJAYA

Tari Wiranjaya merupakan salah satu tari kekebyaran . Tari Kekebyaran meliputi berbagai jenis tarian tunggal, duet, trio, kelompok dan sendratari. Tari-tari ini dikelompokan sebagai Kekebyaran bukan hanya karena diiringi dengan gamelan Gong Kebyar, namun karena gerakannya yang dinamis dan bernafas kebyar. Oleh sebab itu, dalam kelompok ini terdapat Tari Lepas dan Sendra Tari. Tari Lepas adalah tari-tarian yang jangka waktu pentasnya relatif pendek, tidak berkaitan (terlepas-lepas) antara yang satu dengan lainnya, baik yang bercerita maupun tanpa cerita.( Tari kekebyaran, Bali Galang ).Tari Wiranjaya ini hampir sama dengan Tari Truna Jaya. Akan tetapi ada sedikit perbedaan yang membuat kedua tarian ini terlihat beda. Kesamaan yang terlihat meliputi gending – gending kekebyaran yang hampir sama, dan dari segi ragam geraknya pun hampir sama. Tarian Wiranjaya ini hampir tidak diketahui oleh masyarakat, karena kalah pamor dengan tari Truna Jaya.Namun jika tari ini dipentaskan, antusias masyarakat yang menonton terbilang cukup besar

Asal Mula Tari Wiranjaya

Diawali dengan sering diadakan kegiatan mebarung atau pertandingan Gong Kebyar di Buleleng antara  Dangin Njung dengan Dauh Njung (antara Buleleng Barat dengan Buleleng Timur) yaitu antara desa Jagaraga ( Buleleng Timur) dengan desa Kedis  (Buleleng Barat).Menurut I Putu Sumiasa bahwa kegiatan mebarung tersebut biasa dilaksanakan untuk m

emeriahkan acara gelar seni pada pasar malam, dan hari-hari

kebesaran,17 Agustusan. Pada saat mebarung belum ada nama tari Trunajaya dan tari Wiranjaya, yang ada hanya tari Kebyar Buleleng, versi Dangin  Njung dan Dauh Njung. Kemudian, sesudah ada tari Trunajaya dan Palawakya dari Dangin Njung yang diciptakan oleh I Gede Manik (alm), maka pementasan yang dilakukan pada saat mebarung hanya memetaskan 2 buah tarian saja yaitu Tari palawakya dan Tari Trunajaya

Desa dauh Njung pada awalnya jauh tertinggal dari Desa Dangin Njung, rasa bosan mulai dirasakan oleh masyarakata sekitar. Yang hanya bisa menonton dua buah tarian saja. Setelah itu muncul keinginan I Putu sumiasa bersama dengan Pamannya yang bernama I Ketut Merdana untuk membuat sebuah tarian yang digunakan untuk mewakili kesenian dari Desa Dauh Njumg, tarian ini dinamakan Tari Wiranjaya. Tari ini diciptakan pada tahun 1957, pada saat Bapak I Putu Sumiasa baru menyelesaikan Sekolah SMEA Negeri di Jogjakarta.

Dengan diciptakannya Tari Wiranjaya ini mengakibatkan tumbuhnya rasa bangga masyarakat Dauh Njung, karena pada saat kegiatan mebarungan, Desa Dauh Njung mempunyai tarian yang mewakilkannya. Pada saat itu Tari Palawakya dibawakan oleh Dauh Njung dan Dangin Njung sebagai tari pembuka, Untuk Tarian yang berikutnya yang dipentaskan adalah Tari Wiranjaya oleh Dauh Njung dan Tari Truna Jaya oleh Dangin Njung.

Untuk Tabuh atau gending Tari Wiranjaya juga diciptakan oleh I Putu Sumiasa bersama Pamannya. Tabuh dari Tari Wiranjaya ini mengadopsi kekebyaran Buleleng yang hampir sama dengan Tari Truna Jaya. Gerak Tarinya pun mengadopsi dari Tari Truna Jaya. Menurut I Putu Sumiasa . Bapak I Putu Sumiasa juga menuturkan bahwa pemakaian tabuh yang menyerupai Taruna Jaya karena ingin menunjukan kekentalan dari cirri khas kekebyaran Buleleng.

