PESONA KEINDAHAN AIR TERJUN GITGIT

Obyek wisata air terjun Gitgit ini cocok untuk anda pecinta petualangan. Di obyek wisata air terjun Gitgit tersebut, anda bisa mencoba petualangan trekking dengan medan jalanan setapak berkelok dan naik turun yang sangat menguji adrenalin anda.Objek wisata air terjun Gitgit itu sendiri merupakan salah satu tempat wisata di Bali Utara yang terletak di daerah pegunungan Gitgit. Disana, udara terasa sejuk dan jauh dari kebisingan kota. Tak heran jika obyek wisata air terjun Gitgit menjadi salah satu wisata favorit bagi anda yang suka akan keindahan alam. Desa Gitgit memang terkenal dengan air terjun tertinggi di Bali.

Lokasi Air Terjun Gitgit

Sebagian besar lokasi air terjun di Bali berada di daerah Bali utara. Tepatnya di Kabupaten Buleleng, dan salah satunya adalah air terjun Gitgit Buleleng Bali.

Lokasi air terjun Gitgit Buleleng Bali berada di Desa Gunung Luwih Gitgit Bali Utara tepatnya di Kabupaten Buleleng.

Jika anda berangkat dari Kuta Bali, akan menempuh jarak kurang lebih 80 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 30 menit perjalanan. Untuk mempermudah mencari lokasi dari air terjun Gitgit Buleleng Bali, silakan gunakan peta di bawah ini!

MENUJU AIR TERJUN GITGIT

Untuk mencapai lokasi obyek wisata air terjun Gitgit dari parkir pengunjung harus berjalan beberapa ratus meter melewati jalur persawahan, kebun cengkeh, dan kopi. Obyek wisata air terjun Gitgit menawarkan nuansa alam sejuk begitu khas pada daerah-daerah dataran tinggi pegunungan.

Setelah sampai ke lokasi obyek wisata air terjun Gitgit, pengunjung bisa menyaksikan keindahan alam yang terpampang depan mata. Hembusan angin sepoi-sepoi pun seraya ikut membawa embun atau uap yang diterbangkan angin menerpa wajah yang terasa begitu segar.

Terdapat pula rerimbunan pohon serta rambatan semak pada tebing yang seakan menambah kealamian obyek wisata air terjun Gitgit. Objek wisata air terjun Gitgit di Bali ini menjadi salah satu andalan Kabupaten Buleleng. Obyek wisata air terjun Gitgit ini sangat mudah ditemukan.

PESONA OBYEK WISATA AIR TERJUN GITGIT BALI

Air terjun Gitgit terletak di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Dari kota Singaraja berjarak 11 km ke arah Selatan, dari Denpasar berjarak 90 km. Dengan ketinggian 35 meter. Tour ke kawasan Bali Utara, selain Lovina, menjadi tujuan para pelancong. Selain dengan cara ikut tour, para wisatawan bisa sewa mobil di Bali.

Selain digunakan sebagai objek wisata, air terjun Gitgit juga sering digunakan sebagai tempat pemotretan oleh para photografer yang ingin memilih nuansa air terjun sebagai objeknya. Disana pengunjung tidak hanya untuk melihat dan berfoto, di tempat wisata air terjun Gitgit ini anda bisa berenang dengan kondisi air yang bersih.

KEUNIKAN AIR TERJUN GIGIT BALI

Selain bisa menikmati kesegaran dari obyek wisata air terjun Gitgit, ternyata di Gitgit masih memiliki beberapa air terjun yang tak kalah menariknya untuk di kunjungi. Beberapa air terjun tersebut adalah air terjun kembar, air terjun bertingkat, dan air terjun colek pamor.

Air terjun gitgit bertingkat. Telah diketahui secara pasti bahwa air terjun Gitgit bukan hanya ada satu buah, tapi ada banyak dan beragam. Air terjun Gitgit tersebut dinamai bertingkat karena memang bentuk dari air terjun Gitgit bertingkat ini mengikuti alur bertingkat layaknya sebuah tangga.

Air terjun Gitgit kembar. Selain air terjun Gitgit bertingkat, ada pula air terjun Gitgir kembar. Air terjun yang satu ini dikatakan kembar karena air terjun ini bermuara pada satu titik yang sama dan berdampingan.

Air terjun inilah yang menjadi wisata favorit para wisatawan karena keunikannya. Air terjun ini memang tidak terlalu menjulang tinggi, tapi cukup indah dipandang mata.Tidak hanya air terjun Gitgit bertingkat dan air terjun Gitgit kembar, di tempat tersebut juga ada air terjun Gitgit colek pamor.

Air terjun Gitgit colek pamor sangat memukau dan memanjakan mata pengguna. Keindahan dan keunikan alam yang ada di obyek wisata alam tersebut sangat indah dan memukau mata para pengunjung yang datang melihatnya. Anda dan para pengunjung lainnya pasti tidak ingin pergi pulang dengan segera.

MASIH ALAMI

Keindahan alam obyek wisata air terjun Gitgit ini memang membuat pengunjung betah berlama-lama disana. Oleh karena itu, jangan lewatkan untuk segera berkunjung ke air terjun Gitgit tersebut.

Obyek wisata air terjun Gitgit di Bali ini masih terlihat alami dengan keasrian alamnya. Hutan yang rimbun serta nyanyian burung di sepanjang jalan menuju air terjun Gitgit tersebut akan menambah semangat melangkahkan kaki setapak demi setapak untuk sampai di bawah air terjun tertinggi di Bali ini.

Saat berada di obyek wisata air terjun Gitgit tersebut, pengunjung akan terkesima dengan kesan asri, alami dan indah terletak jauh dari polusi apalagi kebisingan, embun atau uap air yang diterbangkan oleh semilir angin. Obyek wisata air terjun Gitgit tersebut juga dikenal sebaga sebuah terapi alam bebas dapat menyegarkan jasmani bahkan rohani. Bukan hanya itu saja, obyek wisata alam air terjun Gitgit tersebut juga menyajikan sebuah petualangan alam yang sempurna.

PULAU MENJANGAN

Letak Geografis Pulau Menjangan

Bagi sebagian besar wisatawan, saat liburan ke Bali akan memilih untuk liYouTube Preview Imageburan ke obyek wisata terkenal di Bali seperti pantai Kuta, makan seafood bakar di Jimbaran atau belanja oleh–oleh khas Bali di pasar seni Sukawati Gianyar. Yang menjadi pertanyaan, apakah Bali hanya terkenal dengan daerah itu saja? Pulau Bali memiliki banyak tempat wisata yang tidak kalah menarik untuk anda kunjungi. Salah satunya adalah objek wisata pulau Menjangan Bali barat. Pulau Menjangan, Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali Indonesia. Wisata Pulau Menjangan di Gerokgak Buleleng Bali adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari. Wisata Pulau Menjangan di Gerokgak Buleleng Balimemiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota Buleleng tidak mengunjungi Wisata Pulau Menjangan di Gerokgak Buleleng Bali yang mempunyai keindahan yang tiada duanya tersebut. Wisata Pulau Menjangan di Gerokgak Buleleng Bali sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda, apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari libur lainnya.  Keindahan Wisata Pulau Menjangan di Gerokgak Buleleng Bali ini sangatlah baik bagi anda semua yang berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi tempat Wisata Pulau Menjangan di Gerokgak Buleleng Bali di kota Buleleng.

Daya tarik Pariwisata di Pulau Menjangan 

  •  Snorkeling

Luas asli pulau ini adalah sekitar 175 hektar, dengan banyak objek laut yang menjadi daya tarik para wisatawan. Kata Menjangan diambil dari nama hewan yang dulunya hidup sejahtera di pulau ini. Menjangan adalah hewan yang mirip kijang dengan nama ilmiah Cervustimorensis. Karena dulu banyak manusia yang memburu kijang-kijang ini, maka kijang di pulau menjangan menjadi hilang dan punah. Namun untuk mempertahankan nama serta identitas pulau ini, pada tahun 1980 dilepaskan sekitar 22 ekor kijang yang sangat dilindungi oleh pemerintah. Dan sampai saat ini kijang-kijang tersebut sudah semakin banyak dengan berkembang biak.