 

Tari wiranjaya tergolong kedalam tari bebancihan. Menurut Sumiasa menyebutkan bahwa synopsis dari Tari Wiranjaya sebenarnya tidak pernah dibuat. Beliau juga mengatakan pada awal penciptaan Tari Wiranjaya beliau tidak memikirkan cerita yang diangkat sebagai synopsis, synopsis itu ada karena pada saat beliau diundang untuk pentas di Taman Izmail Marzuki Jakarta tahun 1963. Dan disana beliau ditanyakan tentang sinopsisnya, segera beliau berfikir dan mengatakan, “ Tari Wiranjaya mengisahkan dua putra pandu yaitu Nakula dan Sahadewa yang sedang belajar memanah di Pasraman yang dikelola oleh Bhagawan Tamba Petra”.

Ragam Gerak tari Wiranjaya

Tari wiranjaya merupakan tari kekebyaran yang ditarikan oleh dua orang penari putrid. Struktur tarinya sama dengan tari Truna Jaya dan Tari bali pada umumnya. Adapun struktur tari dan ragam gerak Tari wiranjaya adalah

  1. Papeson

Tayung Truna Jaya, Agem kanan, Nyalud, nyogroh(nergah), Agem kiri, ngoyod, nabdab gelungan, ngunda, putar, ngeseh, gelatik nut papah.

Gerakan yang menjadi cirri khas Tari Wiranjaya pada bagian Papeson adalah :

–          Gerakan nyogroh( nergah ) yang dilakukan kekanan ataupun kekiri dengan tangan dalam posisi agem dan satunya dalam posisi nepuk dada.

–          Gerakan nabdab Gelungan yang dilakukan dengan kedua tangan, dengan telapak tangan menghadap keatas.

–          Gelatik nut papah yang dilakukan setelah gerakan ngeseh yang hanya dilakukan sekali, kekanan, maupun kekiri, dengan posisi tangan nepuk dada.

  1. Pangawak

Nyalid, gelatik nut papah, agem, nyalud, ngeliput, ngepik, ngumbang, ngunda, putar, kebyar seperti Truna Jaya.

Gerakan yang menjadi cirri khas Tari Wiranjaya pada bagian Pangawak adalah :

–          Ngumbang yang dilakukan menghadap blakang, dengan aksen nudnik menggunakan ujung kaki kiri.

–          Gerakan ngunda yang dilakukan sambil berputar

  1. Pengecet

Ngoyod,ngeliput, putar, ngoyod, ngenjet, ngiluk, ngembat, duduk, agem, ngenjet, ngepik, ngeseh, tanjek panjang

Gerakan yang menjadi cirri khas Tari Wiranjaya dalam bagian pengecet adalah :

–          Gerakan kaki seperti ngenjet yang digabung dengan gerakan menengok dengan posisi kipas ngepel.

–          Gerakan ngoyod kekanan dan kekiri yang dilakukan dengan volume yang lebih besar, dengan gerakan mengenjet, posisi tangan seperti nabdab gelungan, dilakukan bergantian.

Kostum dan Properti

Adapun Kostum yang digunakan dalam tari wiranjaya adalah :

  1. Kepala

–          Destar kuning yang diprada

–          Kerucut

–          Petitis

–          Gruda Mungkur

–          Lenter

–          Rumbing

Pada bagian belakang destar dibentuk menyerupai gelungan baris yang berbentuk segitiga, dengan ujung destar dibawa diatas telinga diurai kebawah, bagian depan memakai petites, dan destar dibentuk seperti janggar dan pada bagian samping ditambahkan lenter.

  1. Badan

–          Bapang ( Badong )

–          Gelangkana atas

–          Gelangkana bawah

–          Sabuk prada

–          Tutup dada

–          Ampok – ampok

–          Panah

Bapang yang digunakan menyerupai bapang tari bebancihan

Untuk panah yang dipakai adalah menyerupai tempat anak panah dan anak panahnya, di letakan dibelakang.

  1. Bagian Bawah

–          Celana Kuning

–          Kain kuning Prada

–          Gelang kaki

Disini juga terdapat perbedaan dengan tari truna jaya, tari wiranjaya tidak memakai lelancingan kesamping, akan tetapi memakai kain dengan cara lelancingan depan, dan setengah dibawa kebelakang.