Di sekitara pantai pulau menjangan atau bisa di laut lepas pantai di pulau ini sangat cocok digunakan sebagai tempat snorkeling. Kalau anda tidak tahu snorkeling, snorkeling adalah kegiatan menyelam di permukaan air dengan bantuan alat dengan tujuan dapat melihat secara langsung biota yang ada di dasar laut. Di kawasan pulau menjangan memiliki itu semua, Laut yang tidak terlalu dalam dengan tenangnya ombak laut serta jernihnya air membuat kawasan ini sangat cocok untuk kegiatan Snorkeling.

Dengan Snorkeling anda dapat melihat secara langsung hamparan hutan terumbu karang yang ada di laut pulau ini. Lokasinya sangat dekat dengan bibir pantai, bahkan anda dapat melihat langsung terumbu karang dari atas permukaan air laut karena memang air laut disini benar-benar sangat jernih. Selain melihat ribuan jenis terumbu karang yang indah dengan warna-warnanya, anda juga akan menyaksikan berbagai macam ikan hias yang hidup diantara sela-sela terumbu karang. Tapi mungkin untuk melihat ikan hias yang lebih beragam anda perlu lebih masuk ke dalam laut tentunya dengan perlengkapan menyelam yang memadai.

 

  • Fasilitas

Pulau Menjangan juga mempunya fasilitas yang cukup lengkap untuk wisatawan yang berkunjung, yaitu

  1. Area parkir kendaraan
  2. Rumah makan
  3. Penginapan
  4. Transportasi

CERITA JAYAPRANA DAN LAYONSARI

Cerita kisah cinta Jayaprana dan Layonsari dari Bali Utara. 

Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang        anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang    menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini    meninggal dunia bersamaan. Tinggalah seorang laki-laki yang paling bungsu bernama  I Jayaprana. Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia  puan memberanikan diri mengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin,  rajapun amat kasih sayang kepadanya. Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.

Beberapa tahun kemudian.

Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.

Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.

I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikimpoikan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.

Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkimpoiannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.

Menjelang hari perkimpoiannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkimpoian I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.

Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.

Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.

Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:

Hai engkau Jayaprana

 

Manusia tiada berguna

 

Berjalan berjalanlah engkau

 

Akulah menyuruh membunuh kau

 

Dosamu sangat besar

 

Kau melampaui tingkah raja

 

Istrimu sungguh milik orang besar

 

Kuambil kujadikan istri raja

 

Serahkanlah jiwamu sekarang

 

Jangan engkau melawan

 

Layonsari jangan kau kenang

 

Kuperistri hingga akhir jaman.

Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.

Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.

Makam Jayaprana di Teluk Terima

Teluk Terima,sangat terkenal di kalangan masyarakat Bali,tempat terjadinya tragedi wafatnya I Nyoman Jayaprana adbi setia Raja Kalianget,yang diperdaya memerangi musuh kerajaan yang tidak pernah ada karena dendam sang raja yang mencitai istrinya Ni Nyoman Layonsari.

Makam keramat ini terletak di atas bukit,menghadap ke sebuah teluk,Teluk Terima ,12 km di utara Gilimanuk atau 135 km di barat laut Denpasar.Dari sini kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah di teluk. Lebih-lebih bila di senja hari,saat matahari terbenam sunshet kata wisatawan dari Jerman,terkesima melihatnya. Air laut di teluk akan memancarkan rona biru berbaur dengan garis-garis merah jingga,berkedap-kedip gemerlap diterpa matahari senja.

Akan menimbulkan tanda tanya apa penyebab garis-garis merah itu. Menurut legenda itu tak lain adalah percikan darah I Nyoman Jayaprana ketika di bunuh disini dan kuburannya berada di atas bukit.

Di bukit itu dibangun kuburan yang menyerupai tempat pemujaan.yang dikelilingi tembok.Pintu masuknya terbuka setiap hari. Penjaga makam itu “Pemangku” I Ketut Murda. Di samping makam terdapat patung I Nyoman Jayaprana dan Ni Layonsari di dalam kotak kaca.Kenapa kururan itu berada di bukit ini.Inilah kisahnya.