Properti yang digunakan adalah kipas atau  kepet

Biografi Seniman Buleleng

YouTube Preview ImageI GEDE MANIK

I Gede Manik adalah seorang seniman besar asal Bali. Beliau adalah seorang seniman tabuh dan penari pertama dari Tari Kebyar Legong. Pada suatu saat, Gede Manik menunjukkan jati dirinya sebagai seorang kreator tari. Berorientasi dari tari Kebyar Legong yang sering dibawakannya, ia menggagas karya tari Kebyar Legong versi lain, lebih pendek durasinya namun tetap menunjukkan karakteristik tari yang dinamis. Tari yang bernuansa gelora taruna nan heroik ini tidak mempunyai nama, hanya dikenal sebagai tari kebyar Dangin Enjung. Pada suatu hari, tahun 1950, ketika ditampilkan di depan Bung Karno dan tamu-tamunya di sebuah hotel di Denpasar, presiden yang dikenal sebagai penyayang seni itu tak menyembunyikan ekspresi takjubnya terhadap pentas tari yang begitu energik dengan dukungan tatabuhan gamelan yang gegap membuncah. Soekarno kemudian memberi nama karya tari tersebut Tarunajaya, taruna yang digjaya.

Selain dalam seni tari, beliau juga sangat piawai dan lihai dalam memainkan kendang. Pengalaman berkeseniannya pun tidak hanya di dalam negeri

Karya-karyanya:
• Pada Tahun 1925: Menciptakan Tari PALAWAKYA Yaitu Tari yang menggabungkan gerak tari menabuh terompong sambil mewirama (membebasan).
• Pada Tahun 1946 : Alm Gede Manik Menciptakan Tabuh dan Tari TRUNAJAYA yang mengisahkan seorang pemuda yang menginjak Remaja dengan jiwa yang keras, emosional, enerjik dan lemah Lembut yang di tuangkan dalam bentuk gerakan tari TRUNAJAYA.
• Di samping menciptakan Tari Juga menciptakan Tabuh Singa Ambara Raja Dan Banyak Tabuh-Tabuh Lainnya yang di Bina di Buleleng sehingga dulu ada istilah Gong mebarung dangin jung dan dauh jung

Penghargaan yang pernah diperoleh:
• Anugrah Seni, 17 Agustus 1969 (Mendikbud) Mashuri
• Wija Kusuma, 30 Maret 1981 (Bupati Buleleng) Drs. I Nyoman Tastra
• Dharma Kusuma, 18 September 1981 (Gubernur) Prop. Dr. Ida Bagus Mantra
• Satya Lencana, 12 Agustus 2003 (Presiden RI) Megawati Soekarno Putri

Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli

DEFINISI KEBUDAYAAN

 