I Jayaprana atau I Nyoman Jayaprana anak laki-laki yatim piatu.Ketika desanya di serang wabah penyakit ia ditinggal mati oleh orang tuanya di desa Kalianget.Ia pergi terlunta-lunta tanpa arah dan dipungut oleh Raja Kalianget hingga dewasa,dan ia mengabdi kepada Raja.I Nyoman tumbuh dewasa dengan paras sangat tampan selain rupawan I Jayaprana sangat mahir dalam seni sastra dan geguritan .Ia sangat disayangi oleh Raja dan idola tua dan muda bagi rakyat Kalianget.Setelah cukup dewasa Raja memerintahkan I Nyoman Jayaprana untuk menikah dengan bebas memilih gadis pujaannya.Titah raja dipenuhinya,setelah berjumpa dengan seorang kembang desa yang sangat ayu rupanya dari Banjar Sekar.Pertemuan yang tiba-tiba itu terjadi saat Ni Layonsari nama gadis ayu itu berbelanja ke pasar.Sejak pandangan pertama itu terjalin cinta kasih yang membara di hati kedua insan itu.Atas restu raja kedua kekasih ini melangsungkan pernikahannya dengan upacara besar oleh keluarga keraton.Sejak itu Ni Layonsari tinggal bersama di rumah I Jayaprana. Tidak berselang lama,waktu raja mengadakan ekspedisi di luar keraton tanpa sengaja Raja Kalianget melihat Ni Layonsari bak bidadari yang turun dari kayangan itu,hati raja bergetar. Saat itu terdengar bisikan setan menyapanya,Ni Layonsari hanya cocok untuk permaisuri raja,bukan untuk I Jayaprana.

Mulai saat itu raja hati raja gungahgulana,hanya bayangan Ni Layonsari mengikuti kemana ia pergi. Untuk mewujudkan niatnya jahatnya,raja lantas membuat tipu daya.Bersama pengiringnya.I Jayaprana diutus ke Teluk Terima,yang jauh di sebelah barat kerajaan untuk mengusir orang Bajo yang sering merampas harta benda penduduk.

Akan tetapi setibanya di sana, bukan perompak laut yang dihadapi,melainkan sebilah keris yang ditancapkan ke jantungnya oleh Mahapatih Ki Sawunggaling. Bersamaan dengan itu bak air mancur darah merah mengalir berbau harum semerbak memenuhi hutan Teluk Terima .Dari sana darah itu terus mengalir ke laut,berbaur dengan air laut dan sampai kini dapat dilihat berbentuk garis-garis merah di laut.

Setelah itu jenasahnya dikuburkan di atas bukit menghadap ke Teluk Terima.

Akan halnya Raja Kalianget,sepeninggal I Jayaprana menunaikan tugasnya,beliau bertandang ke rumah I Jayaprana untuk bertemu dengan Ni Layonsari. Akan tetapi akal licik raja telah tercium oleh Ni Layonsasi bahwa suaminya telah dibunuh.Tanpa peduli dan rasa takut ia mencaci maki tingkah laku Raja Kalianget yang datang merayunya.Dengan sebilah keris ia mengumpat Sang Raja,ia tak sudi dijamah oleh raja laknat itu. Sebagai bukti setia dan cinta kasih kepada suaminya I Jayaprana ia lantas mesatya dengan menikamkan keris kedadanya,dan mengalirlah darah merah berbau harum menyelimuti jazadnya.Layonsari pekik orang-orang disekitarnya.Melihat tragedi sekejap itu dan dilandasi hati yang hancur luluh,Raja Kalianget gelap mata dan mengamuk membunuh semua pengiringnya,tanpa dapat mengendalikan dirinya.Setelah mati pengiringnya lalu ke keraton dan membabat seisi rumah,dan setelah itu Raja menikamkan kerisnya ke dada.hingga wafat.

Oleh pengikut setia raja,tidak percaya raja bunuh diri,tetapi di bunuh oleh rakyat.Mereka lalu mengamuk membunuhi rakyat tak peduli anak,wanita,orang tua. Rakyat tak terima dan serentak melawan perang besar tak terelakkan.Perang saudara yang maha dahsyat,dan penuh kebencian.Akhirnya seluruh rakyat Kalianget tewas dalam perang campuh itu.Begitulah dalam sehari Kerajaan Kalianget di Buleleng Barat itu musnah dengan bergelimpangan mayat manusia.Konon lama kelamaan kerajaan itu berubah menjadi hutan belantara.Cerita ini telah melekat di sanubari rakyat Bali dan diceritakan dari generasi ke generasi.Tanggal 12 Agustus 1949 silam dilakukan upacara Ngaben di Desa Kalianget.Pengunjung membludak datang dari berbagai belahan dunia untuk menyaksikan.

 

Sejarah Pura Beji

Sejarah Pura Beji

Pura Beji di Desa Sangsit Kecamatan Sawan satu warisan peninggalan leluhur yang kini masih terjaga keasriannya. Sejak didirikan sekitar pada abad I5 silam pura ini memang di-empon oleh krama subak di desa setempat, namun dalam perjalanannya seluruh krama desa menjadi pengempon pura yang terletak di Dusun Beji, Desa Sangsit ini.

Tidak hanya pengempon-nya mengalami perubahan, namun pura ini juga menjadi satu daya tarik wisata. Setiap

hari ada saja wisatawan asing berkunjung ke pura ini. Konon, kunjungan wisatawan yang tak pernah sepi ini karena wisatawan tertarik mengetahui bahwa di pura tersebut terdapat dua buah patung orang asing yang dikenali sebagai warga negara Belanda. Satu patung warga Belanda memegang gitar dan satu lagi memegang rebab. Dua patung ini terletak di kori agung menuju ke jeroan pura.

Tidak ada bukti tertulis yang memuat sejarah Pura Beji. Kondisi ini membuat tokoh masyarakat di Sangsit menyusun buku yang menceritakan sejarah pura. Buku ini ditulis dengan narasumber dari pengelingsir yang mengetahui sejarah Pura Beji. Selain itu, secara tata letak dan arsitektur pura juga sempat diteliti oleh salah satu tokoh masyarakat desa setempat.

Dari upaya itu terungkap bahwa Pura Beji sebenarnya bukan pura subak. Tetapi karena sejak didirikan sekitar abad 15 silam notabene krama di Sangsit merupakan petani, sehingga seolah-olah Pura Beji itu di-emong oleh krama subak saja. Sementara dari hasil penelitian menyebutkan bahwa berdasarkan tata letak pura itu sebelah utara komposisi pelinggihnya untuk krama subak, di tengah-tengah dibangun pelinggih yang masuk dalam kategori puseh dan di sebelah selatannya terdapat kelompok pelinggih jajaran. Ciri lainnya yang berhasil dikupas dalam penelitian ini adanya bangunan Bale Agung Saka Kutus yang biasa terdapat pada Pura Puseh pada umumnya.

Selama ini ada sebagian masyarakat di Desa Sangsit meyakini bahwa situasi Pura Beji Sangsit bukan hanya sebagai Pura Subak Beji, melainkan merupakan Cikabakal Pura Desa (dahulu disebut Desa Beji) terutama pada awal pembuatannya. Namun entah kenapa didalam perjalanan waktu situasi Pura ini berubah menjadi Pura Subak yang diempon oleh Rama Krama Subak Beji saja, sedangkan

Pura desa yang sekarang diempon oleh masyarakat Desa Sangsit letaknya kurang lebih 500m dari Pura Beji, yang konon berasal dari Sanggah salah satu warga (keluarga Gusti) yang diserahkan kepada desa karena ceput (tidak ada keturunan).

Bila melihat tatanan Pelemahan dan usia ukiran Pura Beji maka keyakinan sebagai masyarakat Desa Sangsit akan Pura Beji mendekati kebenaran namun karena kurangnya informasi serta data yang mendukung tentang keberadaan Pura Beji maka sampai saat ini tidak ada masyarakat yang berani mengungkapkan dan mengatakan masalah ini kepermukaan. Di samping itu adanya rumor bahwa Pura Beji diperuntunkan kepada mereka yang punya sawah semakinn menyiutkan nyali sebagai masyarakat yang kebetulan tidak punya sawah pertanian untuk tangkil atau sembahyang atau mengaturkan bakti ke Pura yang merupakan Pura termegah di Desa Sangsit.