  1. Ki Hajar Dewantara: “Kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat”
  2. Koentjaraningrat, guru besar Antropologi di Universitas Indonesia:“Kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”.
  3. Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
  4. Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
  5. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
  6. R. Linton (The Cultural Background of Personality)Kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku dan hasil laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.
  7. Melville J. Herskovits, Kebudayaan adalah “ Man made part of the environment “ (bagian dari lingkungan manusia).
  8. Dawson (Age of The Gods), Kebudayaan adalah cara hidup bersama (culture is common way of life).
  9. V.H. Deryvendak, Kebudayaan adalah kumpulan dari cetusan jiwa manusia sebagai yang beraneka ragam berlaku dalam suatu masyarakat tertentu.
  10. Sultan Takdir Alisyahbana, Kebudayaan adalah manifestasi dari cara berfikir
  11. Dr. Moh. Hatta, Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa
  12. Mangunsarkoro, Kebudayaan adalah segala yang bersifat hasil kerja jiwa manusia dalam arti yang seluas-luasnya
  13. Drs. Sidi Gazalba, Kebudayaan adalah cara berfikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dengan suatu ruang dan suatu waktu.
  14. Larry A. Samovar & Richard E. Porter, Kebudayaan dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi.
  15. Levo – Henriksson, Kebudayaan meliputi semua aspek kehidupan kita setiap hari, terutama pandangan hidup – apapun bentuknya – baik itu mitos maupun sistem nilai dalam masyarakat.
  16. Rene Char, Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat.
  17. C. A. Van Peursen, Kebudayaan merupakan gejala manusia dari kegiatan berfikir (mitos, ideology, dan ilmu), komunikasi (sistem masyarakat), kerja (ilmu alam dan teknologi), dan kegiatan-kegiatan lain yang lebih sederhana.
  18. Dr. K. Kupper, Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
  19. William H. Haviland, Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
  20.  M. Jacobs dan B.J. Stern,Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
  21. Francis Merill, Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
  22. Boundedetal , Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
  23. Mitchell (Dictionary of Soriblogy), Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
  24. Robert H Lowie, Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.
  25. Arkeolog R. Seokmono, Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
  26. Malinowskimengatakart bahwa kebudayaan merupakan kesatuan dari dua aspek fundamental, kesatuan pengorganisasian yaitu tubuh artifak dan sistem adat istiadat.
  27. Clifford geertz, mnegartikan kebudayaan sebagai sebuah sistem berupa konsepsi-2 yang diwariskan dalam bentuk simbolik sehingga dengan cara ini manusia mampu berkomunikasi, melestarikan, mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadapkehidupan.
  28. Ralph L. Beals dan Harry Hoijermenyatakan konsep kebudayaan ialah mengenal pasti kelakuan yang biasa dipraktikkan, diperolehi melalui pembelajaran oleh sesuatu kumpulan masyarakat.
  29. Lucy Mair menyatakan bahawa kebudayaan ialah milik bersama sesuatu masyarakat yang mempunyai tradisi yang sama.
  30. Djojodigonomemberikan defenisi mengenai kebudayaan dengan mengatakan kebudayaan itu adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa.
  31. Ralph Linton ( 1839-1953 )memberikan definisi mengenai kebudayaan yaitu “ Man’s social heredi “ yang artinya sifat social yang dimiliki oleh manusia secara turun temurun.
  32. J.P.H. Dryvendafmemberikan pendapat mengenai definisi kebudayaan, bahwa kebudayaan itu adalah kumpulan dari letusan jiwa manusia sebagai yang beraneka ragam berlaku dalam suatu mansyarakat tertentu.
  33. W.H.Kellymemberikan sebuah definisi bahwa kebudayaan itu adalah sebuah pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia.
  34. Hofstede (1984)menjelaskan budaya adalah “pemrograman kolektif terhadap pikiran yang membedakan antara kelompok satu dengan lainnya.”
  35. kroeber dan KluckhohnBudaya terdiri dari pola, eksplisit dan implisit, dan untuk perilaku yang diperoleh dan dan ditularkan oleh simbol, yang merupakan prestasi khas dari kelompok manusia, termasuk perwujudan mereka di artefak, inti penting dari budaya terdiri dari tradisional (yaitu historis berasal dan dipilih) ide-ide dan terutama nilai-nilai yang melekat mereka, sistem kultur dapat, di satu sisi, dianggap sebagai produk dari tindakan, di sisi lain sebagai elemen pengkondisian tindakan lebih lanjut.
  36. Edward said: Kebudayaan adalah satu cara perjuangan melawan pemusnahan dan pelenyapan. Kebudayaan adalah suatu bentuk ingatan melawan penghapusan.
  37. FUAD HASSAN, 1998. Kebudayaan adalah suatu kerangka acuan bagi perikehidupan suatu masyarakat yang sekaligus untuk mengukuhkan jati diri sebagai kebersamaan yang berciri khas.
  38. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
  39. C. Wisser, A.Davis & A. Hoebel, mereka semua mengartikan kebudayaan sebagai “Perbuatan yang pada dasarnya merupakan insting selanjutnya dimodifikasi / diperbaharui dan dikembangkan melalui suatu proses belajar”
  40. Harjoso, mengemukakan inti kebudayaan adalah 1. Kebudayaan yang terdapat didalam masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain 2. Kebudayaan itu dapat diteruskan dan dapat diajarkan 3. Kebudayaan itu terjabarkan dari komponen-komponen biologis, psikologis, dan sosiologis dari eksistensi/keberadaan manusia. 4. Kebudayaan itu berstruktur atau mempunyai cara atau aturan

 