Kenyataan ini menyebabkan makin hari Pemedek yang tangkil ke Pura ini semakin sedikit, mereka hanya dari karma Subak Beji yang jumlahnya ratusan orang dan segelincir masyarakat lainnya yang merasa masih punya kaitan sejarah dengan Pura tersebut. Apalagi krama Subak makin hari makin berkurang jumlahnya seiring makin menciutnya luas lahan pertanian di Desa Sangsit, yang beralih fungsi menjadi

lahan pemukiman.

Oleh karena itu sudah saatnya keprihatinan ini harus disikapi dengan mengadakan penelitian dan pengkajian untuk mengetahui keberadaan dan status Pura Beji didalam tatanan Pura Kahyangan yang ada di Desa Sangsit dengan maksud agar sebagai karma Desa Sangsit yang senangtiasa dikaruniai kesehjahteraan, kemakmuran, dan rejeki oleh Beliau yang berstana disana, tidak begitu saja melupakan keberadaan Pura Beji yang bukan tidak mungkin krama Desa Sangsit dimanapun berada. Sedangkan dilain pihak justru banyak wisatawan manca negara yang sangat antusias berkunjung dan mengagumi Pura ini sebagai mana karya leluhur yang Adi Luhung.

Karena keterbatasan data, maka jejak-jejak yang dapat dipakai untuk menapak tilas status Pura Beji ini, secara nyata dapat di lacak diantaranya dari tata letak pelemahan Pura terhadap wilayah Desa Sangsit (letak geografis), tatanan Arsitektur Pura yang terdiri Tri Mandala lengkap dengan ciri khas arsitektur Bali Utara yang sempurna, tata upacara piodalan yang beragam dan tradisi yang dilaksanakan serta informasi dari nara sumber yang dipercaya.

Letak Geografis Pura Beji

Pura Beji sesuai dengan nam

anya terletak di Dusun/Banjar Beji, Desa Pakram

an

Sangsit Dauh Yeh, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. Dusun/ Banjar Beji adalah salah satu dari 8 Dusun dan 7 Banjar adat yang ada di desa Pakraman Sangsit dauh yeh, yang menempati areal yang berbatasan dengan :

  1. Sebelah selatan adalah jalan raya Sangsit (jalan propinsi)
  2. Sebelah timur adalah Tukad Gelung (tukad Sangsit)
  3. Sebelah Barat adalah Banjar Tegal
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan Dusun Pabean Sangsit dimana lokasi PPI dan pelabuhan rakyat berada

 

Di kawasan ini juga terdapat Pura Dalem Klod, yang orang menyebutnya sebagai Pura Dalem Purwa karena kekunoannya, juga ada Pura Segara yang terletak di Pantai Sangsit (wilayah Pabean Sangsit), Pura Pasupati Wong Aya yang sebelumnya disebut dengan Pura Kauh dan Pura Limascatu yang merupakan Pura Subak Beji di tengah sawah serta Setra Klod yang letaknya mengambil sisi klod kangin di pinggir Tukad Gelung.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa ada 2 Pura berstatus Pura Kahyangan desa yaitu Pura Dalem Klod dan Pura Segara, satu Pura Kahyangan diluar Tri Kahyangan Desa yaitu Pura Pasupati dan satu Pura yang berstatus Pura Subak yaitu Pura Limascatu. Sedangkan Pura Beji mengambil posisi di tangah-tengah dusun sebagai sentral dan tidak kalah pentingnya adalah adanya bangunan Bale Kulkul yang mengambil posisi Hulu.

Sedangkan Pura Dalem Kaja, Setra Kaja dan Pura Desa sekarang terletak di sebelah selatan dan barat banjar Beji. Posisi Setra Kaja dan Pura Dalem Kaja bila dilihat dari konsep arsitektur Bali (Asta Bumi) sepertinya tidak lazim, karena menduduki posisi hulu kaja, yang merupakan posisi tersuci pada tatanan arsitektur bali.

Bila diteliti tata ruang atau lokasi Pura-pura yang disebutkan diatas, seperti Pura Dalem Klod, menempati sisi klod (nista mandala atau teben), Pura Segara menempati posisinya sesuai dengan fungsinya yaitu di segara, Pura Limascatu terletak di sawah, sabagai Pura Subak, Pura Beji menempati posisi sentral dan Pura Pasupati sebagai Pura Kahyangan Desa menempati sisi barat, sehingga disebut dengan Pura Kauh, sedangkan bangunan Bale Kulkul yang menempati posisi hulu atau pojokan Catus Pata sangat mendekati dengan konsep tata ruang bangunan tradisional Bali Kuno. Sehingga dari sisi ini bias ditaksir kemungkinan Pura Dalem Kaja, Setra Kaja, dan Pua Desa sekarang dibangun jauh dibelakangnya, bukan merupakan satu kesatuan dengan yang di atas.

Cikal Bakal Tabuh Longgoran

Tabuh longgoran

Cikal bakal lahirnya/ munculnya tabuh longgoran ini diperkirakan lahir bersamaan dengan perkiraan munculnya Gong Kebyar pada abad ke 19 kurang lebih pada tahun 1915 di Desa Bungkulan, Buleleng Singaraja,5, Gong Kebyar di gunakan membarung ( lomba/parade tetabuhan red.) di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan Bulelengdan bahkan untuk lebih menguatkan lagi bahwa Gong Kebyar lahir di Desa Bungkulan.Tabuh longgoran sebagai salah satu sarana yang selalu harus ada didalam rangkaian ritual Upacara Dewa Yadnya, sebagai pengejawantahan suara Bajra sang Wiku atau Genta suara pitu Untuk sebagian umat saat melaksanakan persembahyangan ( mebakti ) tanpa alunan suara lagu-lagu longgoran yang dimainkan secara agung dan terasa ada atmosfir maghis, yang menentramkan hati, jika sudah lewat fase lagu-lagu yang ber-irama menyerupai lagu mars yang di bawakan kelompok marching band. Tabuh longgoran menurut beberapa penggiat pelaku tabuh Lelonggoran, bahkan salah satu dari pelaku tersebut adalah seorang cucu dari sang Maestro, I Gusti Bagus Suarsana yang kebetulan juga seorang seniman tabuh mengatakan :

Adalah I Gusti Nyoman Panji Gede (sudah moring acintya, Alm, red) yang pada saat menekuni, menggubah, mengajarkan tabuh longgoran pada anak didiknya di seantero desa Bungkulan juga di pelosok jazirah Buleleng yang di kenal dengan istilah Dauh Enjung ( kalopaksa,tangguwisia,anturan,tukad mugga, buleleng barat red.) dan Dangin Enjug,(Jinengdalem, Penarukan, sangsit, Jagaraga, menyali dan desa bungkulan buleleng timur red.) diperkirakan berusia 50 (lima puluh) tahun, sekitar tahun 1930 an. Beliau I Gusti Nyoman Panji Gede, selain piawai mengarang lagu secara otodidak, beliau juga piawai mengarang/ membuat lagu di tempat berlangsung acara mebarung ( perlombaan) ada salah satu karya beliau yang boleh dikatakan sangat sakral dan memiliki nilai maghis yakni gubahan tabuh yang diberi nama tabuh “ Sudha Mala.longoran di kenal di desa Bungkulan khususnya dan Buleleng bahkan Bali pada umunya. Dengan demikian jangan sampai masyarakat Buleleng sendiri terlebih masyarakat Bungkulan mendengar Tabuh longgoran sangat asing, bahkan jauh lebih akrab dengan aneka tabuh Lelambatan dan kreasi baru, bahkan musiknya Kitaro. Bahwa kita butuh apresiasi sah-sah saja.

Kini , dengan perjalanan waktu, tabuh longgoran, selain komunitas pengusung genre musik ini sudah mulai tergerus jaman, karena faktor alam, usia, segmen/pasar yang membutuhkan untuk eksisnya genre longgoran untuk tetap bertahan, ia semakin tergerus dan tergilas dengan aliran musik “kekebyaran” ber genre pop, maka Tabuh longgoran perlahan namu pasti akan semakin mengecil kerlip cahayanya di jagat karawitan Bali. Tabuh longgoran, kejayaan riwayatmu dulu, dan kini hanya sesekali masih dimainkan setidaknya di Pura Pemaksan komunitas sang Maestro I Gusti Nyoman Panji Gede,di Banjar Jero Gusti Bungkulan, Kecamatan Sawan Buleleng Singaraja Bali.