Perbedaan Gamelan Gong Kebyar Bali Selatan dengan Bali Utara

Perbedaan dari segi ukiran gamelan

Gong Kebyar Bali selatan kalau di lihat dari segi pelawah gambelan ukirannya lebih rapet dan dalam setiap instrument gamelan tersebut uirannya penuh kalau gamlan gong kebyar bali utara jenis ukirannya sedikit dan simpel, dar segi ukirannya adalah lebih besar motif ukiran gamelan bali utara banyak orang hawam bilang ukiran gamelan gong kebyar adalah semi bakiak. Di lihat dari sekian banyak instrument yang ada dalam gong kebyar yang terlihat keras perbedaannya adalah instrument gangsa, kantil, penyahcah, jublag, dan jegog antara gamelan bali selatan denan bali utara

  • Gangsa gambelan gong kebyar bali selatan ukiran di resonator/bumbung gangsa sudah tidak terlihat karena sudah menggunakan motif ukiran pandil.
  • Gangsa gambelan gong kebyar bali utara ukiran di resonator/bumbung gangsa ini hanyalah sedikit karena bumbung gangsa masih di perlihatkan.

Perbedaan dari bentuk bilah gamelan

Gamelan gong kebyar bali selatan yang saya lihat dari segi setiap bilah gamelannya lebih tebal dan menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung sedangkan gambelan bali utara pada bentuk bilah penjain dan di pacek. Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.

Jumlah jublag Bali Selatan dengan Bali Utara

Jumlah jublag pada gambelan Gong Kebyar Bali Selatan adalah 5 buah bilah sedangkan jumlah jublag pada gambelan Gong Kebyar Bali Utara adalah 7 buah bilah. Kalau jublag ini memiliki juga persamaan yaitu dari segi tungguhan sama – sama di gantung tidak ada di pacek.

Perbedaan Tetekep

Tetekep adalah menutup bilah gambelan apabila habis di pukul atau akan di pukul menurut kepentingan dalam praktek menabuh. Menutup bilah gambelan Bali Utara mungkin agak sedikit gampang di karenakan dari segi gambelan yang di pacek dan nada gambelan yang tidak terlalu lama getarannya karena dari sekian banyak karya tabuh maupun tabuh iringan tari asli Bali Utara yaitu Buleleng tempo tabuh sangat dinamis dan kebanyakan kekebyaran sedangkan gambelan Bali Selatan lebih sulit tetekep di saat sedang mempermainkan gambelan tersebut karena gambelan Bali Selatan adlah megantung dan nada gambelan saat di pukul lebih lama getarannya maka dari itu bila penabuh bali utara di suruh memainkan gambelan gong kebyar bali selatan mungkin tidak akan serapi dan sebagus penabuh bali selatan gaya tetekep maupun cara memainkan gambelannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Permainan Magoak-Goakan

Sejarah Magoak-Goakan

Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa. Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “SUKASADA” yang artinya selalu Bersuka Ria. Selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat. Untuk lebih memperkuat dalam memepertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.

Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah utara Desa Sukasada.
Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.

 

Pengertian Megoak-Goakan

Megoak-Goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Megoak-Goakan merupakan permainan tradisional rakyat khususnya khas Desa Panji yang biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba.Nama Megoak-Goakan sendiri diambil dari nama Burung Gagak (Goak yang gagah) yang terilhami ketika melihat burung ini tengah mengincar mangsanya. Kegiatan Megoak-Goakan sendiri merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng Bali ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur. Secara turun-temurun Megoak-Goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Ketika merayakan acara Megoak-Goakan ini suasana kekeluargaan dan kegembiraan warga yang merayakannya akan sangat terasa sekali. Meskipun tak jarang para peserta yang melakukannya harus jungkir-balik karena memang arena yang dipakainya miring, namun sama sekali tak mengendurkan semangat dan antusiasme warga yang mengikutinya.
Bagi warga yang sudah ikut, bisa langsung pulang atau menonton rekannya bermain. Dalam permainan tradisi kolot ini, satu regu terdiri dari 11 peserta yang melawan kelompok yang lainnya dengan jumlah yang sama. Supaya tertib, maka dalam arena permainan diatur oleh pecalang. Disebutkan filosofi permainan ini, sebagai wujud purusa pradana (laki-laki melawan perempuan). Disebutkan, dalam satu kelompok goak terdiri dari sebelas orang. Sementara penentuan kemenangan adalah kelompok Goak-goakan yang pertama kali mampu menangkap ekor (orang paling belakang) dalam kelompok lawannya. Maka dialah pemenangnya.

Lokasi Perayaan Tarian Megoak-Goakan dirayakan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada sekitar 6 km ke selatan Kota Singaraja.  Oleh masyarakat Buleleng (Bali utara) permainan-ini benar-benar mempunyai nilai heroik, karena berkat taktik inilah raja Panji Sakti dapat mengobarkan semangat juang yang spontan dari pada rakyatnya. Permainan ini tetap disukai oleh masyarakat Buleleng, bahkan meluas ke seluruh Bali. Memang daerah-daerah diluar Kabupaten Buleleng menganggap permainan ini tidaklah sekhidmad daerah Buleleng. Daerah-daerah diluar Buleleng menganggap permainan ini dipakai sebagai permainan yang baik, karena disamping bernilai hiburan, olahraga, juga ada unsur seninya.

Oleh karena itu permainan ini dari sejarah kelahirannya sekitar abad ke 16, dan sekarang akan diangkat untuk dijadikan seni pertunjukan. Sebenamya kalau diangkat menjadi tari masih banyak sekali memerlukan persyaratan. Tetapi untuk diangkat sebagai “media pertunjukan” tidaklah terlalu sulit, karena ia sudah memenuhi syarat bagi sebuah per mainan rakyat, bahkan yang paling menonjol unsur kompetitifnya, karena itu benar-benar bernilai olahraga.

 

 

Cara Bermain dan Fungsi Megoak-Goakan

 

Megoak-Goakan merupakan permainan yang diikuti oleh banyak peserta maksimal sepuluh orang. Satu orang menjadi goak dan sembilan orang sisanya menjadi ular dengan bentuk berjejer seperti berbaris. Kemudian setelah pesiapan siap dan permainan dimulai, si Goak langsung mengejar ekor (orang yang paling belakang) dari barisan ular tersebut. Dengan arah berhadap-hadapan antara ular dan goak, kepala ular (orang yang pertama di barisan ular) menghalang-halangi goak untuk mengejar ekor si ular dan yang menjadi ekor ular akan terus berusaha menghindar dari dekapan si goak. Seandainya dalam permainan ini ekor ular tersebut di dapatkan oleh si goak, maka yang menjadi ekor ular tersebut berganti menjadi goak dan yang menjadi goak sebelumnya menjadi kepala ular yang akan menjaga seluruh badan ular, begitu pula seterusnya.

Fungsi yang sangat terpenting dalam permainan ini adalah kerjasama antara semua orang dalam barisan ular tersebut dan kegigihan orang yang menjadi goak untuk mendapatkan ekor si ular.

 

 Nilai-nilai yang Terkandung dalam Permainan Megoak-Goakan

Permainan ini memiliki nilai afektif, kognitif dan npsikomotor sebagai bentuk dari pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Lebih terperinci sebagai berikut :

  1. Nilai afektif

Nilai afektif adalah nilai keaktifan dalam melaksanakan permainan ini. Nilai afektif yang terkandung adalah  saat anggota serius dan sportif dalam bermain dan melaksanakan tugas dengan baik dan benar. Permainan Megoak-Goakan juga mengajarkan nilai kebersamaan/kekompakan, nilai kegigihan, dan heroik para pemain. Kita juga diajak untuk melestarikan permainan tradisional yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.

  1. Nilai kognitif

Nilai kognitif yaitu nilai tertulis berdasarkan penguasaan materi atau pengetahuan pemain.Peserta pemain Megoak-Goakan dinilai baik apabila anggota mengerti aturan main dan memahami perannya sebagai goak dan seekor ular. Disini pemain yang manjadi goak akan diasah kemampuan kognitifnya dalam mengolah taktik atau strategi agar ia dengan cepat dapat menangkap ekor ular dengan halangan dari kepala ular yang berada di depan.

  1. Nilai psikomotor

Nilai psikomotor adalah nilai prilaku dalam permainan. Nilai ini berupa kehadiran dan mentaati peraturan bermain. Pemain memiliki psikomotor yang baik harus melaksanakan permainan sesuai peraturan permainan. Pemain Megoak-Goakan harus sportif dalam upaya menangkap ekor ular.